2. KANGEN

Waktu istirahat memang adalah waktu yang selalu membahagiakan untuk para siswa. Melakukan hal apa saja yang mereka inginkan tanpa terkecuali. Jika Baekhyun, Kyungsoo dan Lay akan menikmatinya dengan makan siang dikantin, tapi tidak untuk Luhan. Bukan setiap hari sebenarnya hanya saja kalau dipikirkan rasa perasaannya yang terkadang menjengkelkan itu pasti akan datang. Ketika ia merindukan seseorang dan itu pasti terjadi karena satu orang selain kedua orang tuanya dibeijing sana.

Jika bertanya hanya salah satu seorang siswa diantara mereka. Balik keawal hanya seorang Oh Sehun yang memang selalu membuat hidup Luhan rada menyedihkan dan itu terjadi semenjak pemuda bermarga Oh itu memutuskannya seenak jidatnya saja. Hal itu selalu Luhan umpatkan didalam hatinya.

Berdiri dibalik salah satu pilar lantai satu dengan wajah malu-malu samar ronanya. Ia tak memperdulikan kedua matanya hanya tertuju pada sosok sang mantan disana. Katakan saja ia rindu ahahaa...ia memang sedang dilanda rindu kawan! Jadi jangan tanya apa yang ia lakukan saat ini ditempat seperti itu.

Selain rindu ia hanya bisa menatapi jauh secara diam-diam sosok itu, kau malang bukan Xi Luhan? Dan dirinya tak perduli hal itu. Masa bodoh dunia mau bilang apa karena ia hanya tengah merindukan si Oh Sehun itu.

Matanya mengecil dan kedua sudut bibirnya terangkat untuk sebuah senyuman manis yang telah lama punah dari wajahnya itu. Ketika para pemuda tinggi dipinggir lapangan basket didepan sana melakukan tindakan konyol mereka. Sampai siapa pun yang melihat pasti akan menjerit tertawa pasti karena lucu. Tapi sedetik kemudian raut wajah Luhan berubah kembali menjadi jelek seperti anak gadis yang benar tengah patah hati.

Satu tangannya yang memegang pilar itu ia kepal kuat sambil menggigiti bibir bawahnya, matanya terasa memanas siap mengeluarkan butiran demi butiran air mata. Apa lagi ketika ia melihat jelas bagaimana sang mantan didatangi oleh tiga orang siswa perempuan, lalu pemuda pucat itu menerima satu kotak coklat dari salah satu siswa perempuan disana.

Saat itu hati Luhan menjerit perih ingin berteriak dan mendatangi mereka lalu memukul satu persatu perempuan disana. Mengatakan jika Oh Sehun cuma milik Xi Luhan. Yah itu yang benar bukan yang lainnya. Tapi itu hanya terjadi didalam khayalan Luhan saja karena pada kenyataannya ia tidak berani melakukannya.

"Sudah jangan menatapinya terus, yang ada matamu bisa menggelinding keluar!"

"Huwaaa...Xiumin si brengsek itu menyebalkann..." sampai akhirnya Luhan memang menjerit tapi tak seheboh itu dan hanya pada teman sekelasnya bernama Kim Minseok atau Xiumin.

"Bukan dia yang menyebalkan kau tau? Lagi pula kalian sudah berakhir!" Xiumin justru menambah rasa sakit hatinya sekarang.

"Baozi Andwaeeee..." ia berbalik hingga kini berhadapan dengan temannya itu dan saat itu matanya sudah basah.

"Sudah relakan saja Arra!"

"Shireo! Mana bisa tau...sekarang saja aku merindukannya hiks..."

"Yasudah sana pergi datangi, bilang padanya kalau kau merindukannya!"

"Huwaaaa...Tidak bisaaaaa..." Xiumin menutup kedua telinganya mendengar teriakan kekanakan dari teman rusanya itu. Lalu ia menghela nafas memang susah kalau punya teman seajaib Luhan dan itu merepotan baginya.

"Kalau tidak bisa, diam saja ribut tau!" Luhan memanyunkan bibirnya seperti bebek yang lagi ngambek. Lucu jelek entah yang mana lebih bagus dikatai dirinya sekarang.

"Xiumin hyung!" suara berat khas itu terdengar diantara mereka, sampai selanjutnya sosok lain sudah menghampiri keduanya.

Ketika dua pemuda mini itu berbalik sosok yang menjadi bahan pembicaraan mereka kini berdiri dengan gaya keren nan angkuh disana. Maka seketika Luhan menciut bergeser cepat agar merapat pada tubuh Xiumin yang lebih pendek darinya.

