Pasal 1


"Ah seperti biasa, anak itu banyak sekali tingkah" gumamku dalam hati ketika melihat kekasihku, Kim Mingyu sedang menindas seorang anak berkacamata dan bertubuh mungil. Mingyu yang sadar aku memerhatikannya segera meninggalkan teman-temannya yang masih asik bermain-main dengan anak itu. Mingyu berjalan santai kearahku dengan senyum manisnya yang membuat semburat merah diwajahku muncul secara tiba-tiba. Untung saja, jarak aku berdiri dengannya cukup jauh, jadi aku cukup yakin kalau ia pasti tidak melihat wajahku yang memerah. Kalau ia sampai tahu, mau disimpan dimana gelarku yang terkenal sebagai ice prince. Aku kembali menata ekspresi wajahku dan berusaha bersikap senatural mungkin.

Mingyu melihat jam tangannya, kemudian melihat kearahku dengan tatapan tidak percaya.

"Pagi sekali kau datang. Apa kau sangat merindukan kekasih tampanmu ini?"

Hari ini hari senin, kelasku baru akan dimulai pukul 9 dan sekarang masih pukul 8 kurang lima belas. Mingyu memang tahu semua jadwal kelasku, begitupula denganku, aku tahu semua jadwal kelasnya.

"Hanya didalam mimpimu aku merindukanmu. Menyingkirlah! Aku sedang banyak tugas." Aku memukul lembut kepala Mingyu dengan kertas-kertas kuisioner tugas yang sedang kupegang. Hei, apa kau melihatnya? Aku, Jeon Wonwoo si cupu memukul kepala seorang Kim Mingyu, ini adalah prestasi terhebat, aku merasa diatas angin sekarang. Mingyu hanya mengerang kecil sambil mengusap-usap kepalanya, kemudian aku berbalik dan meninggalkannya. Belum sempat aku melangkah, tangan Mingyu sudah menggenggam tanganku. Akupun menoleh kebelakang.

"Ada apalagi? Selesaikan saja urusanmu dengan teman-temanmu itu, aku tidak mau mengganggumu." Kataku sarkastik. Aku memang mencintai Kim Mingyu, tapi bukan berarti aku dapat membenarkan setiap tindakannya. Aku tetap tidak menyukainya ketika ia dan teman-temannya menindas orang lain.

"Kau marah? Ayolah, aku hanya bersenang-senang. Lihat, aku sudah tidak bermain dengan anak itu lagi, aku disini bersamamu sekarang, ayo aku temani sarapan, kau pasti belum sarapankan?" Kata Mingyu menjelaskan sambil menatapku dengan tatapan sok imut yang sangat tidak cocok diwajahnya, dan aku hanya bisa tersenyum kecil, dan ya, kau tahu, jauh dilumbung hatiku, meleleh.

"Kau ada kelas jam 8, Kim-hitam -Mingyu. Aku sendiri saja ke kantin, lagipula aku banyak tugas. Nanti, kau malah bosan karena aku tidak memerhatikanmu."

Senang rasanya bisa mengejek pacar sendiri. Kalau kalian sudah punya pacar mungkin kalian bisa mengerti rasa senangku seperti apa, kalau kalian belum punya, kusarankan sebaiknya segera cari pacar. Tapi, jangan berharap bisa mendapatkan Mingyuku, karena dia takkan pernah berpaling dariku. Oh iya, kenapa aku memanggilnya hitam, karena Mingyu memiliki kulit yang lebih gelap dariku. Aku tak bermaksud rasis, toh aku dan dia sama-sama berwajah oriental. Hanya kontras warna kulit kami yang cukup berbeda.

"Baiklah, sepertinya kau memang tidak ingin bersamaku, hyung." Mingyu menundukan wajahnya sambil merenguskan bibirnya.

Ayolah, Kim Mingyu. Aku tidak akan masuk dalam genjutsu [1] murahanmu itu.

"Berhentilah merajuk, kau sangat tidak cocok. Sudah sana pergi kekelas, atau kau mau aku memblokir semua panggilanmu selama satu minggu?"

