NOTE : Hello readers semua...pertama-tama aku mengucapkan terima kasih untuk yang sudah review di chap 1. Untuk para viewer juga aku mengucapkan terima kasih karena sudah menyempatkan waktunya untuk membaca ff perdanaku. Untuk saran dan kritiknya benar-benar membantu untuk next chapter nya. Dan ini udah dilanjut chapter 2 nya... ^_^
Title : I'm Not a Good Person
Author : Kim Ryeonggu
Pair: Yewook
Rate: T
Warning: BL/Hurt/Romance
Disclaimer : cerita ini benar-benar murni ide Kim Ryeonggu. Jika ada ff lain yang mempunyai alur/tema/karakter yang sama... Percayalah, itu adalah sebuah kebetulan yang sangat menyebalkan
Summary:Sesuatu terjadi di masa lalu. Merubahku menjadi pribadi lain dimana tidak ada lagi yang akan menganggapku lemah. Aku bukan orang baik seperti yang kau harapkan. Biarkan aku terluka, abaikan saja aku, jauhi aku, itu lebih baik hyung...
~ Happy Reading ~
Chapter 2
Pak Hong mengelus sayang rambut cokelat gelap namja yang tertidur di ranjang besarnya. Tidur yang tidak bisa disebut tenang. Tidur yang gelisah. Kerutan di pangkal hidungnya masih terlihat. Suara uuuhh, eeerrgghh juga sesekali terdengar. Keringat dingin mengalir di pelipis sang namja dan untuk kesekian kalinya Pak Hong mengusapnya dengan lembut. Cahaya matahari sore membias masuk ke kamar besar yang hampir semuanya berwarna putih. Menerpa kulit wajah sang pelayan yang mulai berkeriput. Wajah sedihnya tergambar jelas. Suasana sore kali ini mengingatkan Pak Hong pada kejadian satu tahun lalu. Kejadian yang membuat Pak Hong merasa gagal untuk menjaga dan mendampingi tuan mudanya. Rasa sesalnya terasa semakin sakit seiring berjalannya waktu dan semakin bertambah dengan perubahan sikap si tuan muda.
Hhhhhhh... dan Pak Hong menjadi semakin sering menghela nafas berat semenjak itu. Kepalanya tertunduk menatap sandal rumahnya yang di atasnya terdapat tempelan kain lusuh bertuliskan "Hong". Ditulis dengan huruf hangul yang berantakan. Itu tulisan Ryeowook kecil. Sandal yang lama dan rusak akan terganti dengan sandal yang baru, namun tulisan nama itu tak akan pernah terganti. Pak Hong akan mengguntingnya dan menempelkannya pada sandal barunya.
Suhu di kamar Ryeowook mulai menurun. Cahaya jingga sore juga mulai tergantikan dengan warna ungu. Pak Hong mengangkat kepalanya ketika hembusan nafas teratur terdengar dari namja yang tertidur, menandakan tidurnya sudah tenang. Menatap Ryeowook sebentar untuk memastikan kemudian mengalihkan pandangannya ke balkon kamar. Ingatannya kembali menerawang ke masa lalu.
Angin dingin berhembus membisikkan kata selamat tinggal di sore menjelang malam itu. Hembusan angin menyibak sebagian poni yang menutupi dahi seorang namja manis yang duduk memeluk lutut di ayunan gantung rotan di balkon kamarnya. Seluruh tubuhnya tertutup selimut tebal. Menatap kosong cahaya sore yang makin menipis. Seseorang menghampirinya dan menghentikan langkah di samping ayunan rotan.
"Hari sudah mulai malam tuan muda...selimut tebal tidak menjamin kesehatan tuan dari angin dingin. Masuklah...bibi pelayan sudah menyiapkan cokelat hangat kesukaan tuan muda," pinta Pak Hong.
