Between Love and Mission
Author: Nacchan Sakura
Disclaimer: I DO- ..not own vocaloid.
.
.
.
Flowers bloom and seasons change but,
I am presently inside a dream.
Until then, I'll wipe my tears and smile.
For all this time, all this time...
I will wait for you.
(Omoide Kakera – GUMI)
.
.
.
~Rin's POV~
"Namaku Rin Yuzuhara, salam kenal."
Itu adalah kata perkenalan singkat yang aku ucapkan di depan kelas. Kiyoteru-sensei memandangku sesaat, lalu mengalihkan pandangannya mencari bangku yang kosong untuk aku tempati.
Aku memandang isi kelas baruku ini. Ada gadis dengan rambut berwarna hijau yang menatapku sambil tersenyum tipis. Ada lelaki berambut merah yang mirip dengan BaKaito. Ada gadis yang rambutnya berwarna magenta dan memakan roti perancisnya—walau ia tahu ada guru di kelas. Ada gadis yang sibuk memainkan ponselnya. Juga ada gadis berambut panjang yang—sedikit mirip denganku. Dan, masih banyak murid lainnya.
Kelihatannya semuanya orang baik.
Berbeda dengan orang jahat sepertiku, ya?
"Yuzuhara-san, anda bisa duduk di sebelah Gumi Nakajima-san. Nakajima-san, harap angat tanganmu." Ucap Kiyoteru-sensei, yang dijawab dengan acungan tangan dari gadis hijau yang sejak tadi tersenyum itu.
Aku menghampiri bangku yang berada tepat di sebelah gadis bernama Nakajima ini. Ia tersenyum lebar, dan aku membalas senyumannya.
Kiyoteru-sensei memulai pelajarannya. Aku dan Nakajima tidak berbicara apapun, dia bahkan tidak mengajakku berkenalan. Aku melirik ke arahnya, ternyata ia serius mencatat apa yang Kiyoteru-sensei terangkan. Hm, tipe anak pintar.
Lalu aku ingat tujuan awalku disini, untuk menjadi teman dari Len Kagamine. Lalu aku melihat seisi ruangan kelas ini, dan tidak menemukan sosok lelaki berambut blonde. Aneh..
"SENSEI! MAAF AKU TERLAMBAT!"
Suara gebrakan pintu yang cukup keras membuat seisi kelas ini terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Bahkan Nakajima yang sedang serius menulis pelajaran Kiyoteru-sensei saja sampai berhenti.
Lalu aku melihat ke arah pintu yang terbuka dan melihat sosok lelaki yang sedang sibuk mengatur nafasnya yang cepat. Dia sepertinya kelelahan karena habis berlari. Matanya yang berwarna biru sungguh cantik dan bersinar. Tubuhnya tinggi, dan wajahnya tampan. Ia tampak seperti aurora yang dapat membuat siapapun yang melihatnya terpukau.
"Len Kagamine, tumben sekali kau bisa telat."
Aku terpaku mendengar ucapan Kiyoteru-sensei. Ternyata lelaki ini Len Kagamine?
Dia sungguh berbeda dengan foto yang aku lihat saat berada di tempat Kaito. Wajahnya di foto itu sangat dingin. Matanya kelabu, tak mengeluarkan setitik pun cahaya tanda kehidupan.
"Maaf, sensei!" Kagamine hanya tersenyum polos, dan menuruti kata Kiyoteru-sensei yang menyuruhnya untuk duduk di bangkunya.
"Yuzuhara-san? Yuzuhara-san!" Nakajima memanggilku—dan aku langsung menoleh ke arahnya
"Ah.. iya, ada apa?"
"Semenjak Kagamine datang, kau melamun dan menatapnya terus." Nakajima tertawa kecil. "Dia memang tampan.. jangan-jangan Yuzuhara-san menyukainya?"
"AP—TIDAK! BUKAN BEGITU! AKU—"
"YUZUHARA RIN, HARAP TENANG!"
Aku yang tak sadar sudah berteriak, kini sangat, sangat malu. Kiyoteru-sensei memarahiku di hari pertama aku masuk sekolah, bagus. Dan seisi kelas menertawaiku. Tak terkecuali.. Len Kagamine.
"Ma-maaf sensei.." Aku kembali duduk sambil menundukkan wajahku. Sensei memulai kembali pelajarannya.
"Yuzuhara-san itu ternyata lucu ya" Ucap Nakajima sambil tertawa kecil. "Saat pertama tadi datang, kupikir kau orang yang dingin. Ternyata tidak"
"A—ahaha.. terima kasih, Nakajima-san."