Bagaimana mungkin aku membiarkannya membolos kuliah hanya untuk menemaniku makan. Pacar macam apa aku ini, kalau sampai itu terjadi. Aku mencoba sedikit mengancamnya agar ia menurut, padahal aku juga tidak akan sanggup memblokirnya, sehari tanpa kabar darinya saja aku sudah uring-uringan dikasur, bagaimana kalau seminggu? Mungkin aku sudah meraung-raung tidak jelas sambil meneriakkan namanya. Diam kalian! dan jangan berkomentar! kalian kan tidak punya pacar, jadi kalian pasti tidak bisa merasakan yang namanya 'kerinduan yang mendalam'.

Mingyu yang mendengar pernyataanku membelalakan matanya dan segera menghambur kedalam kelasnya. Aku hanya bisa tersenyum kecil sambil memerhatikan punggungnya yang semakin lama semakin menjauh.

Oh ada sebagian detail kecil yang tidak aku ceritakan, jadi begini, tepat sebelum Mingyu pergi ke kelasnya, ia tiba-tiba mencium pipiku, belum sempat aku memukulnya dia sudah jauh dari jangkauan. Ingat! Tolong rahasiakan ini, jangan sampai ada yang tahu, akan sangat memalukan kalau banyak yang tahu.

Ah, manisnya kekasihku kalau jadi anak penurut seperti ini. Ucapku didalam hati.

Kemudian, aku segera melangkahkan kakiku menuju kantin. Cacing-cacing diperutku sudah berteriak meminta nutrisinya. Aku ini kurus, dan sulit sekali untuk menaikan berat badan. Ibuku senang sekali mengejekku cacingan, kalau sudah begitu aku hanya bisa diam saja, sambil bergumam aku kuruskan karena gen Ibu.

Aku sedang malas untuk makan-makanan yang berat, aku hanya mengambil satu kotak susu instan, dan satu buah roti keju. Kemudian mencari spot tempat duduk yang cukup hening, aku butuh konsentrasi, karena deadline tugasku jatuh pada esok hari sebelum jam makan siang. Setelah beberapa detik mataku menyapu seisi kantin, aku menemukan tempat duduk yang aku rasa cukup strategis.

Lembar demi lembar kuisioner yang sudah terisi aku sortir berdasarkan usia responden. Oh, aku masih membutuhkan lebih banyak responden lagi, kalau hanya segini kuisionerku tidak bisa kuanggap valid. Gumamku dalam hati. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.

"Nu" Katanya sambil mengagetkanku.

Aku berbalik dan melihat senyum laki-laki yang sudah sangat lama sekali menjadi sahabatku. Lee Seokmin.

"Duduklah!" aku menginstruksikannya untuk duduk disebelahku sambil menepuk-nepuk ringan kursinya.

"Ada angin apa yang membawamu kekampus sepagi ini." Kata Seokmin sambil mengalihkan pandangannya pada kertas-kertas yang berserakan dimejaku. "ah tak perlu kau jawab, aku sudah tahu jawabannya." Imbuh Seokmin sambil melihat-lihat lembar kuisionerku yang sudah ku sortir rapi.

"Ya! Seokmin. Aku sudah menyortir kuisionerku, jangan kau rusak." Kataku sedikit ketus.

Seokmin hanya tertawa kecil sambil meminta maaf kemudian merapikan kuisionerku kembali. Aku mencoba mencicil analisisku dari kuisioner yang hanya beberapa buah saja, setidaknya saat aku mendapatkan responden yang lebih banyak aku hanya tinggal mempertajamnya saja. Seokmin lebih banyak diam sambil mengerjakan tugasnya juga, kami satu jurusan, namun tugas kami berbeda. Seokmin lebih kearah studi literatur, jadi ia hanya perlu ke perpustakan dan menganalisis topik yang ia inginkan, sedangkan aku malah sok memilih topik yang sedikit merepotkan, karena aku harus menyebarkan kuisioner.

"Nu, sudah jam 9 kurang, sebaiknya kita ke kelas." Kata Seokmin mengingatkan.

Aku hanya mengangguk kemudian berjalan mengikuti Seokmin.

Sepanjang kelas aku tidak bisa berkonsentrasi, aku terus kepikiran bagaimana cara mendapatkan responden yang lebih banyak lagi. Sekitar pukul 10 Mingyu mengirimkan pesan singkat ke ponselku.

