Anyyeong. Author datang denga series baru~~~
Mungkin masih ada yang bingung dengan Shutter Series ini.
Shutter Series adalah sekumpulan Oneshoot dengan pair yang berbeda(ditentuntakan dari vote yang di riview)
bertemakan Kamera!
terkadang bisa saling menyambung dengan oneshoot lainnya tapi author usahakan tiap oneshoot tidak berhubungan dengan oneshoot lainnya
nah kalau masih kurang jelas silahkan bertanya lewat riview atau pm!
Dan pemenang vote sebelumnya adalah Kristao!
Congratulate to Kristao Shipper!
Title : Polaroid Cube
Sub Title : Love Is Deaf
Cast : Kris x Tao
Esensi Polaroid Cube : Jangan pernah menyesali untuk apa yang telah kamu lihat.
Gyeoui-do, 30 December 2015
"Baba!" ujar seorang pemuda bersurai hitam legam yang tengah menyiapkan adonan bumbu dan beberapa lembar daging untuk dipanggang di taman depan rumah.
"Nde?" ujar sebuah suara dari dalam rumah
"Arang dan panggangnya eoddiseo!?" ujarnya kembali berteriak.
"Ini sedang baba bawakan!" dan tak lama kemudian seorang pria dewasa mengenakan sweater rajut berwarna hitam dan celana panjang senada datang dengan beberapa arang dan tumpukan kayu.
Ya dialah si koki 'Ying&Yang Resto' sekaligus gardener tampan Huang Yun Ho. Memiliki istri yang sudah almarhum bernama Kim Jae Joong. Menetap di Gyeoui-do juga menikmati hidupnya sebagai seorang single parent disini dan membangun sebuah restoran kecil di siang hingga sore hari sambil menemani ayah mertuanya. Lantai satu untuk restoran dan lantai dua untuk rumah. Ayah mertuanya Kim Hyun Jae, adalah seorang dosen besar di Universitas Seoul bergelar Proffesor Kim. Dirinya kadang menghabiskan waktu senggang bersama menantunya-Yunho- di pagi hari untuk berkebun. Ya restoran ini menanam beberapa sayuran pokok untuk bahan masakan restorannya sendiri. Lalu ada Joon Myeon, pegawai restoran milik Yunho yang menamatkan pendidikannya di sekolah keperawatan. Entah apa yang membuatnya memilih bekerja disini daripada melanjutkan pendidikannya padahal dia cukup potensial. Dan yang terakhir, yang paling bungsu diantara semuanya.
Huang Zi Tao.
Putra tunggal keluarga Huang, serta cucu satu – satunya, Proffesor yang cukup berpengaruh di Korea Selatan itu.
Dan seorang Dokter Hewan yang magang di Rumah Sakit Hewan milik Seoul Guard Hospital. Rumah Sakit milik negara Terbaik dan Tercanggih. Fasilitas dan pelayanan juga sangat amat lengkap.
Ayah, Koki.
Kakek, Guru.
Dan cucu, Dokter Hewan.
Benar – benar melenceng semua.
Dan mereka semua berkumpul disini merayakan natal dan tahun baruan.
"Jadi, haraboeji sudah punya bir unggulan lagi?" ujar Tao memanggang daging bersama Joon Myeon yang membereskan meja dan sajian makanan mereka malam ini.
Apa aku lupa bilang bahwa sang Kakek punya hobi meracik minuman ber-alkohol?
"Begitulah. Judulnya sexy beer in the air" ujar sang Ayah santai sambil membantu putranya memanggang.
BRUSH/PRANG
Suara semburan air dan piring jatuh ketanah menciptakan simfoni memekakkan telinga.
"HARABOEJI!/AHJUSSI!" ujar Tao dan Joon Myeon berbarengan.
Dan yang dibicarakan hanya terkekeh kecil sambil menuangkan bir sensasional tersebut kedalam gelas.
"Ini bir sangat pantas dinamai seperti itu. Kalian benar – benar tidak mengerti seni! Lihat babamu Tao, dia sangat paham sekali dan bahkan bir ini menjadi pencarian nomor satu dikalangan penikmat bir tahu! Jadi jangan remehkan haraboejimu ini!" ujar sang Haraboeji.
'Yang penting resto-ku laku' batin Yunho acuh.
Joon myeon segera mengambil gelas bir milik kakek itu dan meminumnya sekali teguk.
Rasanya luar biasa panas namun kemudian serasa nikmat dan menggairahkan.
Pantas nama birnya aneh begitu.
"Haraboeji ingat pesan euisa-nim. Tidak ada alcohol" ujar Tao menyingkirkan semua alkohol,bir, dan soju yang ada disana dan menaruh air mineral dan teh hijau hangat sebagai gantinya.
"Ck! Tao-ie, dirimu sama sekali tidak asik" gerutu sang kakek sebal lalu sumringah ketika mendapati daging panggang sudah siap santap di meja makan yang disajikan Yunho sekarang.
Mereka pun makan dengan nikmat. Saling bertanya keseharian masing – masing. Kakeknya bercerita banyak yeoja, ahjumma, hingga nenek – nenek mengajaknya berkencan yang hanya dianggap khayalan oleh ketiga manusia disana. Ayahnya bercerita bahwa restorannya mulai terkenal sehingga mulai butuh satu lagi pegawai yang namanya Hwang Ai Rang. Remaja SMA yang bekerja part time di restoran kecil milik ayahnya. Menurut ayahnya Ai Rang memilih bekerja disini untuk menyalurkan hobi fujoshinya yang ditanggapi Tao dengan tersedak makanannya sendiri.
Tao tidak pernah tahu bahwa hidupnya selalu berada dilingkungan orang aneh.
Joon Myeon bercerita bahwa ia sudah lelah mengejar Yi Xing, seorang kurir barang tempat dimana ayahnya selalu memesan daging dan bahan lain. Yi Xing sering kemari mengantar pesanan dan menggoda Joon Myeon bahkan terkadang bermalam minggu di resto membantu Joon Myeon atau mengurus Mungmungie-nama anjing milik Tao, ras Siberian- sehingga membuat Joon Myeon baper dan pada ujungnya Yi Xing PHP karna pada akhir ia berkata bahwa dia sedang menabung untuk membawa calon isterinya ke Beijing dan mengenalkan pada orang tuanya dan menikahinya disana.
Tao hanya bisa menatap sedih Joon Myeon. Pantas dia minum bir saat ini. Joon Myeon akan memilih mabuk jika dalam situasi sulit.
Tao sendiri bercerita bulan Januari adalah bulan pertamanya magang sebagai dokter hewan, lalu setelah satu tahun lulus masa magang ia akan dapat sertifikasi izin praktek, yang artinya dia bisa melamar di RS sebagai dokter tetap atau membangun klinik atau rumah sakit hewan sendiri.
Haraboeji dan Yunho memilih segera masuk kedalam karna salju masih turun dan api unggun sudah mulai meredup. Namun Tao masih memilih menunggu Joon Myeon menghabiskan semua bir yang tadi disingkirkan Tao.
"Tao-ya…kau bilang diriku kyeopta dan yeopeo seperti yeoja kan ihik!" ujar Joon Myeon. Rambutnya yang berwarna madu itu berantakan, pipinya memerah dan Joon Myeon selalu cegukkan ketika berbicara.
Itu pertanda bahwa Joon Myeon mabuk berat.
"Nde, hyung" saat ini yang bisa Tao lakukan adalah menjadi pendengar yang baik.
"Tapi kenapa…ihik! Nae Yixingie…memilih yeoja jelek itu dibanding aku…ihik! Appo! Neomu appo!" ujar Joon Myeon sambil memukul dadanya untuk memper-'valid' rasa sakit hatinya. Tao yang duduk di sebrang Joon Myeon hanya bisa menatap miris orang yang sudah dianggapnya sebagai hyung kandung tersebut.
"Hah…ini akan menjadi malam yang panjang…" ujar Tao melihat Joon Myeon meminum bir tadi dan meracau tidak jelas lagi.
…
"Dirimu yakin bahwa restoran itu disini tempatnya" ujar seorang pemuda berambut hitam-sepertinya sehabis di cat rambut- dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana slimsuit jeans hitam yang pas membalut kaki jenjangnya. Disampingnya ada seorang pemuda berwarna rambut pirang dengan campuran abu – abu tersenyum lima jari kearah si pengemudi.
"Tenang aja Yifan, aku yakin disini tempatnya. Judul birnya saja sexy beer in the air. Dari namanya sudah kujamin pasti nikmat, lagipula apa kalian tidak lelah setelah beroperasi?" ujar sang pemuda itu terhadap Yifan-si pengemudi- dan seorang lagi yang duduk dibelakang dengan wajah flat serta rambut dark choco nya.
"Terserah dirimu lah hyung" ujar sang pemuda flat tersebut pasrah.
Akhirnya mereka tiba di sebuah plang bernama 'Ying&Yang Resto' dan memakirkan mobilnya disitu dan berjalan naik kedalam-karna butuh sekitar lima anak lantai untuk mencapai halaman depan restonya-.
"Tao-ya….ihik! coba lihat diriku. Apa diriku…ihik! sudah seksi meski tidak punya payudara besar?" ujar sebuah suara membuat mereka bertiga kebingungan dan masuk lebih dalam.
Disuguhkan dengan seorang pemuda berambut sewarna madu yang acak – acakkan, pipi merah, dan hanya mengenakan kemeja putih yang menjuntai hingga setengah paha dengan dua kancing paling atas dibuka lalu tangannya dari tadi memegang dadanya terus menerus secara sensual. Dan seorang pemuda dengan pakaian piyama bertemakan panda tengah membantu pemuda yang tadi untuk memakaikan celananya.
Ini restoran apa rumah bordir?
"Tao-ya ppali! Aku sudah seksi atau belum…ihik!" ujar pemuda itu kembali sambil memasang pose 'menantang'
Hei Kim Joon Myeon. Dirimu tidak ingin digangbang oleh Yifan, Chanyeol, dan Sehun bukan?
Pelajaran yang Tao ambil hari ini. Jangan biarkan Joon Myeon mabuk terlalu berat.
"Nde hyung! Neo neomu sexy! Jeongmalyeo! Kajja! Kita kekamar sekarang! Chigeumhae!" ujar Tao memuji Joon Myeon dan menuruti semua perkataannya lalu mengajaknya masuk kedalam.
"Anni! Neo! Yang berdiri disana! Apakah aku sudah seksi?" ujar Joon Myeon menggoyangkan pantatnya kearah orang yang ia tanyai membuat Tao berbalik kebelakang.
Dihadapannya ada tiga orang pemuda mematung dengan raut wajah datar memandangi Joon Myeon dan Tao sedari tadi.
Dan bodohnya Tao baru menyadari sekarang.
Well. Untuk ukuran wajah mereka tergolong 'Dewa'. Membuat Tao sedikit mematung.
"Ekhem. Kami disini mencari bir dan makanan" ujar yang paling berwajah datar, Sehun.
"Hahaha! Oh begitu ya. Kami sedang tidak buka resto hari ini tapi kalau kalian ingin makan dan minum bir di meja kami masih banyak makanan dan bir yang belum disentuh dan dimakan. Apalagi api unggun-nya baru saya tambahkan jadi masih panas. Gratis! Tak usah bayar! Anggap saja permohonan maaf atas kejadian ini" ujar Tao tertawa hambar sambil menahan badan Joon Myeon yang mulai berulah lagi.
Joon Myeon lari kehadapan Sehun dan menggesekkan 'barang' Sehun dan menggodanya sensual.
Terang-terangan!
Ulangi.
Terang – terangan.
Ulangi dengan CTRL + B
Terang – terangan.
Capslock
TERANG – TERANGAN ALIAS FRONTAL!
"Kamu bilang ingin makan kan?...ihik! Ayo makan aku~Ihik! Kamu bilang diriku seksi bukan!?"
