11 Jam dengan Orang Asing
Bagian 2
Sepertinya aku salah membagi chapter nih... Chapter pertama jadi pendek, eh chapter 2 yang jadi kebanyakan. Well, gak apa kan? Semoga menikmati bagian kedua juga :)
Netto : 3305 words
Disclaimer : 07 Ghost gak bakalan jadi punya aku, tuk selamanya~ Aku Cuma punya nih bahan cerita tuk dinikmati bersama. Maaf besar untuk OOC-ness, karena penulis ini yang cinta mati ama Adam Levine (apa nyambungnya?)
00000-.-00000
Jam ke 7 menuju ke 8
Cukup. Cukup, ya cukup.
Teisha keluar dari rumah gelap itu melalui pintu darurat, meninggalkan Frau melanjutkan perjalanannya. Dia terduduk di tangga pintu keluar, memeluk lututnya agar rasa merinding itu hilang.
"Kenapa? Kalau takut, tak usah ikut aku tadi…" kata Frau menghampiri Teisha, masih dengan cengiran khasnya setelah keluar dari wahana satu itu.
Teisha memelototinya,"Ya, aku takut, puas?! Aku ikut ke dalam untuk memastikan kau aman, tau!"
Senyumannya melebar "Padahal, bagus sekali dari tadi kau melekat padaku,"
Sejak masuk ke taman hiburan, nampaknya diri Teisha sendiri yang mengalami sakit jantung, setelah rollercoaster dan rumah hantu barusan, sedangkan Frau malah sangat menikmatinya. Teisha tak bisa komentar. Mukanya memerah mengingat tangannya yang berangkulan terus dengan Frau, mencari perlindungan yang sia – sia di dua wahana tadi.
"Aku hanya khawatir tentang kondisimu, Bodoh…" dengus Teisha.
Tangan besar itu mengacak – acak rambutnya, lagi. Ada perasaan nyaman, aman dan...rindu? Entah rindu akan apa.
"Ayo, kucari wahana yang tidak akan membuatmu jantungan." Tangan it menariknya berdiri, mengajak Teisha mencoba wahana lainnya. Dan dia mengikuti pria yang bisa kapan saja membuatnya kesal dengan tindakan spontannya, namun juga menawan hatinya.
Ia ingin ini benar – benar sebuah kencan,
Bukan sekadar menemani seseorang yang akan pergi,
Ia ingin jantung itu bertahan lebih lama,
Ia ingin lebih megenal pria asing nan memesona di depannya ini,
Ia ingin hal seperti ini berlangsung lebih lama. Dia tidak akan menyangkalnya.
Jam ke 8,5 menuju 9
Frau tersenyum lebar seperti biasa, Teisha menatap dingin.
Berbeda posisi, tapi raut kedua pihak tetap sama.
Lalu, jarinya menarik sudut bibir si gadis, memaksakan sebuah senyuman aneh.
Berikutnya, pukulan dan tendangan melayang ke tubuhnya.
Masih tampilan Teisha menghakiminya.
Dan akhirnya saling membalas, Frau mendorong kepala Teisha sementara tangan yang lebih pendek berusaha menjauhkan si pria.
"Tidak ada foto yang bagus. Karena ada kamu…" rengut Teisha, menyalahkan Frau yang berkelakar dari tadi di dalam photo box.
"Aku juga yang disalahkan…bukannya kamu yang bikin gaduh tadi?"
"Kamu,"
"Ya, kamu!" Mata hijau beradu dengan mata biru langit. Lalu, tawa meledak di antara keduanya.
"Maaf, jadi buat foto yang kurang berkenang…" ujar Frau.
"Ah, tidak. Foto – foto ini…lain dari biasa. Aku akan menyimpannya," balas Teisha, mengamati foto mereka. Senyum manis tanpa sadar terukir di wajah kurang ekspresi itu, melegakan hati lelaki di sebelahnya.
Terus berjalan dan berjalan, saling menikmati keberadaan masing – masing, keriuhan taman hiburan menjadi latarnya. Hingga mereka melintasi jam yang berdiri di sudut sebuah kursi taman.
