Cast : Park Jung Soo, Kim Heechul, Tan Hankyung, Kim Yong Woon, Kim Jong Woon, Lee Sungmin, Shin Donghee, Choi Siwon, Lee Donghae, Lee Hyukjae, Kim Ryeowook, Kim Kibum, Cho Kyuhyun and other's
Rated : T
Disclaimers : Mine
Genre : Brothership, Family, Drama, Hurt/Comfort
Warning : Just Fanfic, Typo, No Plagiat and No Bash! Tolong maafkan typo yang bertebaran.
Happy Reading!
.
.
Asrama adalah tempat berkumpulnya siswa dalam satu atap. Dari berbagai daerah tinggal bersama. Banyak orang tua yang menitipkan anaknya tinggal di asrama. Karena system pendidikan yang menerapkan pola integrasi dalam pendidikan, pengembangan bakat, dan disiplin berbahasa yang lebih di banding intuisi pendidikan yang lain. Para orang tua berharap anaknya bisa menuju keberhasilan di masa depan.
SB High School adalah sekolah berasrama yang terletak di Gyeonggi. Asrama SB bukan seperti asrama JFK International yang terletak di pegunungan paling indah di Pegunungan Alpen Swiss. Bukan pula Sekolah berasrama seperti Charterhouse, sekolah bersertifikat yang siswanya selalu mengisi Universitas terbaik di Inggris.
Asrama SB hanya asrama biasa. Tidak elit maupun luas. Sehingga tidak bisa menampung lebih dari seratus siswa. Dan sisanya menetap di luar asrama. Hanya seperempat bagian siswa yang menetap di asrama.
Siswa di SB High School berasal dari keluarga sederhana. Orang tua mereka kebanyakan berprofesi sebagai pedagang, buruh, nelayan maupun karyawan.
Asrama SB memiliki empat lantai. Setiap lantainya di tempati dua puluh sampai dua puluh dua siswa. Setiap kamar di tempati dengan dua siswa. Kamar mandi tertelak di ujung sebelah kanan. Sedangkan ruangan untuk belajar dan makan bersama terletak di ujung sebelah kiri.
Seorang siswa lengkap dengan seragam sekolahnya merebahkan tubuhnya di lantai. Ransel yang tidak banyak berisi buku ia gunakan sebagai bantal. Kepalanya miring ke arah kanan. Melihat siswa lainnya yang berdiri di depan pintu kamar.
"Wookie-ya, ada apa dengan wajahmu?" tanyanya.
"Hyung, kenapa aku belum juga mendapat teman sekamar?" dengan wajah cemberut, Ryeowook yang kerap di sapa Wookie mendudukkan dirinya di sebelah Kangin. Menyingkirkan blazer sekolah Kangin yang tadi di letakkan begitu saja.
"Bukannya itu bagus? Kau jadi bisa lebih tenang!" sahut Heechul. Salah satu senior di asrama lantai dua. Meski mata dan tangannya sibuk dengan majalah, tapi ia tetap ikut menyahuti percakapan Kangin dan Ryeowook.
"Heechul hyung benar! Kau bisa melihat kamar Eunhyuk dan Donghae sebagai contoh." Eunhyuk dan Donghae yang sedang melongokan kepalanya melalui jendela asrama langsung menoleh. Merasa namanya di sebut, mereka berdua saling berpandangan. Namun karena merasa tidak terlalu penting, mereka melanjutkan kegiatannya.
"Aku rasa, kamar mereka yang tidak pernah tenang kecuali saat tidur lebih baik. Dari pada aku yang selalu sendiri."
"Kenapa tidak tidur dengan hyung-mu saja?" seketika Ryeowook langsung menggeleng. Sekamar dengan Kangin bukan pilihan tepat. Meski Kangin adalah hyung-nya. Tapi ia butuh suasana baru. Dan teman baru tentunya.
"Hyung, di lantai satu bukannya banyak anak baru seperti aku, Eunhyuk dan Donghae?" tanya Ryeowook penasaran. Karena semua siswa kelas satu berada di lantai satu. Hanya dirinya, Eunhyuk dan Donghae yang berada di lantai dua.
