Sensei! You Must be My Mom!
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Rate : T semi M
Warning: Semua OOC tanpa terkecuali, abal, mainstream? Wajib. EYD? Sempurna kegagalannya.
Uchiha Itachi Yamanaka Ino
Sum:
Yamanaka Ino merupakan seorang guru baru merangkap wali kelas di Konoha Junior High School. Harus ekstra bersabar menghadapi murid paling nakal disekolah itu. Ternyata ia harus menambah pasokan kesabarannya ketika harus menghadapi ayah sang murid yang sangat mempesona dimatanya.
.
.
.
Chapter2
.
.
.
"Kalau anda tidak mau tangan putra anda pegal ataupun patah. Kenapa bukan anda saja yang menulisnnya, Uchiha-san?!" Suara Ino ikut meninggi.
Ken dan Tsunade hanya melihat adegan dihadapannya dengan pandangan cengo.
Ken tidak menyangka ada seseorang berani melawan ayahnya. Selama ini orang yang berhadapan dengan ayahnya akan menunduk dalam tak berani menatap oniks tajam ayahnya. Namun, senseinya ini, sensei barunya ini dengan berani menatap ayahnya dengan pandangan sengit.
Tsunade juga tak kalah kagetnya. Apa guru baru ini tidak tahu dengan siapa ia kini berhadapan? Jangan sampai akibat perbuatan Ino, sekolah yang turun temurun dibangun oleh kakeknya ini akan dituntut oleh Uchiha.
Itachi tersenyum meremehkan.
"Anda menyuruh saya mengerjakan ini, Yamanaka-san?" tanyanya penuh penekanan.
"Kenapa? Bukannya anda yang tidak mau Kenichi mengerjakan hukumannya sendiri, Uchiha-san?" balas Ino dengan tak kalah sengit.
"Ya-yamanaka-sensei. Sudahlah... kupikir—" Tsunade merasa harus menghentikan pertikaian ini.
"Tch! Apa anda tahu saat ini sedang berhadapan dengan siapa?" Itachi memotong ucapan sang Kepsek. Oniksnya semakin tajam menatap mata biru indah milik Ino.
"Tentu saja. Saya saat ini sedang berdiri didepan orangtua siswa yang terlalu memanjakan putranya." Jawab Ino dengan senyum meremehkan.
"Apa?"
"Aaaa... anda takut tangan anda pegal? Atau takut tangan anda patah? Aku tidak menyangka kalau ad—"
"Baik. Akan ku kulakukan. " Tsunade melotot tak percaya. Begitu juga dengan Ken.
"Tidak perlu, ayah. Biar aku saja." Ken akhirnya bersuara.
"Tidak, Ken. Akan ayah lakukan." Jawab Itachi dengan tatapan tajam yang masih menghujam Ino yang saat ini tersenyum puas.
"Baiklah. Anda hanya perlu menyelesaikan lima puluh lembar lagi. Sebelumnya, silahkan tulis kalimat itu disini." Ino menyerahkan agenda ungunya yang berukuran sedang.
"Apa maksudmu?" tanya Itachi ketus.
"Tulis saja." Itachi yang bingung mengikuti keinginan Ino dengan menuliskan kalimat hukuman itu dan kemudian menyerahkan agenda tersebut kembali ketangan Ino.
"Terimakasih atas kerjasamanya Uchiha-san. Saya hanya ingin memastikan anda menulisnya sendiri. Mungkin saja kan anda menyuruh orang lain mengerjakannya." Ino tersenyum manis yang sangat menyebalkan dimata Itachi.
"Tch! Saya permisi."
"Kenichi-kun. Kau boleh kembali kekelasmu."
Ino membungkukkan badannya hormat pada Itachi melepas kepergian kedua ayah dan anak tampan itu. Kemudian beralih pada Tsunade yang menatapnya tajam.
"Ada apa, Senju-sama?"
"Apa yang kau lakukan, Yamanaka-sensei?" tanya Tsunade sambil memijat pelipisnya.
"Kau tahu dia siapa?"
"Orang tua Kenichi kan?"
"Ya, dia adalah Uchiha Itachi kalau kau belum tahu. Pengusaha kaya raya yang saat ini memimpin Uchiha Group. Kau masih belum tahu Uchiha Group?"
Ino sempat terkejut, namun ia tetap tidak peduli.
"Memangnya kenapa kalau dia pemimpin Uchiha Group?"
Tsunade hampir pingsan dibuatnya.
"Yamanaka-sensei, dengar. Kalau dia mau, dia bisa menyingkirkan siapa saja hanya dengan menggerakkan satu jarinya."
"Saya tidak peduli, Senju-sama. Saya berhadapan dengannya sebagai guru dan orangtua siswa. Saya hanya mencoba bersikap tegas atas kenakalan yang dilakukan oleh putranya." Terang Ino dengan wajah serius.
"Ya, terserah saja. Aku hanya berdoa supaya dia tidak menuntut sekolah ini atas apa yang suadah kau lakukan padanya, Yamanaka-sensei. Kau bisa kembali ke ruanganmu."
"Hai'. Saya permisi."
.
.
.
Hozuki Kisame memandang heran pada bosnya. Kalau tadi bosnya itu menyuruhnya menunda jadwalnya sampai jam sepuluh, kini ia menyuruh Kisame untuk menunda semua jadwalnya hari ini. Kisame berpikir kalau Itachi memiliki hal mendesak yang tidak bisa ditinggalkan. Namun hal yang membuatnya terkejut adalah bosnya itu duduk diruangannya sambil menulis kalimat 'Aku tidak akan mengulangi kesalahanku' diatas kertas folio yang kini bertebaran dimejanya. Alangkah anehnya melihat seorang bos besar yang disegani oleh semua orang terlihat seperti seorang siswa yang dihukum gurunya untuk menulis kaliamat penyesalan diatas puluhan kertas.
