Hwarang The Begining Fanfiction (BL vers)

Cast : Sunwoo (Park Seojoon), Jidwi (Park Hyunsik), Sooho (Choi Minho), Banryu (Do Jihan)

Dics : karakter bukan milik saya, tapi cerita ini asli milik saya nanodayo :v

Note : masuk latar tempat di eps 14 ya ini walau berbeda jauh :v sekali lagi saya mohon maaf kepada 2min shipper. Jangan salah sangka saya juga 2min shipper, Cuma ga terlalu akut :v

.

.

.

Saya mau balas review yang di chap 1 kemarin dulu. Ga nyangka cerita saya disukai para readers yang baik ini. Berikut yang mereview di chap 1 :

kiyo : waaah bagus hwarang lagi juga gak papa loo

Akashi79 : iya ini saya bikin HTB BL lagi. Gomawo udah review ya :)

.

hk : aku lebih suka sunwoo bot jidwi top haaaaahaahha

Akashi79 : menurut aku lebih keren Sunwoo jadi top karena dia keliahatan lebih jantan, sedangkan Jidwi rada cantik menurut penglihatan aku :v dan gomawo udah review ya :)

.

rrriiieee : naahhh kannn bukaann gueee ajaaa yg mikirr giniii... aahhh... ajsjdjdjchsk... btw.. urii hansunngg sama yeowul.. hansung-ah.. ㅋㅋㅋㅋ

Akashi79 : iyaaaa bukan kamu ajaa... saya dari awal nonton HTB udah ngeship Sunwoo Jidwi.. mian hansung sm yeowool hanya saya sebutkan nama..karena saya ga kuat nyakitin kooki kalo semenya saya pinjam buat yeowool, saya VKook shipper soalnya /gaknanyawoi/ hehe.. btw gomawo udah review ya :)

.

De uthie : Wait nama cast minho bukannya siho yaa? Aku suka couple sunwoo jidwi, mereka lucu banget btw aku belom nonton episode 13 baru sampe episode 8 hiks jadi kepo sunwoo udah tau kalo jidwi itu raja silla?

Akashi79 : Sooho. Kim Sooho namanya. Buruan nonton, seru loh :D sampe eps 14 belom tau Sunwoo nya, Cuma feeling nya mengatakan iya. Dan di ff ini saya bikin udah tau untuk kelancaran cerita.. gomawo udah review ya :)

.

Maycahayu : awwww, q emang ge suka bgtz ma hwarang. and now, ada BL versionnya. omgggggg..., i like it.

SunJi emang couple fav Q di hwarang. tp knp Banryu yg jd uke ya? kn wjhnya garang...

lanjutt donkkkkk

Akashi79 : kita sama ngeship SunJi *_* Banryu saya jadiin uke karena dia tipe tsundere dan saya paling suka sama tipe uke tssundere :D ngomong2 uke tsundere fav saya Kyuubi human vers dipasangin sm Itachi sanv seme yg kalem :D /gaknanyawoii/ hoho.. ini saya lanjut... review lagi utk chap 2 nya yak .. gomawo udah review :)

.

Dardara : Huwoooooo kereeen sumpahhh!

saya lagi bener2 gila hwarang wkwk makin kesini makin seru soalnya, dan setuju bgt sama authornim saya juga bayangin banryu itu cocok jd ukenya suho

suho, seme petakilan centil gitu sama banryu yang uke tsundere *plak* wkwk apalagi pas mereka ga sengaja tidur hampir pelukan itu sumpaaaah pas bgt sama bayangan di ff ini yg banryu tidur nemplok di dada suho wkwk

buat sunwoo sama jidwi, daripada di hwarang ngerebutin aro mending kalian sama sama aja wkwk ngeship bgt sama ini couple, jidwi cantik soalnya wkwk

pokoknya kereeen

bikin lagi dong authornim chap 2 hoho pasti seruuu

semangaat

salam kenal

dara

Akashi79 : kyaaa kita samaan *0* /tosbareng

Banryu kan tipe tsundere..suka bilang engga padahal mau mau gitu dianuin Suho :D adegan pelukan emang saya ngebayangin adegan yg itu sambil jikrak2 gaje :v

Betul daripda rebutin Ahro mendingan jadian aja bedua yak kan :v berubah jd genre yaoi juga gapapa :v

Ini udah dibikin chap 2 nya..makasih banyak udah review panjang2 gini.. saya jadi semangat lanjutin nya.. semoga chap 2 ini bisa memuaskan ya :)

Salam kenal juga Dara-chan ..

