Title : The Pearl Jade
Author : Sulis Kim
Main C, : Jung Yunho
Kim Jaejoong
DBXQ & SUJU
Other
Genre : Drama, Mixed Fictional History, Sejarah, Romance ..etc.
Rate : T~ M
Desclaimer : Kisah ini fiksi yang berpatokan pada sejarah korea dan china, hanya sebagian fakta sejarah yang sisanya adalah hasil imajinasi storyline Author sendiri. Author tidak ada niat untuk mengubah atau menyalah gunakan sejarah, ini hanya imajinasi Author, mohon maaf seandainya ada pihak yang kurang berkenan.
Para pemain dalam FF ini milik diri mereka sendiri dan ini hanya Fanfiction karya saya tidak ada hubungan tentang sifat dan kebiasaan mereka di dunia nyata.
WARNING
GS, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon di maklumi. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Happy Reading...!
~Kerajaan Sanko~
Kedatangan putri yang begitu mendadak membuat kalang kabut para pelayan dan penjaga yang bertugas di kediaman Paviliun Ratu . Pelayan belum sempat mengumumkan kedatanganya ketika Jaejoong mendorong pintu kayu besar dengan ukiran naga dan merak Lambang kerajaan, sekuat tenaga gang dimilikinys.
Para dayang dan pengawal mengikuti Jaejoong sambil memohon untuk tidak masuk ke dalam. Jaejoong melewati ruang duduk dan sudah akan bersiap membuka pintu yang menuju langsung ke kamar Yang mulia Ratu, ketika salah satu dayang memberanikan diri benarik tali Hanfu ~pakaian china untuk laki laki~ yang ia ikat asal di bagian pinggang. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak selesai berlatih anggar sore ini.
"Kenapa kalian melarangku masuk?" Ia memutar tubuh begitu cepat.
Untunglah para dayang juga pelayan lain memiliki keseimbangan tubuh yang sudah tidak diragukan lagi, perlu belajar jika mereka ingin diterima menjadi dayang kerajaan.
"Ampuni hamba Putri, Paduka Ratu beliau ..." Suara dayang tersebut bergetar ketakutan. Kesalahan yang fatal jika seorang pelayan biasa menyentuh keluarga kerajaan tanpa seijin mereka.
"Bangunlah," Ujar Jaejoong. Ia berbalik dan pintu terbuka.
Para dayang memberi hormat begitu pula Jaejoong. Kemudian gadis dengan pakaian anak laki laki itu mendorong Sang Ratu untuk kembali masuk kedalam dan menutup pintu di belakangnya.
"Ibunda bolehkan aku meminta pedang yang sudah Ibunda janjikan akan Ibunda berikan kepada Jongie." Gadis itu menangkup kedua tangannya memohon.
Alis Jaejoong mengeryit heran tidak sepantasnya seorang ratu mengedipkan mata seperti itu bukan. Berkedip? Suatu peringatan tanpa kata!
Juga, tidak biasanya ibunya itu berdiri kaku seperti pohon ek seperti saat ini kecuali ...
Sial.
Tatapanya jatuh menyelusuri kamar Ratu yang besar. Duduk di atas ranjang dengan begitu gagahnya adalah Sang Raja Hongwu.
" Yang Mulia," Jaejoong menekuk lutut tiba tiba. "Maafkan hamba," sial, ia datang di saat yang tidak tepat. Tidak aneh kenapa para dayang melarangnya masuk, seharusnya Jaejoong mendengarkan mereka sebelum menerobos masuk dengan tidak sopan.
Suara Raja begitu berwibawa dan dalam. Mengandung peringatan yang menusuk ketulang tulang sumsum Jaejoong detik itu juga." Pedang? ... Pedang apa yang kau janjikan untuk Jaejongie Ratu?." Sorot mata menuntut sang suami membuat Ratu Zhao wei mengeram kearah Jaejoong.
Tamat sudah riwayat mereka. Susah payah ia merahasiakan semuanya selama ini.
" Tidak ada Ayah handa." Jaejoong menyahut. Meskipun itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan.
