Lost Stars
Chapter 1
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
.
.
.
Rate M
.
.
Menjadi seorang wanita karir adalah impian terbesar Baekhyun sedari dulu. Dia mendamba suatu perjalanan yang agung dimana dia bisa meletakkan segala kebanggaan di sana. Tidak hanya untuk mengejar dolar atau popularitas dengan bakatnya, tapi juga suatu kepuasan akan suatu hal yang bisa digunakan banyak orang.
Namun sayangnya Baekhyun hanya seorang pegawai kantor biasa. Tidaklah buruk mengingat dia masih memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan perut, kosmetik, juga untuk membesarkan Jesper.
Sedikit bercerita. Jesper adalah anak laki-laki Baekhyun yang dirawat dan diasuh dengan tingkat kasih sayang berlebih. Anak laki-laki berusia 4 tahun itu bukan darah daging Baekhyun, melainkan buah cinta adik kandung Baekhyun, Byun Baekhee.
Lima tahun yang lalu Baekhyun dikejutkan oleh kedatangan Baekhee dengan keadaan perut membuncit. Dia cukup tercengang bahkan tidak percaya jika adiknya yang terlampau polos itu nyatanya memiliki gairah berlebih hingga pasrah saja ketika digagahi oleh kekasihnya.
Baekhee butuh tempat untuk menyelesaikan proses kehamilannya dan lingkungan asrama Baekhee tidak mendukung. Dia hanya memiliki Baekhyun sebagai satu-satunya keluarga untuk meminta pertolongan dan juga menyembunyikan ini semua dari khalayak. Bagi Baekhee ini harus di sembunyikan mengingat usianya yang masih 19 tahun dan dia masih tercatat sebagai mahasiswa keperawatan di suatu universitas.
Benih sudah di tabur dan Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa selain membantu Baekhee dengan kehamilannya. Beberapa bulan setelah itu Baekhee melahirkan seorang anak laki-laki menggemaskan. Tapi adiknya yang terlampau egois itu tiba-tiba menghilang setelah 3 hari melahirkan dan meminta Baekhyun merawat bayinya. Untuk kesekian kali Baekhyun harus bernafas lelah dengan pundak melemah. Adiknya yang tidak bertanggung jawab itu suatu saat jika kembali akan Baekhyun beri pelajaran.
Sebenarnya merawat bayi tidaklah sesusah memasukkan ujung benang di lubang kecil sebuah jarum. Baekhyun sangat menyelami perannya merawat Jesper disamping tugasnya sebagai seorang istri dari lelaki keturunan Perancis. Ah ya, Baekhyun sudah menikah dan suaminya adalah lelaki yang dulu menjadi teman kuliah Baekhyun. Mereka sudah menikah sejak lulus kuliah dan sudah lebih dari 2 tahun menikah.
Kehidupan rumah tangganya tidaklah terlalu buruk dan Willy (suami Baekhyun) sangat terbuka dengan kedatangan Jesper. Semua berjalan begitu lancar dengan gantungan harapan yang lebih tinggi dari angkasa untuk kehidupan rumah tangga yang ideal. Namun ketika menginjak usia pernikahan di angka empat, semua mendadak terjungkir seratus delapan puluh derajat. Willy tidak lagi menjadi lelaki romantis yang selalu mencium Baekhyun saat berangkat dan pulang bekerja, Willy telah berubah dan itu terlalu tiba-tiba. Lelaki itu jadi lebih emosional dan suka pulang dalam keadaan mabuk, bahkan yang lebih parah Willy pernah menampar Baekhyun hanya karena letak garpu dan sendok tidak sesuai. Sesuatu yang baru pertama kali Baekhyun terima.
Mulanya Baekhyun mengira Willy hanya sedang banyak pikiran. Lelaki itu kesulitan mengatur kadar emosinya hingga sikap temperamentalnya mulai menguar. Ya, itu yang Baekhyun kira. Hingga pada suatu hari dia harus kembali mengeluarkan nafas lemah saat baru saja mengambil Jesper dari Bibi Jung karena ada amplop coklat di atas meja rias.
Surat cerai.
Setelah berminggu-minggu pulang dalam keadaan emosi, Willy akhirnya datang dengan membawa surat cerai. Wanita mana yang mau diceraikan ketika rasa cintanya terlalu besar, tapi Willy tidak pernah peduli tentang hal itu. Willy bersikukuh dengan alasan yang membuat Baekhyun ingin menangis di bawah kucuran air shower. Semua karena mereka tak kunjung memiliki keturunan dan Willy mulai bosan menunggu. Lelaki itu ingin memiliki keturunan dan Baekhyun tidak bisa memberinya.
Baekhyun tidak mandul atau apalah itu istilahnya, dia juga tidak memiliki riwayat penyakit kandungan yang bisa menghambat tumbuhnya janin. Baekhyun sudah memeriksanya secara detail dan tidak ada satu rekam medis yang mengatakan ada satu penyakit di dalam rahim Baekhyun. Dia normal dan berpeluang memiliki anak. Namun sejauh apapun Baekhyun dan Willy berusaha menciptakan peluang itu, si jabang bayi tak kunjung datang. Untuk itu ketika Willy ngotot dengan alasannya yang ia pertahankan dan terlebih lelaki itu diam-diam telah berhubungan dengan wanita lain yang mungkin bisa memberinya keturunan, Baekhyun hanya bisa menandatangani surat cerainya. Bisa apa dia selain menangis, tidak ada keajaiban yang bisa menghentikan statusnya yang telah berubah menjadi seorang janda.
Beruntung Baekhyun masih memiliki Jesper yang bisa ia peluk ketika tidur. Dia tidak perlu susah payah merasa kesepian di apartemen karena Jesper yang saat itu masih berusia 2 tahun adalah kebahagiaan lain yang harus di syukuri.
Jesper anak yang menggemaskan dan Baekhyun sangat menyayanginya. Dia begitu peduli pada setiap kebutuhan Jesper dari ujung kepala sampai ujung kaki. Secara detail Baekhyun mencurahkan semua hal untuk kebaikan Jesper termasuk statusnya. Baekhyun tidak ingin Jesper di kucilkan hanya karena dia tidak tinggal dengan ayah dan ibu kandungnya. Dunia luar siapa yang tau, raungan macan bisa saja bersembunyi dibalik topeng kelinci dan Baekhyun tidak ingin Jesper tersakiti. Untuk itu semua Baekhyun atur sedemikian rupa dan membiasakan Jesper memanggilnya 'Mommy ketika Jesper baru belajar bicara.
Ya, dia seorang ibu.
.
Baekhyun masih memiliki banyak tumpukan berkas yang harus dia selesaikan sebelum di serahkan pada ketua divisi. Seharusnya malam minggu kemarin dia bisa mengerjakannya di rumah dan tidak perlu repot-repot mengalami masa lembur karena deadline. Tapi jika keadaan membuatnya bermain seharian dengan Jesper, Baekhyun tidak akan mengeluh untuk pelipisnya yang mulai nyeri. Jesper adalah kebahagiaan dan selamanya akan seperti itu.