Gomawo udah review ya :)

.

.

Big thanks to hk, kiyo, maycahayu, rrriiieee, de uthie dan dardara.

Semoga suka sama chap 2 ini ya..

DLDR

Happy Reading

.

.

Setelah peristiwa malam itu, esoknya tiba-tiba Tuan Wi Hwa mengumumkan kepada para Hwarang bahkan Ratu Jiso memerintahkan Hwarang untuk ikut pergi ke Baekje dengan tujuan melindungi Putri Sookmyung. Tuan Wihwa mengatakan bahwa misi ini berbahaya sehingga Tuan Wihwa hanya meminta relawan dari Hwarang siapa yang ingin mengikuti misi tersebut.

Seluruh Hwarang menjadi kaget. Namun tak disangka Sang Putri datang membawa Ahro selaku adik dari Sunwoo. Melihat itu sontak Sunwoo mengacungkan tangannya tanpa ragu.

"Aku akan ikut." Sunwoo berkata lantang sembari mengacungkan tangannya.

Hal itu tentu membuat Jidwi menatap Sunwoo tak percaya. Tentu saja Ia khawatir dengan Sunwoo terlebih lagi keahlian berpedang Sunwoo tidaklah terlalu bagus.

Sunwoo yang melihat Jidwi menatapnya hanya memberi senyum tipis sembari tangan kiri nya menggenggam tangan Jidwi dibawah sana sembafi ia mengatakan dengan gerak mulut agar Jidwi tidak ikut-ikutan dengan dirinya.

"Bagus, Sunwoo-ah." Puji Tuan Wihwa dengan senyum khasnya.

"Aku juga." Suho ikut-ikutan mengangkat tangannya.

"Aku pun ikut." Banryu juga mengangkat tangannya.

"Bagus, Suho-ah dan Banryu-ah. Ada lagi yang akan ikut?" Tuan Wihwa bertanya lagi.

"Aku." Seru Jidwi.

Sontak Sunwoo menatap Jidwi datar namun tetap tidak berkata apa-apa. Sunwoo tetap diam selama Tuan Wihwa menjelaskan hal-hal yang sekiranya terjadi saat perjalanan nanti.

Setelah dibubarkan seluruh Hwarang kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Jidwi kehilangan jejal Sunwoo karena Sunwoo keluar duluan meninggalkan Jidwi dibelakang. Dan itu tentu membuat Jidwi kesal setengah mati. Namun saat ia melewati koridor asrama ia melihat Hansung sedang bergelayut manja pada Sunwoo. Ia memutuskan untuk mengintip mereka hingga akhir.

"Sunwoo-ah bawa aku denganmu." Hansung merengek manja sembari memegang lengan Sunwoo.

"Mengapa tadi kau tidak mengatakannya?" Sunwoo bertanya santai.

"Aku tidak tahu tadi aku bersembunyi. Ayolah Sunwoo-an. Ya ya ya?" Hansung masih merengek manja.

"Mengapa tidak ikuti yang lain?" Tanya Sunwoo terkekeh geli.

"Aku tidak menyukai yang lain. Aku menyukai Sunwoo." Hansung menjawab dengan nada lucu.

"Aigoo." Ucap Sunwoo gemas sembari mencubit pipi Hansung.

"Mianhamnida." Tiba-tiba Kakak Hansung muncul dan membawa Hansung lepas dari Sunwoo.

"Ah untung ada kau. Tolong awasi anak ini supaya tidak mengikuti lagi. Aku pergi dulu." Pamit Sunwoo sembati menatap Hansung gemas.

"Ne. Mianhamnida."

Lalu Sunwoo meninggalkan Hansung berasama kakaknya. Bisa ia dengar dibelakangnya Hansung masih merengek ingin mengikutinya. Sunwoo hanya terkekeh geli.

Namun saat hendak masuk kamar ia dikagetkan oleh Jidwi yang berdiri didepannya dengan aura seram. Namun Sunwoo hanya menatap Jidwi datar. Sunwoo kembali melanjutkan langkah nya menuju kasurnya setelah menutup pintu kamar mereka.

