Desclaimer: Masih aja Masashi Kishimoto! *tinju tembok(?)*

Genre: Hurt

Warning: Typo? OOC, pendek! de el el

Summary: Entah karena apa, perasaan Sasuke selalu gelisah jika mendaati sesuatu yang mengingatkannya tentang istrinya. Ia mencoba tenang sampai hal itu terjadi di depan matanya.

Prequel Selamanya:

Kisah Kita (bagian 2)

"Hei, teme! Kau kenapa?"

"Tak apa, dobe." Ujar Sasuke yang tiba-tiba menepikan mobil di dekat sebuah perempatan jalan. Ia mengambil handphone di sakunya dan menghubungi rumah ayahnya. Ia menanyakan Hikari, namun ayahnya mengatakan bahwa Hikari baik-baik saja.

"Hinata..." Ia pun segera menghubungi Hinata.

"Moshi moshi?" Sapa suara di seberang telfon.

"Hinata, kau dimana?"

"Aku di sebuah toko sedang menemani Ino. Ia bingung sekali memilih aksesoris."

"Hn. Ya sudah, hati-hati, Hinata."

"Iya..."

Sasuke menghela napas panjang. Seakan baru lepas dari sebuah kesulitan.

"Teme?"

"Tak apa, dobe."

"Dari tadi kau tampak aneh. Ada masalah?"

"Hn. Perasaaku hanya sedikit tidak nyaman."

"Aku saja yang mengemudi. Kau istirahatlah."

"Hn."

Mereka pun keluar dari mobil dan bertukar posisi. Mengemudi dengan kondisi seperti itu, memang tidak baik bagi Sasuke.

Ckiiit!

Brakk!

Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah belakang. Spontan Sasuke menoleh ke arah sumber suara. Rupanya terjadi sebuah kecelakaan.

Orang-orang tampak berkerumun, mencoba membantu. Awalnya Sasuke ingin tak peduli, tapi ia tiba-tiba melihat sosok wanita berambut panjang. "Ino...Hinata!"

Ia segera berlari ke arah kerumunan itu. Begitu menerobos dinding manusia di depannya, tubuhnya kaku seketika.

"HINAATAAAAA!"

Tanpa aba-aba, ia membawa wanita yang beberapa detik lalu tergeletak di jalan setelah tubunya terhempas karena ditabrak sebuah mobil. Degub jantungnya semakin cepat. Aliran darah Sasuke juga seakan mendesir lebih kencang. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Ia membawa...Hinata, wanita yang menjadi korban itu, ke mobilnya.

"Dobe! Cepat ke rumah sakit terdekat! CEPAAT!"

"Ii...iya, teme."

Naruto melaju kencang di jalanan. Ia tak henti-hentinya membunyikan klakson membelah jalanan. Sasuke di belakang, mendekap erat Hinata yang sudah berlumuran darah.

"Hinata! Bertahan! Bertahanlah! Kumohon..." Sasuke semakin erat mendekap Hinata.

"Sasu...ukh...Sasuke..."

"Sudah, diam saja kau!" Ia membentak pelan pada Hinata.

"Sa...sasu..." Hinata tampak kesulitan berbicara.

"Ya...Hinataku?" Sasuke semakin tak bisa membendung air matanya.

"Aishiteru..." Ucap Hinata seakan itu terakhir kalinya ia bisa mengungkapkan rasa cintanya.

"Aishiteru yo..." Perasaan Sasuke semakin tak karuan.

Setibanya di rumah sakit, Naruto segera memanggil paramedis untuk menolong Hinata tanpa perintah. Sasuke membaringkan Hinata di tempat tidur di ruang ICU. Ingin menemani Hinata. Tapi ia tak mendapat izin. Tak henti-hentinya ia mondar-mandir di depan pintu ICU.

"Teme, tenanglah..."

"Bagaimana aku bisa tenang? Itu terjadi di depan mataku, tapi aku tak bisa menghindarkannya dari bahaya!"

"Itu diluar kuasamu, teme."

"Aku benar-benar suami yang tak berguna! Arrgghhh!" Sasuke menjambak frustasi rambutnya. Dinding di hadapannya pun tak luput dari lampiasan kekesalannya pada dirinya sendiri. Ia merasa gagal. Hinata celaka di depan matanya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Tuan Uchiha?" Tanya seorang dokter yang baru keluar dari ruang ICU.

"Ya?" Sasuke bergegas menghampirinya.

"Silahkan masuk. Yang lain, mohon tunggu diluar."

Sasuke bergegas memasuki ruangan. Tak jauh dari pintu, ia melihat istrinya terbaring lemah. Ia mendekati Hinata dan duduk di samping wanita itu.

"Hinata..." Panggil Sasuke lemah.