PRANG
Dan suara piring jatuh berasal dari pintu restoran dimana haraboeji-nya dan babanya yang semula ingin membereskan sisa barbeque mereka dihadiahi atraksi Joon Myeon tadi. Tao menepuk jidatnya mengambil selimut yang dibawa haraboejinya dan menggunakannya untuk membalut tubuh Joon Myeon.
"Hahahah! Tolong dimengerti ia sedang mabuk" ujar Tao tertawa hambar lagi.
"Tidak masalah. Ia tidak seksi sama sekali bagiku" ujar Sehun yang bodohnya masih didengar Joon Myeon yang kini menangis di bahu Tao.
Tao hanya bisa menyuruh baba dan haraboejinya menjamu tamu tak tahu asalnya dari mana itu dan memilih masuk kedalam kamarnya membiarkan Joon Myeon tidur disitu. Ia merebahkan pemuda itu dan memberinya selimut.
"Hiks…Tao-ya, bahkan sekalipun aku menjadi pelacur…hiks…aku tidak akan berharga dimata orang lain…hiks…" igau Joon Myeon membuat Tao hanya bisa menghela nafas sekali lagi dan menepuk punggung itu sabar.
Tapi memang. Untuk perkataan seperti itu dan diwaktu seperti itu agak sangat 'sakit' didengar. Apalagi Joon Myeon sedang krisis jati diri.
"Ketiga orang itu…mengapa tengah malam bisa berkeliaran disekitar sini…?" tanya Tao gamang.
…
Tao turun kebawah.
Dan haraboeji dan aboejinya sudah menunggu dengan tatapan
'Jelaskan Semuanya'
Tao meringis.
"Jadi, ketiga orang tadi kemana?" tanya Tao sambil membersihkan meja makan mereka.
"Sudah pulang. Mereka hanyalah seorang pengunjung yang menuju desa sebelah dan singgah didaerah ini untuk mencari makan" jelas ayahnya.
"Dan mencari bir milik haraboejimu" ujar kakeknya menambahkan.
Membuat Tao hampir menjatuhkan piring kotor yang ia bawa.
JADI, ISU BAHWA BIR ANEH KAKEKNYA ITU TERKENAL BENAR – BENAR NYATA.
"Ah, geurae" ujar Tao menguasai dirinya kembali dan berjalan menuju keran yang berdiri diujung kursi taman rumah ini dan mencucinya. Biasanya keran itu dipakai untuk menyambung selang yang digunakan untuk menyiram tanaman.
"Geuraeseo. Apa yang terjadi pada Joon Myeon? Hingga dia bertingkah 'aneh' seperti itu?" tanya ayahnya penuh selidik.
Dan Tao hanya bisa meringis sambil membersihkan piring kotor tadi.
"Hyung sedikit ada masalah baba. Gweanchana semua sudah baik – baik saja" ujar Tao.
"Pasti hubungannya dengan Yixing" ujar kakeknya.
"HARABOEJI!" teriak Tao kesal.
"Waeyo? Majjayeo? Arraseo! Harabojiemu ini juga pernah muda tahu!" ujar sang kakek
"Apa baba perlu mencari pemasok lain, selain dari tuan Zhang ya?" ujar ayahnya.
"BABA!" dan teriakan Tao sukses membuat ayah dan kakeknya terdiam. Masalahnya Tao berteriak sambil berdiri mengacungkan pisau kotor bekas memotong daging kearah keduanya.
Tao tidak hendak 'aneh – aneh' kok. Dia cuman mau mencuci pisau tadi dan timingnya tepat saat ayahnya berkata seperti itu.
"Ah nde. Arraseo, baba tidak akan mencari pemasok lain. Lagipula harga dari Tuan Zhang yang paling murah" ujar ayahnya lalu berbalik memasuk kedalam diikuti sang kakek yang juga ikut ketakutan.
Tao meringis kembali.
Ini awal tahun yang buruk.
…
Seoul, January 14th 2016
Ini hari pertama Tao bekerja. Dan dia didampingi oleh salah satu asisten dokter besar yang katanya, Asisten paling berbakat.
Byun Baek Hyun.
Ramah. Asik. Manis. Juga cerewet.
Setidaknya timnya beruntung didampingi oleh Dr. Byun yang jika sedang diluar rumah sakit ini ingin dipanggil 'Hyung'.
Supaya lebih dekat katanya.
Timnya sendiri diisi oleh Do Kyung Soo dan Kim Min Seok. Yang diisukan dekat dengan Dr. Kim Jong In, salah satu dokter anak di rumah sakit ini dan Dr. Kim Jong Dae yang merupakan ketua dokter divisi Dokter Ortopedi.
Ketua dokter divisi hewan sendiri adalah Shim Chang Min yang hobi menjahilinya.
"Ah. Aku sudah melihat rekapan nilai dan statistik kalian, semakin hari perkembangannya semakin pesat" ujar Baekhyun sambil melihat papan penilaian kami.
"Nah sekarang kalian masuk kedalam tugas yang lebih berat" ujar Baekhyun kemudian memberikan sebuah map yang dibuka oleh Minseok selaku ketua tim mereka.
"Burung camar?" ujar Minseok kemudian. Membuat Tao dan Kyungsoo kaget.
"Beberapa minggu ini kita mendapat laporan dari pihak kepolisian bahwa burung camar mulai memasuki kawasan taman di Seoul, Gangnam, Ehwa University, dan Kyunghee University."
"Memangnya kenapa? Taman memang tempat favorit mereka bukan?" ujar Tao kemudian.
"Ya tapi tidak seperti ini" ujar Baekhyun sambil memutar laptopnya dan menanyangkan video amatir dari seorang pengunjung taman di Seoul yang melihat beratus – ratus atau mungkin beribu – ribu camar hinggap di pohon, kursi, rumput bahkan mematuk beberapa orang yang mengusir mereka membuat para pengunjung dan pedagang jalanan minggir dari taman tersebut.
"Ini tidak mungkin. Burung camar berimigrasi dengan koloni sedikit dan takut akan manusia" ujar Kyungsoo. Ia memang spesialis unggas.
"Ya. Dan yang aku pelajari di perkuliahan, burung camar tidak suka berdiam diri karna pundi udara mereka sedikit. Mereka butuh terbang dan hinggap di pohon lalu terbang lagi. Ini memang fenomena aneh" ujar Minseok. Dan Tao mengiyakan dalam hati.
"Mereka akan terbang di tengah malam kearah barat lalu datang di sore hari dari arah timur. Kami memasang Polaroid cube di beberapa tempat yang mereka datangi salah satunya aku menaruhnya Center Park, Seoul. Karna disitu selain tamannya luas koloninya banyak. Burung camar suka sesuatu yang berwarna dan Polaroid cube cukup membantu karwa warnanya eye catching dan casenya dari alumunium yang tidak akan mudah rusak dipatuk berkali – kali." Jelas Baekhyun sambil mengeluarkan tiga disk dari laci mejanya.
"Ini adalah rekaman tiga minggu terakhir. Satu minggu satu disk. Dan didalamnya sudah ada tujuh video yang sudah di-rename dengan tanggal perekamannya. Tugas kalian menganilis dan melakukan rekaman ini sampai mendapat jawabannya" ujar Baekhyun sekali lagi, dan mereka bertiga pamit keluar dari ruangan Baekhyun dan memutuskan menghabiskan waktu dikantin rumah sakit.
Selama dikantin rumah sakit mereka memutar video itu selama tiga minggu terakhir, dan siklusnya sama saja. Tidak ada yang berubah. Kesimpulannya sama saja. Mereka datang saat sore dan pergi saat pukul 00.00 – 02.00 tengah malam.
"Aku perlu mengecek kondisi lokasinya secara langsung" ujar Kyungsoo. Minseok dan Tao mengiyakan, bagaimanapun Kyungsoo itu mengambil spesialis unggas. Ia akan jauh lebih banyak tahu dari pada Minseok yang mengambil spesialis makhluk air dan reptil juga Tao yang mengambil spesies Mamalia.
"Tapi hari ini aku mendapat tugas dokter jaga. Bagaimana ini?" ujar Kyungsoo lesu ketika mengingatnya.
"Biar aku tukar dengan shift ku saja hyung. Kebetulan jadwal keesokkan harinya adalah jadwalku" ujar Tao. Bagaimanapun ia maknae disini dan juga ini demi keperluan studinya agar bisa lanjut S2.
"Apa tidak apa?" tanya Minseok yang dijawab gelengan disertai senyuman.
Dan setelah pertemuan itu mereka langsung exchange shift dan pergi lebih dahulu untuk mengecek sebelum dan sesudah burung camar itu datang.
Dan ini masih pukul tiga sore disaat mereka pergi dan butuh waktu tiga belas jam mendatang agar shiftnya selesai.
"Hah~" helaan nafasnya sambil menunggu di ruang UGD. Lalu beranjak menghabiskan waktunya untuk mengecek hewan- hewan yang dirawat dirumah sakit itu dan menerima konsultasi dari beberapa pasien yang mengambil. hewan peliharaan mereka atau baru membeli hewan dari petshop dan butuh anjuran rumah sakit
…
"Wonnie ini sudah mulai lepas dari traumanya tapi jangan dilatih terlalu kuat ya. Hanya intensitasnya ditambah dari tiga kali seminggu jadi lima kali seminggu dan yang semula di rumah sakit jadi dua hari di luar rumah sakit. Nanti tolong bicarakan kebagian administrasi, mereka akan mengurus jadwal dan dokter siapa yang menangani terapinya. Setelah selesai, Siwon-shi bisa datangi dokternya dan menyerahkan berkas ini" ujar Tao menyerahkan berkas yang telah tersusun rapih kedalam map-nya dan menyerahkan selembar formulir yang akan diurus bagian administrasi.
Siwon atau Choi Siwon dua minggu yang lalu saat hujan deras di malam hari bersama anaknya Choi Kyu Hyun datang sambil membawa Anjing jenis Retriever dewasa dengan keadaan lemas dan luka parah dibagian kaki, ekor, leher, dahi, dan tubuh yang memakai pakaian badut. Ketiganya datang dalam keadaan basah kuyub. Kyuhyun datang sambil menangis histeris bahkan tidak mau berhenti meski sudah ditangani Tao saat itu.
Anjing yang diberi nama Wonnie ini adalah anjing yang diduga dari salah satu kelompok sirkus yang masih menggunakan Hewan sebagai salah satu aksinya.
Meskipun sudah dilarang, masih saja ada kelompok sirkus illegal yang masih menggunakan hewan. Wonnie didiagnosa trauma akan kejut listrik dan manusia. Tao juga melihat lubang anus-nya yang rusak parah seperti ditusuk dengan sesuatu seperti batangan besi panas atau batangan yang mengandung listrik atau getaran seperti vibrator dan bekas luka disekujur tubuhnya seperti luka bekas cambukan
Selama seminggu dirawat intensif dan pada hari kedelapan ketika melihat Tao dan Baekhyun. Ia mengamuk dan bahkan mengigit lalu perlahan – lahan ia sudah mau berkomunikasi meski dengan orang tertentu yang punya sense baik dengannya. Dan sekarang ini tubuhnya sudah pulih total, sudah bisa berlari dan berjalan, nafsu makannya baik, dan siklus buang airnya juga normal, ia sudah tidak takut lagi dengan penghuni rumah sakit dan sudah bersosialisasi baik dengan anjing atau binatang lain. Dan Tao menganjurkannya untuk dibawa keluar dari rumah sakit agar bisa bersosialisasi dengan sempurna.
"Wonnie tampak akrab dengan Kyuhyun rupanya" ujar Tao memperhatikan Wonnie yang nyaman dalam pangkuan Kyuhyun yang masih berumur sepuluh tahun. Memang waktu itu pertama kali Kyuhyun diizinkan bertemu dengan Wonnie. Wonnie tidak menggigit atau bereaksi agresif padahal itu baru hari kesepuluh.
"Memang begitulah Dok, saya juga berharap bahwa dokter juga yang menangani Wonnie karna anda dari awal yang bertemu dengan Wonnie dan mengerti Wonnie dengan baik" ujar Siwon.