"Mereka juga butuh senior untuk mengawasi. Jadi empat siswa kelas tiga di pindahkan ke lantai satu. Sebagai gantinya, kalian yang di lantai dua bersama kami." Ryeowook menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Kangin. Suasana asrama terlihat sepi. Hanya ada Kangin, Heechul, Eunhyuk dan juga Donghae. Ryeowook tidak melihat senior-senior lainnya
"Jadi untuk selamanya aku akan di kamar sendiri, Hyung?"
"Sepertinya tidak. Karena aku baru saja di beri tahu kepala asrama, akan ada siswa baru. Dan kemungkinan dia akan sekamar denganmu Wookie-ya," ucap Leeteuk yang muncul tiba-tiba. Seketika wajah Ryeowook langsung berbinar. Melupakan rasa suntuknya beberapa hari ini.
"Benar, Hyung? aku akan mendapat teman sekamar?"
Anggukan kepala Leeteuk membuat Ryeowook memekik senang. Walau baru satu minggu mereka di asrama, tapi ia benar-benar merasa bosan di kamar sendiri.
.
.
Seorang pemuda berdiri menatap sebuah gedung. Gedung berlantai empat yang tidak terlihat mewah. Namun masih layak untuk di tinggali. Tangan kanannya meremat tali ransel yang tersampir di pundak. Kakinya maju selangkah, tapi langsung ia hentikan. Sepertinya langkahnya begitu berat. Tampak jelas ia enggan memasuki gedung berwarna putih yang dipadukan dengan warna abu -abu itu.
Hembusan nafas kasar berhasil lolos. Setelah memantapkan hati, langkah itu kembali ia lanjutkan. Tangan kirinya menarik koper berukuran sedang. Seolah manusia lainnya adalah patung, ia melewatkannya begitu saja. Tanpa sapaan dan senyuman. Pandangan siswa penghuni gedung berlantai empat itu ia abaikan.
Langkahnya terhenti di sebuah kamar. Tanganya mengetuk pintu bernomor 13 di hadapannya. Tanpa menunggu lama, pintu itu terbuka. Menampilkan seorang anak laki-laki dengan tubuh sedikit lebih kecil.
"Siapa?" tanya anak laki-laki itu. Matanya memandang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menelisik penampilan orang di hadapannya. Berambut hitam dengan kulit putih. Dan lebih tinggi darinya. Namun terkesan begitu dingin.
"Ah… aku ingat! Kau anak baru itu kan?" tebaknya karena tidak ada jawaban.
Bukannya menjawab, pemuda dengan ransel di pundaknya langsung masuk ke kamar. Sedikit menabrak pundak anak laki-laki yang masih di depan pintu. Walau sempat melenguh kecil, anak laki-laki itu tersenyum sembari menutup pintu.
"Perkenalkan, aku Kim Ryeowook. Kau bisa memanggilku Wookie." Ryeowook mengulurkan tanganya pada seseorang yang tengah memperhatikan tempat tidur. Tangan itu ia tarik kembali karena tidak ada balasan. Orang yang ia tahu sebagai teman sekamarnya, meletakkan ransel dan kopernya di lantai.
"Ini tempat tidurku, dan yang itu tempat tidurmu. Tapi kalau kau tidak suka, kita bisa bertukar tempat." Lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Aku belum tahu namamu. Siapa namamu? Dan kau sudah tahu di tempatkan di kelas berapa? Siapa tahu kita satu kelas." Ryeowook memajukan bibirnya karena tidak mendapat respon. Orang di hadapannya itu justru merebahkan tubuhnya di kasur. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutup ke dua matanya.
"Kau berasal dari mana? Sepertinya kau sangat kelelahan? Kalau kau butuh sesuatu katakan saja padaku. Eh… kau sudah tidur?" tanyanya yang sudah pasti tidak ada jawaban.
"Cepat sekali kau tidurnya. Sepertinya kau benar-benar kelelahan," gumam Ryeowook. Tidak ingin mengganggu teman barunya, Ryeowook keluar dengan perlahan. Menutup pintunya dengan sangat hati-hati.
"Ryeowook-ah, kau kenapa?" tanya sebuah suara yang membuat Ryeowook sedikit terkejut.
"Aku?" Ryeowook menunjuk dirinya sendiri.
"Ya tentu saja kau. Siapa lagi orang lain disini selain kita berdua?" Shindong, seniornya yang memiliki badan lebih besar dari yang lainnya menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Aku tidak apa-apa. Ada yang salah dengan wajahku?" Ryeowook mendekat. Mendudukkan dirinya di sebelah Shindong. Meski tidak ada kursi maupun sofa, tapi mereka senang duduk-duduk bersama bahkan berbaring.
