Disclaimer : I do not own anything. Fans obsession, not for commercial. Anyhow, copyright always Masashi Kishimoto's

Warning : Alternative Universal, fem!Naru, possible!OOC, confusing-EYD, possible!sisipanmixedfandom and other standard warnings

Enjoy, Please~!

.

.

.

Impian Naruto?

Tidak muluk-muluk, kok. Dia cuma ingin Uchiha Sasuke menebar senyum tulus ke seluruh penjuru dunia. Bukan, bukan karena Naruto suka dengan senyumnya. Naruto ingin Sasuke tersenyum tulus, tambahan meminta maaf pada orang-orang yang pernah ia sakiti kalau bisa. Lalu, setelah itu Naruto memanggil para AutoBot untuk membawa Sasuke jauh dari muka bumi, sebagai tebusan berdamai dengan Decepticon. Anggap saja, senyuman itu sebagai pengganti pamit dari Uchiha Sasuke. Lebih bagus lagi, kalau Uchiha sinting itu menyerahkan seluruh harta warisannya pada Naruto seorang.

Aw, man! Naruto tak perlu belajar. Kenyataan umur manusia yang rata-rata hanya mencapai 60-an, membuat Naruto tidak harus menghitung jumlah keseluruhan harta benda Uchiha, lalu membaginya dengan Hukum Gossen. Enam puluh dikurangi enam belas tahun, harta Uchiha tidak akan habis secepat itu. Keluarga Uchiha memang menakjubkan.

Iya, Naruto memang memuji mereka. Dengan senang hati ia akan terus memuji Uchiha, jika mereka tandas ditelan kodok Zuma—tak peduli bagaimana caranya, pokoknya Uchiha harus tandas di perut kodok itu.

Lalu...bagaimana nasib Sasuke di planet Cybertron?

Kenapa pula Naruto harus memikirkannya? Mau Sasuke hidup kek, mati kek, dibikin jadi pembantu kek, dipakaikan baju ala maid cewek kek, bahkan kalau Sasuke jadi tokek juga Naruto tidak peduli.

Sasuke sudah terlalu jauh melangkah ke dalam hidup Naruto yang tak ada duanya.

Pagi indahnya yang selalu dihias oleh tiga alarm, kini disalip oleh alarm tak diundang. Getaran menyebalkan diselingi musik death metal yang akan terus berbunyi jika Naruto tak mau mengangkat ponselnya.

Ya, telepon dari Sasuke.

"Morning, honey~"—sapaan-sapaan menggelikan itu setia membangkitkan keadaan tubuh Naruto. Dari yang lesu-lesu masih ngantuk, menjadi penuh semangat membara.

Semangat? Suara baritone khas ketua geblek itu bikin semangat? Tentu saja! Malah Naruto tak pernah merasa se-semangat ini sebelumnya. Semangat, untuk segera pergi ke sekolah dan menghantamkan wajah Uchiha Sasuke minimalnya ke tembok terdekat. Kalau bisa sih, hantamkan saja ke gudang sekolah yang dipenuhi laba-laba. Tambahan memberi makan laba-laba itu dengan serum PX-41, siapa tahu mereka ingin coba memakan manusia.

Bagaimana kalau laba-laba itu lepas kendali? Beri jelly anti-serumnya saja, seperti yang dilakukan oleh Dr. Nefario. Tapi tidak diapa-apakan juga Naruto tidak masalah. Yang penting Uchiha Sasuke menghilang dari dunia, itu sudah cukup baginya.

Pernah Naruto coba untuk menonaktifkan ponselnya. Sial. Benar kata telenovela yang ditonton Kushina bulan lalu, jika kau tidak berpihak pada siapapun, neutral, kau tidak akan dapat apa-apa. Sudah percaya diri Sasuke tak bisa mengganggu bobo cantiknya, tahu-tahu setiap bangun ponsel kesayangannya itu sudah di pinggir telinganya dalam keadaan menyala.

Tak perlu meminta bantuan detektif SMA yang terjebak dalam tubuh bocah semacam Kudo Shinichi dari fandom sebelah, Naruto tahu komplotan Sasuke pastilah Kurama.

Belum sampai sana, aliansi dua raja tega masih punya efek lain bagi Naruto.

Jika biasanya Naruto berangkat jalan kaki dengan penuh ketenangan, sekali-kali tersenyum pada kakek-nenek yang melewat dengan kilauan gigi emas mereka, perjalanan ke sekolahnya terasa jauh berlipat ganda. Waktunya tetap 40 menitan, tidak melenceng terlalu jauh.

Hanya saja—lagi-lagi, menyelipnya Uchiha Sasuke membuat semuanya berbeda.