Tentu saja Raja tidak akan pernah percaya begitu saja, apalagi perkataan putrinya yang satu ini. Sudah menjadi rahasia umum Han Jaejoong adalah putri yang suka berpetualang dan membuat onar. "Jelaskan kepadaku pakaian apa yang kau pakai itu putri?" tuntut Yang Mulia Raja. Rsja Hongwu merapikan pakaian yang ia kenakan.
Oh, sial. Tamat sudah riwayatnya. Jaejoong mengasihani diri sendiri, ia sudah pasti akan dikurung di dalam Paviliun selama berminggu minggu kalau sampai Ayahnya itu tahu apa yang sudah ia dan ibunya lakukan tanpa sepengetahuan Raja.
Suara sang Ratu menjawab pertanyaan Suaminya." Aku memang sudah berjanji untuk memberikan pedang Merakku untuk Jongie, kau boleh memberikan pedang Nagamu untuk Hankyung kenapa aku tidak boleh." ia berkata dengan sedikit marah. Hal yang sudah biasa didengar jaejoong apabika mereka hanya bertiga atau berempat bersama kakaknya, Hankyung.
Oh, kenapa ibunya itu selalu kehilangan kesabaran kalau sedang marah atau tertekan. Dan di waktu yang tidak tepat.
Wajah Raja berubah kaku. Jaejoong bergidik ngeri, diam diam ia melirik ibunya yang masih berdiri di samping. Sedikitpun wajah Ratu dengan gelar Ma Xiu Ying tidak merasa gentar apalagi takut.
Yang membuat Jaejoong melongo tak sopan adalah jawaban sang Ayah.
"Apa kau merajuk lagi, istriku?" nada suara Yang Mulia Raja sedikit melembut, atau menggoda?
"Aku tidak merajuk, dasar kau pria tidak berperasaan. Kalian hanya mementingkan perasaan kalian sendiri, kami para wanita juga dapat melakukan apa yang dapat di lakukan para lelaki."
Tawa Raja Hongwu menggema di paviliun luas itu. "Lihatlah ibumu Jongie, dia selalu begitu sejak muda tidak pernah mengalah dan itulah alasan kenapa aku menikahinya, ibumu wanita tangguh sama sepertimu."
Yang Mulia Raja bangkit dari ranjang dan memakai jubah kerajaan, kemudian berjalan kearah kursi besar untuk menyamankan diri, menepuk sisi lain kursi berbantal empuk itu Raja mengisyaratkan agar Jaejoong mendekat.
Menurut perintah Sang Ayah ia mendekat dan duduk disana.
"Bagaimana petualanganmu hari ini, kau sudah berumur delapan belas tahun Jongie, sudah saatnya kau berhenti berpetualang dan segera menikah. Ayahanda akan dengan senang hatie men lcarikan seseorang untuk ..."
"Jongie belum siap untuk menikah. Tidak untuk beberapa tahun ini, Jongie lebih suka berpetualang bersama Hankyung juga yang lainnya." Raja Hongwu dengan nama lahir Han Xiao ming mendesah lelah.
Mengurus Putrinya ini memang butuh kesabaran extra. Jaejoong bukanlah putri yang mudah di atur persis seperti ibunya, Zhao Wei.
Raja menatap istri tercintanya dan mendapatkan wanita itu menahan tawa, Oh, apakah kedua wanita yang ia sayangi ini memang tidak pernah mendengarkan aturan ataupun laranganya.
"Sudahlah. Aku akan membiarkan Ibumu untuk berbicara denganmu, anak nakal." Yang Mulia raja bangkit dari duduknya. "Berilah Ayahmu yang malang ini sebuah pelukan dan ciuman perpisahan sayangku."
Keterkejutan membuat tubuh Jaejong berubah kaku. Apakah Ayahnya mengetabui rencananya untuk menyelinap ke kapal Kyuhyun malam ini? Matanya menatap Ibunya yang mengedikkan bahu. Tidak mungkin? Apakah ibunya menghianatinya.
"Kenapa kau hanya diam dan mendelik kearah Ibumu, Ayolah sayang. Aku harus segera pergi ke Nanji untuk menangani beberapa masalah disana." Oh, syukurlah Ayahnya tidak mengetahui rahasianya.
