" Kau jatuh cinta pada Harry Potter, Hermione"
Hermione mengerang sambil membalikkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia tidak mengerti mengapa satu kalimat dari Vanessa bisa membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia menggerutu pelan sambil bangkit dari tempat tidurnya, segelas susu hangat sepertinya akan membantu. Gadis itu keluar dari kamarnya seraya menuju dapur, membuat segelas susu hangat dan membuat sepotong sandwich sebelum berjalan ke ruang tamunya.
" Dasar, Roother, kau membuatku tidak bisa tidur" gerutu Hermione, kesal seraya duduk di sofa depan perapiannya.
Hermione meneguk susunya sambil melihat api yang menari lembut di perapiannya. Dia lalu mengunyah sandwich sambil memikirkan pembicaraannya dengan Vanessa. Apa dia begitu kelihatan memiliki perasaan pada Harry? Dia menghela napas untuk kesekian kalinya.
" –mione, Hermione!"
Hermione meringkuk makin masuk ke dalam selimutnya, dia menggerutu mendengar suara penganggu tidurnya. Dia baru bisa tidur jam 2 pagi semalam dan itu berarti dia kehilangan beberapa jam tidur berharganya.
" Pergi" gerutu Hermione, menutupi kepalanya dengan selimut.
" Oh, ayolah ini sudah jam sembilan, Demi Merlin!"
" Harry Potter! Tinggalkan aku sendiri" Hermione yang sudah mulai berada di alam sadar mampu mengenali itu adalah suara Harry.
" Kau sudah janji akan membantuku berbelanja pagi ini" kata Harry, seperti anak kecil " Kau tidak boleh membatalkan janji sepihak" dia menambahkan.
" Aku ingat jelas kau pernah membuatku menunggu beberapa jam untuk makan siang jadi biarkan aku tidur beberapa jam lagi" protes Hermione sementara Harry berusaha menyibak selimutnya.
" Aku terlambat karena urusan pekerjaan, bukan karena malas-malasan sepertimu" balas Harry tak sabar.
" Aku masih mengantuk, Harry" gerutu Hermione " lagipula belanja denganmu takkan memakan waktu banyak" dia menambahkan sambil membenamkan wajahnya di bantal.
" Jadi kau akan lanjut tidur?"
" Hmmm…" Hermione mengangguk singkat sambil berusaha kembali ke alam mimpinya.
" Baiklah kalau begitu…."
Hermione merasa ada yang tidak beres, Harry tidak akan menyerah semudah itu. Benar saja, detik berikutnya dia tertawa histeris.
" HARRY! HAHAHAHAHAHAHA!" Harry menindihnya dan jari-jarinya berlarian di pinggang hingga perut Hermione, membuat gadis itu merontah sambil tertawa.
" Masih ngantuk?" Harry menyeringai penuh kemenangan.
" Harry! Stop – HAHAHAHAHHA – kau – HAHAHAHAHHA – curang!"
" Katakan kau akan menemaniku belanja" kata Harry
" Okay – HAHHAHAHA – STOP!"
Harry menyeringai puas dan berhenti menggelitik Hermione, nafas gadis itu terengah dan wajahnya bersemu. Harry tersenyum, dia selalu menganggap Hermione nampak begitu manis ketika bersemu.
" Kau benar-benar menyebalkan, Potter" kata Hermione setelah berhasil mengatur nafasnya dengan baik.
" Tapi kau peduli padaku" Harry menjulurkan lidahnya " Cepatlah, kau pergi mandi dan aku akan memasak sarapan" dia mengecup pipi Hermione singkat sebelum meloncat turun dari tempat tidur dan bersiul ria menuju dapur.
Hermione merasa wajahnya memanas, dia buru-buru menggelengkan kepalanya dan segera menuju ke kamar mandi sebelum Harry kembali. Lima belas menit kemudian, gadis itu keluar dengan dress selutut berwarna biru cerah dengan pita warna keemasan melingkar di pinggang rampingnya. Hermione memandang pantulan dirinya dengan puas, dia menggoreskan sedikit make-up di wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang masih nampak mengantuk.
