Tittle: SEDUCED
(2nd Part)
Author: RoséBear
Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Warning! Just a fiction story. Mature Scane. Adult Story. Romance. GS. Sorry for typo.
KAI Point of View. Epilog
Create : 2017, 16 June
Publish: 2017, 29 June
Let's start to read the romance and adult fiction. Just a fiction.
Follow – Favourite – and Review this Story...
Start Story!
Kyungsoo memasakkanku nasi goreng setelah mendengar suara perutku bergemuruh. Dia hanya tersenyum dan sama sekali tidak keberatan untuk melayaniku. Ya Tuhan. Aku menyukai malam ini. Akan kurekam dalam gambaran mentalku bagaimana setiap gerakan tubuhnya yang begitu indah ketika merawatku.
Saat Kyungsoo mencuci piring kubawa langkah kaki ke atas sofa, mengganti siaran televisi.
"Kupikir kau tidak menyukai cerita romantis."
Dia mengejutkanku dengan semangkuk buah-buahan yang sudah dipotong dadu. Duduk di atas sofa tanpa memiliki jarak denganku. Kakinya naik ke atas sofa. Aku harus bisa menahan diri. Kyungsoo hanya mengenakan kaos putih transparan dan celana jeans pendek di atas paha setelah berganti pakaian tadi. Dia punya tubuh yang bagus. Astaga Kim Jongin! Buang pikiran bodohmu itu jika tidak ingin mendapatkan tuntutan. Sehun tidak akan membelamu, sementara Mom akan menuntumu mati-matian.
Oke. Kita keluar dari pikiran bodohku, aku hanya tersenyum memberikan jawaban padanya.
"Kau tidak pergi bekerja besok?" Aku bertanya agar kami tidak terperangkap dalam keheningan seabad. Dia menoleh lalu menggeleng.
"Aku baru saja di pecat."
"Di- di pecat?" Aku setengah tergagap dan tak bisa kututupi rasa keterkejutan. Tapi dia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Atasanku, sebelumnya merangkap kekasihku. Kami berpisah dua minggu yang lalu karena dia pikir aku memiliki pria lain. Tapi nyatanya dia yang memiliki selingkuhan."
Aku tidak peduli tentang atasanmu, atau mantan kekasihmu itu. Bagaimana denganmu? Jadilah kekasihku, menikah denganku. Oh Kim Jongin! Buang pikiran bodoh itu! Aku memperingatkan diri kembali.
"Jadi aku menyiram selingkuhannya di area kantin Kantor. Lalu sejam kemudian aku dipecat."
"Dia bajingan!"
"Tidak sepenuhnya. Aku senang keluar dari pekerjaanku."
Dia sungguh wanita yang baik.
"Jadi? Apa rencanamu sekarang?"
"Mencari pekerjaan."
"Mau bekerja di kafe pizza milikku?"
Aku menawarkan diri. Sama sekali tidak membuang waktu. Aku akan sangat senang untuk melihat Kyungsoo setiap hari.
Akan kuberitahu kalian tentang imajinasi yang ada di pikiran laki-laki. Aku tidak berbohong, kami para pria sering membicarakan Seks. Membayangkan tubuh telanjang pasangan kami masing-masing, faktanya ada satu hal yang bisa bertahan dalam jangka panjang di dalam pikiran kami para pria, ingatan tentang tubuh telanjang dan pengalaman seksual yang menggairahkan. Jika priamu mengelak, maka carilah pria lain, dia telah membohongimu saat dia mengelak dari tuduhan. Setiap orang termasuk diriku menginginkan pasangan yang sempurna, sempurna maksudku ya seperti gadis di hadapanku ini, aku tidak menghindar dari tubuh telanjang para gadis, tapi aku bisa menahan diri. Hanya saja jika Kyungsoo melakukannya untukku, aku menjamin tidak akan bisa menahan diri.
"Bisa kupikirkan, tapi aku ingin beristirahat sejenak untuk beberapa hari."
Oh shit! Bibir itu sangat menggoda ketika dia bergerak. Seakan mengundangku untuk melumatnya.
"Kai-ah, mau menemaniku minum?"
Alis kananku naik satu tingkat.
