CHAPTER II

"SNOW WHITE"


Dua minggu yang lalu, di hari pertama snow day. Jack datang mengunjungi Jamie dan teman-teman kecilnya yang lain, karena bagi Jack mereka sangat spesial, maka ia pun mengajak mereka bermain sebelum ia melakukan tugas guardian-nya di tempat lain di seluruh dunia. Cuaca begitu cerah dengan sinar mentari yang hangat, tapi aura dingin tetap mendominasi. Ia bermain di sebuah lapangan kecil yang tidak jauh dari rumah salah satu teman kecilnya, Jamie—bersama dengan teman kecilnya yang lain. Dengan semangat Jack melempari teman-temannya dengan bola salju buatannya.

"Yeah… terima itu, Jamie!" teriak Jack melempari Jamie, dan tepat mengenai bahu Jamie.

"Hohow, aku akan membalasmu, Jack," kata Jamie meremas-remas salju dengan kedua tangannya untuk membuatnya lebih padat membentuk bola, kemudian melamparnya dan gagal mengenai Jack sehingga membuat roh salju itu tertawa tanpa menyadari sebuah bola salju kedua berhasil mengenai keningnya. "Yeaaah…, apa kalian lihat itu?" teriak Jamie pada teman-temannya.

"Woow, kamu hebat, Jamie," teriak teman-temannya yang lain, karena sangat sulit untuk mengenai Jack akibat kegesitannya dalam menghindar.

"Hahaha, double ammo…, huh," Jack tertawa melihat trik Jamie saat melempari dirinya. Ia membersihkan serpihan-serpihan salju yang melekat di rambutnya, "Kamu semakin cekatan saja, Jamie," Jack tertawa berdengus dan kembali melampari Jamie, sayangnya lemparannya berhasil dihindari oleh bocah itu.

Jamie mengetahui kalau Jack akan menghindari lemparan pertama dan dengan sigap Jamie juga melancarkan serangan keduanya. Ia sendiri tidak menyangka kalau trik itu akan berhasil, "Aku belajar darimu, Jack," balas Jamie melempari Jack. Jack pun berhasil menghindarinya.

Tiba-tiba bola salju lain melayang dan mengenai kepala Jamie, mambuatnya sedikit kaget dengan lemparan dari belakang itu. Ternyata pelakunya adalah Pippa yang terlihat kegirangan karena berhasil mengenai Jamie.

"Aku sudah mengenaimu dua kali, Jamie," teriaknya dengan semangat.

"Pippa," kata Jamie tertawa, "aku tidak akan kalah denganmu," ia membalas melempari Pippa.

Di saat yang sama, si kembar—Caleb dan Claude—mereka berdua saling melampar satu sama lain sehingga bola salju mereka mengenai wajah mereka masing-masing dan jatuh terjungkal. Jack tertawa malihat kedua anak itu terjatuh karena lemparan bola salju dari masing-masing mereka.

"Oh… kalian sangat bersemangat sekali, Caleb, Claude," teriak Jack sambil tertawa dan direspon dengan ancungan jempol oleh mereka berdua yang masih terbaring ditumpukan salju.

Tiba-tiba Jack mendapat lemparan bola salju di punggungnya dari Cupcake. Gadis gemuk namun manis itu tertawa karena berhasil mengenai Jack. "Wow…, menyerang saat aku lengah, Cupcake," Jack tersenyum sambil mengayunkan tangannya untuk bersiap-siap melempar balik ke arah Cupcake.

Jack membalasnya tanpa segan-segan, tapi Cupcake berhasil menghindarinya dan justru mengenai bagian belakang kepala Monty yang tepat berdiri tidak jauh di belakang Cupcake. Sehingga anak laki-laki berambut pirang itu jatuh terjerembab tepat di depan Sophie yang sibuk membuat boneka salju mini.

"Ohhh… Monty, Sophie," Jack kaget melihatnya karena hampir saja Monty menindih Sophie.

Awalnya, Sophie pun sempat kaget karena Monty dengan sukses menghancurkan boneka salju mini buatan Sophie dengan wajahnya yang terjerembab ke arah depan, tampak kacamata berbingkai merahnya terlepas dari batang hidungnya. Di luar dugaan Sophie justru kegirangan melihatnya.