Yang paling anehnya adalah, ini merupakan pertama kalinya ia mendengar bosnya menggerutu. Kalimat-kalimat aneh seperti 'wanita menyebalkan', 'ternyata wajah cantikmu itu topeng dari semua sikap menyebalkanmu' dan kalimat lainnya yang sejenis selalu terdengar keluar dari mulut Uchiha Itachi secara berkala.
"Itachi-sama. Biar saya yang menuliskannya. Anda mungkin sudah lelah." Tawarnya.
"Tidak, Kisame. Akan aku buktikan kepada wanita menyebalkan itu kalau aku bisa menuliskan kalimat sialan ini tanpa menyuruh orang lain membantuku. Sial! Tanganku mulai pegal."
Kisame menghela nafas. Bos besar yang tak lain adalah sahabatnya sejak SMP itu terlihat memijit pelan jari-jari tangan kanannya.
"Itachi." Panggilnya. Sepertinya saat ini mereka perlu berbicara sebagai sahabat. Pria berambut putih itu mendudukkan dirinya dikursi didepan Itachi.
"Hn."
"Siapa wanita itu?" Itachi mendongak menatap Kisame. Kemudian ia teringat pada guru putranya yang cantik jelita namun menyebalkan yang membuat moodnya hari ini hancur seketika.
"Dia wanita paling menyebalkan yang pernah kutemui. Kau lihat, dia berani menyuruhku menulis seperti anak SD. Aku sangat membencinya."
"Dia gurunya Ken?"
"Hn. Dia menyuruh Ken menulis seratus lembar kertas folio. Dia sudah gila kan?"
"Anakmu nakalnya bukan main. Wajar kalau dia dihukum seperti itu. Dulu waktu SMP juga aku pernah disuruh guruku menulis umm tujuh ratus kalau tidak salah."
"Kau gila? Tujuh ratus? Kau bisa menyelesaikannya?" tanya Itachi.
"Aku mengancam teman-temanku untuk membantuku."
"Aku tidak ingat pernah dihukum seperti itu."
"Apa kau lupa? Sejak dulu kau kan siswa teladan. Mana pernah dihukum." Sewot Kisame.
"Benar juga. Tapi wanita itu sangat menyebalkan. Mulut tajamnya itu seperti ingin kusumpal saja."
"Jangan sampai kau jatuh cinta padanya, Itachi."
"Tidak akan, Kisame. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Itachi kembali bergelut dengan kertas folionya. Membuat Kisame menghela nafas, Itachi paling tidak suka jika disingung soal ini.
"Setiap wanita berbeda, Itachi. Jangan samakan mereka semua dengan Anko."
"Jangan sebut namanya didepanku, Kisame. Kau tahu aku paling tidak suka."
"Ya ya ya. Maaf. Aku akan keluar sebentar. Mau kopi?"
"Boleh."
"Kalau begitu aku permisi. Jangan lupa tentang reuni dadakan yang dikatakan oleh Hidan."
"Hn."
Itachi menghentikan kegiatannya. Mengambil tumpukan kertas yang sudah ia tulis dan menghitungnya.
"Sudah dua jam tapi baru selesai duapuluh lima?! Sial! Lihat saja, Yamanaka. Suatu saat pasti akan kubalas kau." Itachi menyeringai.
.
.
.
.
Istirahat kedua di Konoha Junior High School. Uchiha Ken duduk sendirian diatap sekolah. Memandang langit sambil tersenyum tipis. Ia sangat bahagia hari ini. Ayahnya mau datang kesekolah dan tadi ayahnya membelanya didepan gurunya. Bahkan ayahnya mau mengerjakan hukuman yang seharusnya dikerjakan olehnya. Apa ayahnya sudah menyadari kesalahannya yang tidak pernah memperhatikannya? Ia berharap pemikirannya tidak salah. Ia ingin seperti dulu, bermain bersama ayahnya seperti teman-temannya. Sudah empat tahun berlalu sejak terakhir kali ayahnya mengajaknya bermain bersama.
Ia sangat merindukan saat-saat itu. Ibunya? Jangan ditanya. Ia akan sangat marah bila ada yang bertanya soal itu. Ibu yang sangat dibencinya namun juga diharapkan keberadaannya oleh Ken. Walaupun ia sangat membenci ibuna yang sudah mengkhianati ayahnya, namun dalam hati yang paling dalam ia ingin diperhatikan oleh seorang ibu. Ia sangat iri saat melihat teman-temannya yang selalu didampingi ayah dan ibu mereka saat penerimaan raport. Tidak seperti dirinya yang selalu ditemani oleh sekertaris ayahnya yang jelek itu.
Menghela nafas sekali lagi, Ken kembali tersenyum. Dalam hati berdoa supaya ayahnya memang benar-benar sudah berubah.
"Ken-kun tersenyum." Ken tersentak dan melihat ke samping. Sahabatnya sejak taman kanak-kanak.
"Shina?"
"Apa tadi kau memang sedang tersenyum?" tanya gadis manis itu lagi.
"Tidak! Kau pasti salah!" Ken terlihat tidak terima. Shina tersenyum melihat sikap tsundere sahabatnya.
"Tidak usah berbohong. Apa karena tadi paman Itachi datang? Aku turut senang, semoga mulai hari ini, paman Itachi akan selalu memperhatikanmu." Ken menatap sahabatnya itu. Gadis manis berkacamata ini memang selalu mengerti dirinya. Akhirnya ia mengalah dan tersenyum tipis. Senyum yang hanya ditunjukkannya pada Hatake Shina, sahabatnya.
"Aku juga berharap begitu. Apa yang kau bawa?"
"Ah. Ini untukmu. Tadi aku dan ibuku memasak bersama. Jadi aku membuatkannya untukmu."
"Kau yakin kalian memasak bersama? Kurasa kau hanya menonton bibi Shion memasak." Ucapan Ken membuat Shina memukul lengannya.
"Aku juga ikut memasak tahu!"
"Haha. Iya iya. " Ken mengacak surai pirang sahabatnya itu. Hanya pada Shina lah ia bisa menunjukkan semua ekspresi yang dimiliknya.
