Hontouni gomennasai minna ! *nunduk nunduk*

Fanficnya telat update, habis akunnya error TAT

Kalo nggak percaya tanyain si Karin #nunjuk ke Karin

Karin : Hhe… si Ryu memang error akunnya, awalnya sih dia nangis nangis. Tapi, akhirnya dia senang senang aja tuh, dan nonton berbagai macam anime dengan santai, menggambar, dengerin lagu, bukannya lanjutin ffnya -"

Ryu : *banting Karin*

Karin :*kebanting* kok dibanting? Bukannya memang benar seperti itu kan ?

Ryu : Hehe, iya sih. Gomenne Karin chan.

Karin : Permintaan maaf diterima. Sana sana lanjutin dulu fanfic yang tertunda!

Ryu : Okelah, tapi... laptopku mana?

Karin : Ini *nunjukin laptopnya* Sementara disita dulu, nanti sesudah selesai ffnya baru boleh diambil.

Ryu : Hheeeh? Terus buat Ryu ngetik pake apa dong?

Karin : Pake gigilah, masa pake jari!

Ryu : *sweatdrop*

Karin : Eh, kebalik. Bentar dulu, kenapa aku yang bawa laptopnya Ryu yah…, ini kan mau dipakai untuk buat fanfic….

Ryu : *Tambah sweatdrop sampai sampai nepuk jidat berkali kali*

Karin : Eh, kenapa?

Ryu : Nggak kenapa kok. Yaudah jaa ne ! *Ke kamar bikin fanficnya

Karin : Jaa ne.. Berikutnya simak dulu yah, ffnya yang sudah dibuat sejak lama, sebelum dia punya akun punya error. Dan dengan di-postkannya fanfic ini, berarti akunnya tidak error lagi!

Ryu : Uruse #lemparsepatu-meleset-

Karin : Bwee *julurin lidah*

Kamichama Karin©Kogedonbo

.

Danger Zone ©Ryukutari

.

Chapter 2 : Pembatalan Pembunuhan

.

Warning : Horror, Fantasy, Misteri, OOC, akan sering berjumpa dengan Typo, gaje, nggak nyambung, dan keanehan lainnya.

.

Summary:

"Karin, kau pergi ke toko sayur dekat lapangan ya,"/"Hmph, aku tak melihat tanda tanda keberadaan gadis itu,"/"Itu dia! Dia membawa... pisau? Apa yang akan ia lakukan?!"/ "Jangan, tidak boleh!"/ "Hari ini, kita kedatangan murid baru,"

.

Karin Pov.

"Karin!" panggil bibi dari kejauhan. Suara nyaring bibi menusuk gendang telingaku. Sehingga membuat kedua mataku mulai terbuka. Walau itu terpaksa.

Suasana langit langit kamarku mulai menyambutku yang terbangun, diselingi oleh seberkas cahaya matahari sore yang tembus melalui celah celah ventilasi dan jendela. Sementara aku masih berbaring di ranjang -malas untuk bangun-. Pikiranku masih melayang pada mimpi tadi. Tepatnya pada saat gadis misterius itu ingin memberitahu alasannya dia mengundangku ke- ah, lupa. Ditambah jawabannya belum diketahui. Huff, rasanya makin hari makin aneh saja.

"Karin!"

Bibi memanggil kembali. Aku rasanya malas banget untuk keluar. Tidak berniat untuk menyahut ataupun ke tempat bibi berada, aku hanya mengambil selimut tebalku dan membungkus diri. Layaknya kepompong.

Ku coba agar rasa ingin tidurku bertambah. Habis, mata setengah berat, nih. Lagi pula, sekarang sudah sore, nanggung banget jika menunggu malam, bukan?

"Karin!"

"Akh.., bibi tidak ada alarm yang dapat mengalahkan bibi!" Pintaku.

Benar benar jengkel, sedikit lagi, padahal sedikit lagi, pasti aku akan ditelan tumpukan bantal dengan ranjang yang empuk. Malah, bibi memanggil lagi. Mau tak mau, aku harus meninggalkan tempat kesayangan dan pergi menemui bibi.

Dengan berat hati, aku melangkahkan kakiku meninggalkan kamar. Yah, tentu dengan langkah gontai. Rasanya ingin sekali membalikan badan ini ke kamar lalu malas malasan di tempat tidur. Tapi apa daya, aku memang harus melakukan ini, mau tidak mau.

"Ada apa bibi?" ujarku dengan nada bosan, sesampainya pada tempat dimana bibi berada.