Kegembiraan menyelinap kehati Jaejoong, ia melopat penuh semangat untuk memeluk Ayahnya. "Jaga diri baik baik Ayah, aku akan merindukanmu setiap nafasku."
Pintu besar itu tertutup meninggalkan ibu dan anak di dalamnya yang berbisik bisik ria. Zhao Wei mengeluarkan sesuatu dari bawah ranjang. Benda panjang berbalut kain merah. Pedang merak milik sang Ratu.
"Bawa ini bersamamu, kau akan membutuhkanya." Menambahkan sesuatu kedalam bungkusan kain tersebut Ratu menatap wajah putinya untuk terakhir kali sebelum mereka berpisah sebulan kedepan. "Kau harus kembali aku tidak ingin menyesal dengan memberimu ijin untuk ikut bersmaa Hankyung berlayar," Menyeka air mata yang menyeruak masuk Zao Wei memeluk putrinya begitu erat.
"Aku pasti kembali, aku berjanji. Aku akan memceritakan perjalanan kami ketika aku kembali, ibu. Jangan menghawatirkan aku dan Hankyung."
Mencoba untuk tetap tersenyum Yang Mulia Ratu membetulkan kain yang Jaejoong gunakan sebagai ikat kepala. Rambut panjang Jaejoong di kepang dan di selipkan kedalam baju, ia sudah berganti pakaian yang dulu sering ia gunakan untuk kabur dari kerajaan. Pakian itu sungguh pas di tubuh putrinya, tentu saja beberapa tanbahan kain untuk menyembunyikan bukti bahwa ia seorang gadis.
"Pergilah, sebelum tengah malam kau harus sudah di atas kapal, aku sudah menyuruh seseorang mengantarmu melewati hutan sampai ke bibir laut"
"Oh, Ibunda. Kau yang terbaik." Jaejoong mengikat Pedang itu ke punggungnya dengan cepat, kemudian mencium sang ibu untuk terakhir kali.
"Ayahmu akan membunuhku kalau dia sampai tahu aku membantumu menyelinap naik ke atas kapal."
"Tidak, Ayahanda sangat mencintaimu, Ibunda lihat, Ayah tetap bisa tertawa meskipun Ibunda menghinanya."
"Laki laki itu," Yang Mulia Ratu tersenyum penuh arti."Tentu saja karena kami saling mencintai."
Sudah saatnya. Jaejoong memeriksa kembali penyamaranya ke pantulan cermin untuk memastikan ia layak terlihat sebagai seorang pengembara. Sialnya, kulitnya tidak cukup gelap untuk itu. Ia harus berjemur jika ada kesempatan diatas kapal.
"Hati hati Jaejoongie."
Jaejoong mengangguk sebelum keluar melalui pintu depan. Ia hanya perlu berjalan melewati taman Paviliun kediaman ratu untuk sampai ke pintu gerbang sebelah timur kerajaan. Disana sudah ada seserang yang akan menunggu dna mengantarnya seperti apa yang ibunya janjikan.
Kapal itu bergerak. Jangkar sudah di angkat, layar sudah di naikan sejak beberapa saat lalu. Perlahan kapal itu melaju dengan kecepatan sedang dan mengikuti arah angin.
Terdengar suara teriakan perintah Kyuhyun dan beberapa suara lain yang tidak Jaejoong kenali. Suara mereka tersnegar lirih dari tempat ia bersembunyi saat ini. Kapal sedikit oleng terayun akibat gelombang laut yang tidak stabil. Jaejoong merasa perutnya sekan di aduk.
Jangan, apakah ia mabuk laut. Ia tidak boleh ketahuan sampai hari ketiga, setidaknya sampai kapal yang membawa mereka sudah berlayar cukup jauh untuk membawanya kembali ke daratan.
Mencoba menutup mata, mencoba untuk tidur. Langit masih gelap seharusnya ia mengantuk, dirinya sudah terbiasa bangun sampai siang hari jika tidak ada kegiatan seharusnya itu cukup untuk membuat dirinya merasa mengantuk. Kapal kembali berderit dibawah tubuhnya, ia tidak bisa bernafas bebas mengingat ia bersembunyi di gudang yang penuh persediaan bahan makanan juga pakaian.