"Jangan mengabaikan ku !" Kata Jidwi kesal. Jidwi mengukti langkah Sunwoo dan berdiri tepat dihadapan Sunwop yang tengah duduk di kasurnya. Namun Sunwoo masih setia menatap Jidwi datar.

"Kenapa jadi kau yang marah? Harusnya yang marah itu aku." Ujar Jidwi dingin.

Sunwoo menghela nafas sejenak. Ia pun mendongak menatap Jidwi lembut.

"Mengapa kau harus ikut juga? Kau tahu itu berbahaya." Ucap Sunwoo sembari menggenggam tangan Jidwi.

"Aku bertanggung jawab besar atas itu. Lagipula aku juga mengkhawatirkan mu." Balas Jidwi pelan. Wajahnya memerah saat Sunwoo menatapnya dengan pandangan lembut itu.

"Aku tahu. Tapi aku bisa mengatasi itu semua. Tidak lucu jika Raja Silla mati sebelum menampakkan wujudnya. Lagipula aku ikut karena Putri membawa Ahro. Aku tidak bisa membiarkan adikku dalam bahaya. Dan lihat sekarang kau malah ingin membahayakan dirimu." Sunwoo berkata panjang lebar sembari memeluk pinggang Jidwi. Menenggelamkan kepalanya di perut Jidwi membuat Sunwo merasa nyaman.

"Aku Raja. Sudah sewajarkan mengorbankan diriku sendiri untuk rakyat. Ibuku pasti merencanakan hal buruk lagi, tentu aku tak bisa tinggal diam disini. Lagipula selama ada kau disisiku, itu membuatku baik disegala kondisi." Balas Jidwi lembut sembari mengelus rambut Sunwoo.

"Baiklah. Nah sekarang kau istirahatlah. Besok kita pergi sebelum jam 7 pagi." Ucap Sunwoo melepaskan pelukannya.

"Aku ingin bersama mu disini." Putus Jidwi mutlak.

"Tidak sayang. Yang lain belum masuk. Kau tidur di kasurmu lalu nanti malam setelah semua tidur aku pindah kekasur mu. Ok?" Bujuk Sunwoo halus sembari berdiri dan mengelus pipi Jidwi.

"Janji?" Jidwi memicingkan matanya menatap Sunwoo tajam.

"Janji sayang. Nah sana kekasur mu." Ucap Sunwoo sembari mengecup bibir Jidwi.

Jidwi pun menurut dan melangkah menuju kasurnya. Lalu menidurkan dirinya disana.

Skip Time

Para Hwarang yang terpilih telah lengkap dengan seragam marun mereka. Setelah tadinya berpamitan kepada murid mereka. Namun selama itu pula Jidwi masih tidak memperdulikan Sunwoo. Ia marah karena Sunwoo tidak menepati janjinya, pemuda dengan julukan kaeserang itu malah tertidur hingga pagi. Sunwoo ingin meminta maaf namun kondisi tak memungkinkan. Jadinya ia harus bersabar dicueki Jidwi dahulu.

Mereka pergi dengan menunggang kuda, dengan urutan Jidwi yang memimpin, sedangkan Sunwoo tepat dibelakang Jidwi. Lalu diikuti Banryu, Suho, Putri Sookmyung, Ahro, asisten Putri dan empat pengawal Putri dibelakang.

Selama diperjalanan tak ada yang berbicara sepatah kata pun, selain karena takut dengan sang Putri ternyata ada faktor lain yang membuat mereka bahkan Suho tak berani berucap, yakni aura yang dipancarkan oleh Jidwi amatlah tidak bersahabat. Sunwoo yang berada tepat dibelakang sang kekasih pun hanya bisa menatap melas punggung sang kekasih.

Sunwoo POV

Andai saja aku tak tertidur sampai pagi, pasti dia tak akan marah. Oh tapi ayolah, setelah berlatih pedang sepanjang hari tentu badanku sakit semua sayang. Maafkanlah kekasihmu yang tampan ini sayang. Bahkan saat ini aura yang kau keluarkan bisa membuat si mulut pantat ayam itu diam tanpa banyak mengoceh sayang.

Sunwoo POV end

Suho yang melihat wajah melas Sunwoo pun bertanya kepo padanya.

"Apa ini semua salahmu? Pacarmu membuat perjalanan ini membosankan bung." Suho berujar santai.

Siing

Jidwi sontak menatap tajam Suho. Suho pun hanya bisa menyengir sungkan, sedangkan Banryu hanya menatap datar sang kekasih yang terlampau oon itu.