"Berjanjilah Pak Hong..." ucap Ryeowook tanpa melihat orang yang diajak bicara "berjanjilah untuk tetap di sampingku...tetaplah membelaku apapun yang terjadi...jika Pak Hong menjauh dariku barang seinchipun, aku tak yakin aku masih bisa berdiri mengahadapi semuanya."
Mata Pak Hong melebar untuk sesaat dan sebuah senyuman sedih terlukis di bibirnya. Bukan karena permintaannya diabaikan, tapi karena kondisi Ryeowook yang jauh dari kata baik. Pak Hong memposisikan tubuhnya di depan Ryeowook lalu berjongkok menekuk lutut "mengapa tuan berkata seperti itu? Tanpa dimintapun saya akan selalu menjaga dan mendampingi tuan muda," ucap Pak Hong yakin sambil mengelus tangan namja di depannya dari luar selimutnya. Dapat dilihatnya mata tuan mudanya yang tak lagi menampakkan binar ceria. Mata cokelatnya terlihat sayu dan menyimpan kesedihan yang mendalam. Sangat jelas terlihat pancaran yang penuh dengan rasa sakit, sedih, dan amarah.
"Semua orang juga berkata seperti itu," jawab Ryeowook sendu. Jawaban tersebut seakan manampar Pak Hong akan kenyataan bahwa hari ini dia tidak ada di samping Ryeowook saat tuannya benar-benar membutuhkan keberadannya.
"Maafkan orang tua yang lalai ini Ryeowook-ah...," sesal Pak Hong menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan rasa malu dan bersalahnya dari orang yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri. Pada keadaan seperti ini, hilang sudah batasan antara majikan dan pelayan. "Pak Hong berjanji, akan selalu berada di dekatmu. Ini akan menjadi kelalaian terakhir Pak Hong."
"Ne, Pak Hong memang harus melakukannya karena tak ada lagi yang bisa kuharapkan dari mereka," lirih Ryeowook. Mata sayu itu melirik sendu lelaki tua di hadapannya "Semuanya sudah terjadi, penyesalan tak akan berpengaruh apapun," ucapnya seraya mengelus bahu Pak Hong yang mulai bergetar. Mengalihkan pandangannya pada cahaya senja yang semakin terlihat indah dari lantai dua kamarnya.
"Semoga cahaya senja yang indah ini akan membawa eomma ke tempat yang lebih baik di alam sana," harap Ryeowook membuat Pak Hong mengangkat kepalanya dan ikut memandang temaramnya senja yang masih memancarkan warna merah kekuningan. Dua namja beda usia itu masih menikmati keindahannya hingga sinar terangnya perlahan pergi dan memberikan kegelapan pada dunia.
"Kita masuk sekarang tuan muda," ucap Pak Hong menyadarkan Ryeowook dari lamunannya.
"Ne," jawab Ryeowook sembari mencoba memberikan senyumannya pada pelayan setianya. Beranjak dari posisi meringkuknya dan melangkah masuk ke dalam kamar dengan Pak Hong di belakangnya.
Pak Hong menghela nafas panjang lalu menatap Ryeowook sambil menggumam "apa yang harus Pak Hong lakukan Ryeowook-ah..." Bingung dan resah, itulah yang Pak Hong rasakan sekarang. Sekitar satu jam yang lalu dokter keluarga datang untuk memeriksa keadaan Ryeowook dengan raut serius karena kondisi Ryeowook yang seperti ini sudah terjadi empat kali dalam seminggu terakhir dan semakin parah setiap saatnya. Dokter mengatakan bahwa Ryeowook membutuhkan pengobatan khusus dan seorang psikiater yang akan membantu mengontrol emosinya. Pak Hong teringat saat pertama kali Ryeowook mendengar hasil pemeriksaanya.
"Aku sakit? Tapi aku tidak merasakan sakit apapun di tubuhku Euisa-nim, dan...psikiater? Euisa menganggapku gila?" ucap Ryeowook dengan nada meninggi dan menatap tajam sang euisa.
