Disclaimer : Harry Potter is Belong to J.K. Rowling.

A/N : Warning! Typo(s), OOC, EYD berantakan, sedikit Muggle word. semoga kalian suka dengan lanjutan chapter sebelumnya. Hope you enjoy whit this story.


Chapter 2

Siang ini cuaca begitu cerah. Matahari bersinar dengan terangnya. Orang-orang biasanya akan bertamasya dengan keluarga ke menara eiffel, atau museum louvre, dan tempak-tempat menarik di kota romantis ini.

Hermione Granger, telah berkemas-kemas, rencananya hari ini ia akan check-out karena harus membantu ferret-yang-terjebak-sial di kota yang ia gunakan sebagai liburannya kali ini. Hermione memasukan semua barang miliknya kedalam tas manik-manik miliknya yang telah diberi manta perluasan tak terdeteksi.

Draco berdiri menunggu gadis berambut semak tersebut berkemas. Mata kelabu miliknya melihat Hermione yang sibuk memasukan barang barang miliknya ke tas kecil miliknya. Terkadang Hermione mengusap dahinya yang penuh dengan keringat.

"Apa kau perlu bantuan, Granger?"Tanya Draco mencoba berbaik hati. "Tidak perlu. Trims."Ujar Hermione. Kemudian Hermione mencari sesuatu di tas kecil manik-manik miliknya tersebut. Karena kesusahan hermione mengambil tongkat miliknya, "Accio Wallet."

Sebuah benda melompat keluar dari tas manik-manik tersebut. Hermione menangkap benda tersebut. Ia membuka benda tersebut. Ia kemudian menghitung kertas-kertas yang ada di dalam benda tersebut. Berharap semoga cukup untuk membayar tagihan hotel.

"Baik, Malfoy. Saat aku check-out nanti kau tunggu di pintu lobby hotel atau ruang tunggu."Ucap Hermione yang kemudian berjalan keluar kamar tersebut. "Hm. Tak akan lama kan?"Tanya Draco yang berjalan mengikuti Hermione yang berada di depannya. "Mungkin tidak."

Mereka berjalan dilorong tersebut, mengarah pada lift Hotel tersebut. Hermione kemudian menekan tombol panah turun. Tak lama kemudian lift tersebut terbuka, Hermione dan Draco kemudian masuk kedalam lift yang kosong tersebut.

Hermione menekan tombol berangka satu tersebut, menandakan tujuan mereka adalah lantai satu. Lift kemudian bergerak turun. Tak butuh waktu lama lift tersebut sampai di lantai satu dengan membawa Hermione dan Draco.

Hermione dan Draco kemudian melangkah keluar lift yang kemudian menampakan lobby hotel dan bagian Administrasi. "Kau tunggu disana, Malfoy."Ucap Hermione sambil menunjuk ruang tunggu. "Dari pada kau aku suruh tunggu diluar."

Draco berjalan kearah sofa berwarna coklat. Ia duduk di sofa tersebut dan memandang sekitar. Dilihatnya sebagian orang berbahasa perancis dengan lancar. Draco sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Hingga akhirnya draco melihat dua polisi yang sepertinya sedang bertugas di Hotel tersebut.

"Sial."Umpat Draco yang kemudian mencari akal agar dia tidak diketahui oleh dua polisi tersebut. Di depannya terdapat meja dengan beberapa majalah. Dengan cepat Draco mengambil salah satu majalah untuk menutupi mukanya.

Draco mencoba melihat apakah polisi tersebut sudah pergi atau belum. "Monsieur.", "Monsieur." Ucap seseorang yang kemudian menepuk pundak Draco. Draco terkejut hampir terjengkang. Memalukan sekali. Terlihat seorang resepsionis wanita yang menepuk pundak nya.

Draco bingung harus berkata apa. Ia tidak bisa berbahasa perancis. "Monsieur."Ucap wanita dengan name-tag Diandrya tersebut. Draco seperti orang ling-lung menatap wanita tersebut. "le magazine inverse, monsieur."Ujar wanita tersebut.