"Tidak ada yang salah. Hanya saja kau terlihat lebih ceria."
"Ahh… itu. Aku senang karena mendapat teman sekamar Hyung."
"Benarkah? Siapa namanya? Dari mana asalnya?"
"Aku tidak tahu Hyung. Sepertinya dia datang dari jauh sampai kelelahan dan langsung tertidur." Shindong hanya berdehem untuk menanggapi.
"Hyung, kenapa asrama ini sepi sekali?" pandangannya menyapu sekeliling asrama. Ia baru sadar hanya ada mereka berdua. Meski asrama mereka tidak seperti asrama kebanyakan, tapi biasanya sepulah sekolah tetap saja terdengar keributan di sana sini.
"Di hari minggu seperti ini, di mana lagi kalau bukan bermain bola dan di ruang seni," jawab Shindong sambil menutup mata.
"Lalu kenapa Hyung tidak ikut mereka?"
"Hyung sedang malas hari ini." Untuk beberapa saat tidak ada perbincangan di antara mereka.
"Ryeowook-ah, bukannya kau suka menyanyi?" pertanyaan Shindong di balas anggukan kepala.
"Kalau begitu nyanyikan satu lagu untukku," pintanya masih menutup mata.
"Asrama ini akan bergetar kalau aku bernyanyi Hyung," canda Ryeowook.
"Kau benar! Aku pernah mendengar teriakanmu."
.
.
Ryeowook duduk di pinggiran ranjang. Matanya terus memperhatikan teman sekamarnya yang tengah memakai seragam. Rasa ingin tahu nama teman sekamarnya itu membuat Ryeowook bertahan di posisinya. Ia ingin melihat name tag yang di kenakan. Karena sejak siswa baru itu datang, mereka sama sekali belum pernah berbincang.
"Kenapa ada dua name tag?" batin Ryeowook melihat benda kecil yang terletak di nakas. Memiliki ukuran dan warna yang sama.
"Tidak mungkin kan orang punya dua name tag? Apalagi sampai punya dua nama!" Ryeowook ingin membaca lebih jelas. Tapi pemuda dengan rambut lurus berwarna hitam itu menghalangi pandangannya.
"Kim Ki—"
Kepalanya mengangguk kecil melihat salah satu name tag yang telah tersemat. Sedang name tag lainnya di masukkan ke dalam ransel.
"Ternyata namanya Kim Kyuhyun," lanjutnya dalam hati.
Ryeowook membuka pintu kamar saat mendengar ketukan. "Cepat keluar! Yang lain sudah menunggu untuk sarapan."
Belum sempat Ryeowook mengajak teman sekamarnya sarapan, siswa ber-name tag Kim Kyuhyun itu langsung pergi. Menyambar ranselnya tanpa meliriknya sedikitpun.
.
.
"Waahhh… kau lihat ini Hae-ya!" Donghae beringsut mendekat. Ikut mendaratkan pandangannya pada koran yang di pegang teman sekamarnya.
"Apa? Sumbangan untuk panti asuhan?" tanya Donghae bingung. Baginya berita seperti itu sudah biasa di lakukan oleh orang-orang kaya.
"Kau tidak tahu siapa mereka?" tanya Eunhyuk balik yang di jawab gelengan polos.
"Ya ampun Hae-ya. Aku tahu kau dari desa, tapi aku tidak menyangka kau sebodoh ini."
Tuk…
Donghae memukul kepala Eunhyuk dengan pena. "Tapi tidak perlu mengatakan aku bodoh," sungutnya tidak terima. Anak-anak lain yang duduk dengan mereka tidak ambil pusing. Keributan yang di timbulkan Donghae dan Eunhyuk sudah biasa bagi mereka.
"Terserah kau saja lah!" pemuda dengan mata sipit itu melanjutkan membaca deretan huruf yang tertera di koran.
"Memang kenapa Hyukie-ya?" melupakan perdebatan tidak penting, Donghae beringsut mendekat. Sedikit merasa penasaran.