Lapangan kecil yang tidak begitu luas itu, riuh dengan tawa mereka. Bola-bola salju melayang di udara dan mendarat di setiap tubuh-tubuh mungil mereka yang sangat menikmati kesenangan dalam permainan perang salju itu. Jack juga menikmati bermain dengan mereka, ia benar-benar menyukai suasana seperti ini, melakukan pekerjaan sebagai guardian?! Tentu melakukan ini juga tidak lepas dari kesukaannya, memberikan kesenangan pada mereka dan menjaga mereka. Tepat setahun ia dinobatkan secara resmi menjadi guardian oleh North—seseorang yang berperawakan besar dan tegap terlihat sebagai sosok seorang ayah bagi Jack—berjanggut putih panjang sedada, yang dikenal sebagai Santa Claus. Bagi Jack ini adalah tugas pertamanya sebagai guardian. Ia sempat berdebar-debar ketika melakukannya, meskipun ia sudah melakukan hal-hal yang ia sukai itu selama ratusan tahun tanpa terikat aturan dan tanggung jawab. Hanya saja kali ini berbeda—sekarang ia menyandang jabatan guardian yang mengikuti aturan dan menjalankan tanggung jawab, sebuah jabatan yang sangat disegani oleh "mereka" yang tersebardi seluruh dunia.

Ketika Jack menikmati permainan perang salju, bola mata beririskan birunya menangkap sesosok gadis yang duduk di sebuah bangku di lapangan kecil itu. Si gadis tampak memegang pensil dan sebuah papan kayu—ditompang oleh kakinya yang dilipat. Pensil yang ia pegang dengan cekatan bergerak leluasa di atas papan itu.

"Apa yang ia lakukan di sana?" pikir Jack penasaran.

Jack tidak begitu jelas melihat rupa gadis itu karena wajahnya ditutupi oleh tudung sweaternya yang berwarna putih dengan dalaman berwarna hitam, di sudut tudungnya dihiasi oleh motif-motif rumit yang berenda-renda beserta di ujung lengannya, sweaternya yang berlengan panjang menutupi punggung tangannya, memakai celana pendek berwarna hitam sekitar lima belas sentimeter di bawah lutut, dan sepatu wedges putih dengan hak setinggi lima senti berwarna hitam.

Jack merasa tertarik dengan sosok si gadis yang duduk di bangku itu, sehingga ia terbang mendekatinya. Di balik tudungnya yang putih itu, Jack dapat melihat paras si gadis, sedikit membuatnya tertegun untuk sesaat. Kulit sang gadis putih berseri dengan rona merah di kedua pipi dan ujung jari-jemarinya, hidungnya mancung dan mungil seperti bibirnya yang juga mungil tampak ranum bersinar kecil di bawah mentari, bola matanya beririskan hijau lime dengan sinarnya yang menari-nari di sudut matanya, dan dengan potongan rambut pendek berwarna hitam kemerahan hampir menutupi kedua pipinya.

"Hah, kamu gadis yang cantik, seperti boneka," Jack tersenyum pada gadis itu, tampak si gadis begitu serius dengan sesuatu yang ia lakukan dengan pensil dan kertas berukuran 42x29,7cm di atas papan sebagai alasnya, "mengingatkanku pada snow white saja," ucap Jack tersenyum sembari memegang dagunya. "Hmm, jadi kamu menggambar sesuatu, Snow White?" Jack melangkah mendekat ke samping gadis itu dan melihat apa yang digambar olehnya.

Jack melirik ke arah bidang gambar si gadis, dalam toresan-toresan pensilnya di atas kertas, ia menggambar pemandangan yang terbantang dari sudut penglihatannya. Jack bisa melihat ada teman-teman kecilnya di dalam gambar itu—sedang bermain lempar salju, detail background dan ekspresi anak-anak tampak hidup. Itu membuat Jack kagum, karena meskipun masih berupa sketsa kasar yang terkesan tidak rapi, tetapi gambar gadis itu benar-benar mewakili suasana yang terdapat di lapangan kecil itu.

Senyum Jack mengambang melihat kemampuan si gadis dalam menggambar, "Ho-wow, gambarmu bagus sekali," Jack tersenyum kagum sembari menyentuh bibirnya dengan buku-buku telunjuknya dan menunduk untuk lebih jelas melihat gambar si gadis, "tapi… aku tidak ada di dalam sana," kembali Jack menegakkan tubuhnya, "tentu saja tidak, karena kamu tidak bisa melihatku."

Jack begitu memperhatikan pekerjaan si gadis yang terlihat serius menggambar. Tiba-tiba saja bola salju mendarat tepat di kening si gadis membuatnya merintih.

Jack cukup kaget dengan lemparan yang tiba-tiba itu, "Ouw, siapa yang melemparkan itu?" tanyanya sambil menoleh ke arah teman-teman kecilnya.

