Bocah
Disclaimer: Saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak punya apapun kecuali jalan cerita.
Warning: Typo(s), Tidak suka, jangan baca (simple bukan), Pelampiasan terhadap dunia nyata, ide cerita pasaran, jika ada kesamaan jalan cerita, itu bukan suatu unsur yang disengaja. DLL
Happy Reading
Kyungsoo menggeliat sebelum akhirnya membuka matanya perlahan. Matahari mulai menyusup melalui tirai tirai kamarnya yang belum terbuka. Dia mengerjapkan mata bulatnya beberapa kali, dan menguap lebar, dan akhirnya bangkit dari tidur paginya.
Dia lirik jam dindingnya, masih pukul enam lebih empat puluh lima menit. Dia merenggangkan otot otonya. Sembari menganggaruk tengkuknya, dia keluar kamarnya, menuju kamar mandi untuk menghilangkan kantuk yang tersisa dan menggosok gigi, mungkin.
Sebelum dia menuju kamar mandi, dilihatnya, seorang bocah masih meringkuk, dengan selimut yang membungkus rapat tubuhnya. Ya bocah yang cukup keras kepala, yang menolak dengan tegas untuk tidur sekasur dengannya malam tadi, meminta satu bantal dan sebuah selimut sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan untuk tidur di sofa depan telivisi.
Kyungsoo mengurungkan niatnya untuk langsung ke kamar mandinya, dia menuju bocah laki-laki yang tertidur dengan wajah malaikatnya, di dengarnya dengkuran halus dari mulutnya. Ya setidaknya Kyungsoo tahu, si bocah tidur dengan nyenyak, meski hanya diatas sofa, mengurangi rasa bersalahnya karena kalah debat dengan seorang bocah tadi malam.
Dan Kyungsoo yang masih dibalut celana selutut dan kaus itu masih setia memandangi wajah si bocah, memperhatikan garis wajah yang masih belia, kulitnya sedikit lebih gelap, garis rahangnya lumayan tegas untuk bocah seukurannya, dan kemudian, si bocah yang tertidur menggeliat pelan dalam tidurnya, mengubah posisinya membelakangi Kyungsoo, menghadap pada sandaran sofa, membuat Kyungsoo ingat tujuannya untuk menggosok gigi dan membersihkan sisa-sisa kantuk yang masih bersarang diwajahnya.
Selesai menggosok giginya, dan membersihkan wajahnya, dia berjalan keluar apartemennya menuju kotak surat, dan mengambil koran paginya.
Dia mebentangkan lebar koran paginya, melihat menu utama yang disajikan untuk hari ini, ya seperti biasa, masalah politik pelik dan ekonomi yang tak kunjung habis, kasus pembunuhan, pencurian dan semacamnya, yang memang selalu terjadi di kota-kota besar. Dan tentu saja berita orang hilang, di pojok kiri bawah halaman utama.
Tunggu, dia melihat lagi, foto yang tertera di halaman depan koran itu, dia familiar dengan wajah itu, ya wajah yang baru saja dia amati lekat-lekat pagi ini. Sempurna, matanya membulat sempurna.
.
.
.
Setelah membalas sapaan, orang tua yang hidup di samping apartemennya, kyungsoo buru-buru masuk ke ruamahnya, dia melempar surat kabar itu diatas meja, diliriknya si bocah masih setia meringkuk, dia masuk kemaranya, mencari ponselnya, dan mendial nomor yang tertera di sana.
Lama sebelum akhirnya suara penuh keengganan mengangkatnya.
"Halo, ada apa Kyung?"
Sapa telepon di seberang, ada keraguan dalam diri Kyungsoo tiba tiba, sebelum akhirnya dia menjawab telepon itu.
"Ha-hanya memastikanmu sudah bangun atau belum," Ujar Kyungsoo sebelum mendengar sumpah serapah lawan bicaranya, dan mematikan secara sepihak hubungan telepon itu. Kyungsoo menghela nafas panjang, tidak menyangka ada keraguan. Bukankah diawal, dia sudah menolak keberadaan si bocah? Tapi mengapa sekarang dia ingin mempertahankannya padahal jalan keluarnya sudah di depan matanya?
