Akhirnya Haerinee bisa ngelanjutin FF baru ini^^ Dipikir-pikir ini FF jadi mirip drama korea 49 Days tapi entahlah. Yah pokoknya banyak Drama Korea yang ngeinspirasi buat bikin FF ini. AWAS TYPO!
HAPPY READING
.
ENJOY!
.
.
21 DAYS
.
.
-CHAPTER 2-
.
.
"Tepat pada pukul 03.15 sebuah mobil milik generasi PCY Group di temukan di sekitar sungai..."
"...Pengendara itu tak lain adalah pewaris..."
"...Kejadian ini di duga masih dalam penyelidikan..."
-PIP-
Yifan mematikan televisi yang di tontonnya dengan kasar. Ia sangat kesal. Karena semua stasiun televisi di Seoul menampilkan berita tentang kecelakaan pewaris PCY Group itu.
"Arrrghhh..." Kesalnya. "Kenapa kau tidak mati saja Chanyeol!" Yifan mengacak-acak rambutnya frustasi. "Ah aku tahu, pasti si hitam itu menelpon ambulance dan polisi disana. SIAL!" Umpatnya kesal.
"Sudahlah berhenti seperti itu." Ucap Tao yang baru saja datang ke apartemen milik Yifan.
"Sejak kapan kau disitu?" Tanya Yifan.
"Tenanglah bung. Aku sudah mengbungkam mulut si kkamjong itu. Dia tak akan mengungkapkan apa sebenarnya." Ucap Tao berjalan santai.
"Kau yakin?"
Tao mengangguk.
-21 Days-
Chanyeol membuka matanya. Matanya menyipit saat sang surya menampakan cahayanya tepat di depan matanya.
Saat sudah terbiasa dengan seperti itu Chanyeol membuka matanya. Saat ini ia berada di sebuah ruangan bercahaya putih yang sangat terang. Pakaiannyapun yang digunakan sangat putih bersih.
"Apa aku mati?" Kata itu yang dapan diucapkan olehnya. "Tidak mungkin."
Semakin lama cahaya itu semakin terang dan sangat terang hingga membuat Chanyeol memejamkan matanya.
Chanyeol membuka matanya saat dirasakan tubuhnya seperti terjatuh dari atas.
"Dimana aku?" Tanyanya seorang diri yang sekarang berada di sebuah jalan. Sepertinya di sebuah desa.
Chanyeol memandangi tubuhnya yang berbalut pakaian berwarna putih termasuk jasnya. Ia berjalan menyusuri jalan itu, Nampak asri pemandangannya dan hening. Jauh dari bising kendaraan.
Chanyeol semakin bingung. Ia tidak tau ia harus berjalan kemana di sebuah pertigaan jalan. Tiba-tiba seorang Ahjussi melintas dihadapannya.
"Permisi, boleh saya tanya dimana arah ke Seoul?" Dan tak ada jawaban dari sang Ahjussi itu. Chanyeol mengira mungkin Ahjussi itu tuli atau buta karena tidak melihatnya.
Dan pada tempat yang sama datang 2 anak sekolah yang sedang berbincang melintas di hadapanya.
"Kau tau arah Seoul?" Sama saja, 2 anak sekolah itu tak menjawab.
Chanyeol berusaha menepuk pundak namja yang melintas di hadapannya. Dan ajaib tangan Chanyeol menembus tubuh pemuda itu. Seolah-olah pemuda itu adalah air.
"MWO?" Chanyeol tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Ia semakin bingung dan panik saat melihat kejadian itu.
Chanyeol memandangi tangannya namun sesaat kemudian ia mendengar suara indah mengalun di telinganya, suara yeoja.
"Iya nanti aku akan kerumahmu Kyungie. Annyeong." Dilihatnya yeoja dengan sepeda putih dan berseragam sekolah itu sedang melambaikan tangan pada temannya di pertigaan jalan.
Chanyeol memandangi yeoja yang berjalan ke jalan dimana Chanyeol berada. Yeoja itu memandang Chanyeol.
Hal yang ada dipikirannya saat itu adalah "Mengapa yeoja itu bisa memandangku?"