"Tidak Ryeowook-ah, Euisa tidak menganggapmu seperti itu. Hanya saja emosimu sedang tidak stabil, jadi euisa menyarankan untuk menemui seorang psikiater agar kau lebih tenang," terang Euisa.
"Euisa sudah memeriksa tubuhku, dan aku merasa baik-baik saja. Jadi kurasa tugas Euisa sudah selesai, Pak Hong akan mengantarmu ke depan. Kamsahamnida euisa-nim," ucap Ryeowook datar, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain. Kedua orang berumur dalam kamar itu menghela nafas prihatin. Pak Hong mengambil tas kerja Euisa dan mengangguk ke arahnya untuk keluar dari kamar tersebut. Sang Euisa menatap Ryeowook beberapa saat sebelum akhirnya mengikuti langkah Pak Hong. Sesampainya di depan pintu rumah, Pak Hong memberikan tas hitam itu kepada pemiliknya lalu membungkuk meminta maaf atas sikap tuan mudanya barusan. Euisa tersenyum maklum sembari menepuk bahu Pak Hong.
"Tidak apa Pak Hong, saya mengerti. Memang seperti itulah reaksi kebanyakan orang saat mereka diminta menemui seorang psikiater. Tapi aku serius tentang hal ini. Ryeowook butuh perlakuan khusus untuk mengendalikan emosinya," tegas Euisa.
"Saya mengerti Euisa, saya akan mencoba membujuk tuan muda," ucap Pak Hong.
"Baiklah, saya pamit dulu kalau begitu," Euisa berjalan menuju mobilnya dan Pak Hong membungkuk sekali lagi untuk mengantar kepergian Euisa.
"Tuan Sungmin..." lirih Pak Hong.
Nama itu menyadarkannya bahwa hanya namja muda itulah yang masih peduli dengan keluarga Ryeowook. Tapi mengingat Sungmin baru saja tertimpa musibah membuatnya mengurungkan niat untuk meminta bantuan sepupu Ryeowook tersebut.
^o^
^o^
^o^
"Aaaaa hap, hmmm nom nom nom," Kyuhyun mengatupkan mulutnya kemudian mengunyah jeruk suapan namja manis yang setengah tiduran di ranjang ruang rawatnya. Sementara dirinya ikut rebahan di sisi kanan ranjang yang dapat memuat 2 orang tersebut dengan menjadikan bahu kekasihnya sebagai alas kepala dan tak melewatkan pinggang lebar si manis untuk ia peluk.
"Huuh...," dengus Sungmin seraya memasukkan 3 potong jeruk sekaligus ke mulut si tampan.
"Uuuhmmp!" seru Kyuhyun seraya merengut dan menatap sebal Sungmin yang menahan tawa.
"Hhhmm?!" seru Sungmin balik sambil menatap Kyuhyun dengan mata bulatnya dan menaikkan alisnya. Ekpresi wajah itu membuat Kyuhyun memajukan wajahnya ingin mengecup bibir merahnya walaupun dengan mulut masih penuh jeruk.
"Telan dulu Kyu...," cegah Sungmin menjauhkan wajah Kyuhyun dengan tangan. Kyuhyun dengan segera menelan jeruk di mulutnya tanpa mengunyah terlebih dulu. Sungmin dibuat terbelalak melihatnya. Belum habis dengan keterkejutannya, kini bibirnya sudah menempel sempurna dengan bibir tebal kekasihnya. Mata bulatnya semakin membulat lebar tapi kemudian terpejam mulai menikmati pergerakan di bibirnya. Memaklumi sikap namjanya yang kembali manja dan agresif. Selama seminggu terakhir sejak dirinya sadar dari koma, Kyuhyun bersikap berbeda dari biasanya. Penuh perhatian, pengertian, dan balik memanjakan Sungmin. Apalagi dengan tatapan galak eomma Sungmin, Kyuhyun tak akan berani menyentuh Sungmin lebih dari memegang tangan.