.
.
.
Itachi memandang puas pada limapuluh lembar kertas folio yang berhasil diselesaikannya. Akhirnya ia bisa menyelesaikannya meski sesekali harus berhenti untuk memeriksa berkas penting dan menandatanganinya. Ia meletakkan map biru itu disudut kanan mejanya. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Ia tersenyum tipis. Akhirnya ia bisa menyelesaikan berkas-berkas bernilai milyaran yen yang kini sudah bertumpuk disudut meja kerjanya. Namun sepertinya niatnya itu harus dibatalkan karena ponselnya berdering. Kisame, sahabat sekaligus sekertarisnya meneleponnya.
"Kau sudah selesai?" Itachi dapat mendengar suara dentuman musik dan suara ribut lainnya. Ia baru ingat kalau ia ada janji bersama teman-teman satu gengnya dulu untuk berkumpul disalah satu klab miliknya Mangekyou Night.
"Baru saja. Kalian sudah lama?" tanyanya sambil mematikan laptopnya.
"Begitulah. Tapi tenanglah, Pain juga belum datang. Cepatlah kemari."
"Hn."Itachi menyimpan ponselnya dan membawa map biru bersamanya. Sesampainya diparkiran ia meletakkan map biru itu dibangku penumpang dan menaiki mobilnya menuju club.
Mobilnya berhenti didepan club bersamaan dengan sebuah taksi. Pria itu keluar dan terkejut mendapati seorang wanita yang tadi pagi berhasil memporakporandakan emosinya dan memberikannya hukuman yang super sialan menurut Itachi. Wanita cantik bernama Yamanaka Ino itu keluar dari taksi dengan menggunakan mantel hitam yang panjangnya selutut. Rambut pirang panjangnya tergerai indah membuat Itachi hampir kembali terpesona. Balutan makeup natural namun cantik membuat wanita itu tampak mempesona. Itachi menyeringai. Apakah ini waktu yang tepat untuk membalaskan dendamnya? Itachi menghampiri wanita yang kini berjalan menuju pintu masuk club. Kemudian ia berdeham.
Ino nampak terkejut melihat ayah dari muridnya kini berada disampingnya.
"Wah, aku tak menyangka akan bertemu dengan anda disini, Yamanaka-sensei." Ucapnya dengan nada menyindir.
"Ya, saya juga, Uchiha-san."
"Seorang guru datang ke club malam? Ini agak terlihat..." Itachi melihat Ino berjalan kebelakang dan memandang plangkat club miliknya tersebut.
"Hanya ada tulisan 18 plus. Tidak ada tulisan yang mengatakan seorang guru dilarang datang ke club malam. Anda sendiri bagaimana? Bukannya seharusnya anda menyelesaikan hukuman anda, Uchiha-san. Kenapa malah pergi ke club malam?" Ujarnya kemudian. Itachi merasa kalah. Wanita ini memang bermulut tajam.
"Aku hanya memenuhi undangan teman-temanku."
"Kalau begitu sama. Saya juga. Kalau begitu saya permisi." Ino melangkah memasuki club tersebut. Itachi mengerang dalam hati. Wanita ini benar-benar. Biasanya semua wanita yang melihatnya akan menjerit dan berusaha menarik perhatiannya. Namun wanita ini... berbeda.
Itachi mengikuti langkah Ino memasuki club. Petugas club itu menyambut Itachi dengan hormat. Itachi memberikan kunci mobilnya dan masuk kedalam. Ia melihat teman-temannya yang berkumpul disofa yang ada disana. Itachi langsung bergabung dan memesan minuman. Walaupun ini club miliknya, namun ia bersikap layaknya pelanggan yang baik. Namun sesekali ia memperhatikan kinerja para pegawainya.
"Kau lama sekali, Itachi." Seorang berambut merah yang setengah mabuk langsung menginterogasi temannya. Sedangkan Kisame hanya tersenyum mengejek pada Itachi.
"Ia dihukum oleh seorang guru SMP. Ha ha ha ."
'Sial. Kalau saja saat ini ia ada dikantor. Mungkin sekertaris biadabnya ini akan segera dipecat tanpa pesangon.
"Diamlah, Kisame." Ujarnya datar.
Pandangannya mengitari seluruh penjuru club. Tangannya mengambil gelasnya yang berisi scotch dan meminumnya. Namun sedetik kemudian ia menyemburkan minumannya dengan tidak elitnya hanya karena pemandangan yang bersumber dari arah barat.
Yamanaka Ino sedang membuka mantel hitam yang tadi menutupi tubuhnya. Hingga ia hanya mengenakan dress ketat berwarna ungu model mermaid yang membungkus tubuh sintalnya. Dress yang panjangnya hanya setengah paha membuat kulit putih mulusnya yang terbuka. Rambut panjangnya yang ia gerai diletakkan di pundak kanannya memperlihatkan punggung mulus nan menggoda. Itachi sampai meneguk ludahnya beberapa kali melihat pemandangan indah itu. Namun yang aneh adalah ada perasaan tidak rela saat melihat puluhan pasang mata menatapnya lapar. Gerakan sensual wanita itu saat membuka dan meletakkan mantelnya disandaran kursi membuat para hidung belang yang ada disana meneteskan air liur. Bahkan bartender yang ada didekat Ino sampai berhenti melakukan kegiatannya mencampur minuman. Sementara wanita yang kini menjadi objek terlihat santai berbicara dengan seorang wanita berambut pink yang juga berpakaian tak kalah menggoda.
"Woy! Itachi!"
Itachi tersentak mendapati sahabatnya yang berambut oranye menepuk bahunya keras.
"E-eh. Ya? Pain? Kau baru datang?"
"Aku sudah disini sejak kau menatap gadis pirang yang ada disana."
"Apa?!"