"Wonnie dan aku juga berharap demikian" ujar Kyuhyun memandang harap Tao dan Wonnie yang seakan mengerti juga turun dari pangkuan Kyuhyun lalu naik kearah pangkuan Tao yang diterima dengan baik oleh Tao.
"Hahaha. Baiklah nanti coba tanyakan dengan bidang administrasi. Jika schedule saya masih cukup untuk memasukkan terapi Wonnie, ya tidak masalah" ujar Tao sambil mengelus kepala Wonnie halus.
"Khamsahamnida Huang-shi" ujar Siwon lalu mengajak dan anaknya pergi ditemani Wonnie yang berjalan disamping mereka.
Dan sekarang sudah pukul setengah dua belas malam. Dan ia memutuskan untuk berjalan – jalan di koridor.
"Taoie!" ujar salah satu staff Janitor yang dekat dengan Tao. Lu Han.
"Kalau dirimu tidak keberatan bisa buang sampah plastik ini kebelakang? Aku masih harus mengolah sampah rumah sakit dulu" ujar Lu Han memelas dan Tao mengiyakan. Ia melepaskan jas dokternya dan menggulung lengan kemeja birunya sampai siku dan mendorong troli yang berisi belasan kantong sampah berukuran jumbo.
Tao membuangnya di halaman belakang rumah sakit dan membuangnya satu persatu. Ketika dirinya sudah selesai membuang sampah tersebut dia mendengar deru nafas seseorang. Mungkin itu hanya firasatnya saja dan memilih untuk angkat kaki dari sana sampai sebuah tangan menahan pergelangan kakinya.
"HUWAA! HANTU!" teriak Tao panik, sampai sebuah wajah lebam yang sangat amat mengerikan itu muncul. Antara takut dan was – was ia meringkuk mendekati pemuda ini.
Kondisinya cukup parah. Tubuhnya terbalut lumpur dan debu, kakinya terkena peluru, wajahnya babak belur, tubuhnya penuh dengan luka sayat disana – sini serta bajunya yang serba hitam robek dengan sayatan yang sesuai dengan lukanya.
"Toh..lo..ngh…ak..kuh…" lirihnya, matanya sudah mulai mengedip beberapa kali menandakan ia sudah hampir kehilangan kesadaran.
Tunggu.
Tao kenal dengan mata ini.
Ini mata yang sama yang ia temui saat kejadian memalukan beberapa minggu silam di restoran ayahnya.
"Dirimu harus dibawa ke rumah sakit" ujar Tao lalu pemuda itu menggeleng keras.
"Jangan! Tolong…jangan bawa aku…kesana" dengan sisa kesadarannya orang itu berkata lalu menjatuhkan kepalanya kedalam rengkuhan Tao.
…
"Nde. Annyeong Haseyo, suster Park! Maaf tidak memberi tahumu lebih dahulu. Aku tiba – tiba mendapat panggilan dari kepolisian bahwa ayahku mabuk dan membuat onar, bisa aku pergi beberapa jam sebentar?"
"…"
"Nde! Begitu urusannya selesai, aku akan kembali!"
"…"
"Nde~ gomapseumnida!"
KLIK
Dan bunyi tersebut penanda sambungan telah terputus.
Yah disini Tao sekarang, di apertement miliknya di Seoul. Apertement ini sudah menjadi temannya sejak dirinya memasuki Universitas. Dan baru kali ini ada orang yang 'bertandang' ke rumahnya bahkan tidur dikasurnya.
Dengan kondisi mengenaskan.
"Ya Tuhan, jangan sampai aku dituduh melakukan mal praktek karna ini" ujarnya nelangsa
Tao pun membawa air hangat, dan melucuti pakaian pemuda ini satu persatu beserta celana dalamnya juga-sebenarnya Tao tidak mau melucuti pakaian 'terakhir' tersebut namun dirinya harus memastikan seluruh tubuh pemuda ini-, dan mulai membersihi seluruh tubuhnya dan lukanya tidak tanggung – tanggung bahkan ia juga membersihkan rambut pemuda itu. Lalu ketika baskom yang berisi air hangat telah berubah menjadi air berwarna kecoklatan dengan campuran darah, Tao mulai memperhatikan luka dibetis kiri pemuda itu. Syukurnya bahwa peluru tersebut hanya bersarang di epidermis dan besarnya tidak lebih dari dua millimeter dengan diameter satu milimieter. Segera Tao mengambil tas operasi miliknya dan menggunakan masker serta sarung tangan latex. Ia mengambil jarum suntik dan mengambil cairan anestesi dan disuntikkan pada luka tersebut.
Sontak pemuda itu mengerang lalu terdiam kembali.
Ketika anestesi-nya sudah bereaksi. Tao mengambil pisau bedah yang berukuran kecil dan membelah secara melintang, darah sudah mulai mengucur ketika Tao mengambil peluru itu menggunakan pinset. Setelah Tao memastikan bahwa peluru itu tidak melukai syaraf maupun tulang pemuda itu segera Tao mengambil kapas yang telah dibasuh dengan air beku lalu menaruhnya di luka tersebut dan menekannya hingga darah tersebut berhenti mengalir. Setelah enam kapasyang berubah warna menjadi merah pekat, barulah pendarahan itu segera berhenti dan Tao langsung menjahit lukanya dengan benang serat, supaya suatu hari benang tersebut menyatu dengan daging kulit sehingga dikemudian hari tidak meninggalkan bekas. Setelah selesai tao menempelkan kapas pada luka jahit itu lalu betis kiri milik pemuda itu Tao gulung dengan kain kasa dan perban.
Setelah selesai, Tao mulai menarik satu persatu cabang ranting dan duri yang menempel pada luka sayatan tersebut. Menurut visum Tao pemuda ini mendapatkan lukanya dikawasan hutan liar atau semak belukar. Setelah selesai mengambil ranting dan duri tersebut. Tao menggunakan salep cream untuk luka sayat tersebut dan pipinya sedikit memerah ketika Tao terpaksa mengolesinya disekitar dada dan perut.
Hey siapa yang tahan dengan dada bidang dan perut sixpack huh?
Sekarang Tao beralih ke wajah pemuda itu dan memperban dahi pemuda itu dengan kapas kasa dan menempelkannya dengan sepasang plester, dan mengompres luka lebam wajah pemuda itu dengan es, ketika luka lebam tersebut mulai memerah dan bengkaknya berkurang. Ia mengolesinya dengan minyak rempah yang bersifat panas agar lukanya cepat mengempes dan menghilang.
Sentuhan terakhir Tao memakaikan pemuda itu baju daster ala pasien rumah sakit-didahului dengan celana dalam milik Tao tentunya-, mengganti seprai yang sudah kotor sebelumnya akibat terkena lumpur dan darah serta memasang infus agar pemuda tersebut tidak dehidrasi akibat kehabisan darah atau stamina, menyelimutinya, dan menghidupkan penghangat ruangan.
Sekarang Tao sudah bisa melihat rupa pemuda itu lebih jelas. Kulitnya putih, tinggi, dadanya bidang, alis serta bulu matanya tebal dan tajam, bibir tipis namun sedikit berisi, serta hidungnya mancung dan rambutnya berwarna hitam.
Benar. Ini orang yang sama yang Tao temui saat insiden malam itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua. Dan Tao harus segera kembali ke rumah sakit.
Ia meninggalkan pemuda itu dan berharap menemukan jawaban saat pemuda itu sudah bangun.
…
"Astaga Tao! Bagaimana kedaan appamu? Apa ia membuat onar?" ujar Suster Park mencercanya dengan berbagai pertanyaan ketika melihat Tao kembali dari rumah sakit. Tao hanya menanggapinya dengan senyuman serta berkata bahwa tidak apa – apa dan ayahnya sudah ia bawa pulang.
Nyatanya Tao sudah tidak enak hati karena sudah membohongi Suster Kepala yang sudah paruh baya tersebut.
Tao mencuci mukanya di wastafel dan bercermin.
Kondisinya buruk sekali. Kantung matanya semakin menebal dan menghitam serta rambutnya acak –acakan, kulitnya juga sangat pucat. Ia menuju apotik rumah sakit dan meminta beberapa suplemen penambah vitamin dan stamina baru ia kembali ke tempat kerjanya dan menemukan bahwa jas dokternya sudah ada di kursi tempat biasa dokter hewan jaga. Mungkin seseorang memindahkannya. Tao mengecek ponselnya yang tertinggal di saku jasnya
30 Missed Call
15 Unread Messages
3 Voice Note
Sepertinya meninggalnya handphonenya satu setengah jam membuat ponselnya banjir notif.
Tao mengecek daftar missed call, lima belas dari Minseok, sepuluh dari Kyungsoo, tiga dari Joonmyeon, sisanya dari baba dan harabeojinya.
Unread Messages hanya dari operator promotor, lima dari Minseok, satu dari Joon Myeon.
Minseok Hyung
Tao apakah dirimu bisa segera kemari? – 00.00 KST
Tao kami butuh pertolonganmu, bisakah dirimu kemari? – 00.01 KST
Tao kami sudah menelponmu berkali – kali, handphone mu aktif tapi mengapa dirimu tidak mengangkatnya? - 00.01 KST
Tao setidaknya balas pesan ku. – 00.01 KST
Apa dirimu sedang sibuk? Jika iya beritahu kami ya. – 00.02 KST
Joonmyeon Hyung.
Tao, jika dirimu tidak sibuk, berkunjunglah kemari. Haraboejimu jatuh sakit. – 00.00 KST
Tao pun mengecek voice note.
"Tao ini aku Kyungsoo. Aku dan Minseok hyung mencoba menelpon dan mengirimi mu pesan namun sepertinya dirimu belum melihatnya. Tao, burung – burung camar itu meneror kita karena ada sekelompok orang yang meneror burung – burung tersebut. Tadi polisi mengejarnya dan sepertinya dia lari kearah rumah sakit. Kami khawatir dan mencoba menghubungimu. Handphone mu aktif tapi dirimu tidak ada tanda – tanda membalas jadi kami putuskan mengirimu Voice Note. Jika dirimu sudah mendengar voice note atau membaca pesan kami. Segera hubungi kami." – 00.05 KST
"Tao ini baba. Haraboeji mu jatuh sakit dan Joonmyeon serta aku dan haraboejimu mencoba menghubungimu. Aku menelpon pihak rumah sakit dan mengatakan bahwa dirimu sedang berada mendapat piket jaga di UGD. Kami menghubungi pihak UGD dan katanya dirimu pergi dan belum memberi konfirmasi. Hubungi baba jika dirimu sudah kembali." – 00.04 KST
"Tao! Ahjusi jatuh sakit. Kami semua panik tolonglah segera mungkin kemari!" – 00.03 KST
Kali ini Tao menghela nafas lelah. Ia menghubungi babanya terlebih dahulu.
"Annyeong haseyo bab-"
"PABBO! KENAPA BARU DIANGKAT SEKARANG! BABA DAN JOONMYEON KHAWATIR TAHU! KEMANA SAJA DIRIMU!?"
"Aku habis mendapat panggilan darurat baba"
"Suaramu tampak letih sekali. Dirimu kenapa?"
"Aku tidak kenapa – napa. Bagaimana keadaan Haraboeji?"
"Haraboejimu mendapat telepon dari kepolisian bahwa seorang buronan berlari kearah rumah sakit tempat dirimu bekerja, ia panik dan menelponmu namun dirimu tidak mengangkatnya. Ia semakin panik lalu pingsan. Dokter sudah mengeceknya katanya ia terkena stress hingga darah tinggi-nya kumat. Kau tahu baba sampai berpikiran buruk bahwa dirimu diculik ditambah lagi konfirmasi dari rumah sakit yang tidak jelas"
"Aku tidak apa – apa, sepertinya saat kejadian aku tidak ada ditempat. Tapi baba belum menjawab pertanyaanku tentang keadaan haraboeji"
"Ia sudah baik - baik saja dan beristirahat sekarang. Besok ambil cuti dan kemari"
"Akan kuusahakan"
Dan Tao memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Lalu menghubungi Minseok.