Untuk itu, setelah laporan terakhir ia selesaikan, Baekhyun berniat akan mampir ke toko mainan dan membelikan satu set miniatur karakter superhero kesukaan Jesper. Anak itu pasti akan melompat bahagia lalu menghujani Baekhyun dengan banyak ciuman.
"Hai, Baek." Itu Kris, teman satu divisi Baekhyun yang berkulit pucat seperti vampir. "Mau pulang bersamaku?"
"Tidak, Kris. Terima kasih."
Bukan berniat tidak sopan, hanya saja Baekhyun sedang malas berurusan dengan si playboy Kris. Sudah beratus kali ajakan pulang bersama bahkan kencan buta Kris tawarkan. Tapi Baekhyun tidak tertarik dengan itu semua. Selain karena Kris bukan tipe-nya, Baekhyun masih memiliki sisa trauma akan masa lalu. Dia hanya tidak ingin jika sudah jatuh cinta pada seseorang dan mereka terikat, pasangannya akan memutar balik semua jalur cintanya hanya karena Baekhyun kesulitan mengandung.
"Sudah malam, Baek. Tidak baik janda cantik sepertimu pulang sendiri." Dan satu kerlingan bodoh Kris berikan.
Baekhyun mendadak muak. Bukan karena kerlingan bodoh itu, tapi karena kata 'janda' yang di ucapkan Kris. Apa yang salah dengan sebuah status janda? Kenapa orang-orang selalu mempermasalahkan hal itu? Tidak ada yang ingin berakhir memiliki status seperti itu, termasuk Baekhyun.
"Kaupun begitu. Tidak baik pemuda impoten sepertimu pulang larut. Karena kelelakianmu akan mengkerut jika terkena angin malam!" Ah entahlah, sopan ataupun tidak, Baekhyun tidak menaruh peduli.
Kris berakhir protes karena tidak mau disebut impoten. Tapi kekesalan terlanjur menjalar dan Baekhyun bukan wanita yang mudah mengubah rasa jengkel.
.
Baekhyun hanya butuh cepat pulang, mandi air hangat, menjemput Jesper di rumah Bibi Oh, lalu menikmati sisa malam untuk meringkuk sambil memeluk tubuh hangat Jesper. Begitulah harapan Baekhyun malam ini.
Melewati banyak malam berdua dengan Jesper tak sekalipun terasa membosankan. Baekhyun justru senang karena memiliki satu motivasi untuk terus bekerja demi membahagiakan Jesper.
Jesper memang bukan darah dagingnya dan Baekhyun tidak sekejam itu untuk mengabaikan tumbuh kembang Jesper. Cukup ibu kandungnya yang bertingkah konyol dengan meninggalkan Jesper, Baekhyun tidak butuh tindakan egois ketika ada satu nyawa tak berdosa yang juga ingin hidup.
Langkah kakinya dipercepat setelah turun dari bis. Baekhyun hanya perlu berjalan 500 meter maka apartemen sederhananya sudah tersaji. Ya, meski gajinya tidak seburuk itu untuk menyewa sebuah apartemen mewah, tapi kesederhanaan jauh lebih diprioritaskan dari pada kemewahan. Yang dibutuhkan hanya tempat yang cukup layak untuk tidur dan terhindar dari segala macam cuaca buruk di luar.
Apartemen yang hanya berlantai 7 itu sedikit lagi bisa Baekhyun raih. Kebahagiaan untuk segera bertemu Jesper dan melepas lelah telah menggantung indah seperti pelangi dan akan terasa sempurna jika saja Baekhyun tidak perlu membuktikan bagaimana rasanya berkontak fisik dengan bumi. Pekikannya bahkan lebih dari burung beo ketika tubuhnya tiba-tiba terjungkal dan Baekhyun merasa lututnya perih.
"Perhatikan cara berjalanmu!" kata Baekhyun sambil mendesis karena lututnya yang tergores. "Dunia milik banyak orang. Jangan berlari sesuka hatimu!"
Seharusnya semua ini bisa diselesaikan dengan ucapan maaf atau rasa menyesal karena telah menyebabkan lutut seseorang berdarah, bukan malah menarik pergelangan tangan untuk di paksa masuk mobil yang terparkir di seberang jalan. Dan parahnya, Baekhyun yang merasa ini kekerasan harus rela mulutnya di bekap.
Apa-apaan ini? Apa Baekhyun sedang di culik? Tapi untuk apa menculik Baekhyun yang bahkan tidak memiliki garis keturunan ningrat!
"Kau mau apa?!"
"Bisa diam sebentar? Setelah orang-orang itu pergi aku akan menjelaskan padamu."
Jangan percaya orang asing atau akan ada efek buruknya. Tapi sebelum Baekhyun kembali memberontak dengan sisa tenaganya, dia kalah cepat oleh laju mobil yang membawanya pergi.
.
"Tidakkah seseorang seharusnya menjelaskan semua ini?!"
Setelah hampir tiga puluh menit berada dalam keadaan tidak terduga, Baekhyun memulainya dengan satu tatapan tajam pada si pengemudi.
Lelaki itu memperlambat laju mobilnya, melepas topi hitam yang membingkai sebagian kepalanya, lalu mengulurkan tangan.
"Park Chanyeol." Kepercayaan dirinya selebar senyum di wajahnya.
"Bukan namamu, tapi alasanmu membuatku terlihat seperti seorang tawanan!"
"Oh, maaf, nona. Aku telah membuatmu terjebak dalam situasi tidak mengenakkan."
"Sadar juga kau." Baekhyun mendesis sedikit untuk lututnya yang tergores. "Sebenarnya apa maumu? Aku bukan turunan orang kaya. Aku yatim piatu dan aku tinggal di apartemen kecil yang tidak mewah. Jika niatmu ingin menculikku, kau salah orang."
Chanyeol justru terbahak dengan celoteh itu. Terdengar tidak masuk akal tapi lucu.
"Apa aku terlihat seperti penculik?"
"Dari caramu menarikku kesini memang...iya."
"Kau tidak tau aku?"
Baekhyun menggeleng. Sungguh, apa penting untuk tau siapa pria berambut ikal itu? Lebih baik dia mencuci sprei yang terkena ompol Jesper daripada mencaritau tentang jatidiri sebenarnya si lelaki aneh.
"Aku Park Chanyeol. Seorang artis terkenal."
Kau gila?
"Jadi untuk apa seorang artis menculik wanita sepertiku?"
"Aku bukan penculik. Aku seorang artis."
"Terserah. Tapi aku masih membutuhkan alasan mengapa aku bisa ada disini dan harus mendengar kesombonganmu sebagai seorang artis."
Laju mobil diperlambat. Chanyeol menghela satu nafas lagi untuk wanita di sampingnya. Dia sudah dijebak dengan istilah 'penculik' dan sekarang harus rela didorong pada label 'kesombongan sebagai artis'. Jika fans-nya tau, sudah pasti nasib wanita itu tak lebih baik dari mangsa kumpulan harimau.
"Bagaimana jika kita berbicara dengan minum kopi?"
Baekhyun berdesis. Apa kopi sangat dibutuhkan untuk saat seperti ini?
