Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
Mohon maaf untuk segala kesalahan di chapter lalu. *ojigi* semoga chapter ini lebih baik dari chapter sebelumnya. Dan terima kasih sudah menyempatkan untuk RnR fic saya, ataupun memberikan fave/follow/faves. Saya senang sekali. X"D
.
Disclaimer: Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. Fate Stay Night belongs to Ufotable and Moontype. I didn't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.
Warning: Alternate Reality, genderbend!FurihataKouki, OOC, FLUFF, highschool, SUPER simple, cliché, typo(s), absurd, fail-romance, etc.
Special backsound: It Girl by Apink
.
Tidak suka? Tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. :)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Last chapter:
.
.
"Target Note-mu itu penuh catatan tentang yang lain. Tapi tidak ada satu pun tentang Akashi-kun."
Ada yang teristimewa tidak tercatat dalam lembaran Target Note.
.
.
"Ti-tidak perlu. Aku memang ingin dapat pacar ... ta-tapi ..." Dia mendesah lelah. "... aku juga sadar, mau dunia diputar balik pun, aku tidak pantas bersamanya. Ma-maksudku, dia luar biasa sementara aku ... terlalu biasa."
Ada yang tidak percaya pada keistimewaan dirinya.
.
.
"Hei, Furihata-san." Akashi tersenyum tipis dan bertepuk tangan sekali. "Nyanyianmu—"
Ada yang ingin mengungkapkan kesan dari secarik keistimewaan.
.
.
"AKU TIDAK MENYUKAI— ..."
Ada yang terlewatkan—
.
.
"... AKASHI SEIJUUROU!"
—dan sesungguhnya adalah tentang rasa yang paling berharga.
.
#~**~#
.
Special requested by Kiseki wa Zettai,
.
Innocent Love
.
By: Light of Leviathan
.
#~**~#
.
Seumur hidup, Akashi tidak pernah ditabrak begitu keras oleh seseorang. Sampai jatuh terbanting ke lantai dan kepala bagian belakangnya terbentur dengan menyakitkan. Ia mengerang, bagian tubuh belakangnya sakit bukan kepalang.
Bagian dadanya juga sakit, tapi tidak sesakit perutnya. Begitu Akashi membuka mata, seseorang jatuh tertelungkup di atasnya.
Gadis itu.
Akashi yang berbudi luhur hampir mengumpat. Tubuh bagian belakangnya mati rasa. Bahunya serasa ditonjok oleh balok kayu ketika dahi gadis ini bertabrakan dengan bahunya. Pula ia bisa merasakan denyut menyakitkan dari perut— yang meski terlatih—miliknya nyeri karena ditindih gadis asisten tim Seirin yang berada di antara kedua kakinya dan kepala menubruk di bahunya.
Aliran panas perlahan-lahan merembas.
"Sei-chan, kau tidak apa—" Mibuchi yang segera menghampiri lantas membekap mulut karena begitu terkejut.
"O-oi!" Takao menunjuk pada perut bagian bawah Akashi yang mengenakan baju kaus berwarna putih. "Bu-bukankah itu—"
Para pemuda berseru horror.
"DARAAAH!"
Sepasang mata merah yang sebelumnya hilang fokus karena sebelah mata tertutup menahan sakit, lekas terbelalak. Dilihatnya orang-orang mengerubunginya sementara ia sendiri berusaha duduk, dan mengalungkan lengannya di sekeliling tubuh mungil yang—anehnya—bisa begitu dengan keras menabraknya.
Merah menodai kaus putihnya. Sewarna rambutnya. Sewarna matanya. Darah segar merah membasahi pangkuan dan perutnya. Akashi menatap tak percaya gadis yang terkulai pingsan dalam pelukannya.
Kisruh gaduh di sekitar Akashi tidak memperbaiki situasi dan kondisi sama sekali.
"Ga-gadis itu yang tadi jatuh, 'kan?"
"Dia me-menabrak Akashi—sa-sampai berdarah-darah! Chihuahua memang tidak apa-apanya daripada singa!"
"AMBULANS! PANGGIL AMBULANS DAN JANGAN BERDIRI DIAM SAJA, BODOH!"
"AAARGHH! FURI, BERTAHANLAAAAH!"
"AKASHI, KAU BAIK-BAIK SAJA? ATAU KAU YANG JUSTRU TERLUKA?! REO-NEE, AKASHI CEDERA PARAH!"
"BAKA HAYAMA. YANG TERLUKA PEREMPUAN ITU!"
Huru-hara dan kericuhan meledak di sekitarnya menyebabkan kepalanya berdenyut sakit. Akashi sendiri kehilangan kata-kata, mencelos melihat gadis itu berdarah-darah hanya karena berbenturan dengannya.
"Astaga. Kalau dia bertabrakan dengan Murasakibara sampai terluka berdarah-darah begitu, aku akan percaya. Tapi ini Akashi! Ternyata Akashi punya bakat sebagai Center—!"
"DIAM, IDIOT. TELPON AMBULANS! NYAWA FURI DALAM BAHAYA!"
"AMBIL HANDPHONE! CEPATLAH!"
"AKU TIDAK PUNYA PULSA!"
"PUNYA PONSEL BAGUS TAPI TIDAK PUNYA PULSA? JUAL SANA! LEBIH BAIK PAKAI PUNYAKU SAJA!"
Entah sejak kapan Momoi muncul dan berusaha menyeruak dari para pemuda (terutama anggota tim Seirin) yang histeris, tidak mengerti apa yang terjadi. Dilihatnya Riko masih menatap horror pada Furihata yang didudukkan Akashi dalam pangkuannya dan berdarah-darah. "A-apa yang—"
"Furihata-san tadi lari masuk ke gim lagi dan bertabrakan dengan Akashi-kun." Kuroko yang telah berlutut di sisi Akashi dan Furihata menerangkan, ia tampak semakin khawatir saat menatap Momoi. "Bukankah tadi kau mengantarkannya ke toilet, Momoi-san? Apa yang terjadi?"
Momoi menutup mulutnya tidak percaya. Dia tidak bisa mengemukakan pada Kuroko apa yang terjadi, tapi tidak bisa juga memberitahukan bagaimana bisa Furihata berdarah-darah seperti itu. Beruntung Riko berseru tegas mendiamkan semua orang.
"DIAMLAH!" Pelatih Seirin itu membungkam para lelaki yang sebagian besar panik dan tidak mengerti apa yang terjadi. Ditatapnya Momoi dalam-dalam, "Kau punya?"
Momoi balas menatapnya dalam-dalam. Dia mengerti maksud pelatih Seirin ini—dan hanya perempuan yang mengerti. "Ti-tidak."
"Bisa kaucarikan? Kita harus membawa Furihata-chan ke Ruang Kesehatan."
"Baiklah." Momoi mengangguk, pandangan bersalahnya tertuju pada Furihata yang tampak pucat dan tidak sadarkan diri. "Nanti aku bawakan. Tapi aku tidak tahu tempat Ruang Kesehatan di mana."
Mibuchi ikut bergabung dalam percakapan. "Aku akan mengantar Momoi-san menyusul Sei-chan dan yang lainnya ke Ruang Kesehatan."
"Kenapa ke sana? Sebaiknya bawa saja Furi ke rumah sakit," ucap Kawahara yang paling khawatir terhadap kondisi sahabatnya.
Riko mengibaskan tangannya. "Sebaiknya bawa dia ke dokter yang berjaga di sana. Kalau lukanya tidak parah, Furihata-chan tidak perlu ke rumah sakit."
Dia menoleh pada Akashi yang sedari tadi bergeming, lengan kiri pemuda itu melingkari pinggang ramping adik kelasnya dan tangan kanan memegangi bahu. Furihata didudukkan secara menyamping dalam pangkuannya sementara Akashi membuat kepala gadis itu yang telah lepas ikatan rambutnya bersandar di bahu kanannya.