"Kau tahu? Ini adalah perusahaan raksasa di Korea selatan. Yang membuatnya beda bukan karena kekayaannya. Tapi karena pemiliknya yang sangat baik. Banyak panti asuhan dan lembaga pendidikan yang mendapat bantuan dari perusahaan itu." Donghae hanya manggut-manggut. Ia baru pertama kali tahu tentang perusahaan itu. Lagi pula ia juga tidak suka membaca sesuatu yang berhubungan dengan berita.
"Tapi sayang, mereka sudah meninggal."
"Ehh… benarkah?"
Yang bertanya bukan Donghae. Tapi pemuda berbadan mungil yang sedari tadi mengerjakan tugas sekolahnya. Namun telinganya tetap terpasang untuk mendengar percakapan teman seangkatannya.
"Aku tidak tahu mereka sudah meninggal. Karena sampai saat ini masih ada sumbangan-sumbangan atas nama perusahaan itu." Ryeowook meninggalkan sejenak tugas-tugasnya. Fokus pada Donghae dan Eunhyuk yang juga menatapnya.
"Kau benar-benar tidak tahu?" tanya Eunhyuk. Ryeowook langsung mengangguk mantap.
Ryeowook berbeda dengan Donghae. Siswa bermarga Kim itu senang membaca koran dan majalah. Bahkan tidak jarang menonton televisi di rumah pengurus asrama hanya untuk menonton berita.
"Mereka sudah meninggal dua tahun yang lalu."
"Mwo!" Donghae yang tepat di sebelahnya berjengit kaget. Ryeowook meski bertubuh mungil, tapi suaranya begitu melengking.
"Wookie-ya, sudah Hyung peringatkan jangan suka berteriak," tegur Kangin yang di balas cengiran.
"Kenapa mereka meninggal?" Ryeowook tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia langsung mendekat. Mengabaikan tugas yang masih selesai setengah.
"Yang aku tahu karena kecelakan mobil," jawab Eunhyuk. Mata sipit itu belum mengalihkan matanya dari koran. Membolak balik lembar demi lembar. Mencari berita yang menurutnya menarik.
"Bukannya mereka punya anak kembar?" pertanyaan Ryeowook membuat semuanya menoleh. Pemuda bertubuh mungil itu menggaruk tengkuknya. Ia merasa tidak berteriak, tapi semua mata tertuju ke arahnya.
"Ada apa, Hyung?" tanyanya lirih. Tapi tidak ada yang menjawabnya.
"Anak kembar? Waaah pasti menyenangkan kalau punya saudara kembar," seru Donghae girang. Namun Eunhyuk menggeleng tidak setuju.
"Kenapa? Bukannya itu menyenangkan? Kau bisa bertukar apapun dengan kembaranmu? Baju, mainan dan lainnya," sambung Donghae.
"Tidak menyenangkan kalau yang kembar itu sepertimu. Pasti sangat merepotkan."
Plak…
Lagi-lagi benda mendarat di kepala Eunhyuk. Kali ini bukan pena, tapi buku yang beratus-ratus halaman. "Dan sangat tidak menyenangkan kalau sepertimu. Pemalas dan pelit," balas Donghae.
"Kau jangan memukul kepalaku terus Hae-ya," protes Eunhyuk.
"Tapi kalau kaya seperti mereka kau pasti mau!" Donghae mengabaikan protesan Eunhyuk. Ia menggeram saat Eunhyuk lagi-lagi menggeleng.
"Wae? Wae? Wae? Kau bisa membeli apapun yang kau mau. Baju mahal, gadget, bahkan mobil sekalipun. Dan kau bisa sekolah di sekolah elit yang ada di Seoul."
"Orang kaya itu tidak sebahagia yang kita pikirkan. Kadang mereka merasa terkekang dan tidak bebas. Hidup mereka penuh aturan-aturan yang membosankan. Harus menjaga sikap di manapun dan kapanpun. Kau tahu? Itu sangat melelahkan," ucap Eunhyuk sok bijak. Meski memang benar yang ia ucapkan. Hidup dengan berlimpah harta tidak selalu berlimpah kebahagiaan.
Ryeowook menerawang. Membayangkan menjadi orang kaya dan hidup seperti yang di katakan Eunhyuk. "Kau benar, itu sangat tidak menyenangkan."
"Jadi menurutmu hidup anak kembar keluaraga itu sangat menyedihkan? Selain di lahirkan kembar, mereka juga berasal dari keluarga kaya?"