Saat Naruto berharap hidungnya mengendus udara sejuk yang kaya akan oksigen, keberadaan Sasuke membuat semuanya bau-bau jomblo ngenes. Bukannya Naruto memfitnah Sasuke ngenes. Okelah, dia tidak mungkin ngenes dengan hartanya yang berlimpah-ruah itu. Tapi tak menutup kemungkinan, Sasuke hanyalah anak manja beranjak dewasa yang merasa kesepian karena Ayah-Ibu sibuk kerja, tak lupa kakak sibuk kuliah. Temannya di rumah hanyalah jajaran maid dan para pengawalnya.

Apa yang akan Sasuke lakukan di mansion semegah itu, huh? Mengajak pengawal main barbie bersama?

Sasuke ngenes karena kekayaannya, dan dia juga jomblo. Jadi tidak salah 'kan kalau Naruto mencapnya begitu?

Nah, perjalanan menuju sekolah terasa benar-benar sepanjang gerbong kereta, ketika Sasuke mulai mengomel dan mengeluh.

"Kenapa tidak naik mobilku saja?"

"Kenapa tidak digendong pengawalku saja?"

Dan masih banyak kenapa yang lain, sampai Naruto jengah dan akhirnya kelepasan menendang bokong Sasuke yang langsung tepar mencium jalan.

Tuh 'kan apa Naruto bilang. Sasuke memang jomblo ngenes. Ciuman aja sama jalan, ada bekas berak anjing pula. Niat mau ninggalin, takut dituduh menganiaya seorang fans. Diikutin terus sama anak ayam ini saja Naruto sudah jengah. Apalagi jika Sasuke jadi fans-nya? No, thanks! Tak berminat membayangkan. Alhasil terpaksa, Naruto cup-cupin Uchiha sinting itu sampai ke UKS sekolah.

Tamat.

Iya, tamat. Bukan ceritanya tapi, Narutonya. Dia benar-benar tamat, di ujung tombak. Ketika buka pintu UKS, bopong si-manja-Uchiha dan banting dia ke atas kasur pake teknik Judo—biar rada keren. Tahu-tahu, telinga ditarik ke atas, sama tangan pucat.

Berbalik, wajah Orochimaru gak jauh dari mata.

Heck... Sekarang hari senin, bagian Pak Orchi yang ngawas petugas UKS.

Yang sial bukan karena jadwal piket si bapak biologi. Lagi-lagi, sial karena keberadaan Uchiha Sasuke dalam radius siaga 1.

Di mata Orochimaru, Sasuke itu murid kesayangannya, yang selalu ia bebasin kalau di Laboratorium Biologi. Mau Sasuke gigitin modul tengkorak, jilatin toples batang dikotil, bahkan sampe emut jasad cicak pun Orochimaru biarin. Apapun yang Sasuke mau, Orochimaru gak bakal nolak. Waktu doi minta Orochimaru bikin nilai Biologi semua murid jeblok kecuali Sasuke pun ia patuhi.

Beda dengan Naruto. Sudah pertama kali diajar ketiduran, pertemuan kedua terjadi skandal artikel 'Orchi si Pejuang Taman Lawang', ketiga mogoknya slide presentasi yang bikin Orochimaru gak bisa ngajar sambil minum kopi, sekarang ia harus tertangkap basah menganiaya murid kesayangannya?

Mungkin di lain hari, Naruto akan berakhir ditelan bulat-bulat oleh pria pecinta ular itu.

Lagi-lagi, Naruto harus hormat-matahari-lima-jam-nonstop. Mending kalau di tengah lapang. Sial sekali, kali ini Naruto terdampar di depan pos gerbang. Diperhatikan dua penjaga sekolah, yang berkedip kelilipan padanya. Jangan lupa jadi tontonan dadakan bagi orang-orang yang melewati komplek sekolah megah ini.

Mau ditaruh di mana muka Naruto. Bisa-bisa kulitnya menyaingi Aomine Daichi kalau begini.

Sanksi selesai, biang kerok datang.

"Come, honey! Kita makan siang bareng!"—katanya, sambil nenteng kresek isi ramen cup dan jus kalengan. Naruto pasang wajah polos, mulai modus.

Apapun untuk ramen!—tekad Naruto, menyingkirkan sejenak kekesalannya untuk pemuda Uchiha itu.

Mereka duduk berduaan, di atas atap sekolah, ditemani elusan udara. Sasuke membiarkan Naruto yang makan duluan. Makannya lahap banget, tepat seperti yang Kurama kasih tahu ke Sasuke.

