Rika : Ok, next to the chapter selanjutnya!
DISCLAMER
Fic ini asli milik Rika, Vocaloid milik Yamaha
WARNING
Tau ah, yang jelas kalau ada kesalahan-kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja yang diketik fic ini, mohon dimaafkan. Sekian!
Meiko : Nih bener nih disclamer and warningnya?
Rika : yakin 99,9 %
Meiko : Eh? *sweatdrop*
Author POV
"Oi Aoki, berapa lama lagi kita sampai di desa Elf?" tanya lelaki berambut merah yang tampak kelelahan.
"Ng... kalau terbang kira-kira dua jam, tapi kalau jalan... mungkin bisa sampai satu hari."
"APA?!" spontan saja, ketiga pemuda tersebut kaget mendengar peri yang serba berwarna biru tersebut.
"Bisa-bisa kakiku patah tulang..." gumam lelaki berambut ungu dan panjang.
"Oi, Aoki. Lebih baik kita istirahat di sini. Teman-temanku kelihatannya sudah kecapekan," Kata lelaki berambut biru yang juga kelelahan karena berjalan selama satu jam di tambah dua jam keliling di Hutan Terlarang.
"Eh? Kalian itu cowok, tapi baru satu jam aja sudah kelelahan." Sindir peri ras Pixie tersebut.
"Kau tak tahu betapa capeknya mengelilingi Hutan Terlarang tanpa istirahat, Aoki?"
"Hutan Terlarang?"
"Ah, kau yang berasal dari dunia peri mungkin tak tahu. Hutan Terlarang adalah Hutan di dunia kita yang kawasannya 'terlarang' bagi masyarakat sekitar karena banyak orang menghilang di hutan tersebut. dan setelah kami memasuki Hutan Terlarang, ternyata ada gua yang menghubungkan dimensi lain, yaitu dunia peri ini," Jelas Kaito.
"Oh, dengan kata lain, Hutan tersebut adalah hutan yang juga membuat orang-orang datang kesana akan memasuki dunia kami, begitu?"
"Ya, seperti itulah." Jawab Kaito.
"Lalu, orang-orang pendatang baru sebelum kita, apa yang mereka lakukan disini?" tanya Gakupo.
"Kenapa kau bertanya padaku?"
"Karena orang-orang di desa kami hilang karena memasuki hutan tersebut." Jelas Akaito.
"Ehm, mungkin mereka tinggal di kawasan netral atau menjadi Mage." Kata Aoki dengan jari telunjuk kanannya memegang dagunya.
"Mage?"
"Sudalah, nanti sampai di desa akan kujelaskan. Lalu, kalian minta istirahat, bukan?" tanya Aoki.
"Iyalah!" serempak tiga pemuda tersebut. Dan akhirnya, mereka bertiga duduk di dekat pohon-pohon yang kebanyakan pohon Oak. Karena tempat mereka yang jalani adalah hutan. Beda denga Aoki, peri yang bernama lengkap Aoki Lapis tersebut duduk di ranting pohon Oak yang besar karena tempat biasanya Aoki berisitrahat atau duduk-duduk adalah ranting pohon.
"Akhirnya, aku bisa duduk juga." Kata Akaito dengan leganya.
"Ng? Gakupo, ada apa?" tanya Kaito yang menatap pada temannya yang sedang beridiri didepan pohon sambil melipat tangannya. Gakupo, yang terus curiga dengan pohon Oak yang ada didepannya membuat teman-temannya bingung, kenapa pria beriris berwarna ungu tersebut menatap pohon Oak tersebut. "Apa ada yang aneh dengan pohon?" tanya Aoki pada Gakupo.
"Ya, begini Aoki, saat aku mau duduk di sini, entah itu imajinasiku atau apa, pohon ini... bergerak!" jelas Gakupo.
"Ber... bergerak?" Kaito dan Akaito bingung apa yang dibicarakan Gakupo sehingga mereka cengo pada temannya. "Iya, bergerak." Jelas Gakupo.
"Dan berbicara." Jawab pohon tersebut.
"Ah, dan berbicara juga. Eh, BERBICARA?" tanya Gakupo sambil menatap pohon Oak yang besar dengan mata yang terbelak. Teman-temannya yang juga tak ketinggalan kagetnya hingga berteriak histeris kecuali Aoki yang hanya berwajah innocent.