Brak…
Mereka semua berjengit. Menatap takut Heechul yang menggebrak meja. Matanya menatap tajam ke arah Donghae, Eunhyuk dan Ryeowook.
"Kalian." desisnya tertahan.
"Hentikan omong kosong kalian dengan membahas kehidupan orang lain."
Brak…
Heechul kembali menggebrak meja. Gebrakan terakhir sebelum Heechul melangkah pergi Membuat yang lain diam seribu bahasa. Sedangkan Donghae, Eunhyuk dan Ryeowook kebingungan dan merasa takut.
"Kenapa Heechul hyung tiba-tiba marah?" tanya Donghae takut-takut dengan suara pelannya.
Leeteuk yang sedari tadi duduk dengan tenang, menghela nafas panjang. "Sepertinya kami lupa memberitahu kalian."
"Memberi tahu apa, Hyung?" Eunhyuk bersuara.
"Chullie sangat tidak suka ada yang membahas tentang keluarga itu. Dia akan sangat emosi jika ada yang membicarakan tentang perusahaan dan anak kembar yang kalian bicarakan tadi." Ketiga anak laki-laki itu saling pandang. Masih tidak mengerti dengan sikap Heechul.
"Tapi kenapa, Hyung? apa Heechul hyung salah satu dari anak kembar itu?" semua anak yang berkumpul di ruangan itu berdecak malas. Pikiran Eunhyuk terkadang terlalu konyol.
"Itu jawaban yang sangat salah!" Shindong yang sedari tadi bungkam, angkat bicara.
"Tapi bisa saja kan? marga mereka Kim. Dan Heechul hyung juga bermarga Kim?"
Bugh…
Eunhyuk mendapat lembaran bantal dari Kangin. "Maksudmu, aku dan Wookie juga anak kembar mereka? Kau lupa, kami juga bermarga Kim."
"Yesung hyung juga," balas Ryeowook dengan polosnya. Membuat Eunhyuk menggaruk kepalanya.
"Hentikan pemikiran tidak jelas kalian itu! Sekarang kerjakan tugas kalian masing-masing. Sebentar lagi lampu asrama akan di matikan." Mereka semua menuruti perintah Leeteuk. Sebagian anak yang sudah menyelesaikan tugasnya langsung masuk kamar.
"Omo, bagaimana ini?" Eunhyuk menatap bukunya horror. Dari sekian banyak tugas, belum ada satu soalpun yang terpecahkan. Sedari tadi ia asyik sendiri. Membaca koran dan terus saja berbicara. Melupakan tujuan awalnya berkumpul bersama anak-anak lainya dengan setumpuk buku di tangannya.
"Hae-ya, lihat tugasmu!" pintanya memelas.
"Kau lupa? Kita berbeda kelas," jawab teman sekamarnya dengan menjulurkan lidahnya. Ryeowook hanya terkikik geli melihat ekspresi Eunhyuk. Tampak begitu panik dan frustasi.
"Wookie-ya, bagaimana kalau kita bertukar jawaban. Supaya kita lebih cepat selesai dan tidur. Aku sudah sangat mengantuk." Donghae melirik Eunhyuk dari ekor matanya. Bermaksud menggoda teman dekatnya. Wajah Eunhyuk semakin masam. Nasib mengerjakan tugas sendiri sepertinya akan terus ia alami.
.
.
"Hae-ya... Donghae-ya... Lee Donghae!"
Siswa tampan yang baru saja keluar dari toilet memutar kepalanya. Mencari asal suara yang memanggil namanya berulang kali.
"Hey... aku di sini!"
Donghae menolehkan kepalanya ke kanan. Tepat pada lorong menuju gudang. Di balik dinding, Eunhyuk menyembulkan kepalanya. Tangannya melambai-lambai ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pemuda bermarga Lee itu sambil mendekati Eunhyuk.
"Kelasku membosankan. Kau tahukan aku paling tidak suka sejarah! Aku benar-benar mengantuk di dalam sana. Karena lima belas menit lagi bel pulang, aku pura-pura ke toilet." Di akhir kalimat, Eunhyuk memberikan cengirannya. Sedangkan Donghae hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau selalu saja malas. Kenapa kau tidak pernah mencontoh aku. Kau lihat aku-"
"Yang sama sepertiku," potong Eunhyuk yang membuat Donghae terkekeh. Ia ke toilet juga untuk alasan. Tidak sabar menunggu bel yang tinggal menghitung menit.