"Gumi. Panggil saja aku Gumi! Kalau begitu, aku memanggilmu Rin-chan, ya?"
Memiliki teman lain di luar misi.. sepertinya tidak ada dalam daftar larangan yang Kaito berikan kemarin. Jadi, apa salahnya?
"Ung! Yoroshiku, Gumi."
.
.
.
"Whoaah~ akhirnya jam istirahat!" Gumi merentangkan kedua tangannya dan mengistirahatkan otot-ototnya yang kaku. "Bagaimana kalau kita ke kantin, Rin-chan?"
"Umm, boleh saja!" Jawabku
"Ikkou!"
Gumi menarik tanganku dan membawaku ke arah yang tak kukenal. Sekitar beberapa menit kemudian, aku sampai ke tempat yang ramai dan penuh dengan banyak orang.
"Rin-chan mau makan apa? Disini ada banyak makanan loh!"
"Um.. Aku mau ramen!"
"Ramen.. oh! Ramen di sebelah sana!"
Gumi berlari sambil melambaikan tangannya sebagai tanda agar aku mengikuti dia. Namun saat aku akan berlari, aku menabrak seseorang tanpa sengaja. Untuk sesaat, aku tak dapat jelas melihat wajahnya, tapi..
Sekejap tadi, wajahnya seperti habis melihat seseorang yang membuat ia ketakutan.
"Wuah!" Suara Lelaki. Lelaki itu terjatuh dan untungnya ia tidak membawa makanan ataupun minuman.
"A-aah, maaf!" Aku pun mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri
"Tidak apa-apa!" Lelaki itu menerima uluran tanganku dan ia tersenyum. Dan saat itulah aku sadar siapa dia.
"Ah, Yuzuhara-san! Murid baru di kelasku, 'kan?"
Ugh. Betul, saudara-saudara. Lelaki ini adalah target yang harus aku bunuh.
Len Kagamine.
"Uhm.. Iya?"
"Ahaha! Sudah kuduga. Mana Nakajima-san? Kulihat dia berteman denganmu, tapi tumben kau tidak dengan dia.."
"Dia sudah ada di tempat untuk membeli ramen. Aku mau menyusulnya.."
"Ramen? Aku juga! Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi bersama?"
"Tidak masalah.."
Kagamine hanya tersenyum dan kini—ia yang menarik tanganku menuju tempat untuk membeli ramen. Namun, ada satu hal yang mengganjal di otakku.
Kalau ia akan pergi ke tempat penjualan ramen, kenapa tadi ia berjalan ke arah sebaliknya?
Kenapa ia terlihat seperti—sedikit terkejut sebelum menabrakku?
Dan lagi—aku merasa ia sengaja pura-pura terjatuh untuk menghindari sesuatu.
"Yuzuhara-san? Kita sudah sampai!"
Aku tersadar dari semua pikiranku dan menemukan Kagamine melihat ke arahku. Dan tidak jauh darinya, Gumi sedang berdiri di antara antrian.
"Ah, iya terima kasih..."
"Nakajima tadi memanggilmu. Temuilah dia"
Aku mengangguk dan berlari mendekati Gumi. Gumi sedikit memarahiku karena aku lama dan aku pun meminta maaf kepadanya. Yah, Gumi memang tidak marah sungguhan sih.
Setelah aku, Gumi, dan Kagamine menerima ramen pesanan kami, kami pun mencari tempat duduk kosong untuk makan. Namun, karena ini kantin dan ini jam istirahat—sudah pasti tempatnya penuh semua.
"Gumi-chaaaaan!"
Tiba-tiba ada sebuah suara memanggil Gumi. Gumi pun menoleh dan menemukan sosok gadis berambut kuning panjang—yang kulihat di kelas tadi, sedang memanggil Gumi.
"Ah, Lily-chan!" Gumi pun menghampiri gadis bernama Lily itu.
"Disini ada kursi kosong untuk tiga orang! Duduk saja disini, ajak juga Kagamine-kun dan Yuzuhara-san!"
"Ung! Rin-chaan, Kagamine-san, aku menemukan tempat kosong!"
Aku yang sudah pegal karena sedari tadi berdiri tentu saja langsung menerimanya. Kagamine duduk di sebelahku sementara Gumi duduk di sebelah temannya yang bernama Lily.
Di meja yang cukup besar ini, aku menemukan beberapa orang yang cukup familiar. Mereka semua orang-orang dari kelasku.