"Kamu masih laper? Ini kebanyakan buat dimakan sendiri,"Sasuke berdalih, modus ingin makan berdua. Naas, dalam waktu sekian detik, cup punya dia sudah habis tak berisi. Tandas, sampai ke tetes terakhir.

Saat Sasuke memandangnya datar, Naruto bersiul pelan. "Selama itu ramen, pasti kuhabiskan!" gadis itu meninju udara, langsung bangkit dan meninggalkan Sasuke sendirian.

Ah, gak sendiri juga. Dia ditemani dua jus tomat kalengan.

Naruto cengar-cengir tidak karuan ketika kembali ke kelasnya yang sejuk tiada banding. Hukuman dari Orochimaru membuatnya rindu dengan kelas. Apalagi Sasuke sedang di atap, Naruto bisa bersantai menunggu bel masuk tanpa perlu takut diganggu oleh kepala unggas itu.

Ah... Ramen memang enak dan mengenyangkan, apalagi kalau gratis.

Naruto baru kepikiran. Kenapa tidak sering-sering saja ia pinta Sasuke membawakan ramen? Dia anak orang kaya, kan? Uang di dompetnya selembar seratus ribu semua. Belum tambahan kartu ATM yang berjajar di dalamnya.

Naruto tidak pernah tega memalak anak-anak berkemampuan menengah. Mereka masih harus meminta pada orangtua sambil mewek guling-guling. Tidak seperti Sasuke, yang belum berkedip saja rekeningnya sudah membludak.

Naruto punya mangsa baru.

Pulang sekolah, Naruto berhasil lepas dari Uchiha Sasuke. Dia memang sengaja memaku tiap ujung baju Sasuke di bangkunya sendiri. Salah siapa malah tidur waktu bel pulang berkumandang. Dari pada Naruto lari maraton dan tetap terkejar, mending juga masukkin Sasuke ke dalam perangkap.

Beda dengan kelas lain yang gampang kena provokator Sasuke, kelas mereka lebih nurut sama Naruto. Gak ada yang berani protes, waktu dia jailin Uchiha bungsu.

Tetap saja, pulang ke rumah, ponsel Naruto banjir e-mail. Dari Sasuke, siapa lagi?

Sekalipun kontak e-mail itu Naruto simpan dengan nama 'Jangan Dijawab', toh akhirnya dia tetap mengetik jawaban juga. Curhatan Kurama tentang kengenesan Sasuke selama ini bikin dia iba. Katanya Sasuke sering bengong sendirian di kamar, ditemani iler yang terkadang menetes. Bales e-mail gak apa-apa lah. Asal jangan berlebihan, apalagi ngasih kode aneh-aneh. Takutnya salah fokus. Niat ngodein apa, eh malah dikira kode SOS. Berabe, nantinya.

From : Jangan Dijawab

Subject : -none-

Kenapa kau meninggalkanku? Siapa yang menjahiliku, tadi?

Ck. Dia tak tahu apa kalau aku kelelahan setelah ikut kolega-party kemarin

Ngomong-ngomong, kau sedang apa?

Melirik jam dinding yang menunjuk angka sembilan, Naruto menyiapkan segala macam perangkap tikus. Siapa tahu Kurama mau membantu Sasuke menyalakan ponselnya lagi. Ia tak akan lolos kali ini.

To : Jangan Dijawab

Subject : re:-none-

Jangan dipikirkan. Lebih baik kau segera tidur. Jangan lupa, gigi disikat pake sikat WC, odolnya ganti dengan bubuk kamper, biar lebih harum. Cuci muka pake mesin cuci, deterjen-nya takar tiga tutup galon. Dibilas sekali pake pewangi, keringin di tiang jemuran. Kalau susah tidur, minum baygon 3 botol tiap lima menit, berturut sampai dua jam. Enggak mempan? Gak ada reaksi apapun? Berarti baygonnya kadaluwarsa. Nanti kubawakan Sianida, biar lebih terasa khasiatnya.

Tidur jangan salah kasur. Ingat, kamarmu di lantai tiga koridor nomor dua. Jangan yang sebelahnya, itu kamar Itachi. Kau bisa dikira homo, incest pula oleh Tante Mikoto. Dia dan Ibuku sama-sama gila telenovela. Kau tak bisa menebak, apa yang ada di otak mereka.

Jangan-jangan dia mencurigaimu menyukai Paman Fugaku, Sas!

Aku baru mau tidur, habis memasang perangkap untuk musang berekor sembilan. Ada yang bilang kalau makhluk itu benar-benar nyata.

Uh... Jangan terlalu banyak celingukan, Sasuke. Slendrina bisa saja muncul di suatu sudut kamarmu.

Kalau kau bertemu shinigami dan mau mati, bilang padaku.

