RAIN
Cast : Oh Sehun, Xi Luhan, and Other
Genre : Romance, Angst maybe
Warning : Typo bertebaran, GS, rate M, cerita aneh dan gak nyambung
.
.
.
Happy reading !
Luhan duduk di taman belakang sekolah.
Baru saja jam pelajaran selesai, saat Baekhyun mengajaknya ke kantin ia dengan halus menolak, Baekhyun tidak marah dengan penolakan Luhan karena dia sangat mengerti sahabatnya itu. Luhan lebih memilih pergi ke taman belakang. Disanalah tempat favorit Luhan saat dia ingin menyendiri. Angin berhembus lembut membelai wajah putih Luhan. Hari itu cuaca sangat cerah.
"Hai, sendirian saja. Boleh aku temani" Luhan yang tidak menyadari kedatangan Kris kaget saat ia mendapati Kris sudah duduk disampingnya.
"Ah Kris sunbae mengagetkanku saja."
"Hahaha mianhae Lu, aku tidak sengaja. "
"Nee .. Oh iya ada apa sunbae datang kemari? tidak biasanya seperti ini." Luhan menatap Kris heran. Dia tahu tidak biasanya Kris ke taman belakang sekolah saat jam istirahat seperti ini.
"Yak apa kamu kira ini tempat pribadimu eoh! Sehingga aku tak boleh datang kemari?" Kris pura-pura tersinggung.
"Aniyaa, maksudku bukan seperti itu. Aku hanya heran saja." Luhan berkata lirih, takut kalau perkataannya menyinggung Kris lagi.
"Hahaha aku hanya bercanda, jangan dibawa serius. Aku datang kesini karena aku sering melihatmu disini sendirian. Sepertinya kamu menyukai taman ini."
"Nee, aku dari dulu sangat menyukai taman. Menurutku taman tempat terindah."
"Yah benar.. hmm kalau boleh jangan panggil aku sunbae, cukup panggil Kris saja."
"Baiklah.. Kris." Luhan agak kaku saat memanggil Kris hanya dengan sebutan nama.
"Apa kamu lapar? Bagaimana kalau kita pergi ke kantin bersama?" ajak Kris.
"Aku masih kenyang, kamu duluan saja"
"Baiklah aku pergi dulu" namun sebelum pergi Kris mendekatkan bibirnya ke telinga Luhan dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Luhan langsung memerah.
"sepertinya aku menyukaimu" dan Kris pun berlalu.
Luhan tak henti-hentinya menepuk pipi. Apakah dia bermimpi? Bagaimana bisa Kris menyukainya?
"Ah mungkin dia hanya bercanda" Luhan segera membuang jauh perkataan Kris tadi, mungkin saja benar kalau Kris hanya bercanda mengingat mereka tidak begitu dekat. Tapi rasa suka bisa terjadi kepada siapa saja. Luhan benar-benar kebingungan.
Namun sesaat kemudian Luhan mendengar suara yang aneh, seperti suara erangan, mungkin suara orang yang tengah terluka. Luhan menelusuri suara tersebut sampai pada sebuah pohon besar, disana dia melihat seorang namja terbaring dengan wajah memar dan hidung mengeluarkan darah. Buru-buru Luhan menolong orang tersebut dan membawanya ke UKS. Setelah membersihkan luka, Luhan berniat mengambilkan air minum, namun terhenti karena ternyata namja tersebut sudah sadar.
"Kenapa kamu disini?" Sehun menatap tajam kearah Luhan.
"Yaak bocah, tak bisakah kau bilang terima kasih?" bentak Luhan.
"Kenapa aku harus bilang terima kasih padamu?"
"Karena aku telah menolongmu!" Luhan mulai kehilangan kesabaran.
"Apa aku memintamu untuk menolongku? Tidak kan? maka dari itu aku tidak akan berterima kasih padamu" Sehun menanggapinya dengan santai.
