Gomeeen, baru 2 Chapter, sebenernya sih ada 3, tapi yang satu lagi masih harus dicek ulang…jadi belum bisa dipublish…
Warning: Lagi-lagi Chel bakal mengeluarkan OC, tapi cuma di chapter ini aja dia nongol, soalnya udah keburu..emmm..yah..begitulah.. (gak tega ngomongnya)
Huaduuuh, udah ah basa-basinya…langsung aja deh..
.
Plan 2. Escape
Dengan mata melebar tak percaya dan keringat dingin yang mengalir di dahinya, Squalo menghampiri orang-orang berbaju hitam itu, kakinya sedikit bergetar dan jantungnya berdegup kencang.
"Kalian bilang apa tadi?" tanya Squalo dengan mata memicing. Dia tidak percaya dengan telinganya yang mengangkap kata-kata jelas mereka.
"Eksekusimu akan dilaksanakan sekarang juga." Ulang sang penjaga.
"VOOOOOOOOIII! JANGAN BERCANDA! EKSEKUSI SEHARUSNYA JAM SEPULUH MALAM KAN?" Teriak Squalo keras sekali sampai-sampai beberapa penjaga menutup telinga mereka dan seluruh tahanan terjaga dari tidur siangnya.
"Eksekusimu dipercepat, ini perintah dari atasan kami." Sahut penjaga lainnya sambil membuka pintu jeruji besi dan menyeret Squalo keluar.
"PERSETAN DENGAN ATASAN KALIAN! LEPASKAN AKU!" Squalo berusaha memberontak dan penjaga yang paling tinggi memukul kepalanya dengan sebatang gada hingga ia tak sanggup berdiri sama sekali.
Xanxus memperhatikan Squalo sebentar, wajahnya masih gelisah dan sedetik yang lalu ia melihat kesedihan di sepasang mata kelabu itu. Apa yang membuatnya sedih? Karena dia akan mati dan belum menuntaskan misinya? Apa yang membuatnya begitu terlihat menyesal?
"Tunggu!" seru Xanxus tiba-tiba. Seluruh penjaga menoleh ke arahnya, termasuk Squalo.
"Ada apa Xanxus?"
"Beritahu aku apa yang dilakukannya sampai ia harus dieksekusi mati."
"Atasan kami tidak memberi izin untuk—"
"BERITAHU AKU, SAMPAH!" Raung Xanxus sembari menarik kerah seragam si penjaga. Matanya melotot lebar. Sekali lagi saja ada yang membuatnya kesal, sepertinya dia akan meledak.
"S-Squalo adalah suruhan salah satu mafia berbahaya di Italy, dia itu teroris!" jawabnya takut-takut. Xanxus segera melepaskan kerah sanderanya dan melirik Squalo. Menatap mata kelabunya dalam-dalam. Sepertinya apa yang si penjaga katakan tadi memang benar, tapi tidak cukup untuk menjelaskan kenapa Squalo terlihat sedih.
"Sudah, ayo bawa dia!"
Kesepuluh penjaga itu menyeret Squalo dengan paksa, sementara Squalo belum menyerah agar dirinya terbebas. Tahanan lain tertawa-tawa seolah-olah menyaksikan parade di hadapan mereka, sebagian besar berteriak-teriak senang, ada pula yang mencemooh. Tapi Xanxus hanya diam berdiri menatap kepergian Squalo, keningnya berkerut dan matanya yang semerah batu rubi itu terus memperhatikan sosok Squalo sampai ia menghilang di balik pintu.
Squalo di bawa ke sebuah ruangan terang yang membuat matanya sakit, ia dihadapkan pada seorang lelaki berambut cokelat dan berkumis tipis yang duduk di sebuah kursi besi didampingi oleh beberapa penjaga di kanan-kirinya. Tanpa harus berpikir pun, Squalo sudah sangat yakin kalau orang di hadapannya itu adalah pemimpin penjara Alcatraz.