"GYAAA! Pohonnya bisa berbicara!" mereka yang serempak berteriak histeris layaknya seperti gadis ketakutan. Tapi, tidak dengan teman baru mereka, Aoki. Ia hanya menghembuskan nafasnya dan menenangkan tiga pemuda tersebut. "Tenanglah semuanya, pohon ini adalah peri ras Dryard. Jadi, tak masalah dengan duniaku kalau pohonnya bisa berbicara, karena pohon ini juga jiwa peri dari ras lain yang sudah mati." Kata Aoki pada tiga teman lakinya.
"Hahaha... tak apa, mereka hanya terkejut saja. Lagipula, saya sudah lama tak bertemu dengan Mage." Kata pohon tersebut dengan tertawa kecil.
"Mereka bukan Mage, mereka adalah pendatang baru," kata Aoki sambil melipat kedua tangannya.
"Oh, pantas saja. Mereka pasti kebingungan dengan dunia ini. Nah, siapa kalian, pendatang baru dan Pixie?" tanya pohon tersebut.
"Aku Kaito Shion."
"Aku Akaito Shion."
"Aku Gakupo Kamui."
"Aku Aoki Lapis. Nama anda?"
"Namaku adalah Leisz. Senang berkenalan dengan kalian semua." Kata pohon tersebut sambil menggerakan beberapa ranting dan menundukan badannya.
"Ah, senang berkenalan juga, Leisz." Kata Aoki sambil tersenyum pada pohon Oak tersebut.
"Jadi, ceritakan, bagaimana kalian bisa sampai ke dunia ini, pendatang baru?" tanya Leisz.
"Jadi..." akhirnya salah satu tiga pemuda, yaitu Kaito, menceritakan dari awal hingga bertemu dengan Aoki.
"Begitu, jadi bagaimana sosok perempuan tersebut yang ada di mimpimu, wahai pemuda berambut biru?" tanya Leisz.
"Ia... seperti manusia. Tapi, aku tak yakin dia adalah manusia. Karena, ia mempunyai telinga yang panjang, serta mempunyai sayap berwarna putih. Lalu, ia memiliki rambut berwarna coklat dan pendek. Ia, tampak... sedih." Kata Kaito sambil mengingat-ngingat mimpinya.
"Apa perempuan tersebut bernyanyi?"
"Iya, ia sedang bernyanyi. Aku belum pernah mendengar nyanyian yang sangat indah. Andai, aku berharap aku bisa mendengar nyanyiannya lagi. Tapi, bagaimana anda bisa tahu kalau ia bernyanyi?" tanya Kaito.
"Dunia ini juga, mimpi para manusia. Ada beberapa peri, masuk dunia mimpi manusia, karena ingin bertemu seperti apa manusia atau ingin bermain. Tapi, ada juga peri yang iseng dan masuk begitu saja ke dunia mimpi manusia. Sehingga, mimpi itu menjadi mimpi buruk." Kata Leisz dengan jelas.
"Lalu, aku mendengar pembicaraan kalian kalau kalian ingin ke desa Elf, benar bukan?" tanya Leisz.
"I... iya, karena kami baru tahu kalau sampai ke desa Elf itu, ternyata memakan satu hari." Kata Kaito sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak begitu gatal dengan jari telunjuknya.
"Begitu... apa kalian ingin pergi ke desa Elf secepatnya?"
"Tentu saja!" serempak tiga pemuda tersebut dengan semangatnya.
Pohon Oak tersebut hanya tersenyum saja dan mengerti situasinya. Akhirnya, pohon yang juga ras Dryard tersebut memulai menggerak-gerak ranting pohonnya. Satu-persatu, pohon-pohon Oak yang ada di hutan tersebut mulai terbangun dengan menggerak-gerak ranting pohonnya. Dan diiringinya tarian ras Dryard tersebut, ada suara nyanyian yang indah sekali hingga telinga pemuda beriris berwarna biru tersebut tidak asing dengan nyanyiannya. "Kalau kalian ingin ke desa Elf, carilah iringan nyanyian alam ini. Suatu saat, kalian pasti akan bertemu dengan desa yang penuh dengan peri dan Mage." Kata Leisz yang sambil menggerak-gerak ranting pohon.