Aku sudah katakan pada kalian aku berharap memiliki obrolan panjang dan jika memungkinkan secara intim bersama Kyungsoo. Aku memimpikan hari ini, tapi aku harus menjaga diri. Jika masih ingin melihat fajar besok pagi.
Aku mengangguk semangat, dengan segera aku melangkah mengikuti Kyungsoo yang berjalan ke dapur. Oh astaga! Tubuhnya benar-benar menggodaku.
Dia membungkuk seakan memintaku melakukannya.
'Owghh!' Aku menggertakkan gigi menahan hasratku. Yang benar saja, kenapa Kyungsoo memiliki efek seperti ini pada tubuhku. Bayangkan, aku hanya melihatnya membungkuk mencari botol minuman di dalam lemari pendingin milik Sehun.
"Dia hanya punya rasa lemon dan apel."
Kyungsoo selesai dengan urusannya. Ia membawa delapan botol soju yang dijepit pada masing-masing ruas jarinya. Apa dia berniat mabuk? Aku menatapnya bingung.
"Tenang. Aku tidak mudah mabuk. Sebaiknya kau siapkan dirimu sendiri!"
Aku meneguk ludahku.
~ RoséBear~
Kyungsoo berbohong! Apanya yang tidak mudah mabuk! Satu botol habis dan dia mulai tertawa sendiri. Mengatakan mantan atasannya yang baru memecatnya pagi ini. Aku tidak peduli pada apa yang dia katakan, aku lebih peduli pada bibirnya, rona merah pada wajahnya membuat gadis ini sangat menggemaskan.
"Kurasa sebaiknya kau tidur," aku menyarankan. Walau sebenarnya masih sangat ingin menikmati wajah Kyungsoo, tapi aku tidak akan menyiksanya.
Kyungsoo menggelengkan kepala, tidakkah dia tahu celana dasar yang kugunakan malam ini tiba-tiba terasa sempit. Bibirnya maju, mata bulat yang mempesona itu tertutup sebagian.
"Aku masih ingin melihatmu Kai."
Aku tersenyum kaku. Sebagian diriku sangat senang tapi sebagian lagi begitu khawatir. Kyungsoo sedang mabuk, pikirannya tidak teratur. Jadi aku tidak yakin dia mengingat setiap ucapannya padaku.
"Kau sangat tampan, masih muda, pintar, kenapa kau tidak menjadi kekasihku saja Kai?"
Sesaat aku terdiam seperti batu yang dilemparkan ke dalam air. Aku tenggelam! Aku butuh bernafas!
Aku bersorak dalam hati! Kutuangkan segelas minuman lagi dan Kyungsoo mengambilnya. Dia meminum dalam satu kali teguk.
"Kau yakin ingin menjadi kekasihku?" Aku bertanya.
Dia memandangi dengan mata berkabut akibat mabuk. Aku adalah orang gila, kuakui itu karena aku bisa bicara dengan orang mabuk.
"Ya tentu saja," Kyungsoo tersenyum sangat manis. Bibir hatinya merapat. Aku harap dia tidak melampaui batas dan mengingat percakapan kami. Atau aku harus merekamnya. Jadi kukeluarkan ponselku. Menyalakan mode rekam dan meletakkannya begitu saja di atas mini bar pribadi Sehun.
Jika dia melihatku melakukan ini pada saudarinya, aku yakin Sehun akan menghajarku. Tapi aku sama sekali tidak peduli jika aku berkemungkinan mendapatkan Kyungsoo.
Kalian tanya apa aku mabuk? Satu hingga dua botol soju tidak akan membuatku mabuk. Aku serius tentang itu.
Aku mabuk jika Kyungsoo mau bercinta denganku.
"Aku menyukaimu! Tapi kau trus menjaga jarak dariku."
Sekarang aku percaya ungkapan orang zaman dahulu, waktu terbaik untuk mendapatkan siapa pun mau mengungkapkan semua rahasia mereka adalah ketika mereka mabuk. Aku semakin bersemangat mendengarkan.
"Jadi kau menyukaiku?" Aku bertanya pelan-pelan.