Tanpa Kyungsoo sadari, dia terlalu bosan dengan hidupnya yang terlampau baik-baik saja, jadi itu mungkin menjadi salah satu alasannya tetap mempertahankan bocah yang masih meringkuk imut di sofanya itu. Ya yang dia butuhkan hanyalah pewarna, sebuah warna yang menggores kanvas abu-abunya.
Dan dia berpikir si bocah yang mengaku bernama Kai ini bisa jadi pewarnanya.
.
.
.
Kyungsoo baru beranjak, setelah berdebat dengan opini-opininya pagi ini, dia menyisir jari surainya kebelakang, sebelum mendapati si bocah sudah bangun seraya mengerjap ngerjap imut, dan mengucek matanya dengan punggung tanganya, seperti apapun wajah seorang bocah, bukankah setiap perilaku yang dia lakukan memang selalu terlampau imut?
"Pagi," Kyungsoo menyapa, si bocah menoleh, kemudian menunduk hormat, tanpa mengatakan sepatah kata, dia mencuri-curi panadang kearah Kyungsoo. Kyungsoo mengulum senyum sebelum menuju kearah Kai yang sudah duduk di sofanya.
"Bagaimana tidurmu?" Tanya Kyungsoo berjalan menuju Kai yang masih mencuri-curi pandang kearahnya.
"Lebih nyaman dari pada kemarin." Ujarnya pelan, kemudian menunduk dalam.
"Seharusnya kau terima tawaranku untuk tidur di ranjang, itu mungkin lebih nyaman meski tidak luas, aku tidur dengan tenang." Ujar Kyungsoo, yang menunduk mengambil, surat kabar yang tadi dia lemparkan diatas meja depan sofa. Si bocah mengangkat wajahnya, matanya nenatap kearah Kyungsoo, yang mulai berjalan menjauh menuju dapur.
"A-ah ti-tidak, aku baik baik saja tidur di sofa, ini sudah sangat nyaman, ya sangat nyaman." Ujar Kai cepat, tatapannya masih mengikuti Kyungsoo yang berjalan menuju dapurnya yang tidak bersekat dari ruang televisinya, Kai memegang sandaran sofa dan mencondongkan kedepan tubuhnya, bertumpu pada sandaran sofa, untuk terus melihat pergerakan Kyungsoo di belakang.
Kyungsoo menghembuskan nafas, bocah ini memang keras kepala. Dia mengambil persediaan sikat gigi di lemari dinding yang berada di sebelah kulkasnya.
"Baiklah-baiklah, setidaknya, bersihkan dulu dirimu," Ujar Kyungsoo berbalik, menatap bocah yang masih berada di atas sofa, mengamati dari balik sandaran sofa, memainkan sikat gigi baru yang masih terbungkus plastik. Ya dia punya banyak sikat gigi, mengingat setiap tiga bulan sekali dia mengganti sikat gigi lamanya.
Kai mengangguk, kemudian mulai berdiri, dan menuju Kyungsoo di dapur, meraih sikat gigi yang diberikan Kyungsoo, dan berlari kecil kearah kamar mandi.
"Kau tidak ingin kubuatkan sesuatu? Seperti sereal? Atau susu? Atau roti?" Tanya Kyungsoo sebelum Kai berjinjit untuk membuka knop pintu kamar mandi. Kai menggeleng sebelum akhirnya masuk dan menutup pintu kamar mandi itu.
Kembali, Kyungsoo menghela nafas panjang. Sekarang dia menuju sofa, melipat selimut yang digunakan Kai, dan duduk bersandar, seraya meraih remot yang tergeletak manis di meja depannya, menekan tombol on, dan menonton televisinya. Sayangnya perhatiannya tidak pada televisi, kembali perhatiannya teralih pada surat kabar halaman utama di pojok bawah sebelah kiri.
