Makasih untuk semua yang sudah review dan memberi saran agar cerita lebih baik lagi. ㄟ(≧ ◇ ≦ )ㄏ
POWER OF LOVE
Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
Rate : M (18+)
Pairing : SasuNaru,xxxNaru,dll
Warning : Yaoi, boys love, boyxboy,OOC , typo , Mpreg (?)
Yang gak suka ceritanya maupun antiyaoi dimohon untuk tidak membaca ini ●ω●
Uzumaki Naruto : 22 tahun
Uchiha Sasuke : 24 tahun
Hyuga Neji : 24 tahun
Sabaku Gaara : 23 tahun
Inuzuka Kiba : 22 tahun
Nara Shikamaru : 24 tahun
Uchiha Itachi : 28 tahun
"Naruto" = pikir
CHAPTER 2
" Naruto,Naruto…"
Naruto masih tidak bergerak dan perlahan kelopak matanya menutupi mata shapiernya. Dan semua menjadi gelap. Naruto pingsan. Sasuke melepaskan jaket yang dia pakai dan melampirkannya ke tubuh Naruto. Tak mungkin dia membiarkan Naruto dilihat dengan kondisi berantakan seperti ini. Sasuke membawa tubuh lemah Naruto ke atas punggungnya. "berat sekali" pikir Sasuke. Walau tubuh Naruto kecil siapa sangat berat bagi Sasuke. Sasuke berjalan menuju motor miliknya yang ada di depan gang sambil menahan berat tubuh Naruto.
Sementara itu di salah satu apartemen di tengah kota. Neji dan Gaara mengecek keberandaan Naruto. "Kau menemukannya Gaara?"
"Tidak Neji,dia belum pulang" Apartemen yang terlalu luas ini sangat sepi. Neji dan Naruto hanya tinggal bersama disebuah apartemen di tengah kota untuk memudahkan mereka mencapai lokasi sekolah. Karena tak mendapatkan yang mereka cari ,Gaara dan Neji bergegas meninggalkan apartemen dan melajukan mobil ke jalan raya."Dimana Naru sebenarnya?" Neji dan Gaara terus menyelusuri jalan tapi tetap mereka tak melihat Naruto. Mereka khawatir. Seharusnya Neji,memaksa Naruto atau perlu menyeretnya paksa masuk mengantarnya pulang. Entah apa yang membuat Neji tak pernah bisa tegas kepada Naruto. Walau bukan saudara kandung,ikatan mereka sudah sangat dekat.
Mereka terus mengarahkan pandangan ke jalan yang semakin ramai. Sampai mereka melihat seseorang yang mereka kenal keluar dari sebuah gang sempit dipinggir jalan.
"Itu bukannya Sasuke san?" Tunjuk Gaara. Neji mengarahkan pandanganya ke sebrang jalan. Sasuke keluar dari gang sempit menuju motor sport biru yang sepertinya milik Sasuke. Sepintas terlihat ada sebuah tubuh berambut pirang punggunya."Naru"gumam Neji. Dengan cepat dia memutar mobilnya menyebrang ke sebrang jalan. Neji mematikan mesin mobil dan berjalan keluar mobil bersama Gaara menghampiri Sasuke. "Naru" panggil Neji. Ada raut kesedihan sekaligus khawatir menghinggap wajah Neji melihat kondisi Naruto . Sasuke melihat Neji yang sudah ada di depannya,menyerahkan Naruto. Neji mengendong Naruto ala bridal style dan syok dengan keadaan adiknya. Gaara juga syok melihat keadaan Naruto. Kemeja robek yang masih telihat dibalik jaket Sasuke ,wajah lebam dan sedikit darah disudut bibir Naruto. Raut wajahnya berubah sedih ketika melihat leher Naruto,ada beberapa kissmark disana.
"Apa yang terjadi Uchiha san?" Tanya Gaara
"Dia hampir diperkosa" Neji mengepalkan tangannya kuat. Neji membaringkan tubuh Naruto di bangku belakang. "Kita pulang Gaara" Gaara mengangguk lalu duduk di bangku belakang menjaga Naruto. "Kau juga Sasuke ikutlah bersama kami ke apartemen"
"Hn"
Neji masuk ke dalam dan menjalankan mobilnya. Sama halnya dengan Sasuke menaiki motor sport kesayangannya dan mengikuti mobil Neji dari belakang. Semakin sore keadaan kota semakin ramai apalagi bertepatan dengan jam pulang para pekerja. Tak berselang lama, mereka semua sudah tiba di apartemen dan berada di dalam kamar Naruto.
