My Little Brother
.
Cast :
Kim Jongin, Oh Sehun –Kim Sehun-
Cameo :
Kim Heechul!GS, Kim Youngwoon –Kim Kangin-, Kim Kibum!little, etc
Rated : T
Warning!
Typo(s), bad plot, bored, OoC, Common, Genderswitch (GS)
Disclaimer :
All Cast belong to GOD and themselves. I just OWN this plot story.
.
DONT BE PLAGIATOR!
.
DONT COPY!
.
DONT BE SILENT READER!
.
.
.
Enjoy Reading!
.
Hyun line 98, so... mau panggil Hyun/Hyunnie terserah asal jangan panggil Thor/Author. biar akrab gitu :3
.
.
"' Melihat caramu tersenyum, menangis, tertawa, merajuk... Dan semua yang ada pada dirimu, aku merindukannya. Jika diberi sekali lagi kesempatan, aku hanya ingin mengatakan maaf dan aku menyayangimuーMy Little Brother '"
.
Next Day
[09.01 am]
"Engh... Jongie?"
Sehun mengucek matanya yang terasa sembab akibat semalam.
Entah ia hanya mimpi atau itu kebetulan, tapi satu hal yang ia tau semuanya terasa nyata.
Sang Eomma cantiknya mencium keningnya dan mengucapkan Happy Birthday serta maaf, laluー
ーMereka pergi bersama adik kecilnya yang menggemaskan, meninggalkannya seorang diri, yang ia lakukan hanya bisa menangis dan meraung memanggil keduanya.
"Kenapa terasa mimpi itu begitu nyata?"
PRANGG
Sehun yang kini berumur 8 tahun yang masih terduduk di atas tempat tidur sedikit terkejut mendengar suara pecahan barangーlagi.
"Apaー mereka sedang menyiapkan kejutan ya? Tapi aku akan tau lebih dulu"
Senyuman polos khas anak kecil terukir di wajahnya, ia segera menyibak selimut dan berlari menuruni tangga dengan langkah yang hampir tak terdengar.
"A-Appa? Kenapa vas bunga Eomma pada pecah?"
Sehun berjalan menghampiri Kangin yang terlihat berantakan, bahu tegap milik Ayahnya itu terlihatー bergetar?
Apakah Ayahnya tengah menangis?
"Appa? Gwaencanha?"
Ia tau jelas-jelas Kangin terlihat tidak baik-baik saja, tapi justru ia bertanya hal yang sudah ia tau.
"Maafkan Appa, Sehun-a. Maaf"
Sehun menaikkan salah satu alisnya tanda tak mengerti, begitu ia berajalan mendekati Kangin ia merasa menendang sesuatu dan melihat kearah benda yang ditendangnya.
"Ini apa?"
Ia memungut kertas yang sudah di remas dan berbentuk bola itu.
TESS
TESS
"Hiks..."
Sehun terisak, tangannya bergetar memegang kertas ditangannya yang telah jatuh dari tangannya.
Bagaimana mungkinー
"Appa hiks... Eomma dan Jongie, meninggalkan kita?"
ーMimpi itu terjadi?
Tak ada jawaban, dan Sehun tau itu benar.
"A-Aniya, Jongie-Ku tidak akan meninggalkanku. Aniya Appa, Jongie semalam mengatakan kita akan selalu bersama hiks... Semalam ia memberiku hadiah hiks... Semalamー"
Belum menyelesaikan ucapannya, ia sudah jatuh terduduk begitu merasakan kedua kakinya terasa lemas.
Ia menangis, di hari ulang tahunnya ia menangis.
Ia memang mengharapkan kejutan seperti tahun-tahun sebelumnya tapiー
ーBukan kejutan seperti ini yang ia inginkan.
Bukan kejutan dengan kedua orang yang ia sayangi meninggalkannya.
Ia juga tak pernah menginginkan sebuah kado yang besar, tapi kali ini kado yang ia dapat terlalu besar hingga ia meneteskan air mata.
Ia selalu meminta permohonan ketika tengah malam saat ia ulang tahun, agar Jongienya dengan dirinya mereka selalu bersama, tak terpisahkan.
"S-Sehun rasa, Jongie sama Eomma lagi pergi hiks... Menyiapkan kejutan untuk Sehun kan Appa? Hiks... Katakan itu benar Appa hiks..."
Kangin menatap Sehun nanar.
Diangkatnya Sehun kecil kedalam pelukannya dan berusaha menenangkan anak sulungnya yang kini menangis.
"Sehun-aー"
"Jongie berjanji kita akan bersama Appa hiks... Jongie hanya ingin memberi kejutan padaku, ia hiks... Tidak akan meninggalkanku. Tidak Appa hiks..."