From: Kim Mingyu

Text: Makan siang denganku

Ajakan macam apa ini? Ini lebih seperti perintah daripada mengajakku untuk makan siang.

Pesan singkat Mingyu setidaknya membuatku senyum-senyum kecil didalam kelas, paling tidak rasa bosanku terobati hanya karena pesan menyebalkannya.

To: Kim Mingyu

Text: Tidak mau

Aku sempat ragu untuk menyentuh icon kirim, aku khawatir nanti dia malah cemberut, tapi, ah sudahlah tak ada salahnya menggodanya sekali-kali.

"Berhentilah tersenyum seperti orang gila, kita sedang di kelas." Kata Seokmin yang sedari tadi memerhatikan tingkah anehku didepan layar ponsel.

Aku tidak menggubris pernyataan Seokmin dan tetap asyik berkirim pesan dengan Mingyu. Obrolan kamipun semakin tedak jelas kemana arahnya, yang pada akhirnya aku menyerah dengan senang hati untuk dibawa Mingyu kesebuah restauran dekat kampus.

Kuliah telah selesai dan tepat saat aku keluar ruangan, Kim-hitam-Mingyu sudah berada didepan kelasku.

Tanpa basa-basi Mingyu menyeret lenganku dengan kasar dan tidak membiarkanku untuk sekadar say goodbye pada sahabatku Seokmin.

"Kenapa buru-buru sekali sih?" Protesku pada Mingyu.

"Tak apa, aku hanya merindukanmu."

Astaga, dasar anak tak tahu malu. Ucapan spontannya benar-benar membuat pipiku merona, aku harus tenang. Kendalikan dirimu, Jeon Wonwoo. Mingyu adalah pembual ulung, jangan percaya kata-katanya. Aku mengucapkan kata-kata tersebut berulang-ulang didalam hati, seperti sebuah mantra. Aku kehabisan kata-kata, aku hanya diam dan mengikutinya kearah parkiran tempat ia meletakkan motor sportnya.