"Gaara ,tolong ganti pakaian Naru" Gaara mengangguk. Neji dan Sasuke keluar kamar dan duduk di sofa ruagan tamu.
"Kau ingin minum apa Sasuke?"
"Kopi tanpa gula saja"
"Baiklah"
Neji beranjak dari sofa menuju dapur yang bersebrangan dengan ruang tamu. Sasuke mengedarkan pandangannya. Apartemen yang cukup luas menurutnya terdapat tiga kamar disini. Kamar Naruto berada di pojok kanan. Diantara dua kamar sisanya ia yakini kamar Neji. Neji dan Naruto tinggal bersama dari kesimpulan yang dia buat. Walau tidak terlihat luas tapi hangat dan terkesan nyaman. Tidak seperti rumah miliknya. Sasuke hanya tinggal berdua dengan kakaknya tidak termasuk para pembantu di sana. Dia dan kakaknya sama-sama sibuk dan jarang berkempul. Rumah luas itu terasa hampa dan sangat sepi. Neji datang membawa dua cangkir kopi.
"Minumlah Sasuke" Sasuke mengambil kopi miliknya dan meminumnya sedikit. Pahit. Tapi dia suka itu.
"Hn,kau tinggal bersama Naruto?"
"Iya" Seperti tebakannya.
"lalu panda itu?"
Neji menyengit bingung "Panda? Maksudmu Gaara?"
"Hn"
"Dia tidak tinggal disini,kami hanya teman"
"Kalian terlihat dekat"
"benarkah? Aku tak menyangka kau dapat melihat kedekatan kami" Neji tertawa kecil. Lalu Wajahnya berubah sedih.
"Terima kasih Sasuke,kau telah menolong Naru. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika kau tak datang tepat waktu" sambung Neji
"Hn, tak masalah" Sasuke kembali meminum kopinya lagi. Tiba-tiba telintas sesuatu dalam pikirannya. "ada yang mau aku tanyakan"
"silahkan Sasuke "
"Apa dia …"
"Neji ,Naru sudah sadar" Suara Gaara menghentikan interaksi mereka berdua. Gaara berada di depan pintu dan masuk kembali. Neji bergegas berjalan masuk ke dalam kamar Naruto. Sasuke mengekori Neji. Di dalam terlihat Naruto yang bersandar pada kepala tempat tidur.
"Ne..ji nii"
"Kau baik-baik saja?" Neji duduk di samping Naruto. Pakaian Naruto telah berganting dengan kaos orange yang membuat dirinya semakin manis. Lukanya juga sudah diobati oleh Gaara dengan sangat rapi.
"Aku baik-baik saja Neji nii,Naru haus" Gaara langsung menyerahkan segelas air. Naruto dengan sekali teguk menghabiskan air itu. "Terima kasih Gaara" Gaara hanya menjawab dengan anggukan kecil.
"Syukurlah" ucap Neji lega. Naruto tersenyum kecil. Ia merasa menyesal telah membuat Neji khawatir. Entah kenapa tubuhnya tak bisa melawan dan menjadi lemas tadi. Padahal sebelum-sebelumnya walau tak terlalu bisa bela diri ,ia masih mampu melindungi diri. Sadar ada yang menatapnya, Naruto melihat seseorang bersandar pada dinding dekat pintu. Itu si teme yang selalu mengejeknya bodoh.
"Kenapa si teme itu disini?" Tunjuk Naruto tepat ke arah Sasuke.
"Jangan berkata seperti itu Naru, dia yang menyelamatkanmu"
"Eh?" Naruto tak percaya. "Dia yang menolongku"
Naruto melihat Sasuke lalu tertunduk malu. Ia merutuki dirinya yang bodoh karena tak bicara dengan benar.
