A Distance

Chapter 2

4 May 2013

a/n: Maaf lama update-_- kesehatan ndak terlalu bagus di satu bulan terakhir ini, ditambah dengan pe-er plus ulangan yang menggunung -_-

Mind to read? And review? :D thankyouuus.

.

.

Hermione

Bosan juga tidak sekolah dan hanya mendekam di Asrama saja.

Tapi untung Madam Pomfrey tidak mengawasiku di sini atau membawaku menginap. Karena aku pasti bahkan dilarang berdiri—Madam Pomfrey memang terlalu pencemas—atau—apalagi—belajar.

Yeah. Aku senang belajar dan sampai kapan pun tidak akan berhenti belajar.

Maka aku menyihir beberapa biskuit dan mulai belajar. Belajar Ramuan, agar aku tidak dikalahkan lagi oleh Malfoy. Apalagi hari ini ada pelajaran Ramuan dan aku terpaksa tidak masuk sementara Malfoy masuk. Pasti aku tambah ketinggalan dan kesempatan Malfoy untuk kembali unggul menjadi lebih banyak.

Oh, di tengah-tengah kesibukanku belajar, aku sempat mengirimkan Mom dan Dad surat yang mengabarkan keadaanku. Aku sudah berjanji aku akan selalu mengirimkan surat ketika aku sakit, jadi tentu saja aku mengirim surat pada mereka tadi.

Mom dan Dad sangat khawatir. Balasan mereka datang secepat burung hantu baruku—Owly—bisa. Mereka bahkan mulai seperti Madam Pomfrey, melarangku beraktivitas karena aku baru pertama kalinya pingsan. Mom mengirimkan surat balasan yang menasihatiku—dan nasihatnya sama semua—sebanyak tiga lembar serta berbungkus-bungkus obat sakit perut.

Sebenarnya mereka juga mengirimkanku sesuatu. Sebungkus permen herbal yang pahit. Mereka tidak ingin mengirimkanku permen yang manis karena—kata mereka—itu bisa merusak gigiku.

Ternyata kebiasaan seorang dokter gigi tetap sama di setiap keadaan.

.

.

Draco

Barusan aku bertemu dengan orang sedungu Granger.

Ketika aku kembali dari makan malam, dia bertanya. "Kau darimana saja?"

Menurutmu aku dari mana dengan jubah Hogwarts seperti ini, Berang-berang? Dari Kutub Utara mencari penguin? Dari Australia mencari kangguru? Dari pasar membeli ikan?

"Ternyata habis pingsan kau tambah tolol," kataku sekenanya sambil melepaskan jubahku.

Granger diam saja. Dia sudah benar-benar terbiasa menganggapku tidak ada ketika aku meledeknya.

Memutuskan tidak ambil pusing, aku bergegas masuk dan mengunci pintu kamarku. Di dalam sana, aku berganti baju dan langsung tidur. Posisi awal tidurku adalah berbaring telentang. Tapi ketika aku membalikkkan badanku ke arah kanan dan membuka mata, aku melihat ada tiga botol ramuan Granger di atas meja, yang tampaknya sama sekali belum tersentuh.

Bergegas aku lompat dari tempat tidur ke luar, mencari Granger.

"Hei, Granger!" seruku. "Obatmu! Kau harus meminumnya!"

Granger sudah ada di depan pintu lukisan, hendak ke luar. Dia menatapku heran ketika aku meneriakinya sambil membawa tiga macam ramuan dengan rambut berantakan dan mata sayu.

"Sekarang bukan waktunya minum obat," katanya santai.

Aku menatap tiga botol ramuan itu. Tidak, Granger harus meminumnya agar aku tidak dimarahi Madam Pomfrey!

"Pokoknya minum!"

"Aku sudah sehat," katanya ringan. "Tidak perlu obat lagi."

Sembarangan.

"Hei, kau harus meminumnya!" seruku sambil menghampirinya. "Kalau tidak, aku yang akan kena marah Madam Pomfrey!"

Granger memutar bola matanya. "Oke oke, akan kuminum!"

Setelah ia meminum ramuan khusus setelah ia bangun tidur dan agar ia tidak muntah, ia berjalan keluar lukisan.

Teringat dengan peringatan Madam Pomfrey yang tidak mengizinkan Granger keluar—atau kalau tidak dia akan membunuhku—aku menyusul Granger sebelum dia benar-benar hilang. "Hei! Kau mau ke mana, Gigi Maju?"

Granger mencibir. "Namaku Granger, Musang!"

"Kau mau ke mana?" tanyaku. Aku bahkan tidak peduli sudah keluar dari Asrama dengan hanya memakai celana training hijau tanpa atasan. Asal aku tidak digantung oleh Madam Pomfrey.

"Aku mau patroli, tentu saja," kata Granger. "Aku ingin mengerjakan tanggung jawabku, tidak seperti kau!"