Semuanya langsung menunjuk Jamie yang tampak menyesal, terlihat ia mengernyitkan salah satu matanya dan merapatkan kedua kepalan tangannya ke dada. Sedangkan Sophie terdiam dengan memasang wajah bingung melihat kakaknya. Dengan segera Jamie mendekati si gadis yang tampak membersihkan sisa-sisa salju di kepalanya.

Setibanya di hadapan si gadis dengan wajah cemas dan gugup, Jamie berkata, "Sorry, tadi itu saya benar-benar tidak sengaja, sebenarnya lemparan tadi untuk temanku, tapi ternyata ia berhasil menghindarinya dan… mengenaimu," ucap Jamie benar-benar menyesal.

Si gadis tersenyum di balik tudungnya, "Tidak apa-apa, adik kecil," ia membuka tudungnya membuat Jamie terpaku di tempatnya dengan mulut menganga dan mata cokelatnya membulat karena terpesona melihat rupa si gadis. Jack juga sedikit tertegun melihat si gadis yang tampak cerah di bawah sinar mentari, kesannya sangat berbeda ketika ia masih memakai tudungnya.

"Pretty," ucap seorang gadis kecil dengan mata berbinar yang tiba-tiba muncul di samping Jamie.

"Oh… Sophie," Jamie menyetujui pendapat adiknya.

Si gadis memandang sayu sambil tersenyum lembut ke arah Sophie, "Terima kasih, kamu juga cantik dan imut, Peri Kecil."

"Kamu seperti boneka, boneka yang cantik, mengingatkanku pada Putri Salju," puji Jamie malu-malu.

Jack jelas setuju dengan pendapat Jamie, "Haa, kamu berpikiran sama denganku, Jamie."

Gadis itu tertawa, "Terima kasih sekali lagi, sweetheart," mengelus kepala Jamie dan Sophie hingga membuat mereka berdua tersipu.

"Apa itu?" tunjuk Jamie ke arah papan di atas paha si gadis.

"Oh… ini gambarku," jawab si gadis.

"Sebuah gambar, bolehkah aku melihatnya?" tanya Jamie antusias mengingat ia sangat menyukai gambar—menggambar adalah hobinya yang lain.

"Tentu," kata si gadis memberikan kertas-kertasnya pada Jamie.

Jamie menerimanya dengan senang hati, ia terkagum-kagum ketika memandanginya. Tampak Sophie kegirangan karena ia tidak sabaran untuk melihat gambar itu.

"Hohow, aku ada di dalam sana, yang lain juga ada," kata Jamie girang, "Sophie ini kamu," tunjuk Jamie ke arah gambar adiknya, ia membungkuk untuk memperlihatkannya kepada Sophie yang terlihat senang sambil melompat-lompat.

"Hey Guys, lihat ini!" panggil Jamie pada teman-temannya, "kalian ada di dalam gambar ini," sambungnya.

Semua teman-teman Jamie langsung berlari menghampirinya karena bingung serta penasaran dengan ucapan Jamie. Mereka berkerumun di dekat Jamie dan bersama-sama melihat gambar si gadis. Jamie membalik lembaran pertama untuk melihat gambar kedua di halaman berikutnya—ada gambar dirinya yang digambar setengah badan—ia tertawa bahagia sembari mengangkat tangannya yang hendak melempar bola salju.

"Wow, itu aku," kata Jamie lebih girang dari sebelumnya.

"Kamu kelihatan keren, Jamie," kata Claude ketika melihat gambar wajah Jamie, ia sempat mendorong Jamie dengan bahunya dan ditanggapi dengan tawa kecil oleh Jamie.

Jamie dan teman-temannya melihat gambar di halaman berikutnya, ada Sophie di sana dengan wajah ceria dan juga untuk berikutnya: Pippa, Cupcake, Claude, Caleb, dan Monty yang sama-sama memesang wajah gembira, membuat Jack tersenyum senang melihat teman-teman kecilnya yang kegirangan melihat diri mereka digambarkan.

"Mereka sangat lucu," kata gadis itu tiba-tiba, membuat Jack terhenyak ditempatnya mendengar komentar gadis itu.

"Ap… apa yang kamu katakan barusan?" Jack spontan melihat ke arah si gadis, "kamu mengucapkan apa yang aku pikirkan," tambahnya tersenyum.

"Teman-teman kecilku yang manis, apa kalian menyukainya?" tanya si gadis lembut.

"Yeah, tentu!" jawab mereka serempak dengan gembira sembari saling memandang satu sama lain.

"Kalau kalian menyukainya kalian boleh mengambilnya, guys," kata gadis itu membuat Jamie dan teman-temannya tampak tidak percaya.

"Benarkah?" tanya Jamie dengan antusias.