"Ah…sekarang sudah setengah enam…," Teisha lupa menutupi nada kecewa di kalimatnya.
"Kau ini suka buru – buru, ya? Masih ada sekitar dua jam sebelum kembali ke rumah sakit, dan satu tempat lagi yang ingin ku kunjungi,"
Jam 9,5
"Disini," kata Frau. Teisha memberhentikan mobil, tepat di depan sebuah gedung tinggi berbayang hitam. Lebih seperti, proyek apartemen yang terbengkalai, ditemani tanaman menjalar dan rerumputan yang meninggi.
Mereka telah kembali ke arah perumahan masa kecilnya, nun jauh terpencil di ujung jalan yang membatasi daerah Raggs dengan perbukitan menuju Barsburg. Teisha sudah merasa tidak enak di tempat yang jauh dari penduduk lainnya, aura seram juga menguar di sekitar bangunan itu.
Pintu berdebam, Frau kabur ke gedung tua. Terkejut, Teisha mengejarnya.
"Tunggu!" suara bocah perempuan memanggil temannya yang berlari begitu saja, memasuki gedung yang masih dalam pembangunan itu. Para pekerja sudah pulang pada jam sesore ini. Dan ia tidak ingin ditinggal sendiri dengan keadaan matahari yang sudah hendak kembali ke peraduan.
Teisha berlari melalui tangga tanpa pegangan itu, Frau terlalu cepat karena langkahnya yang besar. Semakin ke atas, dan ke atas. Dia mengelengkan kepalanya, menepis pikiran buruk tentang kemungkinan apa yang akan dilakukan Frau saat tiba di puncak.
Langkah kecilnya hati – hati menapaki tangga yang belum tentu kuat itu, temannya terlalu cepat. Tawa yang menggema dari atas memberinya tambahan tenaga untuk mengejar temannya.
"Frau!" teriak Teisha, akhirnya mencapai atap gedung itu. Ia menunduk dan memegangi lutut, napasnya tersengal. Delapan? Sepuluh? Mungkin itulah tingkat yang ia capai sekarang.
Sedangkan, Frau duduk santai di pinggir gedung, membalik tubuhnya ketika mendengar panggilan Teisha.
"Wah, kau lama sekali," Teisha menyeret kakinya menuju Frau, ingin sekali di tendangnya pria ini dari posisinya.
"Duduklah, kau nampak sangat capek" Frau menepuk tempat di sebelahnya.
Teisha menempatkan dirinya dengan hati - hati, "Aku kira kau mau bunuh diri tadi…"
Tawa meledak dari si rambut pirang,"Kau imajinatif sekali! Mana mungkin aku bunuh diri, apalagi di tempat ini,"
Teisha menaikkan sebelah alis. Frau menunjuk ke arah depan, "Lihatlah ke sana,"
Mata hijau mengikuti intruksinya, membulat seketika.
Tepat dari tempat mereka berada, pemandangan seluruh kota terhampar di bawah, dibingkai pepohonan sisi kiri dari perbatasan Raggs dan cahaya jingga mentari yang akan segera terlelap. Lampu rumah penduduk mulai berkelip satu persatu, diteduhi langit senja tanpa awan. Seperti sebuah lukisan yang dengan cermat diciptakan.
Rambut coklat sebahunya dibelai lembut angin gunung.
"Ini indah…" ungkap Teisha.
Frau mengambil napas dalam – dalam,memejamkan mata.
"Gedung ini dulu merupakan proyek besar – besaran pemerintah, tapi sudah terbengkalai seperti ini. Ini tempat istirahat yang paling kusuka tiap sepulang sekolah dulu…"
Si rambut coklat berpaling kepadanya,"Kau…pernah tinggal disini juga?"
"Tentu, sebelum penyakit jantungku bertambah parah. Dan mendiang kedua orang tuaku terus mencari rumah sakit yang bisa memperpanjang hidupku…"
"Lalu, kenapa kau kembali?"
Frau membuka sebelah matanya, tertuju ke si penanya. Biru bertemu pandang dengan hijau. Dan ia kembali menutup mata untuk menikmati angin yang menghembus rambut pirangnya.
