Title : Five Detective Ghost
Genre : Horor & Adventure
Rated : T
Disclaimer : Kamichama Karin © Koge Donbo
Five Detective Ghost © Misami Ray
Warning : Abal , banyak Typo, OOC, Gaje, Ide pasaran.
Summary: tampak sesorang di sudut dinding dengan baju putih dan rok bewarna cokelat sedang memainkan biola kusam ditangan nya (seperti cover di atas). Aku menikmati alunan lagu yang di mainkan hantu itu sehingga aku tak menyadari bahwa kehadiranku telah diketahuinya. Hantu itu segera memberhentikan permainan biolanya.
Karin POV.
Malam yang sangat kelam, dimana aku sendirian menyusuri selubuk lorong yang ada di asrama baruku. Aku menghidupkan musik dari Smartphone-ku yang teraliri oleh headset di telingaku hal itu hanya untuk tidak membuat ku bosan.
Tap.. tap.. tap.. bunyi suara langkahku menggema di dalam lorong asrama. Tiba-tiba langkahku terhenti ketika mendengar sayat-sayat bunyi biola dari celah telingaku, kurasa itu tidak termasuk dalam alunan lagu yang aku dengarkan. Aku mematikan musik dan melepaskan headset dari telingaku ,aku melangkah kedepan untuk mencari darimana asal bunyi biola itu.
Alunan musik biola itu semakin kuat dan kuat, aku segera mempercepat langkahku. Akhir nya aku temukan sumber dari alunan biola itu, bersumber di ruangan bawah tanah yang ada di asramaku. Disana terdapat celah pintu tua yang terbuka, aku mengintip untuk memastikan siapa yang memainkan biola ditengah malam ini. Kulihat tidak ada apa-apa, "Aneh," batinku berkata. Aku melihat ke sekeliling ruangan bawah tanah itu tapi tidak ada apa-apa.
Aku tersenyum kecil lalu membuka kacamataku dan mengantongi nya. Barulah tampak sesorang di sudut dinding dengan baju putih dan rok bewarna cokelat sedang memainkan biola kusam ditangan nya (seperti cover di atas). Aku menikmati alunan lagu yang di mainkan hantu itu sehingga aku tak menyadari bahwa kehadiranku telah diketahuinya. Hantu itu segera memberhentikan permainan biolanya. Sekerjap aku mengejipkan mataku, disana sudah tidak terdapat lagi sosok gadis hantu yang memainkan biola tadi.
Aku berniat untuk memasuki ruangan itu, namun saat aku mau melangkah kan kaki ku tiba-tiba sebuah tangan menarikku kebelakang. Aku terkejut dan menoleh kebelakang tertangkap helaian rambut gray terurai didepanku. "Jangan pergi ke sana!" Perintahnya padaku. Aku langsung mengerutkan keningku "Memangnya kenapa heh!" . "Pokoknya tidak boleh!" Renna mulai menarik lengan ku menuju keluar. Aku hanya mentap pasrah ketika di tarik Renna, bukanya aku akan mematuhi perintah Renna tapi malah sebalikny. Aku akan kesana lagi dan untuk mencari tau kenapa Renna melarangku kesana dan siapa gadis itu, gadis yang memainkan biola tadi.
Celah cahaya menyilaukan mataku membuatku mau tak mau harus bangun karena itu. Aku melihat kesampingku tidak ada sosok Renna yang tidur di sampingku, aku melihat kasur yang lain tidak ada Kazusa dan Miyon juga, aku rasa mereka sudah duluan. Aku segera bangun dari tempat tidur dan mengambil handuk dari koper ku lalu menuju kamar mandi yang ada di asramaku.
Aku berjalan dengan wajah kusut menuju ke kamar mandi yang ada di asramaku. Saat berjalan kesana aku melihat anak-anak gadis berlari kesana kemari "Kenapa mereka?" Batinku bertanya. Tak jauh dari tempat tujuanku disana terdapat segerombolan anak² di asramaku sedang berbaris panjang yang berawal di depan kemar mandi dan berakhir di depanku. Mata emerlad -ku membelalak melihat apa yang ada di depanku. Plabbb! Sebuah tangan memegang pundak ku. Aku melihat kebelakang tampak Kazusa dan Renna di blakangku. "Kau mau apa disini?" Beberapa kalimat terucap dari bibir Kazusa.
"Aku mau mandi tadinya, namun setelah melihat ini-" ucap ku terpotong ketika lenganku tiba-tiba di tarik Kazusa dan Renna menyusul di belakangku.
