CATCH ME. If You Wanna

Sherry Kim

Happy Reading...!

Jaejoong 17 th

Kim Jaejoong mengigit bibir bawahnya gemas. Bagaimana mungkin dirinya semalang Hiro yang ia tinggal setiap hari kesekolah, selamban kura kura dan semengenaskan hiu terdampar di padang pasir.

Hah... lupakan! Sepertinya ada yang salah dengan syaraf pada otak yang sering ia katakan otak cerdas sampai ia berpikir yang tidak tidak. Atau otak gadis cantik itu yang bermasalah sampai membuatnya berpikir yang tidak tidak. Bagaimanapun yang ia inginkan yang iya iya, bukanya yang tidak tidak.

Menepuk kedua wajahnya keras. Ia merasa pipinya semakin merona karena malu. Lihatlah di cermin.

Seunghyun mengatakan dirinya sekurus ikan teri dengan kedua pipi sesemok gajah serta secantik bidadari. Demi seluruh bidadari di seluruh jagat raya ia tidak memiliki perpaduan seaneh itu bukan?

Lagi. Ia menghela nafas lelah untuk entah yang keberapa kali dalam tiga puluh menit terakhir.

Kim Jaejoong pemuda sempurna, itu yang di katakan kakak kakaknya, Cerdas serba bisa dengan tubuh tak kalah tinggi dan menarik. Meskipun tidak semacho Choi sialan itu tetapi ia memiliki wajah yang cukup tampan... Meskipun terkadang orang lain salah menyebut dirinya dengan kata menggemaskan, imut dan yang paling Jaejoong benci adalah kata Cantik. Demi Jiji ia tampan bukanlah cantik!

Haruskah ia menyalahkan otak pintarnya, karena terlalu pindar dalam pelajaran sampai membuatnya lamban dalam urusan asmara karena sering belajar. Tetapi seingatnya ia tidak membuka buku pelajaran kecuali pada jam pelajaran di sekolahan. Jaejoong lebih menyukai membuat ulah bersama Changmin dan berkeliling kota jika ada waktu.

"Sampai kapan kau akan berdiri di situ gajah centil."

See. Bahkan sahabat baiknya juga memanggilnya dengan sebutan aneh bin ajaib yang Jaejoong benci.

Doe Jaejoong menyipit galak kearah Shim Changmin yang berkacak pinggang di belakang. "Kalau kau tidak juga masuk kita akan kehabisan waktu dan terlambat untuk kembali ke sekolah."

"Beri aku waktu lima menit." Jaejoong menunduk untuk memperhatikan kaki berbalut sepatu putih mahal miliknya.

"Lima menit untuk yang ke tiga kali. Tidak! Masuklah atau aku akan menendang pantatmu itu." Changmin memutar tubuh Jaejoong, mendelik kearah sahabat baiknya hanya untuk mendapatkan delikan Jaejoong yang mendelik marah dengan bibir mungil pemuda itu komat kamit tidak jelas dan kembali berputar membelakangi Shim Changmin sebelum memasuki gedung Moldir yang berlantai empat puluh satu.

Hah... Jaejoong menghela nafas dalam sebelum mengambil langkah pertama. Seperti biasa ia akan di sambut layaknya para tamu yang ingin menemui directure utama Moldir. Hanya saja ia tidak perlu membuat janji untuk menemui CEO Moldir, Song Il Gook yang super sibuk. Karena semua orang tahu ia tinggal di kediaman Mr. Song. Sebagai salah satu pelayan yang ber tempat tinggal di kediaman belaiu, dan semua orang tahu bahwa Jaejoong termasuk pelayan yang istimewa mengingat Song Il Gook hanya memiliki enam putri tanpa seorangpun putra. Tanpa mereka tahu Il Gook memiliki satu putra rahasia yang tampan.

Lift membawa Jaejoong ke langai tiga puluh dimana kantor Directure utama bertempat. Lift terbuka dan Jaejoong hanya melewati lobi kecil tanpa sekertaris maupun menjaga karena seluruh lantai tiga puluh merupakan kantor utama Directure Moldir dengan fasilitas keamanan yang canggih.

"Bolekah Jongie masuk?" Kepala dengan rambut hitam lurus mengintip di balik pintu saat Song Il Gook berniat meninggalkan ruangan untuk istirahat makan siang.

"Kau bahkan sudah masuk anak nakal, masuklah." Pria yang memakai pakaian kerja rapi dengan jas yang belum selesai pria itu kenakan kembali duduk, kali ini duduk di sisi meja menunggu Jaejoong mendekat dan bertanya. "Ada apa?" Tidak biasanya pemuda yang hiperaktife seperti Jaejoong terlihat lunglai dengan wajah di tekuk seperti wajah pemuda itu saat ini.