Aku akan me-reserve hotel untuk pesta kematianmu. Itu akan sangat menyenangkan!

Kutunggu berita selanjutnya~

Naruto menatap puas laporan pengiriman e-mailnya. Ia meraih buku catatan kecilnya, membuka pada halaman dimana ia menulis rumus absolut a la Uchiha Sasuke. Mengambil pena merah, Naruto memberi catatan kaki di bawah rumus absolut itu.

P.S : Kadar keabsolutan Sasuke=Meragukan. Harus dites secara berkala di ITB dan IPB.

Setelah itu, ia tertidur. Tidak ingat untuk mematikan ponselnya.

.

.

.

"Yang Benar Saja"

Chic Proudly Present

.

.

.

Bertukar Sementara

Libur telah tiba, horrey!

Naruto bernyanyi a la anak TK. Tas ia lempar sembarang arah, melayang ke meja, menyenggol lampu belajar hingga jatuh berbantal-bantal(bosen berguling-guling melulu, terlalu mainsetrum). Seragam ia buka a la Superman, sampai kancing lompat semua. Sabuk ia lepas, langsung ia lempar asal-asalan—kebetulan kena Kakek Tazuna, tukang kebun Naruto yang sukses tepar seketika.

Naruto memang jagonya headshoot.

Rok seragam kurang bahan dari SMU Izanami itu Naruto injak-injak. Ia tertawa keedanan, libur musim panas sudah datang. Seragamnya dibuka begitu, Naruto mau bertelanjang, belajar praktek video 18 tahun ke samping? Enggak juga. Naruto pake baju berlapis kok. Iya dilapis, pake atasan jaring-jaring, bukan jaring nelayan atau jaring Spider-Man, walau itu yang ditakutkan. Celana boxer hitam gambar barbie death metal hadiah ulangtahun dari Kurama, ia pakai sebagai bawahannya. Tinggal tambah armor anti peluru—oleh-oleh hasil piknik ke markas FBI tahun lalu, terus berlari di pusat kota dengan tawa edan, Naruto dapat tiket gratisan liburan ke Rumah Sakit Jiwa.

Setelah meyakinkan diri-seyakin-yakinnya kalau Kurama dan Kushina ada di rumah, sibuk main kartu remi dengan taruhan yang kalah harus berdiri telanjang di atas gardu komplek mereka, Naruto menerjang kekasih hidupnya—springbed King-size berlapis seprai mie ramen, lalu memejamkan mata, mau tidur hiberpadi(bukan hibernasi, karena ini bukan musim dingin). Atau kalau tidak begitu, Naruto memilih menalikan gorden d leher, berpose a la Superman di depan kipas angin menyala. Setelah itu menerjang kaca jendela hingga pecah dan terjun ke kolam renang—yang kebetulan memang berada di bawah jendela kamarnya.

Yah... Naruto memang rada ekstrim soal mengekspresikan diri. Mafhumkan saja, di saat anak lain main masak-masakkan pakai pisau plastik, Naruto asyik mengiris kodok percobaan Kurama menggunakan pisau bedah ayahnya. Seharusnya Naruto menjadi tersangka utama terpidana kasus mutilasi saat itu. Tapi beruntung sekali, kesaksian Kodok Zuma menyelamatkan bungsu Namikaze-Uzumaki ini dari ancaman boogieman.

Tapi begitu sampai di rumah, semua imajinasi sepanjang perjalanan itu menguap begitu saja. Naruto membeku di ruang tamu, meragukan kemampuan penglihatannya sendiri. Di sana, di sofa, di tengah Kurama dan Ibunya, duduk dengan tenang seonggok kepala pantat pertengahan antara bebek dan ayam.

Iya, Uchiha Sasuke yang itu. Yang membuat Naruto diteror satu bulan penuh oleh setan Izanami alias gerombolan fans Uchiha Sasuke. Mungkin mereka lapar, sampai-sampai rajin mengacungkan garpu di depan wajah Naruto. Mau Naruto traktir makan, merekanya malah ngajak main kucing-kucingan. Hah, memang sulit, jadi orang keren. Tapi Naruto berterimakasih juga, karena mereka begitu perhatian dan rajin mengirim kertas bertuliskan "kau akan mati, Namikaze", lengkap dengan capslock, bold, italic, underline, tinta merah type ALGERIAN pt maximal, tambahan cap bibir sexy lips di sudut kanan bawahnya. Menyadarkan Naruto bahwa dia itu seorang manusia, bukan bidadari sebagaimana orang lain menilainya. Ia tobat, menyerah untuk membohongi semua orang. Mulai sekarang Naruto akan jujur, kalau dia memang malaikat paling cantik yang pernah dilahirkan oleh Uzumaki Kushina.