"Sehun, mereka berdua pergi meninggalkan kita. Mereka tidak akan pulangー"
"Aniya hiks... Appa jangan katakan itu jebal, eo? Aku tidak akan minta apa-apa, aku hanya ingin Jongie disini hiks... Aku tidak minta apa-apa Appa, hiks..."
Sehun menatap Kangin memelas.
Ia tak tega melihat anaknya yang kini bersamanya menangis di hari ulang tahunnya.
Ia tak menyangka Heechul bersungguh-sungguh akan ucapannya semalam, tapi mengapa ia tega melakukannya ketika Sehun sedang ulang tahun?
"Mianhae Sehun-a..."
"Lepas Appa, hiks... Sehun akan membuktikan Jongie sedang pergi membuat kejutan hiks... Jongie hiks... Aku hanya mau Jongie Appa"
"Maafkan Appa, Maaf..."
Sehun memberontak, tapi Kangin yang memiliki tenaga lebih kuat mampu menahan Sehun.
Hingga ia menyerah, kini Sehun menangis di dada sang Ayah.
Dan cuaca pun turut menangisー
ーdi ulang tahun terburuknya dan akan selalu buruk hingga kedepannya, tanpa sosok adik menggemaskannya disisinya.
_ooOoo_
29.12.2009
U.S.A
[10.31 am]
"HYAAA, JANGAN MENGEJARKU PENGAWAL IDIOT!?"
"TUAN MUDA, BERHENTI DISANA!?"
"ENAK SAJA, KALAU AKU BERHENTI NANTI AKAN DITANGKAP LAGI!? TIDAK MAU!?"
Namja bersurai caramel itu terus berlari dengan beberapa orang berpakaian formal mengejarnya di belakang.
"Maaf... Maafkan aku"
Pemuda itu terus meminta maaf meski kedua kakinya terus berlari, sesekali ia menghindar agar tidak menabrak orang-orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Hosh... Hosh... Capek"
Dadanya berulangkali terlihat naik turun ketika bernafas, hingga sebuah suara yang membuatnya merapatkan dengan dinding belakangnya dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Aish... Kemana larinya tuan muda? Sebaiknya Kita berpencar"
"Baik"
Ia menajamkan pendengarannya, namun tak terdengar suara pengawal yang mengejarnya.
'Apa mereka sudah pergi?'
Ia melihat keadaan sekitar dan sebuah senyuman terlukis di wajahnya yang penuh dengan keringat.
"Akhirnya aku bisa lolos. SEOUL, I'M COMING!?"
Namja itu berteriak cukup keras hingga ia membungkuk minta maaf menyadari orang-orang menatap aneh dirinya.
Dalam balutan celana jeans dan kaos v neck ia berjalan menenteng tas merah di bahunya, berjalan menuju bandara yang berjarak tak jauh dari tempatnya.
SEOUL, at Perpustakaan Kota
[17.45 pm]
"Sehun-a, Jebal... Apa kau tak mau mengajariku? Kau jahat"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya, menatap sahabatnya yang kini sibuk dengan buku di tangannya.
Sehun hanya bisa menghela nafas, sudah setengah jam namja bersurai hitam itu memohon padanya untuk diajari Matematika oleh dirinya.
"Terserahmu, aku mau kembali ke asrama"
'Terserah berarti iya kan?'
Baekhyun yang sibuk dengan pemikirannya, tak menyadari Sehun yang sudah berjalan keluar dari perpustakaan menuju halte bus untuk pulang.
Kim Sehun yang sekarang bukanlah Kim Sehun yang dulu, yang suka menjahili orang, mudah berbaur, cerewet dan... Selalu tersenyum
Ia kini layaknya sebuah robot, dingin, keras, kaku, pendiam, penyendiri, jarang berbicara dan tak ada lagi senyuman di wajahnya sejak 9 tahun lalu.
Bahkan ketika ia ulang tahun pun tak pernah ia rayakan atau menikmatinya sendiri.
Bahkan ketika teman-temannya mengadakan kejutan untuknya, ia akan merusak seluruhnya dan berlalu pergi.
Berakhir ia yang menangis seorang diri di kamar dalam kegelapan malam.
Ia juga bukanlah Sehun yang selalu memilih-milih makan.
Sejak Kangin meninggal, 2 tahun setelah ia 'ditinggal' oleh 'mereka', tak ada yang tersisa untuknya.
Seluruh harta Ayahnya disita dan ia di pindahkan ke panti asuhan.
Menyedihkan bukan?