Kyuhyun makin mengeratkan pelukannya, tangan kanannya yang bebas bergerak ke atas menyentu bahu Sungmin dan sedikit meremasnya. Sementara tangan kiri Sungmin membelai lembut tengkuk dan rambut ikal Kyuhyun. Mereka berdua nampak menikmati ciuman itu sampai sebuah bunyi telepon genggam di atas nakas menyadarkan Sungmin. Mencoba menghentikan aktivitas sedang berlangsung dengan mendorong bahu Kyuhyun menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya terjepit di antara tubuh keduanya, namun sayang tenaganya belum pulih sempurna. Kyuhyun justru semakin gencar memagut bibirnya.
"Kyuuhh...empph,,sudahh,,.uummh!," Kyuhyun menggigit bibirnya, "a-mmhh..daahh..euhh...tele-mmmpptt...poonhh...," ucap Sungmin disela ciuman Kyuhyun. Kali ini dengan mengerahkan seluruh tenaganya Sungmin bisa melepaskan tautan keduanya. Sungmin tersenyum sekilas ketika Kyuhyun telah melepaskan ciumannya.
"Ada telepon," ucap Sungmin lalu mengecup hidung Kyuhyun sekilas. Diraihnya telepon genggam di samping kirinya yang masih berdering nyaring. Melihat ID penelepon dan menekan tombol jawab.
"Yeoboseo Pak Hong, ada apa?" Sungmin melirik Kyuhyun yang kembali menyender di bahunya.
"..."
"Aniyo...," Sungmin terkekeh mendengar perkataan Pak Hong di line telepon.
"..."
"Aku sudah membaik Pak Hong, tinggal memulihkan tenaga dan besok aku sudah diijinkan pulang. Bagaimana dengan Pak Hong dan Ryeowook?" tanya Sungmin pelan, sebab sejak kejadian Kyuhyun menggertak Ryeowook seminggu yang lalu, Ryeowook tidak pernah menjenguknya lagi.
"..."
"Wae Pak Hong?"
"..."
"Apapun Pak Hong."
"..."
"Ani ani...biar aku saja yang kesitu, Pak Hong tidak bisa meninggalkan Ryeowook kan?"
"..."
"Ne, araseo."
"..."
"Annyeong...," tutup Sungmin di sambungan telepon. Menatap balik mata hitam Kyuhyun yang sedari tadi menatapnya.
"Terjadi sesuatu pada Ryeowook,,,aku harus kesana besok sore," ucap Sungmin menjawab tatapan bertanya namja di sampingnya.
"Ani," tolak Kyuhyun.
"Wae?" Sungmin heran dengan penolakan Kyuhyun.
"Bukan cuma kau saja yang kesana Minnie chagi...tapi kita berdua," jelas Kyuhyun, "sepertinya...kata-kataku minggu lalu cukup menyakitinya."
"Mungkinkah...?" tanya Sungmin pada entah siapa dan hanya dijawab dengan keheningan. Hanya suara detik jam yang terdengar di ruangan berbau obat itu karena kedua namja yang masih berpelukan di dalamnya terdiam dengan pemikirannya masing-masing. Namun, satu yang sama, yaitu rasa khawatir mereka terhadap namja mungil yang semakin sulit menunjukkan senyum manisnya.
^o^
^o^
^o^
Keesokan harinya Sungmin terlihat sudah rapi dengan hoodie putihnya. Duduk di tepi ranjang sambil mengayun-ayunkan kakinya. Sebuah tas besar yang berisi keperluannya selama dirawat tergeletak di samping ranjang. Sungmin menatap pintu ruang rawatnya berharap appanya segera datang menjemputnya pulang dan dirinya bisa bebas dari kejahilan namja di sebelahnya yang masih asik menusuk-nusuk badannya dengan kedua jari telunjuknya disertai kikikan evilnya. Sesekali mulutnya meniup-niup telinga dan wajahnya.
