I Love You, My little Sister

Nyooo!~~ XD

kembali lagi bersama Author autis bin geblek.. 8D

ini dia chapter 2 dari fanfic I Love You, My Little Sister..

Dari chapter 1 saya sebenernya udah ngerencanin Cielnya cowok aja, tapi mls ahh...~ XD *di tabok

akhir dari cerita ini mau ada L*M*N nya.. XD #di tojos

tapi gak tau juga deh, jadi atau gak..

Klau mau nanti bilang ya di review ya! ^w^

saya mau ngevote..

ok, maaf klau saya udah banyak bacot.. (_ _)

Ok! Ini Dia Fanfic buatan saya! ^^

Silahkan di baca! ^u^

Disclamer: punya saya aja deh~ T^T #di lempar ke planet X

iya,iya..

Kuroshitsuji punya mbak Yana Toboso~ X3

Pairing : Ciel as FEMALE

Sebastian as MALE

Rated : T semi M mungkin? Gak tau lah. Kyknya T+

Warning : Gaje, OCC, Au, Abal, Gak jelas, lebay banget dah kyk sinetron gt deh~ XD (kyknya gak deh.. =A=a)

DON'T LIKE,DON'T READ!

Happy Reading!

Normal Pov'

14 Desember XXXX

London, 4.00pm

"ahh.. Sepertinya aku sudah harus menjemput Ciel." guman Sebastian sambil melirik jam tangannya yang ada di tangan kirinya yang menunjukan jam 4.00pm. Dia membereskan laptopnya dan alat-alat tulisnya untuk memasukannya ke dalam tas.

Sebastian beranjak keluar dari kelas kuliahnya dengan tatapan-tatapan centil dari para gadis cantik, dia tak habis pikir, padahal banyak gadis cantik di tempat kuliahnya tapi kenapa dia masih menyukai adiknya sendiri?

Sebastian berjalan menuju tempat parkir, membuka pintu mobilnya dan mulai mengendarai Ferrari hitamnya.

.

.

.

Setelah 15 menit di perjalanan, akhirnya Sebastian sampai di depan sekolah Ciel, Sebastian mulai memasuki tempat parkir sekolah Ciel setelah melihat Ciel yang melambaikan tangannnya untuk memberitahu kalau dia ada di sana.

Sebastian meresa heran, karna tidak melihat anak laki-laki berambut pirang pucat, bermata biru itu tidak bersama Ciel, karna biasanya anak laki-laki itu berada di samping Ciel sambil merangkul pundaknya. Sebenarnya Sebastian ingin sekali menghajar anak laki-laki itu, namun terus ia tahan karna berpikir itu pacar adiknya.

Ciel menghembuskan nafas karena bosan, wajah Ciel terlihat murung dan sedih. Setelah mobil Sebastian berhenti di depan Ciel, Ciel membuka pintunya dan duduk di bangku penumpang di sebelah Sebastian, sedangkan Sebastian memutar balikkan mobilnya, dan keluar dari sekolah Ciel.

mereka berdua saling diam dan tak ada satupun yang berniat untuk membuka pembicaraan. Wajah Ciel yang sangat murung membuat seribu pertanyaan di kepala Sebastian dan Sebastian tidak berani sama sekali untuk bertanya pada Ciel. hingga akhirnya ia melihat air mata Ciel menggantung di ujung matanya yang indah dan tampak berkaca-kaca.

"ada apa, Ciel? Kenapa wajahmu murung sekali?" Sebastian akhirnya memutuskan untuk membuka percakapan dan memberi tatapan lembut kepada adik perempuannya yang sedang melihat pemandangan di luar kaca mobil dengan tatapan kosong, sedih dan susah di jelaskan. Sebastian memang tidak pernah bisa membaca isi hati adiknya ini, meskipun mereka sudah bersaudara selama 11 tahun.

Ciel tidak menjawab pertanyaan Sebastian dan hanya menghembuskan nafas dengan berat sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawabnya. "aku.. aku ti—tidak apa-apa." jawab Ciel dengan isak dan wajah yang hampir menangis. Air wajahnya tampak berubah.

Sebastian yang melihat perubahan Air wajah Ciel benar-benar khawatir jika terjadi apa-apa dengan Ciel. Dia berusaha menenangkan dirinya. "baiklah, jika memang kau benar tidak apa-apa. Datanglah ke kamarku sehabis makan malam, aku punya hadiah untukmu." Sebastian tersenyum kearah Ciel.