"Ekhmm.. Mian kau tau arah ke Seoul?" Chanyeol mencoba bertanya saat yeoja itu berada di dekatnya.
Saat ini yeoja berambut panjang yang dikat dua itu tengah memandang Chanyeol dari atas ke bawah. Sungguh imut.
"Molla." Dan yeoja itu menjawab sambil pergi dari hadapan Chanyeol.
"Ini aneh sungguh aneh." Gumannya. "YAA AKU BISA GILA KALAU SEPERTI INI!" Ucapnya berteriak.
"Kau memang gila jika terus berteriak seperti itu." Ternyata yeoja itu kembali lagi. "Mungkin nenek ku tau dimana Seoul. Kajja."
Chanyeol hanya dapat membuka mulutnya lebar-lebar mengenai ajakan yeoja ini.
"Mau atau tidak?" Pertanyaan itu membuat Chanyeol tersadar dan mengikuti jalan yeoja itu.
-21 Days-
Chanyeol memandangi pelataran rumah sederhana di hadapannya dengan taman bunga kecil di depannya dan pagar kayu setinggi setengah meter itu membuat rumah sederhana yang terlihat indah.
"Kau tinggal disini?" Tanya Chanyeol melihat yeoja itu menyimpan sepedanya di samping rumah.
"Ne. Wae?" Tanya yeoja itu. "Rumah nenekku memang kecil hanya ada 2 kamar saja." Lanjutnya.
Yeoja berambut ikat 2 itu masuk ke dalam rumah sederhananya. Tak lupa Chanyeol menyusul di belakang yeoja itu.
Rumah yang benar-benar sederhana. Saat memasuki ruang utama hanya ada meja kecil di sana dan sepertinya tempat duduknya pun dilantai. Chanyeol berdiri diam menatap ruangan itu.
"Sepertinya nenek belum pulang." Yeoja itu berkata sambil masuk ke dalam sebuah ruangan yang Chanyeol pikir itu adalah kamar.
Dan benar beberapa saat kemudian, yeoja itu datang dengan mengenakan pakaian santai ala rumahan.
"Ahjussi. Kau mau minum atau makan?" Tawarnya. "Ah ne. Disini hanya ada seadanya saja."
"Anni." Jawab cepat Chanyeol. "Mwo? Kau memanggilku apa tadi?" Chanyeol mulai tersadar atas panggilan 'Ahjussi' dari yeoja imut itu.
"Ahjussi." Ucapnya polos.
"Panggil aku Chanyeol. Park Chanyeol." Chanyeol pun menekan kalimat namanya dengan jelas.
"Tapi kau terlihat lebih tua."
"Siapa bilang?" Sergah Chanyeol. "Umurku 19 tahun." Ucapnya.
"Jinjja?" yeoja menghampiri Chanyeol yang masih berdiri. "Setinggi ini." yeoja itu membandingkan tubuhnya dengan namja di hadapannya.
"Wae?" Tanya Chanyeol dengan suara berat mirip Ahjussi.
"Suaramu saja seperti Ahjussi." Cibirnya. "Aku Baekhyun." Baekhyun pun mengulurkan tangannya namun Chanyeol tak menjabatnya.
"Kapan nenekmu pulang?" Tanya Chanyeol.
"Mungkin..." Baekhyun berpikir "Aigoo! Aku lupa aku harus kerumah Kyungsoo." Baekhyunp un berlari keluar tanpa menghiraukan Chanyeol.
-21 Days-
Seorang wanita paruh baya berjalan di rumah Baekhyun. Tangannya menggapai daun pintu dan membukanya.
'Cklek' Pintupun terbuka.
"Ish anak itu pasti sudah pergi main." Wanita itu sudah sangat mengenal Baekhyun yaitu cucunya sendiri. "Sudah ku bilang untuk mengunci pintu dan meletakannya di bawah pot bunga."
Nenek menggerutu sambil membawa beberapa kantung plastik berisi bahan makannya. Jumlahnya tidak banyak, karena nenek hanya tinggal dengan Baekhyun.