Sasuke mengerutkan alisnya. Heran dengan Naruto yang tak mengingat bahwa ia yang menolongnya. Saat itu jelas-jelas Naruto masih sadar dan melihatnya memukul pelaku pemerkosaan itu. "Mungkin dia terlalu syok"
"Etto, Maaf tidak sopan padamu dan terima kasih ne teme maksudku Uchiha san" Naruto menatap Sasuke malu.
"Hn" Sasuke melirik jam tanganya, ini sudah terlalu sore. "aku harus pergi"
"Biar aku antar" Neji berjalan keluar bersama Sasuke.
"Naruto kau kenapa?" heran Gaara melihat Naruto yang terus menggosok lehernya. "aku tidak tau Gaara tapi terasa aneh,bisa aku minta cermin"
Gaara menyadari letak tangan Naruto. Tepat dibagian kissmark. Dengan ragu Gaara mengambil cermin yang ada di atas meja dan menyerakannya pada Naruto. Naruto menyibakkan sedikit kaosnya dan terlihat bercak bercak mereka. Melihat itu Naruto menggaruk lehernya dengan keras.
Gaara kaget melihat tindakan sahabatnya. "Naruto hentikan " Gaara melihat leher Naruto yang semakin merah dan hampir mengeluarkan darah. Naruto tak berhenti dan semakin keras menggaruknya. Gaara bergegas menyusul Neji.
Saat mereka hampir tiba di luar apartemen Neji teringat sesuatu "Sasuke apa yang ingin kau tanya kan tadi?"
Sasuke diam. Ia ingin menanyakkannya tapi melihat kondisi ,mungkin lain waktu. "tidak ada" jawab Sasuke singkat
"baiklah"
Sasuke menaiki motor helm dan menyalakan motor miliknya. "Hati hati Sasuke,sampai jumpa"
"Hn" sebuah gumaman yang masih terdengar oleh Neji. Sasuke berlalu pergi,meninggalkan Neji yang masih berdiri. Neji berbalik dan menuju apartemennya yang berada di lantai satu sehingga ia tak perlu menaiki tangga maupun lift.
"Neji" panggil Gaara yang tampak panik di depan kamar Naruto ,Neji mendekatkan diri.
"Ada apa?"
"Naruto terus menggaruk lehernya" Neji kembali masuk ke dalam kamar dan bergegas menghentikan gerak tangan Naruto. Kulit Naruto benar-benar memerah.
"hentikan,Naru"
"tapi Neji nii ,aku tidak mau ada ini" Neji mengerti maksud Naruto. "Gaara ,tolong ambil syal di lemari"
Gaara menyerahkan sebuah syal orange yang cukup tebal. Neji melilitkan syal ke leher Naruto. Setidaknya ini berguna menutup tanda itu hingga hilang. "masalah sudah selesai, lebih baik kau istirahat"
"lalu bagaimana dengan kencannya?" Neji ingin sekali mencubit pipi Naru,kenapa disaat sakit seperti ini masih bisa membahas hal yang tidak terlalu penting.
Neji dan Gaara saling pandang. "itu bisa kita lakukan kapan-kapan Naru"
"tapi kan Neji nii ingin mene…" Neji membengkap mulut Naruto. "Naru kan sudah kukatakan lebih baik kau istirahat,kita bicarakan itu nanti " Naruto menyadari kesalahannya hampir saja dia keceplosan mengatakan rencana Neji. "ah,iya Neji nii" Neji membaringkan tubuh Naru dan menyelimutinya. Perlahan mata Naruto menutup. Gaara dan Neji keluar kamar dan menutup pintu.
"Kenapa kau membengkap mulut Naruto seperti itu"
Neji hanya tertawa garing. "bukan apa-apa" Gaara menatap curiga kepada orang yang ia sukai itu. "Aku lupa" menepuk jidatnya.
"Apa?"
"Aku lupa menjemput dia"
Gaara menghela nafas . Mereka sampai melupakan dia karena mencari Naruto. "Jemputlah dia biar,aku yang menjaga Naruto"
"Terima kasih Gaara" Neji mengacak rambut merah Gaara dan bergegas pergi. Sepeninggalan Neji, Gaara dapat merasakan wajahnya panas dan memerah.
(•̀ㅂ •́)و
"APAAAAAAAA"
"Kau tak perlu berteriak seperti itu Kiba"
Gaara dan Naruto menceritakan apa yang terjadi kemarin kepada Kiba. Karena teriakan Kiba sontak seluruh penghuni ruang guru menoleh ke arah mereka.