Kyungsoo menekan bibirku dengan jari telunjuknya. Barulah aku sadari jika jari itu benar-benar halus, rasanya ingin kukulum, menjilati hingga menggigitnya. Owhhh Kyungsoo! Kau membuatku frustasi!
"Aku menyukaimu. Tapi kau berteman baik dengan Sehun. Aku tidak mau kau menjauh darinya nanti."
Aku mengigit bibir bawahku sendiri. Astaga Kyungsoo, apa yang kau pikirkan?
Kuakui mendengarkan perkataan orang mabuk terkadang menggelikan. Tapi sekali ini hatiku merasa begitu ringan.
"Kenapa kau berfikir aku akan menjauh? Bagaimana jika aku sangat menyukaimu selama ini?"
Dia terkesiap sejenak. Menarik nafas dalam dan kembali memajukan jarinya pada bibirku. Perlahan, kukeluarkan lidahku menjilati jarinya, membuat Kyungsoo mendesah pelan.
Saat Kyungsoo akan menarik jarinya kutahan tangannya. "Aku serius, aku tidak yakin kau mengingat ini atau tidak. Tapi aku bersungguh-sungguh Kyung."
Aku serius. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Mencium punggung tangan Kyungsoo membuat gadis itu mengigit bibir bawahnya semakin menggodaku.
Dia duduk di sebelahku.
"Kau yakin Kai? Mm bagaimana jika kau mempermainkan aku? Aku akan minta Sehun membunuhmu!"
Aku tersenyum, kubelai rambutnya yang tidak dikuncir. "Aku bersungguh-sungguh. Jika kau mengatakan menyukaiku lagi, aku akan memintamu menikah denganku."
Kyungsoo tertawa!
Akhh untuk sesaat aku lupa jika Kyungsoo sedang mabuk. Aku merasa malu pada diriku sendiri karena terlalu bersemangat.
Tanpa diduga tubuhnya maju, mencondong ke arahku. Kyungsoo menahan Kepalaku, menciumku seolah memastikan ucapanku tidak membohonginya.
Aku katakan pada kalian, Kyungsoo punya bibir hati yang kenyal. Rasanya manis, aku membalas ciumannya. Kyungsoo menyentuh bagian dalam mulutku dengan lembut menggunakan lidahnya, saat menyadari aku membalas ciumannya dia semakin menggoda. Ciuman itu berakhir, tapi tangan Kyungsoo tidak lepas dari kepalaku, menangkup wajahku menghadapnya. Dia tersenyum dan kembali menciumku. Nafas kami saling beradu satu sama lain ketika Kyungsoo melepaskan ciumannya. "Bisakah kita melakukannya?"
Sesaat otakku tidak berkerja dengan baik sampai kemudian Kyungsoo kembali menciumku. Oh astaga! Aku tidak bisa melewatkan kesempatan ini.
Kurasa aku tidak akan melupakan ciuman yang Kyungsoo berikan. Terlalu bergairah, panas, penuh dan begitu nikmat. Kau tahu apa yang para pria pikirkan tentang berciuman? Awal bercinta. Ya. Kami pria berfikir demikian. Jadi jangan salahkan aku jika mendamba sentuhan Kyungsoo.
Sekarang bayangan bagaimana mulut Kyungsoo bermain di kejantananku semakin jelas.
Dia melompat turun dari kursi dan dengan cepat kusanggah Kyungsoo, lalu membawa ponselku bersama kami. Aku tahu kakinya pasti menjadi lemas akibat mabuk, suara tawanya masih terdengar begitu riang. Sepertinya kenikmatanku harus berakhir, Kyungsoo harus di baringkan di ranjang. Membayangkan ranjang aku menginginkan tubuh telanjangnya. Tapi aku bukan pria brengsek.
"Drink with your family, drink it with your friends. Drink 'till you're fat, stomach distends."
Dia bernyanyi setengah berteriak. Tapi suaranya sangat merdu. Aku membantu Kyungsoo melewati pintu kamar Sehun. Menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.
"Kai~" dia setengah mendesah membuatku menatapnya.
Aku seharusnya bisa menahan diri. Tapi saat tangan Kyungsoo menahan lenganku membuatku jatuh diatasnya, dia tersenyum, membelai wajahku. "Bercintalah denganku?"