"Yuzuhara-san, kita belum berkenalan ya tadi?" Kagamine melihat ke arahku dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Aku Len Kagamine! Um.. panggil saja aku Len."
"Yuzuhara Rin. Terserah mau memanggilku dengan nama apapun."
"Kalau begitu, Rin saja ya!"
"Ehem! Kalian ngobrol berdua saja?" teman Gumi yang bernama Lily itu mengeluarkan seringai penuh arti sambil menatapku dan Len. "Oh, namaku Yamada Lily. Panggil saja Lily!"
"Yuzuhara Rin. Panggil Rin juga tidak apa-apa" Jawabku
"Oke, Rin! Aku perkenalkan teman-temanku yang disini ya~" Ucap Lily.
Aku hanya mengangguk dan mendengarkan semua ucapan Lily yang seperti sedang mengabsen temannya satu persatu.
Lelaki berambut merah yang mirip BaKaito itu bernama Akaito. Ugh, bahkan namanya juga hampir sama. Namun, ia tidak terlihat bodoh seperti Kaito. Baguslah.
Lelaki yang rambutnya berwarna hijau namanya Mikuo. Ia SANGAT mirip dengan Miku Hatsune. Tapi, mereka memiliki marga yang berbeda, jadi kurasa mereka tidak ada hubungan apapun.
Gadis yang sedari tadi memainkan ponselnya bernama Neru. Dan temannya yang berambut keriting magenta itu Teto.
Hmm, mereka semua kelihatannya orang yang baik. Sayang sekali mereka harus berteman denganku yang jahat ini.
Apa mereka masih mau berteman denganku jika tahu aku ini pembunuh bayaran?
"Senang bertemu kalian semua. Aku Yuzuhara Rin, panggil saja aku Rin."
"Saa, Rin-chan! Kenapa kamu pindah kesini? Asalnya kamu sekolah dimana?" Tanya Teto. Aku melirik ke arahnya lalu memikirkan jawaban yang tepat.
"Kakakku terlalu khawatir akan diriku semenjak orangtua ku meninggal, dan karena ia harus bekerja terus-terusan di luar negeri, aku home schooling saja." Jawabku, singkat.
"E-eh.. jadi orangtuamu sudah meninggal.." Teto sedikit menundukkan kepalanya. "Maaf sudah bertanya.."
"Tidak apa-apa!" Jawabku sambil tersenyum
"Terus kenapa Rin-chan tiba-tiba pindah ke sekolah ini?" Gumi—yang ikut penasaran pun akhirnya bertanya
"Kakakku sekarang bekerja di Jepang. Jadi dia sudah tidak begitu khawatir dan mengizinkan aku sekolah lagi" Ucapku. "...dan memang ada sesuatu yang harus kulakukan disini" Gumamku pelan. Dan ya, tak ada yang sadar akan hal itu.
"Sou kaa.."
Percakapan kami berhenti begitu suara bel pertanda pelajaran dimulai kembali berbunyi. Waktu istirahat telah berakhir.
Aku kembali ke kelas bersama Gumi dan yang lainnya. Sepanjang perjalanan ke kelas kami mulai berbincang lagi seperti tadi.
Aneh, aku bisa tertawa dengan santai seperti ini bersama mereka. Padahal, tujuan awalku hanyalah berteman dengan Len Kagamine, mencari informasi darinya, dan membunuhnya.
...Kenapa dalam sekejap aku bisa melupakan tugasku sendiri?
.
.
.
"Rin. Rin!"
Aku mengalihkan sorot mataku tepat ke arah Kaito dan tentu saja semua lamunanku buyar karenanya. Kaito melemparkan tatapan sedikit 'kesal' dan aku hanya membalasnya dengan tatapan 'aku-tidak-peduli'.
"Kau mendengarkanku tidak, sih?"
"Tidak. Bisa kau ulangi?"
"Kau ini..." geram Kaito. "Aku bilang padamu, jangan terlalu mengulur waktu. Jadilah teman Kagamine Len secepat mungkin agar kau mudah membunuhnya."
"Oh.." gumamku. "Baiklah, baiklah."
"Dan.. satu lagi Rin. Kau harus mengingat satu hal."
"Apa?"
"Kuharap.. setelah kau menjadi 'teman' dengan Len Kagamine itu,
Kau tidak memiliki perasaan suka kepadanya"
Aku terdiam.
Perasaan suka? Itu mustahil.. 'kan?
"Baiklah."
.
.
.
~To Be Continued~