"Hah?"kata tersebut keluar begitu saja dari mulut Draco. "Majalahmu terbalik, Mister."Ucap Wanita tersebut. Draco sekarang benar-benar malu. Ia memperhatikan majalah yang digunakan untuk menutui wajahnya terbalik. Apalagi cover majalah tersebut makanan yang sedang dimasak. Jadi, jika dilihat seperti makanan tersebut akan tumpah.

"Oh, Terima kasih."Ucap Draco yang kemudian membalikan majalah dan menutupi wajahnya bukan hanya dari polisi, namun dari orang-orang yang menatapnya seperti orang aneh. Oh, wajah Draco pasti sudah seperti kepiting rebus.

"Malfoy."Ucap Hermione yang telah selesai menyelesaikan masalahnya mendatangi Draco. "Granger."Ucap Draco terkejut. Hermione bingung dengan draco yang wajahnya memerah. "Kau kenapa, Malfoy?"Tanya Hermione binggung kepada si musang melambung tersebut.

"Pstt, Ada polisi Granger. Lihat disana."Ucap Draco sambil menggerakan matanya ke arah dimana polisi tersebut berada. Hermione kemudian melihat apa yang diarahkan Draco. "Biaklah, ayo kita segera pergi Malfoy."Ucap Hermione yang kemudian menarik tangan Draco.

Draco yang melihat Hermione menarik tangan bangsawannya, menyeringai. Ia tetap mengikut kemana arah Hermione. Hermione berjalan keluar Hotel tersebut kemudian berhenti. "Tunggu disini, Malfoy."Ucap Hermione yang melepaskan tangannya dan pergi.

Hah, lihat diluar sini begitu ramai. Bagaimana jika ada polisi? mau ditutupi dengan apa wajah Draco. Draco menggeram kesal karena terlah ditinggalkan Hermione. "Malfoy."Ucap Hermione yang sudah kembali. "Pakai ini."Ucap Hermione yang kemudian menyerahkan Sun Glasses pria berwarna hitam.

"Untuk apa kacamata ini?"Tanya Draco kepada Hermione sambil menerima Sun Glasses yang diberikan Hermione. "Supaya mereka tidak mengenalimu, Malfoy. Lagi pula kau hanya mencuri makanan bukannya menculik anak. Jadi wajahmu tak usah memerah seperti tadi."

Draco sepertinya paham apa yang di maksud Hermione hanya mengangguk-angguk walaupun ada tersirat jengkel didalamnya. Draco kemudian memakai kacamat hitam tersebut. Hermione menahan tawanya melihat Draco. Draco terlihat seprti orang buta yang mencari arah, pas sekali dengan bajunya yang hitam.

"Ayo, kita harus mencari Taksi."Ucap Hermione kemudian berjalan ke arah jalan besar didepannya. Berharap ada Taksi yang lewat. Draco mengikuti Hermione, Draco sadar, jutaan wanita di kota paris ini, Hermionelah yang ditemuinya. Mungkin ada kata spesial didalam diri Hermione Granger, dan Draco ingin sekali mencarinya. Mencari kata spesial tersebut, yang hingga membuat dirinya berubah. Menjadi seorang pria yang baik.

Tak lama kemudian sebuah taksi lewat dihadapan mereka. "Taxi."Ucap Hermione sedikit berteriak. Taksi tersebut kemudian berhenti dihadapan mereka. Draco kemudian membuka pintu taksi tersebut. "Kau duluan, Granger."

Hermione kemudian masuk kedalam taksi tersebut yang langsung disusul oleh Draco. "Mau kemana?"Tanya supir Taksi tersebut. "Chales de Gaulle." Ucap Draco. Supir Taksi tersebut langsung mengas taksi tersebut menuju bandara.

Dalam perjalanan Draco dan Hermione hanya saling diam, tanpa berkata apa-apa, hingga supir taksi tersebut membuka pembicaraan. "Kalian orang inggris?"Tanya supir taksi tersebut. "Hm."Jawab Hermione dan Draco secara bersamaan.