"Hahaha. Kau mengenalnya?" Itachi tidak mendengar perkataan sahabat oranyenya karena melihat seorang pemuda berambut putih berkulit tan eksotis mendekat dan mencoba merayu Ino. Ada rasa panas yang menjalar dalam hatinya. Tanpa sadar ia berjalan cepat mendekati Ino dan mendorong kasar pria yang tadi mendekatinya. Ino sontak terkejut melihat reaksi Itachi yang terkesan berlebihan. Pria itu mengambil mantel Ino dan memakainya untuk menutupi tubuh Ino. Kemudian ia menarik Ino keluar dari club itu.
Ino meronta karena tangannya di genggam erat oleh pria yang baru tadi pagi ditemuinya disekolah. Ia memang malu bertemu dengan orangtua muridnya disebuah club malam. Namun mau bagaimana lagi ia tidak mungkin menghindar karena ia sudah berjanji pada sahabatnya untuk berjumpa dengannya karena sudah lima tahun tidak bertemu. Karena selama ini Ino tinggal di kampung halamannya di Kyoto. Apalagi sahabat pinknya yang bernama Sakura itu sudah repot-repot mengirimkan dress hasil rancangannya pada Ino.
Tapi apa ini tidak berlebihan? Memangnya lelaki ini siapa? Seenaknya menariknya keluar dari meninggalkan temannya menuju mobilnya yang sudah ada didepan gedung.
"Uchiha-san, lepas!" Sesampainya dimobilnya , Itachi melepas genggaman tangannya pada tangan Ino.
"Apa yang kau lakukan?!" suara tinggi Itachi bertanya pada Ino.
"Haloo. Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu?! Apa yang kau lakukan, Uchiha!" tidak ada lagi sopan santun terhadap pria didepannya.
"Kau benar-benar merusak citra seorang guru, Yamanaka. Datang keclub malam dan—"
"Hanya datang ke club kau bilang merusak citra guru?! Tidak ada larangan datang ke club dalam kode etik kami. Dan bukan hanya aku saja seorang guru yang datang mengunjungi club malam! Jangan asal bicara, Uchiha! Merusak citra darimana? Cih!"
"Apa kau tidak sadar apa yang kau lakukan ? Berpakaian minim seperti ini?! Kau guru atau pelacur?!"
PLAAK!
"Jaga bicaramu, Uchiha sialan! Kau pikir aku ini wanita apa? Kau sendiri apa yang kau lakukan disini? Seorang ayah yang seharusnya bersama istri dan anaknya dirumah malah datang ketempat laknat ini! Orang tua macam apa kau ini?!"
Itachi terdiam sambil memegang pipinya.
"Dengar ya Tuan Uchiha yang terhormat. Aku seorang pelacur sekalipun itu bukan urusanmu! Kita tidak ada urusan satu sama lain selain kecuali mengenai Kenichi dan perilakunya disekolah. Jadi jangan ganggu aku!"
Ino kembali kedalam meninggalkan pria yang saat ini memegang pipinya yang mendadak panas. Pria itu mendecih.
"Apa yang kau lakukan Itachi!" gumamnya pada dirinya sendiri. Ketika ia akan menaiki mobilnya, ia melihat Ino keluar dengan temannya yang berambut pink. Ino menatapnya sekilas lalu membuang muka. Kedua wanita itu menaiki taksi yang kebetulan lewat dan kemudian melesat meninggalkan Itachi yang terdiam.
Didalam taksi, Ino diinterogasi oleh sahabatnya.
"Kau dan Uchiha Itachi ada apa?! Cepat katakan, pig!"
"Tidak ada apa-apa, forehead."
"Tidak ada apa-apa kau bilang? Jadi apa maksud pria itu menarikmu keluar dengan paksa. Terkesan cemburu tahu!"
"Ini semua karena baju buatanmu ini!"
"Memangnya kenapa?Ini salah satu karya terbaikku loh. Sekarang jelaskan ada apa kau dengan duda keren itu?"
"Aku tidak tahu. Dia hanya orang tua dari salah satu muridku. Sudahlah, jangan dibahas lagi."
"Iya iya."
.
.
.
Ken harus kembali menelan kekecewaan. Sudah seminggu berlalu , tapi Ayahnya tidak menjadi seperti yang diharapkan. Bahkan ayahnya semakin sibuk. Ken bahkan tidak pernah berjumpa dengan karena ayahnya itu pergi sebelum ia keluar dari kamar dan pulang setelah ia sudah tidur. Harapannya sia-sia. Bahkan sudah dua hari Itachi pergi keluar negeri untuk urusan bisnis. Apa ia harus berbuat nakal lagi sehingga Ino-sensei membuat kembali surat panggilan untuk Ayahnya?
Tapi apa yang harus dilakukannya. Sudah hampir semua jenis kenakalan dilakukannya. Mulai dari merusak properti sekolah, bolos saat jam pelajaran , membully temannya yang culun , berkelahi dengan siswa sekolah lain bahkan sampai menjahili guru. Ia sepertinya harus memikirkan kejahilan apa lagi yang akan dilakukannya. Tapi bukan hari ini. Karena hari ini ia merasa kurang enak badan. Mata dan nafasnya terasa panas. Entah kenapa ia menjadi lemas begini. Sarapannya tadi pagi pun tak dihabiskan karena tidak berselera. Sahabatnya Shina sudah menyuruhnya untuk ke UKS namun bukannya ke UKS ia malah menuju atap sekolah untuk memandang langit.
Suara bel pulang sekolah terdengar. Ia menghela nafas panjang dan berjalan menuju kelas untuk mengambil tasnya. Namun tak disangka, ia bertemu dengan Shina di tangga. Gadis itu membawakan tasnya.
"Kenapa tidak ke UKS?" tanya Shina sambil memberikan tas hitam milik Ken.
"Aku tidak apa-apa. Terimakasih." Shina memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak pucat itu.
"Kita pulang bersama ya. Supirku sudah datang."
"Tidak. Aku pulang sendiri saja. Pulanglah."
Gadis Hatake itu hanya mengangguk dan beranjak dari tangga menuju gerbang sekolah.