Sebenarnya aku belum terlalu lapar, aku sarapan sekitar pukul 8, walaupun aku hanya makan roti dan sekotak susu, aku masih cukup kenyang. Apalagi sekarang baru pukul 11 lewat.

~~~(o0o)~~~

"Hyung kau mau makan apa?" Kata Mingyu yang sedang membuka menu makanan.

"Aku nanti saja, Gyu. Kau pesan duluan saja." Jawabku sekadarnya sambil terus memerhatikan layar laptop dan kuisioner-kuisionerku.

Mingyu sepertinya sedikit kesal karena aku mengabaikannya. Mingyu menghampiriku dan menutup laptopku secara tiba-tiba, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sedetik, dua detik, wajahku lagi-lagi memerah. Ah, Kim Mingyu memang benar-benar tampan, coba kau ada diposisiku sekarang, mungkin kau sudah terkena serangan jantung. Aku yang ingin marah, seketika mereda.

"Hyung, bisakah kita nikmati waktu kita yang hanya kurang dari 2 jam ini untuk bersama?" pintanya dengan mata yang berbinar.

Kesadaranku sempat hilang, dan tak tahu mau berkata apa. Tapi egoku masih cukup besar untuk menghalau pesona, Kim Mingyu.

"Menyingkirlah Kim Mingyu, kau bau rokok."

"Maaf, hyung." Kata Mingyu lesu.

Mingyu kembali ketempat duduknya dengan wajah yang ditekuk. Ah, aku jadi kasihan padanya.

"Gyu, maaf, aku tak bermaksud. Aku sedang ada tugas, dan aku sedang bingung bagaimana mendapatkan responden yang lebih banyak untuk kuisionerku. Sedangkan tugas ini harus dikumpul besok sebelum jam makan siang." Kataku mencoba memberinya sedikit pengertian.

"Kusioner apa? Berapa banyak responden yang kau butuhkan? Aku bisa membantumu, hyung." Kata Mingyu bersemangat.

"Kuisioner untuk kulih Psikometri, aku butuh minimal 100 responden, dan aku baru mendapatkan sekitar 25 responden dalam seminggu ini." Jelasku pada Mingyu.

"Pesankan aku green tea, Gyu." Pintaku pada Mingyu.

Mingyupun memanggil pramusaji dan memesan makanan dan minuman.

"Apa kau punya kuisioner dalam bentuk digitalnya, hyung? Semcam googleform [2]?"

"Iya, ada. Aku sempat membuatnya, tapi tak ada yang mau mengisinya, hanya sekitar 10 responden yang datanya valid." Jelasku pada Mingyu.

"Berikan aku linknya." Pinta Mingyu.

"Hah? Untuk apa?"

"Biar aku yang menyebarkan."

"Tidak usah, Gyu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri."

Aku lebih suka mengerjakan tugas dengan usahaku sendiri, aku tahu Mingyu hanya ingin membantu menyebarkan kuisionerku, tapi, aku merasa seperti 'memanfaatkan' kepopuleran pacarku untuk keuntungan pribadiku. Tidak, aku bukanlah orang yang seperti itu. You know, I have such a pride.

"Berhentilah keras kepala, Jeon Wonwoo, dan berikan linknya sekarang."

Oke, ini adalah salah satu ekspresi Mingyu yang sedikit tidak aku sukai, ekspresi yang mengisyaratkan dominasinya terhadap diriku. Ekspresi yang seolah-olah ingin mengukuhkan posisinya sebagai…., ehm, itu lho? Kau tahu kan maksudku? Ah, lupakan.

Aku membuka kembali laptopku dan mencoba membuka link kuisionerku, kemudian mengirimkannya ke ponsel Mingyu.

"Hyung apa semua orang bisa mengisi kuisioner ini? Atau ada kriteria khusus?" Tanya Mingyu sambil mengetikan sesuatu dilayar ponselnya.

"Tidak ada kriteria khusus, asalkan ia mahasiswa dikampus kita dan usianya berada pada rentang 18 hingga 25 tahun." Jelasku pada Mingyu.

Tidak sampai 10 menit ponsel Mingyu dibanjiri notifikasi orang-orang yang memberikan komentar pada laman statusnya.

"Ah, maaf hyung. Aku lupa men-silent ponselku."

Aku hanya mengangguk sejenak sambil menyesap green tea yang kupesan tadi.

"Kurasa sekarang kau sudah bisa menutup laptop dan menyimpan lembar kuisionermu itu." Kata Mingyu memberi perintah.

"Iya, bawel. Pesankan aku tteokbokki." Gantian aku yang memberikan perintah.

Akhirnya kami makan bersama dengan tenang sambil mengulang-ulang percakapan yang sebenarnya sudah dibahas di chat tadi pagi, tapi anehnya aku tak merasa bosan sama sekali. Ah, mungkin memang ini yang dinamakan cinta. Tak peduli seberapa menyebalkan leluconnya, tetap saja kau akan tertawa bahagia, atau paling tidak kau mencoba untuk tertawa. Tak perlu kau ingatkan, aku sadar diri kok. Aku tahu, aku adalah si pembuat lelucon yang payah. Tapi, Mingyuku tak pernah protes dan tetap tertawa dengan leluconku. Jadi, kalau kalian berharap Mingyu akan memutuskanku karena jokes murahanku, itu tidak akan pernah terjadi. Tidak dalam ratusan atau bahkan ribuan tahun sekalipun. Mimpi saja kalian!

"Malam ini menginap saja diapartemenku." Tawar Mingyu ketika hendak meninggalkan restauran.

"Oke." Jawabku singkat.

~~~(o0o)~~~

[1] Dalam anime/manga Naruto, Genjutsu dikenal sebagai teknik ilusi, teknik ini tidak menyerang secara fisik akan tetapi mengganggu panca indra dari sikorban dengan menciptakan ilusi, dalam hal ini Jeon Wonwoo menggunakan metafora bahwa kelakuan Mingyu saat merajuk seperti genjutsu.

[2] Googleform merupkan salah satu fitur yang dikeluarkan Google, Inc. untuk men-generate semacam formulir, atau bisa pula digunakan untuk tujuan lain seperti pembuatan kuisioner digital.