"Bisa percepat waktu penjelasanmu? Aku tidak terlalu suka mengulur waktu."
Chanyeol terkekeh untuk tanggapan yang terlalu judes itu. Tapi biarlah, ini lebih baik dari pada berlari ke beberapa blok hanya untuk menghindari kejaran para penggemar.
"Namamu-"
"Sebentar," Baekhyun mengambil ponselnya dalam tas yang baru saja berdering. "Ya, Bibi Oh... aku segera pulang...katakan pada Jesper aku akan sampai 30 menit lagi..."
"Siapa?" Tanya Chanyeol.
"Apa urusanmu bertanya seperti itu?" Ya ya ya, itu bukan urusan Chanyeol.
"Apa kau selalu seperti ini?"
"Hanya pada beberapa orang." Baekhyun melirik jam di dasbor yang sudah menunjukkan digit pertanda larut malam. "Jika kau bukan penculik, maka antarkan aku pulang dan aku memutuskan urusan di antara kita sudah selesai."
Itu menurut Baekhyun. Tapi takdir siapa yang tau?
.
Cuaca masih dilingkup cukup dingin dan tidak disarankan keluar rumah dengan pakaian minim. Setidaknya ada coat atau syal sedikit tebal yang bisa menghalau kebekuan yang menjalar seperti ubi. Tapi Baekhyun terpaksa menggunakan mini-skirt untuk pakaian kerjanya hari ini. Karena apa lagi jika bukan karena sebuah perban yang menempel mesra di lututnya. Tidak mungkin menggunakan celana karena kalian tentu tau bagaimana rasanya neraka ketika sebuah luka bergesekan dengan kain.
"Mom," Jesper mendongak ketika pintu apartemen Bibi Oh akan dicapai.
"Hm?"
"Nanti jangan pulang malam, ya?"
Jesper menggoyangkan tangannya yang di gandeng Baekhyun—sedikit kemanjaan sebelum ia kembali ditinggal bekerja.
Baekhyun berdeham dan Jesper terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mommy-nya pasti akan pulang malam dan Jesper akan menginap di rumah Bibi Jung lagi. Sebenarnya bukan itu yang disayangkan Jesper, dia hanya rindu waktu malam bersama Mommy-nya beserta tumpukan buku cerita yang dibaca sebelum tidur.
"Ohh... anakku kenapa sedih?"
"Mommy pasti pulang malam lagi."
"Tidak, sayang." Satu usakan untuk puncak kepala si anak menggemaskan. "Mommy nanti tidak akan pulang malam lagi."
"Benarkah?" Matanya berbinar.
"Ya. Jesper mau dibawakan apa? Pizza? Donat? Ayam goreng?"
Jesper memiringkan kepala untuk gaya berpikirnya. Dia menimbang sesuatu yang akan ia minta pada sang Mommy.
"Captain America!"
"Captain lagi?"
"Yap!"
"Oke. Mau yang besar atau kecil?"
"Yang besar, Mom!"
.
.
Baekhyun tergesa untuk segera menyelesaikan paragraf akhir laporan mingguan ketika jam menunjuk angka 6. Sedikit lagi ia akan melepas sisa pekerjaan hari ini dan sesegera mungkin untuk pulang demi memenuhi janji lelaki kecilnya.
Jesper sudah terlalu lama membiarkan Baekhyun pulang larut karena pekerjaan. Maka ketika tadi pagi Baekhyun mengikat janji untuk pulang cepat dan membelikan sesuatu yang berbau Captain America, maka semua itu harus ditepati dengan segala konsekuensi.
Tombol Sent to sudah Baekhyun tekan dan laporan selesai. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar meregangkan tubuh karena Baekhyun lebih memilih melihat tubuh Jesper yang melompat bahagia ketika melihatnya pulang cepat.
Jarak halte dengan kantor tidak terlalu jauh. Hanya 500 meter dan jika ditempuh dengan langkah ringan yang membahagiakan maka tidak akan memakan waktu lebih dari 15 menit. Bus yang akan membawa Baekhyun pulang baru akan tiba sekitar 20 menit lagi. Untuk itu, Baekhyun akan mampir sebentar di sebuah toko mainan untuk memenuhi janji pada Jesper.
Superhero berbaju biru dengan tameng bundar berlogo bintang itu menjadi idola Jesper. Dia begitu terobsesi dengan si Captain yang katanya bisa melindungi semua orang hanya dengan sebuah tameng. Baekhyun segera menelisik setiap sudut toko untuk menemukan satu yang cocok untuk hadiah Jesper. Dan mata Baekhyun menangkap satu bentuk topeng si Captain yang diyakini belum pernah ada disepanjang sejarah koleksi Jesper.
"Kita bertemu lagi,"
Baekhyun menoleh untuk sebuah suara di sampingnya. Seseorang dengan pakaian serba hitam dan wajah yang tertutup topi juga masker warna serupa.
Mata Baekhyun memicing untuk lebih menyelami lagi siapa sosok yang sudah menutup sebagian dirinya seperti itu. Ya, ini memang musim dingin. Tapi sedikit berlebihan jika harus menutup semuanya dengan warna hitam dan hanya bersisa bagian mata yang di biarkan terbuka.
"Penculikmu." Kemudian kekehan kecil dapat Baekhyun dengar.
Penculikku?
Otak Baekhyun kembali melayang pada kejadian beberapa malam lalu dimana dia harus merelakan lututnya mencium aspal dengan mesra.
"Ah, kau."
"Masih mengingatku? Jika lupa aku akan mengingatkannya." Masker hitam itu diturunkan dan menampilkan wajah setampan pangeran berkuda putih. "Namaku Park Chanyeol. Sudah ingat?"
Pikiran Baekhyun sempat kosong untuk beberapa saat. Tapi untungnya dia mudah menguasai situasi hingga tidak sampai terlihat bodoh hanya karena visual lelaki di hadapannya.
"Ya, aku sangat mengingatmu." Satu senyum ramah diberikan. "Kau yang sudah menculikku dan membuat lututku sedikit memiliki tatto."
Chanyeol melirik kebawah dan mendapati perban putih menempel sempurna di lutut kecil Baekhyun.
"Maaf untuk lukamu."
"Tidak apa. Ini jauh lebih baik daripada aku diculik."
"Aku bukan penculik."
"Ya. Kau seorang artis. Aku sudah mendengar itu hampir sepuluh kali."
"Ku rasa ini yang ketiga terhitung sejak pertama kita bertemu."
"Dan akan segera menjadi yang keempat jika aku menyebutmu penculik lagi."
"Ku sarankan jangan mengulanginya lagi atau jika benar-benar sudah sepuluh kali kau melakukannya, maka..."
"Maka?"
"Maka aku—Maaf, aku harus pergi." Chanyeol kembali menaikkan maskernya kemudian menerobos tubuh Baekhyun untuk menuju pintu keluar. Mulanya Baekhyun tidak begitu mengerti hingga akhirnya ada sekelompok anak perempuan berseragam sekolah mulai berlari kearah dimana Chanyeol juga berlari.
