A/N
Hahahaha, halo! Iya sih, saya emang bilang ini oneshot, tapi.. sebenernya ada ide yang nggak saya masukin (baca:lupa) jadi yah… inilah chapter bonus beibeh.
ngomong-ngomong ternyata banyak ya, yang suka ChikaTsuru! Ada yang suka MitsuTsuru enggak? Muohahah. (iya ini saya nanya, kalo mau review jawab ya)
okelah, saya gamau banyak bacot. Selamat membaca, reader tertjintah!

DISCLAIMER
Silakan baca di chapter sebelumnya.


Tsuruhime's POV
Aku melangkahkan kakiku menuju gedung sekolah SMA. Bel pulang sudah berbunyi, namun Motochika belum datang juga. Dasar, orang itu. Bisa tidak sih, tepat waktu sekali saja? Aku berjalan di sebelah lapangan. Sebentar lagi aku sampai.

"Ah! Awaaas!"

Aku mendengar teriakan seseorang lalu menoleh. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sebuah bola basket terlempar ke arahku.

"Kyaaaa!"

Aku memejamkan mataku sambil melindungi kepalaku karena ketakutan.

.

.

.

.

Lho, tidak sakit?

Aku membuka mataku. Seorang lelaki berdiri di hadapanku. Dia memegang bola basket yang terlempar ke arahku tadi. Dia menoleh ke arahku, sepertinya ingin memastikan apakah aku baik-baik saja…

Astaga, pemandangan indah macam apa ini?

Rambut cokelatnya yang indah. Poninya yang panjang sampai menutupi mata. Postur tubuhnya yang tinggi. Aku tidak dapat memastikan ketampanannya sepenuhnya karena poninya itu. Tapi aahh… kakak ini benar-benar kereen!

"A-anu, terima kasih banyak!"

Kakak keren itu mengangguk. Tipe pendiam, ya? Itu membuatnya terlihat makin keren…

"Aku—"

"Hooooi, Tsuru!"

Aku menoleh. Motochika dan Mori-senpai berjalan ke arahku. Hubungan mereka sudah baik ya, syukurlah.

Yang lebih penting lagi… kakak keren itu! Aku harus tahu namanya!

Aku memutar kepalaku dan kembali menatap kearah—hei, dimana dia?

Kakak keren itu… menghilang? Sejak kapan?

"Hei, Tsuru! Kau kenapa diam sa—"

"Aaaaah! Motochika bodoh! Bodoh bodoh bodooh!"

Aku memukul-mukul dada Motochika yang sudah berada di sebelahku itu. Mori-senpai memandangiku dengan tatapan datarnya seperti biasa. Dasar, gara-gara dia memanggilku aku jadi kehilangan kesempatan emasku!

"Woah! Kau kenapa sih? Sudah, sudah! Hentikan!" Motochika menggenggam pundakku lalu mendorongku menjauh pelan.

"Lagipula, apa salahku?! Aku cuma memanggil namamu, kenapa kau mengamuk begitu?" Tanyanya. Aku mendengus kesal.

"Kau membuatku kehilangan kesempatan emasku untuk berkenalan dengan kakak keren itu! Aahh... benaaar… ramalanku tadi pagi pasti benar… dia adalah orang yang ditakdirkan untukku! Aku dan kakak keren itu... kyaaahhh~~~!" Aku memegangi kedua pipiku yang memerah.

Motochika dan Mori-senpai saling berpandangan.


"Oh. Maksudmu Fuma Kotaro."

Saat ini aku, Motochika dan Mori-senpai sedang berada di ruang tamu Apartemen Motochika. Aku memandangi Mori-senpai yang baru saja member tahu nama kakak keren itu dengan mata berbinar-binar.

"Oooh… jadi itu namanya, Fuma Kotaro-senpai… Fuma-senpai…" Aku tersenyum lebar. Motochika hanya bisa menatapku heran.

"Lalu, apa lagi yang senpai tahu soal dia? Motochika juga?" Tanyaku antusias.

"Hei, kenapa kau memanggilnya senpai dan aku tidak?" Protes Motochika. Aku mencibirnya.

"Panggil aku 'nii-san'! baru pertanyaanmu kujawab!" Ucapnya lagi.

"Ah, tidak mau!" Aku memalingkan wajahku darinya.

"Dasar bocah ini…" Gerutu Motochika. Setelah menghela nafas panjang, dia melihat ke arahku.

"Dia sekelas denganku tahun lalu." Ucapnya. Ia berhenti sebentar, berusaha mengingat-ingat.

"Yah, dia tidak banyak bicara. Dia bahkan tidak pernah berbicara sama sekali. Dia sepertinya berteman dengan si bocah Sarutobi itu. Yaahh… aku tidak tahu banyak. Dia benar-benar tertutup." Lanjutnya.

"Segitu saja?" Keluhku. Aku menggembungkan pipiku.

"Kan sudah kubilang, dia sangat tertutup! Ya 'kan, Motonari?" Ucap Motochika pada sobatnya itu. Mori-senpai mengangguk.

Mereka sudah saling panggil dengan nama kecil. Aku baru menyadarinya. Tunggu. Yang lebih penting lagi..

"A-anu, tolong, kumohon! Bantulah aku agar bisa dekat dengannya!" Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam.

"Kau tidak perlu bertanya, Tsuru!" Motochika menepuk kepalaku pelan.

"Aku pasti akan membantumu. Akan kulakukan apa yang bisa kulakukan, oke?" Dia mengacak-acak rambutku.

"Kau juga ikut, Hei Motonari!" Ucap Motochikaa pada Mori-senpai. Yang disebut hanya bisa menghela nafas dan mengangguk pasrah.

"Lagipula…" Motochika berbisik padaku.

"Kau sudah membantuku berbaikan dengan Motonari, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku."

Aku tersenyum senang.


Keesokan harinya..

5 menit setelah bel berbunyi, Motochika dan Mori-senpai sudah berdiri di depan kelasku. Hoh, tumben dia tidak terlambat? Aku pamit pada temanku Itsuki-chan lalu mengambil tas dan berjalan keluar kelas.

"Tumben, kau cepat datangnya. Halo, Mori-senpai!" Ucapku pada mereka berdua. Mori-senpai mengangguk, sementara Motochika tampak tidak senang dengan ucapanku. Hahah, aku tidak peduli.

"Ayo, kita mulai." Ucap Motochika sambil menyeringai lebar.

"Mulai apa?" Tanyaku bingung.

"Tentu saja, memulai misi cinta Tsuruhime-chan!" Ucap Motochika lagi. Mataku berbinar seketika.

"Ooooh, tentu, tentu! Ayo kita mulai! Yoosh!" Aku meninjukan tanganku ke udara. Mori-senpai hanya terdiam memandangi kami.

"Tapi… apa yang harus kita lakukan?" Tanyaku lagi.

"Pertama-tama, kurasa kita harus mengenali dia lebih jauh. Supaya nanti Tsuruhime bisa mendekati Fuma dengan mudah." Kali ini Mori-senpai yang angkat bicara.

"Dia tidak mudah diajak bicara. Ayo kita mata-matai saja." Ucap Motochika.

Aku mengangguk-anggukan kepalaku dengan antusias.


Saat ini kami sedang bersembunyi di balik dinding sambil memperhatikan Fuma-senpai, orang yang ditakdirkan untukku. Dia sedang berjalan menyusuri lorong sendirian. Pintu keluar bukan kearah situ… mau kemana dia?

"Sepertinya dia tidak sedang berjalan pulang, ya." Ucap Motochika pelan.

"Ngomong-ngomong Tsuru... itu untuk apa?" Tanya Motochika sambil menunjuk buku notes kecil dan pensil mekanik yang kugenggam.

"Tentu saja untuk mencatat informasi penting soal dia!" Jawabku mantap.

"Aku merasa seperti seorang detektif…" Aku tertawa pelan.

"Atau tepatnya lagi, stalker." Ucap Mori-senpai. Motochika meninju lengan Mori-senpai pelan.

"Hei… itu untuk apa?" Mori-senpai menatap sinis kearah Motochika yang memelototinya.

"Oh, Kotaro!"

Kami refleks menoleh. Seorang lelaki bertubuh tinggi yang mengenakan bandana di rambutnya menyapa Fuma-senpai.

"Dia siapa?" Tanyaku setengah berbisik.

"Sarutobi Sasuke, anak kelas B." Jawab Motochika pelan.

"Kau ikut latihan basket hari ini, kan?" Tanya kakak yang beranama Sarutobi itu pada Fuma-senpai. Yang ditanya hanya mengangguk pelan.

Aku membuka bukuku dan mencatat sesuatu; 'Anggota klub basket'. Kurasa itu alasan kenapa dia bisa tiba-tiba menyelamatkanku waktu itu..

"Lihat? Dia bahkan tidak berbicara dengan temannya sendiri." Ucap Motochika sambil memandangi Sarutobi-senpai dan Fuma-senpai berjalan menjauh.

"Kurasa kita sudah cukup untuk hari ini. Aku mau pulang." Ucap Mori-senpai.

Aku mengangguk. Kita bertiga berjalan pergi.


Dan begitulah, kegiatan ini terus berlanjut tiap pulang sekolah. Sudah sekitar 1 minggu kami melakukan ini, dan bukuku sudah terisi lumayan banyak catatan. Aku berbaring di kasurku sambil memandangi catatanku itu. Aku senang, namun sebenarnya aku juga merasa menyedihkan. Yang bisa kulakukan hanya mengamatinya dari jauh… aku ingin berbicara dengannya. Aku ingin mendekatinya.

'Tok tok tok'

Barusan itu suara ketukan di pintu kamarku. Aku bangkit lalu duduk di pinggir kasur.

"Masuk!" Ucapku agak keras. Pintu terbuka dan Motochika masuk ke kamarku.

"Kenapa kau belum tidur?" Tanyanya lalu duduk di sampingku.

"Ah, aku tidak bisa tidur." Jawabku. Mata Motochika tertuju pada buku catatanku yang tergeletak di pangkuanku.

"Kau memikirkan soal Fuma ya?" Motochika menyeringai. Aku mendengus pelan.

"Jangan khawatir!" Motochika membelai rambut pendekku pelan.

"Fuma pasti menyukaimu, kok." Ucapnya lagi.

Aku memandanginya. "Bagaimana kau tahu?"

"Yah…" Dia terdiam, berpikir sebentar.

"Habis, siapa yang tidak suka gadis imut dan baik hati sepertimu? Yah, meskipun kau cerewet, berisik, manja, dan suka ikut ca—uph!" Aku melempar bantal kearah wajahnya.

"Kau mengejekku atau memujiku sih?!" Ucapku kesal. Motochika tertawa terbahak-bahak.

"Dua-duanya." Jawabnya. Dia tersenyum padaku.

"Yang jelas, Fuma bodoh kalau tidak menyukaimu."

Wajahku memerah. "Kau melebih-lebihkan!"

Motochika tertawa pelan lalu menyentil dahiku. Dia berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Sudah, tidak usah memusingkan hal itu lagi. Tidurlah, kau tidak mau terlambat kan?"

Aku mendengus kesal. "Selamat malam, Motochika."

Motochika mengangguk lalu mematikan lampu.

"Selamat malam, adikku."


Aku berjalan menuju gedung SMA. Kebiasaan buruk Motochika terjadi lagi. Ahh, tapi tidak apalah. Siapa tahu aku malah bisa bertemu dengan Fuma-senpai super keren itu? Ihihi!

Duk!

Aku terlalu asyik berandai-andai sampai tidak memperhatikan jalan. Kakiku terantuk sesuatu. Aku kehilangan keseimbangan tubuh lalu terjatuh.

"A-aduh..." Rintihku. Aku bangkit perlahan lalu mendongakkan kepala.

Darahku terasa berhenti mengalir dan tubuhku terasa hampa ketika melihat pemandangan didepanku. Fuma-senpai sedang memegang catatanku—yang sepertinya lepas dari genggamanku saat aku terjatuh—dan membukanya. Dia tampak terkejut—mungkin?—saat melihat isi catatanku itu. Aku yang panic langsung berlari dan merebut catatan itu darinya. Dia memandangiku.

"A-anu..." Tubuhku gemetaran. Sial. Kenapa harus ketahuan? Sial. Dia pasti membenciku.

Aku merasa seakan sedang terjatuh di pusaran yang hampa dan gelap. Tamat sudah. Aku tidak mungkin bisa…

"Maaf.." Air mataku menetes.

"Maafkan… Maafkan aku!" Aku membungkuk lalu berbalik dan berlari menjauh.