"Maaf,maaf aku kan kaget. Lalu siapa yang menolongmu?"
Naruto menatap Kiba lalu tertunduk malu. "dia..Uchiha san"
"Wah, sudah berterima kasih Naruto ?"
"aku sudah mengucapkannya kemaren"
"hanya sebuah ucapan?"
Naruto mengangguk. "tidak sebaiknya kau memberikan sesuatu?"
"sesuatu?seperti apa?" Naruto memiringkan kepalanya. Gaara dan Kiba hampir mimisan melihat tingkah Naruto. Tak taukah dia ,itu pose yang berbahaya.
"seperti ciuman"
"ciuman ya.." Naruto mengangguk mengerti
Loading
10%
50%
75%
100%
"EHHHHHHHH,CIUMANNN" teriak Naruto ,kembali menyakiti telinga semua penghuni.
"Iya ciuman, ciuman terima kasih gitu"
"tidak…aku tidak mau" Naruto memalingkan wajahnya. Mana mungkin ia mencium si teme itu.
"berarti kau tidak benar-benar berterima kasih pada Uchiha san"
"tapi apa harus sebuah ciuman?"
"itu kan hal wajar cukup di pipi saja" Naruto tampak berfikir keras.
Gaara yang melihat tingkah Kiba menggeleng kepala. Benar-benar jail.
"kenapa tidak kau berikan bentomu itu?" ide Gaara
"kau benar Gaara, terima kasih" Naruto memeluk Gaara erat.
" Gaara kau tidak satu jalan"
"jangan melakukan hal yang tidak-tidak, Neji tak akan mengampunimu."
"iya deh,Gaara sama"
"Baik aku akan memberikannya saat makan siang" kata Naruto semangat
Di dalam kelas 2-B tampak semua siswa yang masih asyik mengobrol terutama para wanita yang tdak sabar menant guru pujaan mereka
"Kyaaa hari ini guru baru itu yang mengajar,siapa namanya?"
"Sasuke sensei, dia tampan sekali"
"Aku sih masih tetap Naruto sensei,dia manis sekali"
Saat suasana kelas masih riuh, Sasuke muncul dari pintu kelas. Seketika para siswa kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
"Namaku Uchiha Sasuke ,guru yang menggantikan Kurenai sensei. Sekarang kalian buka buku kalian halaman 32 "
Para murid wanita di kelas itu ,tidak bisa fokus ke pelajaran. Guru mereka terlalu indah untuk tidak dipandangi. Tubuh yang tinggi dan berotot. Membuat mereka semakin menggilai guru mereka itu. Tak terasa satu setengah jam terlewati dan pelajaran berakhir.
Tiiitttttttttttttt Tiiiiitttttttt
"Kerjakan halaman 34 sampai 40 dan kumpulkan dua hari lagi"
"EHHHHHHH" seru semua siswa
"Tapi Sasuke sensei ,itu terlalu banyak" protes salah satu siswa wanita.
Sasuke menatap tajam muridnya. "tak ada yang protes,sampai dua hari lagi" Sasuke keluar dari kelas. Para siswa tak menyangka bahwa guru tampan mereka akan sesadis itu.
Di ruang guru sekarang Naruto sudah mengambil kotak bekalnya. Sebenarnya ini bekalnya tapi tak apa,ia masih bisa makan di kantin. Naruto melihat meja Sasuke. Tapi tak ada penghuninya disana. Bisa dilihat meja kerja Sasuke yang begitu rapi berbanding terbalik dengan mejanya yang sangat berantakan.
"dimana dia?" Naruto menggembungkan pipinya.
"Naruto sensei?" Naruto menoleh ke belakang. Seorang muridnya yag memiliki rambut mangkok berdiri dengan membawa setumpuk kertas ditangannya.
"Lee kun,ada apa?"
" saya mengantar tugas kelas 2-B"
"Wah,terima kasih sudah mengantarnya Lee kun,bisa kau letakkan di atas mejaku?" ucap Naruto tersenyum lebar dan sangat manis. Lee tersipu malu. Ia mengagumi gurunya ini. Tentu saja bukannya hanya dia ,tapi hampir semua angkatan sekolah dan juga guru-guru. Baru menjadi guru di sekolah, Naruto sudah menjadi idola. Dan berakhir dengan Naruto yang dipilih sebagai guru terfavorit tahun lalu.