"Akashi-kun, maaf, bisakah tolong kaubawakan Furihata-chan ke Ruang Kesehatan sekarang juga?"
Permintaan Riko itu membuat Akashi menoleh padanya. Pemuda itu mengangguk, ia hendak berdiri, namun—
"Hei, sebaiknya para manajer dan asisten perempuan yang membawakan ke Ruang Kesehatan." Ootsubo menganjurkan.
Nakamura menengok, bertanya heran, "Memang kenapa?"
"Sudah jelas. Bisa-bisa salah pegang." Aomine mendengus pelan.
"Aomine." Midorima membenarkan letak kacamatanya dan turut mendengus. "Akashi itu tidak sepertimu, nanodayo."
Akashi menghela napas panjang menyaksikan perdebatan yang lain. Ia meletakkan gadis dalam pelukannya di lantai terlebih dahulu tanpa melepaskannya, bergegas berdiri, lalu mengangkatnya ke dalam pelukan dengan sebelah lengan kiri di antara tekukan lututnya dan lengan kanan di selipan antara lengan dengan tubuhnya.
Momoi bergegas membenarkan posisi kaki Furihata di lengan kiri Akashi, sementara Riko memosisikan kepala Furihata bersandar di bahu Akashi—yang sebenarnya terasa nyeri karen abenturan tadi. Lengan gadis yang jatuh pingsan itu terlipat manis bersandar di dada pemuda berambut merah tersebut.
Akashi bergegas melangkah secepat yang ia bisa menuju ruang kesehatan di Rakuzan. Letaknya cukup jauh dari gimnastik indoor yang sekaligus berfungsi sebagai aula serba guna. Akashi dengan Furihata dalam gendongannya diikuti oleh Riko dan seorang manajer baru di Shutoku menuju ke sana.
Sepanjang jalan, siswa-siswi elit Rakuzan yang biasanya membungkuk hormat atau menegur sopan siswa teladan nomor satu di sekolah tersebut, juga ketika melewati ruang guru ataupun berpapasan dengan guru, semua dibuat terkejut, syok, serta terkaget-kaget melihat kapten belia tim basket rakuzan tersebut dengan kaus bernoda merah menggendong gadis dengan tungkai berlumuran darah dalam pelukan dan mengabaikan keterkejutan mereka semua.
Semua berbondong-bondong mengawasi bagaimana pemuda berambut semerah rubi itu yang terkenal dengan keeleganan dan martabatnya, memacu langkah dengan gadis pingsan dalam pelukan.
"Se-Seto Kaichou!"
Akashi yang semula berusaha menerobos jalan dan mengabaikan keingintahuan murid-murid lain berdecak pelan, seruan perintahnya diabaikan oleh rasa penasaran mereka—dan ia sangat tidak menyukai hal ini. Dia melirik sedikit dan menggeleng sekilas.
"Sakura, tolong bukakan jalan."
Gadis yang ternyata bernama Sakura itu terpana sejenak, menatap gadis dengan wajah pucat dan rambut coklat panjang teruntai di dalam pelukan pemuda yang jadi atasannya dalam organisasi siswa, akhirnya berseru pada murid-murid untuk menepi dan membukakan jalan agar sang ketua bisa lewat—diikuti kedua gadis lainnya yang tidak mengenakan seragam apapun berlogo Rakuzan.
Penasaran dan merasakan decit perih di hatinya, gadis bersurai ungu itu mengikuti rombongan seorang pemuda yang telah disukainya sejak mereka berpartner bersama dalam organisasi sekolah.
"Sensei, tolong bukakan pintu!"
Baru pertama kali dilihatnya pemuda yang biasa tampil hampir selalu flamboyan itu kini terlihat berantakan, kacau, dan retak sudah wajah yang biasa mengulas senyum formal itu dengan kelembutan serta keramah-tamahan yang biasa. Panik, khawatir, dan segala ekspresi yang tidak pernah dilihatnya kini ditampilkan oleh pemuda tersebut.
Dokter yang biasa berjaga di Ruang Kesehatan itu membukakan pintu. "Akashi-kun! Tumben sekali kau ke mari—"
"Permisi, Sensei." Akashi mengarahkan pandangannya pada gadis yang tidak menujukkan tanda-tanda akan segera tersadar. "Dia terluka gara-gara aku." Ketiga gadis di belakangnya terkesia mendengar perkataannya. "Tolong gadis ini, Sensei."
"Astaga!" Dokter itu mengerjapkan mata, sedetik memandangi gadis dalam pelukan seorang Akashi Seijuurou, terbelalak ngeri melihat sepasang muda-mudi ini bersimbah darah. Buru-buru ia menepi. "Cepat taruh dia di ranjang, Akashi-kun!"
Pemuda tersebut bergegas masuk ke Ruang Kesehatan yang cukup luas, dia tidak merasakan sakit di tubuhnya lagi, konsentrasinya hanya pada kondisi gadis dalam pelukannya yang ia baringkan selembut mungkin di atas ranjang. Darah menodai lengannya dan seprai putih ranjang klinik.
"Apa yang terjadi?" Dokter wanita muda itu bergegas mengambil stetoskopnya dan mendekati Furihata untuk mengecek detak jantungnya.
Akashi menatapi gadis yang kini tergolek di ranjang. Dia menghirup napas panjang.
"Aku tadi keluar dari gim untuk menunjukkannya jalan menuju ke sini karena sepertinya dia tampak sakit, tadi juga dia jatuh di lapangan dan hampir pingsan. Tidak kusangka dia berlari masuk lagi ke gim dan kami bertabrakan sangat keras, Sensei. Karena itulah dia sampai pingsan dan terluka seperti ini."
Dokter itu mendengarkan denyut jantung gadis tersebut yang melegakan—tidak sebegitu lemah seperti orang sekarat atau semacamnya. Ia mencoba menganalisis apa yang terjadi pada gadis ini. Penjelasan Akashi tidak membantunya memahami penyebab kenapa gadis ini bisa sampai berdarah-darah.
Gadis berambut coklat ini memang terlihat rapuh. Kira-kira benturan sekeras apa yang bisa membuatnya terluka separah ini?
"Akashi-kun, apa kau terluka?" tanya dokternya yang beralih mengambil kassa dan menuangkan sebotol penuh alkohol ke mangkuk untuk membersihkan noda aliran darah sepanjang kaki kecil gadis ini.
"Tidak, Sensei. Aku baik-baik saja."
"Sebaiknya kau mengganti bajumu, kau terlihat mengerikan. Gadis ini biar aku yang mengurus."
Akashi membungkuk sopan pada dokter yang berjaga di ruang kesehatan. "Terima kasih." Dia melirik pada dua orang gadis lagi yang memandangi Furihata diperiksa oleh dokternya, bibirnya melengkungkan senyum. "Sensei, kedua perempuan ini adalah temannya. Bisakah mereka tetap tinggal di sini?"
"Saya Aida Riko, kakak kelas dari Furihata Kouki yang sedang Anda periksa." Riko berinisiatif memperkenalkan diri. Dia melebarkan telapak tangan dengan sopan pada gadis lain di sisinya. "Dia Ootsubo Tae, teman kami juga. Saya mohon bantuan Anda, Sensei."
Dokter muda itu tersenyum, senang dengan kesantunan dua gadis yang merupakan teman dari gadis yang tergolek pingsan. "Baiklah. Kalian berdua bisa membantuku."
Akashi mundur, selangkah, dua-langkah, lalu berbalik keluar dari ruangan didahului oleh rekan kerjanya di organisasi siswa Rakuzan. Sebelum menutup pintu ruang kesehatan, dilihatnya samar-samar di antara ketiga perempuan lain yang bercakap-cakap dalam ruangan, gadis dengan rambut coklat panjang terurai di bantal itu masih tak sadarkan diri.
Sinar matahari senja menyusup dari jendela, memercikkan sedikit sinar pada gadis yang terdampar di alam mimpi dan entah kapan akan terbangun.