"Hm...kk...kau cengeng, Sasuke..."

Sasuke membelai lembut pipi Hinata. Diciumnya kening Hinata. Lagi, air mata meleleh di pipi Sasuke, "Ma...af..." Hati Sasuke semakin sakit, "Aku...aku tak bisa menjagamu...hikss..."

"Sasuke...bisakah aku mendapat sebuah pelukan?"

"Tentu..." Sasuke merendahkan tubuhnya dan mendekap Hinata, "Apapun untukmu..."

"Jaga dirimu dan Hikari baik-baik ya, Sasuke?"

"Diam! Jangan bicara seperti itu."

"Tapi..."

"Tidak ada kata tapi! Kau sudah janji akan menemaniku. Kau tak boleh ingkar janji..."

"Nghm.. Iya..." Jawab Hinata. Lalu Sasuke merasakan tangan Hinata membalas pelukannya, "Maaf..." Ucap Hinata lirih. Tapi tak sampai ke telinga Sasuke.

"Aku mencintaimu. Tak akan aku biarkan kau mengingkari janjimu," Sasuke tercekat, "Kau pasti akan baik-baik saja, Hinata. Pasti!"

"Uhm..."

"Kau harus! Aku tak bisa kalau tak ada kau." Sasuke mempererat dekapannya, "Aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin sendiri..."

Dekapan Hinata melemah, "Aku mengantuk, Sasuke..."

"Tidak!" Sasuke melihat monitor Kardiograf, "Jangan, kumohon. Tidak...! Dokter!"

Terlambat. Sesaat sebelum dokter menyentuh Hinata, monitor yang memantau detak jantung Hinata sudah menjadi garis lurus. Alat pacu jantung pun sudah tidak bisa memberikan harapan untuk wanita berambut indigo itu.

"HINAAATAAAA!" Sasuke kembali histeris. Ia mendekap erat-erat tubuh Hinata, "Bangun, Hinata! Kau pasti bercanda, kan? Bangun, Hinata!" Hanya suara Sasuke yang memenuhi ruangan itu.

"Tou-chan..." Hikari mendekati Sasuke, "Kaa-chan?" Tanya Hikari yang entah mengapa air mata membasahi pipinya.

Sasuke kembali memeluk erat Hikari, "Ma...af, Hikari..." Desis Sasuke. Hanya maaf. Hanya kata maaf yang Sasuke bisa ucapkan untuk mewakili rasa bersalahnya, kesedihannya, juga merasa bodoh atas dirinya. Sedangkan Hikari, ia hanya bisa terdiam.

Sejak Hinata disemayamkan sampai dimakamkan, ia tak menampakkan diri. Ia tak mampu menatap tubuh rapuh istrinya yang kini terbujur kaku itu. Kesedihan dan rasa bersalahnya terlalu egois untuk bisa membuat Sasuke mengalah melepaskan wanita itu.

Dua minggu kemudian...

Hari ini, tepat dua minggu setelah meninggalnya Hinata. Hari ini pula, tepat lima tahun ia dan Hinata hidup bersama, andai Hinata masih di sisinya.

Greek..

Sasuke mengambil sesuatu dari dalam laci. Ia berjalan tanpa semangat hidup meninggalkan kamarnya. Tak ada orang yang ia jumpai ketika mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Hening. Sepi. Sunyi. Tak acuh, ia melanjutkan langkah. Cuaca tampak mendung seperti akan turun hujan. Lagi-lagi ia tampak tak acuh. Ia berjalan ke tempat istrinya. Makam. Lima belas menit kemudian, ia sudah berdiri di depan sebuah nisan. Ia meraih sesuatu dari sakunya. Rupanya sebuah kalung. Ya, rencananya itu adalah hadiah kejutan untuk Hinata. Sasuke meletakkan kalung itu di depan nisan Hinata.

"Selamat hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-5, Hinata..." Ucap Sasuke dengan senyum miris.

Ia lalu diam. Hingga hujan turun, ia tak beranjak dari tempatnya.

"Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu. Tapi kau meninggalkanku. Sendiri."

Rutukan kesedihan masih menyelimuti sang Uchiha. Sendiri. Separuh napasnya bagai diambil paksa. Belahan jiwanya telah diambil kembali. Tapi mau tak mau, ia harus menerima itu.

~Omake~

Finish! .
Bikin fic lewat hape emang ngga gampang biar ngga salah nempatin. Ini bukan sequel A.A, tapi prequel.
Yang menjadi inspirasi ini adalah samwan. Gomenasai, waktu itu udah bikin sedih. m(_ _)m
Fic ini juga dibuat atas permintaan reviewers. Semoga tidak mengeceakan ^w^

Daaaaaann... bersediakah untuk memberikan...

.

.

.

.

.

.

.

v

v

v