"Tao! Oh God! Akhirnya dirimu menelpon juga. Kami sangat khawatir. Neo gweanchana?"
"Gweanchana hyung."
"Kami sedang dalam perjalanan kesana. Dirimu menunggu kami atau bagaimana?"
"Tidak. Aku langsung pulang saja"
"Baiklah lusa kami akan menjelaskan semuanya. Kami juga butuh hipotesis darimu"
"Nde…"
Dan sambungan diputus oleh Minseok.
Tao sudah lelah sekarang dan butuh istirahat. Tubuh dan otaknya capek serta stress berat.
…
Pukul setengah empat pagi.
Tao sampai diapertementnya pukul setengah empat pagi.
Tao masuk kedalam apertementnya setelah nenek – nenek penghuni sebelah kaget melihat kondisi Tao yang mengenaskan.
Rambut berantakan
Kulit pucat
Mata sayu
Bibir pink pucat bahkan menjurus putih kebiruan
Jas dokter dan kemejanya juga tampak kusut.
"Ini adalah bubuk teh Jahe buatan cucuku. Ini bisa menyegarkan tubuh." Ujar nenek itu tampak khawatir.
"Nde Halmoeni. Khamsahamnida" ujar Tao menerima bungkusan kertas kecil berisi rempah – rempah yang nenek itu bilang teh Jahe tersebut.
Setelah masuk kedalam apertement, Tao menyadari bahwa pakaian pemuda itu serta seprainya belum sempat Tao cuci. Ia memanggil cleaningservice untuk melaundry pakaiannya yang telah ia pakai selama seminggu ini beserta seprai yang sudah kotor dan pakaian pemuda itu tadi. Tao memasuki kamar dan mengecek tubuh pemuda itu menggunakan stetoskop.
Detak jantungnya normal serta denyut nadi baik. Itu pertanda pemuda ini sudah pulih. Tao mencabut infusnya karna sudah habis dan dirasa tidak perlu lagi. Ia memilih membilas tubuhnya sampai bersih.
Tao masuk kedalam kamar mandi,menanggalkan seluruh pakaiannya menghidupi shower dengan air hangat sebagai pilihannya. Sambil tubuhnya di guyur oleh air hangat itu banyak yang Tao pikirkan saat ini. Terutama pemuda itu. Entah kenapa timing pemuda itu muncul tepat dengan aware dari Minseok bahwa ada buronanyang menyebabkan kekacauan burung camar itu sedang kabur ke arah rumah sakit. Juga kalimat pemuda itu yang menyatakan bahwa dia tidak ingin kerumah sakit. Semuanya berputar -putar di pikiran Tao. Hingga dia memutuskan untuk menyudahi acara mandi sambil merenung tersebut. Saat ia keluar dari kamar mandi pemuda itu masih setia menutup matanya. Mungkin saat bangun nanti Tao bisa bertanya.
Dia mengambil celana slimsuit hitam pendek diatas lutut sedikit dengan kemeja putih longgar yang bahkan mampu menutupi celananya dan mengekspos bahunya. Tao mengambil selimut tambahan dari lemarinya dah manaruhnya di sofa ruang tengah. Tao beranjak ke pantry terlebih dahulu untuk menyeduh teh jahe dari sang tetangga.
Ternyata benar.
Teh ini membuat Tao sedikit lebih rileks dan otot – ototnya yang pengal serta sendi – sendinya yang kaku sedikit lebih lentur. Tao memilih menghabiskan minuman tersebut lalu beranjak ke sofa dan menggulung tubuhnya dengan selimut dan menidurkan dirinya.
Tao bukan pemuda yang mencari kesempatan dalam kesempitan kok. Dia masih menghargai privasi pemuda asing itu meskipun rasa curiganya lebih besar.
Ah otaknya sudah lelah berfikir. Bahkan ia sekarang merasakan deru nafas seseorang mendekati wajahnya dan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Bahkan ia merasakan tubuhnya melayang lalu mendarat di tempat yang sangat empuk dan nyaman.
Tao bersumpah tidurnya kali ini sangat amat nyenyak dari siapapun.
…
Pemuda asing itu mengerjabkan matanya berat. Suasana kamar bernuansa abu – abu menyapa penglihatannya.
Yifan. Nama pemuda itu. Terkesiap saat menyadari bahwa tubuhnya telah diobati bahkan diinfus.
Tapi
Siapa yang telah berbaik hati menolongnya?
"HUWAA! HANTU!"
Yifan tersenyum.
Pemuda yang mengiranya hantu itu telah menyelamatkannya. Tapi Yifan tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas, karena saat itu kondisinya melemah. Yang ia tahu tubuh pemuda itu sangatlah hangat dan nyaman bahkan ia bisa merasakan betapa halusnya kulit pemuda itu. Jika Yifan tidak sempat melihat bahwa sosok itu menggunakan celana mungkin Yifan sudah mengira bahwa dia seorang perempuan.
Yifan melihat ke sekujur tubuhnya. Bekas tembakan peluru polisi itu tadi sudah berganti menjadi lilitan perban. Meski agak sedikit tertatih Yifan sudah bisa berjalan.
Ditemani dengan tiang infus tentunya. Bagaimanapun dirinya masih membutuhkan infus. Orang yang menyelamatkan Yifan ini pastilah bekerja di bidang kedokteran. Dengan melihat hasil perban serta jahitan kulitnya yang sangat rapih orang ini pasti bukanlah seorang amatir. Apalagi mempunyai satu set perlengkapan dokter dan pasien. Yifan bahkan masih melihat peluru kecil di tempat sampah pantry milik orang yang sudah menolongnya ini.
Yifan kembali berkeliling menyusuri apertement ini. Diujung pantry Yifan menlihat sekumpulan kain kotor bahkan pakaiannya ada disana. Yifan pun menyadari bahwa pakaiannya telah berganti menjadi pakaian ala pasien rumah sakit. Yifan melihat sekeliling ruangan sampai menemukan sesuatu.
Sepasang figura besar tergantung apik di dinding persis diatas tempat TV.
Sebuah foto keluarga.
Dan sebuah foto laki – laki yang figuranya dikalungi bunga berwarna putih.
Yifan mendekat. Sebuah foto keluarga terdiri dari tiga orang laki – laki. Yang paling tua duduk di kursi besar. Lalu yang duanya berdiri dibelakang kanan kiri kursi tersebut. Ketiganya tersenyum hangat. Lalu disebelah figura itu ialah foto seoranglaki – laki berpakaian serba putih yang tidak menyadari bahwa dia sedang difoto saat tertawa.
Kim Jae Joong.
Setidaknya itu nama yang tertera disana.
Sampai Yifan menyadari sesuatu.
Dia kembali berbalik memandangi foto keluarga tersebut. Lalu tersenyum.
"Takdir…?" monolognya main – main.
"Nde Halmoeni. Khamsahamnida"
Dan suara itu mengagetkan Yifan dan buru – buru balik ke kamarnya dan berpura – pura tidur. Ia merasakan kehadiran seseorang serta seseorangnya yang lain. Dari percakapan mereka orang ini sepertinya sedang memesan jasa laundry.
Seseorang itu datang. Dan Yifan bisa merasakan orang ini mengecek nadi dan jantungnya lalu melepas alat infus yang merekat pada tangannya dan terdengar bunyi guyuran air lalu setelahnya orang itu keluar dari kamar.
Yifan membuka matanya perlahan – lahan.
Kosong. Kamar ini kosong kembali. Sampai sesuatu menarik perhatiannya. Sesuatu yang tersampir dikursi belajar pemuda tersebut.
黄子韬 (Huang Zi Tao)
수의사 (Veterinarian)
Dua kalimat itu tercetak jelas di sebuah kantung jas dibagian dada kanan.
"Jadi dirimu…seorang dokter hewan?" monolog Yifan.
Yifan keluar setelah tidak merasakan tanda – tanda orang beraktivitas. Rupanya pemuda yang Yifan ketahui bernama Tao ini tertidur di sofa dengan menggelungkan selimutnya. Yifan tersenyum. Bagaimana bisa orang yang tampak kekanakkan seperti dia adalah seorang dokter hewan.
Lebih – lebih dia tahu cara mengobati manusia.
Yifan ingat jelas orang ini. Dia adalah orang yang menemani seorang pemuda 'gila' di resto beberapa minggu silam.
"Tao-ya ppali! Aku sudah seksi atau belum…ihik!"
"Tao-ya…orang – orang memanggilmu dengan sebutan itu?" ujar Yifan masih memandangi betapa damainya orang ini tidur membuat dirinya tersenyum, lalu teringat akan sesuatu. Nama pemuda ini tidak ditulis dengan Hangeul melainkan Hanzi.
Dia orang China.
Sama sepertinya.
"Tao-ie…kupanggil dirimu Tao-ie…" ujar Yifan mengamati wajah pemuda ini. Dia memiliki kelopak mata yang lembut dan bulu mata yang lentik. alis matanya tipis dan sedikit melengkung namun halus. Ah, rambutnya juga halus. Kulitnya putih susu, hidungnya lancip namun mungil dan…
Bibirnya.
Berbentuk kitten. Merekah. Dan peachy.
Dan tanpa sadar Yifan sudah mendekatkan bibirnya ke bibir pemuda tersebut. Ia mengulumnya lembut, merasakan bagaimana manisnya mengecap bibir pemuda ini.
"Tao-ie, sepertinya kita punya takdir yang buruk…"
Dan dengan susah payah Yifan menggendong pemuda ini kekamarnya.
…
Tao merenggangkan tubuhnya. Dia melihat jam yang tergantung apik di dinding kamarnya menunjukkan pukul lima sore.
Wait.
Dinding Kamar!?
"Anda sudah bangun?"
Dan Tao tidak kuasa untuk tidak kaget. Seorang pemuda sedari tadi duduk dikasur memperhatikan dirinya yang tengah tertidur.
Ya Tuhan. Tao benar – benar mengutuk kehidupan dirinya di masa lalu. Pasti di masa lalu ia melakukan kejahatan besar maka saat ia bereinkarnasi sekarang, kesialan selalu menimpa dirinya.
…
Tao tidak bisa untuk tidak berhenti tercenggang. Pemuda yang ia tolong justru kini tengah memasak makanan malam untukknya dan tidak henti – hentinya terang – terangan tersenyum memandang dirinya yang tengah duduk anteng menanti makanannya.
"Anda tahu, bahwa jika anda berpakaian seperti itu diluar sana. Saya tidak berani menjamin bahwa tubuh anda pulang dengan selamat"
Satu fakta lagi. Orang ini suka menggodanya dengan candaan 'dewasa' dan memanggilnya formal.
"Eung nama tuan, nuguya?" ujar Tao.
Yifan terhenti memotong sayurnya dan menatap Tao sambil tersenyum.
"Panggil aku gege itu sudah cukup" dan orang itu kembali memasak.
Tao merasa ingin membotaki pemuda yang sedang ada dihadapannya ini.
…
Tao makan dengan khikmat bersama pemuda itu. Anyway pemuda itu masih memakai daster ala pasien.
Tao akhirnya gatel juga menanyai orang ini.
"Eun, tu- maksudku gege. Apa yang terjadi padamuhingga mendapat luka separah itu…?"
Pemuda itu menghentikan acara makannya membuat Tao terkesiap.
Tao tidak bodoh.
Dipakaian pemuda itu Tao menemukan serpihan bubuk putih. Dari baunya Tao tahu benar itu makanan burung.
Dan bau itu adalah bau kesukaan burung Merpati, Gereja, dan…
Camar.
"Aku dikejar oleh pemerintahan" ujar pemuda itu dingin.
Suasananya sungguh tidak enak.
"Pemerintahan…?" ujar Tao sangsi.
"Mereka ingin mengambil burung camar untuk diambil bulunya"
"Itu wajar saja bukan? Camar dapat dibudidaya dan bukanlah hewan langka"
Dan pemuda itu tersenyum mengejek.