Mataku terpejam erat untuk sesaat, kuletakkan ponselku di sebelah ranjang.
"Kau yakin ingin bercinta denganku?"
Dia mengangguk, "tidak pernah aku menginginkan bercinta seperti aku menginginkanmu. Aku ingin becinta hanya denganmu."
Bisakah kubenahi prinsipku. Karena saat ini aku ingin memuaskan Kyungsoo. Membebaskan dia dari perasaan yang terkunci.
"Maafkan aku Kyungsoo~" saat itu dia menerima ciumanku pada lehernya.
"Ahhhh~" gadis ini mendesah. Meningkatkan gairah dan menaikkan libidoku. Dia beringsut ke kepala ranjang membuat jarak yang cukup lebar.
Ciuman kami terhenti ketika dia memaksa membuka kaos kuning yang kukenakan, jemari halus Kyungsoo menyentuh otot perutku. Itu berhasil membuatku mendesah nikmat.
"Ya Kyungsoo~"
"Kau ingin aku menyentuhmu di mana?" Dia bertanya sementara tangannya trus menjelajahi tubuhku. Kurasakan setiap sentuhan Kyungsoo.
"Semuanya. Aku milikmu Kyungsoo," tanpa sadar aku menyerahkan diri. Selama ini aku tidak pernah melakukan ini pada wanita manapun. Aku menyerah hanya pada Kyungsoo.
"Biarkan aku berada di atasmu Kai!" Dia memohon dan dalam satu gerakan aku mengganti posisi kami.
Kyungsoo menjelajahi otot perut hingga ke dadaku. Dia menunduk dan mencium putingku.
"Astaga Kyungsoo! Darimana kau memperlajarinya," dia mendongak dan tersenyum padaku.
Kuraih tangannya, menjilati setiap jari lentik Kyungsoo, mendengarkan dia mendesah membuat getaran pada area nipple ku sendiri.
Kyungsoo sedikit beranjak, melepas kaos yang diagunakan.
Aku menahan tangannya ketika akan melepas bra berenda itu. Dia menatapku bingung.
"Kau yakin ingin melakukannya denganku!"
"Ya Kai! Tentu saja. Bercinta denganmu."
Ia menunduk, menciumku kilat lalu melepas bra berenda mengeluarkan kedua payudarahnya yang kenyal. Tangan Kyungsoo menarik kedua tanganku menyentuh miliknya.
"Owhhhhh Kaihhhhh~" dia mendesah dan aku menikmatinya.
Menjepit puting Kyungsoo dengan jempol dan jari telunjuk. Gadis ini mengerang frustasi. Dia menekan tubuhnya di atasku membuat kejantananku semakin sesak ingin segera dibebaskan.
Kyungsoo merebahkan tubuhnya, menciumku kembali, dia berangsur turun, menjilati wajahku meninggalkan aroma soju. Tubuhnya ikut merosot kebawah, Kyungsoo berusaha melepas celanaku. Astaga! Dia ingin membuatku telanjang. Melempar celanaku ke sembarang tempat. Sejenak dia mengangumi milikku yang masih terlapisi celana dalam. Aku penasaran apa yang dia pikirkan.
"Kau keluarkan saja Kyungsoo sayang," dengan spontan bibirku memanggil nama dan menambahkan sebutan sayang.
Akan kuberitahu kalian, sebagian pria tidak menyebut nama pasangan karena dia tidak peduli pada wanita itu. Dia hanya peduli pada seks yang berlangsung. Tapi jika dia menyebut namamu, dia benar-benar menginginkanmu, akan mengingat percintaan denganmu. Sementara yang baru saja aku lakukan, aku tidak hanya akan mengingat percintaan panas ini, tapi aku juga menginginkannya dikemudian hari. Aku sudah bertekad tidak akan melepaskan Kyungsoo.
Kembali lagi pada Kyungsoo, dia menurunkan pakaian dalamku, kejantananku segera menampar wajahnya.
"Owghh Kyunghhh~" aku mendesah ketika lidahnya menyentuh milikku.