"Ini memang salahku." Sunwoo berujar pelan takut diketahui oleh Jidwi.

"Kau dalam masalah kawan." Suho menyeringai jahil, lalu setelahnya ia kembali menggiring kudanya berdekatan dengan Banryu.

Skip Time

Setelah beberapa lama mereka pun sampai dipenginapan untuk bermalam. Seluruh hadiah yang akan diberikan kepada pangeran Baekje disimpan sedemikian rupa. Pembagian kamar pun telah di tentukan. Yakni para Hwarang satu kamar, Putri sendiri, Ahro dan asisten Putri lalu terakhir para pengawal puti yang berjaga disekitar penginapan.

Setelah makan malam usai mereka memutuskan untuk beristirahat. Namun tidak dengan Jidwi, ia duduk sembari menatap bulan diteras penginapan. Sedangkan Sunwoo sedari tadi tampak kelimpungan mencari Jidwi akhirnya menemukan sang kekasih. Sunwoo pun menghampiri Jidwi dan ikut duduk disamping Jidwi. Awalnya Jidwi tampak kaget ada orang lain disampingnya, namun setelah tahu siapa orang itu Jidwi kembali menatap bulan tanpa menghiraukan Sunwoo.

"Hhh, sayang. Mian, kau tahu aku lelah berlatih pedang kemarin siang hingga lupa untuk bangun tengah malamnya." Ujar Sunwoo lembut sembari merangkul Jidwi.

"Hm." Jidwi merespon datar.

"Ayolah sayang maafkan aku ne? Ne ne?" Sunwoo memasang wajah melas.

"Huh. Baiklah. Aku membencimu kau tahu." Ujar Jidwi cemberut sembari menatap Sunwoo sebal.

"Hahaha. Aku juga mencintaimu sayang." Sunwoo tersenyum manis sembari mengacak rambut Jidwi.

Namun tak lama kemudian secara tiba-tiba segerombolan petani yang terlihat kelaparan mengepung mereka. Para petani itu masing-masing membawa senjata tajam serta obor penerangan.

Lalu tak lama setelah itu datanglah Banryu dan Suho.

"Siapa mereka? Sejenis pembunuh baru?" Suho bertanya kasar.

"Akan ku habisi." Suho mengambil ancang-ancang dengan pedangnya. Namun,

Prang

Suara pedang berbenturan.

"Jangan gegabah. Mereka tak salah apa-apa." Ternyata Jidwi lah yang menangkis pedang Suho.

"Ada apa denganmu? Hadiah untuk Baekje akan dicuri !." Suho membentak kasar.

"Tapi tetap saja mereka tak boleh dibunuh." Jidwi berkata santai.

"Lalu kau membiarkan mereka?" Banryu menyela tajam.

Para petani itu pun membubarkan diri dan meninggalkan para Hwarang yang tengah berseteru.

"Kalau Raja dan Ratu dalam masalah karena mu maka hidupmu takkan aman." Suho berkata dingin.

"Bahkan setelah melihat rakyat hidup begini kau berpihak pada Raja?" Jidwi bertanya pelan.

"Apa?" Suho menyeringit heran.

"Raja yang tak kompeten, bodoh dan pengecut?" Jidwi menyeringai remeh, dan tentu saja membuat Suho naik darah.

"Berani nya kau !" Suho telah mengambil posisi untuk memukul Jidwi namun dihentikan oleh Sunwoo.

"Sudahlah." Sunwoo menahan lengan Suho.

Jidwi hanya menatap Suho datar dan beranjak pergi dari sana. Sedangkan Sunwoo yang melihat Jidwi pergi, ia pun mengikuti Jidwi menginggalkan Suho dan Banryu.

Skip Time

Esoknya mereka menemukan seluruh hadiah yang akan diberikan untuk pangeran Baekje sudah tiada. Seluruhnya tanpa terkecuali.

"Apa mereka tahu kita lewat sini?" Banryu bertanya sembari menatap gerobak yang tadinya penuh peti-peti hadiah kini tak ada lagi.

"Mereka tampak seperti penjahat lokal." Suho berujar.

"Mereka hanya petani." Sunwoo berucap sembari menatap Hwarang yang lain.

"Petani?" Beo Banryu.