Gadis yang mendampingi Kuroko di reuni Kiseki no Sedai pertama kali saat pembukaan Winter Cup dan ketakutan setengah mati melihatnya.
Gadis yang diumpankan oleh pelatihnya, berusaha mengatakan sesuatu yang membuat Akashi bingung hingga jatuh tersusruk di hadapannya.
Gadis dengan suara pekik imutnya bersembunyi di belakang Kuroko saat pertama kali bertemu mata dengannya ketika Seirin datang ke Rakuzan disambut olehnya.
Gadis yang mengintipnya dari balik bahu Kuroko.
Gadis yang tadi dengan lucu bernyanyi di toilet, terpaku kaku dua detik masih bergumam, lalu bersenandung merdu sambil perlahan-lahan menutup pintu toilet dan mendekam di sana—mungkin menunggu kepergiannya karena terlampau malu.
Gadis yang bekerja keras mendukung teman-teman setimnya, terjatuh lagi di tengah lapangan, lalu menangkis bola basket dengan wajah menyeramkan dan penampilan berantakan.
Gadis yang tidak mau menatapnya tapi membiarkan dirinya ditopang oleh Kuroko.
Gadis yang Akashi dengar berteriak membencinya.
Gadis yang menabraknya, menindihnya, membuat tubuhnya kesakitan—dan nanti mungkin akan memar-memar, terkulai pingsan.
Gadis yang Akashi rasa ia bisa melingkarkan seluruh lengannya untuk mengunci gadis itu dalam pelukannya.
Gadis yang terlalu ringan seperti kurang gizi saat digendong olehnya.
Gadis yang berlumuran darah dalam pelukannya.
"Kaichou?"
Suara Sakura menyadarkan Akashi—ia memandang gadis itu terlalu lama. Perlahan-lahan ia menutup pintu, lalu mengembuskan napas panjang. Menatapi kaus putih dan lengannya teroleskan merah darah.
Darah gadis itu.
"Siapa itu tadi?" Suara lembut Sakura bertanya padanya.
"Tamu tim basket. Manajer tim basket sekolah dari Tokyo." Nada final ditegaskan dari apa yang Akashi suarakan. Ia tidak ingin dicecar dengan pertanyaan apapun untuk saat ini.
Ada kaus yang harus diganti dan dicuci.
Ada badan yang harus dibersihkan.
Namun tidak ada yang bisa menghilangkan perasaan bersalah yang Akashi rasakan saat itu—meski ia sadar bahwa penyebab Furihata pingsan dan berlumuran darah jelas bukan karenanya, tidak peduli meski gadis bernama Furihata Kouki itu begitu takut dan membencinya.
.
#~**~#
.
Suara-suara lembut berbisik-bisik di sekitarnya menelusup ke telinganya.
"Hei, dia sudah sadar."
"Furi-chan? Kau bisa dengar aku?"
Furihata mengerang perlahan. Matanya terbuka, membuka-menutup beberapa saat untuk membiasakan diri dengan cahaya dari lampu di langit-langit ruangan yang menghujani matanya. Ditemukannya gadis-gadis manajer duduk mengelilinginya dengan raut wajah lega.
"Riko-Senpai ... a-aku—" Furihata berusaha mengingat apa yang terjadi dan kenapa ia bisa terbaring di atas futon dilapisi tebalnya selimut.
"Tadi kita habis berbicara. Lalu kau lari, menabrak seseorang, dan kau pingsan." Momoi mengambil tangan Furihata yang terletak di atas selimut, meremasnya perlahan penuh rasa penyesalan. "Maafkan aku. Ini semua karena aku yang salah paham."
Furihata tersenyum tipis, ia menggeleng perlahan. "Tidak apa-apa, aku mengerti. Maaf tadi aku lari begitu saja, rasa sakit di perutku tadi tidak tertahankan."
"Bisakah kau duduk, Furi-chan? Kau harus makan dan minum obat pereda sakit." Riko menunjuk senampan makan, segelas air minum, dan bungkusan obat yang telah disediakan.
Gadis itu mengangguk, ia beringsut dibantu oleh Tae dan Momoi untuk duduk. Seorang gadis manajer baru lagi dari Kaijou membantu menggeserkan nampan makanan. Furihata meraih semangkuk sup krim ayam dengan potongan roti dan berusaha memakannya.
"Terima kasih ..." Furihata menyiduk sesendok sup. Kepala tertunduk dengan mata memanas terarah pada supnya. "Aku merepotkan kalian."
"Tidak apa-apa, Furihata-Senpai." Adik dari kapten tim Shutoku itu tersenyum manis padanya. "Yang penting kau beristirahat agar bisa cepat pulih."
Furihata mengusap airmatanya dan mengangguk, mengulas senyum haru. Ia menyuap supnya yang terasa gurih dan melahap sepotong roti.
"Jadi ... apa aku boleh tahu apa yang terjadi sebenarnya sampai kau berlari kembali ke gim, Furi-chan, Momoi-san? Bukankah kalian harusnya ke toilet?"
Pertanyaan Riko itu membuat kedua gadis yang ditanya berjengit. Keduanya bertukar tatapan, salah tingkah karenanya.
Momoi menatap Furihata dan menerima anggukan—tanda ia boleh menjawab pertanyaan tersebut. Ditatapnya putri dari Aida Kagetora itu dan beberapa gadis lainnya. "Tadi ... err, aku sempat salah paham."
"Salah paham?" ulang Riko bingung.
"Uhm. Kupikir Furihata-san menyukai Tetsu-kun ... dan juga Tetsu-kun menyukai Furihata-san karena dia begitu memerhatikannya." Momoi memilin rambut merah mudanya dalam jemarinya. "Aku bilang pada Furihata-san, a-aku cemburu ... karena aku menyukai Tetsu-kun. I-ini salahku karena tadi tidak berusaha mendengar penjelasannya."
Riko bersidekap seraya memiringkan kepala. "Aku mengira wajar saja. Kuroko-kun orangnya sangat observan dan dia termasuk yang paling peka menyadari bahwa Furi-chan tidak seperti biasanya."
"Tapi, kan, aku tidak tahu. A-aku iri karena mereka bersama setim." Momoi samar menggembungkan pipi dan memeluk lututnya. Dia menatap Furihata penuh rasa bersalah. "Maafkan aku, Furihata-san."
Gadis berambut coklat itu menggeleng perlahan. "Tidak apa-apa." Canggung, ia menggaruk pipinya dan kentara semakin merasa salah tingkah. "A-aku juga minta maaf karena bicara sekencang tadi padamu."
"Oh." Momoi mengingat sentakan keras Furihata padanya, ia menggeleng lembut. "Tidak masalah. Aku pantas mendapatkannya."
"Heeiii, aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan!" rajuk Riko tidak paham.
Momoi terkikik geli. Dia mengabaikan repetan panik Furihata. "Tadi saat aku salah paham, Furihata-san berteriak padaku."
Furihata mencelos. Horror. Panik. Syok berat. "Mo-Momoi-san—!"
"Furihata-san bilang, AKU TIDAK MENYUKAI KUROKO-KUN SEPERTIMU!" Momoi tertawa geli ketika Furihata memekik malu, berusaha menghentikan Momoi menyampaikan kalimat berikutnya—
"AKU SUKA PADA AKASHI SEIJUUROU! Begitulah. Hahahaha!"
Riko ikut tergelak dengan Momoi dan dengan ceria saling menepukkan tangan. "Benarkah? Furi-chan bisa berteriak seperti itu?!"
"Iya! Aku saja tidak bisa bersuara seperti itu, meskipun tentang Tetsu-kun!"
"Apa? Furihata-Senpai suka pada kapten tim Rakuzan?" tanya manajer Kaijou heboh.
"Dia memang keren. Kata Onii-san-ku, Akashi-san pemain basket yang sangat hebat dan saingan Midorima-san," kata Tae bersemangat.
