Yooo.. Saya kembaliii… #pletaaak..

Ini ch ke 2 .. Maaf kalo jelek .. yaaah, saya kan masih newbie :")

Oh iya, balasan Review chapter 1 niih [bagi yg ngga log in]

SL : Kekekekekeke~ jangan senpai aah.. jadi malu.. oke, udaa saya apdet kok

ghea : Uwaaa.. bener penasaran? Makasih *pletak.. Kilatnya gag kilat banget laah.. Kekekeke~ gomen

moo : Yepp.. Kekekeke~

seira : Kekekeke~ iyaa nih.. Kaya aku waktu SD :] Ya-Ha~
Hikari : Really? Ya Allah, makasiih :D iyaaa… A R I G A T O U Gomen kalau chapter ini aga aneh -_-

Takana Nara : Kekekeke~ memang

Shika Lovers : Iyaa.. yah sedikit bocoran ajaa.. Temari memang menghindar dari pernyataan cinta si Shika *ups, keceplosan #dzigh ..

Gui gui : Yep :D

yuuaja : saya suka ShikaTema maka saya buat lagi :D kekeke.. Iya, di sini mereka seumuran.. kan biar chemistry nya dapet *halah apaan.

Yang ngeREVIEW dg Log In INSYA ALLAH PM sudah saya kirim


Ch.2 – I canceled To Fallin' Love With You –

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Frienship [mungkin]

Rate : K+ setujuuu? #dzigh

WARNING!

Beware of MissTypo, Gaje Story, dsb.

AU, OOC, aneh, abal, menyakitkan mata kekekekeke

Summary: Aku tidak jadi jatuh cinta pada orang yang sudah mencintai orang lain.

Yooo.. READ AND REVIEW please :D


"Kemari kau," ya ampun, Shikamaru. Kau sungguh tidak sabaran, ya dulu.

Masa aku baru berangkat langsung disuruh rapat. Cuma berdua lagi. Ketua kelas macam apa, kau?

Paling tidak, ijinkan aku menaruh tasku sebentar.

"Kemari aku bilang. Mendokusai~," ugh. Kau melihatku bengong ya, Shika?

"Hem. Apa?" ketusku singkat sambil mendekat padamu.

Aku tak berani menatap mata coklatmu yang indah itu—takut tersihir ke dalam keajaibanmu. Aah, pikir apa aku ini?

"Cepat, ambilkan mapku di ruangan Asuma sensei. Jangan lupa dengan latihan soal untuk Ujian. Oh iya, suruh teman-temanmu mendaftar lomba di SMP Konohagakure," oh jadi itu yang mau kau bicarakan, Shikamaru.

Haha, lucu sekali kalau aku berfikir kau akan menyatakan cinta.

Tunggu, kau ingat? Kau kan menyuruhku saat pulang sekolah. Bukan ketika berangkat sekolah.

"Ugh, tidak mau. Lakukan saja sendiri. Kau tahu tidak? Kemarin aku capek sekali menyiapkan pesta kedata-" aku yang ingin menyelesaikan omonganku, malah dipotong oleh uapanmu.

"Hoaahmm. Memang siapa yang peduli dengan itu? Mendokusai," ingin aku daratkan kakiku ke kepala nanasmu, Shika. Uuugh!

Aku yang kesal langsung pergi menuju ruang guru Asuma. Masih menenteng tas, dan mukaku yang semrawut. Yah, pagi harinya kan aku masih harus memasak kue untuk Kurou yang siangnya mau pulang. Menyebalkan sekali.

Sewaktu aku sampai di ruang Asuma sensei, benar-benar kesal aku. Mapnya banyak sekali, dan aku tidak tahu mana yang punyamu. Aku melamun di depan meja Asuma sensei dan sedikit melirik ke berbagai arah. Suasanannya hening. Saat itulah seseorang yang ingin aku lupakan muncul di belakangku.

"Ohayou, Tema-chan. Sedang apa?" suara yang sangat aku kenal memanggilku.

Aku sama sekali tidak takut untuk menoleh. Dengan cepat aku berbalik dan mendapati siapa yang datang.

"Itachi-kun. Sedang apa kau?" tanyaku pada seorang anak laki-laki tinggi dan tampan.