Il Gook berdiri saat Jaejoong berlari dan memeluknya, menyembunyikan wajah pemuda yan memiliki tinggi yang sama dengan dirinya itu di atas bahunya. "Jongie patah hati." Bisiknya tersamarkan. Tangan Jaejoong mencengkeram punggung Il Gook saat mendengar suara tawa tertahan dari pria tua yang di cintainya itu.

Butuh waktu bagi Il Gook untuk bertanya tanpa ada nada tawa atau mengejek putra rahasianya ini, dan ia tidak ingin membuat Jaejoong marah karena ia tidak menyukai konsekuensi jika pemuda itu marah. "Gadis bodoh mana yang telah menolak cinta putra Papa yang tampan ini."

Mundur. Jaejoong mencebilkan bibirnya lucu. "Shin Se kyung. Artis itu, yang pernah Jongie ceritakan pada Papa. Dia menolakku karena alasan yang konyol." Ia mengadu.

"Dan apa itu?"

"Jongie tampan bukan cantik seperti apa yang Se Kyung katakan, Jongie juga pandai dalam segala hal dan dia menolakku karena alasan lain yang konyol itu," ia menghela nafas begitu keras. ",,,yaitu karena banyak pemuda Shinki yang menyukai Jongie ketimbang menyukai dirinya. Bagaimana mungkin murit laki laki menyukai Jongie, Jongie itu sama seperti mereka laki laki." Ujarnya panjang lebar.

Sunguh tidak masuk akal, ia merasa gadis itulah yang paling cantik dan mengapa Se kyung mengatakan bahwa Jaejoong lebih cantik. Ya Tuhan, dirinya kan tampan apakah Se kyung rabun dan perlukah Jaejoong membelikan kaca mata untuk gadis itu? Ah, benar! Jaejoong akan membelikan kaca mata untuknya.

Il Gook tersenyum memaklumi, dengan menenangkan, "Mungkin gadis itu sibuk Syuting, bukankah dia seorang artis? Mungkin jugs dia takut tidak memiliki waktu untuk kencan bersamamu jika kalian pacaran." Penjelasan yang membuat semangat Jaejoong kembali menggebu gebu. Oh, bisa jadi seperti itu.

"Benarkah?" Il Gook mengangguk.

"Kembalilah ke sekolahan karena Papa masih ada urusan, kita bertemu di rumah."Pria paruh baya itu mencium kening Putra rahasianya dan mendorong Jaejoong menjauh. "Pergilah."

Jaejoong masihlah diam tak bergerak. "Masih ada lagi?" Pemuda itu mengangguk. "Bolehkan Jongie ikut liburan Teur ke pulau Jeju beberapa hari."

"Tidak!"

"Papa." Kedua kaki Jaejoong menghentak hentak tidak suka. "Jongie ingin pergi." Ia memasang wajah memelas andalanya, ia yakin Ayah rahasianya itu akan luluh melihatnya.

"Jangan merajuk Jaejoongie. Papa tidak ingin mengambil resiko sekecil apapun itu. Jadilah anak baik dan kembali ke sekolahanmu atau Mama Ji Hyo akan marah." Melihat putranya yang masih tidak beranjak pergi, Il Gook meraih tangan Jaejoong untuk ia genggam.

Suara pria itu terdengar dalam menenangkan saat menasihati. "Jika Papa tidak takut kehilanganmu, Papa sudah akan mengatakan kepada dunia bahwa kau adalah putraku, Song Jaejoong. Tetapi kau tahu alasanya, kenapa kita menyembunyikan jati dirimu dari dunia sayang." Tentu saja Jaejoong tahu! Ratusan wanti wanti sejak ia kecil selalu ia dengar dari seluruh anggota keluarga, meski terkadang ia merasa ini tidak adil tetapi ia masih mampu menerima jika kebersamaan ini akan sampai dimana ia akan menjaga rahasia tetap aman atau nama keluarga akan menjadi taruhanya. Sampai ia berumur lima belas tahun untuk ia tahu alasan yang sesungguhnya kenapa keluarga menyembunyikan dirinya di balik tirai tipis yang tak dapat ia buka, janji yang sudah mereka buat di masa lalu untuk mendapatkan hak asuh Jaejoong.

