Huwaaa…
Maafkan aku… TT,TT

Bisa bisanya aku lupa sama fic ini… udah berapa tahun yah…

Gomennasai… Hontou ni… ,
Makasih ya, buat para readers yang udah gak sabar buat nunggu, juga saran dari para senpai-senpai sekalian, maaf kalo Amel gak bisa balasin satu-satu..

Kalian pasti udah pada penasaran yah…

Nih Amel udah buat ceritanya…

Happy Reading yah..

Disclaimer :

Naruto By Masashi Kishimoto

But

No Ordinary Girl By Amelia Mitarashi Hatake

Rate : T

Pair : SasuSaku

* Sakura's POV

Aku berbaring di atas tempat tidurku. Memakai tanktop dan celana pendek. Memakai kacamata? Tidaklah. Karena aku di rumah, bukan di luar. Menatap langit-langit kamarku dengan kesal.

Aku mengingat kejadian kemarin…

Flashback mode on

'Haruno Sakura ka…' gumamnya pelan. Aku yang mendengarnya hanya diam. Cuek.

'Kirei no namae. Kaya'nya gue pernah dengar nama itu.'gumamnya sambil tersenyum tipis. Aku cuek dan menatapnya sinis. Lalu aku menghampiri Ino. Yang sudah senyum-senyum tidak jelas.

"Ino. Ayo pulang." Kataku dingin.

"Pulang? Aduh, sayang banget. Sayang, pulang yuk." Kata Ino pada Sai.

Kurasakan ada yang menarik tanganku dari belakang. 'Sial. Cowok ini lagi.' Gumamku kesal. Lalu aku menoleh ke belakang. Kulihat si Es itu menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. Tatapan yang paling kubenci dari seorang cowok. Aku pun berusaha melepaskan pegangannya. Namun sepertinya dia tak mau melepaskan tanganku.

"Lepas…" ujarku dingin. Tak ada tanda-tanda dia akan melepaskan tanganku. Ino menatapku dengan pandangan—cie-cie-ditaksir-sama-pangeran-es- sedangkan Sai hanya tersenyum. Aku menatap Ino dengan death glare ku. Dia hanya tertawa.

"Lepasin.. Es bodoh…" kataku setengah berteriak. Namun nihil. Lagi-lagi. Dengan kesal aku menarik tanganku. Dan lagi. Tak mau lepas.

"Kau ini mau gue bawa ke neraka ya…" gumamku pelan.

Karena kesal maka aku tendang kakinya. Gak perlu dijelasinlah yang kutendang itu apa. Lalu aku menarik Ino dan berjalan cepat ke tempat parkir, meninggalkan si pantat ayam yang kesakitan dan Namikaze yang bengong melihatku. Sai mengikuti kami.

"Sakura-chan! Loe kenapa?" Tanya Ino sambil berusaha menahan langkahku. Tapi sayang, Aku lebih kuat darinya. Lalu aku menatap Ino tajam.

"Pulang, Atau gue gak mau jalan dan sahabatan sama loe lagi!" kataku marah. Ino tampak kaget, dan langsung menurutiku. Tapi aku tahu dia menatap khawatir pada Es, yang terduduk di lantai mall sambil memegangi kakinya. Aku tahu dia kesakitan, tapi karena marah, aku sudah gak peduli lagi.

Flashback off

'Huh, dasar bodoh… otak es bodoh.. Sok cool. Sok kenal pula. Rasanya ingin kuhajar mukanya, seandainya ada batu bata disana.' Gumamku kesal. Lalu ada seseorang mengetuk pintu kamarku.

"Sakura…" oh, ternyata ibuku yang memanggil.

"Iya ibu…" jawabku sambil membuka pintu. Dan kulihat ibuku memegang bungkusan kado berwarna pink. 'Aduh, kenapa harus pink. Ada gambar love-love nya pula.' batinku sambil menepuk jidatku. Dengan malas aku bertanya, "Apa itu bu?".