"Lama tak jumpa Squalo, namaku Romualdo Stoneman." Sapa si lelaki dengan gaya seorang boss yang tak kalah arogan dari Xanxus. Squalo tidak menyahut, sebagai gantinya ia mengeluarkan death glare tajam. "Oh tolong jangan menatapku seperti itu, ini pertemuan terakhir kita kan? Bagaimana perasaanmu?"
Squalo masih diam. Lelaki itu kemudian bangkit dan berjalan ke arahnya sambil menyunggingkan senyum yang membuat Squalo jijik. Lebih jijik ketimbang memakan sup sampah tadi siang. Kemudian tanpa mengurangi tenaganya, lelaki pendek itu menendang kepala Squalo dengan keras hingga ia terbanting ke lantai, benturan tadi membuat hidungnya berdarah lagi.
"VOOOOOOOOOIIIIIII! Kalau aku terbebas dari sini aku bersumpah akan menghancurkan alat vitalmu BRENGSEEEEK!" teriak Squalo sejadi-jadinya.
"Kalau terbebas? Hahahahaha, aku tidak tahu kalau kau pintar melawak." ejeknya. Romualdo kembali berjalan ke arah kursi yang tadi ia duduki. "Ini adalah kursi listrik khusus yang kupesan untuk eksekusimu, kau suka desainnya?"
Hah? Kursi listrik?
Dia akan dihukum mati dengan menggunakan kursi listrik? Oh, yang benar saja! Bukankah itu illegal?
"Tenang saja Squalo, aku memutuskan untuk memberimu pilihan kalau kau tidak ingin kena sengatan maut si cantik ini." Gumam Romualdo seraya menoleh ke arah Squalo. "Aku akan mengajukan negosiasi."
"Apa maumu?"
"Hahaha, sudah kuduga, kau tidak suka berbasa-basi." Sahut Romualdo sembari terkekeh pelan. "Kalau begitu langsung saja. Aku akan membebaskanmu bila kau memberitahuku di mana tempat persembunyian organisasi kalian."
"Daripada aku menghianati bossku, lebih baik aku mati sekarang, Cuih!" sahut Squalo ketus sembari meludah.
"Hmmm, aku sudah menduga jawabanmu seperti itu, kalau begini caranya kita tidak punya pilihan lain." Desah Romualdo. "Eksekusi dia! Gunakan tegangan maksimum!"
"BAIK!"
Tak menunggu lama, Squalo dipaksa duduk di kursi besi dengan tangan dan kaki terikat. Matanya tertutup sehelai kain hitam dan mulutnya yang berisik disumpal lakban. Romualdo duduk dengan tenang di ruangan sebelah yang dibatasi dengan kaca tebal, menghadap ke arah Squalo yang berusaha membebaskan diri dari belenggunya.
Sial! Aku tidak boleh mati! Aku tidak boleh mati!
Teriak Squalo dalam hati.
Tapi siapa yang akan menolongnya? Ia sama sekali tidak memiliki harapan untuk hidup. Bahkan Tuhan pun nampaknya sudah tak mempedulikan dia lagi. Entah kenapa hal yang ia ingat sebelum pikirannya kosong karena putus asa adalah Xanxus. Apa yang membuat Squalo bisa memikirkan Xanxus didetik-detik sebelum kematiannya? Makhluk buas itu sungguh ringan tangan. Sedikit-sedikit memukul, sedikit-sedikit melempar. Tidak ada baik-baiknya sama sekali.
Oh? Mungkin karena hidungnya terluka. Luka inilah yang mengingatkannya pada Xanxus. Menyedihkan sekali, sekarang ia hanya akan mati konyol setelah perjuangannya melarikan diri. Benar-benar menyedihkan.
…sampah.
Ah, bahkan sampah pun tidak cocok untuk menggambarkan betapa rendah dirinya. Sudahlah, jangan menyesal…kematian memang selalu tak terduga.