"Ck! Dasar orang tidak tahu terima kasih. Seharusnya kamu tadi aku tinggalkan saja disana"
"Baiklah, kalau begitu bawa aku lagi ke tempat tadi dan biarkan aku kesakitan." Sehun masih saja berbicara santai seolah dia tidak bersalah.
"Dasar bocah gila!" Luhan marah-marah sambil meninggalkan tempat itu, namun disaat melintas pintu ia menabrak seseorang , Chanyeol.
"Yaak, kalau jalan pakai mata jangan pakai dengkul" teriak Luhan
"Oh mianhae, aku tidak liat kalau ada orang, makanya jangan punya tubuh pendek ." ejek Chanyeol
Luhan masih kesal, ditambah perkataan Chanyeol barusan membuat emosinya mencapai diubun-ubun.
"Salah sendiri punya tubuh tinggi menjulang, kamu manusia apa tiang listrik?", Luhan tak mau kalah.
"Yak kenapa kalian bertengkar disini? Kamu gadis gila cepat pergi dari sini!" Sehun menegahi pertengkaran Luhan dan Chanyeol.
"Tidak perlu di usir! aku dari tadi juga mau pergi kalau bukan karena tiang listrik ini." Luhan pun pergi, sementara Sehun tersenyum menatap kepergiaan gadis itu.
"Apa kamu baik-baik saja Hun?"
"Seperti yang kau lihat."
"Siapa gadis itu, apa kau kenal dia?", Sehun hanya mengeluarkan smirknya menanggapi pertanyaan Chanyeol.
Sementara itu Luhan berjalan terburu-buru menuju kelasnya dengan wajah cemberut, Luhan merasa hari ini banyak dengan hal tak terduga. Pertama pernyataan suka dari Kris, kedua ia harus bertengkar mulut dengan Sehun, ia menyesal kenapa tadi menolong bocah gila itu. Luhan duduk dengan kasar sehingga kursinya berdecit keras. Baekhyun yang sedang serius membaca buku kaget dengan kelakuan Luhan.
"Yaak, kamu kenapa eoh? Datang-datang mengagetkan orang saja!", omel Baekhyun
"Hari ini sangat sangat sangat menyebalkan."
"Kenapa lagi? Coba cerita sama aku Lu." Baekhyun melunak.
"Kamu ingat kan orang yang dulu pernah menabrakku di hari pertama kita masuk sekolah ini, dan juga yang menyiramku dengan minuman di kantin?"
"Ah ya, maksudmu si Sehun?"
"Entahlah, oh jadi nama si bocah gila itu Sehun?" Luhan mengeraskan suaranya, hingga seisi kelas menatap tajam ke arah Luhan.
"Ssttt.. pelankan suaramu Lu. Apa kamu tidak tahu kalau Sehun adalah anak pemilik sekolah ini? Dia juga sangat terkenal disini" Baekhyun menceritakan semua yang ia tahu tentang Sehun kepada Luhan.
"Jinjja? Ah tapi aku tidak takut sama sekali."
"Jangan bodoh"
"Biarkan saja"
"Terserah!" Baekhyun menyerah.
"Kamu masih ingat Kris sunbae?" Luhan mengalihkan pembicaraan.
"Ndee, kenapa dengan dia?"
"Tadi dia bilang suka sama aku."
"Mwo? Kris sunbae bilang suka sama kamu?" Baekhyun kaget, saking kagetnya tanpa sadar dia berteriak membuat seisi kelas lagi-lagi menatap tajam kearah mereka berdua. Namun tiba-tiba..
Braaaaak..
Meja Luhan digebrak oleh seorang siswi yang satu kelas dengannya.
"Jangan pernah coba-coba mendekati Kris sunbae!" siswi itu hanya mengucapkan sepatah kalimat dan kemudian langsung pergi, Luhan dan Baekhyun hanya saling menatap tak mengerti.
.
.
.