"Ha, Karin.. Akhirnya kau terbangun juga," sahut bibi yang rada rada berbasa basi, "Nanti atau sehabis mandi, kau pergi ke toko sayur yang ada di dekat lapangan itu, belikan bibi beberapa ikat sayur sesuai dengan yang ada pada kertas ini," pinta bibi sembari menyerahkan secarik kertas kepadaku.

"Oke, oke.. Nanti saja yah," ucapku mulai menawar.

"Sekarang!" bentak bibi sedetik setelah mendengar ucapanku.

"Baiklah," kataku pasrah dengan nada yang ketus.

Segera kulanjutkan perjalanan dengan hati yang tak berkenan ini(?) menuju lokasi handuk, yang lantas ke kamar mandi.

Skip Time

Sekarang, aku telah selesai mandi dan keramas. Rambutku yang masih sedikit basahpun terpaksa digerai. Wah, rasanya segar.

Sesuai dengan permintaan bibi, sekarang juga aku akan pergi membeli beberapa ikat sayur, sebelum matahari menyembunyikan dirinya.

Kubuka pintu gerbang yang membatasi antara rumahku dan jalanan luar. Kemudian kututup kembali dan digembok, agar tak ada yang bisa memasukinya. Terutama pencuri

Ku berjalan di sepanjang trotoar pada arah yang berlawanan dengan arah sekolahku. Aku mengamati. Mengamati jalan dihadapanku maupun pada sudut pandang mata.

Tak ada tanda tanda gadis misterius itu. Gadis yang kujumpai dari tadi pagi ataupun pada mimpiku.

Langkah kakiku kini berada diantara jalan dan sebuah lapangan. Yah, masih di trotoar,sih. Sedikit lagi akan menemui tempat yang kumaksud. Sampai.

Syukurlah, aku tak menemui gadis misterius itu. Mungkin dia sudah tak membuntutiku lagi. Itu mungkin.

Aku merogoh saku pada jaket yang menempel di badan. Mencari sebuah kertas yang diberi oleh bibi tadi. Dapat.

Kubaca kata demi kata. Lalu, mengambil ikatan sayuran yang dimaksud.

"Siip, sudah semua," kataku pelan kepada diri sendiri. Tak peduli jika itu didengar oleh orang lain. Kemudian, aku berjalan ke arah mesin kasir dan membayarnya. Seperti yang biasa dilakukan semua orang.

Kubuka pintu yang bertulisan 'close' pada gagangnya. Tanda aku ingin keluar dari toko kecil tersebut.

Hari sudah malam. Kira kira, sekitar jam 7. Udara begitu dingin, sehingga memaksaku untuk mengeratkan jaket dengan kedua tangan. Terlihat uap uap nafas yang terhembus.

Tanpa sengaja aku melirik seorang gadis yang berada pada pojok lapangan dengan sudut pandang mataku. Dia yang membuntutiku sedari pagi. Benar, gadis yang misterius tersebut.

Ku tatap gadis tersebut secara mendalam. Dari kepala sampai kaki. Ia bersandar pada sebuah pohon besar disana. Kedua tangannya dilipat belakang. Dan, disekitarnya terdapat suatu benda yang berkilau.

Aku memerhatikan benda yang berkilau itu dengan jeli. Itu seperti pisau. Ya, benar! itu benar benar pisau!

"Apa yang akan dia lakukan?!" bisikku agar tak terdengar oleh dia.

Ku alihkan pandanganku dari pisau tersebut ke wajahnya. Tepatnya mata. Matanya, tidak memerhatikan ke arahku seperti tadi pagi. Melainkan kepada seseorang yang berada jauh di pojok lapangan lainnya.

Tiga orang yang tengah bercakap cakap -ketiganya pemuda- menjadi sorot pandang kami -aku dan gadis itu-

Tidak, dua pemuda meninggalkan tempat tersebut. Sehingga menyisakan seorang.

Sejenak kulirik gadis misterius tadi di tempat semula. Ia tak ada! Aku mengedarkan pandangannku ke seluruh penjuru lapangan demi melihat perempuan yang berada dalam mimpiku itu. Rupanya, tengah berlari menuju pemuda sendirian karena ditinggal oleh dua kerabatnya tadi.

Sebentar dulu,

Ia berlari ke arah pemuda itu.

Ia membawa pisau.

Aku mencerna dalam dalam kedua kalimat tersebut. Jika yang ku maksud benar...