Dia keluar dari kamar dan aroma wangi langsung menggoda penciumannya. Dia berlari kecil menuju dapur dan melihat Harry sudah membuat setumpuk pancake.
" Wow, kau nampak cantik, Mione" puji Harry saat menata meja makan.
" Trims, Harry" balas Hermione sambil berusaha menahan rona merah di pipinya.
" Aku membuat jus jeruk, kuharap kau tidak keberatan" lanjut Harry seraya duduk di kursinya, menuangkan jus ke dua gelas di meja itu.
" Tentu tidak" Hermione mulai mengambil pancake dan menuangkan sirup maple " Oh, Harr, kau benar-benar berbakat" dia menambahkan ketika mengunyah pancake itu, membuat Harry terkekeh pelan.
" Ayo, cepat, kita masih mau berbelanja" kata Harry, bersemangat.
" Aku masih tidak mengerti kenapa kau tidak belanja sendiri" protes Hermione " Kau sudah dewasa, Demi Merlin" dia memutar bola mata.
" Kau tahu aku butuh saranmu untuk belanja kali ini" balas Harry " dan kita akan ke dunia Muggle, aku tak mungkin membawa para Weasley, ingat terakhir kali mereka ke pusat elektronik"
Hermione mendengus, dia ingat ketika membawa Fred, George dan Ron berkunjung ke pusat elektronik Muggle. Mereka bertiga takjub dan menarik perhatian banyak orang dengan tingkah mereka karena baru pertama kali melihat TV dengan fasilitas 3D, dia ingat jelas bagaimana Ron berlari dan menabrak TV di belakangnya ketika memakai kacamata 3D, mengira meteor di TV itu benar-benar akan menyerangnya. Singkatnya mereka tidak membeli apa-apa tapi harus mengganti rugi beberapa barang rusak akibat antusiasnya para Weasley.
" Well, aku tak mau mengulang kejadian itu, lagipula mereka bertiga sepertinya sudah masuk blacklist" Hermione mengangguk " Kita hanya akan ke toko pakaian dan melihat-lihat barang elektronik saja, kan?" dia memastikan.
" Ya, kau tahu aku tidak punya selera fashion" kata Harry.
Mereka menghabiskan sarapan mereka dengan cepat lalu Hermione memutuskan bahwa dia akan menyetir BMW Z4 miliknya. Dia mengeluarkan mobil itu dari garasi, membiarkan Harry masuk dan memastikan dia sudah memakai sabuk pengaman sebelum melaju menuju mall terdekat dari rumahnya. Lima belas menit kemudian, dia sudah memarkirkan mobil dan menyusuri mall, membiarkan Harry melihat-lihat jika ada pakaian yang menarik perhatiannya.
" Kau butuh jas?" Hermione mengangkat alis.
" Ya, kau lupa kalau Kementrian akan mengadakan pesta? Pesta untuk mengenang Dumbledore"
" Oh ya" Hermione hanya mengangguk pelan
" Aku takkan berlama-lama di sana" gumam Harry " Well, kita tidak pernah berlama-lama di sana, bukan?"
" Kita selalu pergi setelah Kingsley memberikan pidato pembuka, Harry, kita hanya minum satu gelas sebelum buru-buru membuat alasan dan pergi"
" Pergi mencari Pizza di pinggiran kota" kekeh Harry
" Oh, itu bagian terbaiknya" Hermione tersenyum, itu seperti rahasia dari mereka berdua. Mereka sama-sama tidak menyukai pesta dan semua perhatian yang ditujukan pada mereka, mereka akan pura-pura punya urusan lain sebelum ber-Apparate pergi dan memutuskan untuk berjalan-jalan hingga menemukan café atau rumah makan untuk makan malam.
" Kau tidak mencari gaun?" Harry mengerling bagian gaun tak jauh dari sana
" Hmmm…aku tidak yakin" Hermione menggeleng " lagipula aku tidak datang dengan teman kencan, untuk apa repot-repot? Memakai gaun atau tidak, tidak akan mengubah apa pun"
Harry mengerutkan keningnya, dia tidak suka ketika Hermione memandang rendah dirinya sendiri seperti itu.