Ia tau, hingga umurnya mencapai 15 tahun ia memutuskan untuk menjalani hidup seorang diri.
Tak ada yang spesial dalam hidupnya yang sekarang.
Ia bangun, lalu mandi, tanpa sarapan ia akan bersekolah atau bekerja jika tak ada jadwal kuliah, setelah itu pulang, makan seadanya -itupun kalo ia ingat- dan tidur.
Simple bukan?
Beruntung ia bersekolah mendapat beasiswa jadi meringankan sedikit bebannya dan juga asrama yang sudah di sediakan.
Diumurnya ke delapan belas - itu berarti tahun depan-, ia sudah berkuliah jurusan Kedokteran semester 3 seperti cita-citanya ketikaー
ーia masih kecil.
Kenangan masa lalunya yang membuat ia begini, karena masa lalu itu merenggut kebahagiannya, karena masa lalu ituー
ーia selalu menangis tiap tahunnya meski ia sudah berjanji.
BRUKK
"Aish... Mian, Jeongmal mianhae"
Namja berambut caramel di hadapannya terus membungkuk meminta maaf, sedangkan Sehun hanya menatapnya datar, tanpa berucap apapun ia mendudukkan dirinya di kursi halte.
"Aku Kai, namamu siapa?"
Namja itu sudah duduk di sebelahnya, menjulukan tangannya untuk berkenalan.
"Sehun"
Sebenarnya ia tak ingin menyahuti ucapan anak disebelahnya yang terlihat habis kabur dari rumah -sebenarnya memang begitu-, tapi entahlah ia sendiri tidak tau.
Tanpa di perintah bibirnya mengucapkan namanya sendiri.
Namja berambut caramel yang di ketahui bernama Kai, menarik tangannya kembali ketika tak disambut oleh Sehun.
"Aku tau, itu kau hyung"
Kai bergumam kecil yang mampu di dengar Sehun, namun ia tak peduli.
"Chogi, Sehun-ssi. Sepertinya kau lebih tua di atasku, aku akan memanggilmu hyung bolehkan?"
Kali ini Sehun tak menjawab ucapannya.
Melihat busnya yang sudah datang, mereka berdua berjalan memasuki bus.
Tidak terlalu ramai, namun hanya 2 kursi barisan empat dari depan.
Sehun berjalan menuju kursi itu diikuti oleh Kai.
"Hyung, bolehkan aku duduk di pinggir? Aku suka ketika melihat pemandangan, bolehkah?"
DEGG
"Sehun hyung, Jongie mau duduk di pinggir ne? Nanti Jongie jadj bisa lihat pemandangan"
Seutas ingatan di masa lalunya melintas dipikirannya membuat ia terdiam.
'Bagaimana bisaー'
"Silahkan"
Kai mengulas senyum yang terlihat tak asing menurut Sehun, namun ia menggeleng.
'Orang' yang sudah ia anggap tidak pernah ada dalam hidupnya, tidak mungkin adalah orang yang sudah duduk di kursinya.
Bus berjalan, namun tak ada suara di antara keduanya dan memilih sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Kai yang sibuk dengan sepasang handsfree di telinganya dan kedua pasang mata yang melihat kearah luar berbinar senang.
Sedangkan Sehun memilih menyibukkan diri dengan buku di tangannya meski sesekali ia melirik Kai yang terlihat kekanakan.
Bus berhenti, beberapa orang terlihat turun menyisakan mereka berdua dengan 3 orang lainnya di bus ini dalamー
ーKeheningan.
_ooOoo_
Sehun mendengus pelan, namja yang ia temui dan berpakaian seperti preman terus mengikutinya sejak tadi.
Apa ia sungguhan preman?
Tapi itu tidak mungkin, bagaimana bisa ia berpikiran Kai adalah seorang preman jika dilihat dari wajahnya yangー
ーekhm manis dan menggemaskan.
Oke ia akui, tapi tidak akan pernah mengatakannya.
Hingga masuk ke kawasan sekolah, namja itu masih mengikutinya.
Apa jangan-jangan Kai penguntit?
Sejak kapan dia, Kim Sehun di yang terkenal berkehidupan bagaikan robot menjadi pede seperti ini?
Sudahlah, siapa tau ia anak baru yang masuk ke sekolahnya bukan? Atau memang benar.
"Hyung, Sehun Hyung"
Sehun menghentikan langkahnya ketika namja berkulit tan itu memanggilnya.
Kulit tan, ckk... Bahkan hanya melirik namja itu, segudang masa lalunya bermunculan.
"Kau tau di mana ruang kepala sekolah hyung? Bisa kau antarkan? Aku takut gelap"
Kai hanya memperlihatkan sederet gigi putihnya begitu Sehun meliriknya tajam.