"Karena kamu," Frau menjawab, senyuman melebar di wajahnya, bukan senyuman mengejek itu lagi.
"Jangan bercanda…" Teisha menatap kembali pemandangan dibawahnya, berharap sinar senja menutupi mukanya yang tiba - tiba memerah.
Matahari sudah setengah terbenam.
"Kau tahu, Frau... Aku sebenarnya menikmati perjalanan pendek ini. Membawa nostalgia akan kota Raggs yang telah lama kutinggal ," ujar Teisha, menggenggam – genggam tangannya.
"Syukurlah kalau kau juga menikmatinya…"
"Tapi…ada sesuatu yang mengganjalku sejak tadi. Frau, sebenarnya…kau itu siapa?"
Keheningan mengikuti mereka lagi.
"Seberapa kalipun aku membuka kembali ingatanku, kau tidak ada di dalamnya. Kau, benar – benar hanya seseorang yang baru kukenal hari ini…"
Frau kemudian menatap Teisha yang wajahnya seperti telah melihat pembunuhan besar - besaran. Cemas, takut, atau curiga terhadapnya? Namun juga nampak letih karena memikirkan sesuatu.
Tangan yang mulai dingin itu menggapai kepala Teisha, mengelus lembut si rambut coklat. "Kau masih belum ingat,ya? Tak apa, bukankah sudah kubilang? Tak usah terlalu dipikirkan, nanti kau malah tambah pendek…"
Tangan besar itu beralih ke pipi kirinya, mengusap air mata yang tak Teisha sadari telah mengalir sedari tadi.
"Hei, jangan menangis. Kau bilang, kau menikmati perjalanan ini,kan? Anggap saja, orang asing ini adalah teman barumu yang hanya ingin berkenalan lebih lama sebelum pergi jauh. Bagaimana? "
Teisha hanya mengangguk pelan, dalam hati meminta maaf. Mungkin, mencari pengampunan.
"Bagus. Jadi, mari nikmati senja ini sedikit lagi…"
Teisha memperhatikan lebih seksama pria dengan mata biru yang tak bisa ia baca, membiarkan sinar – sinar terakhir menyelimutinya dan angin bermain dengan rambutnya.
Dia bukan kakaknya yang hilang, itu jelas. Teisha anak tunggal, ibunya anak tunggal, dan satu – satunya paman yang ia miliki adalah pendeta yang meninggal tanpa pernah menikah. Lebih tepatnya, dia merasa tidak ada hubungan kekerabatan dengan lelaki ini.
Teman atau sahabat? Hanya Mikage dan Hakuren yang mau berteman dengan perempuan berwajah dingin juga mudah marah sepertinya. Pacar? Tidak ada yang mau dengan wanita se-tidak-menarik dirinya
Lalu, kenapa ia harus khawatir dan sedih terhadap orang asing ini?
Gaya bicara, sentuhan dari tangan besar itu, pribadi yang ramah, konyol, dan suka menyembunyikan kesedihannya sendiri… ia merasa sangat mengenal laki – laki yang tersenyum khas di sampingnya. Sosok yang tak bisa ia panggil dari ingatan kaburnya.
Frau Birkin, lelaki yang baik dan bersahaja ini, hanya akan tetap menjadi orang asing diingatannya.
Jam ke 11
"Terima kasih banyak, Teisha. Frau nampak menikmati hari ini berkatmu," ucap seorang pria berkacamata, menemani Teisha menyusuri koridor menuju pintu keluar.
"Ah, itu bukan apa – apa, Castor. Aku…hanyalah orang asing yang menemaninya sebentar, mengisi kesepian di saat terakhirnya. Tak tahu apa – apa tentang dirinya…" balasnya sungkan, memainkan pin oranye di jari – jarinya.
Castor berhenti, mengagetkan Teisha yang selangkah di depannya.
"Ada apa?"
Castor mengerjapkan matanya, tak percaya.
"Ah, tidak… Frau melewati 11 jam 20 menit denganmu sebelum pemeriksaan kembali transplantasi jantung yang kemungkinan bertahannya sangat kecil. Dan, kau bilang…kau hanya orang asing bagi Frau, atau kau merasa Frau adalah orang asing itu? Karena, Frau tidak mungkin merasa senyaman dan sesenang tadi dengan orang yang tidak dikenalnya. Itu Frau yang kami tahu."