Sekelompok anak perempuan itu berbondong-bondong mengejar Chanyeol sambil berteriak seperti seorang suporter. Mereka tidak peduli dengan cemooh orang disekitar bahkan juga tidak menaruh atensi pada Baekhyun yang sudah kelimpungan di tabrak sana-sini dan berakhir dengan lututnya yang diperban itu mencium salah satu kaki displayer toko.
Sakit!
.
.
Entah ini minggu yang buruk atau kesialan yang sedang membayangi Baekhyun, karena dalam waktu kurang dari seminggu dia harus tertimpa musibah yang menyebalkan. Bertemu artis yang sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai penculik lalu mendapat luka di tempat yang sama.
Lututnya masih menyimpan sakit dan perih karena mencium aspal. 1 jam yang lalu lututnya yang malang itu harus kembali tersakiti hingga menambah intensitasnya dengan tingkatan parah. Baekhyun bersumpah akan segera melalukan ritual mandi suci agar kesialan segera hilang.
Ya, Baekhyun harus melakukan semua itu sebelum seorang pria berdiri di persimpangan jalan dekat halte apartemen Baekhyun dengan senyum yang merekah.
Orang lain mungkin berpikir senyum itu sungguh manis karena seorang lelaki tampan yang memilikinya. Tapi Baekhyun menjadikan semua itu petaka yang harus segera di hindari. Untuk itu, Baekhyun memilih terus berjalan dan menghindari si lelaki yang sudah melambai padanya.
"Hei, kau tidak lupa denganku, kan?" katanya sambil mengikuti Baekhyun dari belakang.
Tapi Baekhyun terlalu malas menanggapi. Alhasil dia hanya membisu dengan segala umpatan yang ditahan di kerongkongan.
"Kita bertemu lagi. Mungkin kita berjodoh."
Baekhyun menghentikan langkahnya. Ditariklah sebuah nafas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang mulai berjalan cepat karena amarah yang tertahan. Lalu dia berbalik dengan tatapan sinis yang bahkan terlihat lebih tajam dari sebilah pisau.
"Penguntit!"
"Kau mengatakannya lagi."
"Lagi? Aku baru sekali mengatakannya!"
"Ah, ya."
"Kau mau apa?! Kita tidak memiliki urusan lagi."
"Kita masih memiliki urusan, Nona."
Baekhyun menarik nafas panjang lagi. Sabar, Baekhyun. Ini hanya ujian.
"Cepat katakan!"
"Terburu-buru sekali. Kau mau pergi berkencan?"
"Tidak usah banyak tanya. Cepat katakan!"
Lelaki itu, Chanyeol, mengangkat sebuah kantong putih dari tangan kanannya.
"Aku belum meminta maaf atas lukamu."
"Maaf diterima. Sekarang kita tidak memiliki urusan."
Baekhyun akan berlalu dan memutus semua ini begitu saja. Tapi nyatanya dia tidak pernah lebih cepat oleh sebuah tangan yang menarik lengannya untuk tidak pergi.
.
Mungkin orang-orang akan berteriak girang atau melompat bahagia jika ada seorang selebriti terkenal sedang duduk di sofa mereka. Lebih dari itu pasti mereka akan menyunggingkan senyum bodoh karena si selebriti terkenal meminta untuk berkunjung sedikit lebih lama demi keadaan yang lebih baik.
Perkenalan dengan cara tidak apik itu membawa Baekhyun pada situasi yang membingungkan. Lebih jelasnya, mereka baru saja kenal beberapa saat tapi Baekhyun sudah membukakan pintu untuk seorang lelaki ketika dini hari menyapa.
"Kau tinggal sendiri, Nona Byun?"
"Baekhyun." Wanita itu mengoreksi sambil berlalu menuju kamar untuk meletakkan Jesper yang tertidur dalam pelukannya. "Cukup panggil aku 'Baekhyun'" lanjutnya setelah keluar kamar dan menuju dapur.
"Kau tinggal sendiri, Baekhyun?" Chanyeol mengulang pertanyaannya.
"Bersama anakku yang baru saja ku tidurkan."
"Ah, begitu—terima kasih." Chanyeol menyesap ujung cangkir berisi teh hangat yang Baekhyun berikan lalu meletakkannya di meja. Chanyeol menunggu beberapa saat untuk Baekhyun duduk di sofa ujung dengan sedikit meringis karena luka di lututnya. "Biar ku obati."
Kantong plastik putih itu Chanyeol keluarkan semua isinya. Dia juga berpindah tempat dengan berlutut di depan Baekhyun yang jelas-jelas menolak semua perlakuan ini. Maksudnya, tidak perlu tindakan berlebih karena luka di lutut Baekhyun bisa ia tangani sendiri.
"Aku bisa melakukannya sendiri, Chanyeol."
"Ini yang kau maksud bisa melakukannya sendiri?" Chanyeol melepas perban di lutut Baekhyun yang meninggalkan bekas kecoklatan tidak merata. "Kau memberi cairan pada bagian yang tidak terluka."
Sebuah gel putih yang Chanyeol labuhkan di atas cutton-buds menjadi cara pengobatan yang Chanyeol pilih meski pekikan Baekhyun mulai terdengar memekakan telinga. Wanita itu sedikit berlebihan karena ini hanya gel dan cutton-buds, bukan garam yang ditabur untuk memperparah luka.
"Aku tidak tau lukamu separah ini." kata Chanyeol yang seakan tuli dengan pekikan Baekhyun. "Maaf, ya?"
"Maafmu sudah ku terima. Dan sebaiknya kita hentikan pengobatan ini karena rasanya sungguh luar biasa menyakitkan."
"Tidak, tidak. Ini harus diobati sebelum inveksi."
"Tapi rasanya sakit..."
Untuk siapa sebenarnya Baekhyun merengek seperti itu?
"Sedikit lagi. Oke? Aku akan menutupnya kembali dengan perban dan kita selesai mengobatinya."
Chanyeol tidak berbohong, tak lama kemudian proses pengobatan itu berakhir dengan ditandai adanya penutupan luka dengan perban. Perban yang Chanyeol labuhkan terlihat sedikit rapi daripada yang Baekhyun lakukan sebelumnya.
Chanyeol memilih duduk di samping Baekhyun dari pada kembali ke posisi semula. Jangan tanya kenapa karena semua ini hanya naluri dimana Chanyeol sendiri juga tidak sadar dengan pergerakannya.
Lalu suasana menjadi seperti cuaca di luar. Dingin. Tidak ada yang membuka suara karena semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Baekhyun berpikir ini terlalu canggung karena seorang laki-laki asing memasuki wilahnyanya sedang Chanyeol berpikir ini hal baru dimana ia berkunjung ke tempat seorang wanita yang telah memiliki anak.
Apalagi yang bisa dibicarakan ketika urusan lutut terluka Baekhyun telah berakhir. Mereka juga sudah saling mengenalkan nama dan memang tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Ingat, mereka hanya dua orang asing yang bertemu karena suatu kebetulan.
"Kau sudah menikah?"
Tentu saja sudah, Chanyeol bodoh. Mana mungkin dia tidak menikah jika sudah memiliki anak.
Baekhyun mengangguk. "Ya, aku PERNAH menikah." Dia memberi sedikit penekanan pada hal itu.
