Nya-Ha~!!!!

Ketemu lagi... Apdet-nya lama, ya?? He...he... Maaph deh!! Abisnya tiap mau apdet mesti ke warnet dulu. Males jadinya... *disambit* Ini aja saiia nyuri-nyuri jam pelajaran TIK… Ha…ha… *jangan ditiru, yach!!*

Oh iya, saiia mau matur tengkyu sama Yuki-san a.k.a Hitsugaya Yuki Phantomhive yang udah memotivasi saiia buat publish fic ini... (Maaph telat) Juga buat CherryPyonish en KuroKuroKarasu-chan... Kalian emang temen-temen saiia yang paling setia... Ai Loph Yu Phull, dah!!! *Jiah*

*Hiks.. hiks.. srooot...* Saiia bener-bener terharu, ternyata ada juga yang mau baca en repiu fic ini... Huwwwaaa~!! Saiia sayang kalian semua~!!! ** Balasan repiu udah ada di inbox masing-masing... Silahkan dicek sendiri. Langsung aja, deh!!

Warning: AU; OOC; cuma cerita dari sebuah novel yang menurut saiia bagus, jadi saiia cuma ingin kalian baca cerita ini, buat yang udah pernah baca, nggak baca fic ini nggak apa-apa kok, tapi kalo emang mau baca, silahkan...

Ps: Saiia nggak menerima flame karena saiia cuma njiplak cerita orang. Lagi pula udah saiia peringatin dari awal, kan?

Disclaimer:

BLEACH © Kubo Tite

THE TRUTH ABOUT FOREVER © Orizuka

Saiia?? Cuma mempublikasikan kok! T.T

Enjoy, please!!!!!

RnR!!!


Chapter 2

FIRST LAST DINNER

"Hah? Ada orang yang ngekos di sebelah kamar lo??" tanya Matsumoto Rangiku, teman sekampus Rukia. Mereka sedang berada di cafetaria Fakultas Ekonomi Universitas Karakura yang ramai dengan mahasiswa. Rukia mengangguk menyambut kata-kata Rangiku.

"Cowok aneh yang asalnya dari Mars," jawab Rukia sambil menusuk takoyaki dan memasukkan ke mulutnya.

"Hah? Dari Mars?" tanya Rangiku bingung.

"Dia yang bilang sendiri. Emang, sih, dia kayak alien," kata Rukia sambil masih mengunyah takoyaki-nya.

"Tapi seru, kan, punya tetangga cowok. Oh ya, ngomong-ngomong orangnya cakep nggak?" Rangiku terus bertanya membuat alis Rukia berkerut.

"Matsumoto Rangiku, intinya adalah: dia cowok! Artinya, gue nggak bakal punya privasi lagi!" sahut Rukia.

"Iya, iya, tapi cakep nggak?" Rangiku tak mau kalah.

"Oke. Jelas-jelas elo nggak dapet poinnya di sini," ujar Rukia sebal." Cakep, sih, cakep...."

"Eh, beneran?! Rukia!!! Bener?? Gue boleh, dong, dikenalin!!" Suara Rangiku yang tiba-tiba histeris membuat Rukia mengernyit.

"Rangiku-san, kayaknya lo harus belajar membiarkan orang lain menyelesaikan kalimatnya, deh. Tadi gue mau bilang, cakep, sih, cakep, tapi tetep aja dia alien!" ujar Rukia.

"Nggak apa-apa alien, asal cakep," balas Rangiku, imajinasinya kini sudah terbang entah ke mana.

"Makan, tuh, cakep." Rukia berubah sebal. "Gue, sih, males banget liat tampang sombong dan sok misteriusnya itu."

"Rukia, cowok misterius tuh, justru lebih menarik," kata Rangiku. "Mereka seolah punya aura yang jadi magnet buat cewek-cewek."

Rukia menatap jijik temannya yang satu itu, tetapi dalam hati dia mengiyakan kata-kata Rangiku. Toushiro sepertinya memang punya aura seperti yang dikatakan Rangiku.