Kembali pada Sasuke.

Pemuda itu terlihat akrab berbincang dengan Kushina. Naruto mulai khawatir, saat tatapan lembut nan langka dari sang ibunda mengarah padanya. "Syukurlah, Naruto! Selama liburan Sasuke akan menginap, menemanimu dan Kurama di rumah,"ucap beliau, sambil menghampiri dan mengelus rambut Naruto. "Jadi, Ibu tak perlu khawatir meninggalkanmu, dan bisa tenang selama Tour Shopping bersama ibu-ibu arisan,"Kushina menyeret koper, sudah berkemas rupanya.

"Ibu pergi sampai kapan?"Naruto bertanya, mulai was-was.

"Sampai liburanmu selesai, nanti. Kalau Ayahmu sudah puas bermain dengan ebola di Afrika, dia akan menyusul Ibu. Kalian betah-betah di rumah, ya! Adios~" Kushina berangkat, menutup pintu perantara dunia luar dan dunia rumah damai—yang sebentar lagi berubah.

Melirik ke belakang, Naruto mendapat seringai mengerikan daru duo member aliansi Raja Tega. Tanduk iblis imajiner mulai tumbuh di kepala keduanya. Naruto bersumpah, Lucifer kalah menakutkannya dari Kakak dan Kompetitornya itu.

Naruto mulai berpikir, didandani a la boneka santet oleh ibunya terdengar lebih menyenangkan daripada liburan di rumah.

"Apa rencanamu, Sasuke?"

Naruto sadar, dia salah. Bukan libur yang telah tiba.

"Kau juga tahu apa yang ada di dalam kepalaku, Kurama,"

Naruto terkekeh gugup.

Dua iblis, telah tiba di hadapannya.

.

.

.

Mungkin saja, ini jadi liburan terakhir Naruto.

.

.

.

Seperti liburan-liburan yang sebelumnya, pemerintahan wilayah dapur dialihkan sementara pada Naruto, tanpa terikat dengan sistem sentralisasi, otonom, atau apapun yang disebutkan guru Kewarganegaraan. Iya, Naruto ingat, saat kecil ia memang sering meledakkan dapur. Tapi setelah dijelaskan oleh Ibunya bahwa bahan-bahan yang digunakan Naruto ngaco, alhasil dia mulai bersahabat dengan bumbu dapur dan semua sanak saudaranya. Memang salah Naruto sih, yang minta diajari cara mencampurkan bahan dengan takaran pas, pada Kurama yang anteng meneliti letupan cairan di Lab pribadinya. Alhasil bukannya mencampurkan dua sachet bumbu penyedap rasa 7gr ke dalam air mendidih, Naruto malah memasukkan Natrium, tambahan memasukkan gelas Kimia bekas klorida. Atau pernah juga mencampurkan permen dengan Kalium Klorat-KClO3.

Yeah, Naruto memang jagonya memasak.

"Aku mau bentuk Ryuk, Sasuke minta Jack Frost lagi ngeden,"

Ah, hampir saja lupa. Naruto belum memberitahu alasan ia jadi malas memasak, ya?

"Gimana caranya aku bisa tahu wajah Jack Frost lagi ngeden?"Naruto menggerutu, mengacungkan dan menodongkan tongkat keramat dapur, alias spatula, tepat ke hidung Kurama.

Kakaknya menggendingkan bahu. "Sekarang masih pagi. Kenapa tidak kau coba mengintip ke kamar mandinya? Siapa tahu Jack Frost sedang setor,"ucap Kurama, melengos tanpa dosa.

Oh, damn great! Jack Frost lagi ngeden? Boro-boro susun resep, kebayang juga kagak!—Naruto menggerutu dalam batinnya.

Yeah!

Terimakasih pada Kurama dan Sasuke, Naruto jadi benci kepandaiannya dalam bidang memasak. Dua raja tega itu meminta dimasakkan makanan a la bento bocah SD, yang dibentuk sedemikian rupa membentuk wujud suatu karakter. Mending kalau pesanannya normal. Lha, ini? Mulai dari Spider-Man ngakak, Hulk Jatuh cinta, dan sekarang, Sasuke minta Jack Frost lagi ngeden?

Uh-oh. Apakah selanjutnya Sasuke akan meminta bentuk Raikage A pakai bikini?