"Pernah? Maksudmu?"
Baekhyun membenahi posisi duduknya untuk lebih santai sebelum ia menyunggingkan satu senyum. Chanyeol bisa mengartikan semua itu dengan sebuah definisi luka yang teramat perih untuk diingat. Bahkan sepertinya kenangan yang Chanyeol duga buruk itu kebih menyakitkan daripada luka di lutut Baekhyun.
"Aku pernah menikah tapi suamiku—ah, maksudku mantan suami." Baekhyun tersenyum kecut. "Kami bercerai. Rumah tangga kami mulanya biasa saja sampai setelah di usia keempat aku tak kunjung hamil, dia menceraikanku. Dia menginginkan keturunan tapi aku belum bisa memberinya hingga detik ini." Dia menoleh sekilas pada Chanyeol yang terlihat serius mendengarkan. "Ngomong-ngomong, kita baru kenal tapi aku sudah menceritakan kisah hidupku. Kau tidak akan membocorkannya di muka umum, kan?"
Candaan konyol tapi Chanyeol suka. Lelaki itu mengangguk kecil dengan senyum merekah berisi kepercayaan bahwa dia tidak akan ember pada dunia luar. Lagipula Baekhyun bukanlah public figure dimana tidak akan ada yang tertarik dengan kisah hidupnya. Benar, kan?
"Kau bisa percaya padaku. Aku sangat pandai menjaga rahasia."
"Bagus!"
"Lalu?"
"Lalu apanya?"
"Perceraian kalian."
"Tertarik mendengarkan kisah hidupku?"
."Oh, ayolah. Kau tidak bisa menceritakan hanya setengah bagian."
"Tidak ada untungnya bagimu."
"Kita bisa bertukar kisah hidup, kalau begitu."
"Aku tidak tertarik dengan kisahmu."
"Hei, aku artis terkenal."
"Keempat."
"Apanya?"
"Kau menyebut dirimu artis terkenal."
"Lupakan. Cepat lanjutkan ceritamu."
Tawa kecil Baekhyun menguar ketika Chanyeol mulai frustasi. Dia melipat tangan di dada dan memandangi langit-langit ruang tamu. Tidak ada yang sebaik pelajaran dimasa lalu. Jika diingat memang akan terasa perih, tapi Baekhyun tidak ingin menampik bahwa semua yang dialami memiliki satu makna yang bisa ia gunakan untuk pedoman hidup selanjutnya.
Lalu Baekhyun menceritakan semuanya. Dia berkisah tentang dirinya yang merasa sangat malang karena diceraikan setelah 4 tahun menikah. Willy lelaki baik pada awalnya, tapi semua berubah ketika Baekhyun tak kunjung hamil sedang Willy mendamba keturunan. Apalagi yang bisa dilakukan selain pasrah. Tidak semua kisah hidup harus berjalan sesuai harapan karena realita akan dengan sangat kejam mengacau.
Baekhyun juga berkisah tentang Jesper, anak lelaki yang sudah ia sayangi seperti anak kandung sendiri. Memiliki Jesper sudah lebih dari cukup daripada mengharap Willy kembali. Lelaki itu sudah menemukan kebahagiaan yang mungkin bisa memberikan keturunan. Sedang Baekhyun cukup puas bisa hidup berdua dengan Jesper tanpa gangguan siapapun.
"Jangan memandangku seperti aku butuh dikasihani. Aku baik-baik saja sejauh ini."
"Ya. Sejauh ini kau memang terlihat biasa saja. Tapi di masa depan siapa yang tau?"
"Sekarang giliranmu yang bercerita."
"Aku?"
"Ya. Kau. Si artis terkenal."
.
Semua memiliki lagu dan cerita yang memiliki alur berbeda. Setiap bait yang tertulis sebaiknya dimaknai dengan nada ketulusan meski tidak selalu memiliki artian yang indah. Biarkan semua mengalir sesuai garis takdir masing-masing. Bahagia adalah pilihan dan masa lalu adalah pelajaran. Jangan padukan semua itu jika tidak mau terjebak pada kubangan menjijikkan bernama kesedihan.
Baekhyun tidak pernah tau jika perkenalannya dengan Chanyeol akan memberi satu cerita berbeda. Wanita itu sama sekali tidak mengharap ada setitik cahaya dimana dia bisa bernafas lebih ringan ketika Chanyeol menjadi pewarna baru selain Jesper. Tidak pernah dibayangkan Baekhyun jika ceritanya dengan Chanyeol akan membuahkan kebahagiaan yang selama ini hanya tergantung samar. Ini memang terlalu cepat tapi begitulah adanya.
Mengenal Baekhyun berarti juga harus mengenal Jesper. Anak laki-laki yang Baekhyun kisahkan sebagai anak dari adiknya yang bodoh itu menjadi satu sisi yang harus di luluhkan jika ingin berada dekat dengan Baekhyun. Chanyeol tidak pernah berpikir untuk berada dengan jarak intens, tapi dia memiliki sebuah cerita kenyamanan karena Baekhyun.
Hubungan mereka mengalir seperti air. Diusia seperti sekarang ini pernyataan cinta bukan lagi sebuah simbol yang harus ada. Cukup dengan keberadaan masing-masing untuk tempat bergantung maka kisah ini akan terajut dengan sempurna. Tidak ada yang bisa menebak apa yang Chanyeol dan Baekhyun rasakan, tapi jika kata 'nyaman' memiliki makna yang lebih besar dari jagad raya, maka jangan pernah ada yang menyinggung bagaimana status mereka.
Chanyeol butuh sebuah hiburan sebelum jadwal padat mengikatnya. Dan bertandang ke rumah Baekhyun untuk bermain dengan Jesper atau hanya sekedar melihat senyum merekah bunga sakura milik Baekhyun menjadi pelepas penat yang menyenangkan.
Hari-hari selanjutnya Chanyeol mulai ketagihan dengan semua itu. Dia selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Baekhyun dan meminta wanita itu membuatkan teh hangat untuknya. Tidak akan lama, tapi setidaknya Chanyeol bisa menghirup kebebasan ketika berada bersama Baekhyun dan berkeluh kesah tentang kelelahannya.
"Sepertinya aku akan sering berkunjung kemari." Kata Chanyeol sambil mengakhiri suapan terakhir dari steak yang Baekhyun buatkan.
"Memang aku mengizinkan?"
"Aku tidak perlu izinmu."
"Aku pemilik apartemen ini."
"Jesper," semua kekerasan hati Baekhyun akan kalah jika Jesper memiliki suara hampir 75% untuk menentukan pilihan—Chanyeol sangat tau itu dan dia sengaja mengajak Jesper bersekutu demi melawan si ibu judes tapi cantiknya mengalahkan finalis Miss World. "Besok paman tidak akan datang."
Anak laki-laki itu merengut di sela-sela kesibukannya memutar tameng berlogo bintang yang Chanyeol berikan sebagai hadiah.
"Kenapa?" tanyanya polos.
"Mommy-mu tidak mengizinkan." Chanyeol membuat wajah seolah-olah ia sedang berduka dan membuat Baekhyun berdecih sebal. Artis, sih, makanya pandai membuat ekspresi.