"Eh.. eh kalian mau membawaku kemana?" Pertanyaan ku meluncur pada Kazusa. "Kau mau mandikan, jangan di sana," jawab Kazusa yang masih menarikku. "Lalu di mana?" Tanyaku lagi. "Di rumahku di depan gang asrama, sudah jangan banyak bicara," jawabnya seketika mempercepat langkahnya. "Rumahmu," batinku berkata.
Sekarang aku berada di dalam rumah Kazusa yang sangat luas. Di saat berjalan menuju kamar mandi aku melihat sosok pemuda berambut blonde memakai kemaja putih dan jins hitam sedang berdiri memegang Smartphone-nya sepertinya dia sangat sibuk. Aku mengalihkan pandanganku darinya.
"Ini kamar mandi nya kau sudah membawa baju seragam mu kan?" Kata Kazusa yang bertanya padaku. "Ehh belumm," ucapku. "Apa! Lantas kau mau pake apa ke asramah? Pakai handuk?" Ucap Kazusa kaget. "Yaa maaf." Aku menundukkan kepalaku. "Sudah lah Kazusa biar aku yang balik ke asrama ngambil baju Karin," ucap Renna menenangkan Kazusa. "Terserahlah, aku mau membuat sarapan dulu," ucap Kazusa meninggalkan ku. Aku segera masuk ke kamar mandi.
Karin POV and
Kazune POV
"Hei kalian di mana! 4 jam lagi kita kan tampil." Aku mengerutkan dahi ku. "Tunggulah sebentar kami lagi di dalam antrian macet, lagian masih 4 jam berarti masih lama kan." Balas lawan bicaraku dari ponsel. "4 jam itu adalah waktu yang sangat singkat baka!" Ucapku dengan nada kesal. "Haha oke-oke kami akan berusaha cepat kesana, kau tunggu di sana ya sayang." Tuuuut.. tuut panggilan itu terputus. "Dasar Micchi seenak jidat(?) Nya aja bilang sayang ke aku." Aku langsung mengantongi Smartphone -ku di saku jins ku. Oh iya! Maaf karena dari tadi marah-marah aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan aku Kujyou Kazune umurku 15 tahun aku seorang Detective ghost aku mempunyai kembaran yang sangat cerewet bernama Kujyou Kazusa profesinya sama denganku.
Aku mau pergi keluar untuk menenagkan otak ku yang lagi kacau. Beberapa menit aku di luar aku melihat kearah jari manisku aku merasa ada yang kurang tapi apa ya? Oiya cincin ku, cincin kesayanganku tidak ada di jari manisku. Aku segera merogoh saku yang ada di pakaian ku, namun hasilnya nihil tidak ada cincin ku di sana. Aku duduk sejenak untuk mengingat , akhirnya aku baru mengingat nya! Aku meninggalkan cincinku di kamar mandi. Aku segera pergi kekamar mandi untuk mangambil cincin kesayanganku.
Sampai di depan kamar mandi aku tak segan segan membukany. Cklekk! Aku membuka pintu itu. Mataku terbelalak seketika melihat seorang gadis hanya memakai handuk! Didepan ku. Oh tuhan mimpi apa aku. Belum sempat aku menggertak dia sedangapa disini aku malah kena satu pukulan dari pipinya.
Brakkk!
Aku terjatuh kebelakng katika terkena serangannya.
Kazune POV end
Normal POV
Brakkk! Kazune terkena serangan Karin. "Apa yang kau lakukan baka!" Protes Kazune karena di serang Karin. Karin hanya diam membisu setelah meninju Kazune. Kazusa yang sedari tadi di dapur menyiapkan sarapan pagi kini berlari menuju tempat Karin dan Kazune sekarang.
"A..apa yang terjadi dengan mu Onii-chan," tanya Kazusa seraya berjongkok. "Kau bisa menanyakan pada gadis ini." Kazune langsung menunjuk Karin. "Apa yang terjadi Karin?" Tanya Kazusa melihat Karin yang menyongol(?)kan kepalanya dibalik pinyu. "Di..dia membuka pintu kamar mandi disaat aku seperti ini, aku langsung reflek meninju nya," ucap Karin gugup.
"Hahaha cuma itu, salah Onii-chan sendiri kenapa tidak mengetuk terlebih dahulu." Kazusa terkekeh mendengar dan melihat apa yang ada di depannya. "Aku kira tidak ada orang ya langsung saja aku buka pintunya," jawab Kazune tak mau kalah. "Haha sudah lah, salah aku juga gak bilang ke Onii-chan kalau ada temanku yang lagi mandi." Ucap Kazusa.
"Yasudahlah hush hush onii-chan pergi sana kasian tu Karin sembunyi di balik pintu," ucap Kazusa kepada kakak nya atau bisa juga di bilang mengusir kakak nya.
