nb: hai, maaf aku lupa ngasih tau kalo ff ini itu GS ya ;;)r

karna ini ff remake jadi susah dibuat yaoi TT yang gak suka ff GS out aja ya daripada nge blame cerita orang ;;)r


Fade Into You (REMAKE: Yoonmin ver.)

.

.

Main pair: Yoonmin (GS), Slight: Taegi, Namjin, etc.

.

Rate : M

.

Disclaimer: Story by KATE DAWES

.

Warn: GS!uke, FF REMAKE, rating tinggi! jadi yang merasa belum dewasa out aja ya (x_x)


Chapter 1

Aku telah tinggal dan bekerja di Seoul hanya tiga minggu ketika aku bertemu dengan pria yang akan mengubah segalanya bagiku. Aku pernah mendengar namanya sebelumnya, tapi hanya selama beberapa minggu terakhir ketika bekerja.

Sebagai seorang gadis biasa, baru lulus dari Universitas kecil di Daegu lalu pindah ke Seoul. Aku belum pernah mendengar Park Jimin sebelumnya. Mungkin Pernah, tapi aku tidak pernah sedikitpun memperhatikan ketika namanya muncul di layar sebuah film. Dia adalah penulis dan produser, aku mengaku bersalah –sebenarnya tidak peduli- untuk tidak mencari tahu siapa dia sebelum aku mulai melihat namanya di dokumen dan mendengar namanya di kantor.

Sebelum berjalan ke kantornya, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, aku menemani bosku Jung Hoseok, untuk sebuah rapat. Hoseok sedang melobi, agar salah satu klien di agensi kami bisa mendapatkan peran di film yang diproduseri oleh Park Jimin.

Tampang Park Jimin seharusnya tidak akan membuatku terkejut, jika aku mau sedikit repot mencari dia di google dan sedikit mencari tahu tentang dirinya sebelum rapat dimulai. Tapi aku tidak melakukannya. Terserah jika mau menyebut aku sebagai orang baru, tapi itu sesuatu yang benar-benar tak terpikirkan sebelumnya olehku, fokusku adalah presentasi ke klien. Hampir sebagian besar waktu kami selama satu jam berada di kantor Park Jimin, aku duduk di sana menatapnya, tak bisa fokus dengan rapat yang berlangsung. Tingginya kira-kira 6 kaki dengan bahu lebar dan pinggang langsing, ugh itu bukan bentuk fisik seorang binaragawan, tipe kesukaanku, tapi dia memiliki bentuk tubuh seperti huruf V. Kukira pakaian yang dikenakannya cukup membantu juga. Celana panjang abu-abu gelap, dan kancing kemeja putih dengan dua atau tiga kancing pertama terbuka, mengungkapkan kulit berwarna tan yang menggoda.

Rambutnya cukup panjang untuk bisa diacak-acak jika saja ada seorang gadis punya kesempatan untuk menggerakan jari-jari diatasnya. Pada awal pertemuan, rambutnya tampak disisir ke belakang dan aku bertanya-tanya apakah ia adalah salah satu dari orang-orang yang berlebihan memakai gel. Tapi setelah berjam-jam, rambutnya mulai mengering, dan aku pikir mungkin dia baru saja mandi di kamar mandi pribadi di kantornya. Mungkin dia sudah bekerja sebelum rapat, dan dalam tiga puluh menit ketika aku menggerutu di ruang tunggu, dia berada di kamar mandi sambil menyabuni-

See? Itulah sebabnya kenapa aku merasa terganggu. Dan sejujurnya, ini sedikit membuatku marah. Aku datang ke kota ini untuk bekerja, membangun diriku sendiri, memulai hidupku. Aku tak mau menjadi tidak mampu dalam mengendalikan diri di setiap area hidupku, apalagi dengan pria. Aku pernah bermasalah dengan pria, dan ketika aku tiba di Seoul, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mengucapkan selamat tinggal pada semua itu untuk waktu yang sangat lama.

Bekerja. Aku berada di sini untuk bekerja. Aku terus berusaha untuk meyakinkan diri sendiri, mengulanginya seperti mantra terus dan terus dan berulang-ulang.

"Bagaimana pendapat anda, Ms. Min?"

Ini akan menjadi cukup buruk jika kata-kata itu keluar dari mulut Hoseok. Tapi itu keluar dari mulut Park Jimin, aku duduk di sebelah bosku dan di seberang seorang mogul terkenal di Seoul, tertangkap basah karena aku melamun.

Aku sudah menatap kearah Park Jimin, memindahkan pandanganku dari bibir ke matanya. Aku langsung melihat bahwa matanya agak kecoklatan, tapi kali ini aku melihat bahwa satu alisnya dinaikkan untuk menekankan pertanyaan yang ditunjukannya padaku. Aku tak memiliki petunjuk tentang konteks dari pertanyaannya tersebut. Dan benar-benar membuatku bodoh dan tidak berguna. Tapi tak ada cara lain, dan aku membiarkan itu terjadi.

Tanpa ragu kukatakan, "Dengan segala hormat, Mr. Park, saya menghargai diminta untuk memberikan masukan, tapi Mr. Jung adalah ahlinya di sini." Kataku dengan senyum dan menatap sekilas ke arah Jung Hoseok.

Untungnya, Hoseok mengerti isyaratku dan langsung memberikan argumen untuk mendukung klien kami.

Diselamatkan oleh sedikit kecerdasan. Ini jarang terjadi padaku, tapi ketika itu terjadi, sepertinya selalu terjadi ketika itu benar-benar penting.

Ini adalah bagian di mana kamu akan berpikir bahwa aku akan mendapatkan kontrol diri dan memperhatikan apa yang dibicarakan. Tapi seperti yang dikatakan Hoseok, aku menatap Park Jimin. Sepertinya semuanya baik-baik saja, dia bisa berpikir aku hanya menonton reaksinya terhadap permainan Hoseok. Tapi itu salah.

.

.

.

Aku seorang gadis Daegu. Cukup normal. Cukup jinak, sebenarnya. Aku sudah tidak perawan, dan aku sudah pernah berhubungan seks. Tapi aku belum pernah menonton pornografi, dan yang membuatnya lebih aneh lagi adalah bahwa gambaran itu muncul di kepalaku. Mereka seperti sekelumit adegan dalam sebuah film, seperti cahaya yang berkedip dan kau mengingat aksi yang dilakukan dalam film tersebut. Dalam hal ini, aku yang melakukan aksi itu, telungkup, dengan Park Jimin di belakangku... merobek bajuku langsung di tempat tidur.

Beberapa kali dia melirik padaku, aku khawatir bahwa dia bisa melihat apa yang aku pikirkan. Aku tahu, ini gila.

Ketika rapat usai, Park Jimin bangkit dan menghampiri Hoseok, dia menjabat tangan Hoseok dan menempatkan tangan yang lainnya di belakang lengan Hoseok. Aku belajar di mata kuliah psikologi bahwa itu adalah sikap yang menunjukkan kekuasaan dan dominasi. Aku tak terkejut, itu sudah biasa di Seoul.

Park Jimin menatapku, "Ms. Min, senang bertemu dengan anda."

"Terima kasih Mr. Park."

Aku menerima uluran jabat tangannya, "Panggil aku Jimin."

Tangannya besar dan kuat, dan jabat tangannya hangat. Jika aku ingin sedikit melodramatis, ada aliran listrik kecil yang berlompatan dari tangan kami. Tapi itu tidak terjadi, kehangatan jabat tangannya sudah cukup mendebarkan.

"Baik Jimin, panggil aku Yoongi."

-TBC- 160712


Review, please? ;;)r


~Sugatrash~