"Mereka hanya mengambil yang jantan untuk diambil darahnya. Orang bilang semakin banyak kau meminum darahnya semakin dirimu 'kuat' diranjang, dan jelas itu untuk laki – laki"
Tao tidak pernah dengar ini sebelumnya.
"Apa dirimu sering melihat burung Camar terbang berpasangan? Mereka berkoloni namun tidak berpasangan membunuh sang jantan sama saja membunuh betinanya. Maka dari itu banyak komunitas pecinta hewan mengajukan petisi agar burung Camar diperlakukan dengan baik sehingga populasi mereka tidak semerosot ini tapi…"
"Tapi…?" Tao menunggu pemuda itu berbicara.
"Tapi mereka tidak mendengarkannya dan hanya dianggap angin lalu. Dan kau tahu ada sebuah fakta mengejutkan…"
"Apa…?"
"Ternyata Kerajaan lah yang menyuruh orang – orang agar membasmi burung Camar itu karena darah burung itu dibutuhkan untuk para tentara di perbatasan juga membubar paksakan para komunitas yang menentang hal ini." dan pemuda itu menatap mata Tao dingin.
"Pemerintah tidak bisa berbuat apa – apa jadi wajar burung – burung itu berontak"
"Kerajaan…tidak seperti yang kau bayangkan, Tao-ya"
Tao terdiam.
Membeku lebih tepatnya. Pemuda ini benar – benar begitu membenci pemerintahan dan kerajaan.
Hingga bunyi ponsel Tao membuyarkan kebekuan yang terjadi diantara keduanya.
'Changmin Hyung Calling'
"Yeobeose-"
"Tao-ya malam ini kau harus segera ke rumah sakit"
"Wae-"
"Polisi mencarimu"
Dan Tao bingung harus bagaimana sekarang.
…
"Anda mau kemana" ujar pemuda itu melihat Tao bersiap – siap.
Suaranya tak lagi ramah.
"Ada panggilan darurat dari rumah sakit" ujar Tao.
"Jika dirimu membutuhkan sesuatu, semuanya ada di pantry. Oh ya jika bekas jahitannya membuatmu kesakitan segera hubungi seseorang untuk membawa mu kerumah sakit. Kalau begitu aku pergi dul-"
BUK
Tao terdiam. Dia belum selesai berbicara dan hendak membuka pintu apertemen namun pemuda ini langsung membanting pintu tersebut agar tertutup kembali.
Dengan sangat amat keras.
"Jangan pergi" ujarnya dingin. Sarat akan perintah.
Posisi pemuda itu tepat dibelakangnya.
"Aku harus per-"
"KUBILANG JANGAN PERGI!"
"MEMANGNYA DIRIMU SIAPA MELARA-eumhh!"
Tao terkejut bukan main. Tiba – tiba saja pemuda itu menangkup kepalanya dan menciumnya kasar.
Kali ini disertai lumatan.
"Heumh! Eumh!" Tao masih berusaha untuk menolak.
Tapi tubuhnya berkata lain. Ketika pemuda ini mengecup belakang telinganya.
Ia menegang.
"Hen…tih…kan…"
HUANG ZI TAO BAGAIMANA DIRIMU TIDAK BERDAYA DIHADAPAN PASIENMU SENDIRI!?
Tapi ciuman ini memabukkan. Bagi seorang 'pemula' seperti dirinya ini adalah sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa sadar kedua tangannya sendiri bergerak mengunci kepala pemuda itu. Menekan tengkuk pemuda itu untuk memperdalam ciumannya.
Bahkan kali ini mereka bermain saliva.
…
Pemuda itu menuntunnya ke sofa di ruang tamu mengunci tubuh sang dokter hewan yang memabukkan dirinya. Mereka masih berciuman dan melumat bibir masing – masing. Tangan Tao bahkan mulai nakal menuruni resletin baju pasien milik pemuda itu hingga mempertontonkan bagian atas pemuda itu.
Mereka melepaskan ciumannya membuat Tao terdiam. Tubuh ini hangat, raga dan wajahnya benar – benar layaknya dewa. Tao hanya bisa terdiam kagum memandang betapa kokohnya tubuh ini meski beberapa bekas luka sedikit 'mencemari pemandangan'. Sedangkan Yifan sendiri hanya mampu memandang dirinya dimutiara hitam tersebut.
"Aku tidak pernah menyesal untuk apa yang telah aku mulai" ujar pemuda itu.
Kali ini pemuda bernama Yifan itu memulai ciumannya dengan lembut. Pakaian pasien miliknya sudah turun hingga selutut. Perlahan tapi pasti pakaian milik Tao ia tanggalkan satu persatu.
Yang tersisa hanyalah pakaian yang menutupi kemaluan masing – masing. Setelah menciumi bibir itu puas, Yifan menurunkan ciumannya ke leher dan bahu meninggalkan jejak 'kepemilikan' disana. Lalu turun pada dua tonjolan merekah berwarna pink pucat disana. Yifan mencium dan mengulumnya sesekali menuai desahan tertahan untuk pemuda yang berada dibawahnya tersebut.
Yifan kali ini menciumi perutnya sambil membuka pakaian satu – satunya yang masih melekat di tubuh pemuda itu.
Dan beralih mengemutnya layaknya lollipop.
Tidak tanggung – tanggung bahkan twinsballnya pun dijamahnya.
"Hi..ahh….!" dan Tao tak kuasa untuk tidak bersuara kala lidah itu beralih pada lubang anusnya. Menjilatnya dan menggoda dirinya dengan menusuk –nusuk lubang masuknya.
Ditambah dengan pijatan pada juniornya. Tao tak kuasa untuk tidak mengeluarkan cairannya"
"Jangan bilang ini pertama kalinya" ujar Yifan tersenyum mengejek.
Tao merasa mukanya tengah memerah sekarang.
"Yak! Tentu saja ini pertama kalinya! Aku kan masih suka yeo- akh!" dan Tao tidak sadar bahwa Yifan sedari tadi mencoba menerobos lubangnya dalam sekali hentak.
"Apa itu menyakitkan untukmu?" Yifan bertanya dengan nada khawatir. Ia bahkan kehilangan 'tense'nya untuk melakukan itu.
"Pabbo! Aku bukan seorang yeo- akh!" ujar Tao meringis karena Yifan justru menghamtamnya sekali lagi.
Pemuda ini benar – benar sialan!
"Karena dirimu ingin diperlakukan sebagai 'laki – laki' maka dirimu akan kuperlakukan sebagai 'laki-laki' "
"Akh..hhh…akh…hen…tih…kanhh…!"
Yifan tidak benar – benar memperlakukan Tao sebagai 'laki – laki'. Ia tetap gentle. Mencium pemuda itu lembut sambil memajukan 'miliknya' disana.
Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat Yifan keluar didalam hole itu bersama keluarnya darah.
Yifan tersenyum entah kenapa hanya karena melihat darah tersebut.
"Baoqian…Taizi fei.."
'Maaf…Puteri Mahkota..'
…
"Mengapa dirimu tidak datang kemarin Tao!?" lihat. Sekarang seorang Shim Changmin yang hobi menggoda dan menjahilinya telah meninggikan suaranya.
Ini semua karna pemuda antah berantah yang meninggalkannya disofa tanpa sehelai benangpun.
Tao mengutuk sekutuk – kutuknya.
"Mianhamnida" ujar Tao.
Kali ini ia berbohong bahwa dirinya semalam 'demam' hingga tidak bisa hadir. Changmin pun iba dan memeriksa kesehatannya. Hingga ia melihat bercak – bercak aneh di leher dan dibahu pemuda panda tersebut membuat keisengan Changmin muncul kembali.
"Jadi, demam seperti apa yang kau alami? Gigitan 'nyamuk'?"
"Nde~"
"Nyamuk 'nakal'?"
"Nde~"
"Namja? Tampan?"
"Nde~"
Dan Tao terdiam.
"Yak Shim Chang Min!"
Dan Chang Min kembali terkekeh.
"Permisi…apakah anda yang bernama Tao?" dan sebuah interupsi suara dari seragam kepolisian menginterupsi keduanya.
…
"Tao-ya, kau tidak akan percaya ini. Burung – burung itu ke taman karna ada serbuk – serbuk yang ditabur ditaman itu dalam jumlah yang banyak sekalipun tidak terlihat oleh manusia. Serbuk itu akan tertempel ditanah – tanah atau didaun – daun. Kami menyadarinya saat Kyungsoo melihat ada serbuk – serbuk putih di bawah sepatunya"
"Chogi…kita mau kemana?" ujar Tao bingung.
Polisi itu tiba – tiba menyuruhnya pergi bersamanya kesuatu tempat.
"Dan kami melihat rekaman lebih detail lagi. Berdasarkan hasil rekaman dari polaroid cube yang tergantung di pohon. Ada seseorang yang menabur dan dua orang yang menjadi petunjuk arah untuk pulang dan pergi burung – burung tersebut. Dan fakta mengejutkannya orang yang menabur itu adalah orang yang katanya berada didalam kerajaan"
"Kerajaan"
Tao tidak bisa menyebunyikan ketakutannya.
…
"Apa anda pernah melihat orang ini?"
Dan foto Yifan yang menggunakan masker hitam tengah menabur serbuk dari pakaiannya berada didepan mata Tao sekarang.
"Saya tidak bisa mengenalinya karena dia menggunakan masker" ujar Tao mencoba untuk tetap tenang.
"Kalau begitu anda pasti kenal dengan orang ini" dan Tao tidak menyangka sosok pemuda yang ia selamatkan itu ada didalam foto itu mengenakan Hanbok berwarna biru keunguan dengan lambang lima naga di perut, punggung, dan bahu kanan kirinya.
Hanbok yang digunakan untuk Putera Mahkota kerajaan Korea.
…
Dan disinilah Tao sekarang. Mengunakan Hanbok khas laki – laki berwarna putih yang biasa menjadi dasar orang Korea berpakaian Hanbok. Dan didalam jeruji besi beralaskan jerami.
Tao tidak pernah tahu. Sekalinya ia memasuki Istana, ia akan terdampar disebuah penjara.
"Ya. Saya mengenalinya, orang itu saya selamatkan kemarin saat dirinya terdampar di pembuangan sampah rumah sakit."
"Dia adalah pangeran dari China yang sedang mengunjungi Korea" ujar orang ini.
"Dan dia adalah dalang dari keresahan burung camar beberapa minggu ini"
"Lalu…?"
"Anda akan mendapat tuduhan sebagai dalangnya" ujar orang itu dingin.
"Kerajaan…tidak seperti yang kau bayangkan, Tao-ya"
Dan Tao seketika mengingat ucapan pemuda itu.
"Mengapa? Apa salah saya?"
"Karena dirimu telah menyelamatkan seorang tersangka"
"Apakah salah, seorang dokter menyelamatkan seseorang yang membutuhkan pertolongan?"
"Tapi jelas salah mempunya hubungan dengan seorang Pangeran dari Negara lain"
"Maksud tuan?"
"Jangan bilang kami tidak tahu apa yang terjadi di apertement anda. Tuan Huang"
Tao terdiam.
"Tuan Huang. Pikirkan ini baik – baik. Anda harus siap menjadi kambing hitam dalam kasus ini. Kasus ini telah menimbulkan gejolak pada rakyat, kerajaan dan pemerintah. Jika China tahu akan keadaan ini bagaimana Korea Selatan dan China dapat berhubungan kembali? anda hanya akan mendapat hukum cambuk tetapi jika Pangeran yang ketahuan dia bisa dihukum mati. Anda tahu benar tentang politik mengingat anda adalah cucu dari seorang dosen besar. Kami mohon pengertiannya"
"Pengertiannya ya…" ujar Tao gamang.
Malam semakin larut. Dan Tao belum diberi makan sama sekali sejak tiga harinya berada disini
…
黄子韬
Tulisan China ini tercetak jelas dalam sebuah gelang perak.