Ini lagi Kurama, menyuruhnya membuat karakter ribet sekaliber bakemon. Ghoul, Shinigami, Juubi, dan banyak lainnya. Lebih parahnya lagi, dua pengganggu liburan idaman Naruto itu terus mengomel hasil jerih payah Naruto menguras otak untuk mengurai resep dadakan. Ngomel iya, mengolok iya, ngabisin iya, nyuruh iya, gak pake bon terimakasih pula. Tambah lagi kerjaan keduanya selain memerintah Naruto sesuka hati hanya bermain PS, menghabiskan bukit cemilan di persediaan Naruto, kalau lagi kena PMS.

"Naruto! Minuman kaleng habis! Beli ke pasar rametuk, gih! Ingat, pasar rametuk, gak boleh di supermarket!"

Sejak kapan, pasar tradisional yang memiliki bau semerbak itu menjual minuman kaleng?

.

.

.

Kumplit sekali liburan Naruto kali ini.

.

.

.

"Bangun, heh, kebo!"

Naruto menendang Kurama dan Sasuke, keduanya mencium lantai dengan mesra. Ah, sial. Naruto harus ingat untuk mengancam mereka menjilat lantai sampai bersih mengkilat. Kemarin Naruto baru saja mengepel, dan ciuman Kurama-Sasuke masih bau jigong, penuh bakter dan kuman tidak sehat. Naruto tidak rela, wilayah kekuasaanya untuk mengepel ternodai oleh jigong mereka. Uhh, Naruto harus melakukan sterilisasi secepat mungkin.

"Apa yang kau lakukan?!"

Kurama dan Sasuke duduk berhadapan, saling mengusap wajah satu-sama-lain, berdo'a agar ketampanan mereka tetap sewajarnya. Karena kalau mereka menghantam lantai dan—oh, god—jadi semakin tampan seperti Squidward, mereka bisa membuat semua wanita di dunia ini mati jantungan dan kehabisan darah.

Mungkin terkecuali, gadis kurang normal yang saat ini berdiri bersidekap, di atas kasur Kurama. Menginjak-injak teritori tahta sulung Namikaze-Uzumaki itu. Ya, terkecuali Naruto, satu-satunya manusia yang sampai hati menendang kedua pemuda tampan ini disertai pelototan tajam.

Jika Naruto normal, dia pasti jatuh pada pesona absolut Kurama dan Sasuke—Duo Raja Tega's Logic...bffft.

Kembali pada Naruto, gadis itu melempar dua sikat WC basah, sukses mengenai kepala Kurama-Sasuke yang benjol seketika.

"Pakai baju olahraga kalian. Aku tak mau disalahkan atas terjangkitnya kalian terhadap obesitas menahun. Kalian terlalu banyak makan, tapi hanya duduk main PS. Kalian harus ikut aku lari pagi keliling komplek!" Naruto lompat turun, merapikan kasur sang kakak. Perkataannya sudah menyerempet intonasi absolut khas ibu-ibu pada anak mereka. Maklum, sedang kesal. "Sikat gigi kalian pakai sikat yang kulempar. Kamper bubuk sudah kusiapkan satu karung, bonus satu runtai sabun colek anti bakteri—jangan lupa telan! Agar mulut kalian steril dengan 4 tahap pemurnian,"sambungnya, menggurui. Gadis itu berjalan keluar, lalu menutup pintu sekeras yang ia bisa.

Syukur-syukur engselnya tidak rusak.

Kurama dan Sasuke mulai saling tatap. Hati mereka berdesir, background badai salju mengelilingi mereka. Kesabaran Naruto yang mulai menipis ternyata membalikkan keadaan. Jika Naruto mode dongkol-tapi-pura-pura-tidak-peduli tetap menonjolkan keabsolutan dua raja tega, Naruto mode blak-blakan benar-benar menyeramkan. Persis ibu mereka.

Keduanya saling menggeram, menatap jijik pada sikat WC, yang susah payah Naruto dapatkan dari hasil menolong tetangga sebelah mengorek WC tetangga yang keselek dua sikat tersebut. Cara mengoreknya? Iya, Naruto pake tangan. Tangannya Kakek Tazuna. Gak mungkin Naruto celupin tangan indahnya ke kubangan tidak steril itu.

"Sasuke..." "Kurama..."

Dua-duanya mulai mewek, ngeri membayangkan jika mereka harus mengikuti tata-cara membersihkan badan yang baik dan benar a la Chef Naruto. Diam-diam mereka curiga. Kalau Naruto rajin mengingatkan mereka untuk sikat gigi pakai sikat WC, jangan-jangan gadis itu menuangkan body foam ke jaring tenis meja? Body foam yang dipakai pastinya sabun cuci piring, biar kulit cerah mengkilap—bebas kuman, tanpa perlu memakai body lotion tambahan. Lebih ekonomis lagi, sabun cuci piring tersebut Naruto gunakan untuk program diet, ia telan satu bungkus 40gr per harinya.