Matanya hitam legam mengkilap. Itu tanda kalau dia keturunan Uchiha, klan yang di hormati di Konohagakure.

"Aku baru saja lewat di depan ruang ini. Dan aku lihat ada malaikat sedang kebingungan di sini. Memang kenapa?" oh ya ampun. Orang yang aku suka memanggilku malaikat.

Aku blushing seketika.

Bagaimana tidak?

Itachi. Keren, tampan, tinggi, pandai, dan terhormat memuji gadis biasa sepertiku.

"Aa..aa..ku.. Umm," aku gugup mengucapkan bahkan satu katapun pada Itachi.

Dia benar-benar membuatku blushing berat.

"Butuh bantuan?" uaah.. Sudah tampan, pandai, keren, baik pula. Aku mengangguk mantap waktu itu.

"Um.. Itachi-kun. Bisakah kau mencarikan map milik Shikamaru? Aku bingung yang mana," ucapku santai—meski terkesan dibuat-buat.

"Baiklah. Dengan senang hati," katanya tegas dan langsung mengecek setiap map yang tergeletak disitu.

"Roku-A, Roku-A, Roku-D, Roku- B, Roku-A, Roku-A, Roku-B, Roku-A, Roku-A," ya ampun, banyak sekali yang Roku-A. Aku bahkan ragu aku bisa membawa dua dari semuanya itu. Map nya besar-besar sekali.

"Ba..banyak sekali," keluhku. Tiba-tiba, Itachi merangkulku.

Tampak sangat menjijikan bagiku. Tapi, kalau aku menolak aku tak mau hal buruk terjadi.

"Aku mau membantumu, kok," ucap Itachi sambil tersenyum polos.

"Benarkah?" ucapku sambil mengambil kesempatan kabur dari rangkulan anak keren itu.

"Kau ragu?" jawaban itu sontak membuat kepalaku bergoyang. "Tentu tidak."

Itachi membawakan empat map, sementara aku dua buah.

Haha, aku jadi ingat. Itachi dan kau itu bedanya jauuuuh sekali, Shikamaru.

Kau itu malas dan pelit. Kalau Itachi kan rajin dan baik sekali. Tapi jujur, kalau masalah tampan, kau nomor satu.

"Ya ampun. Aku lupa!" teriakku tiba-tiba yang membuat Itachi terkeju7t.

"Apa yang kau lupakan, Tema-chan?" tanyanya lembut.

"Itu, ng.. Kumpulan soal-soal untuk latihan Ujian. Tunggu sebentar, Itachi-kun," ucapku dan langsung berbalik menuju meja Asuma sensei.

Kau tahu, tidak Shika? Benar-benar sakit hatiku sewaktu itu.

Saat aku mengobrak-abrik meja sensei untuk mencari di mana soal-soal merepotkan itu. Bukannya kumpulan soal yang ku temukan, malahan satu lembar foto memuakkan yang benar-benar membuatku ingin muntah.

"Apa ini?" tanyaku pada diriku sendiri.

– Hari Kasih Sayang. Ino dan Shikamaru –

Rasanya ingin aku bakar foto itu dan aku teriakkan namamu sekeras mungkin.

Tapi itu hal konyol. Aku kesal, sangat kesal. Kau tahu, foto apa itu? Apa kau ingat, Shikamaru?

Foto itu adalah foto saat Ino menyuapimu satu batang coklat berbentuk hati.

Saat itu, hatiku masih bertanya-tanya. Untuk apa sih, Asuma sensei menyimpan foto tidak berguna seperti itu. Lebih baik dibuang, atau di bakar saja. Huuuh.

Aku tak yakin, perasaan apa yang menyelimutiku sewaktu itu. Apa aku cemburu? Aah, bodohnya aku. Mana mungkin aku cemburu pada orang yang memang bukan siapa-siapaku itu. Tapi, aku yakin. Itu adalah perasaan marah ketika kau dekat dengan orang lain selain aku.

Otakku mendidih saat itu. Terus ku tatap foto itu dengan tajam dan ingin rasanya aku bakar.