"Haaaahh...Appa kenapa lama sekali...badanku masih terasa lemas, dan orang ini kenapa malah menjahiliku..huh!," sungut Sungmin dalam hati.
"Kyu~ badanku masih lemas..." rengek Sungmin menepis tangan Kyuhyun.
"Aku tahu," ucap Kyuhyun kemudian menyenderkan tubuh Sungmin ke dadanya dan kembali menjahili tubuh si manis dengan telunjuknya.
"Aishh Kyu..!" seru Sungmin kesal.
"Kkkkk...ne ne ne...my Minnie Ming chagi...aku berhenti," kekeh Kyuhyun seraya melingkarkan tangannya ke tubuh Sungmin. Sedikit menggoyangkan tubuh mereka dengan pelan ke kanan dan ke kiri.
CKLEK. Pintu ruangan terbuka. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan mereka segera turun dari ranjang untuk menyambut Appa Sungmin. Namun bukan sosok Appanya yang muncul melainkan sebuah kursi roda dengan sesosok namja mungil duduk di atasnya. Di pangkuannya terdapat sebuah kotak berwarna merah muda.
"Hyungie..." panggil si namja mungil.
"Wookie, kau datang..." ucap Sungmin senang.
"Ne Hyung, mianhae baru bisa datang lagi hari ini," sesal Ryeowook.
""Tak apa Wookie...tap-"
"Kau tak menyapaku?" potong Kyuhyun kesal sambil melipat tangannya di dada. Apa-apaan dia, mengacuhkanku seperti itu.
Ryeowook hanya melirik Kyuhyun sekilas dan Sungmin mengelus tangan namjanya untuk menenangkan, "kau sendirian? Di mana Pak Hong?" tanyanya heran saat dilihatnya Ryeowook menjalankan sendiri kursi rodanya.
"Ke toilet," jawab Ryeowook singkat. Tatapannya beralih ke kotak merah muda di pangkuannya, mengelus tepiannya dan mengangkatnya. Menatap Sungmin sesaat kemudian beralih agak ragu kotak di tangannya dan akhirnya menyodorkannya ke arah Sungmin, "untuk Hyung."
"Untukku?" Sungmin langsung menerimanya dengan senang hati, "Hyung buka ya..." ucap Sungmin ceria dan membuka penutup kotaknya. Matanya berbinar senang saat dilihatnya syal rajut berwarna biru tua dengan tulisan "KYUMIN" yang ditulis dengan benang rajut warna merah muda.
"Woahh...bagus sekali Wookie..." seru Sungmin riang, "darimana kau mendapatkannya?"
"Aku membuatnya sendiri Hyung," ucap Ryeowook malu-malu.
"Jinjja..? Waahh...ini benar-benar bagu Wookie," kagum Sungmin seraya memakaikannya di leher namja tinggi di sampingnya.
"Kenapa memakaikannya padaku?!" sungut Kyuhyun yang dibalas Sungmin dengan isayarat mata untuk diam.
"Kau tampak semakin tampan jika memakainya Kyu..." puji Sungmin.
"Tentu Ming, dan kau sangat beruntung bisa mendapatkan cintaku," ucap Kyuhyun bangga.
"Ne..." jawab Sungmin acuh sembari lagi-lagi mengisyaratkan matanya ke arah Ryeowook. Kyuhyun melirik ke arah yang diminta Sungmin dan menemukan mata kecil bulat nya menatap ke arahnya dengan penuh harap
"Gomawo Wookie-ah...syal ini sangat nyaman di leherku. Kau membuatnya dengan baik," puji Kyuhyun yang menghasilkan senyum tipis di bibir yang dipuji, "tapi tetap saja! Kau mengacuhkanku tadi..!" sungut Kyuhyun.
Mendengar itu Ryeowook menundukkan kepalanya, "mianhae..." lirih Ryeowook.