Setelah beberapa hari ia disana, ia sendiri tidak yakin, sepertinya nasip baik tidak berpihak kepadanya. Kira kira di hari kedua ia mendengar suara seseorang membuka gudang, tentu saja mencari sesuatu seperti bahan makanan atau pakaian ganti. Tidak seharusnya Jaejoong bersembunyi di gudang makanan. Seharusnya ia bersembunyi di kabin yang kosong atau di bawah kolong tempat tidur kabin sang kapten.
Secerca cahaya lampu minyak menerangi ruangan, ia tersentak kaget ketika dua orang menarik karung gandum yang ia gunakan sepagai penutup tempat persembunyianya. Kedua pria itu sama tinggi dengan jenggot yang di biarkan memanjang seperti,,, bajak laut.
Astaga, apakah ia telah menyelinap masuk ke dalam kapal yang salah. Mugkin Hankyung dan teman temanya membatalkan acara pelayaran mereka dan dirinya naik kekapal bajak laut yang ... Tunggu! Ia sempat mendengar suara Kyuhyun, bukan?
.
.
.
.
Daratan Tiongkok sudah tak terlihat, kapal berlayar dengan kecepatan penuh karena cuaca hari ini begitu bersahabat. Mungkin mereka akan sampai lebih cepat dari perkiraan mereka sebelumnya karena kapal yang Kyuhyun siapkan adalah kapal perang terbaik yang mereka miliki.
Hankyung sedang mengawasi cuaca dan sekeliling menggunakan teropong kecil ketika dua orang prajurit perang naik ke atas dek, bergabung denganya.
Bunyi suara gedebuk menyita perhatian Hankyung, seseorang atau karung dilempat ke lantai kayu yang keras. Pekikan protes yang ia kenal terdengar. Itu suara adiknya Jaejoong matanya mendelik lebar.
"Apa yang kau lakukan disini Han Jaejoong?"
Amarah jaejoong yang sudah siap meledak akibat perlakukan dua bajak laut yang dengan seenak hati mereka membopong Jaejoong seperti sekarung gandung lenyap sudah. Dihadapkan dengan sang kakak yang murka lebih dari sekedar buruk. Ia sudah siap dengan ini, akan tetapi bukan hari ini, seharusnya besok ketika ia sudah mempersiapkan diri untuk muncul tiba tiba di hadapan sang kakak.
" Ya, Tuhan, Kyuhyun putar kapal kembali ke daratan, kita tidak akan berpetualang, tidak ketika Jaejoong besama kita."
"Tidak," Jaejoong berteriak. "Jalankan kapal seperti sebelumnya atau aku akan ... aku akan."
"Kau akan apa, brengsek."
" Umpatan yang sangat tidak pantas untuk seorang pangeran." Jaejoong mencibir.
"Dan apakah pakaian dan dandananmu yang seperti nelayan pantas untuk seorang putri kerajaan."
Mencoba bangkit dan terlihat bugar Jaejoong terjerembab ke lantai kayu kabin yang keras, kakinya keram mengingat dua hari atau entahlah berapa lama dirinya berada di gudang dalam keadaan tertekuk di antara dua karung kentang dan ubi ubian. "Bantu aku berdiri." mengukurkan tanganya Jaejoong memasang mimik wajah kesakitan dan ia memang kesakitan.
Meskipun enggan Hankyung mengangkat adiknya kesebuah kursi yang di bawa Donghae untuknya. "Trimaksih Donghae," Jaejoong tersenyum.
"Aku sudah menduga kau akan ikut dengan kami." Yoochun berkata di sela sela acara memancingnya. "Tapi aku tidak menemukanmu dimana mana. Boleh kami tahu mereka menemukanmu dimana?"
Kedua prajurit kapal itu meminta maaf karena sudah mengira Jaejoong adalah menyusup, jangan salahkan mereka jika tidak mengenali Putri kerajaan Sanko, mereka adalah prajurit perang yang di tugaskan menjaga lautan dengan pakaian seperti nelayan agar para penjajah yang menyusup kedaratan China tidak curiga ketika melihat mereka beroprasi.