"ten..tu Naruto sensei" Lee melihat Naruto yang sesekali melihat ke luar ruangan dan melihat kembali meja Sasuke,guru baru matematikanya. " Naruto sensei mencari Sasuke sensei?"
"Eh.. iya Lee kun, kau tau dimana dia?"
" tadi saya melihatnya ke arah atap"
"Ah, Arigatou ne Lee kun" Naruto berjalan keluar ruang guru meninggalkan Lee. Sepanjang jalan banyak siswa yang menyapanya. Terutama lelaki padahal Naruto ingin menjadi idola wanita tapi malah kenyataannya murid laki-laki yang menjadikannya idola mereka. Jika mengingat-ngingat awal dia menjadi guru di sini , ia selalu digoda semua murid laki-laki. Syukurlah Neji mengancam mereka sehingga mereka hanya berani menyapa Naruto.
Naruto hampir sampai ke atas sebelum sebuah tangan menariknya.
"Sai ,apa yang kau lakukan?" Sai meletakkan kedua tangannya disisi kiri dan kanan Naruto.
"aku hanya ingin menyapamu Naru chan" bisik Sai ditelinga Naruto. Naruto dapat merasakan nafas Sai dan membuatnya merinding.
"Jangan ganggu aku Sai"
"Kau manis sekali ,Naru chan"
"Gyaaaa jangan bilang aku manis,menjauhlah Sai nanti ada orang yang lihat"
"jika kau menciumku aku akan pergi"
"hentikan Sai"
"kau memakai syal Naruto,kenapa kau memakai syal dimusim panas seperti ini?"
"itu…aku hanya ingin memakainya" jawab Naruto gugup memegang erat syalnya. Naruto tak ingin orang tau yang terjadi kemaren. Ia hanya takut,terhadap pandangan mereka kecuali sahabat-sahabatnya.
Sai penasaran. Dia menyadari mimik wajah tegang Naruto saat dia menyinggung soal syal. Dengan perlahan Sai menarik ujung syal tanpa sepengetahuan Naruto. "Jika kalian ingin bermesraan lakukanlah di luar sekolah"
Naruto yang kaget langsung mendorong Sai menjauh. "Uchiha san"
"Hn"
"a..ku pergi dulu" ucap Naruto gelagapan. Naruto berlari menaiki tangga ke atap.
"Kau sangat menganggu Uchiha sensei" seperti biasa Sai menampakkan senyum palsunya pada Sasuke. Sasuke benci dengan senyuman yang dimiliki Sai,rasanya ingin memukul wajah itu agar tak tersenyum lagi.
"Hentikan senyum menjijikanmu itu"
Seketika Sai menghilangkan senyumannya dan berjalan pergi. Saat posisinya tepat di sebalah Sasuke ,Sai berbisik. "Dia milikku Uchiha sensei" Terasa ada penekanan setiap kata yang dilontarkan oleh Sai. Mengklaim bahwa Naruto hanyalah melanjutkan langkah kakinya hingga tak terdengar lagi. "Cih…siapa dia"umpat Sasuke. Ia benar-benar kesal dengan tingkah Sai. Ia mencoba untuk tidak ambil pusing .Sasuke berjalan menaiki tangga menuju atap. Pintu atap terbuka dan tampak pemandangan langit yang cerah. Sejak menemukan tempat ini kemarin ,Sasuke sudah menyatakan bahwa ini tempat favoritnya di sekolah.
"Sasuke san,Sai sudah pergi?" Naruto menghampiri Sasuke. Sejak tadi ia menunggu Sasuke. Ia bersyukur Sasuke memang akan datang ke atap.
"Hn"
Sasuke melewati Naruto dan duduk di pojok atap yang teduh. Naruto dapat melihat Sasuke membawa beberapa roti dan jus kotak didalam tas plastik yang dia bawa. Naruto bergerak cepat menghampirinya dan segera duduk di samping Sasuke. Ia takut Sasuke akan memakan makan siangnya itu.