"Petani yang memiliki peternakan dekat perbatasan merampok karena kelaparan." Sunwoo menjelaskan.

"Kau bilang orang normal menjadi perampok begitu?" Banryu bertanya sarkas.

Belum sempat Sunwoo membalas Putri datang.

"Jadi semua hadiah dan uang ubtuk Baekje telah diambil?" Putri Sookmyung bertanya tajam sembari menatap Suho.

"Maaf. Saya akan mencari dan mengejar mereka sekarang juga." Suho menunduk hormat kearah Putri.

"Percuma. Pasti mereka telah menjual itu semua ubtuk kebutuhan pokok." Sunwoo menyela sopan.

Tanpa berkata lagi Putri Sookmyung berjalan memasuki penginapan.

"Kalau bukan karena kau, ini tak akan terjadi." Suho berujar sinis kepada Jidwi. Lalu Suho beranjak dari sana meninggalkan Jidwi dan Suho diikuti Banryu.

Jidwi hanya terdiam melihat Suho. Ia jadi ingat perkataan sang kekasih tadi malam saat ia membebaskan para petani dari amukan Suho.

Flashback on

Setelah meninggalkan tempat berseteru, Jidwi berjalan menuju taman belakang penginapan yang tampak sepi dan sunyi. Tentu saja karena kini telah masuk pukul 22.45 malam, tentu saja orang-orang memilih tidur.

Saat melihat kursi disana, Jidwi pun beranjak menduduki kursi tersebut. Wajahnya ia tundukan kebawah.

"Yang kau lakukan sudah benar."

Tanpa mendongak pun Jidwi sudah tahu siapa orang yang berbicara sembari menepuk kepalanya lembut itu. Tentu saja kekasihnya.

"Tatap aku, jangan ragu berbuat apa yang menurutmu benar." Sunwoo yang berada didepan Jidwi mengangkat dagu Jidwi supaya melihat kearah nya. Ia berkata demikian sembari mengelus pipi halus milik Jidwi.

"Bisakah aku menjadi raja yang baik?" Suara Jidwi terdengar bergetar. Tangannya menggenggam tangan Sunwoo yang tengah dipipi nya itu.

"Tentu sayang. Kau akan menjadi Raja yang baik untuk Silla. Dan aku akan setia menjadi pengawalmu." Ujar Sunwoo tersenyum manis.

"Kau kekasihku. Bukan pengawalku. Kalau pun nanti aku telah duduk disinggasana, kau tetap kekasihku." Ucap Jidwi memeluk pinggang Sunwoo dan menenggelamkan wajahnya pada perut Sunwoo.

"Haha iya iya sayang. Kau harus ingat, lakukan yang menurutmu benar, perjuangkan yang menurutmu benar, dan percayai orang yang menurutmu jujur." Nasihat Sunwoo sembari mengelus rambut Jidwi.

Tiba-tiba Jidwi berdiri lalu mengalungkan tangannya keleher Sunwoo, lalu,

Cup

Jidwi menempelkan bibirnya ke bibir Sunwoo. Sunwoo tak melepaskan kesempatan itu begitu saja, ia sontak memeluk pinggang Jidwi erat lalu melumat bibir Jidwi lembut. Jidwi pun semakin memeluk erat leher Sunwoo sembari kaki nya berjinjit agar Sunwoo leluasa menikmati bibirnya.

Mereka berciuman mesra dibawah cahaya rembulan yang sangat terang kala itu.

Flashback off

"Sudahlah jangan dipikirkan." Sunwoo mengacak pelan rambut Jidwi yang terlihat masih bengong itu. Lalu mengajak Jidwi pergi dari sana untuk melihat Ahro.

Skip Time

Hari menjelang sore. Rombongan Putri dan Hwarang ini terpaksa berhenti dialiran sungai untuk nantinya bisa bermalam disana. Karena jika ke penginapan terdekag mereka takkan bisa membayar karena seluruh uang dan makanan telah dicuri.

Para Hwarang diberi tugas masing-masing untuk bekerja. Banryu dan Suho mengambil kayu untuk dijadikan tenda sementara. Lalu Sunwoo dan Jidwi yang membuat tenda.

Suho & Banryu Side

"Mengapa aku harus ikut mencari kayu juga?" Banryu bertanya jutek saat memasuki hutan bersama Suho.