Aku marah, dan ngomel-ngomel sendiri. Marah sekali melihat fotomu sedang berduaan dengan Ino si tukang dandan itu.

"Kau sudah menemukannya, Tema-chan?" suara itu membuyarkan amarahku.

"Ah, gomen, Itachi-kun. Apa kau menunggu lama?"

"Tidak terlalu. Sebenarnya apa yang kau cari? Apa itu?" gawat.

Kalau Itachi tahu tentang foto itu dan memergokiku cemburu, bisa jadi masalah besar.

"Ngg.. Anu, ini Cuma foto waktu Asuma sensei dan Kurenai sensei di hari kasih sayang. Aku menemukannya, jadi aku lihat sebentar. Aah~ lupakan, Itachi-kun," elakku dengan cepat. Sinting, ya aku. Aku menganggap kalian berdua itu Asuma sensei dan Kurenai sensei.

Ngg.. Apa sedekat itukah kau dan Ino, Shikamaru?

"Lalu, kenapa wajahmu merah sekali? Seperti jengkel," sial. Itachi tahu.

"Etto.. Ungg.. Aa..Ano.. Aah, lupakan, Itachi-kun," wajahku benar-benar konyol waktu itu. Haha, kau pasti akan menertawakanku waktu itu, Shikamaru.

"Apa itu, kumpulan soal yang kau cari?" Itachi menunjuk kea rah sebuah buku yang lumayan besar tepat di belakangku.

"Ah, benar. Ini bukunya. Arigatou, Itachi-kun. Ayo, kita pergi," aku langsung mengambil buku itu dan melempar foto sialan itu ke sembarang tempat.

Aku dan Itachi berjalan berdua ke kelas. Aku katakana padamu, ya Shikamaru. Sewaktu aku berjalan dengan Itachi, sungguh ada yang berbeda. Jantungku berdetak lebih kencang, dan mukaku pasti merah padam.

Seberapa beratpun aku melupakan Itachi, akan sia-sia.

Dia benar-benar sulit dilupakan.

Terlalu sempurna.

Apa kau cemburu, Shikamaru?

Etto.. Shikamaru, boleh aku jujur? Ung.. Sebenarnya sih, sehabis kutemukan foto itu, aku jadi membencimu.

Gomen, Shikamaru.

Entah kenapa, rasa cintaku pada Itachi malahan bertambah dan rasa benciku pada Ino, terbagi juga kepadamu.

Shikamaru, kau ingat waktu itu?

Kau ingat, apa yang kau lakukan sewaktu aku an Itachi sampai di kelas?

Sungguh, itu seperti bukan kau, Shikamaru.

Kau C E M B U R U !

"Nah, Tema-chan. Kita sampai. Mau diletakkan di mana map ini?" Itachi menawarkan bantuannya sekali lagi padaku.

Aku juga masih bingung. Kan yang mengurusi semua itu kau! Kau malah enak-enakan tidur di bangku ku. Ah, itu si biasa.

Ada yang lebih luar biasa lagi, kau ingat?

Aku ingin membangunkanmu. Tapi aku tak sampai hati. Aku kasihan padamu. Mungkin kau lelah, atau apa. Saat aku ingin mendekatimu, Itachi malah menarik tanganku.

Aku berteriak kecil. Aku tak menyangka, teriakkan ku itu membangunkan tidur pulasmu.

"Oh, kau Temari. Sudah diambil?" tanyamu santai—tanpa dosa. Aku hanya menggembungkan pipiku dan mendengus.

Kau menatap wajahku lekat-lekat dari tempatmu duduk—sekitar 3 setengah meter dari tempatku dan Itachi berdiri.

"Lepaskan tangannya, orang Uchiha," ketusmu keras.

Tanpa bertanyapun, aku tahu apa maksudmu—sepertinya.

"Apa hakmu, Nara?" jawab Itachi dengan nada menantang.

"Lepaskan aku bilang," kau malah tambah ketus waktu itu.

Itachi akhirnya melepaskanku. Setelah tanganku bebas, Itachi langsung meletakkan map yang ia bawa di lantai.

"Apa yang kau lakukan degan Temari?" ucapmu jengkel—yah seperti orang cemburu.