"Ini" Naruto menyodorkan kotak bekalnya ke arah Sasuke. Sasuke hanya melirik tak tertarik.
"hn?"
"ini bento, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku"
Sasuke mengabaikan Naruto"hn,tidak perlu" Sasuke mulai membuka kemasan roti melonnya
"aku mohon terima,aku tidak mungkin memberimu ciuman" Sadar dengan yang ia ucapkan Naruto menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sasuke terkejut dengan ucapan Naruto tapi tak terlihat sedikit pun dari wajahnya yang datar
Muncul seringai di bibir Sasuke. "ciuman? Kenapa kau tak memberiku itu saja?"
"itu…tidak mungkin Uchiha san"
"Sasuke"
"Eh…?"
"Panggil aku Sasuke"
"Sasuke san,itu tidak mungkin"
"kenapa tidak mungkin ?"
"itu….karena…." Selagi Naruto mecari alasan ,Sasuke menatap kotak bekal Naruto. Bisa ia cium aroma makanan dalam kotak bekal itu. Sasuke mengambil benda itu.
"Eh…?"
Sasuke membuka kotak bento itu. Bento yang cantik dan menggugah selera. Ia tak menyangka Naruto bisa membuat bento seperti itu.
"Kau yang membuatnya?"
"iya,karena Neji nii tidak bisa memasak jadi aku yang memasak di rumah. "
"Ambillah" Sasuke menyerahkan tas plastik yang ia bawa.
"Tidak perlu Sasuke san,untuk mu saja Sasuke san aku tidak la…."
Kruuuuuuuuuuuu
"…par" sambung Naruto. Naruto merutuki perutnya yang berbunyi. Naruto sudah tidak dapat mengelak lagi kalau dia lapar. Dengan terpaksa ia mengambilnya. "baiklah aku ambil"
Dalam tas plastik itu,ada beberapa roti dan 2 kotak jus tomat. Naruto menyengit heran "hanya ada jus tomat?"
"Jika kau tak suka berikan padaku"
Naruto menggembungkan pipinya. Padahalkan dia cum bertanya. Naruto mengambil salah satu roti dan memakannya. Ia melirik Sasuke yang lahap memakan masakannya.
"Bagaimana enak?"
"Hn" Naruto mengerutkan dahinya. Ia selalu tak mengerti maksud "Hn" yang diucapkan Sasuke.
"Bicara yang jelas Sasuke san"
"Hn"
"Arghhh kau membuatku pusing"
Tiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt Tiiiitttttttttt
"Sudah bel,padahal aku baru makan sedikit. Sasuke san aku harus mengajar. Jaa ne" Naruto pergi meninggalkan Sasuke sendiri yang masih sibuk makan.
Bibir Sasuke membentuk senyuman. Sudah lama ia tak merasakan masakan rumah sejak kaasannya meninggal. Wajahnya berubah sendu,kenangan masa lalu berputar dalam kepalanya. "aku merindukanmu Kaasan" tanpa sengaja pandangan sasuke jatuh ke bawah. "Kalung?" Kalung kristal shappire tergeletak dibekas tempat yang diduduki Naruto. Kalung yang indah. Warna kalung ini memingatkannya pada warna mata Naruto yang sangat jernih bagai langit.
"Hm ,Dobe"
(•̀ㅂ •́)و
"Aku bisa pulang sendiri"
"Naru,kau taukan apa yang terjadi kemarin saat kau pulang sendirian"
Sekarang sudah waktu pulang dan Neji hanya bisa memijat pelipisnya saat adiknya kembali berulah dengan tidak ingin diantar. Entah bagaimana harus membuat Naruto mengerti.
"tapi bagaimana dengan kencanmu, Neji nii?"
"jangan terlalu memikirkanku,aku bisa kapan saja mengungkapkannya"
"tapi Neji nii.."
"tidak ada tapi-tapi Naru"
Naruto tidak ingin merusak renacana Neji. Naruto berfikir keras. "bagamaina caranya?" Naruto melihat Sasuke yang muncul dari arah pintu langsung menemukan ide.
"Aku akan pulang bersama Sasuke san"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Ia baru datang dan dia dilibatkan oleh masalah yang ia tak tau. Dengan cuek ,Sasuke membereskan barang barangnya dan bersiap pulang.
