Title: FOREVER
Warning: AU, Shounen-ai, sedikit OOC (atau banyak?), plot berantakan, dsb.
Disclaimer: Hetalia belongs to Hidekazu Himaruya, but the story FOREVER belong to me.
Rated: T
Genre: Supernatural, Romance
.
.
Kenapa?
Kenapa semua orang hanya menilai berdasarkan apa yang mereka lihat?
Apakah aku sebegitu buruknya karena terlahir berbeda?
Kalau iya, kenapa aku harus dilahirkan dengan wujud seperti ini? Kenapa aku harus ditakdirkan begini?
Apakah aku dilahirkan hanya untuk merasakan rasa sakit tanpa pernah merasakan apa yang disebut kebahagiaan?
'Tidak, Semuanya sudah berakhir, semua penderitaanku sudah berakhir sejak kau lahir ke dunia ini...'
'Aku tidak akan pernah sendiri karena kau akan selalu bersamaku dan mencintaiku...'
'Benar kan?...West...?'
Xxxx
...
Part 2: You're not Alone
Gadis itu berlari sekuat tenaga, ekspresi horor terlihat jelas diwajahnya. Pikirannya memerintahkan kaki-kakinya untuk bergerak lebih cepat, tapi kelihatannya otot-otot kakinya tidak mau bersinkronisasi. Dengan nafas terengah-engah, gadis itu melambatkan larinya, matanya mencari tempat persembunyian kesana kemari sampai akhirnya dia melihat bangunan terlantar didepannya.
Dengan tertatih-tatih, ia berjalan ke arah reruntuhan tembok dan bersembunyi dibaliknya. Air mata mengalir deras diwajahnya. Setelah yakin tidak ada orang dibelakangnya, gadis itu mulai memejamkan mata dan mengatur nafasnya, tapi baru satu menit dia melakukan itu, sebuah suara derak mengagetkannya.
"Kau tidak akan bisa lari, little girl" Suara yang sangat dingin dan bernada kejam mengagetkan gadis itu. Spontan dia menoleh, dan apa yang dilihatnya membuatnya matanya terbelalak lebar. Detik berikutnya hidup gadis itu berakhir tanpa sempat melawan atau bahkan sekedar berteriak.
Sementara sang tersangka pembunuhan masih terdiam memandang sosok lemah dihadapannya. Dalam kegelapan malam, dia membisikkan sebuah kalimat sayup-sayup yang menghilang tersapu angin.
"Maafkan aku..."
Xxxxx
...
...
Inggris, 4 Juni 1939, London
Pemuda brunette berkacamata itu terbangun dari tidurnya di pagi hari seperti biasa, ia menoleh kesamping tempat tidurnya, kosong. Kelihatannya istrinya sudah terbangun lebih dahulu karena ia bisa mendengar suara di dapur. Pasti saat ini sang istri sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, sudah hampir tiga tahun aktivitas ini menjadi kebiasaan mereka di pagi hari.
"Roderich, kau sudah bangun?"
Roderich tersenyum lembut, dia turun dari tempat tidur, berjalan menuju istrinya lalu mencium keningnya sekilas, "Pagi Eliza".
Elizaveta tersenyum manis, betapa ia sangat menyukai saat-saat seperti ini, dimana ia dan Roderich bisa hidup bersama-sama dengan tenang dan damai. Tidak ada perang di sini, tidak ada yang mempermasalahkan status mereka, walaupun semua ini didapatkannya dengan suatu pertukaran yang sangat tidak ia inginkan.
Sementara Elizaveta sedang menyiapkan makan, Roderich membaca surat kabar hari ini, dahinya mengernyit membaca artikel utama surat kabar itu...