Sedangkan Ciel hanya terbingung-bingung dengan kata-kata Sebastian, ia menautkan alisnya dan menatap Sebastian dengan tatapan bingungnya. Sebastian yang berhasil membuat air wajah Ciel berubah, hanya menyeringai.

Setelah beberapa menit mereka sampai, Sebastian berhenti di depan garasi dan meminta Ciel untuk turun duluan, sedangkan Sebastian memasukan mobilnya ke garasi. Ciel menurut dan keluar dari mobil Sebastian.

Ia segera membuka pintu rumah dengan wajah yang murung kembali.

.

.

.

.

Michaelis's House

6.00pm

-after dinner-

"ada apa, Sebastian?" Tanya Ciel pelan yang sedang berdiri di ambang pintu. "Ohh.. Ciel, masuklah." Sebastian tersenyum ke arah Ciel, Ciel hanya menurut dan menutup pintu kamar Sebastian.

"duduklah, di sana. Aku akan mengambil hadiahnya." perintah Sebastian sambil menaruh buku yang ia baca dan menunjuk sofa di kamarnya. Ciel beranjak dari ambang pintu dan duduk di sofa kamar Sebastian.

Sebastian berdiri dari meja belajarnya dan pergi ke lemari pakaian untuk mengambil sesuatu, ia mengambil kotak biru laut kecil dengan mita merah yang kontras dengan kotaknya, setelah ia mengambil kotak itu, ia duduk di sofa sebelah Ciel.

"Happy Birthday, Ciel. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu, ini " Sebastian memberi hadiahnya pada Ciel. Mata Ciel terbelak kaget karna dirinya sendiri saja tidak ingat kalau hari ini dia ulang tahun.

"ahh,te—terima kasih,Sebastian." Ciel menerima kotak Biru kecil dengan pita merah di atasnya, ia menatap Sebastian dengan lembut dan terlihat sedikit semburat berwarna pink di pipi Ciel. Sedangkan Sebastian di buat salah tingkah dengan kelakuan adiknya.

"Se—Sebastian? A—Apa ini?" Tanya Ciel terkejut, ketika membuka hadiahnya, matanya membulat sempurna. Ciel melihat kalung emas dengan hati sebagai liontin dan batu sapphire di tengahnya. Ia menatap wajah Sebastian dengan sangat bingung.

"ini untukmu, Ciel." Sebastian berkata pelan sambil mengambil kalung hadiah darinya, ia menyibakan rambut Ciel kearah belakang, dan mulai memakaikannya di leher Ciel. Muka Ciel menjdi merah mendapat perlakuan seperti itu dari kakaknya. mukanya seperti buah apel yang siap di makan, membuat Sebastian tidak tahan dengan wajah adiknya ini.

Setelah Sebastian memasangnya kalungnya di leher Ciel, Sebastian memeluk Ciel dan mencium kening Ciel dengan lembut. Sekarang muka Ciel benar-benar merah seperti kepiting rebus.

Mata Ciel membulat sempurna ketika ada sesuatu yang basah dan dingin menyentuh bibirnya, Sebastian yang sudah tidak tahan untuk mencium Ciel dan akhirnya benar-benar menciumnya, Sebastian meremas pelan balakang kepala Ciel untuk memperdalam ciuman, Ciel yang mulai menikmatinya akhirnya menutup matanya dan memeluk Sebastian.

Kedua bibir mereka saling bertautan dan berbagi kehangatan di bulan desember yang dingin, Ciel hanya tak percaya first kissnya di rebut oleh kakak anggatnya sendiri. "mmn..ahh.." desah Ciel ketika lidah Sebastian menjilati bibir Ciel. Ciel yang mengerti maksud Sebastian tetap tidak mau membuka mulutnya.

Karna Ciel tidak mau membuka mulutnya Sebastian akhirnya menggigit bibir Ciel. dengan terpaksa akhirnya Ciel membuka mulutnya dan mengizinkan lidah Sebastian. lidah Sebastian memasuki rongga basah milik Ciel dan mendorong kepala Ciel untuk memperdalam ciuman mereka.

Sebastian yang menyadari pasokan oksigen mulai menipis memutuskan untuk mengakhiri ciuman mereka. Benang saliva bertautan ketika Sebastian melepas Ciuman panas mereka. Ciel terengah-ngengah dengan ciuman mereka selama 10 menit tersebut.

"maafkan aku, Ciel. Aku tak dapat menahannya lagi." Sebastian menatap Ciel dan menunjukan wajah bersalahnya pada Ciel.