"Apa urusanmu?" tegas Itachi. Aku masih bengong, memikirkan apa yang terjadi di hadapanku.

"Jelas ada. Kau tidak boleh melakukan apapun dengan Temari karena-" terlihat jelas, kau bingung dengan kalimatmu.

"Karena apa?" Itachi bertanya.

"K..Karena dia asistenku," ucapmu mengelak. What? Asistenmu?

"Apa kau bilang, Shikamaru? Asistenmu?" ucapku kaget.

"Ya, kau harus melakukan apapun yang aku perintahkan," ingin sekali aku meninjumu dengan super duper keras, Shikamaru.

Enak saja kau bilang begitu.

"Hei, jangan seenaknya dong. Temari-chan itu bukan budak," ya ampun. Lagi-lagi Itachi membelaku.

"Keluar dari kelas ini," usirmu. Aku benar-benar kesal. Memang ini kelas siapa, sih? Main usir segala.

Tanpa ba bi bu be bo, Itachi melangkah meninggalkan kelas dengan muka kesal. Bagaimana tidak, kau itu sungguh keterlaluan. Setelah ia pergi, impianku tersampaikan. Aku berhasil menampar pipimu hingga merah.

PLAK!

"Aww.. Apa yang kau lakukan, cewek mendokusai?"

"Apa? Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang tanya begitu. Itachi itu membantuku. Dia itu anak baik, tapi apa yang kau lakukan, Shikamaru? Kasihan dia. Aku malas berteman denganmu. Sungguh," ucapku ketus dan langsung meninggalkanmu berdiri di dekat pintu.

Aku melemparkan tasku ke bangku dan menangis sejadi-jadi.

"Menangis, anak kecil? Heh, bisa ditebak, kok. Kasihan, Shika-kun. Punya deskmate kayak kamu," ledek Ino yang duduk di belakangku.

Aku hanya mendengus dan sama sekali tidak memberikan respon terhadap omongannya yang menyebalkan itu.

Kau kembali. Duduk di sebelahku. Malas rasanya melirik ke arahmu. Cih. Aku benci kau. Aku tahu sekarang. Aku tahu apa yang aku rasakan. AKU TIDAK JADI JATUH CINTA PADAMU. Kau itu jahat, Shikamaru. Sana, cintai saja Ino si tukang dandan dan jangan ganggu aku dan Itachi. Huuuh!

"Hei, kau masih ngambek?" tanyamu innocent.

"Apa yang dia lakukan padamu, sih, Shikamaru-kun?" tanya Ino yang tiba-tiba nyambung.

Berisik sekali anak itu. Dasar!

"Bukan urusanmu," ketusku pada Ino. Dia malah menyeringai.

"Jangan pasang senyum monster kayak gitu. Dasar tukang menghina," wow. Kau membelaku, Shikamaru. Tapi aku masih jengkel padamu. Aku tak peduli.

Hari itu pelajaran kosong. Semua sensei sedang dalam rapat penting. Entahlah. Kalau pelajaran kosong kan aku selalu diam di tempat duduk. Tidak membosankan, kok. Tapi setelah ada kau, rasanya beda. Apalagi waktu itu. Benar-benar membosankan.

Aku masih duduk termenung. Wajahku benar-benar semrawut. Aku mencuri pandangan ke arahmu.

Seperti biasa, kau tidur dengan enaknya.

Meninggalkan aku yang sedang bengong, dan bingung dengan apa yang harus kulakukan. Terkadang, aku cemburu dengan Ino dan Sai, apalagi dengan Naruto dan Hinata. Nampaknya, hari-hari mereka sangat indah. Meski mereka bilang hanya sahabat, sungguh tampak seperti sepasang pemuda yang mejalin cinta.

Tidak seperti aku dan kau. Yaa, semua yang meilhat pasti tahu.

"Temari. kau kok diam saja? Tidak bosan? Apa kau mau tidur denganku?" katamu tiba-tiba.

Aku terkejut.

Kata-katamu itu menjijikan sekali, Shikamaru. Aku langsung memalingkan mukaku.

"Oh iya. Hal yang ingin aku bicarakan sepulang sekolah nanti. Aku bicarakan sekarang saja, ya."