"Sehun…" ujar Yifan memanggil Sehun mendekat kepadanya melihat proses penempaan gelang tersebut.
"Ya…?"
"Zi Tao…apa arti nama itu?"
"Zi berarti anggun atau cantik sedangkan Tao sendiri adalah simbol umur panjang. Jika digabungkan artinya Kecantikan yang Sejati atau Abadi. Jika anda sambungkan dengan marganya yaitu Huang yang berarti Kaisar. Berarti dia adalah pemilik/raja/ratu sang Kecantikan abadi tersebut." ujar Sehun panjang lebar.
"Orang tuanya memberi nama sesuai dengan harapan dan kenyataan" ujar Yifan sambil melihat dua gelang yang diberikan oleh tukang tempa kerajaan tersebut satu bertuliskan nama Tao dan satu namanya.
"Gelang ini untuk siapa? Lusa dirimu akan kembali ke China bukan?" ujar Sehun sangsi.
"Untuk…" ujar Yifan main – main.
"Taizi fei." Dan Sehun terkejut mendengarnya. Senyum di wajah Yifan tidak akan luntur sampai Chanyeol datang melunturkan senyum sang pangeran China tersebut.
"Yifan. Mereka menemukan heugyang(Kambing Hitam)" ujar Chanyeol dengan gusar.
"Bukankah itu bagus? Mereka tahu kita yang mengacaukan mereka namun mereka tak bisa menyentuh kita"
"Tapi kau tak akan senang begitu tahu siapa heugyang tersebut" ujar Chanyeol serius.
…
Tao mengerjap perlahan.
Seseorang mengenakan hanbok tengah duduk memperhatikannya yang tertidur beralaskan jerami tersebut.
Wu Yi Fan.
Akhirnya Tao tahu nama pemuda yang dari awal memintanya memanggil gege.
"Apa…tidurmu…nyenyak…?" hanya itu yang bisa Yifan ucapkan.
Orang yang telah mengambil hatinya ini. Terngah terbaring lemah diatas tumpukan jerami yang kasar.
Tao tak kuasa untuk tidak menahan air matanya yang menetes begitu saja.
"Nde…jeoha(Yang Mulia)" ujar Tao sambil tersenyum meski dirinya tak kuasa untuk mengusap air matanya sendiri.
Yifan mendekatkan dirinya. Memeluk tubuh itu erat. Untuk pertama kalinya Yifan menangis karena suatu hal. Yifan mengelus rambut itu halus. Tak lupa, ia memberikan Tao sebuah gelang di tangan kanannya. Tao memandang gelang perak itu lekat – lekat.
吴亦凡
Wu. Yi. Fan.
"Apa arti namanya…"
"Laki – laki yang tegas, bijaksana, dan cerdas…" ujar Yi Fan masih memeluk Tao.
"Nama yang bagus…" ujar Tao masih memandang gelang tersebut.
"Aku sudah bilang padamu, jangan pergi. Mengapa…engkau pergi…?" ujar Yifan.
"KUBILANG JANGAN PERGI!"
Rupanya Yifan tahu resiko apa yang terjadi jika Tao 'pergi'.
"Karena…hamba melakukan kesalahan…" ujar Tao sambil menangis. Air matanya kian deras meski ia tak bersuara.
"hamba telah melakukan kesalahan…yaitu mencintai seseorang yang tidak sepatutnya hamba cintai"
…
"Dia tidak bersalah apapun bagaimana dia bisa dihukum!?" ujar Yifan kalap memasuki kediaman Raja.
Dan tepat didalam ada sang perdana menteri.
"LALU BAGAIMANA DIRIMU MENJELASKAN APA YANG TELAH KAU LAKUKAN TERHADAP BURUNG – BURUNG CAMAR ITU!"
"BAGAIMANA DIRIMU MENJELASKAN RIBUAN BANGKAI BURUNG ITU WANG(Raja)?"
"LALU BAGAIMANA DIRIMU MENJELASKAN TENTANG APA YANG TELAH KAU LAKUKAN DI KEDIAMANNYA?"
Yifan terdiam.
"Hukum aku. Jangan dirinya." Kali ini Yifan sujud menyembah Raja.
"Apa yang harus kukatakan pada ayahmu? Apa yang harus kukatan pada rakyatmu dan rakyatku?"
"Cemarkan namaku tidak apa – apa. Asal jangan hukum dia"
"Yifan. Untuk mendapatkan sesuatu kau harus kehilangan sesuatu. Itu adalah politik Huang Taizi(Putra Mahkota)"
"Jika dirimu tidak melakukan perlawanan terhadap kerajaan. Jika dirimu tidak menyukainya. Jika dirimu tidak bertemu dengannya. Anak itu akan baik – baik saja" ujar sang Perdana Menteri.
Dia terdiam.
…
"Huang Zi Tao-shi. Apakah benar anda yang telah menyebabkan kekacauan pada burung – burung tersebut?" ujar salah satu petugas tinggi kerajaan.
Disini Tao sekarang. Duduk dan diikat pada sebuah kursi ditemani dua prajurit kerajaan. Ini adalah hari penghakiman untuknya.
Dan dihadapannya ada sebuah pondok berisikan petinggi kerajaan.
Dan disana ada Yifan dengan muka datarnya.
"…Kami mohon pengertiannya"
"Nde. Saya yang menimbulkan konspirasi melawan kerajaan…saya yang membuat burung – burung itu menganggu masyarakat" ujar Tao memandang kosong ke depan. Ke arah Yifan lebih tepatnya, yang masih memandang Tao datar.
Inikah akhir dari dramanya?
Sepertinya iya.
"Anda telah menyalah gunakan ilmu dan pengetahuan anda. Namun mengingat akan kejujuran anda dan integritas keluarga anda. Masalah ini tidak akan dimunculkan ke publik. Dan anda hanya menerima dua ratus lima puluh kali cambukan, setelah itu anda diizinkan keluar dari istana"
Tao tersenyum. Setidaknya hukumannya tidak begitu buruk. Tao digiring ketempat penghukuman, kedua tangannya diikatkan kepada tiang. Dan seorang kasim datang memegang tali cambukan.
Dan disini penderitaannya dimulai.
CTAK
"Satu…"
CTAK
"Dua…"
CTAK
"Tiga…"
…
"Yifan jika dirimu tidak kuat melihatnya. Lebih baik tidak usah melihatnya" suara Chanyeol menginterupsi kegiatan mereka bertiga dalam melihat Tao yang dicambuk dari kejauhan.
"Aku hanya bisa menjadi penonton ketika semua orang menuduhnya" ujar Yifan gamang.
"Dia hanya menerima tuduhan itu apa adanya dan aku hanya bisa menatapnya datar" ujar Yifan kembali.
"Itu karena kau sedang melindunginya. Anak itu bisa jadi korban politik jika dirimu menunjukkan ketertarikan terhadapnya" ujar Chanyeol.
"Dia tidak berontak, tidak berteriak, tidak menghakimi, dan tidak mengeluh ketika mendapat perlakuan seperti ini"
"Yifan. Arti lain dari namanya sendiri ialah pemaaf, murah hati, sabar, dan apa adanya. Itu adalah kecantikan yang sejati. Aku yakin anak itu akan memaafkanmu" ujar Sehun mencoba menghibur.
"Tapi bagaimana bisa aku bertatap muka dengannya…aku sudah tidak punya hak apapun untuk melihatnya. Sekalipun ia tengah tertidur" dan ucapan itu berakhir dengan tetesan air mata.
Yifan masih setia melihat Tao yang hanya merintih kecil sambil menangis diam ketika rasa sakit cambuk itu semakin menderanya.
Tapi Yifan tidak tahu bahwa perasaan Tao jauh lebih sakit ketimbang dua ratus lima puluh cambukan yang akan dia terima.
…
CTAK
"Sembilan puluh sembilan…"
CTAK
"Seratus…"
"Kasim Jo. Sepertinya anak ini mulai kehilangan kesadarannya. Hari sudah siang lebih baik biarkan anak ini beristirahat lebih dulu" ujar salah seorang Kasim melihat mata Tao yang mulai terpejam
"Iya Kasim Jo. Siang ini sangat terik. Anak ini bisa meninggal" ujar sang tukang cambuk.
"Akupun merasa begitu. Tapi ini adalah perintah kerajaan tidak ada istirahat untuknya. Kasihan sekali, padahal Pangeran China itu yang bersalah namun anak berwajah manis ini yang menerima hukuman"
Diam – diam Tao tersenyum. Rupanya masyarakat kerajaan tahu. Dan Raja sedang memulihkan nama baik Yifan.
Kerajaan tidak seperti kelihatanya, ternyata memang benar.
"Lanjutkan Kasim Heo"
CTAK
"Seratus satu…"
CTAK
"Seratus dua…"
CTAK
"Seratus tiga…"
…
Chanyeol tengah berlari mencari seseorang. Tepatnya, ini adalah perintah dari Yifan. Dan sepertinya dia menemukan orang yang dia cari saat orang itu tengah berjalan menaiki lift.
"Kau. Apa dirimu yang bernama Byun Baek Hyun?"
Dan Baekhyun terkejut ketika seorang pemuda jangkung membanting dirinya kedingding.
"Ye…?"
Dan Baekhyun lebih terkejut lagi, ketika dia menyaksikan rookie-nya tengah dicambuk seperti itu dari kejauhan.
Buk.
Bahkan dia tidak kuat untuk mengangkat tas dokternya sendiri.
Awalnya, pemuda yang ia kenal bernama Chanyeol ini mengaku sebagai pegawai istana dan membutuhkan bantuannya dalam menolong seseorang. Baekhyun bersikukuh bahwa dia adalah seorang dokter hewan dan Chanyeol salah memilih dokter.
Tapi sekarang dia mengerti mengapa dirinya yang terpilih.
"Apa yang telah kalian lakukan!?"
"Saya mohon anda tidak berisik"
"Bagaimana saya tidak berisik!? Dia tidak bersalah apa-"
"Jika anda mengeluarkan sepatah kata lagi. Saya tidak menjamin tubuh anda pulan dengan 'selamat' Byun-shi"
Dan Baekhyun benar – benar menggigit bibirnya kuat – kuat.
…
CTAK
"Dua ratuh lima puluh. Lepaskan ikatan tangannya"
Dan ketika langit mulai menggelap disitulah dirinya menyelesaikan hukumannya.
BUK
Dan ketika ikatan tangan Tao dilepas. Dia tidak kuasa untuk menahan beban beratnya sendiri.
"Muqin…mianata…" ujar Tao sebelum menutup matanya rapat rapat.
"TAO-YA!" dan suara itu yang terakhir Tao dengar.
…
Baekhyun merasakan tubuhnya bergetar sendiri.
Ketika tubuh Tao dibawa kesalah satu pondok di Istana ini dan beberapa dayang membuka pakaian atas Tao.
Baekhyun tidak kuasa menahan dirinya untuk menangis.
Tubuh ini pucat pasi, beberapa darah merembes ke pakaiannya. Beberapa bekas cambukan ternyata menimbulkan luka hingga mengeluarkan darah, bibirnya pink pucat bahkan menjurus putih, bagian yang paling parah adalah punggungnya.
"Apa dia diberi makan…?" tanya Tao. Serentak semuanya sunyi senyap.
"Bahkan dia tidak diberi makan…" ujar Baekhyun dingin.
"Siapkan aku air panas kita akan obati lukanya"
…
Yifan hanya terdiam di pintu pondok tersebut. Dia menyaksikan beberapa dayang hilir mudik mengganti air.
Setidaknya sudah sepuluh wadah berisi cairan berwarna merah telah Yifan lihat.
"Bagaimana kondisinya…?" ujar Yifan mematung.
"Dari dayang yang hilir mudik…sepertinya serius" ujar Sehun tidak menghibur sama sekali.
"Dia sudah ditangani oleh orang yang telah kau perintahkan Yifan. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengatakan kondisinya baik – baik saja"
Dan dengan bersamaan itu. Baekhyun telah keluar. Kaget tergambar jelas di wajahnya. Ia kenal Yifan, wajah orang ini muncul beberapa kali di polaroid cube ditaman.