Teisha terdiam. Castor melanjutkan,"Tidakkah, terbersit sedikit di memorimu tentang Frau?"
"Sebenarnya…Aku merasa aneh, aku merasa mengenal Frau, tapi tidak ada satu ingatan pun yang muncul tentangnya. Aku sudah memikirkannya berkali – kali."
Castor menghela napas,"Maaf jika dokter sepertiku berkata ini. Kau hanya memikirkannya, membongkar ingatan di kepala. Namun,sudahkah kau mengenangnya, mencari dari hatimu?"
Teisha tertegun. Wajah itu…senyuman itu…sentuhan tangannya…ia tahu bahwa ia mengenalnya. Ia mengenalnya.
00000-.-00000
Cukup. Ia sudah paham. Kakinya bergerak cepat meninggalkan psikiater yang baru menemaninya.
Teisha terus berlari, hampir menabrak seorang perawat di jalurnya.
Saat itu, umurnya baru menginjak tahun ketiga. Setelah pemakaman kedua orang tuanya, Paman Fea menjemputnya ke perumahan pinggir kota. Tapi, kesedihannya membawa si gadis kecil terus kabur dari sang paman, menutup diri.
Seorang gadis kecil bergaun hitam memeluk lututnya, duduk menyendiri di sebuah gedung dengan cat yang telah mengelupas. Sebuah restoran kecil di seberang menarik mata hijaunya ke etalase mereka, lebih tepatnya wanita muda yang sedang memainkan piano dari dalam. Melodinya menenangkan perasaannya sejenak, menghentikan aliran air mata di pipi bulatnya.
"Hei, kau! Sedang apa disini?" sebuah suara memanggil.
"Apakah ingatanmu terasa samar, kau mengingat bagian dari Frau, tapi tidak keseluruhan dirinya?" Castor mulai mendiagnosa.
Teisha hanya menggangguk.
Seorang bocah laki – laki berambut pirang dari depan restoran menghampirinya. Teisha kecil beringsut di tempatnya, tidak nyaman dengan kedatangan orang lain yang tiba – tiba.
"Kamu siapa? Anak baru ya? Sendirian saja? Tersesat? Orang tuamu kemana? Lalu, kenapa pakai baju hitam?" tanya si bocah bertubi – tubi, membuatnya makin menggelung diri.
Si pirang berjongkok didepannya,menyodorkan tangan. "Aku Frau, anak pemilik restoran di depan. Aku tidak menggigit,kok…"
Mata hijau mengamati sejenak bocah yang tersenyum hangat di depannya, "Ibu….melarangku…bicara dengan orang asing…"
"Woah, aku kira kau bisu tadi! Ayo,mampir saja ke tempatku," Tanpa persetujuan Teisha, Frau menarik tangannya menuju ke seberang, walau dengan susah payah karena perlawanannya.
Teisha terus berlari, berhenti sejenak untuk mencari belokan yang tepat. Ia terus mengenggam pin itu.
Frau adalah teman pertama Teisha, dan mungkin satu – satunya saat ia menginjak bangku SD. Mungkin, karena sifatnya yang sangat menutup diri walau masih kecil. Namun, dari Frau, Teisha mendapat teman – teman baru juga.
Dan satu hari menjelang upacara kemerdekaan, Teisha tak sengaja bertemu Frau di belakang barisan pengibar bendera cilik, melihat si bocah menaikkan topinya berulang kali, usaha yang sia – sia ketika topi itu turun menutupi pandangannya lagi.
"Dasar laki – laki tak bisa diandalkan," ucap Teisha menghampiri Frau.
Seorang gadis kecil menyematkan pin dari kardigannya ke sebuah topi, mengecilkan celah yang terbuat dari robekan di sisi belakang.
"Ah…topiku jadi lucu begini…" keluh Frau.
Teisha memajukan bibir mungilnya,"Apa laki – laki juga tidak tahu terima kasih?"