Sepanjang sejarah seks yang pernah kulakukan. Bersama Kyungsoo adalah yang paling nikmat. Imajinasiku menjadi kenyataan. Aku menikmati setiap sentuhannya, setiap detik yang begitu berharga. Gairahku makin memuncak, tidak hanya mulutnya yang menjepit milikku, tangannya ikut memijit penisku. Menghisap dan menggigit membuatku menggelinjang. Otakku benar-benar merasakan kenikmatan pada setiap sentuhan Kyungsoo, rambutnya membelai pahaku.
Rasanya penisku membesar dan mengalami ketegangan. Ereksi yang hampir sempurna.
Sudah berapa lama dia melakukan Oral seks padaku, aku menarik Kyungsoo, membuatnya melepaskan kejantananku. Wajahnya benar-benar menggoda, memaksaku menciumnya dengan intens. Ia mengernyit, detik itu tubuh Kyungsoo berada di bawahku.
"Kau benar-benar menggodaku," ucapanku sedikit terbata. Aku membuat jarak agar tidak menindih Kyungsoo. Melepaskan jeans pendek yang dia kenakan. Dia tidak mengenakan pakaian dalam, kewanitaannya berkedut ketika tanganku menahan kedua paha Kyungsoo. Gadis ini memalingkan wajahnya yang sudah semerah tomat. Aku tidak terlalu yakin jika itu benar-benar karena mabuk.
Aku menatapnya meminta izin. "Kau tidak boleh menyesal karena aku tidak akan melepaskanmu."
Kepalaku maju mencecap aroma dan rasa kewanitaan Kyungsoo. Pahanya menjepit dan itu membuatku terkejut. Reaksi Kyungsoo terlalu berlebihan untuk menerimaku. Aku melewatkan selangkangannya, menatap Kyungsoo yang menggigiti jari kanannya sendiri.
"Aku baik-baik saja. Kaihhhh~" dia merengek padaku setelah beberapa saat seperti orang normal.
"Hgnhhhhhh~ Kaihhhh~" tapi matanya masih berkabut. Aku kembali mencondongkan wajahku, tapi sekali lagi reaksi Kyungsoo terlalu berlebihan.
Sedetik aku menjadi sangat ragu. Jadi kupandangi dia sementara tanganku mencoba menusuk kewanitaannya. Otot-otot Kyungsoo berkontraksi menjepit satu jariku. Astaga! Ini baru satu jari tengahku saja, dia benar-benar sempit.
"Owghhhhh~" aku mengeram menahan sesak. Kucoba memasukkan satu jari lagi untuk melebarkan kewanitaan Kyungsoo.
"Arghhhh~" dia berteriak nyaring membuatku terkejut. Tanpa melepas tanganku kubawa tubuh menaiki Kyungsoo. Matanya mengeluarkan liquid bening.
Apa yang baru saja kulakukan? Tubuhku menjadi gemetar bersamaan dengan Kyungsoo.
"Kaihhhh~" dia setengah gemetar memanggilku.
Aku menatapnya, "Kemana saja kau selama ini Kyungsoo? Bagaimana bisa kau tidak pernah bercinta dengan para pria di luar sana?" Kyungsoo memalingkan wajah. Sungguh betapa menggemaskan dirinya sekarang. Mengigit jarinya sendiri dan menahan malu.
"Aku menunggumu."
Aku tidak bereaksi atas jawaban spontan Kyungsoo. Pelan kubawa wajahnya menatapku. "Kita akan melakukannya malam ini, yang pertama bagimu akan menjadi sangat nikmat. Aku berjanji akan hal itu." Dia mengangguk pelan. Bibirnya tersenyum, mata Kyungsoo masih berkabut, dia masih dipengaruhi oleh alkohol. Aku bersumpah akan hal itu walau tidak tahu berapa banyak alkohol yang mempengaruhi dirinya.
Kucium wajahnya, turun meninggalkan kissmark pada tulang dada Kyungsoo. Menjilati putingnya sementara tanganku masih mencoba bergerak di bawah sana. Perhatian Kyungsoo harus teralihkan, putingnya mengeras. Kyungsoo mulai bergairah, kewanitaannya berkedut membuat organ intim itu basah. Vagina Kyungsoo memproduksi cairan pelumasnya sendiri.