"Nyalakan mesin!"
Squalo masih bisa mendengar Romualdo berteriak memerintah bawahannya. Kemudian ia juga mendengar suara mesin yang berdengung bising. Mungkin malaikat kematian sudah berada di sampingnya sekarang, siap-siap mencabut nyawanya dengan sebuah sabit panjang.
"Tegangan yang terkumpul telah mencapai 2500 volt!"
"Naikkan!" titah Romualdo.
"2700, 2800, 2900, 3000…tegangan telah mencapai tegangan maksimum! Izin untuk mengeksekusi!"
"Biar aku yang melakukannya."
Ah…ini dia…sebentar lagi…maafkan aku boss, aku tidak sempat menyampaikan pesannya padamu..ternyata aku memang tidak berguna.
-JEPREET- SHIIIUUUUUUT-
"Eh? Apa yang terjadi? Kenapa mendadak gelap begini?"
"Listriknya mati! Apa kelebihan beban?"
"Cek sekeringnya!"
Telinga Squalo mendengar berbagai keriuhan yang memenuhi ruangan tak berjendela itu, apa sebenarnya yang terjadi?
…Mati listrik katanya?
"UWAAAH! S-SIAPA KAU? GAH!"
Tak lama setelahnya, kali ini ia mendengar suara orang yang dihajar habis-habisan, ia juga mendengar suara tulang yang patah berkali-kali dan rintihan kesakitan. Ada yang menyerang mereka. Tapi siapa?
Baru saja Squalo bertanya-tanya dalam hati, sesuatu yang membelenggu tubuh dan matanya terlepas sehingga bebaslah dia. Namun karena gelap, matanya tak menangkap wajah sang hero.
Setelah melepas lakban yang masih menempel di mulutnya, Squalo bertanya dengan keras. "Voi! Siapa kau?"
"Berisik sampah! Kalau mau selamat, tutup mulut dan ikuti aku!" sahutnya sembari menarik pergelangan tangan Squalo dan berlari di dalam lorong yang gelap.
"Hah?"
Si brengsek itu? Untuk apa dia menyelamatkanku?
Mata Squalo belum terbiasa dengan kegelapan di sekitarnya, karena itu ia hanya bisa diam bengong ketika melihat Xanxus beraksi dan menghajar seseorang yang menghalangi jalan. Beberapa saat sebelum mereka tiba-tiba berbelok, sebuah alarm berbunyi keras.
"Tahanan kabur! Tahanan kabur!" tedengar suara panik tak jauh di belakang Xanxus dan Squalo. Rupanya korban yang baru saja dihajarnya barusan masih sanggup untuk membunyikan alarm.
"Ck, bikin susah saja!" gerutu Xanxus sambil menambah kecepatan lari. Tangan kirinya menggenggam lengan Squalo erat-erat. Mereka berlari menuju tangga darurat dan sampailah di atap penjara dengan nafas terengah-engah.
Sinar matahari senja yang terang membuat mata Squalo sakit, namun udara segar yang dihirupnya setelah lama berada di dalam penjara pengap bersama orang sesat membuatnya terpaku dan merasa lebih tenang.
"OI SAMPAH! SEDANG APA KAU DI SANA!" teriakan Xanxus menyadarkannya dari lamunan. Squalo menoleh. Rupanya Xanxus sudah berada dalam sebuah helikopter milik angkatan bersenjata yang siap terbang. Tak menunggu lama lagi, Squalo berlari dan masuk ke dalam kendaraan hijau berbaling-baling itu.
"Kau bisa mengendarai helikopter?" tanya Squalo ragu.
"Tentu saja bodoh! Sejak umurku tujuh tahun, aku sudah akrab dengan barang-barang seperti ini." Sahut Xanxus seraya menarik salah satu tuas dari sekian banyak tombol dan menarik kemudi, helikopter pun terangkat dari daratan dan melesat naik ke langit perlahan-lahan.