"Terima kasih, nanti aku kembalikan," gumam bocah yang topinya terselamatkan, meletakkannya kembali diatas rambut pirangnya.
"Apakah kenangan itu hanya berbentuk kenangan masa kecil?"
Teisha menggeleng dengan kuat. Arus memori mengalir deras kepadanya.
Walau usia mereka terpaut dua tahun, Frau adalah pembuat onar, juga tak bisa diandalkan, dan Teisha sebagai pemberes kerusakan – kerusakan yang ia buat. Hingga ia terus mengikuti Frau di jenjang SMP. Dia junior dan si remaja lelaki senior menuju SMA. Kedekatan mereka kadang memicu siulan dan batuk orang – orang disekelilingnya.
"Tunggu!" suara bocah perempuan, yang ternyata telah tumbuh menjadi remaja putri, memanggil temannya yang berlari begitu saja, memasuki gedung yang masih dalam pembangunan itu. Para pekerja sudah pulang pada jam sesore ini. Dan ia tidak ingin ditinggal sendiri dengan keadaan matahari yang sudah hendak kembali ke peraduan.
Langkah kecilnya hati – hati menapaki tangga yang belum tentu kuat itu, temannya terlalu cepat. Tawa yang menggema dari atas memberinya tambahan tenaga untuk mengejar temannya.
Pada akhirnya, sebuah debat kecil di atap gedung yang belum selesai itu, tawa lepas mereka, dan menikmati matahari terbenam dari pinggir puncak gedung.
Sedikit lagi, satu belokan menuju bangsalnya.
"Hei, kau tahu…. aku menyukaimu,"
"Jangan bercanda, Frau. Ini bukan bahan lelucon," si gadis mengalihkan pandangan, takut rona merah dimukanya terlihat karena pernyataan tiba – tiba remaja lelaki disampingnya.
Si laki – laki hanya melebarkan senyum,"Tidak, aku benar – benar menyukaimu."
Teisha mengerutkan kening. Frau menahan tawa, mengangkat tangannya, berteriak ke arah langit senja.
"AKU MENCINTAI TEISHA KLEIN! MENCINTAINYA! HANYA TEISHA KLEIN! DENGARKAN ITU!"
Teisha mendorong tubuh si jangkung ke arah bangunan, memelototi Frau. "Kau gila? Kalau ada yang lain mendengar bagaimana?"
Frau terkekeh,kembali duduk,"Karena itu, walau setelah kelulusan nanti, aku tidak akan meninggalkanmu,"
Mata hijau membelalak kaget, "Astaga, Frau! Kau menolak beasiswa akademi Hawkzile? Menolak kesempatan seperti itu demi….perempuan sepertiku? Kau gila atau bodoh, sih?!"
"Mungkin keduanya. Ditambah, aku sudah jatuh cinta dengan perempuan sepertimu,"
Muka Teisha semakin memerah, ekspresinya bertambah imut dengan memajukan bibir dan mengerutkan keningnya, usaha gagal untuk menyembunyikan perasaan berbunga di dada.
Tangan besar mengacak – ngacak rambut coklatnya,"Aku bisa mati merindukan wajah itu. Lagipula, siapa si pendek dan cerewet yang akan menegurku nanti kalau aku pergi?"
Tangan tergenggam memukul pelan sisi samping Frau,"Dasar bodoh…."
"Apakah kau masih mengingat alasan kau pindah dari Raggs? Apa ingatanmu samar hanya pada tempat atau masa tertentu?"
"Ya…aku pindah karena…karena…"
Castor memijat pelipisnya,"Harusnya aku menyadari ini. Ini fugue amnesia."
Pagi itu, tidak ada rangkulan mengagetkan di gerbang sekolah. Tak ada sapaan ramah di kafetaria. Tak ada panggilan dan suaranya. Tak ada si pirang tinggi di kelulusan para senior. Tak ada alunan piano, hanya seorang pria tua menutup restoran.
Seolah teman pertama, cinta pertamanya, tak pernah ada di Raggs.
Tak ada. Tak ada Frau. Bahkan di atap gedung berlatar senja itu.