Walaupun anak seorang miliarder, Ken tidak pernah mau dijemput kesekolah. Berangkat kesekolah memang diantar karena takut terlambat, tapi tidak dengan pulang sekolah. Ia lebih memilih menaiki kendaraan umum. Kedengaran bodoh, tapi ia menyukainya. Memandang dari balik bus besar lebih menyenangkan dari pada memandang dari dalam mobil super mewah seperti yang biasa di kendarai ayahnya. Walaupun harus berjalan cukup jauh dari halte menuju mansion Uchiha, namun remaja tampan itu sangat menikmatinya.
Saat ini ia baru saja turun dari bus dan lanjut berjalan kaki seperti biasanya. Sejak dari bus tadi ia merasa pusing dikepalanya. Namun ia tetap memaksakan diri berjalan. Ditengah perjalanan, ia melihat beberapa siswa SMP namun berbeda sekolah sedang nongkorong didepan sebuah minimarket. Ia seperti familiar dengan orang-orang itu.
"Lihat siapa yang lewat. Ken dari Konoha High! "
'Sial' batin Ken. Dua diantara mereka adalah siswa yang pernah dipukuli olehnya sebulan lalu.
"Kebetulan sekali. Kami perlu balas dendam padamu. Masih ingat?" Kata salah seorang dari mereka. Ken menatap mereka datar namun mengumpat dalam hati. 'Delapan orang. Mudah bagiku jika saja aku fit. Tapi saat ini.. sial'
Mereka menyeret Ken dengan paksa kesamping minimarket yang merupakan sebuah gang dan mulai memukulinya. Ken berusaha melawan, namun dengan kondisinya yang kurang fit dan juga jumlah yang tidak seimbang membuatnya kalah. Para siswa itu terus memukuli dan menendang tubuh Ken hingga tak berdaya.
"HEEI! Apa yang kalian lakukan?!" Samar-samar Ken mendengar suara seorang wanita yang terdengar familiar. Ia pun melihat siluet seseorang berambut pirang sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya.
Wanita itu yang tak lain adalah Yamanaka Ino mendekati Ken yang sudah ditinggal kabur oleh para siswa berandalan itu. Ia menatap ngeri kondisi muridnya itu. Wajah yang dipenuhi lebam dan juga darah yang mengalir dari hidungnya.
Wanita cantik itu segera menelpon ambulans.
.
.
.
Yamanaka Ino sedang mengotak-atik ponsel milik Ken yang didapatnya dari dalam tas milik remaja itu. Nama yang pertama kali dicarinya adalah 'Ibu', namun tidak menemukannya. Ia mencoba menghubungi kontak dengan nama 'Ayah' namun selalu diluar jangkauan. Guru pirang itu beralih pada nama 'Uncle Sasuke' lanjut pada 'Kakek' dan 'Nenek' namun sang operator yang sangat sialan menurut Ino mengumandangkan kalimat yang sama.
"Keluarga macam apa ini?! Kenapa tidak ada yang bisa dihubungi!" Ia kemudian mencoba mencari kira-kira nomor yang yang bisa dihubunginya. Nama 'Baka Driver' membuatnya mengernyitkan alis namun ia langsung menghubunginya. Dan terhubung!
"Halo. Ini saya senseinya Kenichi. Bisa anda menjemputnya di Rumah Sakit Konoha?"
"Ya, Terimakasih." Ino memutuskan sambungan dan menyimpan kembali ponsel canggih muridnya itu. Seorang dokter yang memeriksanya sejak setengah jam yang lalu keluar dan Ino langsung menghampirinya.
"Dia tidak apa-apa?"
"Ya, lukanya sudah kami tangani. Dia juga sedang demam. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalian bisa pulang jika ia sudah sadar nanti."
"Terimakasih, dokter."
Ino memasuki kamar pasien dan melihat Ken sudah sadarkan diri. Ia mencoba duduk namun sepertinya luka ditanganya membuatnya sulit untuk menegakkan tubuhnya. Ino langsung membantunya. Ia menatap wajah muridnya yang kii tampak berantakan dengan beberapa perban yang menutupi wajahnya. Sikunya juga diperban.
"Apa yang terjadi? Kau berkelahi dengan mereka?"
"Sensei yang membawaku kesini?"
"Ya." Ino menghela nafas panjang. " Apa masih sakit?" Ino memandang muridnya tidak menjawab. Tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pria yang tampak baru saja berlari.
"Ken-sama! Apa yang terjadi?" Pria itu mendekat dan meneliti tubuh Ken.
"Aku tidak apa-apa, Ebisu. Ayo kita pulang." Ken turun dari kasur dan membungkuk singkat pada Ino kemudian keluar bersama pria bernama Ebisu yang menncoba memapah Ken walaupun pemuda tampan itu selalu menolaknya.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun mansion Uchiha terlihat cukup ramai. Kenapa? Karena seluruh pelayan termasuk supir dan tukang kebun sedang panik karena tuan muda mereka yang sakit saat ini. Ayame sang pelayan keuar dari kamar majikan mudanya dengan membawa senampan makanan dan kemudian terdengar suara pintu yang terkunci dari dalam.
"Bagaimana?" tanya Ebisu.
" Dia tetap tidak mau makan. Padahal kondisinya semakin mengkhawatirkan. Badannya menggigil, Ebisu!"
"Tuan Itachi dan Nyonya Mikoto tidak bisa dihubungi. Bagaimana ini." Seorang pelayan lain tampak datang dengan wajah paniknya.
"Apa yang harus kita lakukan?" kata Ayame.
"Sebentar, akan ku coba menghubungi seseorang."
"Siapa?"
"Pacarku tentu saja."
"Kau gila?! Disaat seperti ini kau—"
"Kau lupa pacarku adalah tata usaha disekolah Ken-sama? Aku ingin meminta nomor senseinya Ken-sama darinya."
.
.
.
Ino yang sudah mengenakan piyamanya dan mencuci wajahnya berjalan naik ketempat tidurnya. Ia memakai selimut dan mencoba memejamkan matanya. Namun tidak bisa. Sedari tadi ia memikirkan muridnya yang tadi ditolongnya. Bagaimana kondisinya sekarang, apakah ayahnya sudah mengetahui kondisinya , apakah demamnya sudah turun. Ia sangat khawatir pada Kenichi.