"Kebiasaan jam karet." Luhan berkali-kali menatap jam tangan kesayangannya. Dia sedang menunggu kedatangan Baekhyun karena hari ini mereka berjanji bertemu di toko buku dekat dengan sekolah mereka. Namun satu jam Luhan menunggu Baekhyun tak muncul juga, sampai kemudian sebuah panggilan telepon dari Baekhyun terpampang dilayar ponsel Luhan.
"Yeoboseyo.. yak kamu dimana Baek? Aku sudah menunggumu selama satu jam."
"Mianhae Lu aku tidak bisa datang. Tiba-tiba eommaku mengajakku kerumah Kyuhyun samchon." Suara Baekhyun terdengar menyesal.
"Ah gwenchana.. kalau begitu aku akan mencari buku sendiri" jawab Luhan.
"Jeongmal mianhae Luhanie!"
"Yak tidak perlu mendramatisir seperti itu.. hahaha"
"Haha ndee, gomawo sudah mau memakluminya Lu, kamu hati-hati ya. Annyeong"
"Ndee.." pip panggilan diputus.
Akhirnya Luhan berputar-putar di toko buku sendirian. Tanpa terasa hari sudah mulai gelap, mendung hitam menyelimuti langit dan suara guruh mulai terdengar. Hujan pun turun dengan derasnya. Luhan menunggu bus di halte dekat toko buku, suasana dingin dan sepi. Bus yang ditunggu tak kunjung datang. Sebuah motor berhenti tepat didepan halte tempat Luhan menunggu bus.
"Cepat naik" pengendara motor itu meminta Luhan untuk naik ke atas motor"
"Kamu bicara denganku" Luhan bertanya dengan polos
"Iya bodoh, memangnya dengan siapa lagi? Kamu disini sendirian."
"Yaak kamu yang bodoh! Memaksa orang yang tak dikenal!"
"Aku tidak akan memintamu untuk kedua kalinya, jadi cepat naik!" Kata pengendara motor itu sambil membuka helmnya.
"Se.. Sehun?" Luhan tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Sehun seseorang yang dingin dan angkuh meminta Luhan naik ke atas motornya. Mimpi apa dia semalam.
"Yak kenapa melamun? Kamu mau apa tidak?" teriakan Sehun menyadarkan Luhan.
"Tidak, kamu pergi saja sendiri" karena gengsi Luhan menolak ajakan Sehun
"Okay, kalau begitu jangan salahkan aku kalau besok dikoran muncul berita seorang yeoja ditemukan mati kedingin disebuah halte." Kata sehun sambil mengegas motornya.
Jleebb! Kata-kata Sehun sangat menancap di ulu hati Luhan, setelah berpikir ternyata ada benarnya juga perkataan Sehun. Hujan deras terus menerus turun, bus juga tak muncul. Akhirnya Luhan menerima ajakan Sehun.
"Baiklah." Luhan naik keatas motor Sehun dengan malu-malu. Kemudian motor Sehun melaju dengan cepat menerobos derasnya hujan, Luhan yang ketakutan hanya memejamkan matanya dan memeluk pinggang Sehun erat-erat.
Sehun menghentikan motornya di sebuah apartemen mewah. Tanpa banyak bicara Sehun langsung memasuki apartemen tempat dia tinggal. Luhan mengikutI Sehun dari belakang. Setelah memasuki apartemen Sehun, Luhan merasa takjub. Tempat itu tidak terlalu besar namun sangat rapi dan wangi. Tak lama kemudian Sehun keluar dari sebuah ruangan dengan memakai kaos putih polos, celana panjang, dan handuk di kepalanya.
"Ya Tuhan dia tampan sekali" pikir Luhan saat melihat Sehun tengah menggosok-gosokkan rambut basahnya dengan sehelai handuk, namun dengan cepat ditepisnya pikiran tersebut.
"Kamu gantilah baju, itu punya eommaku. Mungkin sedikit kebesaran buatmu tapi lumayanlah bisa dipakai daripada kamu harus berpakaian basah seperti itu!' kata Sehun sambil menyodorkan handuk dan baju kepada Luhan.