"Ngomong-ngomong, namanya siapa?" Rangiku masih penasaran.

"Kata tante gue, sih, Toushiro... ya, kalo nggak salah Hitsugaya Toushiro," jawab Rukia yang langsung saja disahuti oleh teriakan histeris Rangiku. Rukia hampir tersedak dibuatnya.

"Ya ampun, Kuchiki Rukia!!! Namanya aja keren banget!! Pasti orangnya cool banget... kayak namanya!!" teriakan Rangiku membuat Rukia menyesal sudah memberitahunya. Temannya yang satu ini kadang memang bisa jadi sangat norak kalo udah menyangkut masalah fashion dan cowok cakep.


Toushiro merasa sudah berjalan beberapa kilometer sampai akhirnya menemukan salah satu fakultas Universitas Karakura terdekat, yaitu Fakultas Pertanian. Toushiro duduk di bangku taman, memerhatikan dengan cermat orang-orang yang melewatinya.

Toushiro harus menemukan orang itu, bagaimanapun caranya. Info yang dia dapat dari temannya sangat sedikit. Kurosaki Ichigo, temannya itu, mengatakan kalau orang yang sekarang dicari Toushiro pernah terlihat di sekitar kampus Universitas Karakura. Ichigo tidak tahu kampus yang mana, tetapi Toushiro tetap pergi. Tak masalah jika Toushiro harus mendatangi setiap kampus dan mencari orang itu dibandingkan dia hanya duduk diam dan menyesali nasib. Toushiro harus bertemu dengannya.

Toushiro memasang headphone superbesarnya. Dan lagu This Light I See milik Paku Romi mengalun dari iPod-nya. Pikiran Toushiro melayang ke masa-masa SMA, dan tanpa disadarinya, dia mencengkeram lengan kirinya kuat-kuat.


Toushiro melangkah ke tempat kosnya yang terlihat gelap. Lampu depan kos yang sudah berpendar dan hampir mati, membuat kos itu tampak jauh lebih horror dibandingkan saat siang hari. Saat menaiki tangga, Rukia sedang menyapu gang depan kamarnya. Rukia menoleh dan menatap Toushiro yang tampak lelah.

"Abis kuliah?" tanya Rukia, mencoba ramah.

"Nggak," sahut Toushiro pendek, tak ingin membuat pembicaraan apa pun.

"Oh... abis kerja?" tanya Rukia lagi membuat Toushiro meliriknya sebal.

"Nggak juga." Toushiro menjawab sambil merogoh saku celananya bermaksud mengambil kunci.

"Lho, jadi kamu ngapain di sini?" kejar Rukia. Sebelum Toushiro sempat menjawab, Rukia sudah berkata lagi, "Oh, gue tau. Pasti lagi nyari kerjaan!"

"Yah, begitulah," kata Toushiro berusaha menyudahi pembicaraan dan tak ingin capek-capek menjawab. Dia membuka pintu kamarnya dan masuk tanpa banyak bicara lagi.

Toushiro melempar tasnya ke atas kasur yang tergeletak menyedihkan tanpa sprei. Dia membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur itu walaupun tahu itu akan menyakitkan. Dengan seketika, debu-debu dari kasur itu berterbangan, membuat Toushiro terbatuk.

Toushiro terduduk, mengambil air mineral dan meminumnya. Dia menatap ke sekeliling kamarnya yang tampak mengenaskan. Selain kasur tadi, di dalam kamar itu hanya terdapat lemari setinggi satu meter dan sebuah meja kecil. Ranselnya tergeletak sembarangan dengan isi yang sudah berhamburan, sementara cup-cup bekas mie tergeletak di atas meja kecil bersama sebuah tas kecil.

Toushiro bangkit untuk meraih tas kecil itu dan membukanya. Dia mengeluarkan sebuah handycam perak dengan model yang kuno. Toushiro menatap ragu handycam itu, kemudian menyalakannya, bermaksud untuk menonton kaset yang sudah beberapa lama mengendap di sana.