'Ia akan membunuh pemuda itu,'

Tanpa pikir panjang, aku segera berlari dan meninggalkan semua belanjaan tadi di tempat semula ku berdiri.

Seraya berlari, sejenak aku juga melirik gadis itu. Dia menatap ke arahku. Dengan senyum sinis memancar di wajahnya. Aku semakin yakin apa yang tersembunyi dibalik senyuman liciknya itu.

Beberapa detik setelahnya, ia memalingkan wajahnya dariku. Mulai terfokus pada mangsanya yang berada di depan. Mempercepat larinya.

Aku tak kalah saing. Kupercepat juga gerakan kakiku. Hentakan kaki kita terdengar jelas. Menggema gema ke sisi lapangan yang sedang sepi ini.

Sedikit lagi aku akan sampai. Begitu juga dengan gadis tersebut. Perbandingan kita setara. Aku harus cepat, harus cepat.

Aku berhasil mengunggulinya, walaupun dengan jarak hanya setengah meter.

Beberapa saat kemudian, aku sampai pada pemuda itu. Lalu, berbalik arah melawan arahku berlari tadi. Kedua tangan kurentangkan. Itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga detik.

Gadis tersebut datang sedetik kemudian. Ia mengangkat tinggi tinggi bilah pisau yang ia bawa, dan nyaris menusukku. Rupanya ia sadar, ia nyaris meluruskan aksinya terhadap orang yang salah.

"Bodoh," ujarnya ketus, sambil kembali ke posisi semula.

Aku merasa terhianati. 'Bodoh'. Maksudnya dari kata, 'bodoh' ?

Tak lama waktu berselang, gadis itu berbalik dan berlari menjauhi diriku.

Tidak perlu pikir panjang. Aku berlari mengikutinya dari belakang. Aku merasa, sudah bermandikan keringat. Perutku sakit. Tapi, aku tak memperdulikan hal tersebut. Pikiranku kini dipusingkan oleh sebuah pertanyaan, 'siapa gadis misterius itu sebenarnya'.

Kakiku dengan cepat meniru jejak gadis berambut Indigo. Kami sudah bagaikan seekor kucing dan anjing yang bekejar kejaran ditengah langit yang mendung. Yap, sebentar lagi wilayah sekitar sini, akan dikunjungi hujan.

Tak sadar dari sudut pandang mataku, aku sudah melewati sekolah. Dapat kutarik kesimpulan, pasti aku sudah berlari melewati rumah. Sampai mana pengejaran ini akan berakhir? Sementara ia -gadis itu- masih terlihat antusias untuk menjauhiku.

Ingin rasanya memerintahkan dia untuk berhenti, namun kata kata yang ingin ku katakan seolah tersangkut di tenggorokan. Tak bisa dilampiaskan.

Di depan mataku menemukan belokan terotoar ini. Atau bisa kukatakan di depan terlihat perempat jalan. Dimana, pada masing masing perempatan tersebut terdapat lampu jalan sebagai rambu lalu lintas kota.

Gadis itu sudah hampir mendekati belokan tersebut. Tapi aku, masih memerlukan beberapa langkah lagi untuk menyalipnya.

Sekarang ia telah berbelok. Disusul denganku beberapa detik kemudian.

Rintik rintik air mulai mengguyur seisi wilayah ini. Angin mulai berhembus kencang. Akan tetapi, gadis tersebut telah menghilang dari pelupuk mata pada saat yang bersamaan..

Aku frustasi. Dengan kasar kumenjambak helaian rambutku yang tengah digerai. Lalu bersandar pada sebuah tembok di dekatku.

Suara gemuruh, hujan yang perlahan menjadi deras dan hembusan kencang angin ikut mengiringi betapa kesalnya hatiku. Pikiranku bercampur aduk. Kondisi fisikku lelah akibat berkejaran kejaran tadi. Tarikan nafasku tak teratur.

Dingin. Sekarang lebih dingin daripada tadi. Dinginnya terasa sampai menusuk tulang rusukku. Walaupun aku sudah memakai jaket. Namun, jaket ini tipis, tak berguna untuk menghangatkan tubuhku.

"Sebaiknya aku pulang saja," gumamku, menasehati.

Aku berjalan meninggalkan perempatan dengan langkah gontai. Kumemakai kerudung dari jaketku untuk menahan derasnya air hujan yang menerpa kepala. Ditengah perjalanan aku hanya mengingat ingat apa yang terjadi sebelumnya. Dan menyesali beberapa tindakannku. Terutama pada saat ia hampir menusukku. Pada saat aku melindungi pemuda itu. Atau, pada saat aku berkejar kejaran menuju pemuda itu.