Ohh ya. Ingatkan bahwa Chanyeol masih ada di dalam rumah itu dan wanita paruh baya itu hanya melewatinya saja, padahal Chanyeol berdiri di dekat pintu. Secara manusia normal, Chanyeol pasti terlihat.
Chanyeol sendiri bingung. Mengapa hanya yeoja tadi saja yang dapat melihatnya?
"Ne-nenek. Aku... Aish percuma saja ia tak melihatku." Kesal Chanyeol.
"Tentu saja aku bisa melihatnya." Ucapan nenek itu membuat Chanyeol menatap ke arah nenek dan mendekatinya.
"Jeong..." Kata-kata Chanyeol terputus saat nenek itu ternyata mengambil ayam di bawah meja dapur. "Mwo?" Chanyeol menganga lebar.
"Aku mencarinya tadi pagi." Nenek itu mengelus ayamnya.
"Cih. Dia berbicara dengan ayam rupanya. Apa ayam lebih penting dari seorang namja tampan yang berdiri disini?" Cibir Chanyeol dengan keras. Karena bagaimanapun nenek itu tak akan mendengarkannya.
"Kau diam. Atau akan ku sembelih hari ini." Ucapa nenek itu entah kepada siapa, namun membuat Chanyeol bergidig ngeri.
-21 Days-
Hari sudah sore namun Baekhyun belum juga kembali ke rumahnya. Chanyeol semakin panik. Karena tidak ada seorang pun yang dapat ia ajak bicara.
Chanyeol tak mau lagi mendekati nenek Baekhyun karena kata-katanya yang mengerikan siang tadi.
"Nenek aku pulang." Itu suara Baekhyun dari luar, sangat jelas sekali.
"K-ka-kau? Masih ada?" Tunjuk Baekhyun pada Chanyeol yang sedang melipat kedua tangannya di dada.
"Waktuku terbuang habis untuk menunggumu." Ucap Chanyeol terlihat kesal.
"Suruh siapa menunggu. Kubilang.."
"Baekkie, ayo makan." Terdengar suara neneknya di ruangan yang disebutnya sebagai dapur.
"Ne." Baekhyun pun berlari ke dapur. "Nenek. Kau lihat Ahjussi itu tidak?" Tanya Baekhyun yang sudah ada di dapur bersama neneknya.
"Ahjussi? Yang mana?" Tanya neneknya bingung.
"Yang itu." Baekhyun membawa neneknya ke ruang utama lalu menunjuk Chanyeol dengan jari lentiknya.
"Nenek tak melihat apapun." Ucap nenek, pandangannya diedarkan ke ruangan yang di tunjuk Baekhyun.
"Jeongmal? Lalu...dia?" Baekhyun memutar tubuhnya untuk menatap Chanyeol dengan perlahan. Tatapan Baekhyun terlihat sangat ketakutan.
"Ayo makan!" Neneknya menarik lengan Baekhyun untuk segera makan bersamanya.
-21 Days-
Di dalam sebuah ruangan serba putih dengan suara alat pencatat detak jantung. Ya itu di rumah sakit. Raga Chanyeol terbaring tak berdaya dengan beberapa alat di tubuhnya.
Saat itu Kim Jongin, setia menunggu sahabatnya ini untuk tersadar setelah dokter memvonis namja tinggi bertelinga lebar itu sedang dalam keadaan koma.
Suara pintu terdenga terbuka cukup keras, membuat Jongin melihat ke arah pintu.
Jongin tersenyum dan berdiri lalu membungkuk saat di dapati seorang wanita berpakaian formal datang dengan beberapa namja berjas di belakangnya.
Jongin sangat kenal, ia adalah Ibu Chanyeol. Terlihat Ibunya menangis sambil memegang tangan Chanyeol, Ibunya begitu terpukul sepertinya melihat keadaan anaknya seperti ini.
Beberapa namja berjas itu, yang di ketahui Jongin sebagai pengawal dan sekertaris Ibunya memberi isyarat agar meninggalkan wanita ini dengan Chanyeol.
"Mengapa bisa seperti itu?" Tanya seorang pria paruh baya di setelah mereka berada di luar.