Baru sedetik setelah muncul gambar, Toushiro cepat-cepat mematikannya. Dia melemparkan handycam itu ke sebelahnya dan meremas kepalanya kuat-kuat. Mendadak, ponsel yang ada di sakunya bergetar. Toushiro tertegun saat membaca nama di layar ponselnya. Okaa-san.

Ragu, Toushiro mengangkatnya.

"Moshi-moshi?" kata Toushiro.

"Moshi-moshi? Shiro-chan? Ini Okaa-san. Kamu di mana sekarang??" tanya ibunya, Hitsugaya Retsu, dari seberang. Toushiro terdiam sebentar.

"Okaa-san nggak usah khawatir," sahut Toushiro, menolak untuk menjawab pertanyaan ibunya.

"Shiro-chan, jawab Okaa-san. Sekarang kamu ada di mana?" desak Unohana lagi.

(A/N: Di sini saiia pake nama Unohana karena rasanya aneh kalo saiia tulis Retsu, walaupun namanya harusnya Hitsugaya Retsu T.T)

"Okaa-san, aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku bener-bener harus," kata Toushiro tegas. Sementara Unohana terdengar terisak.

"Shiro-chan, udah lupain aja. Yang penting sekarang kamu pikirkan dirimu sendiri," bujuk Unohana lagi.

"Okaa-san, aku harus menyelesaikan ini sebelum waktuku habis." Toushiro bersikeras. "Ini satu-satunya kesempatanku. Tolong jangan halangi aku."

Unohana masih terisak. Toushiro baru berniat untuk memutuskan sambungan ketika Unohana berkata lagi, "Kayaknya, kamu nggak akan ngedengerin Okaa-san. Tapi, tolong Shiro-chan, jangan lakukan hal-hal bodoh."

"Okaa-san tenang aja." Toushiro menjawab dengan suara dingin.

"Shiro-chan, obatnya jangan lupa diminum," desakan Unohana membuat Toushiro benar-benar memutuskan sambungan telepon. Dia lalu menonaktifkan ponselnya, berjaga-jaga agar Unohana tak bisa kembali meneleponnya.

Toushiro mengorek isi ranselnya sampai menemukan sebuah botol berisi pil-pil. Toushiro mencengkeram botol itu keras, lalu membantingnya ke dinding, membuat isinya berhamburan ke segala arah. Toushiro terduduk lemas di lantai menatap pil-pil yang berceceran.

Pil-pil yang kabarnya dapat menyelamatkannya.


Toushiro menatap sebuah bangunan dengan taman yang rindang. Kali ini, Fakultas Kehutanan Universitas Karakura. Toushiro tak tahu harus menunggu beberapa lama, mungkin sampai Fakultas ini tutup, tetapi dia harus melakukannya.

Toushiro duduk di salah satu bangku taman dan memerhatikan orang-orang yang sedang berdiskusi di dekatnya. Tak ada satu pun dari mereka yang wajahnya mendekati orang yang dicari Toushiro. Toushiro menghela napas, memasang headphone-nya, lalu mengorek saku celananya untuk mencari rokok.

Setelah beberapa jam dan menghabiskan sepuluh batang rokok, Toushiro memutuskan untuk menghampiri orang-orang yang lewat dan menanyainya langsung. Toushiro menyodorkan foto orang yang dicarinya, tetapi semua orang yang ditanyainya menggeleng tak kenal.

Lelah bertanya, Toushiro kembali duduk. Dia menatap foto di tangannya. Foto zaman SMA. Foto bersama orang yang dulu sangat penting baginya.

Orang yang paling ingin ditemuinya saat ini.


Toushiro berjalan gontai ke kamarnya. Toushiro melirik kamar Rukia. Kamar itu gelap. Toushiro masuk ke kamarnya dan membanting dirinya ke kasur, dan dia segera meringis saat sadar kalau kasur itu kelentingannya sama dengan nol.