"Kami menemukan Putri di gudang makanan Pangeran." Salah seorang pengawal melapor.
"Kau tidak boleh memutar kembali kapal ini, atau aku akan melemparmu kelaut untuk santapan hiu." Jaejoong berkata murka.
Hankyung berkacak pinggang mencoba memasang wajah galak namun gagal. Ya, Tuhan bagaimana ia bisa memiliki adik seliar Jaejoong. "Yang Mulia Ratu akan membunuhku."
"Tidak, dia yang mengantarku sampai ke atas kapal,,,,"
"Ibunda...?" mulut Hankyung terbuka lebar." Bagaimana mungkin," Tentu saja ibunya itu mungkin , ibunya adalah seorang wanita petualang sejati. Ia tidak akan senggan mengirim Jaejoong berlayar bersamanya.
"Bagaimanapun juga aku sudah disini, terkurung bersama kalian dan Yang mulia ratu yakin kalian akan menjagaku," dan itu benar. Mereka semua rela mati untuk menjaga putri kerajaan Sanko dari mara bahaya. Namun apa yang akan mereka dapat lakukan seandainya lautlah bahaya tersebut.
Jaejoong perlu meyakinkan kakaknya lebih keras agar mereka tetap melanjutkan pelayaran atau semua pengorbananya sia sia, beberapa hari ini ia sudah menyiapkan diri untuk melihat pulau lain, negara lain atau jika beruntung orang dari peradaban lain. "Gege -kakak laki laki- kau tidak bisa menghentikan pelayaran ini begitu saja, kau akan membuat kami semua mendapatkan hukuman kalau mereka mengetahui kita mencuri kapal dan beberapa prajurit untuk membantu kita." Dapat di pastikan Hankyung mulai berpikir.
Ia kembali menambahkan. "Berbeda jika kita kembali dengan harta karun atau semacamnya, mereka... Maksudku Yang Mulia Raja akan bangga kepadamu karena kau sudah dewasa." Dan berhasil, kakaknya itu menghela nafas dan kembali tenang.
"Sialan kau anak nakal aku sendiri yang akan membunuhmu kalau kau membohongiki tentang ibunda yang memberimu ijin,"
"Lihatlah ini," Jaejoong membuka ikatan kain panjang miliknya. "Pedang merak, pasangan pedang nagamu, milik orang tua kita saat mereka masih muda."
"Aku yakin bisa saja kau mencurinya."
"Tidak, Ibunda memberikan ini langsung padaku. Juga ini,,," Jimat keselamatan. Hankyung tertawa.
Jimat itu diberikan oleh ayah mereka ketika mereka masih muda. Ibunya selalu menjaga benda itu dan dapat di pastikan Jajeoong tidak mencurinya. "Baiklah kau boleh ikut dengan kami, dengan satu syarat."
Wajah Jaejoong berbinar bahagia. "Apapun itu."
"Jangan turun dari kapal ketika kami berlabuh, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di pulau itu. Nami adalah pulau yang berbahaya ,Jae."
Wajah Hankyung yang keras menunjukan bahwa pria itu bersungguh sungguh. Tidak ada jalan lain ia harus mendengarkan kakaknya setidaknya untuk saat ini. "Baiklah."
~ Manchuria, Korea~
Di sebelah utara semenanjuk korea terdapat kerajaan terbesar di korea Goguryeo atau Hugoguryeo. Kerajaan itu saat ini masih di pimpin oleh Raja Chungjeong raja ke -30 dinasti Goryeo. Lebih dikenal dengan Raja Jung Ji Hoon.
Memiliki seorang putra yang sudah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan Raja berikutnya bernama Jung Yunho atau lebih dikenal dengan gelar yang akan ia sandang Raja Gongnim. Juga memiliki banyak putra putra lain dari beberapa selir lainya.
Ratu Gongwon yang memiliki nama lahir Song Hye Kyo memiliki satu putra dan putri, Jung Yunho dan Jung Junsu. Usia mereka bertaut begitu jauh antara Yunho dua puluh lima tahun dan Jung Junsu Lima belas tahun.