Lalu Jesper akan meletakkan mainannya untuk menarik ujung apron ibunya. "Mommy..." dan merengek penuh kegemasan seperti anak kucing. "Izinkan paman Chanyeol datang kesini, ya?"
Bisa apa Baekhyun jika cara memohon Jesper adalah penawar termanis. Maka dengan satu desahan nafas yang dia buat seterpaksa mungkin itu jawaban, "Ya, paman Chanyeol boleh datang kesini." Baekhyun berikan untuk mendapati lelaki kecilnya melompat-lompat bahagia.
Lalu semua berjalan sedikit berlebih ketika Chanyeol berpikir untuk tidak berbelok ke selatan menuju rumahnya tapi malah lurus ke timur untuk menuju apartemen sederhana berlantai 7.
"Chanyeol?" wanita setengah tidur itu membulatkan matanya ketika sosok Chanyeol muncul di depan pintu di pukul dua pagi. "Ada apa?"
"Boleh masuk? Di luar sangat dingin."
Baekhyun mengangsur pintu apartemennya terbuka lebih lebar.
"Ada apa?" tanya Baekhyun lagi ketika Chanyeol sudah terlihat lebih santai untuk duduk di sofa sebelum dipersilahkan. "Apa terjadi sesuatu?"
"Aku merindukanmu."
Semu merah tomat busuk itu muncul. Baekhyun terlalu cepat berspekulasi tentang ucapan rindu meski sebenarnya dia cukup waras mengartikan makna sebenarnya ucapan itu.
"M-mau ku buatkan sesuatu?"
"Apa yang bisa kau buat?"
"Sepiring pasta pelepas rindu bersama secangkir teh hangat dengan sesendok kenyamanan."
Chanyeol terkekeh dengan permainan kata dari bibir Baekhyun.
"Aku hanya butuh bahu yang bisa membawaku terbang ke nirwana dan melupakan fakta jika di dunia ini terlalu banyak drama."
"Kau pemain dramanya."
"Ya, maka dari itu aku ingin melepas peran itu." Chanyeol merebahkan diri di atas kaki Baekhyun dan mulai mencari nirwana yang ia katakan tadi. Rasanya begitu nyaman hingga dia lupa jika beberapa jam yang lalu dia kelelahan karena syuting.
"Kenapa tidak pulang ke rumah? Rumahmu lebih nyaman dan kau bisa tidur lebih nyenyak di sana."
"Di rumah tidak ada Jesper."
"Jangan coba-coba mengambil Jesper dariku!"
"Seratus persen tidak akan kulakukan. Aku tau dia sumber kebahagianmu."
"Dan juga dirimu."
"Sudah pandai merayu, ya?" Chanyeol mencubit hidung mungil Baekhyun dan mereka berdua kembali tertawa di bawa temaram lampu ruang tamu. "Bulan depan ada festival Kimono. Mau datang?"
"Ajakan kencan, kah?"
"Apa kita berkencan?"
Ya, apa kita berkencan? Pertanyaan untuk diri Baekhyun sendiri.
"Lihat jadwalku nanti."
"Jangan sok sibuk. Yang artis, kan, aku."
"Tck! Dasar sombong."
"Aku hanya ingin mengajakmu juga Jesper untuk jalan-jalan sebelum aku mulai syuting lagi. Bulan depan aku akan sangat sibuk dan mungkin aku akan jarang datang kemari."
"Syuting apa?"
"Sebuah film yang bekerja sama dengan artis dari China. Akan butuh waktu sedikit lebih lama mengingat aku harus belajar bahasa China terlebih dahulu agar tidak ada dialog yang miss."
"Perempuan?"
Chanyeol mencium bau tidak sedap dari pertanyaan itu.
"Ya. Dia cukup cantik dan terkenal di negaranya."
Baekhyun hanya menuruti refleks dalam dirinya untuk mengganti tempat kepala Chanyeol merebah dengan sebuah bantalan sofa.
"Sudah hampir pukul tiga pagi. Sebaiknya kau tidur."
Ada sebongkah perasaan tidak suka dimana Baekhyun merasa seperti dibakar di atas perapian. Kulit hatinya mengelupas dan rasa tidak suka mulai menjadi bumbu penyedap.
"Mau kemana?" Chanyeol menarik tangan Baekhyun yang berniat beranjak. "Cemburu?"
"Tidak ada hubungan di antara kita yang membuatku berhak untuk cemburu padamu."
"Kau cemburu."
"Tidak—mmpph!"
Lalu tangan Baekhyun kembali tertarik dan membuatnya harus rela duduk di atas pangkuan Chanyeol. Jika hanya duduk saja mungkin tidak perlu reaksi berlebih, tapi Chanyeol justru menambahnya dengan sebuah ciuman panas tepat di mulut. Dia menautkan lidahnya untuk menyapu semua kekesalan Baekhyun yang mungkin saja sudah merambat hingga ke langit-langit mulutnya. Tidak adanya perlawanan dari Baekhyun membuat Chanyeol semakin berkuasa memberi kesan basah dari ciuman itu.
Chanyeol tidak tau sudah sejak kapan Baekhyun mengubah cengkeramannya menjadi sebuah belaian lembut di belakang kepala. Yang sekarang sedang merasuki Chanyeol adalah gelenyar bahagia ketika uluran perasaannya tidak memberi hasil buruk. Bersama dengan itu Chanyeol mulai merasa jika semua ini akan menjadi tidak terkendali. Dia yang teramat ingin menyentuh dan Baekhyun yang terkulai penuh kepasrahan. Maka pemanis semua ini adalah bagaimana cara Chanyeol mengakhiri ciuman panas itu dengan satu senyum memabukkan meski tidak ada campuran alkohol jenis apapun.
"A-aku akan mengambilkan selimut untukmu." Baekhyun yang tertangkap basah gugup dengan semburat merah di pipinya adalah apa yang menjadi hal baru yang akan Chanyeol sukai. Dia bisa mengerti betapa ciuman mendadak itu bisa meningkatkan kegugupan Baekhyun hingga membuatnya salah tingkah.
.
.
Pemula bulan Februari menjadi sedikit lebih hangat setelah bulan-bulan yang lalu cuaca dingin mendominasi. Kehangatan yang menjalar mengalir begitu saja seperti susu coklat yang sudah Baekhyun siapkan sebagai pengawal hari untuk Jesper. Anak laki-laki itu terlalu bersemangat di pagi hari hingga sepotong roti bakar dengan selai coklat bisa ia habiskan dalan waktu kurang dari lima menit.
"Mommy, aku mau tambah lagi."
"Lagi?"
"Ya, lagi."
Lalu Baekhyun akan dengan senang hati menyiapkan lagi sepotong roti untuk Jesper. Jika nafsu makan Jesper baik seperti ini Baekhyun merasa senang. Sekalipun bukan makanan berat yang bisa memanjakan lidah Jesper, tapi sepotong roti menjadi pilihan kebahagiaan yang tak terlupakan.