Toushiro merogoh saku celananya, menarik foto yang seharian tadi ditunjukkannya kepada semua orang yang lewat. Tanpa disadarinya, cengkeramannya pada foto itu mengeras sehingga membuat foto itu kusut, tetapi Toushiro tak peduli. Foto itu telah mengingatkannya pada kenangan yang tak ingin diingatnya lagi.

Mendadak, terdengar suara ketukan, membuat lamunan Toushiro buyar. Penasaran, Toushiro bangkit dan membuka pintu.

Rukia.

"Ada apa?" tanya Toushiro malas. Di depannya, Rukia nyengir.

"Ini. Dari Yuroichi baa-san, dia takut elo kena busung lapar," kata Rukia sambil menyodorkan nampan berisi makanan. Toushiro menatap nampan itu ragu.

"Nggak usah, gue nggak laper," sahut Toushiro akhirnya.

Baru saja Rukia akan mengatakan sesuatu, terdengar suara janggal dari perut Toushiro. Sesaat, Rukia dan Toushiro sama-sama bengong.

"Kadang, otak sama perut kurang bisa berkoordinasi ya," kata Rukia, setengah mati menahan tawa. Toushiro hanya tersenyum kecut.

"Yah, makasih." Toushiro mengalah dan mengambil nampan itu dari tangan Rukia.

"Jangan lupa abis makan piringnya dicuci ya," jelas Rukia. Dia teringat akan pengalamannya sendiri saat lupa mencuci piring dan kena marah tantenya.

"Yes, Mom," jawab Toushiro membuat Rukia tersenyum geli.

Sebelum Toushiro menghilang ke dalam kamarnya, Rukia berkata lagi, "Jangan lupa, sebelum makan cuci tangan dulu, ya!"

Toushiro menutup pintu, tersenyum sendiri mendengar kata-kata Rukia. Dia menatap makanan di tangannya. Kare buatan Yuroichi. Rasanya sudah begitu lama Toushiro tidak melihat nasi. Toushiro dengan segera duduk dan dengan cepat menyantap nasi kare itu seakan tidak pernah makan sebelumnya.


"Izumi tak kuasa lagi menahan perih di hatinya saat melihat Kai pergi... Kenapa bahasa gue jadi menjijikkan gini, ya?" gumam Rukia bingung saat membaca layar komputernya. "Arrrggghhhhh!!!"

Rukia berbaring di lantai, frustasi pada karyanya yang sedari tadi belum juga beranjak dari halaman tiga sembilan, dan malah makin ngaco. Rukia menghela napas, bangkit, dan seperti biasa, melakukan senam-senam kecil utnuk kembali menyegarkan pikirannya. Dia melirik jam: dua belas lebih sepuluh.

Rukia memutuskan untuk membuat secangkir cokelat panas untuk mengembalikan semangatnya. Perempuan itu mengambil air dan sebungkus susu cokelat, lalu membuka pintu untuk pergi ke dapur. Dia melirik kamar Toushiro yang lampunya masih menyala. Lalu, dia buru-buru kembali lagi ke kamarnya.


Toushiro menatap kosong layar handycam-nya. Di sana, tampak teman-teman SMA-nya sedang bersama-sama mengerjakan pentas seni. Toushiro menekan tombol stop, membuka kaset mini-DV-nya, lalu melemparkannya sembarangan. Di kaset itu, tertempel stiker bertuliskan, 'Pensi 2004'. Toushiro menggapai-gapai kaset lain tanpa melihat dan yang terambil adalah yang bertuliskan 'Seireitei Beach 2004'. Toushiro tak langsung menyetelnya, dia malah menatap kaset itu dingin.

"Toushiro...."

Toushiro tersentak kaget saat mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Toushiro menatap kaset di tangannya bingung. Mungkinkah——

"Toushiro...."

Kali ini, Toushiro segera melempar kaset itu. Suara itu mirip sekali dengan suara seseorang yang pernah dikenalnya. Tetapi, tidak mungkin itu....

"Hitsugaya Toushiro!!"