Namun, rasanya aku melupakan satu hal. Perasaanku berkata kalau hal yang kulupakan itu adalah hal yang paling penting. Hal yang merujukku tentang tujuanku keluar dari tempat tinggal untuk sementara.

Itu adalah... Pikiranku kupaksakan untuk mengingat.

Sayur pesanan bibi.

Kini ku kembali menyesali perbuatanku. Seperti kata pepatah, ' Sudah terjatuh, ketiban tangga pula'. Tidak. Itu hanya mengatakan ketiban tangga, tapi ini, ini lebih daripada itu. Mungkin boleh diubah, sudah terjatuh, ketiban tangga, kejedot pintu, digigit anjing (?)

Hnmph. Pemikiranku sudah mulai menjalar ke arah yang positif. Meskipun, itu tidak bisa dibilang hal yang positif. Namun, dapatku membuat sedikit tertawa garing.

Tangki tenagaku terasa telah penuh. Aku mengirakan, ini akan cukup untuk berlari.

Dengan cepat kuangkat salah satu kakiku, kemudian dibawa kedepan dan menjatuhkannya lagi, disusul dengan kaki yang lainnya. Kuulang hal tersebut hingga melewati sekolah dan rumah. Dengan posisi kepala ditundukkan agar tak sakit terkena rintik rintik hujan yang terus menerpa diriku, tepatnya pada wajah.

Beberapa saat berselang. Aku telah sampai pada tempat yang dimaksud. Kulihat sebuah kantong plastik sedang duduk manis diantara tepi lapangan dan tepi jalan. Trotoar.

Tak mau ambil waktu lama, aku segera menarik pegangan kantong plastik tersebut yang terletak pada puncaknya. Aku berbalik arah. Lalu berlari. Tentu untuk pulang ke tempat hunianku.

"Tadaima," ujarku memberi salam sudah pulang.

Kuketuk sebuah pintu kayu yang terpanpang kaca sensor berbentuk bulat ditengahnya. Pintu yang membatasi ruangan dalam rumah dengan halaman rumah.

"Okaeri, Karin," kudengar sahutan bibi dari dalam rumah. Ku dapat melihat bibi dari depan pintu pada sisi yang lain. Sepertinya ia tengah membuka kunci pintu ini.

Gagang pintu yang bewarna silver tersebut mulai bergerak sendiri. Pintunya terbuka.

"Karin, kenapa lama? Terus, dirimu basah. Sudahlah, ambil handuk. Lalu, usap bagian yang basah. Terutama kepala," nasihat bibi, ia kemudian mengusap puncak kepalaku seraya berjalan kedalam rumah.

Sampai di depan kamarku.

"Bibi akan memasak sayur yang hangat untuk makan malam, tunggu ya," ujar bibi sambil mengambil kantong plastik yang berisi sayur dari genggamanku.

Aku hanya mangut mangut mendengar perkataan bibi. Kugerakan kakiku menuju ke dalam ruangan kamar. Melepas jaketku yang basah. Lalu, segera merebahkan diri diatas tempat tidur.

"Tak ku sangka, hari ini sangat aneh," gumamku seraya menatap langit langit kamar.

" Siapa gadis itu ?, " lanjutku, seraya duduk di sisi tempat tidur.

Aku menatap sekeliling. Seisi kamarku. Semua tertata rapi. Matakupun terpojok terhadap sebuah handphone touchsreen yang tengah terbaring di atas meja belajarku. Tangan kanankupun segera meraih benda canggih tersebut.

Setelah handphone itu telah berada pada genggaman, kubuka kunci layarnya. Lalu, dengan cepat jemariku membuka list pesan. Begitu banyak terlihat history di list pesanku. Matakupun mulai memilah milah setiap nama history itu. Terpaku mataku pada sebuah history yang tercantum nama Miyon. Klik. Terlihatlah berbagai percakapanku dengan Miyon. Jemarikupun sudah mengambil ancang ancang untuk mengetik apa yang kupikirkan. Yah, semacam curhat tentang kejadian aneh hari ini. Namun, ditengah aku asyiknya mengetik…

SUET!