"Tadi ada yang naro ini di depan pintu. Gak tau tuh siapa." Kata ibuku penasaran. "Pemuja rahasia ya...?" tanya ibuku sambil senyum-senyum sendiri. Aku menggaruk rambutku frustasi.

"Ibu ini ada ada aja." Ujarku sambil mengambil kotak itu. 'Paling juga orang yang gak jelas…' gumamku. Ibuku hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkahku.

"Ya udah. Ibu pergi ke pasar dulu ya. Jaga rumah bentar."

"Iya bu…" lalu aku menutup pintu. Lalu aku membuang kado itu ke tempat sampah tanpa melihat isinya. Sudah berapa puluh kado yang kubuang. Entah. Aku hanya merasa risih menerima kado dari cowok-cowok tidak jelas itu. Menuh-menuhin tempat sampah saja.

Harusnya aku lihat dulu itu dari siapa sebelum membuangnya.

Aku pun membuka laptopku, dan membuka fotoku dengan sahabatku, yang juga seseorang yang kusukai. Sachi-kun. Dia memiliki rambut berwarna biru donker lurus sebahu, serta memakai kacamata frame hitam tebal. Mungkin itu terlihat culun, tapi aku menyukainya.

Foto itu sudah lama sekali, lagipula itu fotoku saat kelas 1 SMP.

"Nee, Sachi-kun." ucapku perlahan. "Aku kok jadi kangen kamu ya? Kamu dimana sekarang? Kabarmu gimana?"

Tak ada jawaban, selain helaan nafasku sendiri.

"Coba kamu ada di sini ya, gak bakal ada yang gangguin aku."

Ternyata aku yang terlihat tangguh dan dingin hanyalah seorang gadis yang lemah dan rapuh. Memang sih, dulu aku adalah gadis lemah, dan Sachi-kun yang selalu melindungiku. Setelah dia pergi ke Amerika untuk melanjutkan sekolahnya, aku terpuruk dalam kesedihan dan perlahan berubah menjadi gadis yang dingin dan tomboy. Ah, andai aku bisa bertemu dia lagi.

Tiba-tiba mataku menangkap sebuah kado yang bertengger manis di dalam tempat sampah. Mataku terpaku pada nama pengirimnya.

Untuk : Saku-chan
Dari : Sachi

Sa…Sachi? Aku pun segera mengambil kado itu dan membersihkannya dari kotoran yang menempel. 'Kenapa aku bisa begitu bodoh dan gak teliti.' gerutuku dalam hati. Dengan perasaan yang berdebar aku segera membukanya.

Sebuah kalung bertuliskan SakuSachi pun tergeletak di dalamnya. Aku segera mengambil kalung itu dan surat yang ada di bawah kalung itu.

Saku-chan, sahabatku yang manis, Apa kabar?

Mungkin udah lama banget ya, dan kamu pasti udah jadi gadis yang cantik dan periang.

Aku tersenyum saat membaca bagian periang.'Kamu salah, aku udah banyak berubah sejak itu.' batinku.

Met ultah ya! Semoga panjang umur, sehat selalu, tambah pinter, dan jadi anak yang berbakti pada orang tua.

Aku menepuk dahiku. Kok bisa aku lupa kalo hari ini hari ulang tahunku. Aku kembali membaca surat itu.

Semoga hadiah ini bisa berguna, dan semoga kamu suka.

Sahabatmu yang paling ganteng,

Sachi

Aku tersenyum setelah membaca surat itu. Kupandangi lagi kalung yang tergantung di tanganku. Cantik sekali. Kalung itu berwarna perak, sedangkan liontin berbentuk hati tergantung manis di tengahnya. Liontin itu berwarna merah dengan pinggiran perak, dan bertuliskan SakuSachi berwarna putih di tengahnya.