"Itu mereka! Kembali!" Romualdo berteriak dari atap sebelum heli yang ditumpangi Xanxus dan Squalo terbang terlalu jauh.
"Cih, si brengsek sialan itu masih saja mengejarku!" umpat Squalo kesal.
"Tembak saja pakai ini!" Xanxus melempar sebuah senapan jarak jauh.
"Oh, benar juga." Dari atas helikopter, Squalo membidik Romualdo yang sedang sibuk memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengejar mereka. Namun yang ia bidik bukan kepala, melainkan organ lain di bawah perutnya.
'DOORRRR'
"HA! RASAKAN ITU BRENGSEEEEK!" teriak Squalo senang sambil tertawa keras. Xanxus yang menyaksikan tembakan Squalo malah tersenyum sinis sembari bersiul kagum.
"Skillmu tidak buruk." Komentarnya.
"Sejak umur lima tahun aku sudah berteman dengan senjata." Sahut Squalo, sedikit meniru gaya bicara Xanxus yang barusan. Ia kembali duduk di kursi sebelah pengemudi sambil menghirup udara segar yang menerpa wajah dan rambutnya dengan puas, merasakan angin kebebasan yang sudah lama tak membelainya. Fuh, akhirnya ia benar-benar bisa terbebas. Ternyata Tuhan masih memberinya kesempatan.
Xanxus menoleh memandang wajah Squalo yang tersenyum. Matanya tak lepas dari sosok langsing di sampingnya itu. Barusan dia menyadari kalau Squalo memiliki rambut yang indah, wajahnya yang bersinar terkena cahaya matahari senja membuat aura lelaki itu nampak berbeda. Selama ini Xanxus tidak menyadarinya karena wajah Squalo tersembunyikan oleh kegelapan jeruji besi.
"Hmmp." Gumam Xanxus sambil memalingkan wajah, fokus melihat ke depan sambil tersenyum tipis.
"Apa?"
"Bukan apa-apa." Jawabnya singkat, sekali lagi ia melirik Squalo yang menatapnya dengan heran. "Karena aku menyelamatkanmu, mulai sekarang kau adalah anak buahku!"
"VOOI! Enak saja! Aku sudah punya seseorang yang kuanggap boss!"
"Kalau begitu aku bossmu yang baru!"
"Heh! Gak sudi! Lagipula aku tidak pernah memintamu menolongku!"
"Kalau begitu lompat dari sini!"
"Hah?"
"Cepat lompat dari sini sampah! Aku tidak butuh orang yang tidak menuruti perintahku!"
"VOI! Kau gila ya! Aku bisa mati!" teriak Squalo saat melihat betapa tingginya mereka di atas sana. Helikopter yang dikendarai Xanxus sedang menyebrangi lautan, yah mungkin Squalo tidak akan mati karena jatuh dari ketinggian, tapi ia akan mati dimakan hiu!
"Dari awal kau memang akan mati kan? Jadi sama saja. Lompat sekarang juga!"
"Tch!" Squalo tak punya pilihan lain selain mengikuti perintah orang angker di sampingnya itu. Keningnya berkerut-kerut emosi karena untuk yang sekian kalinya ia tak kuasa membantah Xanxus. "Terserah kamulah!" gerutu Squalo sembari bersandar dan melipat kedua lengannya di depan dada. Sementara Xanxus tersenyum sinis atas kemenangannya.
"Memangnya kenapa kau menyelamatkanku segala?" tanya Squalo jutek.
"Aku akan membutuhkanmu." Jawab Xanxus, pandangan matanya tetap menuju ke depan. "Kalau kau memang benar salah satu suruhan mafia Italy, seharusnya kau memiliki skill membunuh level A."
Squalo diam dengan wajah bersungut. Rupanya sejak awal Xanxus hanya berniat memanfaatkan kemampuannya sebagai pembunuh. Dasar manusia egois.