Bagaikan ada angin setajam pisau. Dan itu telah sukses membuat handphone ku terbelah dua. Aku sungguh tercengang. Seperti tengah berada pada perbatasan antara percaya atau tidak percaya. Tanpa pikir dua kali, aku melirik arah datang angin tersebut. Ternyata berasal dari ventilasi jendela yang masih terbuka. Kuberanikan diriku untuk melangkah ke dekat jendela itu. Memeriksa keadaan luar. Nihil, tak ada siapapun.

Dapat kurasakan rasa takut itu kembali mengalir ke dalam diriku. Dengan cepat ku menutup gorden jendela dihadapanku. Mengantisipasi agar kejadian yang sama tak terulang lagi.

#Tok.. tok.. tok..

"Hai…?!" Responku setengah kaget. Arah mataku meluncur, lalu terpacu ke sebuah pintu yang terpaut kira kira dua meter dari tempatku berdiri.

"Bibi buka pintunya ya, ini ada semangkok sup sayur," celetuk bibi dari balik pintu. Pintupun terbuka dan menampilkan sosok bibi membawa nampan, dengan semangkok sayur. Diatas mangkok sayur itu terlihat asap putih mengepul, pertanda sup sayur masih hangat.

Akupun berlari kecil kearah bibi. "Ah, bibi kenapa harus menghantarkan kemari segala? Cukup teriak saja dari dapur jika supnya sudah jadi." Pintaku. Aku memang tak ingin orang lain akan repot karenanya.

Aku mengambil mangkok tersebut dari nampannya. Serta sendok didekatnya. "Tak apalah, makan saja," ucap bibi datar. Seperti tak keberatan sama sekali. Padahal, jika kondisi layaknya sekarang, aku sudah menahan diriku dari bentakan bibi. Ya sudahlah, ini lebih baik.

.

Hujan deras masih mengguyur seisi kota ini. Ku tak dapat melihat cerahnya bulan. Ataupun tebaran bintang. Awan hitam menangis sedari petang tadi. Langit mengamuk dan mengeluarkan suara kemarahannya. Sampai sekarang. Ya, sekarang. Tak ada yang tau kapan akan berakhir.

Aku hanya mendengus pasrah. Cuaca ini seakan akan mewakili perasaanku. Dimana ada kemarahan, kekhawatiran. Entahlah, aku masih menimang nimangnya.

-Skip Time-

"Bi, Karin berangkat ya," Pamitku. Seraya mengambil tas yang bersandar pada tempat duduk.

"Ya. Ingat Karin, bawa payung!" Sahut bibi dari kejauhan, tepatnya dari tempat pencucian baju. Dan jelas, bibi kini sedang cuci baju.

"Tentu saja, tak mungkin aku lupa!" tangkasku. Segeralah aku mengambil payung dekat pintu utama. Dan sebisanya membuka pintu utama. Membuka payung. Akhirnya berangkat sekolah.

"He.. Hujan dari kemarin belum berhenti juga yah," keluhku di perjalanan. Mataku menatap datar rintik rintik hujan yang senantiasa menyambutku.

Tak butuh waktu lama, aku telah sampai di sekolah. Lalu memerintahkan kaki ini untuk berjalan ke sebuah gedung dekat lapangan milik sekolah. Sampai.

Sepatuku basah kuyup. Bahkan, kakiku yang terlindung didalamnya dapat merasakan basah. Aku hanya mendesah pasrah. Kututup payung yang kugunakan tadi. Dan berjalan menuju ke kelasku yang berada di lantai pertama. Syukurlah cukup dekat.

BRAK!

"Ma.. maafkan aku!" pinta sebuah suara. Suara manusia –iyayalah-. Setelah kami bertabrakan pada suatu belokan, dari arah jalan yang berlawanan.

"Justru aku yang seharusnya meminta maaf, gara ngga lihat jalan. Ketabrak deh," Ujarku. Meralat. "Apa kau murid baru?" tanyaku keceplosan. "Eh, err… Maksudku, aku baru pertama kali liat kau, jadi, yah… Ano,, etto.. Maaf, tadi aku keceplosan sajaa!" ucapku rada rada terbata bata, plus tersenyum berharap ia masih mau menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang diharapkan. Waduh, aku seperti merasa ingin memukul diri sendiri.

"Iya, aku murid baru. Namaku Himeka Kujyou, Yoroshiku." Sahutnya polos. Dengan sebekas senyum hangat memancar diwajahnya.

"Namaku Karin Hanazono, hihihi," Kataku. Langsung saja diriku nyengir kuda kehadapan orang yang baru saja kukenal ini.