Matahari mulai meninggi dan Baekhyun masih berkutat dengan urusan dapur. Hari ini dia mengambil cuti sehari untuk menyiapkan segala kebutuhan Jesper yang akan diajak Bibi Oh ke Busan. Kedekatan Jesper dan Bibi Oh tidak perlu diragukan lagi. Sebagai buktinya, ketika Bibi Oh meminta izin untuk mengajak Jesper ke Busan, anak laki-laki itu berteriak girang sambil menarik rok kerja Baekhyun demi sebuah izin. Dan, ya, Baekhyun selalu kalah dengan cara merayu Jesper yang terlalu menggemaskan.
Dan menjelang sore hari, Jesper sudah tidak sabar untuk pergi dengan Bibi Oh. Dia bahkan tidak bisa tidur siang karena terlalu excited bisa pergi keluar kota.
"Jangan nakal dan jangan rewel. Jesper harus jadi anak pintar dan tidak boleh merepotkan Bibi Oh. Di tas, Mommy sudah menyiapkan semua keperluan Jesper." Kata Baekhyun sambil mencium dua pipi anak laki—lakinya itu. "Ada ponsel di tasmu. Kalau sudah sampai di Busan, Jesper harus menghubungi Mommy. Minta bantuan Bibi Oh untuk mencari nomor Mommy. Mengerti?"
"Siap, bos!"
Baekhyun tidak pernah berada jauh dari Jesper. Dia selalu membawa anak itu kemana-mana jika ada urusan yang mengharuskannya keluar kota. Maka ketika Jesper sekarang memiliki jarak yang lumayan jauh, Baekhyun mulai merana sambil memandangi dunia luar dari jendela apartemen.
Semua pekerjaan rumah sudah ia bereskan, bahkan tugas kantor yang bisa dikerjakan di rumah juga telah Baekhyun rampungkan. Kini dia merasa sepi dan berharap bisa cepat merasa kantuk meski kenyataannya sekarang masih pukul 5 sore.
Ini terlalu membosankan, bahkan langit sore-pun juga akan paham. Berbagai gaya sudah Baekhyun lakukan untuk mengusir kebosanan. Bahkan ia sudah menjelajahi semua permainan anak-anak yang ada diponselnya—Jesper yang mengunduh itu semua. Tapi kebosanan seperti sedang menari bahagia di atas hidung Baekhyun hingga ia memutuskan untuk menyanggah dagu dengan kedua tangan dan bercerita pada kaca yang membawa pemandangan luas. Tentu saja dia akan bercerita tentang sebuah kebosanan yang menggerogoti sampai akhirnya Baekhyun melupakan itu semua hanya karena seseorang melambai dari jalanan depan apartemen yang bisa di lihat dari kaca jendela.
Berpakaian serba hitam dan tentu saja ada masker beserta topi yang menyembunyikan wajahnya.
Lalu dengan bodohnya Baekhyun akan tersenyum karena kebosanannya akan berganti hal membahagiakan.
.
"Ku kira kau ada syuting." Baekhyun mulai menyayati daun seledri yang akan ia gunakan sebagai garnish.
"Dibatalkan karena lawan mainku sedang sakit."
"Perempuan?"
"Hm."
"Cantik?"
"Lebih dari kata cantik jika aku boleh menggambarkan."
"Kau pasti kecewa karena tidak bisa syuting bersamanya hari ini."
"Oh, Baekhyun. Kenapa kau jadi mudah sekali menebak perasaanku?" dan ekspresi terkejut dari Chanyeol itu mendapat lemparan batang daun seledri dari tangan Baekhyun.
"Stok keju di lemari es dibawa Jesper semua. Tidak apa, kan, tidak ada kejunya?" Baekhyun memberikan pasta dengan saus merah beraroma nikmat pada Chanyeol yang tengah menonton televisi. Lelaki itu mengangguk antusias dan tanpa ba-bi-bu mulai menikmati tiap helai pastanya. "Pelan-pelan. Kau bisa tersedak."
Cara makan Chanyeol sedikit berlebihan. Maksudnya, dia bukanlah orang yang kekurangan uang untuk menikmati sebuah makanan. Terlebih sepiring pasta yang dibuat ala kadarnya oleh tangan Baekhyun. Tapi lelaki itu menikmatinya seolah dia belum makan selama satu tahun. Berlebihan, kan?
"Besok pagi-pagi aku ada syuting di dekat sini." Katanya setelah menghabiskan pasta dalam piringnya. "Aku sedang malas untuk pulang jadi aku akan bermalam disini."
"Siapa yang mengizinkan?" Baekhyun menyeka sisa saus yang masih tertempel liar di sekitar bibir Chanyeol. "Sekutumu sedang pergi, tidak akan ada yang membela."
"Diizinkan atau tidak, aku akan tetap bermalam disini."
"Pemaksaan itu namanya." Ujar Baekhyun sambil memberikan segelas air putih pada Chanyeol.
"Terserah," Dan Chanyeol menghabiskan semua air dalam gelas itu, "Ku pastikan kau tidak akan tega mengusirku yang sedang malang ini."
"Malang apanya? Uangmu banyak dan tubuhmu tidak sakit."
"Hatiku yang sakit. Akh!" lalu Chanyeol merubah mimik seperti seseorang yang kesakitan di bagian dadanya dan menambah efek tumbang berlebihan hingga dia bisa menjadikan kaki Baekhyun sebagai sebuah bantal.
Sebenarnya suasana seperti ini tidak perlu terjadi jika Baekhyun bisa lebih rileks menghadapinya. Dia harus segera menguasai kembali perasaannya yang meletup aneh hanya karena Chanyeol berada dalam jarak sedekat ini.
Setelah bercerai dengan Willy, Baekhyun memutuskan untuk tidak mengikat hubungan dengan siapa saja. Bahkan ketika Kris selalu datang dengan rayuan busuknya atau Kris yang sok perhatian dengan hidup Baekhyun, wanita itu benar-benar memiliki pendiriang yang kuat untuk berdiri sendiri. Baekhyun sangat percaya diri jika hatinya tidak akan membuka sekalipun seseorang memaksa untuk masuk. Tapi sialnya, keberadaan Chanyeol meluruhkan semua itu dengan cara yang teramat tak bisa di logika. Lagipula tidak ada logika yang bisa menampung semua ini ketika rasional dalam diri Baekhyun berteriak untuk mengizinkan Chanyeol masuk.
Dan lelaki itu sudah masuk. Bahkan dia telah menguasai sebagian dari dalam diri Baekhyun tanpa kenal apa itu permisi.
"Baek,"
"Hm?" jangan menganggu orang yang sedang minum.
"Tidak ingin membuka hati untuk orang lain?"
Baekhyun muncrat tepat di wajah Chanyeol yang ada di bawahnya. Dia segera mengambil tissue dan membersihkan semua air yang tak sengaja ia semburkan. Salah sendiri siapa yang menanyakan hal itu?
"Apa perlu ku jawab?"
"Ya."
"Apa kepentinganmu tentang hal itu?"
"Hanya mencari tau saja. Tidak boleh?"