"Hae-ya, temani aku ke UKS!"
""Untuk apa? Aku rasa kita tidak perlu sejauh itu untuk beralasan!"
"Aku sungguhan kali ini! Perutku sedikit tidak enak. Sepertinya aku salah makan." Eunhyuk meringis sambil memegangi perutnya. Sedangkan Donghae hanya menganggukkan kepala. Menggandeng teman sekamarnya untuk berputar arah. Menuju UKS yang berada di lantai dua.
"Hae-ya, kau lihat itu!"
Donghae mengikuti arah tunjuk Eunhyuk. Sedikit menyipitkan matanya ke arah gerbang sekolah. Dari tempat mereka berdiri saat ini, bisa langsung melihat gerbang sekolah.
"Wooooaaah."
Mata Donghae langsung berbinar cerah. Ia memajukan tubuhnya. Semakin mendekati jendela untuk memperjelas penglihatannya.
"Itu mobil yang mahal itu kan Eunhyuk-ah?" tanya Donghae.
"Iya, mobil yang aku tunjukkan padamu sebulan yang lalu."
"Kalau tidak salah ada gambar kuda besinya kan?"
"Itu bukan gambar Hae-ya," ucap Eunhyuk malas.
"Apapun namanya. Tapi itu memang benar-benar keren. Kau lihat itu! Aku yakin kita bisa berkaca di badan mobilnya." Kali ini Eunhyuk mengangguk setuju. Mobil merah yang terparkir manis itu benar-benar mengkilap.
"Tapi... siapa yang membawa mobil semahal itu ke sekolah ini?" tanya Donghae sambil memandang Eunhyuk. Pemuda bermata sipit itu mengedikkan bahunya. Karena ia juga tidak bisa menebak.
Namun pertanyaan mereka terjawab saat seorang pemuda keluar dari dalamnya. Pemuda berwajah tampan dengan tubuh tinggi. Melihat dari kejauhan saja, mereka sudah berdecak kagum. Mobil dengan pengemudinya benar-benar setara. Sama-sama terlihat menawan dan berkelas.
"Apa mungkin dia model?"
"Mungkin saja!"
Mereka berdua terus mengamati pemuda tampan itu dari jauh. Dan mata mereka berdua sama-sama menyipit. Tidak jauh dari pemuda itu, tampak seorang pemuda bermata sipit dengan ransel cukup besar di pundaknya.
"Yesung Hyung!" seru mereka bersamaan.
"Aaaah... akhirnya Yesung hyung kembali juga," ucap Donghae senang. Sudah tiga hari ia tidak melihat siswa bermata sipit itu. Acara keluarga membuat siswa kelas tiga itu harus izin sekolah.
"Hae-ya lihat! Laki-laki tampan itu berbicara dengan Yesung hyung!"
Dongahe mengangguk setuju. Tanpa Eunhyuk beri tahu, ia juga bisa melihatnya sendiri. Karena sedari tadi, ia sama sekali tidak melepaskan pandangannya. Tetap memandangi pemuda tampan pemilik mobil mewah itu.
Mereka berdua masih heboh dengan kegiatannya. Melupakan kegiatan awal mereka yang akan meminta obat. Dan suara bel yang di sambut teriakan riuh para siswa membuat mereka sadar.
"Ehhh... sudah bel! Jadi bagaimana dengan obatmu?"
"Aku akan meminta pada Leeteuk hyung saja nanti. Ayo kita pulang! Aku ingin bertanya pada Yesung hyung."
"Aku juga!"
Ke dua siswa kelas satu itu berlari ke kelas masing-masing. Setelahnya, mereka berlari ke asrama. Mengejar Yesung yang sepertinya sudah berada di sana. Mengabaikan teriakan siswa lain karena mereka membuat keributan di koridor sekolah.
"Yesung Hyung."
Seruan heboh dua bocah hiperaktif itu hanya Yesung tanggapi dengan deheman. Siswa kelas tiga itu tengah duduk santai di ruang belajar. Meluruskan kakinya yang terasa penat.
"Hyung, kau tidak lupa membawa oleh-olehkan kan?" tanya Donghae semangat. Ia langsung duduk di depan Yesung. Masih dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya. Setelahnya, menyusul Eunhyuk yang baru melepas sepatunya.