Toushiro menoleh ke arah pintu. Ternyata, suara itu berasal dari sana. Toushiro menghela napas lega, tetapi kembali bingung. Dia melirik jam tangannya. Setengah satu pagi.

Toushiro membuka pintu dan tampang Rukia muncul. Di tangannya——Rukia, terdapat dua buah mug yang mengepul. Toushiro mengernyit.

"Nih." Rukia menyodorkan salah satu mug yang ada di tangannya.

"Apa, nih?" tanya Toushiro, belum mengambil mug yang disodorkan.

"Susu cokelat. Katanya, bagus buat pertumbuhan," jelas Rukia.

Cttikkk. Langsung muncul persimpangan jalan di kepala Toushiro. "Pertumbuhan gue udah maksimal," sahut Toushiro sewot, mengingat tinggi badannya yang abnormal. *digigit Hyou-chan*

"Ambil aja kenapa, gue nggak mau minum dua-duanya, nih," balas Rukia. "Udah susah-susah dibuatin, juga."

"Nggak ada yang nyuruh lo ngebuatin." Tetapi, Toushiro menerima mug itu. "Thanks."

Rukia mengangguk kecil sambil mengintip ke dalam kamar Toushiro.

"Lo lagi ngapain, jam segini belum tidur?" tanya Rukia yang membuat Toushiro merasa harusnya dialah yang bertanya itu.

"Nggak ada," jawab Toushiro berusaha menghalangi pandangan Rukia. "Lo sendiri? Nggak takut lo jalan-jalan sendirian hari gini?"

"Udah terlalu terbiasa," balas Rukia. "Tinggal di kos ini bakal bikin elo nggak takut sama apa pun lagi."

Toushiro membenarkan dalam hati. Kost ini memang lebih mirip rumah hantu.

"Oke. Kalo gitu, gue mau tidur." Toushiro mengakhiri pembicaraan, tak berniat mengobrol malam-malam. "Ini, Thanks."

Toushiro menutup pintu kamarnya. Tak berapa lama, dia mendengar suara pintu sebelah ditutup. Toushiro duduk di kasur, menatap susu cokelat di tangannya. Sepertinya, dia tidak boleh terlalu baik pada Rukia. Dia tidak membutuhkan lebih banyak masalah.

Toushiro menghirup susu cokelat itu, dan menghabiskannya dalam sekali teguk.


Sudah beberapa hari ini Toushiro mendatangi beberapa fakultas di kampus Universitas Karakura, tetapi orang yang dicarinya tidak ketemu juga. Tak terkecuali hari ini. Toushiro pulang dengan tangan kosong.

Orang yang pertama dilihat Toushiro di kos adalah seseorang berambut merah menyala dan diikat ke atas. Tubuhnya penuh tato. Kalau saja dia tidak berpakaian lengkap, Toushiro akan menyangka dia preman sakit jiwa. Itu pun, kalau celana boxer dan kaus oblong itu bisa dibilang lengkap.

"Hai," sapa orang itu membuat Toushiro berhenti. Toushiro mengangguk pada orang itu. "Anak baru, ya?"

Toushiro mengangguk lagi. Ternyata, orang itu penghuni kos ini juga. Salah satu dari dua cowok yang tertinggal di kos ini.

"Nama gue Abarai Renji. Tapi, lo bisa panggil gue Renji," katanya sambil menyodorkan tangan. Toushiro menyambutnya.

"Hitsugaya Toushiro," kata Toushiro.

"Peace, yo!" kata Renji tiba-tiba sambil menunjukkan gerakan memukul dada dan mengacungkan simbol victory. Toushiro menatapnya bingung.

"Peace," kata Toushiro akhirnya sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya juga.

Tiba-tiba, terdengar suara tawa dari lantai atas, membuat Toushiro dan Renji mendongak. Ternyata Rukia.

"Cuekin aja, Toushiro, dia pikir dia Bob Marley," ucap Rukia, membuat Renji cemberut. Toushiro tersenyum sopan pada Renji, lalu naik.