"Naru ,jangan merepotkan Sasuke"
"Sasuke san tidak merepotkan kan?"
"Hn" Sejak kapan Naruto mengartikan "Hn" nya sesuka hatinya.
"Tuh kan tidak merepotkan"
Neji menghela nafas "Baiklah, Sasuke tolong antar Naru sampai rumah"
"Hn"
"Terima kasih Sasuke" Neji tersenyum.
Naruto langsung memnghampiri Gaara yang masih membereskan Barang-barangnya "Gaara ,Neji nii mengajakmu kencan"
Gaara menaikkan sebelah alisnya "Kau pulang dengan siapa Naruto?"
"Sasuke san" tunjuk Naruto ke Sasuke yang sudah siap pulang.
Gaara melirik Neji. Neji hanya menggangguk. "Baiklah , kau harus langsung pulang Naruto"
"Iya,Gaara nii chan" dipanggil seperti itu membuat wajah Gaara memanas.
"Ayo Sasuke san" ajak Naruto berjalan pulang. Sasuke mengikuti Naruto dari belakang. Mereka berhenti di tempat parkir. Sasuke menyerahkan helm cadangan yang ia simpan di dalam motornya. Sebelum menaiki motornya Sasuke mengambil kalung yang ia ambil tadi di dalam saku celananya.
"kalungmu"
"eh," Naruto mulai meraba leherya yang terlilit syal. Dia memang tak merasakan tanda-tanda kalungnya. "aku tidak sadar kalau hilang,terima kasih Sasuke san. Besok akanku bawakan bento lagi" lanjut Naruto
"Tomat"
"Tomat?"
"berikan banyak tomat"
"Ah,Sasuke san suka tomat ya?"
"Hn"
"Aku lebih suka jeruk. Rasanya akan sangat segar dicuaca panas seperti ini. Kau harus mencoba..nya" Entah sejak kapan wajah Naruto dan Sasuke sangat dekat.
"Sasuke san " Sasuke semakin mendekatkan wajahnya. Naruto bisa merasa nafas Sasuke. Aroma mint begitu terasa. Naruto secara spontan memejamkan matanya. Segala pemikiran muncul dalam pikirannya. Apa Sasuke bermaksud menciumnya?
"Ada kotoran di rambutmu"
"Eh?"
Bibir sasuke menyeringai "Jangan berpikir mesum,dobe"
"Aku…aku tidak berfikir mesum"
" jika kau ingin lakukanlah dengan kekasihmu tadi"
"Sai bukan kekasihku" sergah naruto cepat.
"Hn,Cepatlah naik"
Naruto menaiki motor Sasuke. Suara mesin motor menyala mulai menggema. Dengan perlahan motor itu bergerak menerobos ke ramaian kota. Naruto yang takut berpegangan pada ujung kemeja Sasuke. Berberapa kali terlihat Sasuke melewati beberapa kendaraan. Memang tidak terlalu kencang tapi ia takut tiba-tiba ia jatuh saat Sasuke menyalip mereka. Sekitar 15 menit ,mereka berhenti tepat di apartemen Naruto.
Naruto turun dan menyerahkan helm kepada Sasuke. "Terima kasih, Sasuke san"
Sasuke menggerakan tangannya ,menyuruh Naruto untuk mendekat. " Apa Sasuke san?" Dengan sangat cepat Sasuke meraih dagu Naruto dan mengecup pipi kenyal Naruto. "Ucapan terima kasihmu ,aku terima"
"TEMEEE MESUMM" Sasuke langsung tancap gas dan meninggalkan Naruto dengan wajah semerah tomat. Dalam hati Sasuke benar-benar senang menjaili Naruto.
Setelah berlalu dari apartemen Naruto. Sasuke menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah megah. Tentu itu adalah rumahnya. Rumah itu begitu besar dan asri. Semua tanaman itu milik kaasannya dan sekarang walau kaasannya tak ada ia harus tetap menjaga mereka. Sasuke melirik sebuah mobil yang terparkir tepat di sebelah mobilnya. Ini tandanya Kakaknya ada di dalam. Sasuk masuk ke dalam rumah dan disambut oleh beberapa pelayan yang berbaris di samping Sasuke. "Dimana aniki?"