Manajer dari tim Yosen ikut menyahut ceria. "Seleramu sangat bagus, Furihata-san. Akashi-san memang kelihatannya seperti lelaki yang baik."
"Kau harus berhati-hati, Furihata-san. Seto Kaichou itu sangat-sangat-sangaaaaat disukai banyak perempuan!" ujar manajer baru tim Rakuzan seraya menggoyang-goyangkan telunjuknya.
"Are? Kau tidak suka pada Akashi-kun, ya?" Riko bertanya heran pada manajer baru tim Rakuzan.
Gadis itu menggeleng ringan. Dia tersipu sesaat kemudian.
"AAAH!" Gadis-gadis itu berseru heboh menyadari kesalahtingkahan manajer tim Rakuzan.
Momoi mengguncang-gunncang lengan gadis yang direkrut sebagai manajer baru sekolah prestisius di Tokyo tersebut. "Siapa yang kausuka? Dari tim Rakuzan juga? Mibuchi-kun, Nebuya-kun, Mayuzumi-kun, Hayama-kun—"
"—ti-tidak!"
"Hayama-kun, ya?!"
"Bu-bukan! Su-sudah jangan tanya-tanya lagi!" Manajer tim Rakuzan itu menggembungkan pipinya yang memerah. Membuang muka ketika Momoi tertawa karena responsnya. Lantas beralih bertanya pada manajer tim lain. "Ka-kalau kalian?"
"Aku suka dengan Kise-Senpai. Dia tampan. Hihihihi."
"Ah, kau akan sulit menyukainya kalau terkadang narsisnya sudah kambuh dan melihatnya diikuti gadis-gadis kemana-mana."
"Begitukah? Jadi kau sukanya siapa?"
"... mungkin Aomine-san? Dia terlihat berbeda."
"Aomine-kun?!" Momoi syok mendengar percakapan antara manajer Kaijou dan Yosen. "Apa yang menarik darinya?"
"Hei, dia berkulit tan seksi! Jangan memandangiku seperti itu, Momoi-san!"
Selagi para gadis terlibat percakapan seru tentang pemuda-pemuda yang mereka suka, Furihata merasakan hatinya menghangat dan bersukacita menandaskan makan yang disiapkan untuknya. Meminum obat lalu meneguk air dalam gelas sampai habis.
"... su-sudahlah! Kenapa aku jadi harus memilih antara Hyuuga-kun atau Teppei?!" Riko mengacak-acak rambutnya gemas. Dia membanting setir percakapan kembali pada adik kelasnya yang tengah menelan air .
"Furi-chan yang paling beruntung. Dia menabrak Akashi-kun, digendong Akashi-kun sampai ke ruang kesehatan—"
"—iya, aku seperti melihat ada pangeran menggendong tuan putri ke ranjang emas." Tae menutupi mulut di balik tangannya untuk meredam kikik gelinya. "Aku jadi iri."
Gleek.
"FURI-CHAN!" Riko mengomel sebal, diambilnya handuk yang memang telah disediakannya untuk Furihata. Dipakainya untuk mengelap semburan air yang tumpah di selimut, selagi Momoi bergegas menepuk-nepuk punggung Furihata yang terbatuk-batuk dahsyat.
"A-apa?! Uhuk, uhuk!"
"Telan dulu minummu dengan benar baru bicara." Momoi mengusap-usap bahu Furihata yang panik menerima informasi mengejutkan tadi.
Riko memasang wajah tak berdosa—kendati kentara menggoda. "Kau tadi menabrak Akashi-kun kencang sekali sampai kalian jatuh berduaan di lapangan basket. Masa kau sama sekali tidak sadar dipeluk Akashi-kun, digendong, bahkan dia sampai mengatakan pada Sensei-nya bahwa yang membuatmu terluka berdarah-darah adalah dirinya sendiri?"
"Be- ... benarkah?" Rona merambati pipi gadis tersebut. Wajahnya memanas bukan main sementara jantungnya berdebar menyakitkan.
"Semua orang juga melihatnya." Riko memutar kedua bola mata.
Furihata termenung memikirkan perkataan seniornya. Dia menggigit bibir, lamat-lamat tangan mencengkeram selimut selagi Tae menyingkirkan nampan dari pangkuannya.
"Se-semua?" tanya Furihata cemas.
"Iya. Tadi semua berpikir kau terluka parah karena bertabrakan dengan Akashi-kun. Situasinya kacau sekali tadi, bahkan beberapa minta kau diantarkan saja ke rumah sakit." Momoi tersenyum tipis seraya menepuk punggung tangan Furihata. "Kau membuat semua orang khawatir dan ketakutan."
Tae merapikan mangkuk kotor dan mengelap tumpahan air. "Itu karena tadi Furihata-Senpai terlihat mengerikan."
"Mengerikan ba-bagaimana?" Furihata makin suram mendengar perkataan manajer baru dari Shutoku tersebut.
"Err ... darah menstruasimu kemana-mana." Riko memelankan volume suaranya, takut konversasi mereka terdengar menggema sepenginapan. "Hari pertama memang sangat mengerikan. Untung tadi Sensei di ruang kesehatan sangat pengertian, dia bilang akan menyimpan rahasia tentang ini dan membuat alasan bahwa kau berdarah-darah karena perutmu terluka karena bekas jahitan terbuka. Momoi mengambilkan tampon, pakaianmu diganti dengan baju yang disediakan Sensei itu, dan tenang saja, kami yang membantu menggantikan pakaianmu."
"A-aku tidak tahu harus bilang apa lagi selain terima kasih dan maaf karena telah begitu merepotkan kalian. Se-seingatku, aku masih tiga atau empat hari lagi berdasarkan perhitungan kalender. Ternyata maju beberapa hari." Furihata membenamkan wajahnya ke selimut karena malu yang kian menjadi. Barulah ia menyadari sesuatu, dia mendongak takut-takut. "Da-dalam kondisi seperti tadi ... be-berarti?"
"Sepertinya para lelaki itu tidak ada yang menyadarinya," jawab Riko halus untuk menenangkan. "Akashi-kun sepertinya juga tidak. Karena dia—entah kau akan percaya ini atau tidak—terlihat hampir seperti merasa bersalah, dia mungkin berpikir kau terluka sampai berdarah-darah tadi karena bertabrakan dengannya."
Furihata mencelos. Dia menggeleng-geleng. "A-Akashi-san ti-tidak bersalah ..."
"Baju yang Akashi-san pakai juga sampai ternoda oleh darahmu, Furihata-Senpai," timpal Tae perlahan.
Riko mengangguk menyetujui. "Dia yang terlihat paling mengkhawatirkanmu. Sebaiknya kau temui dia nanti."
Sunyi mengisi seisi ruangan.
Furihata didera perasaan bersalah yang mengerikan. Ia memeluk kedua lutut di balik selimut lalu menyandarkan kepalanya dengan helaan napas putus asa. Akhirnya, dia memutuskan untuk bertutur jujur.
"A-aku ... senang sekali begitu tahu kita akan liburan musim panas di Kyoto, di Rakuzan pula. Bisa melihat Akashi-san saja aku sudah senang. Aku memang berniat hanya melihat, karena aku juga mau cari lelaki lain ...
"Tapi aku terlalu bersemangat kemarin malam sampai tidak tidur. Aku sudah berniat akan merapikan penampilanku saat check-in di penginapan, tapi aku malah tidak dibangunkan.
"Mana tadi saat datang ke Rakuzan penampilanku memalukan sekali. A-aku tahu dia tidak akan melihatku, tapi aku juga tidak mau tampil buruk di hadapannya.
"Aku bersembunyi di belakang Kuroko-kun karena terlalu malu saat melihatnya. Ma-maksudku, ke-kenapa dia harus terlihat se-se ... sekeren itu dalam seragam Rakuzan sementara aku bahkan tidak terlihat seperti perempuan? Lalu aku bertemu dengannya di toilet dan aku malu. Aku terlihat bodoh karena malah masuk lagi ke toilet. Aku lalu menabraknya, menyusahkannya ..."