Tiba-tiba ponsel ungunya berdering. Tanpa melihat siapa yang menghubungi, Ino mengangkatnya. Tiba-tiba ia membelalakkan matanya.
"Ya. Cepatlah. Akan kukirimkan alamatku."
Setelah mengetik sesuatu diponselnya, Ino meloncat dari tempat tidurnya dan berganti baju. Mengenakan T-shirt putih lengan panjang dan celana jeans serta tak lupa mantel coklatnya, Ino mengambil tas dan ponselnya kemudian berlari keluar kamar apartmennya.
Kira-kira sepuluh menit menunggu dilobi, sebuah mobil mewah datang dan Ino segera menaikinya.
"Bagaimana keadaannya?!"
"Dia menggigil. Dan juga tak mau makan apalagi minum obat."
"Orangtuanya?" tanya Ino.
"Itachi-sama sedang diluar negeri."
"Ibunya?"
"Itachi-sama sudah bercerai dengan isrinya empat tahun lalu."
"Apa?!"
Mobil mewah itu membawa Ino pada sebuah mansion besar dengan segala kemegahan dan kemewahannya. Namun ini bukan saatnya untuk mengagumi mansion milik Uchiha itu. Ino mengikuti Ebisu menaiki tangga. Didepan kamar Ken, beberapa pelayan tampak panik dan khawatir. Seorang pelayan memberikan sebuah kunci pada Ebisu dan pria itu membuka pintu.
Ino langsung menghambur masuk dan mendapati Ken sedang bergelung dalam selimut sambil bergetar karena menggigil. Wanita itu mendudukkan dirinya diranjang besar itu dan membuka sedikit selimut yang dipakai remaja empat belas tahun itu. Ia menjamah kening Ken. 'Panas sekali!' batinnya.
"Bisa siapkan peralatan untuk mengompresnya? Oh ya, aku bisa menggunakan air dingin dengan es."
"Baik, Yamanaka-san." Ebisu memerintahkan pelayan wanita untuk mengambilnya.
Semua yang diperintahkan Ino langsung tersedia kurang dari lima menit. Melihat para pelayan yang masih ramai didekat pintu padahal sudah hampir jam sepuluh.
"Kalian istirahat saja. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tapi, Yamanaka-san..."
"Tidak apa, Ebisu-san. Kalian sudah bekerja satu hari ini. Besok kalian juga harus bekerja. Jadi istirahatlah. Kalau kalian ramai disana, Kenichi juga tidak bisa istirahat dengan tenang. Tenang saja, Kenichi akan baik-baik saja."
Terdiam cukup lama, para pelayanpun akhirnya meninggalkan Ino yang mulai meletakkan kain yang sudah dibasahinya dengan air es. Ia juga memperbaiki posisi tidur dan selimut Ken. Wanita Yamanaka itu memandang prihatin pada Ken. Luka dipelipis dan pipinya sudah tidak diperban lagi. Mungkin Ken yang membukanya. Ino terus melakukan kegiatannya secara berulang-ulang. Sampai satu jam kemudian ia membereskan segala alat kompres karena mendapati bahwa panas anak itu sudah turun walaupun belum normal. Anak itu pun sudah tenang dan tidak menggigil lagi. Ino mendesah lega.
Ia melihat jam yang ada dinakas yang menunjukkan angka dua belas. Sudah larut namun ia tidak mengantuk. Sekali lagi membenarkan letak selimut yang membungkus tubuh Ken, kemudian ia mengusap lembut kepala murid nakalnya itu. Memandang prihatin pada Ken.
"Pantas saja kau jadi nakal begini. Kau sudah banyak menderita ternyata."
"Ayah... Ayah..." Ken mengigau.
"Ssst... Tenang ya Kenichi-kun." Ino mengusap-usap lembut kening anak itu. Ken membuka matanya perlahan dan mengamati seseorang yang kini ada di dekatnya. Ino tersenyum manis.
"Kau sudah bang—"
"IBU!" Ino terkejut luar biasa. Matanya melotot lebar saat merasakan Ken memeluknya erat dan memanggil kata Ibu. Ia pun mendengar suara isakan dari Ken.
"I-ibu... Ibu... hiks... Ibu disini.."
Ino ingin menangis dibuatnya. Anak ini... sangat merindukan ibunya. Apa sejak orangtuanya bercerai, ia tidak pernah bertemu dengan ibunya? Baru saja Ino ingin membalas pelukannya, Ken tiba-tiba melepaskan pelukan itu dengan gerakan spontan seolah baru sadar sesuatu. Anak itu menatap Ino dalam diam, jejak air mata masih kentara.
Anak ini sama sepertinya. Ia juga tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Tapi, ayahnya mengambil peran ibunya hingga ia tak merasa kekurangan kasih sayang. Bahkan ayahnya menjadi tempatnya untuk bercerita tentang urusan pribadinya.
"Kenichi-kun..."
"M-maafkan aku, Ino-sensei." Ken membuang wajahnya malu.
"Tidak masalah. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ino.
"Sudah lebih baik. Aku tidak kedinginan lagi. Tapi kepalaku masih agak pusing."
"Syukurlah."
"Kenapa sensei bisa ada disini?" tanya anak itu.
"Ebisu-san yang mengabarkan kalau keadaanmu semakin mengkhawatirkan. Kau juga tidak mau minum obat. Kenapa?"
"Aku tidak suka."
"Tapi kau harus minum obatmu kalau mau cepat sembuh. Karena sekarang kau sudah bangun kau harus makan dan minum obat. Tunggu disini, akan ku masak sesuatu." Ino mengusap kepala Ken kemudian berlalu meninggalkan kamar itu dengan pandangan yang sulit diartikan dari seorang Uchiha Ken.