Sachi-kun memang tahu seleraku. Dengan hati berbunga-bunga aku segera memakainya. Saat melihat bayanganku di cermin, aku tersenyum. Kalung itu cocok sekali denganku.

Ternyata kamu masih ingat denganku, Sachi-kun…

o0O* No Ordinary Girl *O0o

Aku berangkat sekolah dengan perasaan riang. Sesekali aku menyentuh kalung pemberian Sachi-kun. Sampai di sekolah, aku menyapa Ino dengan senyum.

"Loe kesamber geledek ya?" Ino menatapku heran. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis.

"Gak, kok." jawabku singkat.

"Tumben loe senyum-senyum begitu. Biasanya muka loe datar kaya' aspal."

"Sialan loe!" aku menatap tajam ke arahnya. Ino cuma bisa nyengir kuda.

"Oh iya, met ultah ya, Sakura-chan…" Ino memberiku kado, lalu memelukku. Aku membalas pelukannya pelan.

"Thanks ya…" kataku saat dia sudah melepaskan pelukannya.

"Coba buka!" tawar Ino. Aku membuka kadonya perlahan.

"Apaan nih?" aku menaikkan alisku. Satu set alat make up? Memangnya setelah lulus SMA aku mau kerja di salon? Aku menatap Ino kesal.

"Hehehe." dia malah nyegir kuda. "Gue risih liat muka loe polos begitu, jadi gue beliin aja."

"Ya udah, makasih." jawabku tidak ikhlas. "Jangan harap besok gue bakal ke sekolah make make up setebal buku fisika-nya Iruka-sensei yang nyebelin itu." ujarku sambil meletakkan barang itu di bawah mejaku. Ino malah ketawa ngakak mendengarku.

"Ya gak gitu juga kali." jawabnya setelah dia selesai dangan tawanya. "Maksud gue, loe pakenya pas loe mau pergi jalan aja. Atau pas ada pesta."

Oh, jadi itu maksudnya.

Mataku menangkap sosok yang tidak asing di mataku. Si pantat ayam sedang berjalan melewati kelasku, sedangkan di belakangnya, cewek-cewek centil kurang kerjaan, mengikutinya dengan teriakan histeris.

"Sasuke-sama~~"

"Sasuke-kun~"

Seketika aku langsung merasa mual. Ino menatapku aneh.

"Kok muka loe jadi ijo begitu."

"Gakpapa…" kataku singkat. Si pantat ayam menoleh ke arahku, dan menatapku lembut. Membuatku ingin menghajarnya lagi. Tapi kenapa jantungku serasa berhenti berdetak. Dan wajahku mulai menghangat. Perasaan yang sama saat Sachi-kun menatapku dengan tatapan yang sama. Sekilas aku merasa mereka sangat mirip. Apalagi dengan warna rambut dan mata yang sama.

Hei! Apa aku baru saja membandingkannya dengan Sachi-kun? Mereka kan gak sama. Bahkan berbeda sekali, bagaikan bumi dan langit. Apalagi kalau mengingat bahwa aku baru saja berkenalan dengannya kemarin. Itupun dengan meninggalkan kesan yang tak baik.

Apa aku udah mulai jatuh cinta padanya?

To Be Continue

Setelah beberapa tahun baru ngupdate, malah jadi aneh begini ceritanya…

Maaf ya, kalo baru di update sekarang, soalnya idenya baru muncul sekarang, ditambah lagi kalo lagi kena Writer's Block yang datang tanpa permisi. (Readers : Ah, alasan aja itu. #dilempar botol)

Sebenarnya sih gara-gara harddisk-nya ke-format, dan fanfic ini terlupakan…

Terima kasih buat si.. ehem-ehem yang udah buat Amel bersemangat lagi buat nulis.. Hehehe. Aduh, jadi malu... (baru tahu kalo Amel bisa malu juga…)

Oh iya, untuk kesekian kalinya Amel bilang…

Review Please… Ditunggu sarannya…