Para gadis itu menatap sedih airmata yang meleleh di pipi gadis berambut coklat panjang tersebut. Mereka beranjak mendekat untuk merangkul gadis itu atau meraih tangannya dalam genggaman.
"... aku pasti buruk sekalidi matanya," lirih Furihata perih.
"Boleh aku memanggilmu Kou-chan?" tanya Momoi lembut pada gadis itu yang mengangguk di sela upaya menyeka luruhan airmatanya. "Kou-chan, Akashi-kun tidak akan berpikiran sedangkal itu. Dia akan mencoba memahamimu."
"Makanya itu, sebaiknya kau temui dia setelah kondisimu membaik." Riko menepuk bahu adik kelasnya, mencoba menyalurkan energi positif pada adik kelasnya.
Furihata mengusap perutnya di balik selimut. "Rasanya perutku mendadak makin nyeri."
Kejujurannya itu membuahkan tawa dari gadis-gadis lainnya.
Dia mendesah resah. Merebahkan tubuh ke tempat tidur dan menggerung murung, "A-aku tidak merasa aku layak berhadapan dengannya, aku juga tidak yakin bisa bicara dengannya. Tapi aku ingin meminta maaf sesegera mungkin padanya, besok—lebih cepat lebih baik. Aarghh ... bagaimana aku bisa tidak terlihat memalukan?"
"Kalau soal penampilan ..." Manajer tim Rakuzan mengedipkan sebelah mata. "Aku bisa membantu, sepertinya. Setidaknya supaya kau merasa bisa berhadapan dengan Akashi-Senpai."
Gadis yang merupakan siswi Rakuzan itu bergerak ke arah lemari baju dalam ruangan tempat mereka tidur.
"Omong-omong, masih ada baju-baju baru anak-anak divisi tari kontemporer yang tidak dipakai karena kelebihan jumlah pesanan. Bagaimana kalau besok kita juga pakai baju seragam sebagai manajer?" tanyanya antusias.
Manajer Yosen ikut tersenyum lembut pada manajer tim Seirin itu. "Aku bisa bantu mendadanimu."
"Kalau kau butuh aksesori, aku bisa meminjamkanmu seadanya, Furihata-Senpai." Tae beranjak menuju tasnya untuk mengambil perlengkapan aksesorisnya.
Manajer tim Kaijou menjentikkan jari. Dia mengedipkan sebelah mata dengan manis pada Furihata. "Aku bawa beberapa sepatu yang cukup bagus. Dari heels sampai flatshoes, kau lebih suka yang mana? Sebenarnya kubawa untuk jalan-jalan di Kyoto, tapi tidak apa-apa kalau kau membutuhkannya."
Gadis itu berguling di atas tatami, penuh semangat menuju ke barang bawaannya yang ditaruh di sudut kamar mereka. "Seorang gadis harus berjuang supaya dinotis orang yang disukainya!"
Momoi meraih untaian rambut coklat Furihata. "Sebaiknya kau ganti tatanan model rambutmu juga." Dia tersenyum ceria pada Furihata. "Selain itu, Kou-chan, aku bisa membantumu bicara pada Akashi-kun—"
"—dan aku akan menyingkirkan siapapun penghalang kalian untuk bicara." Riko berkacak pinggang dengan puas. "Fighto, Furi-chan!"
Furihata menahan buncarahan haru yang menyesaki dadanya. Dia tertawa tidak percaya, entah kenapa matanya melelehkan airmata lagi.
Mau penampilannya bagaimanapun, Furihata tetap tidak berani menaruh harapan tinggi Akashi akan menatapinya sebagai seseorang sederajat. Sebagai seorang perempuan yang bisa membuat pemuda sesempurnanya merasa tertarik.
Namun bantuan dari teman-teman sesama manajernya, yang ramai dan riang sekali membantunya sepanjang malam untuk mendadaninya, membuat Furihata merasa begitu beruntung karena dianugerahi karunia berupa teman-teman yang menyenangkan dan sangat baik.
Setidaknya, ketika Furihata tertawa bersama teman-temannya hingga larut malam untuk menyiapkan hari esok, ia tidak merasa perutnya begitu sakit lagi.
Besok, tugasnya adalah meminta maaf pada Akashi Seijuurou.
.
#~**~#
.
"—bisa. Hari terakhir festival, akan saya koordinir agar aula serba guna tidak tim basket pakai. Seharian akan dipakai untuk penampilan pentas seni. Jadi kita bisa menghemat dana yang akan dialokasikan untuk dekorasi sekolah dengan mengurangi lima panggung menjadi tiga panggung di tiga titik sektor sekolah: di lapangan upacara, di lapangan olahraga, dan panggung untuk teater serta pentas kultur tradisional khas Kyoto di aula multimedia. Kemudian untuk Prom Night—"
Tok.
Tok.
Ketua pemimpin rapat itu memicingkan mata, anggota-anggota organisasi sekolah merinding ngeri. Tentu mereka tahu betapa tabunya menginterupsi sesi rapat para dewan tertinggi sekolah terutama rapat yang penting dan dipimpin oleh penahta tertinggi dari direksi dewan.
Terlebih hari ini, ketua mereka itu terlihat jauh lebih dingin dan mengerikan daripada biasanya. Mungkin karena waktunya untuk melatih tim basket karena sedang kedatangan tamu, terpaksa berkurang karena harus memimpin rapat dewan sekolah?
"Masuk."
Pintu berderit pelan. Seorang siswa masuk dan melakukan ojigi, begitu melihat dari ujung mata sang ketua telah mengangguk memperbolehkannya menginterupsi rapat, ia menegapkan tubuh lalu melapor dengan suara tegas.
"Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Seto-Kaichou."
Akashi hampir menjejalkan pelajaran ketertiban untuk tidak mengganggu anggota dewan sekolah yang sedang rapat, tapi mengurungkan niat. "Siapa?"
"Katanya, dia adalah teman Anda sesama lulusan Teikou Chuugakou dan siswi dari Too, Momoi Satsuki."
Akashi mengangkat kepala dari dokumen rancangan anggaran biaya yang sedang dibacanya dengan seksama. Dia menatap sejenak anak buahnya yang baru masuk.
"Katakan padanya untuk menunggu. Aku akan menemuinya setelah rapat selesai."
"Hai'!"
Pintu kembali tertutup.
Akashi kembali memimpin rapat. Begitu tenang seakan berita tentang kehadiran seorang perempuan yang menunggunya, sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya. Ia juga tidak tampak bertanya-tanya mengenai alasan kedatangan gadis dari Too itu untuk menemuinya.
Begitu rapat selesai, para anggota saling membungkukkan badan dan membubarkan diri. Akashi merapikan berkas-berkas yang diberikan padanya dan beranjak dari kursinya. Ia mengangguk sopan seperti biasa pada beberapa gadis anggota dewan yang tersenyum (kelewat manis) padanya.
Keluar dari ruang rapat, Akashi melihat dua orang gadis yang duduk dengan bangku sekolah yang dirapatkan ke dinding di sebelah kiri. Dilihatnya Momoi sedang mengobrol dengan seorang gadis lagi.
Momoi memang cantik dan kesintalan tubuhnya jelas menarik perhatian dari siswa-siswa lelaki yang berlalu-lalang di sekitar ruang rapat. Apalagi mengenakan celana merah muda yang cukup pendek sebatas pertengahan pahanya, kaus garis hitam-putih horizontal sebatas punggung lengan atas dipadu tanktop yang selaras warna celananya. Rambutnya disanggul dengan anakan rambut terurai membingkai wajah cantiknya.
Yang menarik perhatian Akashi bukan temannya semasa bersekolah di Teikou Chuugakou dulu, melainkan gadis di sisinya yang duduk dengan manis. Tangan saling menyilang—seperti posisi kaki kanan menumpang di atas kaki kiri—dengan elegan di atas rok merah muda lembut bermodel gypsy jatuh di pertengahan pahanya.