"Yang kau bawa itu Komik Nakayoshi keluaran terbaru yah?" tunjuk gadis beriris mata cokelat itu ke tanganku.

"Iya," jawabku singkat.

"Boleh aku pinjam? Tidak sopan memang, bersikap seperti ini terhadap orang yang baru dikenal. Namun, ada kelanjutan manga yang sangat kunantikan, jadi, bolehkah?" Himeka memelas. Agar aku mengiyakan permohonannya.

"Tentu saja boleh, lagipula, aku sudah membacanya semua," aku berucap girang, sekaligus membuat Himeka senang. Dan akupun memberinya sebuah buku setebal kurang lebih 150 halaman tersebut. "Ini," sodorku. Entah kenapa aku tidak ingin mengecewakan gadis manis ini.

"Wah, makasih ya. Besok pasti kukembalikan!" Perkataan yang meyakinkan terlontar dari mulutnya.

Teng… Teng… Teng…

Suara panjang bel sungguh keras terdengar. Mengalahkan suara hujan maupun Guntur yang terdengar sedari tadi. Hingga ke pelosok pelosok sekolah, pastinya. Agar murid maupun guru tahu, kalau sudah waktunya untuk memulai proses belajar mengajar.

"Sampai jumpa yah, Himeka chan, aku mau masuk kelas dulu!" Ujarku, berpisah sementara dengannya. Ke depannya, mungkin kita akan menjadi teman baik.

Dikelaspun aku segera mencari tempat duduk yang kududuki seperti biasanya. Lalu melirik Miyon yang duduk di samping kananku seraya melempar senyum.

Sejenak setelah itu, sensei telah datang mendatangi kelas kami.

"Ohayou," sapa sensei kehadapan muridnya.

"Ohayou." Sahut kami kompak.

"Hari ini, sensei akan memperkenalkan seorang murid baru yang akan ikut menghuni kelas ini," Perkataan sensei sukses membuatku penasaran tingkat akut. Jangan jangan Himeka? Batinku penuh harap.

"Silahkan masuk," perijin sensei terhadap seseorang yang sudah menanti di depan pintu. Pintu terbuka. Seorang gadis perlahan masuk kedalam kelas. Mataku terbelalak seketika, aku menelan ludah sulit, keringat dinginpun mulai mengucur, badanku sangat tegang. Beberapa detik lagi ia akan mengungkap siapa namanya.

Gadis itu sudah menghadap ke kami.

"Namaku..."

.

To Be Continue

.

Karin : Ko.. kore wa nani? -_-

Ryu : Huwaaaa oAo ?! Kenapa begini jadinya?! Ini kepanjangan -_- Padahal cuma niat panjangin aja dikit lagi,,, huftt... -menatappasrah-

Karin : Kenapa 2k jadinya, padahal kalo panjang panjang nanti kata katanya banyak yang hilang! Ouo

Ryu : Apa pedulimu, Karin? – menatap datar ke Karin –

Karin : Entahlah, apa peduliku. –mikir keras-

Kazune : *nengok* Halou? Apakah ada manusia?

Ryu : Nggak ada, adanya tuh, lalat, nyamuk, cicak, tokek, dan hewan sejenismu.

Kazune : *Kabur*

Karin : - masih mikir keras-

Ryu : Gaje ah jadinya -_- Daripada makin gaje, ayo kita balas Review :3

Akira-Bellachan : Makasih udah dibilang bagus dan keren. Semoga sembuh ya sakit bingungnya ya! #Plek. Semangat pula!

baby lulu : Yup, uda lanjut. Wah.. wah.., kalo itu belum diungkap. Mungkin (baca :pasti) akan diungkap pada chapter berikutnya!

ichiro : Yap, ini dah lanjut! Pasti ada Kazune kok disini, buktinya ada himekanya tuh *nunjuk nunjuk ke atas* Himeka kan sepupunya Kazune. Tapi, kalo si rambut indigo itu... masih rahasia, di chapter berikutnya pasti terungkap kok!

Meirin Hinamori 16 : Wah, arigatou sudah dibilang kawaii ! Udah lanjut. Namun, gagal banget kilatnya -murung-, gomennn...

RiiShi : Makasi udah dibilang bagus nih,, siip udah lanjut !

mionamichan : Siip udah lanjut! X3

Hontouni arigato gozaimasu minna yang sudah review!

Karin : - masih mikir keras -

Ryu : Mungkin segini saja yang bisa Ryu katakan. Oke, sampai jumpa di chapter berikutnya yah! Jaa!

.

Please Review

.