LONDON NEWS, - Lagi-lagi ditemukan sesosok mayat wanita di daerah Whitechapel, distrik East End. Pagi ini, seorang pejalan kaki menemukan sesosok mayat dalam kondisi menggenaskan di sebuah bangunan terlantar. Mayat ini diidentifikasikan sebagai JD (20), seorang pekerja tuna susila di wilayah setempat. Seperti serangkaian pembunuhan sebelumnya, jantung wanita ini hilang dari tubuhnya...
Roderich tidak melanjutkan membaca surat kabar itu karena Elizaveta sudah duduk disampingnya, "Kemarin Ludwig menelepon, katanya hari ini dia akan mampir kemari untuk mengembalikan buku yang dipinjam darimu".
Pria itu hanya mengangguk, Ludwig, sudah tiga tahun sejak kejadian itu, sekarang pemuda itu adalah seorang pekerja di kantor miliknya dan menjadi salah satu pengusaha muda yang cukup populer di antara bangsawan Inggris. Pada awalnya, Roderich sangat terkejut mendapati kemampuan pemuda itu dalam menangkap pelajaran dan hal-hal lain seperti tata krama dan sebagainya, mengingat waktu itu dia hanya seorang buruh angkut.
Saat tengah berpikir, ia dikagetkan oleh suara ketukan di pintu rumahnya, "Ah, itu pasti Ludwig, sebentar, aku bukakan dulu pintunya".
"Pagi Elizaveta, Roderich ada?" Suara berat di pintu masuk mengindikasikan bahwa memang benar pemuda berambut pirang itu yang datang.
"Ya, dia ada di dalam, masuklah" Terdengar bunyi langkah-langkah perlahan dan kemudian Roderich bisa melihat Elizaveta dan Ludwig telah ada di ruang makan mereka. "Letakkan saja bukunya di meja dekat pintu itu dan bergabunglah dengan kami" Roderich berkata dengan nada agak memerintah. Ludwig hanya mengangguk pelan dan menarik kursi di samping Elizaveta.
"Bagaimana keadaan Gilbert?"
Satu kalimat pertanyaan itu mampu mengubah aura ruangan menjadi lebih suram. Setelah Roderich mengucapkan kata-kata itu, Ludwig hanya bisa terdiam, sedangkan Elizaveta memandang Roderich dan Ludwig bergantian dengan wajah cemas.
"Sama seperti biasa". Akhirnya Ludwig menemukan suaranya. "Tapi dia akan segera bangun, kemarin adalah yang terakhir"
Roderich menghela nafas, kelihatannya kalau persoalan yang dihadapi mereka saat ini tidak akan selesai begitu saja, "Ludwig, dengarkan aku, walaupun perjanjianku dengannya sudah selesai, tapi hal-hal yang sudah dikorbankan untuk itu-"
"-tidak akan bisa dikembalikan lagi", Elizaveta menyambung, ekspresi terluka terlihat jelas di raut wajahnya.
Ya, tidak akan bisa dikembalikan lagi. Kebahagiaan yang sempurna pasti tidak akan pernah didapatkan apabila seseorang melakukan transaksi dengannya. Tapi bagi Roderich maupun Elizaveta, yang saat ini mereka terima sudah lebih dari cukup. Tapi Ludwig, dia akan menderita seumur hidupnya, mereka berdua tahu akan hal itu walau tidak sanggup mencegahnya karena pemuda yang sudah mereka anggap sebagai adik itu kemudian mengatakannya.
"Aku sudah tahu, tapi aku tidak bisa menghentikannya, bahkan aku belum bisa membuatnya bahagia seumur hidupnya, karena itu... apapun resikonya, aku sudah siap".
Xxxx
.
.
7 Juni 1939
Beberapa jam setelah bekerja, Ludwig sudah berada di dalam bangunan itu, mansion Braginsky, tempatnya tinggal saat ini. Sudah tiga tahun sejak waktu itu, dimana semua yang dilihatnya adalah merah yang menyala, api yang menelan apapun didepannya.
"Kau mau menghidupkannya lagi, da!"