Mengenakan kaus dengan pola sama seperti Momoi, hanya modelnya berbeda. Bagian yang dikenakannya itu memang berlengan normal, tapi ada bagian lubang yang menampilkan lekuk bahu mungil yang mulus serta sisa kain berbahan katun itu jatuh ringan di lengannya. Pinggang rampingnya dililit ikat pinggang merah muda yang berwarna seperti pita berkilau dengan gesper bunga mawar di sentral perut.
Rambut coklat yang kemarin diikat dan terurai berantakan, kini disisir rapi dengan belahan di bagian kanan kepala dan dikuncir rapi agak rendah di atas tengkuk sehingga rambut coklatnya yang agak ikal terjuntai rapi di punggung. Di bagian kiri kepalanya tersemat pita senada warna roknya.
Gadis itu, yang kemarin jatuh pingsan dengan tampang mengerikan, berubah menjadi ... well, kali ini benar-benar terlihat seperti gadis biasa—manis.
"Psst. Perempuan yang berambut pink seksi sekali."
"Aku suka yang rambut coklat. Kawai!"
"Siapa mereka, ya? Anak klub dance atau teater?"
"Ssst. Mereka tamu Seto Kaichou."
Akashi berdeham seraya membenarkan letak dasinya. Dia bergegas menghampiri kedua gadis yang tengah bertukar tawa itu—tidak menyadari mereka menyita perhatian para pemuda yang bolak-balik berlalu-lalang di sekitar ruang rapat.
"Maaf membuat kalian menunggu."
Sapaan Akashi itu memecah keasyikan pembicaraan keduanya. Raut wajah Momoi mencerah, berbanding terbalik dengan gadis manajer tim Seirin yang memucat.
"Tidak apa-apa, Akashi-kun. Maaf kami mengganggumu—"
"Kaichou."
Para siswa yang menyaksikan ketua organisasi siswa mereka dikelilingi gadis-gadis seketika sweatdrop. Astaga, mungkin perang dunia akan pecah.
Akashi menoleh pada wakilnya di organisasi siswa Rakuzan. "Ada apa?"
Momoi yang menyadari ia ditatap dengan mata terpicing itu membalas dengan senyum malaikat—yang sesungguhnya amat ia sadari terlihat begitu menyebalkan. Ia sadar kehadiran dirinya dan Furihata di dekat Akashi tidak disukai oleh gadis berambut ungu ini.
"Hanya mengingatkanmu, besok rapat dimulai di waktu yang sama lagi seperti tadi." Sakura dengan lembut mengingatkan.
Akashi mengangguk ringan. "Terima kasih atas peringatanmu dan kesediaanmu untuk hadir di rapat hari ini."
"Tentu, Kaichou. Itu sudah tugasku." Sakura tertawa kecil. "Mengenai tugas sekolah yang ingin aku tanyakan—"
Akashi menyela dengan tenang. "Besok saja sebelum mulai rapat, lima belas menit lebih cepat, aku akan bantu mengajarimu."
"Bagaimana kalau aku SMS atau telpon saja?" tanya Sakura sembari mengibaskan kepangan rambut violetnya ke belakang.
"Maaf, aku tidak bisa mengurus urusan apapun di sekolah di rumah karena aku juga punya kesibukan sendiri di rumah. Sebaiknya, besok saja." Akashi melugas tegas namun tetap santun menolak.
Furihata menyikut Momoi yang nyaris kelepasan terkikik karena merasa familiar dengan cara Akashi menolak para gadis itu untuk mendekat padanya.
"O-oh, baiklah. Terima kasih atas bantuanmu, Kaichou."
Sakura tetap berhasil mempertahankan senyum di wajahnya. Dia menatapi Momoi dan Furihata sejenak, memandang Furihata sedikit lebih lama karena rasanya pernah melihat gadis ini tapi ia tidak berhasil mengingat siapa gadis tersebut, akhirnya dia membungkuk sekilas dan buru-buru berlalu bergabung bersama teman-temannya.
"Apa kami mengganggumu?" tanya Momoi sembari melirik Sakura dan kawan-kawannya yang masih mengawasi dirinya dan Furihata.
"Tidak. Tapi maaf, aku membuat kalian menunggu. Rapat tadi benar-benar penting." Akashi menggeleng singkat. Senyum tipisnya terkembang. "Jadi, ada perlu apa denganku, Momoi?"
"Sasuga Akashi-kun." Momoi tersenyum manis seraya mendorong punggung temannya yang memekik perlahan dengan suara khas imutnya itu. "Aku mengantarnya untuk bicara padamu."
Akashi menatapi gadis yang didorong Momoi untuk maju ke depan, tidak sadar tatapannya menelusuri gadis ini dari ujung kaki ke ujung kepala. Menyadari flatshoes putih dengan kaus kaki hitam serta gelang berbentuk pita yang melingkar di pergelangan tangan kanannya sama dengan yang dikenakan Momoi.
Sebelum sempat berbicara apapun, Momoi mundur beberapa langkah seraya melambai riang.
"Aku masih harus mengurus Dai-chan dan yang lainnya. Tolong jaga Kou-chan, ya, Akashi-kun!"
Furihata kalap diterpa kepanikan. Dia tidak mau ditinggal sendiri—tidak berdua saja dengan Akashi begini, ini tidak seperti rencana yang dirancang oleh para manajer tim-tim basket itu semalam. "Momoi-san!"
Gadis itu memberikan tanda oke dengan apitan ibu jari dan telunjuknya, mengedip nakal pada Furihata lalu kabur begitu saja.
Sunyi.
Akashi berusaha tidak mengingat seruan kemarin yang tidak sengaja didengarnya. Aku-tidak-menyukai-Akashi-Seijuurou; gadis ini membencinya. Ketakutan padanya, seperti saat ini tubuhnya bergetar dan ia meremas fabrik roknya sembari menggigit bibir. Wajahnya pias seperti sedia kala.
Namun bagaimanapun, semalaman ia pun tidak bisa tidur, tak bisa melenyapkan memori kausnya bernoda darah dan gadis ini berlumuran darah yang meluruh ke kaki-kakinya. Semua ini terlihat seperti mimpi, melihat gadis di hadapannya tampaknya normal—manis bahkan—walau masih terlihat pucat.
Menyadari tatapan menelitinya pasti membuat Furihata tidak nyaman, Akashi berdeham sekilas. "Bagaimana keadaanmu?"
Furihata berjengit mendengar pertanyaan dari suara halus Akashi. Bila saja manusia tidak perlu hidup tanpa jantung, tidak perlu debar jantung itu berdegup ketika sedang merasa begitu gugup, tentu Furihata tidak keberatan untuk tetap membiarkan jantung tetap berada di rongganya.
Namun debarannya terlalu kencang hingga Furihata khawatir Akashi bisa mendengarnya. Seisi gedung tersebut bisa mendengar betapa riuh detak jantungnya. Sensasi mulas itu datang lagi. Tapi tidak seperti kemarin, berbeda. Ini seperti ada gelembung-gelembung meletup-letup meriah di dasar perutnya.
Ia menarik napas, menghelanya dalam-dalam, berulangkali, lalu menjawab tanpa berani menatap Akashi.
"Su-sudah le-lebih baik." Furihata meremas roknya kuat-kuat, dia berusaha untuk mengeraskan suaranya yang terbata-bata parah. "A-aku ... ingin—"
"Sebaiknya kita bicara sambil berjalan ke gim," ajak Akashi yang ternyata melirik waspada ke sekeliling mereka—keduanya menarik perhatian yang tak diperlukan.
Furihata mengangguk-angguk patuh nan kaku. Diikutinya langkah Akashi yang menuntunnya menuju ke gim basket. Dia bisa merasakan denyar-denyar di relung hatinya, gugup, tapi tidak bisa menahan nyeri di tulang pipinya karena senyum tersipunya terkembang tinggi sekali.