" Oh, aku tidak terima alasan itu, Miss Granger" Harry menggantung kembali jas yang di pegangnya sebelum menarik tangan Hermione menuju bagian gaun " Aku akan membelikanmu satu"
" Harry!" Hermione memekik ketika pemuda itu tiba-tiba menariknya.
" Ayolah, setidaknya coba dulu" rengek Harry, memasang wajah puppy face andalannya.
" Kau curang, kau tahu aku tidak bisa menolak melihatmu dengan ekspresi seperti itu" geruru Hermione sambil berusaha mengabaikan wajah Harry " Urrggghhh….baiklah" dia mengangkat kedua tangannya menyerah.
" Yes!" Harry tersenyum senang " Oke, Miss Granger, aku akan coba jasku dan kau disini memilih gaun untukmu" dia menambahkan.
Hermione menghela napas dan memandang deretan gaun yang ada di hadapannya. Well, kurasa tidak ada salahnya. Satu jam kemudian, Harry keluar sambil memegang dua tas belanja dengan Hermione di sampingnya. Dia tersenyum penuh kemenangan sementara Hermione menggerutu karena Harry bersikeras membayarkan gaun yang dipilihnya meskipun Hermione sudah bersikukuh menolak.
" Ah ah, jangan cemberut, Mione" kekeh Harry
" Kau sangat menyebalkan, Potter" kata Hermione " Aku bisa membeli gaunku sendiri"
" Aku tahu tapi aku ingin membelikannya untukmu, lagipula kau tidak mengijinkan aku melihatnya" protes Harry
" Biar itu jadi kejutan saat pesta akhir pekan ini" balas Hermione, ringan " Selanjutnya toko elektronik?" dia menambahkan, Harry mengangguk.
Mereka mampir dan melihat-lihat beberapa handphone terbaru, Harry nampak kagum ketika melihat berbagai aplikasi di dalamnya sementara Hermione terkekeh melihat tingkah Harry. Hermione sendiri sudah memiliki ponsel mugglenya untuk memudahkan komunikasi dengan orangtuanya sementara Harry belum, mungkin itu bisa jadi hadiah sebagai balasan sudah membelikan gaunnya.
Hermione melihat Harry sedang sibuk dengan seorang pegawai yang menjelaskan ponsel cerdas sebelum dia diam-diam membeli satu iphone 7 plus untuk Harry. Gadis itu memberikan kartu kredit pada petugas untuk membayar, memasukkan nomornya ke dalam ponsel itu dan diam-diam menyembunyikannya di dalam tas belanja Harry tanpa sepengetahuan dari pemuda itu.
" Wow, tadi keren sekali" kata Harry bersemangat ketika mereka keluar dari sana
" Aku masih bingung kenapa kau tidak membelinya" gumam Hermione
" Well, aku tidak terlalu membutuhkannya tapi kurasa keren jika memiliki satu, aku akan mempertimbangkannya nanti" tukas Harry " Makan siang?" dia melihat arloji yang menunjukkan bahwa ini sudah lewat dari tengah hari.
Hermione mengangguk, baru menyadari bahwa perutnya sudah lapar dan mereka benar-benar menikmati belanja kali ini hingga lupa waktu. Mereka menemukan sebuah restoran Italia dan memutuskan menikmati pasta di sana.
" Oke, jadi kau sudah memiliki gaun" kata Harry ketika mereka duduk menunggu pesanan mereka.
" Ya" Hermione mengangguk singkat, tidak tahu arah pembicaraan ini.
" Err…tapi kau masih belum punya pasangan untuk pergi"
" Kau tahu aku tidak masalah pergi sendiri, Harry" kekeh Hermione, ringan.
" Well, aku hanya berpikir" pemuda itu memandang tangannya " Um…bagaimana jika –"
" Ini pesanan kalian" tiba-tiba pelayanan datang dan meletakkan pesanan mereka.
Hermione mengucapkan terima kasih dan dengan senang mulai menggulung sphagetti di garpunya, lalu menoleh pada Hermione.