Pemuda itu hanya memandang orang yang tiba-tiba muncul didepannya dengan tatapan kosong, di pelukannya ada kakaknya yang sudah terbaring kaku. "Siapa kau?" hanya itu yang bisa terucap dari mulutnya.
"Aku adalah makhluk yang bisa mengabulkan semua permintaanmu" kata orang itu dengan senyum kekanakan.
Tapi kemudian senyumnya berubah menjadi serigai mengerikan, "Aku adalah makhluk yang muncul dihadapan dia yang memanggilku. Jadi apa keinginanmu"
"Hidupkan dia", kata Ludwig cepat, "Hidupkan Bruder".
Orang itu berjongkok di depan tubuh Gilbert, "Menghidupkan yang sudah mati adalah pekerjaan berat da, aku harus berhadapan dengannya yang paling tidak mau kuhadapi"
Ludwig tertunduk dihadapan makhluk itu, "A-aku akan melakukan apapun...apapun..., karena itu kabulkanlah..."
"Tentu saja ada yang harus kau lakukan, tidak ada permintaan tanpa konsekuensi, da"
"Aku mengerti, akan kulakukan apapun"
"Untuk menggantikan kepingan jiwa, aku memerlukan jiwa lain"
Pemuda itu tampak mengeraskan tekadnya, "Akan kuserahkan!, akan kuserahkan nyawaku..."
Makhluk bermata ungu itu menyela, "Aku tidak membutuhkan nyawamu, aku memerlukan jiwa, hati dari yang masih hidup, bukan dari yang sudah mati"
"Lakukan semua yang kuperintahkan dan kau akan mendapat apa yang akan kau dapatkan"
"Ya, aku mengerti"
"Dan untuknya", orang itu menyentuh wajah Gilbert tanpa mempedulikan Ludwig yang tampak tidak senang dengan perbuatannya. "Dia akan menjadi milikku".
Mata biru itu terbelalak, "Ap-apa maksudmu?"
"Namaku Ivan, Ivan Braginsky, dan mulai detik ini kita sudah terikat kontrak, Ludwig Beillsmidth", tanpa menjelaskan apapun orang itu berbalik, memerintahkan Ludwig untuk mengikutinya.
Ludwig kembali ke dunia nyata, memandang nanar pada apa yang ada di depannya. Tubuh orang itu terbaring di tempat tidur king size di dalam mansion bangsawan Braginsky yang mewah. Sudah lama orang itu tertidur dengan wajah tenteram, tidak mempedulikan pemuda pirang yang selalu setia menunggunya membuka mata.
.
Xxxxx
.
.
Mata merahnya memandang ke sekeliling, hanya ada kegelapan disepanjang penglihatannya. Dia tidak ingat sejak kapan ia berada di sini, sebenarnya tidak ada suatu hal pun yang ia ingat dalam waktu yang entah kenapa ia merasa sangat, sangat panjang.
Entah setelah berapa detik, berapa jam, atau berapa tahun, pemuda berambut putih itu melihatnya, cahaya yang bersinar tepat didepannya.
Pemuda itu mengerjap pelan, kaget dengan apa yang terjadi. Dengan pikiran yang tidak fokus, ia perlahan berjalan menuju arah datangnya cahaya itu. Beberapa menit kemudian, ia melihat pemandangan yang terasa familiar baginya.
Seorang anak laki-laki, kira-kira berumur lima tahun, bertubuh kecil dan berambut putih meringkuk di pojok ruangan, tubuhnya penuh luka. Ayah angkatnya baru saja mencambukinya setelah mabuk-mabukan. Gilbert melihatnya tengah menangis tersedu-sedu di ruangan gelap itu.
Tiba-tiba pintu rumah menjeblak terbuka, seorang wanita setengah baya berlari mendekati ayah anak itu. "TUAN, ISTRI ANDA SUDAH PULANG DARI RUMAH SAKIT"
"Hn", laki-laki itu hanya mengangguk dan mengikuti wanita itu keluar dari ruangan setelah memandang penuh kebencian ke arah anak laki-laki di sudut ruangan.