Berjalan di belakang Akashi, sedekat ini saja Furihata sudah begitu bahagia. Ah, terima kasih telah memberikannya kesempatan ini, Tuhan. Hamba-Mu ini mensyukuri anugerah terindah dari-Mu ini!
Namun ... kenapa punggungnya terasa panas dan tiba-tiba Furihata merasa merinding?
Lamat-lamat gadis itu menoleh ke belakang. Dia terkejut, keringat dingin mengalir tipis di pelipis menyadari ternyata gadis berambut ungu tadi dan beberapa kawannya membuntuti langkahnya dengan Akashi. Ngeri dengan tatapan duka dan cemburu itu yang mengawasinya, Furihata bergerak lebih mendekat pada pemuda yang jadi pemandunya berjalan.
Furihata merasa bersalah pada gadis itu. Mungkin dia juga menyukai Akashi—atau bahkan cinta padanya. Bagaimanapun gadis itu yang lebih dulu mengenal Akashi dan mungkin bersamanya hampir tiap waktu di jam sekolah.
Akashi melirik sedikit menyadari gadis ini akhirnya berjalan di sisinya. Selintas ia bisa menghirup wangi bunga yang lembut tersepoi dari perempuan yang hari ini terlihat berbeda tidak seperti kemarin.
Menelusuri koridor kelas dua di jajaran kelas elit—unggulan, Akashi menyadari Furihata berulangkali menoleh ke belakang dan tampak sangat gelisah. Ia ingin bertanya apa yang mau Furihata bicarakan dengannya, ketika keduanya melewati kelas Akashi di tahun ini dan ada teman-teman sekelasnya masih sibuk melakukan persiapan untuk festival sekolah.
"Akashi-Buchou! Sudah selesai rapatnya, ya?"
Akashi berhenti melangkah sesaat. Dia tersenyum pada teman sekelasnya. "Begitulah."
"Mau berlatih basket lagi dengan sekolah-sekolah lain, ya? Ah, serunya ... coba klub Amefuto juga bisa seperti itu, mengundang sekolah lain untuk camp-training di sini." Teman sekelasnya yang lain menyahut dari jendela.
"Eh, eh, Buchou, siapa itu gadis manis di sisimu?" Temannya yang pertama menyapa menunjuk Furihata di sisi Akashi.
"Aku tidak tahu kau suka gadis seimut ini—kukira tipemu gadis dewasa terpelajar," puji anggota Amefuto tersebut senang, "pacarmu, ya, Akashi-Buchou? Manis juga."
Cetusan inosen, tidak tahu malu, tidak tahu diri, dan kencang itu, otomatis membuat seisi kelas dan koridor dilanda keheningan yang mencekik.
Furihata bisa merasakan suasana menjadi begitu dingin dan sangat mengerikan.
"Kukira kau pacaran dengan Sakura-san, Akashi." Seorang pemuda lagi menghambur dari dalam kelas, keluar pintu kelas untuk mengecek gadis yang berjalan di sisi ketua kelasnya. "Kalian, kan, Papa dan Mama seluruh murid di Rakuzan."
"Dan kemana-mana selalu bersama," timpal pemuda yang memuji Furihata sebagai gadis manis.
Seorang gadis yang tadi tengah berdandan dalam kelas, buru-buru berlari keluar dan rusuh melepaskan roll rambutnya menjerit protes. "Tapi, Akashi-kun, bagaimana denganku?! Padahal bangku kita sudah bersebelahan satu tahun lebih."
"Kau tidak cocok dengan Seto-Kaichou. Kau terlihat kampungan dan make-up menor begitu," tandas seorang pemuda berkacamata kejam.
Furihata menggigit bibir. Ia bingung menghadapi siswa-siswi dengan seragam baju elit dan menunjukkan aura berbeda yang hampir sepantaran dengan Akashi. Mungkin kecerdasan atau semacamnya?
Dengung siapa-itu-perempuan-di-sisi-Akashi Seijuurou memenuhi seisi koridor, seakan bergaung di mana-mana dan menerorr Furihata yang bergetar kelimpungan tidak tahu harus bagaimana.
"Hei ... jangan-jangan berita heboh tentang gadis yang Kaichou gendong kemarin itu kau, ya?"
Lontaran pertanyaan itu menuai tanggapan yang lebih ramai lagi. Furihata hanya membuka dan mengatup bibir. Ia berusaha menenangkan diri. Menarik napas, menghelanya. Tenangkan dirimu, Kouki. Ochitsuke. Ochitsuke. Ochichuke. Duh.
Tingkah gadis itu mengundang tanya. Dia seperti orang yang hidup di bumi miskin oksigen.
Bibir plum itu menerbitkan senyum yang membuat beberapa orang terperangah. Sederhana tapi memesona. Dia mengangguk sekilas. Sekali itu saja, kesederhanaannya yang memikat dengan senyum tulusnya itu terlihat hampir elegan dan membungkam semua orang.
Sebelum Furihata sempat menghancurkan semua kesan memukau itu, Akashi meraih tangan gadis itu dan melambai pada teman-temannya.
"Kalau kalian tidak ada kegiatan lagi di sekolah, sebaiknya kalian pulang."
Akashi menarik Furihata menembus siswa-siswi Rakuzan yang masih ramai di sekolah untuk kegiatan ekstrakulikuler ataupun mengerjakan tugas yang diberikan guru.
"Hei, Buchou ternyata posesif!" seru seorang teman sekelasnya yang tergelak menertawakan ketergesaan Akashi menarik pergi Furihata dari hadapan semua orang.
Furihata tidak bisa memikirkan apapun selain tangannya ditarik Akashi. Ini skinship pertama—tepatnya kedua, tapi ini yang pertama sejak Furihata sadar. Gadis itu megap-megap tidak karuan merasakan permukaan agak kasar dan kapalan tangan kapten tim basket Rakuzan tersebut.
Ternyata tidak seperti banyak pandangan orang tentang kapten Rakuzan ini yang beredar. Akashi Seijuurou bukan lelaki metroseksual yang memakai banyak produk perawatan diri—kecantikan—untuk menjaga dirinya. Terbukti dari tangannya.
Tangan yang lebih besar dari miliknya, jari-jari yang panjang, kapalan, dan agak kasar di bagian telapak—tanda dia adalah seorang pekerja keras. Urat-urat pembuluh darah menonjol halus di punggung tangannya. Tangan khas seorang lelaki.
Melihat punggung tegap Akashi begitu dekat, Furihata menggigit bibirnya. Orang ini hebat. Kapten tim, ketua sekolah, ketua kelas ... astaga. Benar-benar ia tidak pantas bersama orang ini.
Akashi membalas sapaan (penasaran) semua orang padanya, tidak sekalipun dia melepaskan tangan Furihata hingga mereka keluar dari ruangan.
Furihata dan otaknya yang terhambat untuk berpikir waras. Furihata yang semalam suntuk berulangkali menghafalkan hal-hal apa saja yang ingin disampaikannya pada Akashi, buyar semua itu hanya karena ia berada begitu dekat dengan seseorang yang mencuri hatinya.
Mereka sampai di gim basket. Terdengar bunyi puluhan bola berpantulan ke sana ke mari serta decit sepatu bersanding bunyi peluit meramaikan seisi gim.
Furihata tidak bisa menampik kekecewaan yang menyembul di hatinya ketika Akashi melepaskan genggaman tangan mereka. Ia lekas menyembunyikan tangannya di belakang punggung, mengelus-elus yang masih terasa panas dan kebas.
Akashi berbalik untuk menatap gadis ini yang (hari ini) menyenangkan untuk dipandang. "Maaf dengan semua keributan tadi. Tidak biasanya mereka seperti itu."
Furihata mengangkat kepala dan menggeleng-gelengkannya. Ia berusaha mengendalikan kegugupannya dengan meremas-remas bagian belakang roknya.