"Itachi sama ada di ruang tamu Sasuke sama"
"Kalian bisa kembali bekerja"
Para pelayan membubarkan diri mereka. Dengan kaki panjangnya Sasuke menuju ruang tamu. Terlihat seorang pria tampan dengan rambut diikat dan tak lupa adanya garis diwajahnya yang bisa dibilang seperti kriput. Pria itu duduk membaca koran dengan tenang. Ditemani secangkir the di atas meja.
"Aniki,kapan kau pulang?" Sasuke ikut duduk di samping pria itu.
"Baru saja otouto" Pria itu tak lain adalah Itachi Uchiha,kakak Sasuke. Itachi melipat korannya dan meminum tehnya." Oh,ya kau sudah menemukannya otouto?"
Sasuke tau apa yang dimaksud kakaknya. "Jangan bercanda Aniki , kau memberikanku foto seorang bayi. Kau kira aku bisa dengan mudah menemukannya"
Flashback
"Kau harus melindungi dia ,otouto" Itachi menyerahkan sebuah foto kepada Sasuke
"hn, aniki" Sasuke mengerutkan alisnya melihat Foto yang diberikan oleh Itachi.
"Kenapa kau memberikan aku foto seorang bayi?"
"dia yang harus kau lindungi otouto"
"jangan bercanda aniki kau tak memberikan informasi apa pun termasuk namanya dan menyuruhku melindungi bayi yang entah dimana dia berada?"
"mau bagaimana lagi otouto,kaasan sama sekali tak menyebut nama anak itu, yang aku tau dia memiliki tanda lahir diperutnya dan berambut pirang"
Sasuke memfokuskan pandangannya pada perut bayi itu. Terdapat tanda lahir seperti spiral. "Berapa tahun umur bayi ini sekarang?"
"mungkin sekitar 22 tahun" Sasuke menghela nafas. Mana mungkin dia menemukan bayi yang sekarang umurnya sudah 22 tahun hanya dengan fotonya saat bayi. Perubahan fisik yang terjadi pasti sangat signifikan. Sasuke tak mungkin memeriksa perut setiap orang yang berambut pirang untuk mengetahui adanya tanda lahir itu. Dan siapa bayi ini?
"Baiklah ,akan ku coba dan ada satu hal lagi,kenapa kau menyuruhku melindungi bayi itu?"
Itachi menatap lekat adiknya."Hanya kaasan kita yang tau Sasuke"
End Flashback
Sasuke mengingat pembicaraannya bersama Itachi beberapa hari yang lalu. Dimana dia harus melindungi seseorang yang ia tidak tau siapa dan dengan sebuah foto bayi 22 tahun yang lalu.
"aku kira ini pekerjaan yang mudah bagimu otouto"
"kenapa tidak kau saja yang mencarinya?"
"ah,bagaimana rasanya bekerja sebagai guru?"
"jangan mengalihkan pembicaraan aniki"
"Otoutoku sayang jangan marah gitu dong" Itachi mencubit pipi Sasuke.
"hentikan,kau menjijikan aniki" Itachi mengacak rambut Sasuke. Sudah lama ia tak melakukan itu. Ia merindukan adiknya ini.
"Oh,ya aniki kenapa kau menyuruhku menjadi guru di sekolah itu?"
Itachi menyeringai "kau akan tau nanti otouto"
Sasuke bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga.
"kau mau kemana otouto?"
"ke kamar, bicara denganmu buang-buang waktu aniki"
Itachi tersenyum melihat punggung adiknya yang menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Begitu banyak hal yang ditinggalkan oleh orang tuanya termasuk sebuah foto bayi yang di serahkan padanya saat detik dekit kematian kaasannya tanpa tau siapa bayi tu.
(•̀ㅂ •́)و
Akhiranya bisa selesai ;-; . Maafkan kosakata saya yang gk terlalu banyak dan cerita yang singkat. Terima kasih yang sudah memberikan saran dan kritikan. Terima Kasih juga yang telah membaca Fanfic ini. Malam ini akhirnya saya bisa tidur tenang wkwkwwkkw. Jika ada salah penulisan mohon dimaklumi karena aku tak sanggup membaca ulang lagi. :"V
"