"Jadi?" Eunhyuk mengulang pertanyaan Donghae. Dan deheman Yesung langsung mereka sambut dengan high five. Membuat Yesung menggelengkan kepalanya.
"Hyung tadi berbicara dengan seseorang di gerbangkan? Siapa dia, Hyung?" Eunhyuk melepas ransel yang tersampir di pundaknya. Meletakkan di samping tubuhnya tanpa melepas pandangannya pada Yesung.
"Kami melihatnya Hyung," timpal Donghae.
"Entahlah! Sepertinya dia sedang mencari seseorang," jawab Yesung sambil menyusun buku yang berserakan di sekitar kakinya.
"Mencari seseorang? Siapa, Hyung?"
"Kim... Kim " Yesung menjeda sejenak kalimatnya. Ia seolah tengah mengingat sesuatu. Namun setelahnya ia menggeleng.
"Hyung lupa," jawab Yesung enteng.
"Bagaimana Hyung bisa lupa? Kejadiannya masih sepuluh menit yang lalu," ucap Eunhyuk geram. Yesung bukan seseorang berumur. Tapi kakak kelasnya itu benar-benar pelupa.
"Kim Ki... ahhh... entahlah! Hyung benar-benar lupa!"
Donghae dan Eunhyuk sama-sama menghela nafas. Bukan hal baru kalau Yesung mudah melupakan sesuatu. Dengan malas, kedua beranjak. Menuju kamar mereka dengan menyeret ransel.
"Kalian akan melewatkan makan siang?" tanya Yesung.
"Tentu saja tidak Hyung!" dengus Donghae. Ia menjawab tanpa memutar tubuhnya. Terus melangkah menuju kamarnya. Ia ke kamar hanya untuk berganti pakaian dan menunggu anak-anak lainnya pulang.
.
.
Semua anak-anak duduk di lantai. Di depan mereka, sudah tersaji makanan sebagai makan siang. Namun mereka belum memulai makan. Masih menunggu anak-anak lainnya yang belum berkumpul. Karena mereka harus makan dalam keadaan lengkap.
"Hyung, tunggu sebentar! Kyuhyun belum keluar kamar. Aku akan memanggilnya!" Kalimat Ryeowook menyita semua penghuni asrama lantai dua.
Pemuda bertubuh mungil itu bangkit dari duduknya. Berniat memanggil Kyuhyun yang masih berada di kamar. Namun pergerakannya terhenti saat Kyuhyun keluar dari kamar. Senyum cerah langsung ia tampilkan melihat teman sekamarnya itu.
"Kyuhyun, ayo kita makan! Hyungdeul sudah menunggumu!"
Pemuda yang di panggil Kyuhyun tidak menyahut, apalagi menolehkan kepalanya. Dengan tidak acuh, ia berjalan melewati yang lainnya.
"Kyuhyun, kau mau kemana? Makan dulu sebelum pergi!"
Itu suara Leeteuk. Siswa kelas tiga yang menjadi ketua asrama lantai dua. Sudah menjadi kewajibannya untuk memperhatikan anak-anak lainnya. Termasuk Kyuhyun yang masih menjadi siswa baru.
Namun lagi-lagi Kyuhyun mengabaikan seruan itu. Menganggap seolah-olah tidak ada yang berbicara dengannya. Membuat anak-anak lainnya memandang Kyuhyun tidak suka. Selama ini, belum ada yang berani mengabaikan kalimat Leeteuk.
"Apa kau tidak tahu sopan santun? Apa kau tidak pernah di ajari orang tuamu berlaku sopan pada yang lebih tua, Kim Kyuhyun?"
Heechul beranjak dari duduknya. Memandang Kyuhyun dengan geram. Sedangkan siswa kelas satu itu hanya menghentikan langkahnya sejenak. Melirik ke arahnya tanpa berbicara. Dan setelahnya, kembali melanjutkan langkahnya sampai benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
"Kau "
Leeteuk menahan pergerakan Heechul. Ia tahu teman seangkatannya itu tengah emosi. Dengan gelengen kapala, ia meminta Heechul untuk tidak bertindak lebih.
Pemuda berwajah cantik itu menyentak tangan Leeteuk yang menahan tubuhnya. Masih dengan emosi yang belum reda, ia kembali duduk di tempatnya.