Lemak bandel di piring saja tandas, kenapa tidak pula pada badan?

Sasuke-Kurama mengangguk yakin, perkiraan mereka tentang teknik mandi Naruto memang benar adanya. Mereka memang jenius.

Tapi keduanya sadar, mereka hanya manusia haus kepastian yang butuh bukti akurat. Satu-satunya jalan menguji persentase akurasi deduksi mereka itu hanyalah...dengan mengintip Naruto mandi saat itu juga.

"...Setuju?" Sasuke bertanya, memastikan rencana tak tertuang dalam lisan yang sama-sama bergerak dalam otaknya maupun Kurama. Kurama mengangguk, lalu menopang dagu.

Pemuda itu sedang berpikir, seberapa banyak keuntungan yang didapatnya dengan mengorbankan waktu jadwal main PS mereka, menggantinya dengan mengintip Naruto—tak lupa menyandingkan taksiran untung-rugi itu dengan Hukum Jual-Beli-Harga-Pasar yang didapat Kurama semasa SMA dulu.

"Rugi, bro,"ucap Kurama, ketika sampai pada titik koordinat kartesius kurang dari 50% keuntungan. Wajahnya berubah madesu. Dengan rambut liar macam singa baru bangun tidur, jejak iler di ujung pipi, mata merem-melek setengah mengantuk. Dia yakin dia tetap keren.

Sasuke menghela nafas. Dia mengerti isyarat terbatas dari Kurama, karena dia sudah cukup dewasa untuk mengetahuinya. Sasuke bersumpah, ia sudah berhenti minum susu formula pertumbuhan ekstrak rasa tomat sejak seminggu yang lalu. Dia sudah dewasa, bukan?

"Iya, benar. Gak ada untungnya. Papan datar begitu mana enak dilihat. Kurang lekukan, gak menggoda sama-sekali,"kata bungsu Uchiha itu, sambil menggaruk pantatnya yang berlapis boxer warna pink bermotif bunga-bunga itu.

Sebelum keduanya mencoba jadi jantan, mengambil resiko kerugian, memulai menyusun misi pengintaian dengan modus membuktikan deduksi mereka, pintu terbuka keras—sudah mirip dengan adegan di film horror saja. Bukan makhluk astral yang muncul, ini lebih mengerikan. Sesosok gadis berambut pirang kuncir dua, muka merah terbakar karena marah, kepala dan telinga mulai berasap, dan paling penting yang mengangkat mesin penyedot debu. Rupanya Naruto masih mangkal di depan kamar Kurama—lanjut beres-beres rumah. Mesin penyedot itu ia lempar, tepat mengenai kepala Kurama dan Sasuke secara bergantian. Keduanya otomatis tepar, tak perlu diperintah, dengan kepala benjol bertingkat. Masih untung tidak gegar otak juga.

Hell yeah, tak perlu dipertanyakan lagi. Naruto memang jagonya headshoot.

Memastikan dua iblis itu aslian tepar, Naruto menyeringai sadis. Gadis itu kembali ke kamarnya, mengambil peralatan menggambar. Dia sengaja menelanjangi Kurama dan Sasuke, memfoto mereka bertelanjang hanya memakai celana dalam. Bukan, Naruto bukan fans berimajinasi liar maupun paparazzi kurang kerjaan. Naruto mau mencetak foto itu, untuk urusan komersil. Jual ke jajaran fans mereka, taruh harga 5000¥ per lembar. Lumayan buat nongkrongin Ichiraku Ramen.

Selesai dengan urusan perut, Naruto mulai mengeluarkan bakat terpendamnya. Ia lukis wajah Kurama dan Sasuke, ia buat lebih 'lucu' dari boneka Annabelle. Badan mereka Naruto buat sebagai penuang design baju. Dress Snow White untuk Sasuke, tarzan kerasukan Kuchisake Onna untuk Kurama.

Aw yeah...! Naruto memang seniman hebat.

Memastikan Sasuke dan Kurama tidak bangun dalam waktu dekat—inginnya sih selamanya, Naruto menyuntikkan obat bius pada keduanya. Membereskan kembali peralatan keramatnya, Naruto menyeret mesin penyedot debu, melanjutkan tugasnya.

Lari pagi keliling komplek terlupakan, Naruto mulai membayangkan kunjungan berkala ke kedai Ramen ternama di hatinya itu.

.

.

.

Dan, ah... Bermangkuk-mangkuk ramen jumbo.

.

.

.

Author's Note

Nih, yang minta dilanjut. Chic kayaknya mulai berencana menambah chapter "Yang Benar Saja", selagi otak masih bisa bersuara.

Gimana? Apakah sudah cukup somplak?