Dia menatap lekat-lekat foto yang tertera di kolom orang yang dicari, dilihatnya foto seorang bocah yang memakai pakaian jas hitam, dan menatap tanpa ekspresi, tidak ada senyum disana, di sana tertera identitas lengkap si bocah mulai dari ciri-ciri, nama, umur dan juga alamat lengkap, kontak person untuk orang yang barang siapa menemukan, dan nominal hadiah yang diberikan kepada siapapun yang menemukannya.
Kyungsoo menelan salivanya kasar, bukannya dia tertarik dengan hadiahnya, dia masih belum bisa percaya, bahkan mustahil untuk dipercaya, dia begitu bodoh sampai melupakan ini, tentu saja, dia tahu siapa yang menghilang ini, salah satu penerus bisnis terbesar dan berpengaruh se-Korea Selatan, salah satu adi kuasa pemegang perekonomian negara. Keluarga absolute yang sudah turun temurun menjalankan bisnis luar biasa sampai berkembang sedimikian rupa, ya keluarga besar KIM.
Dan yang hilang adalah anak sulung pemegang saham terbesar perusahaan dan juga sebagai pemilik sah perusahaan itu. Kim JongIn. Siapa yang tidak mengenal bocah yang selalu mengisi setiap acara penting, dan wajahnya yang selalu menghiasi halaman utama semua surat kabar, karena kecerdasan yang dimiliki otaknya yang super sekali.
Dan bagaiman dia bisa melupakan wajah itu? Tapi bocah itu mengaku bernama Kai, Ya Kai, mungkin dia hanya orang yang mirip dengan si Kim JongIn ini? Tapi bagaimana bisa sama persis seperti ini? Jadi Kai ini berbohong padanya? Tapi mengapa? Dan jika dia tidak segera mengembalikan si bocah Kim ini, maka dia kan berada dalam masalah besar. Dadanya berdebar kencang, bukan debar menakutkan dan menyesakkan, melainkan sebuah debar yang menggebu-gebu menyenangkan, dia tidak sabar akan sesuatu, namun hatinya masih belum yakin. Kenapa ini, rasanya jantungnya bisa melompat keluar kapan saja. Bagaimana dia bisa sebahagia ini? Dia dalam masalah serius bukan?
"Hyung.."
Suara kecil itu mengintrupsi, Kai terlihat lebih segar dengan bulir air yang turun dari wajahnya yang kecil. Sesegera mungkin Kyungsoo melipat korannya dan bangkit dari duduknya.
"Nah Kai, aku harus kemini market sebentar untuk membuat sarapan untuk kita, bisa kau jaga rumah untukku?"
Kai mengangguk patuh, Kyungsoo tersenyum, kemudian menepuk pelan kepala Kai, dia menuju kamarnya, untuk ganti baju, dan mengenakan Hoodienya, mengambil dompet dan ponselnya dan memasukkannyapada saku depan hoodienya.
"Aku berangkat," ujarnya sembari membuka pintu apartemennya.
"Hyung.."
Suara Kai menghentikan langkahnya, dia menoleh dan melihat Kai dengan payung bening di tangannya.
"Kakak di tivi bilang akan turun hujan sebentar lagi, lihat, mataharinya sudah tidak terlihat." Ujar Kai seraya menunjuk televisinya yang menyala, dan bergantian pada langit di luar jendelanya. Oh bodohnya dia, dia bisa saja mengulangi kebodohannya seperti kemarin. Padahal yang membangunkannya tadi, cahaya matahari bukan, cuaca memang mengerikan.
"Terima kasih," Ujar Kyungsoo sebelum pergi dan menutup kembali pintu apartemennya dan melangkah pergi.
.
.
.
"Terimakasih sudah berbelanja."
Kyungsoo beranjak dari mini market, setelah keperluannya selesai, membeli persediannya selama seminggu kedepan. Dan yang, berterima kasihlah pada Kai, karena bisa saja dia terjebak hujan berjam-jam lagi, jikalau dia tidak menggunakan payung yang diberikannya tadi.