"Tentu saja!" jawab si gadis tersenyum yakin.

Semuanya begitu gembira mendengar jawaban si gadis yang dengan senang hati memberikan mereka gambar potret diri mereka. Jack tertawa melihat pemandangan itu, teman-teman kecilnya benar-benar gambira menerima gambar potret mereka. Pengekspresian wajah mereka begitu beragam, ada yang mengatakan dirinya tampak keren dan yang lainnya tidak yakin bahwa mereka bisa semanis itu, namun wajah mereka tetap tersipu ketika melihatnya.

"Kamu tahu, kamu bisa menarik hati mereka," ucap Jack tersenyum ke arah si gadis yang tampak menikmati kesenangan anak-anak.

"Hahaha, tidak hanya aku," kata si gadis spontan yang kali ini membuat Jack benar-benar terhenyak di tempatnya.

"Eh… ap… apa?" Jack tampak kaget dan bingung—tidak yakin apakah gadis yang di sampingnya itu merespon apa yang ia katakan, "kamu bicara dengan…."

"Nona, bolehkan aku mengomentari gambar Anda?" tanya Jamie memotong perkataan Jack, ia seketika berpaling ke arah bocah bermata cokelat indah itu.

"Hihihi, Aurora Schenberg, kamu bisa memanggilku Aurora, dear," ucap Aurora tertawa kecil karena dipanggil nona dengan tutur bahasa yang formal. Ia menyadari kalau itu kesalahannya karena tidak memperkenalkan dirinya, "dan siapa namamu?" tanya Aurora.

"Jamie Bennett, kamu bisa memanggil saya Jamie, dan ini adikku Sophie," jawab Jamie sambil memperkenalkan adiknya pada Aurora.

Alis Jack tampak berkerut kecil, "Aurora Schenberg!?" gumam Jack, mata beriris birunya tidak lepas memandangi Aurora. Schenberg, ia merasa pernah mendengar nama itu.

"Jadi, apa yang ingin kamu katakan Jamie?" tanya Aurora.

"Gambar ini," kata Jamie sambil memperlihatkan gambar yang penuh dengan pemandangan itu pada Aurora, "menurutku gambar ini sangat luar biasa, aku menyukainya, tapi... ada yang kurang," komentar Jamie.

"Menurutmu apa yang kurang dari gambarku?" tanya Aurora tampak tidak tersinggung dengan komentar Jamie.

"Ng, tidak ada Jack Frost yang juga ikut bermain dengan kami," jawab Jamie polos dengan mata berbinar ke arah Aurora.

"Ja… Jamie?" Jack sedikit kaget mendengar ucapan Jamie yang tidak segan-segan berbicara mengenai dirinya.

"Ta… tapi Jamie, ia tidak bisa melihat Jack Frost," ucap Monty dengan suara kecil, pendapat Monty disetujui oleh temannya yang lain.

"Jack Frost?!" tanya Aurora mencoba menyakinkan kembali pendengarannya karena mendengar percakapan anak-anak itu.

"Kamu tahu dia?" tanya Jamie melihat ke arah Aurora yang berpikir bahwa mungkin ada orang selain anak-anak yang mengetahui tentang Jack.

"Aku… hmm," Aurora tampak berpikir mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Jamie. Sikap Aurora itu membuat Jack, Jamie, dan yang lain sedikit gugup dengan debaran jantung karena menunggu jawaban Aurora. "Tentu, aku tahu dia," kata Aurora akhirnya.

"Benarkah? Tidak semua orang dewasa mengetahui mengenai Jack Frost," kata Jamie girang yang diikuti oleh teman-temannya yang lain, tampak ia mengangkat tangannya ke udara.

"Ya, ketika aku masih kecil, kakekku menceritakan tentang itu, bukankah itu semacam ungkapan," ucap Aurora.

"Heey," Jack tidak suka dikatakan seperti itu, alisnya langsung bertaut ketika mendengarnya.

Terlebih Jamie, ia langsung menurunkan kedua tangannya dengan ekspresi kecewa, teman-temannya juga ikut kecewa, sedangkan Sophie hanya memasang wajah tidak mengerti dengan pembicaraan kakaknya dan yang lain.

"Kamu mengatakan hal yang sama dengan ibuku," kata Jamie dengan suara rendah.

"Aku ingat yang satu itu," timpal Jack.

"Aurora, ia bukan sebuah ungkapan, tapi ia nyata, seperti Santa Claus, Easter Bunny, Sandman, Tooth Fairy, mereka nyata… dan Jack Frost, ia selalu bermain dengan kami, betulkan teman-teman," kata Jamie begitu polos menjelaskan mengenai para guardian yang lansung dibenarkan oleh teman-temannya.