Gilbert hanya memandang ke arah anak laki-laki itu, walaupun tubuhnya lebih kecil dan dibalut debu, tapi Gilbert mengenal anak itu. Anak itu adalah dirinya sendiri. Sementara Gilbert sibuk mengamati, anak itu tiba-tiba berdiri dan perlahan menghapus air matanya dengan lengan kotor penuh darah. Dia berjalan pelan ke arah kamarnya, tapi di tengah jalan, ia terhenti begitu mendengar tangisan bayi dari sebuah kamar.
Gilbert kecil mengintip melalui celah kamar, tidak ada siapapun di kamar itu. Ayah maupun ibunya tidak ada di sana. Penasaran dengan asal suara tangisan, bocah itu memasuki kamar dengan ragu-ragu.
Ruangan kecil itu kosong, Gilbert memandang sekeliling dengan kebingungan sampai akhirnya matanya tertumbuk pada apa yang ada di tengah ruangan, sebuah keranjang bayi yang dilatakkan di atas meja yang menghadap ke arah barat dimana asal suara tangisan itu terdengar. Perlahan-lahan, bocah itu memanjat kursi di samping keranjang dan melongokkan kepalanya.
Apa yang dilihatnya membuat bocah itu terkesiap. Sepasang mata biru melihat langsung ke mata merahnya, dan salah satu dari tangan kecil makhluk itu menyentuh kepalanya. Ragu-ragu, Gilbert mengarahkan tangannya ke arah makhluk kecil itu, menggenggamnya erat.
"Hangat", entah kenapa tangan kecil itu terasa hangat baginya.
Yang diingatnya pertama kali adalah sebuah cerita yang beredar di sekitar anak-anak lain, apabila ada seseorang yang menderita, maka Tuhan akan mengutus malaikat untuk menolongnya, dan orang yang menderita itu akan berbahagia selamanya.
"Jadi kau adalah malaikat?", Gilbert bertanya kepada bayi itu, yang pastinya tidak akan pernah menjawab pertanyaannya. Tapi Gilbert tidak butuh jawaban, buatnya keberadaan makhluk kecil itu seperti mendapat pertolongan dari surga.
"Mulai sekarang, kau adalah malaikatku, West"
Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Gilbert tertawa bahagia.
.
.
.
Beberapa saat kemudian , ruangan disekitarnya berubah menjadi sebuah kamar sempit berukuran 2x3 meter, kali ini Gilbert melihat dirinya sendiri yang berumur kira-kira enam belas tahun.
Seorang pemuda berambut pirang bergelombang menatap Gilbert dengan pandangan yang sulit diartikan, "Gilbert, aku tahu pekerjaan ini sulit untukmu, tapi kau tidak boleh melakukan hal itu kepada pelanggan".
Bocah enam belas tahun itu tersentak dengan perkataan Francis, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan kemarahan, "KAU! BERANI SEKALI KAU MENGATAKAN HAL ITU DIDEPANKU, BUKAN MAUKU BEKERJA SEPERTI INI, AKU HANYA-" remaja albino itu menunduk, tidak melanjutkan perkataannya.
"Aku mengerti, tapi itu pekerjaanmu dan ini pekerjaanku, kita berdua tahu kita tidak menginginkan ini, sekarang pergilah ke lantai dua, ada pelanggan yang menunggumu di sana" Francis menepuk punggungnya sekali dan pergi meninggalkannya sendirian di ruangan itu.