"Terserah kau saja," aku sedikit penasaran dengan apa yang ingin kau katakan.

"Kau mau ikut lomba apa?"

"Bahasa Inggris," ketusku singkat.

"Mendokusai~" celetukmu seperti biasa.

"Kau masih marah?"

"Bukan urusanmu!"

"Tentu saja urusanku. Kalau kau marah, mana bisa kau mendata peserta lomba dengan baik. Hei, dengar ya. Sebentar lagi Ujian yang mendokusai itu akan tiba. Kalau kau masih sibuk dengan urusan cintamu dengan Itachi yang tidak penting itu, nilaimu bisa jelek. Apa kau mau itu terjadi? Kalau Itachi yang tidak lulus si, bagus. Tapi kalau kau, aku takkan membiarkan," ucapmu sok bijaksana waktu itu. A

ku terkejut, senang, dan kesal dengan kata-katamu.

"Kau itu pemalas. Mulai sekarang, urusi urusanmu sendiri. Jangan ikut campur aku dan Itachi-kun," ucapku kesal.

Kau hanya mendengus.

"Ya sudah. Aku saja lah yang mendata. Kau yakin ikut Bahasa Inggris? Tidak IPA saja? Biar sama sepertiku?" ucapmu tambah menyebalkan.

"Aku dan Itachi-kun setuju untuk sama-sama ikut Bahasa Inggris. Hei, kan sudah aku bilang, urusi urusanmu sendiri," aku benar-benar sangat kesal padamu.

Kau langsung pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun dan mulai mendata anak-anak yang lain.

"Hei, Shikamaru. Tunggu. Berapa biaya pendaftarannya?" teriakku padamu yang mulai menjauh.

"Aku sudah mengambil uang milikmu tadi. Kau pasti tidak sadar. Yah, dari pada memint langsung padamu. Itu mendokusai," kau kurang ajar sekali sih, Shika. Huuuuh!

'Awas kau,' kutukku dalam hati.

Kau mendekat ke setiap anak, mendata dan menariki biaya pendaftarannya. Aku biasa saja sebelum kau mendata Ino.

"Kau mau ikut apa?" katamu ketus seperti biasa.

"Jangan galak-galak, dong Shikamaru. Aku kan sahabatmu," goda Ino. Aku mulai panas.

"Mendokusai,"

"Hn, baiklah. Aku ikut IPA. Biar sama sepertimu. Tapi.. Aku tiak bawa uang, Shika-kun," alasan saja Ino. Menyebalkan sekali.

"Mendokusai. Memang aku peduli?"

"Kau benar tidak peduli denganku, Shika-kun? Jahat sekali kau ini.. Aku kan saha-"

"Iya, baik. Sudah, jangan mengoceh lagi. Aku bayarkan," hei. Sejak kapan kau jadi baik? Apalagi dengan Ino! Ya ampun. Kesabaranku terhadap kalian berdua sudah habis.

"Aaa.. Sangkyuu. Shikamaru-kun baik sekali," ucap Ino dan langsung memelukmu.

Aaarggh, itulah yang membuatku semakin membencimu Shikamaru.

Benar-benar benci. Aku memilih pindah ke tempat duduk Sakura untuk mengbrol dan menghilangkan beban pikiran.

Berharap dapat hiburan, aku ikut mengobrol dengan Sakura, Hinata, dan juga Tenten. Sepertinya sangat menyenangkan.

"Temari-chan, hanya kau loh yang masih misteri," ucap Sakura padaku. Aku bingung

"Misteri?" tanyaku polos.

"Semua sudah mengakuinya," tambah Tenten.

"Apa?"

"Et…Etto.. T..Temari, s…suka pa..adaa ss..siapa?" tanya Hinata ragu. Aku tercengang.

"Bicara soal itu, aku diam saja lah. NO COMMENT," ucapku kesal.

"Apa Shikamaru?" goda Sakura. Aku langsung panas dan dengan cepat memberikan respon.

"BUKAN. Enak saja kau ini,"

"Itachi-kun ya?" Tenten menebak. Ingin rasanya aku mengangguk. Tidak. Aku bukan orang yang blak-blakkan. Aku langsung pergi dari situ dan menuju kursi kosong di belakang. Mungkin dengan itu, pikiranku tenang.