"Bohong…." Ucap gadis yang masih berpakaian SMP itu, sudah terlampau banyak peluh dan air mata ia keluarkan dalam pencariannya yang sia – sia.
Tak ada kepercayaan. Tak ada cinta. Ia terlalu muda, hanya terjebak kata dan sikap yang manis saja.
"Amnesia secara psikologis. Otakmu menolak sebuah atau sebagian informasi untuk tinggal didalam memori jangka panjangmu…"
Jenjang SMP Teisha lalui tanpa pamannya, tanpa ada teman untuk berbagi rasa. Meninggalkan Raggs bersama keluarga satu – satunya, Ia kembali menutup diri. Mikage dan Hakuren membuka hatinya, walau apa yang di Raggs tetaplah bersemayam di Raggs. Tak tersentuh.
"…..Biasanya karena kejadian traumatis, tumor, atau…perasaanmu sangat terpukul, hingga proteksi alam bawah sadarmu memilih menguburnya sedalam mungkin, agar kau tidak terluka untuk kedua kalinya ketika mengingatnya."
Sudah cukup, Ia telah paham semuanya.
"Kenapa kamu kembali?"
"Karena kamu..."
Frau pintar. Ya, ia sangat pintar.
"Bukankah sudah kubilang? Tak usah terlalu dipikirkan, nanti kau malah tambah pendek…"
Teisha bodoh, ia merasa sangat bodoh.
"...Kau akan mengingatnya kembali..."
Kenapa ia tidak ingat dari awal? Frau telah menderita karenanya."...Anggap saja, orang asing ini adalah teman barumu yang hanya ingin berkenalan lebih lama sebelum pergi jauh. Bagaimana? "
Teisha tak tahu alasan Frau pergi, tanpa mencari tahu lebih banyak.
Ia egois, Ia bodoh.
Ia tidak melihat, tangan besar yang diam - diam memijat dada untuk menenangkan jantung yang sekarat itu.
Dia bertindak seperti anak kecil, telah mengubur kenangan – kenangan itu.
Ia tidak melihat, bagaimana Frau mencari - carinya ketika gilirannya yang menghilang.
Dan sekarang hanya bisa menatap melalui kaca di pintu bangsal, Frau yang terbaring dengan semua masker udara dan alat penunjang kehidupan itu.
Frau bukan orang asing baginya. Dia cinta selamanya baginya.
Esok Hari
Orang – orang mengelilingi sebuah nisan yang baru berdiri pagi ini, asap masih mengepul dari dupa didepan sebuah foto. Semua berpakaian hitam, menundukkan kepala memanjatkan doa. Seorang gadis lain berpakaian sewarna melindungi diri di bawah bayang pohon, jauh dari kerumunan. Seorang pria berambut ungu muda menyadarinya, melangkah mendekati si gadis.
"Kau tidak bergabung, Teisha?"
"Kau tahu bahwa aku tidak suka kerumunan orang, Labrador. Kerumunan selalu menandakan hal tidak baik" balasnya, memeluk diri.
"Frau adalah pasien paling menakjubkan yang pernah kami miliki." Teisha menaikkan alisnya.
Labrador melanjutkan, "Dari catatan medis yang kami terima, kami sudah sangat terkejut. Dia mengidap kardiomiopati iskemik, memaksanya merubah keadaan awal jantungnya untuk bertahan hidup. Dan bagian yang mengejutkan adalah, dia bertahan dengan 11 kali operasi jantung termasuk transplantasi di Raggs Health Centre, sejak umurnya 5 tahun,"
"Frau… melakukan operasi terus menerus…sejak bertemu denganku..?"
"Mungkin bisa dikatakan seperti itu, sebuah keberanian besar untuk usianya yang masih belia. Juga, dengan penolakan tubuh yang makin besar dengan operasi berulang kali, sudah menjadi suatu keajaiban ia bisa bertahan hingga sekarang. Aku heran alasannya apa," ungkap Labrador, melirik ke gadis yang matanya mulai berkaca – kaca.