"Owghhh Kaihhhh~" kakinya melingkar di punggungku. Sementara terdengar bunyi bedebum dari tangan yang terhempas.
Aku mendongak menatap Kyungsoo. Nafas pendek-endek dan dia baru mengalami klimaks pertama karenaku.
"Maafkan aku," kurasa selesai persiapannya. Aku membuka selangkangan Kyungsoo dan memposisikan kejantananku tepat pada pintu masuk kewanitaannya setelah menarik jemariku. Gadis manis ini benar-benar telah siap menerimaku. Aku mencium puting payudarahnya, naik merasakan bibir hatinya. "Aku juga mencintaimu." Dengan gerakan perlahan milikku mencoba menerobos masuk, merasakan milik Kyungsoo yang mengetat menjepit milikku.
"Owghhhh~" aku menatap penyatuan kami. Aku berhasil menerobosnya, memecahkan keperawanan Kyungsoo.
Gadis manis itu menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih.
Perlahan kukecup bibirnya melepaskan siksaan itu. Matanya masih berkabut, "katakan kau menyukaiku Kyungsoo."
"Hmmm," Dia bergumam saat perlahan aku mulai bergerak.
"Owghh Yeahh. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu Kaihhhh~" percayalah aku benar-benar bersemangat tentang malam ini. Tidak hanya merasa spesial karena Kyungsoo menungguku.
"Kau membuatku sangat bergairah Kyungsoo sayang. Owghhh~" aku mengeram kembali mempercepat tempo hujamanku.
"Owghhhh Kai!" Ia mencoba melingkarkan tangannya pada leherku. Mencoba bertahan membuat hujamanku semakin tepat menumbuk kewanitaannya.
"Lebih cepat Kai," Dia memohon. Aku sangat ingin mengabulkan permintaan Kyongsoo.
"You're so tight Kyungsoo sayang."
Kyungsoo mengerang berkali-kali. Menjambak rambutku membangkitkan gairah.
"Ouuggghhhh~ oughhhhh~ Kaihh~" dia mendesah hebat tiap kali aku menusuk kewanitaannya. "Milikmu sangat besar Kai."
Aku tersenyum bangga mendengar pengakuan Kyungsoo.
"Owghh ughh~ Kai... Kai!" dia trus saja mendesah hebat.
Aku menaikkan kakinya ke pundakku, memperlebar selangkangan Kyungsoo, "Siapkan dirimu Kyungsoo sayang." Menerobos masuk membuatnya setengah menjerit. Jari tangannya mencakar pundakku.
Aku mempercepat gerakan, menghujam, menarik secara trus menerus dan semakin cepat. Tanganku bermain pada klitoris Kyungsoo membuat tubuhnya menerima rasa nikmat secara trus menerus. Dia sudah mencapai orgasme berkali-kali, aku pikir benar-benar telah memuaskan Kyungsoo.
"Kai, ini begitu nikmat. Kumohon jangan berhenti."
Aku merasa Kyungsoo bergetar hebat akibat pelepasannya sendiri. Tidak banyak kuberi waktu untuk Kyungsoo bernafas, aku ingin mencapai klimaksku. Aku menginginkannya juga. Saat itu tempo hujaman semakin cepat. "Aku akan datang Kyungsoo sayang."
Kejantananku berkedut, saat hujaman terakhir aku menumpahkan benih pada tubuh Kyungsoo ketika mencapai puncak kenikmatan.
Dari ujung kaki hingga ujung rambut, aku merasakan klimaks luar biasa.
"Ini kepuasan sempurna," tubuhku berguncang hebat, ambruk tapi aku berusaha untuk tidak menindihnya.
Aku berguling mengubah posisi kami menjadikan Kyungsoo di atasku. Membawa kepalanya bersandar pada dadaku, membuatnya merasakan detak jantungku yang menggila.
Aku melepaskan penyatuan kami, mengeluarkan diriku darinya dan saat itu aku menyadari jika aku melupakan pengamanan dalam percintaan kami.
Jantungku kembali berpacu.