"Aak!" pekik Kyuhyun saat kaitan syal di lehernya mengencang. Sungmin sengaja melakukannya agar Kyuhyun berhenti menekan Ryeowook dengan kata-katanya. Ryeowook mendongak menatap keduanya saat pekikan Kyuhyun terdengar.
"Eh, ehm..ehem," mencoba menetralkan suaranya Kyuhyun berucap, "mianhae Wookie, aku tak bermaksud kasar padamu. Tapi...kau ini kan calon sepupuku, mana ada orang yang mengacuhkan calon sepupunya sendiri, iya kan?" tanya Kyuhyun dengan menaik turunkan alisnya penuh arti.
Calon sepupu? "Kalian akan menikah?" tanya Ryeowook langsung ke intinya.
Kyuhyun mengangguk mantap, "Ne, satu bulan lagi Sungmin hyungmu akan menjadi seorang istri yang sangat penurut pada suaminya," jawabnya sambil menyolek dagu Sungmin dan dibalas dengan sikutan pelan di perutnya, "maumu saja yang begitu..."
"Benarkah itu tuan Sungmin?" tanya seseorang yang kini berdiri di ambang pintu. Ketiganya sontak menolehkan kepala ke arah asal suara.
"Pak Hong!" seru Sungmin dan Kyuhyun bersamaan lalu membungkukkan badannya
"Kabar gembira yang sangat mengejutkan tuan Sungmin," ucap Pak Hong seraya berjalan menuju ke sisi Ryeowook, "iya kan tuan muda?"
Ryeowook mengangguk sambil tersenyum bahagia memandang dua orang di depannya. Namun kemudian ia menggigit bibir bawahnya dan menundukkan kepalanya. Bola matanya bergerak gelisah.
"Apakah kalian akan menyelenggarakan pesta pernikahannya di Jepang? Atau di Seoul?" tanya Pak Hong yang menyadari gerak-gerik Ryeowook yang terlihat tak nyaman.
"Di Seoul. Kami ingin merayakannya bersama teman-teman lama semasa sekolah di sini," jawab Kyuhyun.
"Hmm,, begitu. Bagaimana dengan kerabat di Jepang?" kembali Pak Hong bertanya sambil melirik namja yang masih menatap lantai ruangan dengan was-was.
"Semua kerabat di Jepang akan hadir Pak," jawab Sungmin pelan. Tatapannya menyendu dengan gelagat tak nyaman yang tersuguh di depannya. Sebuah tangan merengkuh bahunya untuk menegaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Ryeowook-ah..." panggil Kyuhyun dan yang dipanggil sacara perlahan mengangkat kepalanya dengan tatapan lurus ke depan. Enggan menatap lawan bicaranya, "kau bisa datang kapanpun sesukamu. Sebelum atau sesudah hari pernikahan pun tak masalah buat kami, iya kan Ming?" ujar Kyuhyun meminta dukungan dari Sungmin.
"Ne, kapanpun itu, kau datang datang pun kami sudah merasa senang. Bukan begitu Pak Hong?" ucap Sungmin yang juga meminta dukungan dari pelayan setia itu.
"Tentu tuan Sungmin, dan saya akan selalu mendampingi tuan Ryeowook," tegas Pak Hong. Sesaat kemudian Pak Hong tersadar dengan perkataan Sungmin, "kapanpun? Maksud tuan bagaimana? Apakah kalian akan menetap di Seoul setelah pernikahan ini?"
Dua orang yang saling berangkulan itu tersenyum lebar lalu mengangguk bersama. Kyuhyun menjelaskan bahwa dirinya diminta sang Appa untuk menangani perusahaan keluarganya di Seoul. Sementara Sungmin yang akan segera menjadi istrinya tentu akan mengikuti kemanapun suaminya melangkah.
"Jinjja hyung?" tanya Ryeowook senang.