"Ikuti aku." Kaito yang bertindak cepat, langsung berlari dan mencari asal suara tersebut. Teman-temannya yang juga tak ketinggalan, mengikuti Kaito karena mereka percaya bahwa satu-satunya orang yang mengenali nyanyian alam ini, hanyalah Kaito. 'Aku ingat! Nyanyian ini, seperti yang ada di dalam mimpi!' Batin Kaito dengan percaya sekali.
Dan tidak lama kemudian, Kaito menemukan sebuah jalan keluar dari hutan tersebut karena adanya cahaya putih serta pohon-pohon yang ras Dryard menunjukan jalan ke arah desa Elf. Dan saat memasuki cahaya tersebut, mereka sudah tiba di desa yang ramai sekali dengan peri-peri dari berbagai macam bentuknya serta rumah gubuk yang banyak namun sederhana. Adik kembarnya Kaito, menepuk pundak kakaknya dengan wajah tersenyum. "Kau sudah menemukannya, Kaito." Kata Akaito.
"Kita berterima kasih pada Leisz yang menunjukan jalan tercepatnya." Kata Aoki.
"Oi, mana terima kasihku, Aoki?" tanya Kaito pada peri yang tingginya yang kecil. Aoki yang cegek pada pendatang baru tersebut, dengan malu-malu sambil wajah yang memerah mengatakan terima kasih pada Kaito. "T-terima kasih... Shion..." dan para ketiga pemuda tersebut tertawa terbahak-bahak mendengar Aoki berterima kasih.
"Wahahaha... tuh, mukamu merah. Kau pasti suka dengan Kaito, bukan?" tanya lelaki berambut merah yang juga adik kembarnya Kaito.
"Diamlah kalian! Atau aku bunuh kalian semua!" bentak Aoki dengan perasaan kesal dan masih berwajah merah seperti bunga mawar merah.
"Walau kecil, tetap aja imut kalau marah. Hihi..." kata Gakupo yang menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Diam kalian semua! Ini tidak lucu!" bentak Aoki dengan suara keras tetapi tidak sampai terdengar oleh peri-peri lain. Tapi, mereka bertiga masih tetap menahan tertawanya. Aoki, yang masih diselimuti oleh perasaan malu dan wajah yang masih memerah mulai terbang dan mau meninggalkan tiga pemuda tersebut. "Sudalah kalian bertiga! Kalian ingin bergegas ke kerajaan Oberon atau tetap disini sambil tertawa?" tanya Aoki yang menoleh kebelakang ke tiga pemuda tersebut.
"Eits! Kalau masalah ke kerajaan Oberon, tentu saja kami kesana." Kata Gakupo yang langsung menghentikan tawanya. Dan akhirnya, mereka bertiga beserta peri berras Pixie tersebut menuju ke desa Elf dengan perasaan senang kecuali Aoki yang masih menyimpan rasa kesal.
Disisi lain, tempat bertemunya teman-temannya Aoki dengan Leisz, salah satu temannya Leisz yang juga ras Dryard melontarkan pembicaraan ke Leisz. "Leisz, apa kau yakin apa yang dibicarakan oleh pemuda berambut biru tersebut?"
"Aku yakin, pemuda tersebut mengatakan yang sebenarnya." Jawab Leisz.
"Tapi, aku masih tak percaya pada omongan pemuda tersebut kalau yang ia mimpikan adalah paduka Titania. Benar begitu?"
"Iya, tapi entah mengapa, ketiga pemuda tersebut bukan pendatang baru biasa."
"Maksudmu?"
"Maksudku, salah satu ketiga pemuda tersebut, mungkin akan menjadi penerus dunia ini bersama Titania." Kata pohon oak tersebut.
Meiko : nih penasaran amat ya, baca fic ini.
Rika : kalau penasaran, baca chapter selanjutnya.
Meiko : tahu lah, kalau soal itu. Yang terpenting adalah...
Rika : Reviewnya dari para readers dan para author dan para senpai-senpai.
Meiko : Ingat! Jangan diflame fic ini kalau kalian mau hidup. Ingat itu! *death glare*
#Author lari gara-gara takut ngeliat wajah Meiko yang death glare#