"Oh, Sehun ada apa?" Xiumin melirik nakal pada Luhan sebelum menatapi sosok tinggi Sehun didepan mereka.

"Cuma mau bilang, hyung dicari sama Chen hyung diruang osis tadi" suara Sehun memberitahu dengan santai.

"Ah begitu, oke nanti aku menemuinya..."

"Hm" mengangguk kecil kedua mata Sehun kini tak sengaja tertuju pada sosok lain diantara mereka, Luhan yang sedang menunduk diam dibelakang tubuh gembul Xiumin.

Xiumin yang mengerti keadaan seketika sifat nakalnya keluar, ia sejenak melirik kearah Luhan lagi lalu balik ke Sehun dengan sejuta rencana kotor dipikirannya itu. Ia tersenyum aneh sesesaat.

"Ekhmm...sepertinya saat ini ada yang tengah merindukanmu Sehun" ujarnya sengaja.

"Uh? Benarkah?"

Xiumin bertahan untuk tidak terbahak sekarang bagaimana ia mendapati cubitan keras dari arah belakangnya. Tepat dilengannya dan ia tau siapa pelakunya itu.

"Yah, sangat merindukanmu sampai hanya bisa menatapimu dari jauh?" satu cubitan lagi terjadi dan Xiumin agak terkesiap, tanpa tau aura mencekam mulai terasa dari sosok dibelakangnya itu.

"Memangnya siapa dia?" Sehun jadi terdengar tampak sengaja menambah buruk suasana.

"Mungkin dia-"

"Uhukk..."

"Oh? Lu kau tidak apa-apa?" Luhan batuk sengaja supaya Xiumin si sialan ini berhenti mengoceh didepannya.

"T-tidak apa-apa..." terkesan dipaksakan Xiumin jadi ingin kembali tertawa disana.

"Oh baguslah, dan Sehun aku ingin bertanya sesuatu?" ia beralih pada sosok Sehun yang tengah menatapi keduanya.

"Apa itu?"

"Emm...apa alasanmu memutuskannya?"

Deg!

Luhan benar akan mengutuk Xiumin menjadi bakpau bulat yang siap dijual dipasar-pasar luar sana. Atau kalau perlu ia yang akan memakan sendiri bakpau sialan ini. Benar-benar membuat moodnya naik jadi lebih memburuk.

"Alasanku?"

"Yah, 'dia' sangat ingin tau apa alasanmu, jadi apa itu?" dengan sedikit tersenyum bangga Xiumin menunggu jawaban dari yang ditanya.

Sehun sendiri sementara waktu diam saja sambil memandang wajah merah tertekuk sang mantan disana. Sebelum akhirnya ia bersuara kembali dengan nada yang lebih menyebalkan-bagi Luhan.

"Kenapa dia tidak bertanya langsung saja?"

"Apa?" Luhan mendongak pelan seketika.

"Mau ingin tau'kan? Jadi katakan padanya! Lebih baik bertanya langsung saja dan jangan jadi pengecut!"

Seperti tersiram air panas hati Luhan jadi semakin panas rasanya, setelah mendengar apa yang telah Sehun katakan tadi. Ia semakin merundukan wajah kusutnya itu. Pegangannya dilengan seragam Xiumin terlepas begitu saja sebelum ia mundur selangkah.

Tak sampai itu ia bergerak pelan meraih dan melepaskan satu sepatu vans putih mahal disana. Ia pegang erat sepatu tersebut mendongak lagi guna menatapi tajam penuh kekesalan pada Sehun yang juga menatapinya itu sebelum...

Bruk

Sepatu yang tadinya dipegang sang pemilik itu kini sudah berpindah tempat. Setelah melayang dan mengenai tubuh tegak pria pucat disana sepatu itu sudah tergeletak tak berdaya dilantai marmer dibawah sana.

"Dasar penjahat!" penuh penekanan ia ujapkan sebelum akhirnya Luhan berbalik badan cepat dan berlari meninggalkan kedua pemuda yang menatapi kejut dirinya itu.

"Lu-Luhan tunggu...Luhannn!" Xiumin teriak memanggil merasa tak enak akan apa yang telah terjadi kepada mereka lalu ikut berlari guna mengejar teman rusanya itu.

Meninggalkan Sehun sendiri yang kini diam ditempatnya, kemudian matanya beralih pada sepatu putih milik Luhan yang telah melayang mengenai dadanya tadi itu. Ia merunduk meraih sepatu tersebut memegangnya erat dengan helaan nafas ia lakukan disana.