"Ada apa kalian ke kota paris? Pekerjaan atau berbulan madu?"Tanya supir taksi tersebut tanpa dosa. Hermione mendesis dibelakang, sudah dua orang pagi ini yang mengatainya berbulan madu dengan Draco. "Pekerjaan, Bukan berbulan madu. Apakah kami tampak seperti itu?"

"Maafkan saya, Mister. Karena biasanya banyak orang yang pergi ke paris untuk berbulan madu. Lalu, apakah kalian sepasang kekasih?"Tanya supir taksi tersebut. Oke, cukup kali ini Hermione geram. "Bukan, Kami hanya teman kerja."

"Ya, Teman kerja yang professional."Tambah Draco. Supir taksi tersebut tersenyum. "Mau musik?"Tanya supir tersebut menawarkan. "Maksudmu lagu Muggle?"Ucap Draco tanpa sadar. Hermione memukul Draco kemudian sembari memberi DeathGlare kepada musang tersebut. "Aws."Desis Draco Kesakitan.

"Hahaha. Ya, lagu muggle."Ujar supir taksi tersebut. Draco dan Hermione saling berpandangan. "Apa kau tahu yang dimaksud dia?"Tanya Hermione kepada supir taksi tersebut. "Tak usah khawatir seperti itu, Miss. Granger."Ucap Supir taksi tersebut.

"Kau juga penyihir?"Tanya Draco terkejut. "Kedua orang tuaku, Penyihir. Sedangkan aku Squib."Jawab supir taksi tersebut. "Tadi kau memangil namaku, apa kau kenal denganku?"Tanya Hermione kepada supir-squib-taksi.

"Ya. Aku mengenalmu lewat koran perancis yang aku baca. Dalam koran tersebut menceritakan perang di Hogwarts. Dan kau adalah pahlawan perang tersebut."Ucap supir taksi tersebut memuji Hermione. Draco memandang Hermione dengan sebal.

"Terimakasih."Ucap Hermione tersipu. "Jadi, apa kau mau memutar lagu muggle, Tuan?"Tanya supir taksi tersebut kepada Draco. "Baiklah. Aku juga bosan dengan perjalanan ini."Ucap Draco dengan nada seperti mengejek.

Alunan lagu pun terdengar di mobil tersebut. Hermione menikmati alunan musik yang menghibur telinga miliknya. Ia menyantaikan dirinya, walaupun sedikit canggung karena ada seorang Malfoy yang duduk disampingnya.

Hermione mencoba memejamkan mata, menyembunyikan mata hazelnya dibalik kelompak mata yang dihiasi bulu mata yang lentik. Draco hanya terdiam menatap jalanan kota paris yang sedari tadi memanjakan mata kelabu miliknya.

Draco kemudian menoleh kearah seorang gadis yang sedang menutup matanya itu. Entah kenapa ia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia merasa canggung di samping seorang darah lumpur? Huh, Abraxas Malfoy mungkin mentertawainya saat ini.

Hermione membuka matanya yang kemudian menoleh ke arah Draco. Draco yang ketahuan menatap Hermione langsung mengalihkan pandangannya dari Hermione, dan menatap jalanan yang sedang ditempuh mobil yang sedang ia bersama Hermione naikki.

"Kau menatapku, Malfoy?"Tanya Hermione kaget dengan tingkah Draco yang ketahuan menatap Hermione. "Bukan, Aku melihat jalanan tadi."Alibi Draco masih memperhatikan jalanan melalui jendela disampingnya.

Hermione menyipitkan matanya, "Jangan beralibi, Malfoy. Aku tahu tadi kau menatapku, Ferret."Ucap Hermione sedikit membentak, karena kesal musang-melambung disampingnya berbohong. "Rambut semakmu semakin jelek."

To Be Continued


A/N : Hai, saya kembali lagi dengan fanfiction Destiny chapter 2 yang pendek ini. pertama tama, terima kasih buat para readers yang membaca cerita fanfiction miliku ini. terima kasih juga buat yang udah review; Yellowers, swift, Dramione, sama favs cerita ini. itu udah menjadi semangat buat aku lanjutin cerita ini. bagaimana ceritanya? semakin jelek, nggak nyambung atau yang lainnya?. setelah membaca jangan lupa review ya. Thank You.