Tiga puluh menit berlalu dan Ino kembali dengan semangkuk bubur dan segelas air putih hangat disebuah nampan. Ken sedang berbaring namun tidak memejamkan matanya. Ia kemudian mendudukkan dirinya melihat Ino mendekat. Ino mendudukkan kembali dirinya disisi ranjang setelah meletakkan nampan diatas nakas. Wanita beriris biru itu mengambil mangkuk dan mulai menyendoknya. Ken terlihat enggan memakan suapan dari gurunya itu.
"Makanlah, Kenichi-kun. Kau harus makan dulu baru bisa minum obat."
"Aku minta maaf soal yang tadi sensei." Sepertinya bocah itu masih merasa terganggu dengan insiden kecil yang tadi terjadi.
"Tadi aku mengira kalau sensei adalah... adalah..."
"Ibumu kan? Bukannya sudah kukatakan tidak masalah. Jangan terlalu dipikirkan."
"Aku membenci ibuku."
Ino tersentak. Apa anak ini baru mengatakan kalau ia membenci ibunya?
"Aku membencinya. Tapi juga sangat menginginkan keberadaannya. Keberadaan seorang ibu." Ino meletakkan kembali mangkuk itu di atas nakas.
"Kenichi..." panggil Ino lembut.
"Aku sangat iri ketika melihat teman-temanku yang rapornya diambil oleh ayah dan ibunya. Aku iri melihat teman-temanku yang berbelanja bersama ibunya saat tahun ajaran baru. Aku iri melihat orangtua mereka datang saat festival sekolah. Aku sangat iri...'
Ino menatap prihatin pada muridya itu. Sepertinya sudah banyak penderitaan yang dilaluinya hingga sekarang tak terbendung lagi. Ia harus mengeluarkannya dan Ino siap menjadi pendengar.
"Sedangkan aku... selalu saja ayah diwakilkan oleh sekertarisnya. Aku sendirian saat berfoto dipesta kelulusanku saat SD. Percuma meraih nilai tertinggi kalau tidak dilihat oleh orangtua." Ino melihat setetes airmata mengalir diwajah tampan itu walaupun langsung diseka sedetik kemudian.
"Kenapa kau membenci ibumu?" Ia seorang guru dan wali kelas. Ia berkewajiban menjadi penampung masalah dan pencari solusi bagi murid-muridnya.
"Saat berumur sepuluh tahun, aku sangat bahagia. Ayah dan Ibu selalu memperhatikanku. Menemaniku belajar dan bermain. Kami tidak tinggal disini. Ini adalah rumah kakek dan nenek. Kami tinggal di apartmen dekat kantor ayah. Suatu hari, ayah mengajakku memancing. Kami berangkat berdua karena ibu bilang tidak enak badan. Ditengah perjalanan hujan turun lebat sekali. Kami memutuskan pulang dan pergi memancing keesokan harinya. Sesampainya di apartmen, kami meliha ibu... ibu berselingkuh dengan pria lain dikamar ayah dan ibu." Ino hampir saja menganga kalau tangannya tidak reflek menutup mulutnya.
"Lalu ayah mengamuk dan mengusir ibu. Bukannya meminta maaf atau menyesal. Ibu malah mengatakan kalau ia tidak mencintai ayah. Kemudian mereka bercerai. Sejak saat itu, ayah semakin sibuk dan tidak lagi memperhatikanku. Kami pindah kerumah ini. Aku tidak masalah selama kakek, nenek dan paman Sasuke menemaniku. Tapi tak lama kemudian mereka pindah ke Amerika karena membuka cabang baru disana. Aku jadi sangat kesepian. Ini semua karena ibu. Aku... aku..."
Ino menarik Ken dalam pelukannya. Anak itu tidak membalasnya namun Ino tetap memeluknya dengan satu tangan mengusap kepala bersurai hitam itu.
"Kalau kau mau aku akan jadi ibumu." Kata Ino tiba-tiba.
"Se-sensei..." Ino jadi terkejut sendiri dengan kata-katanya.
"Maksudku... err itu. Maksudku... Sampai besok! Ya sampai besok. Kau kan sedang sakit. Jadi sampai kau sembuh benar aku kan merawatmu seperti seorang ibu. Hanya sampai besok karena aku yakin besok kau sudah baikan. Emm kau menagkap maksudku?"
"Kenapa sensei tiba-tiba ingin menjadi ibuku?" tanya Ken. Tentu saja ia sangat heran. Apa senseinya ini sama dengan para wanita yang mengejar-ngejar ayahnya? Yang mencari perhatian ayahnya lewat dirinya?
"Itu karena kita sama." jawab Ino.
"Maksud sensei?"
"Aku juga tidak punya ibu. Jadi mungkin aku bisa mengerti perasaanmu," Ino menatap mata hitam didepannya dengan serius.
Ken menatap senseinya dengan pandangan tak percaya. Senseinya ini sudah rela tidak tidur untuk merawat dirinya. Sekarang wanita cantik ini mau jadi ibunya. Perempuan muda dan cantik mana yang mau mempunyai anak berusia empat belas tahun. Apa senseinya ini serius?
"Kau bebas bermanja-manja padaku seperti layaknya anak kepada ibunya. Tenang saja, aku tidak akan memberitahukan tentang sikap manjamu pada teman-temanmu disekolah. Asal kau belajar untuk mengurangi kenakalanmu disekolah. Lagian besok kan hari minggu, kita bisa jalan-jalan a la ibu dan anak. Ke mall mungkin."
Ken masih memandang senseinya tak percaya.
"Kalau kau tidak mau juga tidak apa..."
"A-aku mau!" Ken terkejut dengan sikapnya yang kelewat antusias. Tapi kalau boleh jujur, ia sangat senang. Setidaknya ia ingin merasakannya walaupun hanya sampai esok hari. Ia bahkan sudah lupa bagaimana memiliki seorang ibu.
"Satu lagi. Jangan sampai ayahmu tahu." Ken mangangguk. "Ayah tidak akan tahu, dia sedang diluar negeri. " Ino mengangguk mengerti. Ia mengangkat jari kelingkingnya.