"Ti-tidak masalah." Furihata mengembuskan napas panjang. Jantungnya serasa nyaris meledak dan ia merasa tidak bernapas, makanya ia tidak tahu bagaimana bisa ia membungkukkan badan dan mengucap.
"Ma-maafkan aku untuk kejadian kemarin ... aku begitu merepotkanmu. Dan terima kasih juga untuk bantuanmu kemarin. A-aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan—"
BRAAAK!
"—KYAAA!" Lengking falsetto Furihata yang kaget setengah mati, gadis itu melompat kaget ke belakang Akashi, tanpa sadar memegangi lengan pemuda itu.
"FURIIII!" Para pebasket muda tim Seirin itu berhamburan keluar dari gim.
Riko menjerit kesal. "MASUK. SUDAH KUBILANG MASUK. NANTI FURI-CHAN JUGA AKAN MASUK!"
"Akashi, kau harus bertanggung-jawab!" Kagami mengacungkan tinju. Mata krimsonnya menyorotkan perhitungan dan begitu berbahaya.
"Kami akhirnya mengerti karena kebenarannya baru saja dikonfirmasi—kitakore." Izuki berujar serius, berbanding terbalik dengan pun khasnya.
"Aku tidak takut harus berhadapan denganmu, Akashi," tukas Kiyoshi serius, "tapi, Furi pasti menderita dan sangat kesakitan kemarin."
Akashi, sebagai seorang gentleman sejati, merentangkan lengannya yang dipegangi Furihata untuk melindungi gadis itu dari kemarahan para pemuda tim Seirin. "Aku akan bertanggung-jawab atas apa yang telah kulakukan padanya."
Mitobe berusaha memberi tanda-tanda dengan bahasa tubuhnya. Tidak ada yang mengerti selain Koganei, tapi Koganei sendiri mengabaikannya dan berjalat dengan ekspresi pura-pura sangat serius.
"Untung Furi kuat. Aku tidak tahu bagaimana bisa dia terselamatkan dari keguguran kemarin—"
"APA? KEGUGURAN?!"
Dari dalam gimnastik, orang-orang berseru terkejut.
" .NEI!" Hyuuga menempeleng kepala pemuda yang mirip seperti kucing itu. "Douahou! Kenapa jadi keguguran?"
"Kalau bukan darah begitu banyak apalagi, Kapten?" Koganei meringis miris. Ia mengaduh kesakitan lagi ketika tamparan sang pelatih mendarat di punggungnya.
Riko mendengus sebal. "Itu karena bekas jahitan operasi usus buntu Furi-chan terbuka! Makanya kalian harus menjaga Furi-chan baik-baik. Jangan seenaknya menyuruh Furi-chan seperti biasa!"
"Tu-tunggu!" Furihata menyela dari balik Akashi. Ia menatap rekan setimnya satu per satu.
"A- ... Akashi-san tidak bersalah. I-ini salahku karena tidak menyadari be-bekas jahitan kemarin terbuka dan aku berlari masuk ke gim, dan ti-tidak me-melihat ada orang keluar, aku bahkan yang bersalah me-menabrak Akashi-san kencang sekali, pingsan, kau ... k-kau ternoda da-da-darahku, dan a-aku telah be-begitu me-menyusahkan—"
"Ssh. Tenang, ya, Furi. Kami akan membuat Akashi bertanggungjawab karena badannya ternyata lebih kokoh dari Murasakibara atau Wakamatsu sehingga luka jahitan bekas operasimu sampai terbuka." Kiyoshi tenang merespons, ia tersenyum lembut menenangkan seperti seorang kakak pada adiknya.
Hyuuga mengangkat kepalanya lebih tegak dan berjalan maju, berhadapan dengan Akashi. "Aku tahu kau sejak kemarin telah bertanggung-jawab pada manajer kami. Tapi itu tidak cukup."
Sang kapten dengan keseriusan yang menegangkan melirik gadis yang Akashi lindungi dengan gestur tubuhnya.
"Dia anggota tim kami yang berharga. Dan kami sendiri lalai menjaganya."
"Aku sudah bilang aku bersedia bertanggung-jawab." Akashi balas merespon dengan tenang. Terdengar suara berduka dari dalam gim ("Sei-chan, jangan buat dirimu terdengar seperti pemuda yang menghamili anak orang!") yang didesis suruh diam oleh orang lain. "Apa yang kalian inginkan?"
Kuroko maju di sisi belakang kapten tim Seirin. Selain orang yang observan, peka, dan jeli, ia adalah orang yang tricky, karena itulah sang bayangan berkata tegas.
"Jagalah Furihata-san, Akashi-kun. Bantu kami menjaganya agar tidak terluka lagi seperti kemarin. Selama berada di lingkungan Rakuzan, dan ketika kita berlatih basket."
Furihata membeliakkan mata. Antara percaya dan tidak dengan permintaan dari teman-teman setimnya. Jangan-jangan mereka benar-benar percaya alasan yang dikemukakan dokter penjaga ruang kesehatan kemarin.
"I-itu terlalu berlebi—"
"Baiklah." Akashi mengangguk dengan tenang. "Akan kulakukan."
Furihata menoleh pada lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya, dia menggeleng keras. "A-Akashi-san, i-ini bukan salahmu. Sungguh. Kau tidak perlu—!"
Tepukan halus di kepalanya dan senyuman lembut Akashi membuat kerongkongan Furihata tercekat.
Satu per satu anggota tim Seirin mengembangkan senyum, puas karena mengetahui Akashi pasti akan menepati janji. Mereka mengajak pemuda itu untuk ikut berlatih agar tidak tertinggal lebih banyak lagi karena rapat sekolah. Lalu dengan inosennya menghambur lagi masuk ke gim.
Riko menyahut ketika Momoi dengan seruan manis memanggilnya, merasa lega karena Furihata punya kesempatan untuk maju dengan seseorang yang disukainya, meninggalkan adik kelasnya itu untuk menyusul masuk ke gim.
"Aku tahu kau tidak menyukai keputusan aku didaulat untuk menjagamu dan itu berarti aku harus bersamamu—"
Furihata ternganga tak percaya. Dari mana asalnya anggapan gila itu? Ia tidak menyukai dijaga dan bisa bersama Akashi? Yang benar saja!
"—tapi, aku akan menjagamu," tegasnya mutlak bersungguh-sungguh.
Sepenuh hati, ia tersentuh; Furihata tidak sadar napasnya tertahan. Tidak sampai Akashi melepaskan pegangannya dari lengan dan berlalu masuk ke gimnastik.
Gadis itu ditinggal sendiri. Pipinya ia cubit. Sakit. Kurang keras. Aw! Ah, sangat sakit. Senyum Akashi tadi ... rasanya, Furihata bisa memanjat langit dan menduduki pelangi asalkan hadiahnya adalah Akashi menatapnya hangat dengan mata merah berkilau dan tersenyum seperti tadi.
Senyum selembut tadi.
.
To be continue
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Maaf saya baru sadar ternyata fic ini saya setting complete begitu diberitahu RnR. Orz
Tapi saya nulis TBC chapter lalu. Oh, Light, kamu bener-bener—*dijitak*
Rasanya inget fic ini saya jadwal untuk update pas awal tahun baru 2016 sebelum sibuk di RL tapi batal update karena pas tahun baru saya tepar sakit, kenyataannya baru update sekarang, bener-bener bikin saya miris. *bitter laugh*Maafkan saya karena update-nya lama banget. *ojigi*
Ano, apa menurut LeChi-tachi nama Furihata Kouki perlu diganti jadi nama yang lebih feminin? Soalnya, eto saa ... kelihatannya masih lelaki banget. Saya awalnya nggak kepikikiran mengganti supaya tetep ada traces dari Furi yang asli, tapi setelah saya berkali-kali menyebut namanya untuk seorang gadis, sepertinya agak janggal. Gimana menurut LeChi-tachi? Perlu nggak saya ganti nama Kouki?
And see you very sweet latte(r)
. Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan
