"COUNT"
.
-Jaeyong TwoShot-
.
Part I
.
--
Seorang anak sedang asik main di ayunan sampai seorang anak datang dan mendorongnya jatuh ke tanah.
"Lee Taeyong!" Seorang caregiver buru-buru menarik Taeyong dari sana.
Taeyong memang anak yang terkenal nakal, dan suka mengganggu anak lain, maka dari itu para penjaga panti selalu menjaga jarak antara Taeyong dan anak-anak lain, karena terakhir mereka membiarkan Taeyong, ia hampir membuat temannya masuk ke panci yang berisi sup panas.
"Aku tidak mau! Tidak mau!" Taeyong memberonta saat ditarik, ia selalu tau ia akan dibawa kemana
Ruang Hukuman.
Taeyong sudah sangat biasa dengan ruangan itu, karena ia bisa masuk ruangan itu enam kali sehari, salahkan sikap nakalnya yang tidak bisa berubah.
"Kau sudah banyak melakukan kenakalan! Berapa kali aku harus mengurungmu disini? Kapan kau berubah? Kurasa tidak akan ada yang mau mengadopsimu"
Kalimat terakhir sang caregiver membuat Taeyong bungkam. Ia melakukan semua kenakalan agar ia bisa bebas, bebas dari tempat berisi anak-anak yang bertingkah manis jika ada maunya. Taeyong dari dulu tidak suka disini, walaupun ia sudah berada disini sejak ia satu bulan.
Ya, Lee Taeyong adalah anak buangan yang para caregiver temukan didepan teras panti, dengan sepucuk surat berisi permintaan maaf dari sang ibu dan nama dari anaknya, yaitu 'Taeyong'.
Dan marganya? Ia mengambil marga dari caregiver yang menemukannya, Lee Jieun.
"Lihat itu, si anak buangan kembali berulah.."
"Hihi, kapan dia akan berhenti berbuat kenakalan? Kurasa ia hanya mencari perhatian"
Taeyong diam mendengar percakapan para caregiver lain membicarakannya.
"Kurasa suster Jieun menyesal sudah mengambilnya.."
Taeyong tersentak mendengar itu, karena selama ini yang ia tau, orang yang paling sabar merawatnya adalah Jieun. Ia bahkan sudah menganggap Jieun ibunya.
Hal itu membuat Taeyong terdiam.
.
.
Seseorang membuka pintu ruang hukuman, sedang Taeyong tengah meringkuk di pojok ruangan yang gelap sambil memikirkan omongan para caregiver tadi.
"Yongie.. ayo keluar, ada yang mau bertemu.." Taeyong sangat tau suara itu. Satu-satunya orang yang memanggilnya dengan lembut, Jieun.
Taeyong awalnya menatap Jieun ragu, lalu ia melangkah mendekati Jieun.
Ia dibawa ke sebuah ruangan, disana terdapat tiga orang yang tidak ia kenal.
Seorang wanita cantik, pria yang tampan, dan seorang anak laki-laki di pangkuannya yang kira-kira lebih muda dari Taeyong.
Taeyong bersembunyi dibalik kaki Jieun.
Wanita itu tersenyum ramah. "Selamat siang, Taeyong-ah" sapanya.
Taeyong sedikit membungkuk memberi hormat.
Anak kecil yang tadi duduk di pangkuan si wanita turun dan mendekati Taeyong.
Taeyong kembali menyembunyikan dirinya dibalik kaki Jieun.
"Tak apa, Yongie.. dia calon adik Yongie.. Yongie senang tidak ingin memiliki seorang adik" kata Jieun.
"Adik..?" Bingung Taeyong.
"Iya.. mereka kesini untuk menjemput Taeyong dan membawa Taeyong ke rumah baru" kata Jieun tersenyum lebar.
Anak laki-laki itu menjulurkan tangannya, meminta berjabat tangan.
"Pagi, hyung.. aku Jung Jaehyun, senang bertemu dengan Hyung" ucapan yang cukup formal bagi anak berusia lima tahun, dua tahun dibawah Taeyong.
.
.
11 tahun kemudianLee Taeyong tetap memakai marga Lee, itu keinginannya, ia tidak ingin merubahnya menjadi Jung hanya karena ia diadopsi oleh keluarga Jung.
Taeyong sedikit bersyukur karena ia diadopsi oleh keluarga Jung yang cukup terpandang dan memiliki banyak uang.
Hidup dalam kekayaan memang bukan gaya Taeyong, namun ia mulai terbiasa.
Namun ada satu hal yang masih menganggunya,
Adiknya, Jung Jaehyun.
.
"Lee Taeyong! Kabur kemana kau?!!"
Ya, Taeyong tetaplah Taeyong yang nakal.
Bahkan di akhir tahunnya di SMA, ia masih rajin berbuat seenaknya. Walau nilai akademik dan non-akademiknya begitu sempurna, ia tidak memiliki tata krama.
Tidak ada yang tahu, ia sedang merokok di salah satu bilik toilet di lantai tiga, toilet yang jarang sekali dipakai karena berada di ujung koridor.
"Cih, mereka bodoh atau apa.. sudah jelas aku ada di toilet.. dasar" Taeyong memainkan ponselnya, bermain game. Kepulan asap rokok berputar di ruangan itu, bisa saja membunuhnya kalau ventilasi kamar mandi di tutup.
Ia tertarik membuka aplikasi chat, melihat chat yang masuk.
Dan satu pesan yang menarik perhatiannya,
[ChaXXX: Yong, kau kalah taruhan]
"Sial!" Taeyong membanting ponselnya, ia mematikan rokoknya dan membasuh wajahnya.
Ia tiba-tiba teringat omongan para caregiver saat ia masih tujuh tahun di panti asuhan.
"Kurasa suster Jieun menyesal sudah mengambilnya.."
Taeyong mengambil rokok di sakunya dan menyalakannya, ia lalu menelpon temannya.
"Temani aku minum.. aku butuh penyegar"
.
.
Jung Jaehyun, adik Taeyong.
Anak tunggal keluarga Jung, terbiasa hidup bergelimang harta. Orangtuanya tidak ingin anak mereka hidup sendirian, maka itu mengadopsi seorang anak untuk menjadi kakak Jaehyun.
Seorang anak yang ramah yang sudah belajar tata krama bahkan sejak usia 2 tahun. Terbiasa mengikuti pertemuan perusahaan ayahnya, membuat jaehyun tumbuh menjadi pria seperti ayahnya.
"Pagi hyung!" 17 tahun Jaehyun menyapa Taeyong yang masih mengantuk di kursi meja makan. Taeyong hanya membalasnya dengan gumaman.
Berbeda dengan Taeyong, Jaehyun sangat disiplin dan dia sangat rajin. Sebutlah kesayangan guru.
Ia juga anak yang mudah akrab dengan orang lain, dan sangat bertanggung jawab. Berbanding terbalik dengan Taeyong yang justru kabur-kaburan.
Prestasinya membuatnya naik kelas dengan mudah, tidak seperti Taeyong yang sekali tidak naik kelas karena membolos saat ujian kenaikan dan tidak mengikuti susulan.
"Pagi sunbae!" Anak-anak kelas X banyak yang menyapanya, dan disahut senyum dan anggukan kepala.
Taeyong dan Jaehyun juga satu sekolah, dan banyak yang tidak percaya kalau Jaehyun adalah adik Taeyong yang seorang berandal sekolah.
"Apa kau tidak malu punya kakak yang nakal? Tukang berantem di sekolah, bahkan pernah tidak naik kelas" jika ada yang bertanya seperti itu, jaehyun dengan santai akan menjawab "dia bukan orang yang seperti itu, mau seberapa buruk dia, dia tetap hyungku, dan itu tidak akan pernah berubah sampai dunia ini berakhir"
Padahal kenyataannya, Jaehyun lebih cocok dipanggil budak Taeyong, karena apapun yang Taeyong inginkan, akan langsung Jaehyun lakukan dengan senang hati.
Karena Jaehyun sangat menyayangi Taeyong, saking sayangnya Jaehyun pernah memimpikan Taeyong di mimpi basah pertamanya.
Karena sadar akan posisinya, dia mengubur dalam perasaannya dan kembali ke realita kalau Taeyong hanyalah kakak untuknya.
.
.
Malam ini Taeyong belum pulang, padahal sudah jam 12 lewat.
Jaehyun menunggu sambil mengerjakan tugas sekolah dan organisasinya.
TINGTONG~
Jaehyun buru-buru membuka pintu, dan saat ia membuka pintu, Taeyong langsung menubruk tubuhnya.
"H..hyung..?" Kaget Jaehyun.
"Huh? Apa?? Kau siapa hahh???" Taeyong mengomel.
Namun kemudian ia mendusal di dada Jaehyun. "Baumu lucu, aku suka.." Taeyong terus mendusal dan menciumin bau Jaehyun yang menurutnya lucu.
Jaehyun membawa Taeyong ke sofa, pergi sebentar membawakan Taeyong air putih.
"Hyung tidak seharusnya mabuk seperti ini.. hyung bisa cerita padaku apa yang terjadi.." kata Jaehyun.
"Heh! Bocah! Kau.. itu.. hanya.. bocah kaya..! Kau.. bocah.. ughhhh" Taeyong memegang kepalanya, Jaehyun reflek mendekati Taeyong dan memeriksanya.
Taeyong mabuk tengah menatap wajah Jaehyun dari dekat. "Oohh~ kau cukup tampan~" Taeyong tersenyum lebar.
Jaehyun hanya menggumam, menahan diri dari Taeyong.
Kalau wajah mabuk Taeyong saja sudah menggoda, lalu bagaimana dengan tangannya yang merambat ke daerah privasi Jaehyun.
"H..hyuuuung?!!" Kaget Jaehyun.
Taeyong langsung menindih jaehyun.
"Kumohon, sekali saja.. aku stres kau tahu.." Taeyong duduk di selangkangannya dan menatapnya menggoda.
"Ta..tapi aku-- hmmphh!"
.
.
"Ngaah~ ahhnn~ mmmnnhh.. Jaehh.. ah.. jaehh~""Ngh.. hyunghh.. ah.. ah..""Ngggh~ Jaehyuniehhh.. ohhh.. deephh~""Hyunghh.. mianhae..hh""Ngaahh~ Jaehyunhhh..!".
.
Taeyong sedang asik merokok di atap sekolah dengan teman-temannya.
"Seminggu ini aman-aman saja.. tumben kau tidak malak" kata Yuta menyudut rokoknya.
"Kemarin sehabis minum kau tidak kelihatan" Johnny berbicara.
"Kemarin aku langsung pulang, kenapa? Aku mabuk berat" jawab Taeyong. "Dan soal malak, nanti saja ah aku malas"
BRAKK!
"Sudah kuduga kalian disini" itu suara Jaehyun.
"Ah sial" Taeyong mendecih, mematikan rokoknya dan menatap Jaehyun.
"Apa urusanmu kesini hah?"
"Menegakkan peraturan sekolah! Sunbae! Kaliam sudah terlalu banyak melanggar peraturan" kata Jaehyun.
"Lalu pedulimu apa? Hah?"
"Aku ketua OSIS, hyung seharusnya menuruti peraturan sekolah ini"
Taeyong meludah, "peraturan apa.. dan kau" Taeyong menunjuk Jaehyun tepat di keningnya "jangan bersikap sok mengatur" lalu Taeyong dkk pergi dari sana.
Jaehyun hanya bisa melirik Taeyong. Bagaimana juga ia tidak bisa (tega) menahan Taeyong.
.
.
Seminggu setelahnya, Taeyong menjadi agak sensitif.
"Yong, kau mau makan ini?"
"Tidak"
"Kalau ini?"
"Tidak"
"Yasudah, yang ini saja ya"
"Tidak mau!"
"Lalu maumu apa?! Hah?!" Yuta kesal dengan Taeyong.
"Aku mau yang itu" Taeyong menunjuk makanan yang tadi ditunjuk Yuta.
"Aku sedang menahan untuk tidak bicara kasar padamu, Yong.." kesal Yuta, sedangkan Taeyong hanya melenggang pergi dari sana.
.
"Kenapa makanannya tidak habis?" Tanya Johnny.
"Aku tidak mau makan ini" Taeyong lalu mengambil makanan milik Yuta.
"Hey! Makanan kita kan sama! Makan saja punyamu dengan tenang!" Protes Yuta.
"Tidak mau, punyamu lebih enak" kata Taeyong.
Yuta memegang kepala Johnny seperti akan melemparkannya ke Taeyong"ini berat loh Yong"
.
"Jaehyun-ah" Taeyong memanggil Jaehyun yang sedang mengeluarkan mobilnya di tempat parkiran
"Oh, halo hyung.. ada apa?" Tanya Jaehyun.
"Antar aku pulang"
"Kau tidak bersama teman-temanmu? Kenapa sekarang kau minta pulang bersamaku?"
"Ya aku hanya ingin pulang denganmu saja! Masalah?!"
"E..eyy.. bukan begitu hyung.. baiklah baiklah, hyung bisa pulang denganku" kata Jaehyun
"Bukakan aku pintu" Taeyong melipat tangannya di dada
"Aishh.." Jaehyun memutar dan membukakan pintu untuk Taeyong.
Hari ini hyungnya sangat aneh
.
.
"Taeyong-ah, ingin pesan makanan?" Tanya ny.Jung.
"Oh? Tidak, eomma.. aku tidak lapar.." jawab Taeyong
"Baiklah kalau begitu, eomma pergi belanja sebentar ya"
"Yaaa.. hati-hati eommaa~"
Taeyong anak yang baik didepan tuan dan nyonya Jung, tapi tidak didepan adiknya.
Jaehyun baru selesai mandi dan turun kebawah untuk minum.
"Ya! Jaehyun-ah!!" Panggil Taeyong.
"Ya hyung?" Jaehyun reflek berbalik dan menuju Taeyong.
"Duduk disini" Taeyong menepuk tempat di sampingnya. Jaehyun lalu duduk di sampingnya, dan tiba-tiba Taeyong menyenderkan kepalanya di bahu Jaehyun.
"H..hyung..??"
"Diam, aku hanya sedang ingin.. tidak tahu kenapa"
.
.
Sudah sebulan lamanya Taeyong menjadi aneh tanpa sebab.
Biasanya ia yang paling semangat mengikuti pelajaran olahraga, namun akhir-akhir ini ia malas mengikuti mapel tersebut dan memilih bermalas-malasan di matras.
Juga porsi makan Taeyong bertambah menjadi dua kali lipat. Dan ia suka meminta hal aneh kepada Yuta dan Johnny.
"Yutaaa~"
"Aku sudah hapal dengan panggilan itu"
"Yutaa~ aku mendadak ingin ice cream, belikan aku satu"
Oh ya, Taeyong yang sekarang juga bersikap lebih manis, walau garangnya masih ada.
"Ya.. ya.. rasa apa?" Yuta, pesuruh kece 2k19
"Saus tomat"
"Hah?" Bahkan Johnny yang tadi asik dengan ponselnya bingung.
"Aku mau ice cream rasa saus tomat.. sepertinya enak"
"Itu tidak ada! Jangan aneh-aneh!" Kata Yuta.
Taeyong mencebik kesal. "Ck! Aku ingin! Carikan sekarang! Kalau perlu kau yang buat!"
"Ish! Baiklah baiklah!" Yuta pergi dari sana.
Taeyong beralih ke Johnny.
"Johnnyyy~"
Johnny merinding mendengar panggilan Taeyong.
"Apa?"
"Aku ingin melihat kau botak.. hehehe"
"Heol!"
Yuta kembali, "Yong, ini ice mu" ia menyodorkan kantung plastik
"Tidak mau"
"What the-- apa maksudmu??!"
"Kau lama, aku sudah tidak nafsu. Kau saja yang makan, aku ingin melihatmu makan"
"Heol, Taeyong!"
.
.
Sudah sebulan lebih, dan kondisi Taeyong makin tidak menentu, moodnya makin parah, permintaannya juga makin aneh. Membuat Johnny dan Yuta kelabakan.
Dan lebih aneh lagi, Taeyong menjadi lebih menempel pada Jaehyun, padahal sebelumnya satu sekolah tahu kalau Taeyong sangat membenci si ketua OSIS itu.
Taeyong menyenderkan kepalanya di meja, ia lelah semalam belum tidur.
"Yoo~ Tae--"
Belum selesai Yuta bicara, Taeyong langsung berlari keluar. Ke toilet lebih tepatnya.
"Hoekk hoekk.. ughhh~" Taeyong mual-mual, namun tidak ada yang keluar dari perutnya, hanya mual.
"Sial.. aku harus meminta obat mual lagi ke UKS"
Taeyong lalu pergi ke UKS.
"Oh, pagi Taeyong! Apa yang membawamu kesini?? Obat mual?" Tanya perawat.
Taeyong mengangguk.
"Kurasa kau harus memeriksa diri ke dokter, Taeyong-ah.. sudah seminggu kau meminta obat mual kesini.." kata si perawat mencari obat mual untuk Taeyong.
"Aku akan pergi dengan Jaehyun" kata Taeyong.
"Oh ya, kau juga semakin dekat dengan si ketua OSIS, bukankah kau sangat membencinya? Baguslah kalau kalian sudah berbaikan" kata si perawat tersenyum.
"Benarkah? Aku hanya ingin dekat dengannya.. tidak tahu kenapa"
.
.
Taeyong berakhir memeriksa dirinya di rumah sakit dengan Jaehyun.
Pemeriksaan sudah selesai 15 menit yang lalu, mereka menunggu hasil.
"Tuan Taeyong??"
"Iya saya"
"Begini.. saya sulit menjelaskannya.. tapi.. kamu melihat adanya janin di perut anda.. mungkin ini yang membuat anda mual-mual, morning sickness.. kau tahu? Ibu hamil akan mengalami mual pagi hari"
"Ma..maksudmu?"
"Ini kasus langka, selamat tuang Taeyong, anda hamil"
.
.
TBC (?)