"Tanpa kau suruh aku akan pergi tau!" Ucap Kazune seraya bediri dan pergi meninggalkan Karin yang masih menyembunyikan tubuh nya di balik pintu.
Tap..tap..tap suara langkah kaki mendekat kearah mereka. "Hei kenapa Kazune? Aku melihat dia menggerutu saat berjalan," tanya Renna yang memegang seragam Karin.
"Haha ceritanya panjang, nanti aku ceritain sekarang kasih baju nya ke Karin kasian tu dia sedari tadi menyumput(?) Kan badan nya di balik pintu," ucap Kazusa sedikit terkekeh.
**** (setelah selesai dari rumah Kazusa Karin dkk pergi menuju sekolah mereka)*****
"Hoahh ini hari pertamaku masuk sekolah, disini nyaman ya." Karin menikmati suasana sekolah barunya sambil membenarkan kacamata nya. "Hehe ya begitulah," ucap Renna tersenyum. "Ini hari pertamamu masuk sekolah Karin harus menemui kepsek untuk menentukan kamu masuk kelas berapa." Kazusa menarik lengan Karin dan Renna keruangan kepsek sedangkan Miyon mengikuti dari belakang
Saat dalam perjalanan menuju kekelas baru Karin ia menyempatkan diri untuk menanyakan sesuatu pada Kazusa. "Ehh Kazusa-chan, kenapa kau tudir (readers: tidur author!) di asrama? Kenapa tidak dirumahmu sendiri kan rumah mu di depan gang." Pertanyaan Karin terlontar ke Kazusa. Kazusa menoleh kearah Karin dan tersenyum tipis "Karena dirumah sangat tidak menyenangkan, kalo di asramakan banyak teman dan tidak sendirian, lagian ada suatu hal yang harus aku kerjakan bersama teman teman ku."
"Tugas apa Kazusa-chan"
"Suatu saat akan aku beri tahu, namun bukan sekarang"
Sesampai di depan ruangan kepsek Karin segera masuk kedalamnya sedang kan Kazusa, Miyon dan Renna menunggu keluar. Tak sampai 1 menit mereka menunggu di luar Karin keluar bersama wali kelas Renna dan Miyon, mereka bertiga mengiringi Karin dari belakang. Ternyata Karin di tempatkan di kelas x2 sekelasan dengan Kazusa. "Yeay Karin di tempatkan di kelasku." Kazusa riang gembira.
"Yahh Karin gak sekelas dengan kita," ucap Renna lesu. "Yah setidaknya kelas kita bertetanggaan," kata Miyon dengan nada membujuk. "Hah iya juga, yasudahlah kita pergi kekelas kita x3 sebelum keduluan sensei." Ajak Renna mengulurkan tagan pada Miyon, Miyon pun langsung menangkap tangan Renna. "Oke, kita berpisah dulu ya Karin." Ucap Miyon seraya menuju kekelasnya
Normal POV end
Karin POV
Ah aku memasuki kelasku, tercium bau bunga mawar yang ada di vas bunga saat berada di dalam nya. Aku merasa sangat nyaman disana. Sensei menyuruhku memperkenalkan diriku pada teman teman yang lain. Aku segera memperkenalkan diriku lalu aku di tempat dudukan di sebelah Kazusa. Pelajaran pertama dimulai, aku melihat semua siswa dan siswi di sini pada membuka buku pelajaran nya termasuk Kazusa. Aku melihat kearah jendela terlihat dibawah ada seorang pemuda yang tak asing bagiku. Oh ya! Dia adalah kakak Kazusa yang tak sengaja aku tinju tadi pagi. Aku melihat di didatangi 2 orang pemuda lain, yang satunya berambut karamel yang satunya lagi berambut hitam pekat sedang menenteng tas. Tak lama kemudian mereka pergi kearah yang sama. Mau kemana mereka? Ah sudah lah lupakan. Aku melihat kearah buku Fisika ku yang saat ini di ajarkan oleh sensei. Di sana tertera rumus-rumu yang tak aku mengerti.
Satu setengah jam sudah aku lewati dengan pelajaran yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku memasukkan buku pelajaran yang berhamburan diatas meja kedalam tasku setelah itu aku di seret(?) Kazusa ke kamar ganti untuk mengganti pakaian olahraga. Setelah selesai aku dan teman-teman baruku pergi kelapangan setelah mendengar jeritan peluit yang ditiup sensei di lapangan.