"Terima kasih,"
"Tak apa, inilah artinya teman. Seharusnya kami yang berterima kasih padamu. Frau sekarat dan kami tidak mungkin melakukan operasi dengan keadaannya waktu itu. Tapi, Frau berkata, ia punya alasan tersendiri untuk tetap hidup, walau hanya tinggal beberapa jam saja. Kami menyerah dengan semangat itu."
Mata hijau itu hanya sanggup menatap tanah di bawahnya, berusaha untuk tidak menangis.
Tak lama, bayangan teman disampingnya menghilang. Labrador kembali ke kerumunan peziarah, membiarkan Teisha menenangkan diri.
Lalu, yang ia ingat adalah hening, dan kerumunan mulai beralih, meninggalkannya menatap foto hitam putih diatas makam.
Langkah kaki kecil gadis bergaun hitam akhirnya bergerak.
"Kau ini memang pembuat masalah, Frau,"
Selangkah demi selangkah, ia makin mendekat.
...Tidak, aku benar – benar menyukaimu. Karena itu, walau setelah kelulusan nanti, aku tidak akan meninggalkanmu..
"Kau juga pembohong. Kau meninggalkanku waktu itu,"
Teisha berdiri tepat menghadap makam bertuliskan nama Frau Birkin.
...mari nikmati senja ini sedikit lagi...
"Lalu, sekarang. Kenapa kau tidak cerita?"
Mata hijau itu menatap foto yang terpampang di depannya.
"Dan kau masih sempat tersenyum disana? Hah? Kau pasti tertawa melihatku sekarang..."
Sebuah foto pria berambut pirang dalam jas hitamnya. Masih tersenyum.
..Tak usah terlalu kau pikirkan, nanti kau bertambah pendek...
"Kau bisa menceritakannya padaku sejak awal,kan? Kau mau aku perlakukan terus menjadi orang asing, hah?! Aku tidak akan mengunjungimu kalau itu maumu!" suaranya mulai serak.
Setetes air jatuh ke nisan.
"Maaf...karena mencurigaimu...melupakanmu...tidak bisa menjadi diriku yang terbaik di saat terakhirmu..."
Ia membiarkan matanya mengalirkan kesedihan yang tak terbendung lagi, jatuh terduduk.
"Maaf, karena menjadi orang asing bagimu. Dan membiarkanmu mencariku selama ini..."
Samar - samar di tatapnya pemuda disampingnya, yang memejamkan mata biru itu, menikmati angin dan senja yang menerpa tubuhnya.
"Hei,kau tahu...aku menyukaimu"
Disusul tindakan nekatnya dari atap gedung tua itu,"AKU MENCINTAI TEISHA KLEIN! MENCINTAINYA! HANYA TEISHA KLEIN! DENGARKAN ITU!"
"Bodoh...aku tahu...aku juga mencintaimu"
Tangan besar itu beralih ke pipi kirinya, mengusap air mata yang tak Teisha sadari telah mengalir sedari tadi.
"Hei, jangan menangis. Kau bilang, kau menikmati perjalanan ini,kan?..."
"Ah, aku lupa. Kau melarangku menangis,kan?" Teisha mengelap air matanya.
Lama ia menatap makam di sampingnya. Kemudian, ia menepuk tangannya.
"Baiklah. Kau pasti bosan dibawah sana. Jadi, mari mengisi kekosongan 15 tahun dimana aku tak bertemu denganmu." kata Teisha, menyamankan posisi duduk di samping makam.
"Akan kumulai cerita ketika aku bertemu Mikage. Kau tahu, jika kalian bertemu, kalian akan menjadi kakak adik yang saaangaaat…rukun. Dia itu…"
Dan Teisha pun mulai bercerita, sesekali tertawa. Senyum di foto itu seolah melebar mendengar semangat si gadis. Karena Teisha tahu ia tak boleh terpuruk, tak boleh melemah hanya karena merasakan kehilangan.
Teisha tidak hanya kehilangan sesuatu, ataupun seseorang. Ia mendapat kekuatan dan ketabahan, teman, pencerahan, dan terutama…Cinta.
Ini tak akan lama, hingga kita berakhir bahagia.
Segera, kita akan diketemukan…
00000-.-00000
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.
Kahlil Gibran