Jung Yunho memiliki tugas penting lain yang mengharuskan pangeran tampan itu meninggalkan kerajaan dan bertempat di Paviliun kerajaan di sebelah barat daratan Korea, Daejang.
Paviliun tersebut berjarak lima kilometer dari pulau bibir laut Chungchang. Berdekatan dengan pulau nami, pulau yang di bajak oleh prajurit jepang beberapa saat lalu. Pulau tersebut begitu kaya akan hasil bumi yang melimpah ruah, tambang emas juga batu bara adalah hasil utama dari pulau Nami. Tidak mengherankan jika banyak penjajah dari negri lain menginginkan pulau tersebut.
Jemari lentik Yunho menyusuri tubuh telanjang kekasihnya, mengirimkan getaran menyenangkan ketubuh wanita itu. Bibir hati pria itu menciumi tengkuk halus wanitanya yang terungkap di ranjang luas di salah satu kamar yang biasa ia tempati ketika ia berkunjung ketempat ini. Tangan nakal Yunho yang lain menyusup ke bawah tubuh wanitanya menemukan daging lembut dan meremasnya penuh hasrat. Nafasnya tercekat.
Selalu ada yang menarik setiap kali Yunho bertandang ketempat hiburan terbesar di Munchuria. Sambutan hangat para Wanita cantik berpakaian minim, minuman yang tidak akan ada habisnya. Ia menyukai tempat ini, penuh kebebasan jauh dari peraturan kerajaan. Bagaimana tidak ia mendapatkan semua yang ia inginkan tampa harus bersusah payah menggoda. Para wanita bertubuh indah dengan payudara mengiurkan rela membuka pintu kamar mereka untuk Yunho datangi setiap saat. Tanpa tuntutan atau rengekan manja yang biasanya di tunjukan tunanganya atau wanita lain dari putri pejabat atau petinggi di dalam kerajaan yang terus mengejar ngejar dirinya.
Gairah Yunho tiba tiba sirna. Sialan! Ia mendorong tubuh telanjang wanita itu ke ujung ranjang. Mendapatkan pekikan tidak tela penuh hasrat wanita itu. "Pangeran, engkau tidak berniat meninggalkan hamba dalam keadaan seperti ini bukan?" Dengan hasrat dan tubuh yang sudah siap untuk dirasuki wanita itu menatap Yunho dengan mata terbelalak lebar yang menggairahkan.
Mungkin Yunho akan menerjang wanita itu dan memberinya kepuasan yang tak terkira sepanjang sisa malam ini seandainya di dalam otaknya tidak terlintas wajah tunanganya yang cantik. Sial, tunanganya memang cantik namun menyebalkan. Wanita itu selalu merengek menginginkan Yunho untuk tinggal disisinya, air mata yang selalu Yunho benci mengalir bagai anak sungai di wajah putri kerajaan Baekje, Kim Ga Eun, seandainya Yunho tidak menuruti permintsan wanita manja.
Yunho bertubuh tinggi tegap pangeran tertampan dalam sejarah Korea. Rambut gelap, mata musang dengan bibir hati yang memesona. Ia sudah menjadi rebutan para wanita sejak ia mulai mengikuti pelajaran. Lepas dari gelar Pangeran yang ia sandang, dirinya memang mampu memikat setiap wanita di seluruh penjuru Korea. Dimanapun ia berada dirinya akan menjadi pusat perhatian semua mata, dari wanita muda remaja bahkan para janda sekalipun.
Yunho menghargai mereka semua, dirinya memang bukanlah pria seperti Raja Saat Ini Jung Ji Hoon. Mengumbar cinta dimana mana dan memiliki banyak selir. Yunho hanya akan bercinta dengan wanita cantik dan menarik yang ia yakini dan benar benar cocok, akan tetapi ia tidak akan menikahi seseorang yang tidak ia cintai.
Tunanganya, ia tidak mencintai wanita itu, akan tetapi demi menyatukan seluruh daratan Korea ia meminang Kim Ga Eun atas saran paduka Raja, Ayahnya.