"Kau tak perlu mengangkat kayu nya sayang, cukup temani aku saja ok." Ucap Suho tersenyum manis sembari mengacak rambut Banryu. Lalu ia berjalan duluan mendahului Banryu yang tebgah blushing parah dibelakangnya.

"Ah itu disana ada. Ayo cepat sayang." Suho berucap girang ketika melihat tumpukan kayu didepannya. Sedangkan Banryu hanya mengikuti Suho.

Setelah beberapa lama, tangah serta pundak Suho telah penuh oleh kayu bakar. Saat hendak mengambil kayu lagi ia tampak kesusahan. Melihat itu Banryu mengambil kayu itu lalu menaruh kayu yang cukup besar itu dipundaknya.

"Sayang jangan lakukan itu. Itu berat." Suho berujar khawatir.

"Jangan lebay. Aku pria dan aku kuat. Ayo segera taruh ini ke tempat Sunwoo." Banryu berjalan dahulu meninggalkan Suho.

Mereka pun kembali ketempat awal. Disana terlihat Sunwoo dan Jidwi tengah mengolah(?) kayu menjadi tempat mereka tidur nanti malam.

Skip Time

Hari telah gelap. Mereka pun telah makan. Makanan didapat Ahro dari warga sekitar yang berbaik hati memberinya makanan setelah Ahro berdongeng untuk mereka.

Sunwoo dan Jidwi menjauhi tempat perkumpulan. Begitu pun dengan Suho yang menyeret Banryu mengikuti Sunwoo dan Jidwi secara diam-diam.

Sunwoo pun berhenti mendadak dan merangkul pinggang Jidwi lalu berbalik menatap SuhoBanryu datar.

"Jangan mengikuti kami bisa tidak?" Sunwoo berujar datar.

"Eh ketahuan ya? Hehe." Suho menyengir salah tingkah.

"Kukira kau akan memusuhiku sampai setidak ya misi ini selesai." Jidwi ikutan berujar datar.

"Haha jangan. Begitu, bukankah musuh kemarin adalah teman hari ini(1)." Suho berujar jenaka.

"Lagipula aku juga ingin bermesraan dengan BanBan ku ini." Lanjut Suho merangkul pinggang Banryu.

"Bodoh." Banryu dengan wajah memerah memukul sadis kepala Suho.

"Yak sayaaaaaang." Suho merengek manja.

"Terserah. Ayo pergi." Sunwoo menatap bosan Suho lalu berlalu sembari membawa Jidwi menjauh dari pasangan absurd itu.

Mereka pun berpisah. Namun tidak jauh-jauh karena Suho takut tersesat(-_-).

Sunwoo dan Jidwi duduk di bebatuan yang sedikit jauh dari sungai. Dengan posisi Jidwi yang tengah duduk diantara paha Sunwoo sembari menyenderkan punggungnya pada dada sanv kekasih. Sedangkan Sunwoo merengkuh Jidwi sembari meletakkan dagunya pada bahu Jidwi. Mereka menikmati keheningan yang ada sembari menatap pantulan cahaya bulan di permukaan sungai.

"Aku mencintaimu." Sunwoo membuka suara setelah sekian lama keheningan melanda mereka.

"Hm? Aku juga." Jidwi membalas sembari menoleh untuk menatap Sunwoo.

"Tetaplah berada disisiku apapun yang terjadi." Ujar Sunwoo sembari mengecup bibir Jidwi.

"Tentu. Karena kau milikmu." Jidwi tersenyum manis.

Mereka pun kembali berciuman mesra. Terkadang tangan Sunwoo yang nakal meraba paha Jidwi hingga membuat Jidwi mendesah.

Setidaknya biarkanlah mereka menikmati kebersamaan mereka sebelum esok mereka mulai berperang pedang.

.

.

.

.

.

END for this Chapter

.

.

Makin gaje nodayo :v kalau ada yang minta dilanjutin saya bakal cari ide lagi. Kalau engga ada ya cukup sampai disini :3

Maaf gantung lagi, rencana nya mau abisin scene sampe akhir di eps 14 HTB ini, Cuma saya mentok lagi :v kebiasaan kalo udah malas mikir ya gini :v

Terlebih lagi saya juga lagi proses buat ff otp saya (Aomine Kise) makanya ide nya jadi terbagi-bagi..

Yosh saya kebangakan ngoceh.. saya tunggu review nya readers yang baik.. kritik dan saran yang membangun saya terima :)

Gomawo