"Ne Wookie, dan itu berarti kita tidak perlu bersusah-susah lagi untuk bertemu," ujar Sungmin mengelus rambut cokelatnya dan mereka semua tersenyum termasuk si mungil di kursi roda yang tersenyum tipis. Pak Hong menghela nafas senang karena dirinya tidak lagi sendirian dalam menghadapi tuan mudanya. Setidaknya beban di pundaknya dapat ia bagi dengan sepupu tuan mudanya.
"Mengapa Lee samchon belum juga datang menjemputmu hyung?" tanya Ryeowook memecah keheningan.
"Kau tahu kalau hyung akan pulang hari ini Wokie?" heran Sungmin.
"Ani, sebenarnya aku berencana menjengukmu siang ini dan Pak Hong memberitahuku kalau Hyung akan pulang paginya. Jadi pagi-pagi sekali aku segera menyelesaikan syal itu dan meminta Pak Hong mengantarku kesini," jelas Ryeowook.
"Kau memang dongsaengku yang paaaliiiing...manis," gemas Sungmin sambil menangkup pipi Ryeowook.
"Eemmm,,,sepertinya Lee ahjushi memang benar-benar terlambat. Bagaimana kalau kita menunggu di lobi rumah sakit? Aku sudah bosan dengan bau ruangan ini," ucap Kyuhyun memutus kesenangan dua namja manis tersebut.
"Baiklah...kajja Wookie, Pak Hong, kita keluar," ajak Sungmin lalu berjalan ke belakang Ryeowook dan mendorong kursi rodanya keluar diikuti Pak Hong dan Kyuhyun yang membawa tas Sungmin.
Sepanjang koridor menuju tempat yang dituju, mereka mengobrol tentang kepindahan Sungmin dan Kyuhyun ke Seoul. Suara tawa sesekali terdengar hingga sebuah suara menginterupsi mereka.
"Kyuhyun-ah! Sungmin-ah!" panggil seorang namja berjas putih dari arah belakang, membuat pergerakan keempat orang itu terhenti dan menoleh serentak. Sekitar 5 meter di belakang, terlihat seseorang yang dikenal oleh dua orang diantaranya sedang berjalan cepat ke arah mereka.
"Yesung hyung!" seru Kyuhyun.
Di depan Yesung, seorang gadis kecil berlari sambil menampilkan senyum lima jarinya, "Sungmin oppa...! Kyuhyun oppa...!," panggilnya semangat. Gadis kecil itu langsung menubruk tubuh Sungmin sedikit keras dan memeluknya erat membuat Sungmin sedikit meringis sakit namun itu tak berlangsung lama.
"Aigoo, jangan menubruk Sungmin oppa seperti itu baby..." tegur Yesung ketika sampai di depan Sungmin dan anaknya. Mengelus lembut tangan anaknya mencoba melepaskan pelukan itu.
"Tak apa hyung," ujar Sungmin seraya melepaskan pelukan lalu berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil di depannya, "Nana suka sekali berlari eoh?
"Mmm!" Nana mengangguk semangat. Rambut kuncir duanya berayun ke depan dan ke belakang hingga menampar pipinya.
"Kau sudah diijinkan pulang Sungmin-ah?" tanya Yesung.
"Ne hyung, dan kita sedang menuju lobi untuk menunggu jemputan Appa," jawab Sungmin sembari berdiri.
Yesung mengangguk mengerti, namun mata sipitnya menangkap sosok asing di antara mereka. seorang lelaki tua di samping Kyuhyun dan seorang namja yang langsung dia kenali sebagai tersangka penabrakan dirinya dengan kursi roda tempo hari.
"Sungmin-ah, apakah dia sepupumu yang waktu itu aku tanyakan?" tunjuk Yesung pada Ryeowook yang membelakanginya.
"Ne hyung, waeyo?"
"Sepertinya sepupumu suka melakukan hal yang kurang sopan dengan kursi rodanya, lalu mengatai orang seenaknya, dan pergi begitu saja," ucap Yesung meluapkan kekesalannya.