Astaga. Aku lupa kalau malam ini ada patroli!

Aku mendesah. Aku tidak percaya akan tiba harinya ketika aku mengatakan, "Masuk sana! Biar aku yang patroli!"

Granger mengernyit. "Well, habis makan apa, Malfoy?"

"Berisik!" kataku sambil menyuruhnya kembali ke Asrama. "Masuk sana! Tidur! Istirahat! Kalau tidak, Madam Pomfrey akan mengomeliku besok, oke?"

Granger menahan tawanya, tapi ia masuk juga ke dalam Asrama.

Aku mengikutinya dari belakang untuk kembali ke Asrama. Aku harus mengambil jaket dan jubah dulu sebelum patroli, tentu saja. Masa aku patroli hanya dengan celana training tanpa atasan!

"Well," katanya ketika aku hendak keluar dari Asrama. "Semoga patroli-mu lancar, Malfoy…"

Grangeeerr!

.

.

Hermione

Kamar Malfoy terbuka lebar ketika aku melewatinya untuk berjalan ke dapur.

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Malfoy belum mandi. Memutuskan menjadi baik hati—sementara saja, tentu—karena dia bersedia patroli sendirian tadi malam, aku membangunkan Malfoy.

"Musang," panggilku sambil menyingkap selimutnya. "Bangun!"

Aku tertawa geli ketika melihat ia mengisap jempolnya. Seperti anak bayi saja. Ternyata Malfoy memang masih kecil.

Dan seperti anak kecil lainnya yang sangat susah untuk dibangunkan, Malfoy tidak bangun-bangun juga. Padahal ia sudah meringkuk kedinginan karena selimutnya kutarik.

"Hei, bangun!" kataku sambil menarik kakinya.

Malfoy menggeliat sejenak, lalu mengusap-usap matanya. "Hm, jam berapa?"

"Tujuh," kataku santai sambil melenggang keluar dari kamar Malfoy.

Malfoy langsung melompat dari tempat tidurnya. "Astaga, jam tujuh?"

Aku berhenti dan berbalik, pas ketika aku sampai di depan pintu. "Iya, memangnya kaukira ini jam lim—"

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Malfoy sudah menyeruak keluar. Menabrakku sehingga aku membentur pintu kamarnya. Dasar Malfoy, sudah untung dibangunkan, masih tidak berterimakasih juga!

"Dasar!" teriakku kesal.

Malfoy sudah masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya. Di balik pintu itu, samar-samar aku mendengar suaranya.

"Ini semua gara-gara kau, Granger!" teriaknya.

Aku tidak terima. "Maksudmu apa?"

"Kalau saja kau tidak sakit, mungkin aku tidak akan kerepotan!"

"Memangnya aku tahu aku akan sakit atau tidak?" kataku kesal. Aku berjalan ke depan pintu kamar mandi untuk mendebatnya.

"Ternyata memang aku lebih pintar daripada kau!" balasnya. "Tentu saja kau harus tahu! Kau pasti mengerti kalau kau tidak makan, kau pasti sakit! Atau bahkan meninggal! Dan gara-gara kau aku yang harus—"

"Fine, fine!" teriakku kesal. Malas juga rasanya berdebat dengan si Musang ini. "Terserah kau saja!"

"Minta maaf!" Dia menyuruhku seenak jidatnya.

Aku mencibir.

Menurutku aku tidak salah, oke? Jadi sampai dunia kiamat pun aku tidak akan minta maaf! "Aku tidak salah, Malfoy! Aku tidak ingin meminta maaf padamu bahkan kalau aku harus kehilangan semuanya karena itu!"

"Aku terlambat bangun gara-gara kau, Berang-berang!"

"Kau terlambat karena kau kurang tidur!"

"Aku kurang tidur karena kau!" serunya sambil keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan handuk di bawahnya. Dia menunjukku dengan telunjuknya, seperti menantang untuk berkelahi.

"Maksudmu apa?!"

"Kalau saja kau berpatroli, maka aku akan tidur lebih cepat dan tidak terlambat!" serunya dengan keras. Tidak menyadari ada yang salah dalam kalimatnya.

"Kenapa aku yang harus berpatroli?" tanyaku. Oke, emosiku sudah memuncak sekarang.

"Karena itu tugasmu!"

"Itu tugas kita!" kataku jengkel. "Karena kita sama-sama Ketua Murid!"

"Pokoknya minta maaf!" serunya. "Sekarang!"

"Tidak!" kataku.

Malfoy membelalak. Matanya seperti ingin menjeratku.

Matanya lebih 'ganas' dari mata Mrs Weasley yang sedang marah.

.

.

Draco

Oke, aku tidak akan merasa kesepian lagi kalau Granger hanya belajar, belajar, dan belajar. Aku tidak akan peduli lagi kalau Granger tidak meminum obatnya, atau dia ingin keluar dari Asrama kapan pun.