Dia berjalan pelan, tak terburu-buru seperti orang-orang disekitarnya, yang menyipratkan genangan air dari setiap langkahnya. Oke sekarang dia ingat, dia butuh bantuan seseorang.
Dia sampai di sebuah rumah minimalis yang sederhana, menawarkan sejuta kehangatan didalamnya, di pagarnya tertulis 'Keluarga Byun'. Kyungsoo menekan bel rumahnya, dua kali, sebelum akhirnya, seorang wanita paruh baya membukanya, kerutan diwajahnya sama sekali tidak mengurangi ketegasan garis cantiknya.
"A.. Kyungsoo-ya, lama tidak bertemu," Sapa wanita itu ramah, dan membiarkan isyarat Kyungsoo untuk masuk, dia menutup payungnya, dan menyandarkannya di dekat pintu masuk, dia lepas sepatu ketsnya, sebelum masuk rumah itu.
Pendengaran Kyungsoo disapa tawa membahana seorang bocah, dan langkah kak, seorang yang berlari di lantai atas. Wanita didepannya terkekeh.
"Mereka berdua memang selalu seperti itu, nah, kau ingin bertemu dengan Baekhyun kan? Tunggu sebentar aku akan memanggilnya." Wanita itu mempersilahkan Kyungsoo duduk di kursi ruang tamu, setelah mengucapkan terima kasih, dia duduk dan mengamati sekelilingnya, ya tidak banyak yang berubah sejak dia terakhir kali kemari.
Kyungsoo mendengar langkah kaki dari tangga, sebelum seorang laki-laki manis seumurannya terlihat dia menggunakan pakaian santai, dan lihat di belakangnya, seorang bocah buru-buru melangkah dan melompat kearah punggung Baekhyun, membuatnya sedikit terhuyung kedepan. Benar-benar bahaya, kalau saja mereka sampai terjatuh.
"Kyungsoo-ya, kau masih mengingatku." Baekhyun menunjukkan senyumnya, sementara si bocah masih menempel di punggungnya, mengintip sedikit lewat bahu Baekhyun.
"Tentu saja, tidak mungkin aku melupakan seseorang yang selalu mengerjaiku saat SMA." Ujar Kyungsoo sebelum menunjukkan senyumnya, Bakhyun tertawa kemudian berjalan mendekat kearah kursi tamu, setelah memerintahkan si bocah untuk segera turun dari punggungnya, namun bukannya turun malah mengeratkan pegangannya dari leher Baekhyun. Baekhyun mendengus kesal, sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya pada kursi empuk itu, dan si bocah tetap bertahan. Adik dan kakak memang sama saja. Bandel.
"Jadi? Dari mana kau?"
Baekhyun bertanya basa-basi, sebelum Wanita yang membuka pintu tadi, membawa nampan dan meletakkan dua cangkir teh hangat. Kyungsoo membungkuk mengucapkan terima kasih.
"Nah ibu? Punyaku?" Bocah yang masih menempel pada Baekhyun itu bertanya, wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa, melihat hanya dua cangkir yang di suguhkan.
"Eh kau mau juga? oh maaf Ibu tidak tahu, kalau mau ayo ikut ibu kedapur kubuatkan sesuatu untukmu manis." Ujar Wanita itu, sementara bocah yang masih setia merangkul Baekhyun itu matanya sepeprti mengatakan, kenapa-tidak-ibu-bawakan-saja-kesini.
"Ayo ikut ibu, Kakak ada tamu, oke?"
"Tidak mau bagaimana nanti kalau kakak dibawa pergi?" Kyungsoo tersenyum kaku medengar pernyataan bocah itu, dia memang selalu menempel pada kakaknya, yang katanya perlu dilindunginya, oh yang benar saja, dia masih berumur sepuluh tahun, melindungi orang yang beda sebelas tahun darinya?