"ti—tidak apa-apa kok." ujar Ciel dengan wajah memerah, Ciel menghapus saliva yang menggantung di kedua ujung bibirnya dengan lengan sweaternya. Baju yang di pakai Ciel ini memang menggoda iman. Ciel memakai rok mini 15 cm di atas lutut dan sweater panjang berwarna merah pekat.

Sebastian yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya merebahkan tubuh Ciel dan menguncinya dengan tangannya.

"a—ada apa, Sebastian?" Tanya Ciel dengan wajah memerah sambil berusaha menyingkirkan Sebastian, membuat Sebastian tidak tahan melihatnya. Sebastian mengecup bibir Ciel sekilas.

"aku mencintaimu, Ciel." bisik Sebastian tepat di telinga Ciel dengan desahan nafasnya. Mata Ciel membulat dengan sempurna, wajahnya makin memerah. Dia menjadi salah tingkah di hadapan kakaknya.

"a-aku.. juga mencintaimu, Sebastian." jawab Ciel lirih dan berupa bisikan. Namun masih bisa di dengar oleh Sebastian. Sebastian yang mulai tidak tahan akhirnya mencium dan menjilati leher jenjang mililik Ciel, ia menggitnya sehingga meninggalkan bercak kemerahan di leher Ciel.

"ahh.. se-ahh.. sebas— tian.. akh.." desah Ciel ketika jilatan Sebastian mulai turun kearah dadanya.

"ada apa,hmm?" Tanya Sebastian sambil menghentikan aksinya yang hampir melucuti sweater Ciel.

"berhentilah, jangan lakukan itu sekarang." Ujar Ciel dengan muka merah dan menatap kearah lain untuk menghindari bertatap muka dengan Sebastian.

"Baiklah, maafkan aku, Ciel." Sebastian mulai merasa bersalah lagi. Sebastian mengangkat tubuhnya untuk tidak menindih Ciel.

"tidak apa kok, aku hanya belum siap." Ciel berkata lirih sambil beranjak untuk duduk.

"Ciel, aku sedikit penasaran dengan anak laki-laki yang sering berdiri bersamamu sepulang sekolah, siapa dia? Apa dia punya buhungan denganmu? Kenapa dia selalu merangkulmu?" Tanya Sebastian bertubi-tubi

"Ohh, dia Alois. Dia tidak ada hubungannya denganku hanya orang yang selalu memalukanku di depan umum, dan dia teman semasa kecilku sebelum—" jawaban Ciel menggantung di udara. Wajahnya terlihat sangat pucat dan sendu. "sebelum.. kedua orang tuaku meninggal dunia.." ujar Ciel lirih dengan sedikit isak tangisnya.

"maafkan aku, Ciel. aku tidak bermak—"

"tidak apa.." potong Ciel sambil menatap Sebastian dengan sangat lembut.

Sebastian merangkul Ciel dan memeluknya berusaha membuat Ciel untuk tidak mengingat masa lalunya yang mungkin tidak seindah masa lalunya dengan keluarganya. Ciel membenamkan wajahnya ke dada bidang Sebastian dan memeluknya sangat erat.

"akh.. Ma-maaf!" Ciel mendorong Sebastian ketika dia sadar apa yang telah ia lakukan pada kakak angkatnya. Ia menundukan kepalanya untuk menutupi mukanya yang merah padam.

"tidak apa, Ciel." Sebastian memeluk Ciel kembali dan tersenyum lembut kearah Ciel, ia menganggakat dagu Ciel, agar dapat bertatap mata dengannya. Dan sekali lagi mereka larut dalam Ciuman hangat mereka.

.

.

.

London, at Sydenham high school

8.15am

" Ciel, kau akan ku jemput jam 4, tunggu saja di tempat parkir. Sekarang aku harus ke tempat kuliahku." ujar Sebastian dengan lembut sambil mengelus pipi pualam Ciel

" ya,ya,ya.." jawab Ciel asal dengan pipi yang memerah malu.

mereka berdua tidak menghiraukan orang-orang yang memehatikan mereka.

Alois yang melihat Ciel di parkiran berpikir untuk menyapanya. Saat sudah berjarak 6 meter dengan Ciel ia melihat seorang pria beriris merah, berwajah sangat tampan,rambutnya berwarna hitam kontras dengan bajunya yang berba hitam, tinggi badannya sekitar 180an.