"Maafkan aku sayang, pergilah aku tidak akan melanjutkan percintaan ini."
"Pangeran," Rengekan Yang Yunho benci. Ia bangkit dari ranjang kemudian meraih jubah beserta pakaianya. Memakai pakian itu dengan cepat dan melempar sekantong koin uang keatas ranjang. "Senang bisa menghabiskan malam bersamamu, sayang." Ia mencium wanita itu untuk terakhir kali.
Terdegar suara ketukan dari pintu depan ketukan itu terdengar terburu buru dan mendesak. Yunho berjalan melewati kamar yang luas dan membuka pintu.
"Maafkan aku teman, menggangu percintaanmu yang meng ,,,gairahkan ..." Pria perseragam prajurit itu terdiam, menyelusuri pakaian Yunho yang melekat rapi dari atas kebawah dengan sorot mata tidak sopan. " Apa kau kehilangan gairahmu sampai lupa membuka pakaian ketika bercinta." melirik ke balik punggung Yunho Hyunjoong melihat wanita penghibur itu menangis tersedu.
"Pangeran, kau tidak kehilangan kekuatan kejantananmu bukan?"
Yunho menutup pintu menggiring sahabat sekaligus mengawal pribadinya itu keluar. "Katakan kepadaku kepentinganmu Hyunjoong, tidak bisadanya kau berani mengganggu acara malamku yang kau sebut tidak menggairahkan itu." Sangat tidak sopan memang, seorang pangeran merundingkan hal yang begitu intim di tempat umum. Mekipun tidak ada siapapun yang mendengar mereka.
Hyunjoong kembali serius ketika mengatakan salah satu pengawas pulau Nami melihat sebuah kapal perang terlihat mendekati pulau tersebut. Kapal perang itu datang dari arah Tingkok dengan lambang perahu Tiongkok namun tidak memiliki bendera Tiongkok atau semacam benda lain yang menunjukan mereka prajurit Tiongkok.
"Kau yakin itu kapal dari kerajaan Tiongkok?" Yunho merasa cemas. Mereka tidak akan mampu melawan pasukan Tingkok seandainya kapal itu benar benar milik Negara besar dengan kekuasaan dan pasukan berkali kali lipat dari pasukan Goguryeo di seluruh daratan dan laut.
Kaisar Ming adalah seorang rakyat biasa keturunan Han, mereka telah berhasil mengalahkan Dinasti Yuan dengan begitu mudah ketika banjir melanda daratan Tiongkok dengan bantuan para rakyat yang memberontak.
"Hanya satu kapal, jadi kami belum dapat memastikan kapal itu kapal dari kerajaan mana. Mereka akan mendarat sebelum fajar, dan kita harus bersiap siap untuk menyambut mereka."
Kecemasan Yunho berkurang. Ia bernafas lega. Satu kapal tidak akan sulit untuk di lumpuhkan. Kemungkinan kapal itu hanya mengangkut seratus atau lebih prajuti perang. Tiongkok tidak begitu bodoh seandainya ingin menyerang dengan hanya menggunakan satu kapal.
"Kita harus tetap siaga tidak boleh lengah, dimana Jenderal Shim?"
"Anda menugaskan Jenderal Shim kepulauan Jeju Yang Mulia." Benar juga. Disana sedang ada pembangunan desa yang hancur akibat perang dengan penjajah jepang.
"Siapkan pasukan dan aku sendiri yang akan memimpin pasukan perang. Kirim seseorang untuk memanggil jenderal Shim untuk membantu kita, hanya berjaga jaga seandainya afa kapal lain yang tiba tiba muncul di belakang mereka." Ia menepuk bahu Hyungjong . "Kita akan bersenang senang kawan, sudah sangat lama aku tidak turun langsung ke medan perang."
Oh, Ini sungguh tidak akan menyenangkan. Batin Hyunjoong
~TBC~
Bagian pertama ini Author sedikit dapat inspirasi dari salah satu novel Johanna Lindsay. Tidak sama, hanya terinpirasi dialog dan kejadian sangatlah berbeda. Berikutnya Author berusaha untuk tidak terinspirasi (?) Novel lagi.
~Authot mulai nglantur~