"Sampai besok."
"Sampai besok." Ken menautkan jari kelingkingnya pada milik Ino.
"Sekarang kau makan ya. Setelah itu minum obat dan tidur, hm anakku?" Ino tersenyum manis.
"Iya.. I-i-ibu." Ken balas tersenyum tipis.
.
.
.
Setelah semalam tidak tidur, pagi-pagi sekali ia bangun dan memasak didapur keluarga Uchiha. Beberapa pelayan yang sudah bangun memintanya untuk istirahat. Mereka tahu kalau Ino pasti tidak tidur semalam.
"Aku tidak apa-apa. Sudah hampir selesai kok. Maaf menggunakan dapur dan bahan-bahan yang ada di kulkas."
"Tidak apa-apa, Ino-san. "
"Sekarang jam berapa?"
"Jam tujuh tepat, Ino-san." Ino mengangguk.
"Bisa buatkan segelas susu?" Pelayan itu langsung membuatkan segelas susu.
Ino terlihat sedang mencampurkan pasta yang sudah direbus sebelumnya pada saus tomat yang baru selesai dimasaknya. Kemudian Ino meletakkannya diatas piring. Menaburkan sedikit keju yang sudah dicincang halus olehnya. Ino kemudian mengambil nampan dan meletakkan piring dan segelas susu yag dibuatkan pelayan diatasnya.
"Aku ke kamar Kenichi dulu ya." Ino tersenyum pada pelayan dan beranjak.
"Cantik sekali..." kata seorang pelayan.
"Benar. Sangat cantik. "
"Sudahlah, ayo kembali bekerja."
TIIIN TIIN!
"Siapa itu? Tuan Itachi sudah pulang? Biar aku yang buka." Ayame meninggalkan teman-temannya yang juga mulai menyebar untuk kembali bekerja. Wanita berambut coklat itu membuka pintu kayu berukiran cantik itu dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Ayame, lama tak jumpa."
"Mikoto-sama, Fugaku-sama, Sasuke-sama. Senang melihat anda sekalian datang." Ayame tampak senang sekali.
"Ken dimana?" tanya Fugaku.
"Dikamarnya. Ken-sama sedang sakit."
"APA?!" Ketiganya tampak terkejut meskipun hanya Mikoto yang bersuara. Mereka langsung berjalan cepat keatas menuju kamar Kenichi. Sesampainya didepan pintu kamar cucu dan keponakan mereka. Ketiga Uchiha itu mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Ken. Mikoto meletakkan jari telunjuknya didepan bibir sambil menatap anak bungsu dan suaminya. Memberikan isyarat supaya tidak mengeuarkan suara.
"Ibu panaas~!"
"Ibu?" Bisik ketiganya. Ketiganya Uchiha itu dengan tidak elitnya mendekatkan telinga mereka sambil berdesakan.
"Anko datang?" suara Sasuke.
"Ini tidak terlalu panas, sayang. Ibu sudah meniupnya."
"Bukan suara Anko." Suara datar Fugaku. Mikoto mengangguk.
"Tiup lagi bu~"
"Sejak kapan bocah itu jadi sangat manja. Suaranya menjijikkan." -Sasuke
"Kenichi-kun buka mulutmu. Sudah ibu tiup lagi. Aa~"
"Dia tidak pernah suka dipanggil Kenichi." –Mikoto. Fugaku mengangguk.
"Ini enak sekali. Ibu pintar memasak."
"Kalau enak harus dihabiskan. Buka mulutmu lagi."
"Ibu, minum."
"Oh. Ini, sayang."
"Terimakasih, Ibu."
Ketiga orang itu menjauh dari pintu.
"Jadi Itachi menikah tanpa memberitahu kita? Dimana anak itu?!" ujar Mikoto geram.
"Kakak sedang di Jerman sekarang. Tapi aku sudah memberitahunya kalau kita akan datang."
"Kita harus tahu siapa wanita itu." Suara dingin Fugaku membuat anak dan istrinya mengangguk setuju.
"Jadi... kita masuk?" tanya Sasuke.
"Tentu saja." Ujar Mikoto berapi-api.
"Hn." Fugaku menanggapi dengan singkat.
.
.
.
"Sekarang minum obatmu." Ino meletakkan piring yang isinya telah habis. Ia mengambil dua butir obat berwarna putih.
"Tapi pahit, bu."
"Makanya ibu buatkan susu. Supaya pahitnya tidak terasa. Ini, hanya dua butir, Kenichi-kun."
Ken mengambil obat itu dan menelannya dengan cepat dan langsung meminum susu hingga habis.
"Anak pintar." Ino mengacak rambut kelam 'anak' nya itu.
BRAK!
"Ken! "
"Tiga orang dengan warna rambut yang sama dengan Ken masuk dengan wajah-wajah penasaran mereka. Ino sendiri terkejut melihat siapa yang datang.
"Kenichi-kun. Mereka..."
"Kakek... Nenek... Paman Sasuke..."
Ino membelalak kaget.
"APA?"
Ken memang berjanji untuk merahasiakan ini dari ayahnya. Tapi siapa sangka kakek, nenek dan pamannya akan datang dengan tiba-tiba begini.
"Kau siapa, nona?" suara datar nan dingin Fugaku membuat Ino merinding.
.
.
.
.
Tbc
Semuanya haloooha...!
Waaah... Yana ga nyangka kalau banyak yang suka pair ini. Makasih banyak buat semua yang teman-teman yang membaca, mereview, nge-fav ataupun follow fic aqu yang ga seberapa ini. Ini chap dua udah up. Interaksi ItaIno belum banyak, dikit banget malah. Yana janji chap depan mereka bakal banyak interaksinya.
Maafkan saya ga bisa bales review satu-satu. Sebenernya saya lagi dikejar deadline tugas kuliah.
Doain aja semuanya bisa lancar. Jadi saya bisa up cepat.
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.
Reviewnya ditunggu loh.
Yana Kim.