"Tenang saja Chanyeol-ssi, aku tidak akan menculik kakakmu yang berharga ini, kau bisa percaya padaku." Mendengar kalimat itu Chanyeol –bocah yang menempel seperti cicak itu tersenyum lebar, menampilkan deret gigi yang setengahnya masih gigi susu, dan tidak ada tanda pergerakan dari bocah itu. Baekhyun memijit pelipisnya, adiknya yang satu itu memang selalu berlebihan jika ada temannya datang. Ibu Baekhyun menghela nafas pasrah, sebelum tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.
"Nah nah, jadi dari mana kau, sehingga berpikiran untuk mampir?" tanyanya lagi,
Kyungsoo meneguk perlahan tehnya.
"Aku baru saja dari mini market, kau tahu, membeli beberapa perlengkapan untuk seminggu kedepan." Baekhyun membulatkan bibirnya, tanda mengerti.
"Jadi? Ada apa?"
Baekhyun terlalu mengenal kawannya yang satu ini, datang kemari karena inisiatif dirinya sendiri, terlalu mencurigakan kalau hanya sekedar mampir dan berbincang.
"Kaku sekali," Kyungsoo menimpali, seraya meneguk tehnya lagi,
"Aku begini, karena yang didepanku adalah kau, Kyungsoo, tidak mungkin kau tidak punya modus datang kemari, aku terlalu mengenalmu."
Kyungsoo terkekeh, temannya ini masih belum berubah. Oke mungkin waktunya juga tidak banyak, karena dia juga tidak mungkin meninggalkan bocah yang ada di rumahnya terlalu lama.
"Umm sekarang aku tinggal dengan seseorang," Kyungsoo menggantungkan kalimatnya, tanda tanya muncul dari kepala Baekhyun, yang masih mencoba melepaskan tangan kecil Chanyeol. Dan sesekali mengucapkan 'duduklah sendiri' dan dibalas dengan mata yang di julingkan dan lidah yang terjulur.
"Lalu?" Baekhyun ingin mendengar kelanjutannya, Kyungsoo nampak ragu memberi tahu Baekhyun yang sebenarnya, bukan karena dia tidak percaya atau sesuatu, ya karena dia tidak ingin orang disekelilingnya terlibat, hanya itu.
"Dia seumuran dengan adikmu, ja-jadi, karena dia memutuskan menginap selama beberapa hari di tempatku, dan di-dia tidak membawa baju, jadi.."
"Siapa dia?" Baekhyun mengubah tatapannya menjadi tatapan intimidasi, Kyungsoo menelan salivanya kasar, oke dia memang tidak pandai berbohong.
"Di-di-dia.."
"Apa?! Dia seumuran denganku? Benarkah? Apa aku bisa bertemu dengannya? Aku ingin bermain dengannya, boleh ya boleh ya." Ujar Chanyeol yang akhirnya melepas pelukannya dari kakaknya, dan berjalan tergesa-gesa menuju Kyungsoo.
"E-e-eh, tentu saja, aku akan ajak dia kemari kapan-kapan." Kyungsoo mengatakan dengan cepat, membuat mata Chanyeol semakin berbinar. Kyungsoo sendiri tidak yakin apa yang dia katakan, ini membuatnya merasa serba salah. Baekhyun mendengus, Baekhyun tahu, jika Kyungsoo sudah bicara diliputi keraguan seperti ini, artinya, Kyungsoo butuh waktu untuk menjelaskan secara detail masalahnya. Sudah Baekhyun bilang bukan, dia terlalu mengenal Kyungsoo.
"Jadi butuh berapa potong?" Baekhyun akhirnya menyanggupi,
"Berikan saja semua hyung." Chanyeol mengatakannya dengan enteng.
"Hoo lalu kau mau pakai apa hm?"
"Aku bisa memakai bajumu, kita akan berbagi baju, thehe."
Baekhyun memutar bola matanya sempurna, tidak menyangka adiknya akan tumbuh menajdi seorang maniak seperti ini. Kyungsoo yang mendengarnya hanya sweatdrop.