Baekhyun mengambil nafas sedikit panjang. Dia butuh sedikit kelonggaran jika berbicara tentang hati. Hanya saja ini terlalu aneh jika Chanyeol menanyakan hal itu sedang ia tau jelas bagaimana perasaan Baekhyun sekarang. Atau Chanyeol memang tidak tau?
"Nanti jika sudah waktunya akan ku buka."
"Masih trauma, ya?"
"Emm...tidak juga. Hanya menunggu yang tepat dari pada tergesa dan pada akhirnya aku akan jatuh ke lubang yang sama."
"Sementara menunggu," Chanyeol bangun dan duduk dengan wajah tidak lebih serius dari biasanya, "aku akan bersamamu dan menjagamu."
"Kau ini kenapa?" Baekhyun memukul pelan pundak laki-laki itu karena dia terlalu cepat merubah suasana menjadi serius seperti ini.
"Ini akan terdengar konyol tapi kau bisa mempercayaiku." Lalu Chanyeol memulai dengan meraup rahang Baekhyun, "Tidak pernah aku bertemu wanita sekuat dirimu. Kau sangat baik tapi mantan suamimu sudah menyia-nyiakan berlian sepertimu. Bodoh sekali lelaki itu."
"Willy tidak bodoh. Dia hanya tidak punya otak."
"Ku harap kau tidak merasakan trauma meski itu akan terasa sulit. Aku tidak bodoh dengan hubungan kita dan aku juga tidak menutup mata jika aku mulai memiliki hati padamu. Semua begitu ambigu hingga aku sadar jika satu waktu aku tidak melihatmu, aku akan gila segila-gilanya."
"Kau...tidak sedang akting, kan?"
"Apa aku terlihat seperti itu?"
Tidak. Baekhyun bisa melihat keseriusan dari mata Chanyeol yang menggantung tinggi-tinggi semua hatinya.
"Aku seorang janda,"
"Ya, aku tau dan aku tidak peduli. Kau janda atau tidak, kau tetap Byun Baekhyun." Satu kecupan Chanyeol beri di puncak kepala wanita itu.
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"
Lelaki itu sedikit menggeser duduknya untuk menepis jarak dengan Baekhyun. Dia mulai menyelami bagaimana keheningan dan temaram lampu mulai mendukung untuk sebuah bukti tentang hatinya. Bukan sesuatu yang nyata karena hati hanya tau bagaimana merasa tanpa menunjukkan rupa.
"Dengar," Chanyeol menggunakan nada terendahnya, "Tiba-tiba atau secara terencana, pada akhirnya sebuah perasaan harus di ungkapkan. Kita bukan lagi remaja yang menginginkan sebuah simbol, untuk itu aku harap kau bisa memaknai ini semua sebagai keseriusanku. Asal kau tau, ini semua tidak mudah."
Apakah salah jika Baekhyun mulai menggenggam darah pemanas Chanyeol dengan bergerak maju dan mencuri satu ciuman di bibir lelaki itu? Baekhyun bukan wanita yang bisa membalas ungkapan hati. Maka Baekhyun berharap dengan ciuman singkat itu Chanyeol juga tau bagaimana hatinya.
Seharusnya semua ini hanya sebatas ungkapan hati yang berimbuh ciuman singkat, bukan malah tubuh yang terbujur pasrah ketika lumatan bibir mulai memasuki tahap basah. Tidak tau sejak kapan, Chanyeol sudah mengungkung Baekhyun di bawahnya. Dia melupat, menggigit, dan melenguhkan gairah cinta ketika tidak ada lagi yang perlu dipaksakan. Semua terjadi begitu saja dan Baekhyun juga tidak lagi peduli bagaimana sekarang Chanyeol mencumbunya.
Baekhyun pikir jatuh cinta lagi bukanlah hal yang menyeramkan. Dia kembali merasakan bagaimana kupu-kupu dalam perutnya berterbangan dan menimbulkan efek bahagia yang berlebihan. Bukan tentang sebuah status dia seorang janda dan Chanyeol adalah bujangan yang sedang meraih popularitas, tapi tentang dua hati yang memutuskan untuk saling menyelam.
Banyak malam yang telah mereka lalui untuk sekedar melepas rindu atau melepas gairah. Lenguhan dan desahan memiliki ungkapan berlebih yang menggelitik hati. Dan, ya, tidaklah munafik jika keduanya menyimpan gairah yang siap tercurah kapan saja. Selama itu Chanyeol, Baekhyun akan dengan senang hati membuka pintu apartemen untuk tempat bertandang Chanyeol atau dia yang secara suka rela menanggalkan semua pakaiannya untuk menerima gairah Chanyeol.
Ya, untuk beberapa minggu semua terasa menyenangkan sampai suatu hari Baekhyun harus terenggut kembali pada dasar kebodohan.
Mungkin dia yang terlalu berharap atau dia yang telah kecanduan, Chanyeol tidak lagi menekan bel pintu apartemen. Mulanya Baekhyun pikir lelaki itu sedang sibuk dengan urusan pekerjaannya sebagai artis. Dan sebenarnya terlalu dipaksa untuk baik-baik saja ketika Baekhyun mendengar sebuah kabar jika lelaki itu diterpa kabar tentang hubungan pribadi dengan lawan mainnya dan Chanyeol memberi sanggahan jika dia tidak sedang berhubungan dengan wanita manapun.
Lalu apa artinya kata manis dari mulutnya? Dan apa kabar dengan gairah yang mereka bagi dalam beberapa malam?
Baiklah, Baekhyun kembali jatuh di lubang yang salah. Dia kembali menjadi yang tersakiti dan bersiap akan mundur.
Entah ini sebuah kebahagiaan atau sebuah keburukan karena ketika Baekhyun tak kunjung mendapat tanggal bulanannya dan dia dengan sedikit ragu membeli sebuah alat di apotik, sebuah garis merah samar memperjelas kekhawatirannya. Dokter kandungan menjadi pemberi kepastian terakhir yang keakuratannya hampir 100 persen.
Ya, Baekhyun hamil. Di dalam rahimnya ada sebuah janin berusia 2 minggu. Semua itu mematahkan asumsi Willy tentang kandungannya yang bermasalah. Nyatanya sekarang Baekhyun sedang membawa setitik kehidupan kecil dalam rahimnya yang tidak mungkin ada jika kandungannya bermasalah.
Jangan pertanya siapa yang harus bertanggung jawab, keheningan sudah menyimpan jawabannya. Tapi Baekhyun terlanjut jatuh, dia tidak ingin mengemis pada lelaki itu atas apa yang ada dalam dirinya. Dia sudah dibuang seperti barang tak berguna. Untuk apa bertahan dengan seseorang yang telah membuangnya?
.
.
.
TBC
Hai, jumpa lagi. Semoga kalian suka :)
Terima kasih buat yang sudah ingetin typo Ayoung wkkw
Terima kasih juga buat yang sudah baca dan menikmati semua cerita Ayoung.
Yang nunggu Casnic dan Wanderlust buat di-up, siap-siap aja ya wkwk
.
.
Yaudah, jangan lupa tinggalkan review ya hehe
Dan, Ayoung mau promosi lagi nih. Buat yang pengen kenalan (ciyeee) bisa follow ig parkayoung_
.
.
BYE~