"Chanyeol mengemudi terlalu cepat malam itu sekertaris Kang." Jongin menjawab pertanyaan sekertaris Kang dengan tertunduk.
Ia dipaksa untuk bungkam daripada harus mengungkapkan kebenaran. Karena Yifan dan Tao akan menghabisinya jika benar-benar mengatakan yang sebenarnya.
Yifan dan Tao adalah anak pengusaha yang di takuti. Jongin tau, mereka memiliki pembunuh bayaran kelas handal, yang dapat membunuh ,mangsanya kapan saja di perintahkan.
"Anak itu benar-benar." Terlihat kekesalan di wajah sang sekertaris Kang.
"Anakku di dalam?" Tanya seorang pria yang wajahnya tak kalah tampan dengan Chanyeol namun sudah cukup tua.
Jongin membungkukan badannya. "Ne."
"Kau menunggunya seharian ini?" Tanya pria yang diketahui Jongin adalah Ayah Chanyeol.
"Ne, Abeoji." Jongin sudah menganggap keluarga Chanyeol adalah keluarganya sendiri begitu pula sebaliknya.
Ayah Chanyeol itu berdiri di dengan menatap pintu untuk berusaha tegar.
"Kau pulanglah. Kau pasti lelah. Kamsahamnida Jongin-ssi." Ucap Ayah Chanyeol sebelum masuk ke dalam ruangan rawat VVIP.
-21 Days-
Baekhyun berjalan modar-mandir di dalam kamarnya. Ia gelisah, ketakutan juga bingung.
"Yaa! Apa yang kau lakukan?" Tanya Chanyeol yang sudah berada di dalam kamar Baekhyun.
Baekhyun terkesiap mendapati Chanyeol yang berada di kamarnya. Tatapannya seolah-olah bertanya 'Bagaimana ia bisa masuk kesini?'
"Kau tidak menutup pintunya." Sepertinya Chanyeol dapat menebak pikiran Baekhyun dengan tepat. Sangat tepat sekali.
"Ah." Baekhyun pun menutup pintu kamarnya. "Sebenarnya kau siapa?" Tanya Baekhyun lirih dan sedikit bergetar.
"Kau tidak tau? " Ucap Chanyeol membanggakan dirinya.
"Apa kau hantu?" Tanya Baekhyun takut.
"Entahlah, tapi aku merasa aku masih hidup. Seorah-olah aku harus menemukan ragaku." Ucap Chanyeol santai. Sebodoh-bodohnya Park Chanyeol dalam pelajaran, tetap saja ia dapat berpikir dengan benar.
"Kau tidak tau aku?" Tanya Chanyeol mendekat. Dan Baekhyun hanya menggeleng pelan. "Kau tidak punya televisi atau ponsel?" Tanya Chanyeol penasaran. Dan Baekhyun hanya menggeleng.
"Aku tak ingin memintanya pada nenek. Ia sudah cukup terbebani dengan kehadiranku." Ucapnya lirih.
"Lalu orang tuamu?" Tanya Chanyeol.
"Mereka meninggal saat aku kecil." Jawab Baekhyun dengan bibir bergetar dan menundukan kepalanya.
Entah kenapa saat Chanyeol melihat yeoja ini bersedih. Hatinya terasa teriris melihatnya. Tangan Chanyeol berusaha menggapai wajah Baekhyun dan menghapus air matanya.
Ibarat Baekhyun sebuah listrik, Chanyeol rasanya seperti tersetrum listrik bertegangan tinggi saat itu, hingga terlonjak kaget.
Chanyeol semakin bingung dengan situasi saat ini sangat sangat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa benar Chanyeol harus menemukan raganya saat itu?
*****TBC*****
Annyeong Haseyo! YO! YO! YOO~
Gimana Chapter 2 ini? Gaje yaa...
Beginilah FF pemula, mohon maklum. Disini Baekhyun sama Kyungsoo jadi yeoja. Haerinee tidak handal dalam bikin FF Yaoi.
Kamsahamnida : ristazhizha,ChanKai Love, 48BemyLight.
Ditunggu kelanjutannya. Reviewnya jangan lupa^^