"Astaga—Hoooi, Tsuru!"

Aku mendengar suara Motochika memanggilku, namun aku tidak peduli. Ah, aku benar-benar ingin menghilang!


Sementara itu...

"Tsuru! Tsuru! Ah, sialan. Motonari, kau bisa tolong kejar dia?"

Mori mengangguk lalu berlari mengejar Tsuruhime. Fuma hanya berdiri diam. Tampaknya ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Oi, kau."

Fuma menoleh pada Motochika yang memanggilnya.

"Kau pasti kaget dengan apa yang terjadi, kan? Tapi jangan beraninya kau membenci Tsuruhime! Dia adalah anak yang baik, manis, peduli pada sekitarnya, dan dia menyukaimu! Apa lagi yang kau harapkan? Kau beruntung karena itu!" Ucap Motochika setengah membentak. Fuma memandangi Motochika lewat poni yang menutupi matanya itu.

"Dengar." Motochika berjalan mendekati Fuma.

"Aku tidak peduli kau menyukainya atau tidak, tapi bahagiakan dia. Setidaknya sekali saja. apa kau tega membuat seorang gadis menangis?!" Ucap Motochika lagi.

Fuma—seperti biasanya—hanya terdiam. Dia memandangi Motochika yang amat sangat ingin membahagiakan adiknya itu. Motochika memandanginya balik. Mereka saling pandang untuk waktu yang cukup lama.


(back to) Tsuruhime's POV

Aku duduk memeluk lutut di belakang sekolah. Aku menangis terisak-isak. Hatiku hancur. Dia pasti menganggapku sebagai seorang stalker aneh. Aku sempat mendengar suara Mori-senpai memanggil namaku, namun aku tidak menghiraukannya. Aku ingin sendirian…

Aku memang ingin bertemu denganua, tapi bukan seperti ini!

'Tep, tep.'

Aku mendengar suara langkah kaki. Itu pasti Motochika. Aku mengangkat kepalaku.

"Mau apa kau? Aku sedang ingin sen—"

Betapa terkejutnya aku ketika sadar bahwa bukan Motochika yang menghampiriku, namun Fuma-senpai. Aku cepat-cepat mengusap air mataku lalu berdiri perlahan.

"Eeeh… anu, senpai, aku.." Aku meremas rokku karena gugup. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Wajahku memerah.

"Senpai, aku.. aku minta maaf. Aku tidak bermaksud…" Aku menelan ludah.

"Aku tidak bermaksud memata-matai senpai. Sungguh.. aku hanya ingin tahu senpai lebih dekat, karena…" Aku mengangkat kepalaku, menatap lurus ke wajahnya.

"Karena… Karena aku suka padamu!"

Aku menutup mulutku dengan tangan. Apa yang baru saja kukatakan? Apa yang baru saja kau ucapkan, Tsuruhime?!

Fuma-senpai diam saja. Dia mengeluarkan tangannya yang sedari tadi berada di balik punggungnya, menyodorkan sesuatu padaku.

Bunga lily putih.

Aku menatap wajahnya. Mataku berbinar-binar. Aku tersenyum lebar.

Ah, aku sangat senang, rasanya aku bisa terbang sekarang juga!


Tanpa disadari oleh Tsuruhime, dua pasang mata mengamati kejadian itu dari jauh.

"Syukurlah, Tsuru tampaknya senang." Ucap Motochika sambil tersenyum. Di sebelahnya Motonari menganggukkan kepalanya.

"Ahh, senangnya bisa bersama orang yang kau sukai seperti itu!" Ucap Motochika lagi sembil melirik Motonari. Yang dilirik hanya menatapnya balik dengan wajah datar.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanyanya.

"Tidak." Motochika mengalihkan pandangannya kembali pada adiknya tercinta itu. Senyumannya melebar.

"Sekarang kita impas." Gumamnya.

-End-


Gimana, ceritanya? Hohohoho. Nulis pake POVnya Tsuruhime itu enak sumpah. Kamu imut banget sih nak, tak makan kamu entar /JANGAN
sekian chapter bonusnya. Maaf ya kalo pendek. Review/Flame?
Oh iya, kok kayaknya kebanyakan Author bales Review di FF-nya ya? apa saya harus begitu juga?

With love(?),
Ikkurin (pen name baru, panggilan baru beibeh.)