"Hngmmmm," saat itu Kyungsoo bergerak gelisah. Astaga. Gadis ini telah tidur. Mencari kehangatan dalam pelukanku. Aku menepuk punggung Kyungsoo. Mencoba menenangkannya.
"Kau akan nyaman tidur seperti ini?" Kutarik selimut menggunakan jari kaki.
Baik Kai! Pikirkan semuanya besok. Nikmati malam ini. Aku pasti akan bertanggung jawab tapi masalahnya jika dalam keadaan sadar apakah Kyungsoo mau menerima tanggung jawab dariku?
To be continue
Just a Short Story! Baiklah, aku punya satu pertanyaan untuk kalian. Apa yang kalian rasakan setelah membaca bagian kedua ini? Yeahh! It's So simple! Khukhukhu...
Ada sedikit epilog biar gak bikin penasaran. Sampai jumpa pada bagian ketiga di minggu berikutnya.
Epilog
Hari itu hujan, sesuatu yang menakjubkan di permulaan musim semi. Beberapa bagian badan jalan tergenang air, pria itu baru saja turun dari bus.
Kim Jongin
Ia mengenakan pakaian yang begitu rapi, kemeja biru berdasi dengan celana dasar hitam berpadu sepatu Oxford. Rambut gelap ditata ke atas. Penampilan ini membuatnya seperti karyawan bank swasta.
"Mom!" Berkali-kali dia mendesis menahan emosi karena Ibunya memaksa Kai mengenakan pakaian ini di hari pertama dia kuliah. Kai memasangkan jaket tebal bukan untuk menghalau udara dingin, tapi menahan malu akibat penampilannya yang seperti seorang asisten dosen kebanyakan.
"Ya!"
Langkah kaki Kai terhenti akibat teriakan seorang gadis. Ia menoleh dan mendapti gadis manis bermata bulat itu dengan pakaian Kotor.
Kai hanya terdiam di tempatnya, dia terpesona pada kecantikan gadis itu. Dengan percaya diri tinggi ia membawa kakinya melangkah mendekat.
"Kau baik-baik saja?" Ia seperti anak baik pada umumnya. Menyerahkan sapu tangan dan tersenyum. Gadis itu menerimanya, Senyumnya sangatlah manis, memisahkan bibir dan gigi Kai. Pria itu terpesona.
"Terima kasih banyak!"
Kemarahannya hilang begitu saja. Dia memilih membersihkan diri daripada mengomel terhadap pengendara yang mencipratkan air kotor pada pakaiannya. Untuk waktu lama Kai hanya terdiam di tempat memperhatikan. Kakinya seperti tertanam di jalanan sampai seorang pemuda mendekat.
"Noona ada apa?"
Suaranya terdengar lebih halus dan kini membawa gadis itu menjauh. Pria berkulit nyaris albino itu membawa sang gadis menjauh dari Kai. Semakin lama tubuh keduanya benar-benar menghilang.
~ RoséBear~
Beberapa hari Kai gunakan waktunya berkeliling kampus mencari sosok gadis itu, tapi dia tidak menemukannya. Ia menjadi sangat frustasi.
Tanpa sadar hari itu Kai membawa langkah kakinya ke kedai di depan kampus. Niatnya hanya untuk membeli minuman lalu keluar dari kedai dengan segera. Tapi ekor matanya menangkap sosok gadis itu. Bersama pria yang sama, pria berkulit nyaris albino. Ia mengambil majalah yang terletak di atas meja kasir, membawanya ke meja di sebelah sang gadis. Sekarang posisi duduknya sungguh bersebelahan. Dia menahan detak jantungnya sendiri.
"Ibu membicarakan rencana libur musim panas."
'Ekh?' Alis Kai bertautan mendengar gadis itu bicara. Suaranya sangat merdu, Kai menyukai suara gadis ini.
"Hahh~" Pemuda di dekatnya mendesah lelah.
"Aku baru tiba di Seoul, bagaimana ibu membicarakan sebuah liburan."
Kai masih tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
"Yeah begitulah. Kau masih memiliki kelas? Kalau begitu aku kembali lebih dulu. Makan sendiri tidak masalah kan? Sampai berjumpa makan malam nanti."