Juga orang yang membuat Tao begini.
"Apakah…dia baik – baik saja…?" tanya Yifan datar.
"Jika mengalami dehidrasi, luka berat pada bagian punggung, hampir merusak tulang rusuk, dan demam tinggi tergolong dalam keadaan 'baik- baik saja' maka dia dalam keadaan 'baik – baik saja' " Baekhyun tidak kalah dingin dari Yifan dalam menjawab pertanyaan.
Bahkan terkesan sarkasme.
"Boleh aku melihatnya?" ujar Yifan tampak seperti orang putus asa.
"Saya tidak berhak melarang bukan? Anda yang punya kuasa disini" ujar Baekhyun dingin.
Dan Yifan tidak akan peduli lagi pada Baekhyun dan segera memasuki pondok tersebut.
"Kau! Bagaimana bisa mulutmu sebegini pedasnya!" ujar Chanyeol marah.
Sehun menghela napas. Lebih baik ia pergi sekarang.
"Lalu aku harus bagaimana! Berkata sambil tertawa 'hahahaha dia baik – baik saja! Dua ratus lima puluh kali cambukan ditambah tidak diberi makan? Hahaha! Itu tidak akan berfek padanya!'begitu Tuan Park?" ujar Baekhyun tidak kalah emosi.
Tuhkan. Sehun seharusnya pergi daritadi kalau tidak mengingat bahwa dia harus pergi bersama Yifan.
"Kau! Kau merasa dirimu paling benar! Kalau bukan karna Yifan orang ini akan keluar dari istana dengan menjadi mayat! Kalau bukan karna Yifan, orang ini tidak akan diterima oleh masyarakat dan mendapat hukuman yang lebih berat! Apa kau tahu itu! Meskipun terlihat menyakitkan tapi setidaknya hukuman ini tidak menghancurkan masa depan anak itu!" ujar Chanyeol menahan emosi terlihat dari nafasnya yang memburu dan mukanya yang memerah.
Baekhyun terdiam. Sehun menghela nafas.
"Sudahlah kalian jangan berdebat lag-"
"Aku memang tidak tahu. Karna yang kutahu, demi menghindari Yifan terkena hukuman mati Tao terpaksa menjadi heugwang. Yang kutahu, demi membersihkan nama putera Perdana Menteri Oh Se Hun, Pangeran Kerajaan Park Chan Yeol, dan Putera Mahkota China Wu Yi Fa. Seorang rakyat tidak bersalah bernama Huang Zi Tao harus rela menjadi heugwang untuk membersihkan nama Kerajaan, nama Pemerintah, nama China dihadapan rakyat dan dunia. Yang kutahu, jika sekelompok pemuda berjumlah tiga orang tidak berkonspirasi melawan kerajaan dengan cara amatir dan bodoh seperti ini, tidak akan ada seorang anak yang berbohong kepada keluarganya bahwa dia sedang pergi beberapa hari ke hutan belantara untuk menyelidiki spesies baru. Yang kutahu, jika tiga orang bergelar pangeran bisa berfikir cerdas dan punya kekuatan selayaknya seorang 'pangeran'. Tidak perlu ada dua ratus lima puluh kali cambukan hari ini. Itu yang kutahu. Chanyeol seja-mama(panggilan rakyat untuk Pangeran)" ujar Baekhyun ditemani deru angin yang membuat suasana semakin dingin dan mencekam.
Sehun dan Chanyeol terdiam.
…
Nyatanya Yifan masih berdiri didepan pintu mendengar pembicaraan Baekhyun dan Chanyeol.
"…jika tiga orang bergelar pangeran bisa berfikir cerdas dan punya kekuatan selayaknya seorang 'pangeran'. Tidak perlu ada dua ratus lima puluh kali cambukan hari ini…"
Baekhyun benar.
Bagaimana bisa Yifan bertatap muka dengan pemuda yang terbaring lemah dengan perban memenuhi tubuh bagian atasnya dan penyebabnya adalah dirinya.
"Apa, jeoha hanya berdiri mematung disana…?" suara lemah tersebut membuat Yifan mendekat.
Tao membuka matanya perlahan. Yifan tengah menatap wajahnya lembut, bahkan sekarang tengah memangku setengah badannya.
"Apa, jeoha tidak lelah menopang tubuh berat saya" Yifan menggeleng diam.
Ia melihat gelang bertuliskan namanya ditangan pemuda itu. Tidak. Gelang itu tidak pantas bersanding dengan tubuh pemuda ini. Yifan ingin melepasnya tapi dilarang oleh Tao.
"Ini pemberian gege satu - satunya, apakah setelah menerima cambukan itu aku tidak pantas mendapatkan ini?"
Yifan terdiam.
"Panggilan apa yang tadi kau ucapkan?"
"Gege. Jeoha menyuruhku memanggilmu dengan gege bukan? Apa karna aku memanggil jeoha dengan sebutan gege aku akan menerima dua ratus lima puluh cambukan lagi…?" ujar Tao lirih.
Yifan menatap mata itu dalam.
"Tao ini sumpahku. Ini terakhir kalinya dirimu terluka. Kupastikan hanya diriku yang engkau panggil gege" ujar Yifan serius. Tao sedikit tersanjung
"Aku memanggil gege tentu bukan hanya untuk gege saja. Untuk orang-"
"Dan kupastikan hanya diriku yang memanggilmu dengan Tao-ie. Sampai aku punya kekuatan sendiri untuk melindungimu"
Tao mencium bibir Yifan lembut. Hanya kecupan ringan tepatnya.
"Aku akan menunggu sampai saat itu tiba" ujar Tao lirih. Diakhiri ciuman dan lumatan lembut dari Yifan.
Ini bukan salam perpisahan.
Tapi janji yang harus ditepati dan itu Tao tahu itu karna ada sebuah gelang yang sama dengan punyanya, bertuliskan namanya, ada di tangan Pangeran asal China ini.
…
Tujuh tahun kemudian.
"Tuhkan! Appa sudah bilang berapa kali Kyunie, Wonnie baik – baik saja" ujar Siwon memijit keningnya. Pusing dengan tingkah Kyuhyun.
Pagi – pagi begini Kyuhyun merengek meminta Wonnie diantarkan kepada Tao karna tiba – tiba Wonnie menggong - gong dimalam hari. Dan yang Tao lihat secara sekilas. Wonnie baik – baik saja.
"Ah. Baiklah Siwon-shi menunggu didepan biar aku yang memeriksa Wonnie dan Kyuhyun yang menemani' ujar Tao akhirnya.
Akhirnya Tao mengecek tubuh Wonnie terutama pada kaki, barangkali kakinya tertusuk duri sehingga dia menggong – gong.
Nyatanya tidak.
Wonnie sehat – sehat saja.
"Ah! Sepertinya Wonnie menunjukkan ketertarikan terhadap anjing tetanggamu, siapa namanya? Yeongie? Ah iya Yeogie! Maka ia menggong – gong"
Dan Kyuhyun semakin murung. Tao mengerti.
"Kyuhyun. Mencintai appa-mu itu adalah suatu kesalaha-"
"Arraseo" ujar Kyuhyun
"Akan lebih baik Hyung yang menjadi eommaku daripada tante Jung yang jelek itu" lanjutnya sambil menggendong Wonnie dan menubruk ayahnya pergi sambil menangis.
"Tao-shi apa sesuatu terjadi pada Wonnie?" ujar Siwon panik melihat Kyuhyun keluar sambil menangis.
'Ya. Anakmu menangis karena dirimu berkencan dengan orang lain'
Sebenarnya Siwon tahu anaknya menyukainya. Dan Siwon merasa mungkin karena Kyuhyun tidak pernah bertemu dengan 'teman seumurannya'karena dia homeschooling dan Siwon terlalu memanjakannya.
Nyatanya ketika Kyuhyun disekolahkan disekolah umum-meski berkelas tentunya- dan sang Ayah mencoba bekencan dengan beberapa partner kerjanya. Justru Kyuhyun makin menjadi – jadi, setiap kali ayahnya ingin berkencan. Kyuhyun akan menggunakan Wonnie sebagai alasan untuk membatalkan kencan ayahnya.
Dan karena Tao satu – satunya teman Kyuhyun yang bisa diajak 'kerja sama'.
Bagi Tao. Kyuhyun yang sekarang masih sama dengan Kyuhyun tujuh tahun yang lalu yang menangis histeris dengan piyama lucu miliknya terkena cipratan darah Wonnie dulu. Dan sekarang Kyuhyun yang berumur tujuh belas tahun ini masih Kyuhyun berumur sepuluh tahun.
"Tujuh tahun."
"Nde? Ujar Siwon?"
"Tujuh tahun ia memendam perasaannya padamu Siwon-shi. Dan kau masih pura – pura untuk tidak menyadarinya?" ujar Tao kemudian.
Siwon kebingungan.
"Apa maksu-"
"Wonnie mengalami tekanan batin karena pemiliknya juga mengalami tekanan batin. Aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut bukan?"
Dan Siwon paham maksudnya.
…
"Jika anda mengeluarkan ekpresi lucu seperti itu, saya tidak menjamin 'tubuh' anda pulang dengan 'selamat' " ujar seseorang membuat Baekhyun yang sebelumnya megerutkan bibirnya lucu melihat tabel dan grafik pada laptopnya berubah menjadi ekpresi kaget.
"Park Chan Yeol!?" ujar Baekhyun melongo melihat seorang pemuda sedang memajukan tubuhnya kehadapan laptop miliknya.
"Kau mellihatnya dengan serius sekali! Aku pikir kau sedang nonton film porno"
'Orang ini benar – benar -_-'
"Ketuk pintu terlebih dahulu jika memasuki ruangan" ujar Baekhyun menghela nafas lelah.
Tunggu dulu!
Jika ada Chanyeol dihadapannya.
Berarti…
"Jangan ganggu reuni mereka dan mari menonton film porno bersama" ujar Chanyeol ketika melihat Baekhyun sontak berdiri.
"Dalam mimpimu pervert!" ujar Baekhyun menampar wajah Chanyeol dengan map berisi file miliknya lalu beranjak pergi
…
"Dr. Huang. Ada anjing ras pekingnese di UGD" ujar seorang suster membuat Tao yang semula membereskan file –file miliknya terpaksa lari ke UGD.
Tao segera menghampiri anjing tersebut mengabaikan seorang pemuda yang sedari tadi menunggu anjing ini.
"Suster Kim? Apa profilnya?"
"Pekingnese, berusia dua bulan muntah – muntah, dan suhu tubuhnya tinggi" ujar sang Suster.
Tao segera memakai stetoskop untuk memeriksa bagian perutnya, lalu mengambil senter memeriksa bagian mulut, mata, dan anusnya.
"Apa makanannya?"
"Makanan anjing biasa?"ujar pemuda itu meski tidak memecah konsentrasi sang dokter.
"Biskuit anjing?" tanya Tao masih memeriksa anus sang anjing"
"Ya. Yang dilarutkan" ujar pemuda itu menatap kagum Tao yang masih bisa berkonsentrasi meski sedang bertanya.
"Dari segi fisik pekingnese ini bahkan belum menncapai dua bulan. Sekitar satu setengah bulan sampai satu bulan dua puluh hari. Kelihatannya seminggu sudah tidak diberi makan dan ketika memakan biscuit perutnya tidak bisa menerima karena ini bukanlah makanannya. Itu sebabnya ia muntah – muntah karena pencernaannya sendiri tidak bisa mengeluarkan dan sebagian tertahan hingga membuatnya demam" ujar Tao.
"Ya. Aku baru menemukannya kemarin malam dijalanan. Karena kasihan aku memungutnya" ujar pemuda itu.
"Tao mengambil cairan pencahar dan menuangkannya kedalam mulutu sang pekingnese yang masih tergolong bayi tersebut.