Tunggu. Apa kau marah sekarang, Shika? Kau marah karena dulu aku tak bisa melupakan Itachi? Kalau iya, koreksi dirimu dong. Kau itu sangat menyebalkan dulu.

Aku bisa tenang setelah aku duduk di belakang kelas. Paling tidak untuk beberapa menit. Sambil membaca novel yang aku pinjam dari perpustakaan kelas. Itulah yang aku cari dari tadi. Ketenangan.

"Siapa anak yang kau suka, Shikamaru?", ingatkah kau kalau teman-temanmu pernah bertanya begitu padamu?

"Aah. Mendokusai. Kalian pikir saja sendiri," jawabanmu lugu sekali, Shikamaru.

Tapi waktu itu, ingatkah kau siapa orang yang mereka curigai sebagai anak yang kau sukai?

"Ino ya?" sakit hati ini, Shika.

Aku memang tak tahu pasti dengan perasaanku sendiri. Tapi aku yakin. Aku cemburu waktu itu.

Kau hanya mendengus kesal waktu itu. Sebenarnya, aku biasa saja dengan obrolan mereka yang sama-sekali tidak penting itu. Membaca novel jauh lebih membuatku tenang. Aku berusaha diam saja. Menikmati kata demi kata dalam novel itu.

Tapi ingatkah kau, Shikamaru?

Kau bilang apa pada teman-temanmu waktu itu?

Iya, hal itu adalah hal yang membuat aku terbang melayang. Entahlah, apa aku gila waktu itu?

"Hey, jawab. Ino kan anaknya?" uugh. Sok tahu sekali si Sai itu! Bilang saja cemburu kalau orang yang ditaksirnya disukai orang yang lebih keren dari dirinya.

"Hey. Semua kan sudah memberi tahu orangnya. Kini tinggal kau seorang," oi. Jangan suka memaksakan kehendak! Arrgh, jujur. Aku benar-benar marah ketika kau dipaksa begitu. Perasaan itu kerap kali datang. Perasaan yang mungkin saja mengarah pada hal yang aneh-aneh.

"Hn," lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulutmu.

Kau mulai melangkah menjauhi teman-temanmu yang aneh itu. Data anak-anak calon peserta lomba kan masih berantakan di mejamu. Mungkin kau ingin membereskannya. Entahlah~

"Temari," copot jantung ini ketika tiba-tiba kau mengucapkan nama itu. Tepat di depan teman-temanmu.

"Oi, rambut kuning cabang empat, Shikamaru suka padamu tuh," sialan kau Naruto. Aku yang masih terkejut hanya bisa melongo. Sebenarnya aku belum yakin dengan apa yang kau katakan.

"Bodoh, kau Naruto. Shikamaru bilang, dia suka pada Ino," elakku cepat. Aku berlagak seperti orang tuli saja, ya. Sudah jelas-jelas kau bilang Temari, aku masih mengelak.

"Hah, jangan pura-pura bodoh, Temari. Shikamaru itu suka padamu!" ledek Lee.

Ino yang mengetahuinya langsung mendekat ke arah Shikamaru.

"Minna.. Shikamaru salah bilang. Dia menyukai aku, bukan Temari. oke?" sok sekali si Ino itu. Ingin aku pukul saja. Aku hanya mendengus kesal. Kesaaaaall sekali.

"Ino-chan. Kau suka pada Shikamaru?" tanya Sai kecewa. Ino hanya mengedipkan sebelah matanya—tanda ia melakukan sebuah rencana menyebalkan.

"Oh baiklah," ucap Sai.

Aku masih tak peduli. Meski dalam hati ini sedikit lega—pertanyaanku kemarin terjawab.

Tapi aku masih kesal dengan mu. Seandainya pagi itu kau tidak melakukan hal itu, mungkin sekarang hatiku sudah berbunga-bunga.

"Shikamaru suka padamu tuh," ucap Tenten tiba-tiba.

"Dia bilang Ino!" elakku—lagi.

"Pura-pura bodoh kau ini," ledek Sakura.