Remaja itu terduduk, memeluk tubuhnya dengan tangan gemetaran, perasaan marah, malu, dan terluka bercampur menjadi satu membuat kepalanya terasa berdenyut. Baru beberapa jam yang lalu tubuhnya digerayangi dengan pandangan penuh nafsu, membuatnya ingin muntah di tempat itu. Tapi dia tahu, hanya hal ini yang bisa ia lakukan untuk menghidupi dirinya dan sang adik sekaligus, dia tidak boleh berhenti walau tubuhnya itu terus dirusak dan dikotori oleh para pria atau wanita setengah baya yang hobinya melakukan tindakan mesum dan amoral. Berusaha menguatkan hatinya, si pemilik mata merah itu berdiri dan berjalan dengan tegap keluar ruangan. Dia mengeluarkan senyum yang meremehkan dan memasang wajah menggoda seperti biasanya ketika berhadapan dengan tamu berkebalikan dengan hatinya yang terus dirundung hujan tiada henti.
.
.
Pemandangan dihadapannya berubah lagi, kali ini dia melihat pemandangan yang mengerikan, rumah yang selama ini ditinggalinya terbakar. Gilbert melihat tubuhnya terjebak di antara puing-puing rumah penampungan.
Pemuda itu melihat sekelilingnya, tidak ada jalan keluar, semua sudah terlahap oleh api. Pasrah, dia terduduk di lantai sementara api mulai mendekat ke arahnya.
'Apa aku akan mati sekarang?' Entah kenapa dia merasa sedikit lega, setelah semua yang dialaminya, mungkin kematian adalah satu-satunya yang bisa membebaskannya. West akan baik-baik saja tanpanya, dia hanya akan menjadi beban untuk adiknya karena dia hidup, suatu saat West pasti akan mendapat kesempatan untuk hidup lebih baik, dan jika saat itu tiba, dia pasti akan mengalami kesulitan karena mempunyai kakak berpenampilan aneh yang hanya bisa menjual tubuh, kematian adalah jalan terbaik. Jadi pemuda itu tidak lagi bergerak, hanya menunggu dan menunggu sampai api melahap tubuhnya.
.
.
Semua yang dilihatnya membuat kepala Gilbert berdenyut-denyut, Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah seharusnya dia sudah mati? Berapa kalipun dia berpikir, dia tidak bisa mengerti kenapa bisa berada di tempat itu sampai matanya menatap sesuatu.
Gilbert membuka matanya lebar-lebar, apa yang dilihatnya ini membuat jantungnya seakan meloncat keluar. Tubuhnya terbaring di atas tempat tidur di ruangan paling besar yang pernah dia lihat selama hidupnya, dan dia tepat berada dia atas tubuhnya, melayang.
Tapi yang membuatnya terkejut bukan itu, seseorang menggenggam tangannya, tepatnya tangan di tubuh aslinya. Orang itu, seorang pemuda berambut pirang yang disisir ke belakang dan bertubuh tinggi besar sedang tertidur di samping ranjang sambil menggenggam tangannya.
'WEST!'
Gilbert berteriak, tapi kelihatannya pemuda itu tidak bergeming sama sekali.
'WEEESSSSTTT!'
"Percuma kau berteriak seperti itu, dia tidak akan bisa mendengarkanmu!"
Gilbert menoleh, memandang ke arah seseorang yang baru saja memasuki kamar. Dengan langkah anggun, wanita itu berjalan menuju ke tempat Gilbert melayang.
'Kau bisa mendengarku?'
Wanita berwajah sangat cantik , walau agak menyeramkan itu mengangguk, rambut peraknya bergerak lembut tersapu angin. Perlahan dia mendekati Gilbert, memandang pemuda itu dengan tatapan tajam menyelidik, "Aku ada di sini atas permintaan kakak"
'Apa maksudmu?'
Tidak menghiraukan pertanyaan Gilbert, wanita itu menyentuh dahinya.
"Sudah saatnya kau kembali ke tubuhmu"
-TBC-
.
.