Kritik dan Saran selalu diterima. Kalau ada yang mau usul 'plot' juga boleh. Misal, "Chic, gimana kalau chapter depan Sasuke beneran jadi anak ayam, terus Naruto kesulitan mengerti isyarat 'ciak-ciak'-nya Sasuke?"

Setting tempat tidak benar-benar mengikuti kebudayaan aslinya. Sekali lagi, ini hanya hasil obsesi seorang fans dan kegilaan otaknya.

Jawaban review :

~Khioneizys

Ini udah lanjut. Masih suka?

~Aiko Michishige

Makasih sudah dibilang keren, walaupun lebih kerenan yang buat daripada ceritanya. *narsismode* Sekarang imbang, kan? Khukhu~ Naruto tidak akan kubiarkan menderita begitu saja~

~ikatriplesbingers

Naruto emang sial, khu~ Iya enggak end. Gimana chapter ini?

~Xiaoo

Ini udah '3'

~Snlop

Dia memang jagonya kena sial :v

Entah ini sequel atau lanjutan...Gimana nih?

~Guest

Khukhu... Butuh lebih dari ucapan selamat untuk diberikan pada Naruto. Dia benar-benar mendapat jackpot atas terjadinya aliansi dua Raja Tega. Karena mereka biasa bermusuhan itulah Chic bikin mereka beraliansi. Biar greget, khu~

~hanazawa kay

Selama mereka dikontrak tanpa bayaran oleh Chic, kebahagiaan mereka patut dipertanyakan. *grin*

~Arum Junnie

Iya deh, enggak end. *chuckles* Seriously, cinta mati? Okeh, akan Chic coba. *mental notes : prepare with unexpected love-style*

~Aristy

Humor dapet? Syukur deh, walaupun Chic sama sekali enggak menempatkan fanfic ini dalam genre itu. Kalau untuk family Chic memang merencanakannya. Hmm...kasian? Jangan terlalu cepat kasihan, masih banyak keabsurd-an yang akan dia hadapi :v Bffft... Sasuke suka Naruto? Harus diuji dulu ke ITB dan IPB.

Orochimaru di sini guru paling serius bin killer, image banci cuman sebagai persyaratan ujian masuk klub Jurnalis yang Naruto hadapi. Ah, ini dibilang awesome? *berlinang air jamban* thanks!

~ .948

Chic juga suka *salah fokus*

Nih dah lanjut :v

~Hibari-Sayaku Shiina

Member aliansi Raja Tega punya segudang rencana untuk Naruto, tenang saja

Dan, ya... ini sudah dilanjut

Jelas gak diterima. Naruto masih menganggap Sasuke Kompetitor, lagian mereka mengenal baru sembilan hari. Nasib Naruto? Bantu do'a saja agar dia tidak menderita :v Sasuke? Serius-gak-serius, sepertinya.

Iyaa ini udah lanjut kok :v

~UzumakiDesy

Chic memang keren *lagi-lagi salah fokus*

Iyaa ini dilanjut kok

~Kris hanhun

Ok siap. Jika ide memenuhi :v

~Guest(2)

Aku sudah bertabah, bunda :'v

~kenozoiky

Terimakasih sudah dibilang bagus dan makasih untuk masukannya. Sebagai klarifikasi, Chic tidak menyebutkan letak pasti setting cerita ini. Anggap saja ini adalah negara fiksi 'Konoha' sebagai kerabat dari Nippon a.k.a Jepang. Untuk pencampuran sistem pendidikan, ini sebuah tantangan dari seorang teman, sekaligus media curhat Chic untuk pelepas pikiran.

Tidak apa, tak usah segan mengungkit segala keganjalan yang ada dalam cerita ini. Chic hanyalah seorang manusia yang jauh dari kesempurnaan. Tentunya hasil kreasi otak ini pasti memiliki banyak kekurangan.

Terbuka saja dengan Chic, jangan sungkan

Terimakasih sudah berkunjung

~levfus kit

Naruto bukan sekadar senang. Dia amat-teramat-sangat senang :v

Silahkan tunggu sampai bulukan *ehh*

Fave? Silahkan, dan terimakasih XD

Nah... adakah yang terlewat?

Jujur Chic cukup kaget, saat tahu 17 review sudah muncul dalam waktu lebih kurang dua hari. Jadi semangat nih, untuk melanjutkannya

Oh ya... Sistem ff ini berlanjut dengan wujud sequel/pre-quel. Jadi dibaca terpisah, namun tetap berkaitan.

Thanks untuk segala jenis reward yang kalian berikan.

Any question?

Sekian terimagaji,

Chic White

(Possible!Chic-ken *roosting*)