Il Gook melanjutkan. "Kelurga Mama Ji Hyo sudah berjanji sampai kau berumur tujuh belas tahun, hanya tinggal menunggu enam bulan sampai kau berumur delapan belas, dan seluruh keluarga akan mengumumkan pada dunia siapa Kim Jaejoong yang sebenarnya. Bersabarlah sampai saat itu tiba."

"Jongie tahu, baiklah." ujar Jaejoong lemah.

"Bagus. Anak pintar. Mau sopir Papa mengantarmu." Jaejoong menggeleng. "Changmin menunggu bersama mobilnya di luar."

Tersenyum sayang, sekali lagi Il Gook mencium Jaejoong. Ia menyayangi putranya ini, ironis mereka tidak dapat seperti Ayah dan anak seperti orang tua pada umumnya. "Maafkan Papa, Jongie. Berhati hatilah." Kembali mengangguk Jaejoong keluar terlebih dahulu dari ruangan.

Tidak adil. Ia juga menginginkan liburan ke Jeju bersama teman teman dan ia juga ingin merasakan kebebasan serta bagaimana rasanya naik pesawat. Lihatlah, bahkan ia belum pernah naik pesawat sekalipun sampai ia berumur tujuh belas tahun. Mengenaskan sekali nasibmu Jongie.

Pintu lift terbuka. Dengan kepala tertunduk Jaejoong masuk dan berdiri di sebelah satu satunya pria yang berada di dalam. Kepalanya yang berat ia sandarkan pada dinding kaca, bibir mungilnya menggerutu dan kembali mengambil nafas berat. Hari yang menyebalkan. Puluhan gadis -setahu Jaejoong- menyukainya dan mengapa Se Kyung menolak ungkapan cinta yang ia utarakan pagi tadi. Setelah di tolak seorang gadis ia harus mendapat penolakan ijin liburan dari sang Ayah. Oh, kenapa begitu malang nasibmu Kim Jaejoong.

Ia tidak sadar mengetuk ngetukan kepala pada jendela kaca sampai sebuah suara dengan nada tawa mengganggu meditasi singkat Jaejoong.

"Kau akan memecahkan kaca itu jika membenturkan kepalamu seperti itu." Lagi lagi Jaejoong menghela nafas.

Diam diam ia melirik pria yang berdiri di sisinya. Tubuh tinggi tegap berbalut Jas hitam berdiri menjulang. Pria itu memiliki tubuh ideal, dada bidang bahu lebar serta perawakan tubuh bak model seorang pria iklan celana dalam dengan otot di balik pakaian rapi itu, mungkin? Jaejoong menduga duga karena ia melihat otot pria itu samar dari balik Jas yang tidak terkancing sempurna dengan dasi longgar. Mungkinkah jika ia memiliki tubuh seperti pria ini Se Kyung akan menyukainya?

Setelah mendongak dan menatap wajah pria itu Jaejoong merasa dirinya begitu mungil jika di bandingkan dengan tubuh pria yang saat ini berdiri di sampingnya, pria itu tidaklah setampan dirinya namun alis tebal, mata musang dan hidung bangir itu terlihat begitu pas dengan tambahan bibir hati rahang tegas di tambah kharisma pria itu begitu nyata sampai Jantung Jaejoong sedikit berdebar samar. Pria ini mengagumkan, dan lihatlah dirinya.

Tidak heran Se Kyung menolaknya. "Lihatlah. Kau bahkan menertawakanku. Tidak heran Changmim mengejekku." Ia berkata dan kembali menunduk.

Lift terbuka. Dan ia mengingat sesuatu. Ya Tuhan, istirahat makan siang sudah akan usai dan ia masih berada disini. Menerjang keluar dari dalam Lift Jaejoong mengabaikan ucapan selamat tinggal dan sampai jumpa dari wanita cantik favoritenya yang bekerja di lobi perusahaan Moldir.

Kalau sampai mereka terlambat Changmin pasti akan dengan senang hati mencincang tubuhnya untuk makanan Jiji juga Hiro.

Tanpa Jaejoong sadari, Pria yang berada di dalam lift bersamanya itu memperhatikan Jaejoong dengan seksama saat kedua pemuda itu memasuki mobil sport berwarna merah. Pria itu berbisik kepada salah satu pria berpakaian rapi disisinya sebelum memasuki mobil hitam miliknya.

Mobil melaju pergi dan pria lain yang tertinggal disana memperhatikan mobil merah yang membawa Jaejoong dan Changmin melaju ke arah lain jalan.

~TBC~

Ada yang minat dengan Book Two People (Yunjae) karya Misscel. Jika berminat PM Sherry. Kamsahamnida.

Dan sekali lagi menerima masukan saran yang membangun.