Materi yang di berikan sensei hari inI adalah tentang melempar bola voli. Aku berpasangan dengan Ami teman baruku. Ia adalah anak kepala sekilah disini jadi gayanya agak sombong atau bisa jadi sangat sombong. Aku memulai melempar bola kepadanya namun ia malah asik bermain Smartphone di tangan nya sehingga bola yang ku lempari tadi melayang begitu saja di samping nya. Aku pun mulai kesal dengan Ami berniat melempar bola kearanya dan
Brakkk
Bola mengecap tepat di kaki nya sehingga dia hampir jatuh. Ami segera men-deatglare diriku. Ia mengantongi smartphone-nya dan mengambil bola yang di bawanya. Pertamanya ia hanya memantulkan bola kelantai lalu tiba-tiba ia melemparkan bola yang sangat kencang tepat di depan mukaku. Akupun terjengkang(?) Kebelakang dan kaca mataku terlepas dan melanting(?) Tah kemana.
Aku meringis sejenak dan mengerjipkan mataku. Disana terlihat banyak sekali penampakan yang ada. Kabut asap bewarna hitam pekat, tengkorak berjalan dan seorang gadis yang bermain biola tadi malam lalu yang paling mengerikan adalah seseorang yang tak mempunyai kepala berjalan kearahku. Aku pun terkejut dan akhirnya pinsan.
-Karin POV end-
Kazune POV
"Hei apa maksud kalian, kami sudah jauh-jauh datang hanya untuk mengikuti audisi ini tapi kalian malah bilang pendaftaran nya sudah tutup, apa kalian tidak tau kami! Kami adalah anak bangsawan dari Eropa!" Teriak seorang pemuda memakai bahasa inggris. "Eh maaf tuan pendaftaran nya sudah tutup, jadi tuan tidak bisa mendaftar," kata seorang bapak tua tempat pendaftaran pada orang itu. Aku hanya bisa menyaksikan perdebatan mereka berdua dari kejauhan. "Hei bapak tua yang bau tanah! Asal kau tau aku bisa membeli tempat ini kalau kau mau!" Bentak nya lagi pada bapak tua itu.
Aku geram melihat pemuda itu yang terus menerus memaksa bapak tua. Aku melangkah kan kakiku menuju mereka yang sedari tadi berdebat dan memakai topi hitam dikepalaku sehingga menutupi separuh wajahku. Pemuda itu melihat sinis padaku ketika keberadaan ku di tengah mereka. "Mau apa kau," ucapnya pada ku. Aku pun langsunh tersenyum senis pada dirinya "Tidak ada apa-apa, hanya saja apakau tak punya hati nurani membentak bapak tua ini."
"Apa urusan mu, jangan ikut campur. Anak ingusan kayak kamu jangan ikut-ikutan!"teriaknya padaku. What di bilang aku ingusan hello matanya di mana! Aku ini anak SMA gak lihat badanku udah sebesar ini. Ahkk lupakan aku harus mengadapinya dengan kepala dingin. "Tidak apa-apa hanya saja tidak pantas untukmu seorang bangsawan memaki bapak-bapak tua, sama saja dirimu itu adalah seorang pengecut!" celetuku.
Wajahnya merah tomat saat aku mengatakan hal yang barusan. "Apa kau bilang! aku pengecut! Kau jangan macam-macam padakuaku bisa saja memasukan mu kepenjara. Ayahku seorang bangsawan terkkaya disana (Eropa),jabatan ayah ku adalah seorang wakil presiden disana, semua hal yang aku inginkan akan dipenuhinya dengan uang yang dimilikinya. Bahkan aku bisa membeli harga dirimu!" ucapnya sombong.
PLAKK!
Sebuah tamparan kasar meluncur ke pipinya. "Sekaya apapun kau, atau sebesar apapun jabantan ayahmu namun kau tak mempunyai hak untuk mencaci orang! Sekarang kau pergi dan jangan kembali!" ucapku seraya membuka topi hitam yang kupakai. Ia hanya mlongo ketika melihat wajahku. "Ka..kau tuan Kazune kujyou anak nya presidenkan di Eropa." Ucapnya gemetar. Aku hanya membalasnya dengan tatapan dingin. "Ma.. maafkan aku tuan ak-" "Jangan banyak omong sekarang kau pergi dan jangan pernah kembali!" ucapku mengusirnya.
.
.
.
.
.
.
TBC
Review please minna
Balasan Review.
Audrey Naylon : Arigatou ne, udah suka ceritaku dan udah menyemangati.
Kazufika : Arigatou udah bilang keren, oke semoga akan lebih baik.
Dc : Udahh..selamat membaca.
Shadow : oke udah update.
Ryukutari : oke Ryu-san
Anonymousegirl27 : sipp, udah di lanjutin
Kyaaaa akhirnya selesai juga maaf kalau ceritanya jadi ngaur gini maklum Ray kehabisan ide, semoga para Readers menikmatinya Review please.