" Sori tadi kau ingin bilang apa?" taya Hermione
" Tidak..er… bagaimana jika kita menonton di tempatmu setelah pesta?" kata Harry, Hermione mengerutkan kening karena sepertinya bukan itu yang ingin di tanyakan oleh pemuda itu namun dia mengangguk " Bagus, kita bisa pesan pizza atau Chinese food"
" Ya, ide bagus" Hermione kembali ke sphagettinya, tidak menyadari pandangan kecewa Harry yang ada di depannya.
Mereka membicarakan hal-hal ringan selama makan siang hingga akhirnya mereka memutuskan sudah saatnya untuk pulang. Hermione mengendarai mobilnya dengan santai dengan Harry duduk di kursi di sampingnya.
" Kau ingin aku menurunkanmu di Grimmauld Place?" tanya Hermione
" Ya" Harry mengangguk
Hermione mengatur rute perjalanannya, tak lama mereka sampai di Grimmauld Place.
" Trims, Hermione" kata Harry, tersenyum seraya turun dan menutup pintu.
" Kau tahu itu bukan masalah" tukas Hermione, menurunkan kaca jendela agar bisa melihat pemuda itu " bukan salahmu kalau kau tidak ada selera dalam fashion" dia menambahkan dengan menggoda.
" Hei!" protes Harry tapi Hermione sudah melaju pergi " Dasar perempuan"
Hermione melihat jam di dinding dan melihat sudah jam sembilan malam, dia segera menutup laporannya dan menyusun rapi perkamen di meja kerjanya. Gadis itu memutuskan dia butuh istirahat lebih awal karena besok dia sudah harus ke Kementrian lagipula Vanessa sudah sering kali mengomelinya karena bekerja terlalu keras.
Gadis itu berjalan ke kamarnya dan mengambil ponselnya, dia baru akan membaca berita muggle ketika ada nomor yang menelponnya. Dia mengerutkan kening sejenak sebelum mengangkatnnya.
" Halo"
" Kau protes aku membelikanmu gaun tapi kau membelikanku iphone!"
Hermione tertawa ketika mendengar suara Harry.
" Hei, orang lain akan senang jika menemukan iphone di tas belanjanya"
" Merlin, Hermione" Hermione bisa membayangkan Harry memutar bola matanya.
" Jadi, apa yang kau lakukan?"
" Aku baru akan menggantung jasku namun menemukan iphone yang kau berikan, trims"
" Sama-sama, kau tahu ini jauh lebih mudah dan tidak melelahkan ketimbang menulis surat atau harus menggunakan perapian bubuk Floo" kata Hermione ringan " Aku yakin leherku akan patah jika berlama-lama memasukkan kepalaku disana" Harry mendengus.
"Kuharap kau tidak sedang di ruang kerja dan mengerjakan laporan"
" Tidak, aku tidak mau mendengar Vanessa mengomeliku"
" Yah, dia benar-benar membuatmu menjadi lebih rileks sekarang"
" Dia sahabat yang baik"
" Hei, aku juga sahabat yang baik" protes Harry " dan kau lebih sering makan siang dengannya di Kementrian ketimbang denganku sekarang"
" Oh, apa kau merasa seseorang cemburu?" goda Hermione, tertawa pelan.
" Aku masih sahabat terbaikmu, kan?"
" Hmm… biar aku berpikir dulu, Potter, kau membangunkanku pagi-pagi sekali dan menggelitik badanku hingga aku bangun hanya untuk menemanimu belanja" kata Hermione dengan nada pura-pura terganggu " Kurasa aku ragu kau masih pantas menyandang gelar sahabat terbaikku"
" Ouch, Hermione, kau melukai perasaanku" kata Harry sebelum mereka berdua tertawa.
Hermione tersenyum, dia bersorak memuji dirinya untuk membelikan Harry ponsel, ini membuatnya masih bisa mengobrol dengan pemuda itu bahkan saat mereka tidak bersama. Entah berapa lama mereka mengobrol hingga Hermione merasa matanya memberat.
" Hmm…ya, Harry" Harry menyadari Hermione sudah nyaris tidur dan tersenyum.
" Met tidur, 'Mione"
" Hmmm…" Hermione memejamkan mata sepenuhnya dan tersenyum ketika masuk ke alam mimpi dimana ada pemuda dengan rambut berantakan dan mata hijau zambrud di dalamnya.