Tanpa banyak bicara Sehun melangkahkan kakinya diikuti Kai yang -kembali- mengekor dirinya.
"Ini ruangannya"
Sehun yang beranjak menuju gedung asrama di belakang gedung ini, terhenti begitu Kai memegang tangannya.
"T-Tunggu, jangan tinggalkan aku sendiri ya, Hyung? Ne?"
Sehun mengangguk menuruti ucapan Kai, begitu pemuda bersurai caramel itu menatapnya dengan tatapan yang ia benci, tatapan yang selalu di tunjukkan oleh seseorang di masa lalunya.
Ia meraba saku celananya, mengambil 2 buah dadu yang selalu ia simpan.
Dadu yang mengingatkannya mengenai sosok yang meninggalkannya, merubahnya hanya dalam semalam.
Dadu putih dan hitam yang selalu ia bawa seperti kata seseorang akan selalu bersama, meski nyatanya sebaliknya.
Begitu punggung itu menghilang di balik pintu, Sehun terlihat berpikir.
"Untuk apa kau memikirkan seseorang yang bahkan meninggalkanmu?"
Dan raut wajah yang semula sedih, kembali dengan raut wajahnya yang datar.
"Ah... Kau sudah datang?"
"Iya Paman. Hehehe... Bisakah kau menyembunyikanku dari Eomma?"
Kai menatap saudara Ibunya itu memelas, sedangkan Kibum -nama namja itu- yang masih muda dan terlihat tampan, hanya bisa tertawa melihat kelakuan anak dari Noonanya yang menggemaskan.
"Dia melarangmu pergi?"
Kai mengangguk malas.
"Bisakah aku sekamar dengan, Hyungku? Kau sudah berjanji menyiapkan kamar itu untukku, Paman. Dan cepatlah, ia sedang menunggu di luar"
Kibum menggeleng, keponakannya ini memang -sangat- cerewet.
Ia menyerahkan perlengkapan selama bersekolah ini kepada Kai, lalu mengacak rambut caramelnya.
"Kau sekamar dengannya, Kai sayang. Kau memang tetap cerewet, tapi tidak dengan Hyungmu"
Mendengar hal itu, seketika raut wajah Kai berubah muram.
Ia hanya mengangguk kecil dan berjalan keluar.
Senyuman ringan kembali terhias diwajahnya menemukan Sehun masih menunggunya.
"Hyung, kata Kepala Sekolah kita sekamar. Kau harus menjadi tour guideku selama disini. Kan sekolah lagi sepi karena pada liburan, jaー HYUNG!? KENAPA MENINGGALKANKU?! TUNGGU AKU, HYUNG!?"
Kai berlari mengejar Sehun yang sudah menaiki tangga tak jauh dari sana.
'Aku, akan mengubahmu lagi hyung. Seperti Sehun hyungku yang dulu, aku berjanji. Adikmu ini, Kim Jongin, Jongiemu akan menepati janji-nya'
Dan Kai tersenyum, mengalungkan tangannya di pundak lebar Sehun yang terlihat tak peduli.
"Mulai sekarang kita berteman, oke Sehun Hyung?"
.
.
.
.
.
.
Maybe ini Next Chapter :
"Hyung, kita pindah ke apartemen saja bagaimana?" l "S-Siapa kau sebenarnya?" l "Kau fokus belajar saja Hyung, bukankah cita-citamu ingin jadi dokter terkenal? Aku akan bekerja untukmu" l "Mengapa kau melakukan semua ini?" l "Maaf hiks... Maafkan aku hiks... Hyung, jebal... Jangan tinggalin Jongie hiks... SEHUN HYUNG!?"
.
.
.
.
.
.
TBC or END/?
Sesuai ucapan Hyun di ff Remake, Hyun udah ngelanjutin ff ini saaaaaangat panjang.
Udah puas kan?
Hehehe... Sehunnie kecil, maafin Hyun udah membuatmu menderita kekeke :3
Oke, tertarik untuk lanjut? Hm... Karena ini ff terpaaaaaanjang yang Hyun buat, boleh minta review 65? Kebanyakan QaQa -_-
Kagak apa banyak-banyak, Hyunnya juga mau hiatus jadi waktunya lama kan?
Hyun juga mau fokus belajar dulu soalnya cuma 6 bulan waktu Hyun untuk belajar hiks... T.T
So, Mind to review? 65 oke?
Sampai ketemu 6 bulan lagi *nggak janji, bisa jadi 2/3 bulan Hyun mungkin/nggak mungkin ngepost*
By :
HyunnK.V.