"Gomawo.. hmm dimana aku bisa berganti pakaian?" Tanya Luhan malu-malu.
"Kamu bisa berganti baju disana" Sehun menunjuk sebuah ruangan yang tadi dia masuki sebelumnya.
Luhan memasuki ruangan itu dan astaga ternyata itu adalah kamar Sehun. Terlihat dari beberapa barang dan foto Sehun terpajang didinding dan meja ruangan itu. Baru pertama kali Luhan memasuki kamar namja dan itu adalah kamar Sehun. Entah itu sebuah keberuntungan atau bukan, tak beda dari ruangan sebelumnya, kamar itu sungguh rapi dan wangi.
"Ternyata dibalik sikap dingin dan angkuh, Sehun anak yang lumayan baik" Luhan sedikit memuji sehun.
Setelah berganti baju, Luhan keluar dari kamar Sehun. Luhan melihat Sehun di dapur sedang membuat coklat panas. Sehun menyodorkan secangkir untuk Luhan.
"Gomawo.." Luhan menerima cangkir dengan tersenyum, tapi tak dihiraukan oleh Sehun.
"Untuk sementara kamu disini dulu sampai hujan reda," Sehun memulai pembicaraan sambil menyeruput cangkir coklat panasnya.
"Apa tidak apa-apa aku disini?"
"Kamu tenang saja aku tinggal sendirian, orang tuaku hanya sekali-kali datang kesini"
Deg.. Luhan terdiam. Sekarang dia sedang berdua dengan seorang namja ditempat yang sepi. Dan Sehun menyuruhnya untuk tetap tenang. Tidak ada jaminan kalau Sehun tidak akan melakukan sesuatu kepada Luhan. Tanpa sadar Luhan bergidik ngeri membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Yaak bocah, aku tidak akan berbuat apa-apa padamu." Seolah tahu apa yang dipikirkan Luhan, Sehun segera menjelaskan agar Luhan tidak salah paham.
"Lagi pula aku tidak doyan dengan orang seperti kamu" Sehun kembali menyeruput coklat panasnya.
"Yak aku juga tidak suka orang sepertimu bocah gila" wajah Luhan memerah karena malu.
"Baguslah kalau begitu" suasana kembali hening, hanya terdengar suara hujan yang semakin deras.
"Hmm gomawo untuk ini" akhirnya Luhan mengawali pembicaraan.
"Ndee.. sebelumnya aku juga ingin minta maaf padamu."
"Maaf tentang apa?"
"Tentu kamu masih ingat dulu aku pernah menabrakmu dan menumpahkan minuman padamu."
"Oh itu, aku terima permintaan maafmu"
"Gomawo, kemarin juga sudah menolongku dan membawaku ke UKS"
Hahahaha, Luhan tertawa mendengar ucapan terima kasih dari sehun.
"Bukankah kemarin kamu bilang tidak mau berterima kasih padaku, hahaha tapi kenapa sekarang malah sebaliknya" Luhan tak bisa menahan tawanya.
"Yak aku cabut kembali kata-kataku."
"Hahaha iya sama-sama" Luhan menghentikan tawanya dan tersenyum kea rah Sehun.
"Jangan besar kepala." Sehun kembali dingin, dan membuat Luhan harus mengulum kembali senyumnya.
"Dasar orang berkepribadian ganda" kata Luhan dalam hati.
"Hmm Lu, kalau boleh tau kamu ada hubungan apa dengan Kris?" Luhan kaget mendengar Sehun memanggilnya Lu, darimana dia tau namanya.
"Memangnya ada apa?"
"Tidak apa-apa, hanya kemarin melihatmu berdua sama Kris ditaman belakang sekolah."
"Kamu memata-matai kami?" Luhan menatap serius ke Sehun membuat Sehun sedikit salah tingkah.