A/N:
Akhirnya jadi juga chapter dua dan yang bertanya-tanya kenapa si Roddy dan Eli masih hidup, itu bakal dijawab di chapter tiga. Di chapter ini saya sedikit menyelipkan kasus pembunuhan berdasarkan pembunuhan berantai di Inggris abad 19, Jack the Ripper, di distrik East End, London yang juga dikenal dengan daerah Whitechapel (walau tahunnya berbeda). Ada yang bisa nebak siapa tokoh yang muncul di akhir cerita?
Thanks buat yang udah review:
Crescent Crystal: Fic saya masih belum ada apa2nya kok, masih berasa kaku banget bahasanya. Kamu pingin kakak laki2 kaya Gilbert? Mending jangan deh, pasti ngerepotin, dan saya mengerti sekali perasaan anda yang pingin bunuh kakak2 anda, mau buat aliansi pembela hak2 adik tertindas sama saya? Dan fic DRRR anda kapan diupdate? Saya tunggu lho...
Izhaak: Iya, di zaman itu, yang namanya Albino itu memang dikucilkan dan seringkali ditindas karena ketidaktahuan masyarakat tentang dunia medis, bahkan ada fakta yang mengejutkan kalau zaman dulu, orang Albino banyak diburu dan dibunuh untuk diambil tulangnya guna keperluan spiritual, dll. Makasih reviewnya, ini dah lanjut.
Just and Sil: Saya emang lagi pingin nyiksa si GilGil berhubung saya lagi suka ma dia (lha..?). Dan saya akui emang Germancestnya kurang banget, saya masih dalam tahap pembelajaran sih... Padahal saya suka baca fic Germancest berbagai rate, tapi buat nulis susah banget ternyata...
Knocturne: Mana mungkin saya bosen, saya malah seneng banget ada yang sama2 Germancest lover karena keliatannya di FHI ini jarang ada yang nulis fic Germancest... He.. he... Makasih buat pemberitahuan soal genre itu.., sebenarnya waktu itu saya mau taruh di genre Mistery, tapi keliru ngeklik Fantasy, tapi kalo dipikir-pikir emang lebih condong ke Supernatural sih, saya suka bingung soal genre, Sekali lagi makasih banyak...
BlackYuki: Posisinya? He he, mungkin disini memang lebih ke GermanyXPrussia, tapi di pikiran saya mereka itu bisa gantian (plaakkkk!). Tapi saya emang lagi suka sama uke!Prussia sih, habisnya GilGil kalo jadi uke itu Adorable banget... Lemonan? Maaf, tapi saya belum bisa nulis yang gituan, ngebayanginnya aja udah mimisan akut, tapi kalo ada yang mau buatin saya boleh aja, Germancest rate M, saya juga mau bacaaaaaaaaa...!
tamtamtami: Udah ketahuan kan gimana nasibnya GilGil? Benar kata Anda, Germancest dari fandom Indonesia itu masih sedikit banget, karena itu mari kita rame2 buat fic Germancest mulai rate K sampe M (dilempari sepatu bootnya Lud dan Gil).
Azayaka Freak: Terimakasih banyak, dan maaf ini fic updetnya telat, padahal saya bilangnya minggu lalu mau diupdate, hikz.. hikz... Saya akan usahakan untuk membuat fic2 Germancest lainnya karena pada dasarnya mereka itu OTP saya, makasih banyak reviewnya...(^ ^).
kureha-alpha: Emang sih, yang namanya Nazi itu menjadi sejarah yang gelap buat Jerman, tapi ga cuma Nazi aja kok, setiap negara pasti punya sejarah kelamnya masing-masing, bahkan di Indo juga ada kan?. Ha..ha, orang itu memang Ivan, entah kenapa menurut saya Ivan itu cocok banget buat meranin tokoh kayak begini, tapi dia belum dimunculin di sini, baru disebut-sebut namanya. Thanx 4 your review.
Makasih banyak buat yang udah baca fict saya, Review pleaseee?