"Dalam waktu sepuluh sampai lima belas menit ia akan buang itu mungkin kondisinya lemah. Maka dari itu beri dia minum susu setelah itu suntik vitamin. Itu akan mempercepat proses pemulihannya. Oh ya saya harus berkonsultasi dengan anda karena sepertinya anda belum pernah mengurus hewan sama sek-" Tao terdiam.
Dihadapannya seorang pemuda menggunakan sweatshirt berwarna abu – abu menatapnya tersenyum.
"Ya dok. Saya memang tidak pernah mengurus hewan sama sekali"
Sang Huang Taizi.
Wu Yi Fan.
…
"Seharusnya tuan jangan memandikannya. Pantas saja matanya berair" ujar Tao menemani Yifan berjalan – jalan mengelilingi rumah sakit.
"Sebenarnya anda mengajak saya untuk berkonsultasi atau memarahi saya" ujar Yifan main – main membuat Tao tersenyum.
"Karena dia masih tergolong bayi. Jangan beri dia makanan instan seperti itu. Melihat dari pencernaannya dia sangat pemilih dalam makanan. Gunakan makanan homemade" ujar Tao.
"Buatan sendiri?"
"Ya, seperti wortel dan brokoli atau pisang dan alpukat yang dijadikan bubur. Pastikan sajikan dalam kondisi hangat. Ah! Jangan sajikan dalam mangkuk besar. Tapi sajikan dalam sendok nasi. Melihat sekumpulan makanan banyak membuat dirinya ketakutan dan nafsu makannya hilang. Pastikan setelah selesai makan ia meminum banyak air mineral. Jangan air mentah ya" ujar Tao.
"Untuk buah aku mengerti tapi sayur…?" ujar Yifan sangsi.
"Cukup potong kecil – kecil lalu tumbuk habis itu dinanak diatas kuali dengan air nanti akan melebur sendiri" ujar Tao. Yifan mengangguk paham.
"Beri dia susu setiap pagi. Dan serbuk vitamin dalam makanannya. Aku sudah menulisnya pada resep sehingga dirimu bisa mengambilnya saat mengambil anjing itu nanti. Ah! Satu lagi, jangan mandikan dia dahulu sampai berumur empat bulan. Cukup elap dengan air hangat dan keringkan dengan handuk, jangan gunakan hair dryer karena kulitnya masih sensitive. Itu pun mengelapnya tiga kali seminggu. Seminggu sekali kunjungi dokter hewan untuk saran lebih lanjut" ujar Tao.
"Sepertinya dirimu akan menjadi calon ibu yang baik bagi Yizi" ujar Yifan membuat Tao terdiam.
Apa tadi katanya?
"Yizi adalah nama anak anjing itu, jangan bilang kau cemburu Tao?" ujar Yifan main – main.
"Calon Ibu…?" ujar Tao sangsi. Kali ini Yifan yang terdiam.
"Aku tidak menjadi raja tapi menjadi bayangan raja. Bayangan Raja yang kuat dan tangguh. Aku bisa melindungi siapapun yang ingin aku lindungi" ujar Yifan menatap langit lalu berbalik kehadapan Tao.
"Termasuk dirimu"
…
"Kau akan kecewa nanti. Aku sudah punya mungmungie"
"Kau Janda aku Duda. Aku rasa mungmungie bisa menjadi kakak yang baik untuk Yizi"
Tao dan Yifan terkekeh.
"Kau belum melamarku"
"Aku sudah melamarmu"
Tao tekejut.
"Kapan?"
Membuat Yifan terdiam.
"Sekarang" ujarnya sambil mencium bibir yang ia rindukan selama tujuh tahun ini lembut. Ah tidak lupa memperlihatkan pergelangan tangannya yang masih memiliki gelang bertuliskan nama Tao.
Tao tersenyum.
Yifan tidak pernah lupa janjinya.
…
Epilog
Gyeoui-do , 30 December 2022
"Joonmyeon hyung!" ujar Tao datang sambil memeluk hyung-nya tersayang itu.
"Tao-ya! Bogoshiposo!" ujar Joon Myeon juga memeluk dirinya.
"Ekhem! Dua uke berlovey-dovey, sehingga aku ditinggal sendiri. Oh malangnya nasibku ini~" ujar seorang yeoja.
Ah dia Hwang Ai Rang. Remaja SMA yang dulu bekerja part time di restoran ayahnya tumbuh menjadi seorang kartunis
Ah. Dari dulu di restoran ini tidak pernah ada yang nyambung.
Tao, Dokter Hewan.
Kakek, Dosen Besar
Ayah, Koki
Joon Myeon, masih setia menjadi pelayan
Ai Rang, Kartunis.
Tepatnya Kartunis Manga Yaoi.
"Hehe bogoshipoyo. Fujo!" ujar Tao mengacak rambut perempuan itu asal. Membuat Ai cemberut. Lalu digantikan dengan kebingungan.
"Empat orang yang ada dibelakangmu. Nuguseyo?" ujar Ai membuat Joon Myeon juga ikut melihat kebelakang.
Dan seketika matanya bertubrukan dengan mata pemuda paling poker face sejagad raya tersebut.
Sepertinya Joon Myeon pernah melihatnya. Dimana ya?
"Ah ini rekan kerjaku, 'gege'-ku, dan temannya" ujar Tao membuat Ai tersenyum.
Ya, anak itu punya 'radar' yang bagus dalam melihat couple yaoi.
"Hohoho tahu begitu,aku akan 'membereskan' kamarmu lebih dulu" ujar Ai mesem – mesem sendiri
"Hyung, siapkan meja untuk kami ya" ujar Tao dan Joon Myeon mengangguk.
…
Joon Myeon sedang memberi makan Mungmungie di halaman belakang sampai ia menyadari ada langkah seseorang mendekat.
"Sehun-shi?" ujar Joon Myeon bingung melihat Sehun ada disini.
"Aku akan menjadi nyamuk disana. Semua orang berpasangan, jadi aku berkeliling dan tak sengaja melihatmu sedang mengurus anjing besar ini" ujar Sehun jujur.
"Namanya Mungmungie. Ras Siberian. Badannya memang besar dan bulunya lebat sekilas seperti serigala betina" ujar Joon Myeon sambil mengelus kepala anjing itu. Sehun tersenyum, orang ini jauh lebih manis daripada saat mabuk dahulu.
"Kau tidak mengenalku?" ujar Sehun kemudian.
"Aku kenal. Oh Se Hun bukan?" ujar Joon Myeon, Sehun terkekeh.
Jika Chanyeol melihatnya tersenyum dan terkekeh seperti tadi, makhluk tiang itu pasti sudah menangis harus sambil berderma kepada seribu anak yatim. Mengingat betapa langkanya Sehun tersenyum.
Joon Myeon yang melihat Sehun masih terkekeh hanya mengangkat bahu pertanda tak tahu dan lanjut melihat Mungmungie makan.
"Aku mencari beberapa beer dan makanan ringan, ada?" tanya Sehun
"Ada. Kamu bisa memintanya pada Ai. Dia akan-"
"Kamu bilang ingin makan kan?...ihik! Ayo makan aku~Ihik! Kamu bilang diriku seksi bukan!?"
Joon Myeon membulatkan matanya lebar – lebar dan kalimat yang ia keluarkan tersendat. Sehun bingung dengan ekspresi Joon Myeon sedetik kemudian tersenyum mengeringai melihat Joon Myeon meringis dan memukuli kepalanya.
"Jika kau memukuli kepala seperti itu. Itu tidak seksi sama sekali" ujar Sehun. Joon Myeon meringis.
"Yayaya. Aku tahu. Maaf atas perlakuan tidak senonohku saat itu. Saat itu aku mabuk berat dan-"
Lagi – lagi Joon Myeon terkejut melihat lawan bicaranya ini sedari tadi menatap wajahnya intens.
Dan sebuah kecupan mendarat di bibir Joon Myeon.
"Daripada seksi. Aku lebih suka pemuda yang manis. Seperti dirimu" ujar Sehun dalam membuat pipi Joon Myeon memerah dan salah tingkah.
"Joon Myeon oppa, tolong ambilkan stok bir ahjussi di basement" suara Ai menyadarkan keterdiaman Joon Myeon. Lalu buru - buru beranjak pergi.
"Oppa. Apa kau sudah pikun?" ujar Ai kemudian.
"Nde…?"
"Basement ada disebelah kanan mengapa dirimu berjalan kesebelah kiri?"ujar Ai didepan Sehun membuat pipi Joon Myeon memerah dan lari ke sebelah kanan.
Terdengar bunyi terjerembab disertai suara mengaduh kesakitan dari basement sana. Ai menyerngit.
"Oy poker face kau apakan Joon Myeon oppa sampai kayak orang linglung begitu?" ujar Ai
"Tidak aku apa – apakan" ujar Sehun santai. Sampai bunyi pecahan kaca mengagetkan mereka berdua.
"Yak oppa! Jangan bilang dirimu memecahkan seluruh stok beer yang ada!" ujar Ai teriak lalu menyusulnya.
Sehun hanya tersenyum melihat tingkah Joon Myeon yang seperti ini.
Esensi Burung Camar : Dunia tidak bisa menghancurkan ikatan yang telah dibuat oleh Tuhan.
Duh adegannya kurang hot ya/? wkwkwk /mesummodeon/
Memang untuk oneshoot yang ini lebih fokus ke drama abal - abal ala KrisTao wks.
Who's Next Pair?
Write it on the review and lets vote!
Hasil vote kemarin :
Kristao - 12 Vote
Hunhan - 1 Vote
Meanie - 2 Vote
Krisho - 1 Vote
Senghan - 2 Vote
NamJin - 1 Vote
Chanbaek - 1 Vote
Jo Twins - 2Vote
Yunjae - 1 Vote
Huntao - 2 Vote
Sulay - 1 Vote
Leon - 1 Vote
HooshiWoozi - 1 Vote
Kaisoo - 1 Vote
Review : Dari 36 Review ada 27 Readers yang berpatisipasi dan 12 diantara-nya memilih Kristao dan akhirnya KrisTao muncul kembali/? ke series yang kedua/?.
Mungkin ada yang masih bingung gimana ngevotenya. caranya gampang. kamu cukup nulis couple -siapa saja- yang kamu suka nanti akan diakumulasi pada tiap - tiap akhir Chapter.
Review Polaroid : saya gak nyangka banyak respon positif dari Polaroid. sebenarnya di Polaroid banyak yang saya sesalkan. pertama Typo-itusudahpasti-, kedua romancenya gak ngena-padahal udah sengaja ambil latar paris sebagai pendungkung keromantisannya-, ketiga rated M nya XD /digaplok readers/. tapi melihat dari review yang ternyata 'baper' dengan polaroid membuat saya bersyukur karena romancenya gak fail - fail amat. untuk bahasa inggris nya saya minta maaf banget. karena ternyata itu sangat menganggu/? /maklum author juga masih belajar bahasa itu/?/
Bagi yang gagal paham ini sinopsis Polaroid :
Tao mendapat kesempatan dari sekolah berkunjung ke Paris dan menuliskan jurnal tentang negara tersebut. sampai suatu hari ia bertemu dengan nenek - nenek dan nenek tersebut menceritakan sebuah Mitos di Museum Louvre. dimana, konon katanya. jika kita melihat lukisan bergambar diri kita sendiri terpajang disamping Monalisa. sesosok makhluk misterius akan menghampiri Kita dan melakukan adegan 'ranjang' dengan kita. hal tersebut tentu saja mengerikan bagi Tao. sampai suatu Hari ia bertemu dengan Yifan -sosok dalam mitos tersebut-dan menjadi korbannya. Namun bagi Kris, Tao bukan saja sosok manusia yang hanya sebagai 'korban'. Tao terlihat berharga dari korban yang itu Kris mencarinya kemana - mana bermodalkan lukisan dimana dirinya melihat Tao.
SAYA HARAP RESPON POLAROID CUBE SAMA POSITIVENYA DENGAN POLAROID
SO, REVIEW! FAV! AND FOLLOW!