Terserah saja Madam Pomfrey mau bilang apa. Memangnya ia punya hak untuk mengaturku? Memangnya ia punya hak untuk menjadikanku pembantu dari Granger?!

Ketika melihat Granger rasanya benar-benar kesal. Saking kesalnya sampai rasanya ingin mencabik-cabik apa pun yang ada di sampingku sampai hancur. Karena itu, untuk menghindari rasa kesal, aku berusaha sebisa mungkin menjauhi Granger.

Mengunci kamarku sebelum tidur, baru bangun ketika ia sudah turun ke Aula Besar untuk sarapan, membelakangi meja Gryffindor, memilih bangku paling jauh dari Granger ketika pelajaran bersama, dan baru kembali ke Asrama ketika Granger sudah patroli. Itulah usaha-usahaku untuk menjauhi Granger.

Rasanya aku tidak ingin berdamai lagi dengan Granger. Sampai kapan pun!

.

Hermione

Aku tidak percaya akhirnya aku akan mengatakan ini.

Tapi… hari-hari yang kulewati tanpa berdebat dengan Malfoy rasanya sunyi.

Malfoy mungkin sudah benar-benar membenciku sekarang—dengan alasan yang tidak masuk akal dan kekanakan. Sekarang sudah lima hari sejak kejadian bertengkar tersebut dan Malfoy hanya mengunjungi Asrama Ketua Murid sebanyak satu kali. Dia bahkan tidur di Asrama Slytherin! Dia tidak peduli lagi ketika Madam Pomfrey mengomel karena tugasnya merawatku ia telantarkan.

.

Mungkin ketika dia masuk nanti aku akan meminta maaf saja. Bukan berarti aku yang salah, oke? Aku hanya… bosan hidup jika tidak berkelahi dengan Malfoy.

Bagaimana pun juga hidupku adalah berkelahi dengan Malfoy dan jika aku berhenti berkelahi dengannya, maka itu bukan hidupku…

Oh Harry, Ron, para leluhur Granger… maafkan aku yang telah meminta maaf pada Malfoy!

Tapi aku benar-benar kesepian sekarang.

.

Draco

Ini merupakan surprise besar ketika…

"Maaf."

Granger? Orang keras kepala yang menyebalkan itu? Yang bergigi besar dan maju itu? Yang rambutnya seperti singa? Yang sok pintar? Yang selalu menantangku berkelahi? Dia… meminta maaf?

Merlin!

Aku menyeringai. "Jadi sudah sadar kalau kau yang salah?"

Wajahnya merah padam. Tanpa sadar ia menjatuhkan bukunya dan segera menggeleng cepat sambil mengambil bukunya dengan kikuk. "Jelas tidak! Aku tidak salah, Malfoy! Aku hanya…"

"Well, kalau begitu… selamat tinggal."

"Dengar dulu!" serunya sambil menahan lenganku.

"Apa? Untuk apa kau minta maaf tapi tidak menyadari kesalahanmu?"

"Aku hanya… bosan. Aku tidak memiliki teman berkelahi lagi di Asrama Ketua Murid, jadi aku meminta maaf padamu."

"Kalau kau tidak menyadari kesalahanmu, berarti aku tidak ingin memaafkanmu."

"Malfoy…"

"Nanananananananananananaaa…"

Tangannya mengepal, siap meninju. Tapi aku tidak peduli dan tetap menutup telingaku sambil menyanyi 'nananana…'. Aku benar kok, untuk apa dia minta maaf kalau tidak menyadari kesalahannya?

"Oke oke," katanya.

"Apa?" tanyaku.

"Aku minta maaf."

"Kurang keras," kataku.

"Aku minta maaf."

"Kurang keras!"

"Aku minta maaf!" teriaknya keras. "Puas?"

Cengiranku tidak bisa ditahan lagi. Untung di Asrama Ketua Murid ini hanya ada kami berdua. Kalau tidak mungkin ini akan jadi berita utama di Daily Prophet besok, Malfoy dan Granger Berdamai. Uh, judul yang memuakkan!

"Oke," kataku sambil merangkulnya. Jangan kira kenapa, dia temanku sekarang oke? Hahahaha. "Welcome, Hermione…"

TBC

Akhirnya lanjut-_- dikerja dari 4 May tapi baru selesai sekarang saking stresnya menulis. Karena gak dikerja maksimal mungkin fic di chapter 2 ini agak mengecewakan… I'm sorry, Guys…

Well, mind to Review? Thank you! :D

Guest: Hihi, thanks reviewnya :D makasih juga udah mau baca. Dan kalau mereview, knapa ndak sertakan nama? :D Kan lebih akrab *maaf SKSD*

Azzahranyc: Oke dek, dilanjut :p Ndak, author-nya biasa saja -_-

Maria Magdalena Roseline: Thanks reviewnya, Kak :D hehe, iya dilanjut kok… Makasih juga udah mau baca :D