"Mungkin Kyuhyun belum terbiasa dengan kita. Sekarang kalian makanlah!" perintah Leeteuk.
Tanpa banyak bantahan, mereka makan dalam diam. Mencoba melupakan masalah siswa baru yang sudah menunda waktu makan mereka. Yesung yang duduk di tengah-tengah tidak langsung memakannya. Matanya menatap lurus ke depan. Seolah-olah ia sedang melihat seseorang berdiri di sana.
"Tadi itu siapa?" tanyanya pada Kangin yang duduk tepat di sisi kirinya.
"Kim Kyuhyun. Siswa baru teman sekamar Ryeowook," jelas Kangin sambil melahap makanannya.
"Kim Kyuhyun," gumam Yesung.
.
.
Brak!
Bunyi meja yang di gebrak mengejutkan lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam. Ia menunduk melihat tangan pelaku penggebrakan terkepal erat.
"Sial! Benar-benar sial," umpatnya. "Padahal kita tinggal satu langkah lagi. Tapi karena anak sialan itu... aarrgghhht."
"Maafkan saya Tuan! Saya tidak tahu akan terjadi seperti ini. Karena saya sering melihat Tuan muda Kyu… emm… maksud saya, Kyuhyun membuka pintu itu." Lelaki berpakaian serba hitam itu mencoba mengangkat kepalanya. Melihat orang di hadapannya yang tampak menahan emosi.
"Ini memang kesalahanmu. Andai kau tidak mengatakan semua sandi pintu itu ada pada sidik jari Kyuhyun, tidak akan terjadi seperti ini." Jung Woong In, menampilkan wajah emosinya. Bahkan dokumen yang terletak di meja, ia lemparkan ke wajah orang kepercayaannya itu.
"Sekali lagi maafkan saya Tuan. Saya memang sering melihat Kyuhyun membuka pintu itu. Tapi saya tidak tahu kalau sidik jari Kyuhyun hanya sebagai sandi pintu pertama."
"Apa yang ada di pikiran orang tua itu? Bagaimana mungkin ada ruangan dengan banyak pintu. Dan sialnya semua menggunakan sandi." Jung Woong In menghempaskan tubuhnya di kursi. Jari-jarinya di ketukkan pada meja, menimbulkan irama yang tak beraturan.
"Kau bisa membobol semua pintu itu." Kim Gong Sook, pria paruh baya dengan kaca mata yang terus melekat angkat bicara. Sedari tadi ia hanya duduk di sudut ruangan dengan koran di tangannya. Koran yang belum selesai di baca, ia letakkan begitu saja. Ia merubah posisi duduknya menghadap Woong In.
"Kau gila? Kau ingin alarm di seluruh sudut rumah ini berbunyi? Walau mereka semua berada di bawah kekuasaanku, apa kau lupa dengan polisi, detektif dan pengacara yang sering datang tiba-tiba?" balas Woong in.
"Lalu kau mau apa? Kau ingin menjemput Kibum agar bisa membuka pintu ke dua dan pintu-pintu yang kita tidak tahu berapa jumlahnya?"
"Aku akan mengirimmu untuk menjemputnya." Kim Gong Sook hanya terkekeh pelan. Tubuhnya sedikit condong ke depan untuk meraih secangkir kopi.
"Bukannya ini semua juga salahmu? Andai kau tidak gegabah mengambil keputusan." Seduhan kopi yang telah ia seruput, kembali di letakkan di meja. Lelaki berpakaian serba hitam hanya diam membisu. Ia tidak berani menyela percapakan ke dua orang itu.
"Usaha kita sudah sejauh ini. Kita harus menemukan cara lain untuk mendapatkannya. Bagaimanapun caranya."
"Itu baru seperti Jung Woong In yang ku kenal."
.
.
.
.
.
TBC
Kembali lagi dengan melanjutkan ff yang sudah lama tertunda. Maaf untuk semua kekurangan dan kesalahan di ch ini. Masih membiasakan dan melatih untuk meneruskan cerita ini. Terutama ide yang sempat menghilang.
Kritik dan saran yang membangun sangat di terima. Dan terima kasih untuk semuanya yang sudah memberikan review di prolog. Maaf tidak bisa menyebutkan namanya satu persatu.