"Lo nggak kuliah, Rukia?" tanya Renji pada Rukia.

"Nggak. Lagi libur," jawab Rukia dan langsung nyengir pada Toushiro yang sudah sampai lantai dua.

"Oi, Toushiro, hati-hati, lho, sama Rukia. Siap nyerang kapan aja, tuh," teriak Renji dari bawah, membuat Toushiro tersenyum kaku. "Tiap malem mesti kunci pintu!"

"Heh, mestinya gue yang dibilangin begitu!!" balas Rukia keki.

"Wah, sama sekali nggak ada niat buat nyerang, tuh," kata Toushiro sambil merogoh saku celananya dan mengambil kunci.

"Eh, jangan pede dulu, ntar-ntar kalo elo naksir gue, bakal repot, lho!" sahut Rukia membuat Toushiro mendengus.

Toushiro masuk ke kamarnya lalu menutup pintu. Benar. Benar sekali. Akan sangat merepotkan baginya kalau harus menyukai seseorang. Ataupun, disukai.


Toushiro baru akan memasak air untuk mie cup-nya saat Rukia muncul tiba-tiba dan mematikan kompor. Toushiro mengernyit menatap cewek itu.

"Disuruh makan bareng sama Yuroichi baa-san. Ayo!" kata Rukia sambil menarik Toushiro yang belum sempat menyanggupi, menuju rumah Yuroichi.

Di sana, sudah ada Yuroichi beserta keluarganya: suami dan anak satu-satunya yang masih berusia sepuluh tahun bernama Yachiru, kemudian Renji, dan seorang berkacamata yang diyakini Toushiro sebagai penghuni kos satunya lagi.

"Gue berhasil ngebawa dia ke sini!" seru Rukia ceria, lalu menyuruh Toushiro duduk. "Ini dia, nih, anak baru yang nggak sopan. Udah dua minggu lebih ngekos, tapi belum kenalan."

"Rukia, jangan ngomong begitu dong, siapa tau dia sibuk," kata Yuroichi sambil tersenyum pada Toushiro yang membalasnya dengan kaku.

"Iya. Hitsugaya-san, maaf ya, Rukia memang agak judes," sahut suami Yuroichi membuat Rukia melotot.

"Nggak apa-apa, Pak," jawab Toushiro membuat Rukia pindah memelototinya.

"Hitsugaya-san, ini suami saya Urahara, dan ini Yachiru, anak saya satu-satunya. Terus kamu udah kenal Abarai, kan? Nah, kalo yang ini namanya Ishida Uryuu," kata Yuroichi, menunjuk lelaki berkacamata. Toushiro mengangguk padanya, yang dibalas anggukan singkat. "Dia anak kedokteran, pinter banget, lho, sampai dapat beasiswa!"

Toushiro mengangguk-angguk kecil, benar-benar kagum pada orang yang sudah kuliah di kedokteran, dapat beasiswa pula. Tak heran "bentuk" Ishida seperti itu, mungkin dia terlalu sibuk belajar, ampai rambutnya lepek begitu.

"Yang bawel itu, kamu pasti udah kenal. Dia banyak nyusahin kamu nggak, Hitsugaya-san?" tanya Yuroichi lagi. Kini, Rukia siap mengamuk.

"Lumayan," jawab Toushiro membuat Rukia benar-benar mengamuk.

"Aduh, maaf, ya, kalo dia sering ribut, anaknya memang suka heboh sendiri. Tapi sebenarnya dia anak baik, kok," kata Yuroichi sambil nyengir pada Rukia yang masih misuh-misuh.

"Besok-besok, kalau mau makan, datang saja ke sini. Kita makan bareng," kata Urahara. "Kami semua sudah biasa makan malam bareng."

Toushiro mengangguk ragu.

"Ya sudah kalau begitu, ayo kita mulai makan!" sahut Urahara lagi. "Ayo Hitsugaya-san, makan yang banyak!"

Toushiro mengangguk pelan sambil memerhatikan anak-anak lain berebutan makanan yang ada di atas meja. Rukia menatap Toushiro heran.