Namun Alois tidak menghiraukan lelaki yang bersama Ciel dan makin mendekat.

"CIE—" teriakan alois terpotong ketika melihat Ciel yang sedang berciuman dengan lelaki yang tadi dia lihat tersebut. Alois hanya terdiam di tempatnya sebelum akhirnya dia berbalik dan berlari menuju kelasnya. Saat itu juga Sebastian dan Ciel langsung melepaskan ciuman mereka setelah menyadari Alois yang lari.

"Ciel, dia itu Alois yang kau ceritakan itu?" Tanya Sebastian sambil menunjuk Alois yang sedang berlari menjauhi mereka.

"iya, ngomong-ngomong kenapa dia berlari sekencang itu ya?" Tanya Ciel sambil menghapus saliva yang masih menggantung di ujung bibir Sebastian dengan ibu jarinya.

"mungkin karna udah sudah hampir terlambat." ujar Sebastian santai.

"ehh—? Terlambat? Apa? Sekarang jam berapa?" Tanya Sebastian panik.

"8.30am.." jawab Ciel datar dan santai, bertepatan Ciel menjawab bel sekolah Ciel pun berbunyi.

"Astaga! Aku harus segera berangkat!" ujar Sebastian sambil masuk ke dalam mobilnya.

Sedangkan Ciel dengan santai berjalan menuju kelasnya. Ciel masih memikirkan Alois yang berlari sekencang itu, setaunya Alois itu orang yang sangat santai meskipun keadaan segawat apapun. 'Kira-kira Alois tadi kenapa ya?' guman Ciel dalam hati sambil membuka pintu kelasnya.

Mata Ciel membulat sempurna ketika melihat Alois yang sedang melipat tangannya dan membenamkan kepalanya di lipatan tangannya sambil duduk di tempatnya. Salah satu teman yang paling dekat dengan Alois langsung menatap tajam kearah Ciel yang masih berdiri di ambang pintu kelas.

Orang itu berjalan mendekati Ciel dan menampar Ciel dengan sangat kasar hingga Ciel jatuh tersungkur di lantai marmer kelasnya. Sontak seluruh kelas yang sedang membujuk Alois maupun yang sedang asyik mengobrol dengan temannya langsung melihat ke Ciel yang pipi kirinya memerah karna di tampar.

"Apa yang kamu lakukan,hah? KENAPA ALOIS JADI MENANGIS SEPERTI ITU!" bentak orang itu, iris emasnya menatap tajam kearah Ciel dan menarik dasi Ciel.

"a—aku tidak tahu apa-apa" ujar Ciel lirih setengah takut

"Jangan bohong! Cepat katakana apa yang terjadi!" sekali lagi ia menampar Ciel dengan sangat kasar, tak satu orang di kelas itu berani berbicara.

"Hentikan,Claude! Jangan lukai Ciel!" teriak seseorang. Seketika orang yang bernama itu Claude ambruk setelah di orang itu memukul kepalanya dengan kayu.

Ciel jatuh dengan posisi duduk, ia mengadahkan wajahnya, untuk melihat siapa yang sudah menolongnya. Matanya membualat ketika melihat siapa yang menolongnya.

"A-Alois—?" Ujar Ciel dengan mata yang membulat.

.

.

.

To Be Continued

Maaf ya chapter 2 nya lebih pendek! DX

Emakku lagi wisuda, saya jadi di suruh jagain adikku yang super mengganggu nan menyebalkan itu deh.. =A=a

Maaf ya, klau agak aneh sama adegan Ciel yang pakai sweater tapi Sebastian tetep bisa menjilati lehernya, sweater yang di pakai Ciel itu sweater yang gak ada bagian buat nutupin leher hingga ke belahan dada. Jadi kayak berbentuk 'Y' gitu.. XD

Makasih buat reviewnya dan para silent readers.. ^^

sesuai dengan reviewnya.. n.n

saya sudah bikin Aloisnya cemburu dan Sebastian yang menyatakan cintanya~ XD #di tojos Alois

Alois : Dasar Author geblek! Menyebalkan! *author di gigit*

Author : ampun! DX *ngacir*

Sebastian: makasih Author, Lain kali bikin yang lebih 'hot' ya..

Author : aih.. sama-sama, cukup satu ciuman dari kamu aja kok~ XD #di tabok Ciel

Ciel : kurang ajar kau, Sebastian!

Akh, dari pada nanti ada badai mendingan langsung aja deh…

REVIEW PLEASE~ n.n