"Ya noona. Hati-hati di jalan," Si gadis mencium pucuk kepala pria itu membuat Kai memberengut kesal. Dengan segera ia keluar lebih dulu. Pria itu tidak sadar dia meninggalkan ponselnya.
"Ya! Tuan! Tunggu!"
Reflek Kai berhenti melangkah. Kakinya yang panjang membuat jarak yang lebar dalam waktu singkat. Dia menoleh dan melihat gadis bermata bulat itu melambaikan tangan. Oh astaga. Ponselnya di tangan gadis itu.
Ia berlari kecil untuk menghampiri Kai. Tapi saat itu kakinya tersandung dan hampir jatuh, klise sekali Kai yang di hadapannya segera menolong. Menahan tubuh gadis itu dengan satu tangan.
"Oh Maaf merepotkanmu. Terima kasih banyak."
Sesaat Kai terdiam. Dia yang telah merepotkan, dia yang seharusnya berterima kasih atas kepedulian gadis ini.
"Ya. Terima kasih kembali."
Kai setengah tergagap menerima ponselnya kembali. Dia tidak ingin beranjak, masih ingin berlama-lama bersama gadis ini.
"Kalau begitu aku duluan."
Sesaat wajah Kai murung karena gadis ini berencana pergi.
"Arghhh!" Dia berteriak nyaring membuat Kai kaget, menyadari sumber rasa sakit ada di kaki. Kai segera berlutut. Benar saja, kakinya terkilir karena kecelakaan barusan.
Kai mendongakkan kepalanya, menyesal atas apa yang telah terjadi.
"Kau ingin pulang? Izinkan aku mengantarmu."
Sebagai pria sesungguhnya Kai menawarkan diri.
"Kau bisa naik di punggungku."
Gadis itu sama sekali tidak bergeming. Jelas keraguan di wajah manisnya.
Kai berdiri melepas jaket yang dia kenakan. Tanpa izin melingkarkan ke pinggang gadis itu.
"Tidak akan ada pria mesum yang mengintipmu," Ia berjongkok memunggungi gadis itu. Memperlihatkan punggung lebarnya.
"Naiklah dan katakan dimana rumahmu."
Pada akhirnya dia mengikuti saran Kai. Mereka melewati jalan umum, memasuki jalan perumahan setapak. Hingga tiba di sebuah rumah bertingkat tiga. Ada kamar sewaan di atapnya. Kai harus menaiki tangga tiga lantai untuk bisa sampai.
"Terima kasih Kai."
Sepanjang perjalanan mereka saling berkenalan satu sama lain. Mengenai pria berkulit nyaris albino itu. Dia adik tirinya Kyungsoo, gadis manis ini.
"Kau mau masuk? Ada beberapa cemilan dan minuman dingin yang bisa mengganti tenagamu."
Insting prianya sama sekali tidak menolak. Kai melangkah masuk sembari memapah Kyungsoo. Sebagai tamu dia menyiapkan makanannya sendiri karena Kyungsoo sedang terkilir.
Tanpa sadar pria itu tertidur di sofa hingga malam. Ketika terbangun dia mendapati seorang pria menunggunya sadar dari mimpi indah.
"Kau sudah bangun?"
Ia mengerjap beberapa kali.
"Kyungsoo noona melarangku membangunkanmu, dia bilang kau tampak lelah. Sekarang dia mengejar penerbangan di Bandara," Kai mengangguk membenarkan. Menutupi keterkejutannya karena gadis itu telah pergi. Setengah kehilangan atas ucapan pria ini.
"Sehun. Oh Sehun. Mahasiswa tingkat pertama jurusan hukum."
"Kai. Kim Jongin. Mahasiswa tingkat pertama jurusan ekonomi bisnis."
Dan sejak itu pertemanan mereka dimulai, dan sejak itu pula perasaannya mulai tumbuh seperti benih yang trus di pelihara dan berharap tumbuh menjadi pohon besar yang kokoh, memiliki banyak buah dan daun yang rindang. Dia selalu menanti liburan semester dan libur musim panas ketika Kyungsoo kembali ke Korea selatan.
Epilog end!
Salam hangat
.
RoséBear
[Everything you risked to change life]