"Toushiro? Kenapa?" tanyanya membuat Toushiro menatapnya. "Jangan salahin kita, lho, kalo makanannya habis. Di sini sistemnya seleksi alam."

Toushiro tertawa garing dan menggapai satu lauk yang tersisa, kemudian menatap nasi yang ada di piringnya. Dia melirik orang-orang di sekitarnya yang sudah mulai sibuk berkicau. Sudah lama Toushiro tidak merasakan suasana makan malam seperti ini. Toushiro tersenyum sendiri, dan bermaksud untuk mulai makan.

"Obaa-san, nanti aku bantuin cuci piring," ujar Rukia di sela-sela cerita Ishida tentang ujiannya. Mendengar itu Toushiro tersentak dan menatap sendok di tangannya yang sudah setengah terangkat di udara. Sendok itu terlepas dengan sendirinya dan jatuh ke piring, membuat suara dentingan keras. Semua orang berhenti berbicara dan menatap Toushiro yang wajahnya pucat pasi.

"Hitsugaya-san? Kamu kenapa?" tanya Yuroichi, wajahnya khawatir. "Masakan saya nggak enak?"

Toushiro masih belum bisa menguasai dirinya. Wajahnya tegang dan dari dahinya keluar keringat dingin.

"Maaf, saya ke belakang dulu," katanya, lalu buru-buru bangkit dan pergi meninggalkan meja makan. Semua orang saling tatap dengan pandangan heran.

Toushiro berjalan secepat mungkin ke kamar mandi, sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri. Bagaimana mungkin tadi dia berpikiran untuk makan bersama keluarga itu? Bagaimana mungkin kemarin-kemarin dia juga menerima makanan dan minuman dari Rukia?

Toushiro memukul dinding di depannya keras-keras. Napasnya tersengal, muak memikirkan dirinya yang nista itu dengan tamaknya mau merasakan sedikit kebahagiaan tanpa memikirkan akibatnya.

Toushiro menatap cermin kecil di depannya. Dia tahu dia seharusnya tidak memulai hubungan baik dengan siapa pun. Toushiro membasuh wajahnya dengan air, menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya.

Toushiro keluar dari kamar mandi, dia tertegun melihat Rukia yang sudah menunggu di depan kamarnya sambil membawa nampan. Wajahnya terlihat khawatir.

"Toushiro, lo nggak enak badan, ya?" tanyanya sementara Toushiro berjalan mendekatinya. "Obaa-san khawatir banget, makanya gue bawain aja makanan lo ke sini."

"Nggak perlu," kata Toushiro dingin sambil melewati Rukia. Dia bermaksud masuk ke kamarnya. Rukia menatap Toushiro bingung.

"Tapi, ntar lo sakit," kata Rukia lagi, membuat Toushiro berbalik.

"Apa peduli lo?!" tanyanya tak sabar. Rukai terdiam. Toushiro mendesah. "Denger. Jangan pernah bawain apa pun lagi ke sini, karena gue nggak perlu. Ngerti?"

Toushiro masuk ke kamar dan membanting pintunya tepat di depan Rukia yang masih mematung. Toushiro meremas kepalanya sambil terduduk di belakang pintu.

Lebih baik begini. Memang, lebih baik begini.


T--B--C


Pas saiia nulis Hitsu makan nasi kare, saiia jadi inget ama Sebby-ku tersayang--?-- Wkwkwkwk... *disambit* (Inget Fandom!!!) Hah... jadi laper saiia... Sebby, buatin makanan donk!! *di sambit---lagee*

Mind to review???

Saiia terima repiu dalam bentuk apa pun: kritik, saran, kesan, komentar, maupun flame——may be——tapi flame yang bersifat membangun, bukannya malah menjatuhkan! Tentang EYD misalnya ataupun masalah miss typo....

Bukan flame masalah pairing atau jalan cerita...

See you...

YaHa!!!! Repiu, pliiiisz!!