"Yak jangan terlalu percaya diri kau" Sehun menyangkal, untung saja Luhan tidak menyadari kalau Sehun sedang salah tingkah.
"Terus kenapa kamu ada disana?"
"Aku hanya kebetulan lewat, dan bukankah itu tempat umum? Haruskah aku meminta ijin padamu dulu karena kamu sering pergi kesana eoh?"
"Bagaimana kamu tau aku sering pergi ke taman itu? Apa kamu mengikutiku?" Luhan bertanya setengah menyelidik.
"Siapa pun tahu kalau ada seorang yeoja kecil kerempeng yang suka pergi ke taman belakang sekolah karena sebelumnya tak ada yang pergi kesana."
"Oh begitu" Luhan hanya menggumam pelan.
"Jadi apa kamu berpacaran dengan Kris?"
"Kenapa kamu begitu ingin tahu eoh?"
"Yak apa susahnya menjawab iya atau tidak" Sehun mulai kehilangan kesabaran.
"Kenapa kamu berteriak? Toh ini semua tidak ada hubungan denganmu!" Luhan tak mau kalah menanggapi Sehun. Lantas terbesit sebuah pemikiran untuk mengerjai Sehun, ia ingin tahu reaksi Sehun.
"Kau.. Xi Luhan! Ku peringatkan kau jangan pernah lagi berhubungan dengan Kris!"
Luhan terdiam, ditatapnya mata Sehun. Tidak ada kebohongan, dari nada bicara Sehun pun terdengar sangat serius. Tapi Luhan tidak mau percaya begitu saja.
"Apa hakmu melarangku? Apa kau cemburu eoh?" nada bicara Luhan mulai terdengar mengejek.
"Kau jangan asal bicara" Sehun mendesis pelan, sehingga wajahnya terlihat sedikit menakutkan membuat nyali Luhan sedikit menciut.
"Lantas kenapa kamu melarangku berhubungan dengan Kris?"
"Ini demi kebaikanmu." Kata Sehun lirih, tapi masih bisa didengar oleh Luhan.
"Dan sejak kapan kau mulai peduli padaku eoh?" sebenarnya Luhan masih belum mengerti maksud pembicaraan Sehun, apa yang salah dengan Kris? Sejauh ini Luhan mengenal Kris sebagai orang yang baik.
"Terserah kau! Percuma juga aku memperingatkanmu" Sehun membuang muka malas. Luhan hanya cekikikan melihat reaksi Sehun.
Hujan masih turun sangat deras, hawa dingin menyelimuti malam itu. Luhan dan Sehun saling membisu sehingga suasana terasa canggung. Suara siaran tv pun tak ayal memecahkan keheningan diantara mereka. Dan tiba-tiba..
Duaarrr.. suara petir terdengar sangat keras,karena kaget dengan spontan Luhan memeluk erat Sehun yang duduk disampingnya. Sehun hanya terdiam, menatap Luhan yang tengah memeluk dirinya. Setelah rasa kagetnya menghilang Luhan buru-buru melepas pelukannya namun dicegah oleh Sehun. Mata rusa Luhan beradu pandang dengan mata tajam Sehun. Wajah mereka sangat dekat, Luhan bisa merasakan deru nafas hangat Sehun menerpa wajahnya. Perlahan-lahan Sehun mendekatkan wajahnya ke Luhan, dan sejurus kemudian Luhan merasakan bibir mereka telah menempel satu sama lain. Dan Luhan bingung apa yang harus dia lakukan sekarang?
TBC
.
.
.
Annyeong chingudeul, maaf lama ngupdatenya karena lagi sibuk kerja, kkkkk
Mian kalau dichapter ini jalan ceritanya ga seru atau mengecewakan *sad*, maklum baru pertama kali berkecimpung didunia fanfict. Review kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk kebaikan author selanjutnya. Hahaha akhir kata saya pamit dulu..
Khamsahamnda ~ :) :) :* :*