"Benar kok. Aku dengarnya Ino,"

"Temari dan Ino itu beda jauh," ucap Tenten menyalahkanku. Aku hanya bisa mendengus, menutup novel yang tengah ku baca, dan kembali ke bangku ku.

Sesampainya aku di bangku, kau sedang sibuk tidur—lagi.

Aku ingin membangunkanmu dan memukulmu karena berbuat hal-hal aneh seharian ini.

"Eh, kau sudah kembali, Temari?" ucapmu seraya bangun dari tidur pulasmu.

Aku hanya mendengus. Tapi tiba-tiba kau meminta maaf, kau ingat?

"Sumimasen, Temari. Aku memang bodoh,"

"A..Apa maksudmu?" aku tak tega melihatmu merasa bersalah.

"Kau pasti masih marah, kan?"

"Etto.. Ngg.."

"Sumimasen."

"Jangan meminta maaf, aku yang-"

"Aku salah, Temari. benar-benar tak aku sangka cinta itu sangat mendokusai."

Belum sempat aku menjawab, bel tanda sekolah usai berbunyi. Saatnya pulang!

Aku keluar dari sekolah dan mencoba melupakan masalah yang tadi itu. Aku kayuh sepedaku cepat untuk menemui Kurou yang mungkin sudah sampai rumah.

Benar saja. Sesampainya aku di rumah, seorang anak laki-laki berwajah imut langsung memelukku.

"Neechan. Aku rindu," ucapnya.

"Aaah. Neechan juga rindu kau," tak ku sangka, air mataku mengalir. Aku benar-benar merindukan adikku ini. Kau tahu bagaimana rasanya? Aah. Kau kan anak tunggal. Mana tahu rasanya.

"Kau sampai kapan?"

"Sudah sekitar dua jam yang lalu. Oh iya. Aku mau tanya sesuatu pada neechan,"

"Apa?"

"Kau sudah punya pacar, kan?" haha. Aku pasti tertawa kalau mengingat kejadian itu.

"Bicara apa, kau Kurou," elakku.

"Shikamaru niichan mengirimimu pesan. Katanya, dia mengajakmu kencan sore ini," goda Kurou. Aku masih belum percaya. Aku cepat-cepat mengambil handphoneku. Dan ku baca pesan masuknya.

Benar saja. Kau mengirimiku pesan, Shikamaru. Ingat? Pesan apa itu?

Yaah. Kau menyuruhku menemuimu di depan sekolah sore itu. Aku tak tahu apa yang ingin kau katakan. Hn, baiklah.

Pikirku, tak ada salahnya kan menemuimu. Lagipula, sore itu jadwal les ku .

Aku mengendarai sepedaku menuju sekolah. Aku mengayuh dengan sangat lambat malas sekali rasanya. Benar!

Aku harap, sesampainya aku di sekolah, bukan kabar buruk atau sesuatu yang merepotkan yang terjadi. Yaah.. Tapi apa kau tahu? Itu semua TIDAK TERJADI.

Sesampainya aku di sekolah, aku benar-benar kesal Shikamaru. Ingin aku obrak abrik rambut nanasmu itu. Aaarrrgghh!


[[ - _T O B E C O N T I N U E D_- ]]


HOOAAAAAAAAAAAAA! *teriak2 gaje

Minna~ maaf lama update nyaaaa.. maklumm, badan lemes gara-gara puasa..

Hahhahahahaha, tapi bukan puasa nya dan bukan sama sekali puasanya yg jadi masalah..

Tapi otak saya~

Belakangan ini rada eror, jadi gabisa buat mikir lancaaar~

Pada kuat puasa, kan?

Kuaat kan?

Baguslaaah *dzigh

B U A T Y A N G S U D A H M E R E V I E W , T E R I M A K A S I H B A N Y A K . . .

B A G I Y A N G B E L U M , D I T U N G G U S E L A L U :D

Review yaaa~

Review yaaa~

[[ Sumimasen kalau chapter ini jelek dan sama sekali gag menarik.. Selanjutnya, aku usahain deeh, abis ini kan juga alurnya real. Kisah ku sendiri *aa curhat.. Jadi maaf kalo kurang bagus ]]

R – E – V – I – E – W

o8.o2.2o11 :]