"Memangnya ada seseorang yang ingin kau bunuh?"
"Ada."
"Siapa?"
"Adikku."
"Hah?"
Squalo menatap Xanxus dalam-dalam.
Membunuh adiknya?
Baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang ingin membunuh anggota keluarganya sendiri. Dendam apa gerangan yang dimilikinya?
Squalo memutuskan untuk tidak bertanya lagi ketika melihat ekspresi wajah Xanxus berubah sangat serius. Dia tahu Xanxus benar-benar menyimpan dendam yang mendalam. Lagipula, Squalo sebenarnya penasaran bagaimana bisa Xanxus keluar dari jeruji besi?
Yah, dia akan menemukan jawabannya suatu saat nanti. Untuk sekarang ini, Squalo harus bersabar melarikan diri bersama Xanxus yang arogan dan egois.
Di Italy, beberapa jam setelah kedua narapidana itu melarikan diri dari Alcatraz, seorang pemuda berusia sekitar 17-18 tahun masuk ke ruangan salah satu pasien di sebuah rumah sakit, di tangan kirinya terdapat karangan bunga dengan bermacam-macam warna yang segar.
Setelah meletakkan buket bunga itu ke dalam vas di meja di samping tempat tidur pasien, lelaki itu duduk di bangku sambil menatap wajah yang tengah tertidur tenang di depannya.
"Maaf aku terlambat menjengukmu." Gumamnya pelan. "Aku harus membereskan berbagai macam masalah, tapi tenag saja, sekarang semuanya sudah selesai."
Tubuh yang terbaring di depannya sama sekali tidak menyahut, satu-satunya suara yang terdengar di ruangan terang itu adalah bunyi mesin pendeteksi detak jantung yang mengeluarkan bunyi pip-pip-pip tiap berapa detik sekali. Sebuah selang menghubungkan alat pernafasan sang pasien dengan tabung oksigen yang besar, lengan kanannya dililit perban sedangkan yang satu lagi terhubung dengan infus.
Suasana hening sesaat sampai terdengar dering handphone.
"Ah, sial, aku lupa mematikannya!" dengan terburu-buru, pemuda itu keluar dari ruangan dan mengangkat telepon. "Halo?"
"Hei, ini aku." Terdengar suara seseorang menyahut di sebrang sana.
"Ya, ada apa?"
"Emm… bagaimana keadaannya?"
"Belum ada kemajuan."
"Oh, aku mengerti." Terdengar nada sedih dan kecewa. "Maaf, aku membawa kabar buruk."
"Apa itu?"
"Tadi ada laporan dari penjara Alcatraz, katanya orang itu berhasil melarikan diri."
"Orang itu?" keningnya samar-samar berkerut, sebelah alisnya terangkat. "Jangan-jangan—"
"Iya, orang yang me—"
"Kapan? Kapan dia kabur?" potong pria itu cepat.
"Katanya tadi sore, sekitar pukul setengah enam."
"Setengah enam?"
"Ya, dia juga membawa satu tahanan lain bersamanya."
". . . Kalau begitu kita harus berhati-hati. Kemungkinan besar dia akan kemari dan mengulang tragedi itu."
"Kau benar. Sudah dulu ya, aku masih ada sedikit urusan."
"Baiklah."
Setelah menutup telepon, laki-laki itu kembali masuk ke ruang pasien dan duduk di bangku tempatnya semula, kemudian menatap agak lama ke arah wajah seseorang yang masih menutup mata di depannya sambil bergumam sedih.
"Juudaime, cepatlah bangun."
.
Hayah, chapter 2 selesei..
Ck, pendek sekali yah? Seperti biasa, ceritanya selalu menggantung…Huhuhu…
Habis ini Chel mau nge-update Mine Only, tapi masih harus dicek lagi, coz banyak typonya x_x (yang ini juga kayanya banyak) Eheee…tolong review n kasih saran or komen or kritik dsb ya~
Arrivederci~ XD