"Hanya butuh beberapa, untuk beberapa hari kedepan." Kyungsoo menjawab akhirnya yang dibalas anggukan oleh Baekhyun, yang kemudian mengisyaratkan adik tercintanya untuk tidak mengikutinya dan menunggu bersama Kyungsoo.
"Jadi Kyungsoo hyung, siapa nama anak yang tinggal bersamamu?" Chanyeol bertanya.
"Dia bilang namanya Kai." Jawab Kyungsoo.
"Apa dia cantik?"
"Dia laki-laki."
"Kakakku cantik, tapi dia laki-laki."
"Dia akan marah mendengar kata-katamu Chanyeol." Dan berakhirlah dia harus menjawab semua pertanyaan yang kadang konyol dari mulut seorang Chanyeol, sampai menunggu kakaknya yang manis selesai.
.
.
.
Baekhyun turun dari tangga seraya menenteng kardus ukuran tanggung di tangannya, dia tersenyum seraya menyerahkan kardus itu pada Kyungsoo.
"Kau seperti menyumbangkan pakaian pada posko bencana alam." Ujar Kyungsoo seraya menerima, Baekhyun tersenyum malaikat.
"Hyung kau serius memberikan semua pakaianku?" Chanyeol ikut berujar. Baekhyun yang masih mempertahankan senyum malaikatnya, menatap kearah Chanyeol, seperti sensornya mengatakan dia berada dalam bahaya, Chanyeol berlari memeluk kaki Kyungsoo.
"Lihat Kyungsoo Hyung, dia terlihat mengerikan ketika tersenyum." Chanyeol berbisik pada Kyungsoo. Dan Kyungsoo hanya tertawa garing.
"Kuharap baju yang kau berikan ini tidak kebesaran, ya mengetahui tubuhnya lebih kecil dari pada adikmu ini." Ujar Kyungsoo, Baekhyun menatap adiknya kembali, oh dia baru sadar jika adiknya ini memang sedikit lebih bongsor dari pada anak-anak seumurannya.
"A-ah kurasa tidak, lebih baik kebesaran dari pada kekecilan kan?" Ujar Baekhyun sebelum akhirnya Kyungsoo izin untuk pamit, oke sekarang dia kerepotan membawa kantung belajaannya bersama kardus tanggung, dan juga payungnya, jangan lupa diluar masih hujan. Oh sekarang dia mengerti mengapa tadi Baekhyun tersenyum malaikat seperti itu, dasar iblis.
"Kau berhutang penjelasan padaku Kyungsoo-ya," Dan juga dia ingat kalimat terakhir itu terdengar seperti semacam ancaman untuk Kyungsoo meski diucapkan dengan nada yang manis khas Baekhyun.
Ah entah apa yang dia pikirkan sekarang, dia malah datang ke Baekhyun dan meminjam pakaian, ini berarti dia telah membuat keputusan untuk masuk sumur yang sudah diracuni gas metana. Dia menggigit bibir bawahnya sepanjang perjalanan, otaknya mengatakan dirinya untuk segera menyerah dan menyerahkan bocah yang masih berada di kediamannya itu, tapi hati dan dadanya terus saja berdebar debar bahagia. Dia mulai ragu dengan semua langkah yang dia ambil sampai sekarang. Apa yang sebaiknya dia lakukan, menuruti logikanya? menuruti hatinya?
.
.
.
Bersambung
.
.
balesan review buat yang gak log in
Guest: ok this, the next..
kaisooshper: ma-maafkan saya, saya gak bermaksud menjelekkan kok, saya juga shipper mereka, *nangis* well ini udah update, ini murni dari kepala saya kok, apa masih sama seperti yang di maksud? di tunggu kritikannya..
: wah ikut seneng sayanya. ini sudah lanjut, bagaimana menurutmu? ditunggu reviewnya..
A/N: terima kasih untuk semua yang mereview, dan terima kasih karena sudah meluangkan waktu semuanya, jadi bagaimana untuk chapter yang ini? mohon koreksi, kritik dan sarannya..
Smile with light Arumighty