"Okay, aku tahu mengenai Santa Claus, Easter Bunny, Sandman, dan Tooth Fairy, mereka sangat luar biasa!" kata Aurora semangat, mengikuti irama Jamie yang juga tampak bersemangat menjelaskan tentang para guardian. "Tapi… mengenai Jack Frost, aku tidak terlalu mengetahuinya," suara Aurora mulai tenang dan rendah.

Jamie dan teman-temannya saling pandang satu sama lain dengan wajah kecewa, karena Jack yang merupakan teman baik mereka tidak banyak diketahui oleh orang dewasa, selain diibaratkan sebagai ungkapan. Meskipun mereka tidak bisa melihat Jack, paling tidak mereka mengetahui Jack bukan hanya sekedar ungkapan belaka.

Jack pun juga kelihatan sedikit kecewa mendengar pendapat Aurora mengenai dirinya. Sebenarnya ia tidak begitu peduli dengan pendapat orang dewasa mengenai dirinya, cukup jika anak-anak mempercayai dan dapat melihatnya saja sudah membuatnya begitu gembira sehingga ia tidak peduli dengan hal lain. Tapi ketika mendengar lansung pendapat orang dewasa sepertinya halnya Aurora tentang dirinya, ia tidak tahu kenapa hal itu membuatnya tertunduk memikirkannya.

"Mungkin…," ucap Aurora memecahkan keheningan mereka, "kalian semua bisa menceritakan tentang dia padaku," sambungnya sambil tersenyum ke arah anak-anak.

Jack yang sebelumnya tertunduk langsung menegakkan kepalanya, mata beriris birunya menangkap ekspresi Aurora yang tersenyum pada Jamie dan yang lain. Tidak ada kesan senyuman merendahkan ucapan anak-anak, sangat lembut dan hangat. Bola mata beriris hijau lime-nya yang bening menatap sayu, sangat indah. Kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah Jamie yang juga memandanginya—ia tersenyum dan mengangguk pada Jamie. Seketika senyum lebar menghiasi wajah manis Jamie yang bulat.

"Jadi… apa yang kalian ketahui tentang Jack Frost?" tanya Aurora tidak sabaran.

"Ia bisa mengontrol hawa dingin dan es," kata Jamie semangat.

"Yeah… ia juga bisa terbang," timpal Claude tidak kalah semangat dengan Jamie.

"Hahaha, benarkah?" Aurora ikut terbawa emosi mereka.

"Ia sangat keren," ucap Pippa dan Cupcake serempak.

"Dia juga membuat kami meluncur di atas es," kata Monty ikut menambahkan.

"Dan membuat bola salju yang banyak untuk bermain lempar salju," Caleb juga menambahkan.

"Hahaha… wow, sepertinya ia orang yang menyenangkan?" ucap Aurora terkesan, "apakah ia suka bersenang-senang?"

"Yeah… ia selalu bersenang-senang dengan kami," kata Jamie sangat bersemangat, "ia selalu mengunjungi kami dan mengajak kami bermain di hari bersalju."

"Keren," Aurora tampak kagum, "kalian kelihatan tampak menyukai Jack Frost?"

"Hey, hello… Snow White, kamu menanggapi mereka seolah aku teman khayalan mereka saja," Jack tersenyum berdengus melihat tingkah Aurora yang dengan senang hati mendengarkan teman-teman kecilnya.

Jamie, Sophie, dan teman-temannya yang lain berbincang-bincang mengenai Jack dengan Aurora. Sedangkan Jack hanya diam mendengarkan sembari tertawa kecil karena taman-teman kecilnya itu dengan begitu polos menceritakan tentang dirinya dan ditanggapi dengan baik oleh Aurora. Sekali-kali Aurora tampak tertawa ringan ketika Jamie bercerita mengenai Jack yang suka menjatuhkan salju di atas pohon yang menumpuk jika seandainya ada orang yang lewat di bawahnya, menciptakan hembusan udara dingin; membuat jalanan licin sehingga ada yang jatuh terjerembab.

Saat-saat yang disukai Jack adalah melihat wajah anak-anak tertawa ceria dan gembira, itu cukup membuatnya puas terutama kalau itu hasil pekerjaannya. Tapi kini ia tidak menyangka kalau pekerjaannya itu dilakukan oleh orang lain saat ini. Rasa ketertarikannya timbul begitu saja ketika ia melihat Aurora, ia merasa bahwa gadis itu memiliki sesuatu yang sama dengannya, yaitu "kegembiraan".


Bersambung...