Ryeowook merasa jengah dengan ocehan namja di belakangnya. Bahkan dia tak ingat kejadian apa yang pernah terjadi di antara mereka. Memutar kursi rodanya untuk menatap datar si namja pengeluh.
"Maaf tuan, bukannya aku bermaksud kasar atau apapun. Tapi aku tak pernah merasa jika kita pernah bertemu sebelumnya. Kalaupun iya, dan aku bersikap kasar padamu," Ryeowook memberi jeda sebentar untuk mengambil nafas, "Sebaiknya kau koreksi dulu dirimu sendiri. Karena aku tak pernah bersikap kasar pada siapapun jika orang itu tidak memulainya duluan."
Yesung menatap sengit Ryeowook yang sekarang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Malas melanjutkan perdebatan.
"Ah, ehem," deheman Pak Hong menarik perhatian Yesung dari Ryeowook. "Untuk hal itu saya benar-benar meminta maaf atas sikap tuan muda Ryeowook-
Ooh..jadi namanya Ryeowook, inner Yesung.
-yang kurang menyenangkan. Mungkin sebenarnya dia memang tidak bermaksud kasar kepada tuan..."
"Yesung imnida," ucap Yesung memperkenalkan dirinya dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Tuan Yesung," ucap Pak Hong sambil setengah membungkukkan badannya.
Melihat hal itu Yesung jadi merasa tidak enak sendiri kepada lelaki tua itu. "Aah..jangan seperti itu ahjushi. Aku hanya merasa sedikit kesal saja. Tapi sungguh, aku tak apa-apa," ucapnya. Yesung melirik Sungmin yang hanya bisa bungkam dengan wajah sendu lalu beralih ke Kyuhyun yang berkata "pabbo" dengan gerakan mulut tanpa suara. Helaan nafas keluar dari mulutnya.
"Bisakah kita melanjutkan perjalanan? Sepertinya kita mengganggu lalu lintas koridor ini karena mengobrol sambil berdiri," ujar Kyuhyun menginterupsi suasana aneh di antara mereka.
"Ah ne, aku antar kalian ke lobi," ucap Yesung lalu mulai berjalan sambil mengobrol dengan Kyuhyun. Sungmin kembali mendorong kursi roda Ryeowook dengan Nana di sampingnya dan Pak Hong berjalan paling belakang.
Tanpa mereka sadari, sejak perdebatan Yesung dengan Ryeowook, sepasang mata kecil menatap kagum dan penasaran pada Ryeowook. Bahkan ditatap seperti itu pun tidak sadar. Bola mata hitam itu menelusuri setiap lekuk wajah Ryeowook. Innernya sempat mengatakan bahwa orang di depannya adalah seorang yeoja karena parasnya begitu manis untuk seorang namja. Tapi suara sedikit beratnya mematahkan angannya. Sedari tadi dia menunggu ayahnya untuk memperkenalkan dirinya kepada namja manis itu. Namun ayahnya malah berseteru dengan si manis. Sepanjang perjalanan menuju lobi, Nana tak henti-hentinya melirik Ryeowook di sampingnya. Walaupun wajah itu terlihat datar tapi Nana tetap bisa menangkap kelembutan dari gerak-geriknya saat berbicara dengan Sungmin oppanya. Sesampainya di lobi Nana tidak dapat menahan rasa penasarannya. Berjalan mendekat ke samping Ryeowook dan meletakkan tangannya pada pegangan tangan dari kursi roda. Menatap ryeowook dengan mata berbinar dan senyum imutnya.
"Hai...hai..." sapa Nana.
Ryeowook menoleh ke samping kanannya saat mendengar sebuah panggilan yang entah ditujukan untuk siapa. Seorang gadis kecil menatapnya dengan penuh antusias, membuat Ryeowook mengerutkan dahinya. Menatap sekeliling dengan ragu-ragu apakah panggilan itu memang ditujukan untuk dirinya.
"Hai...hai..." ulang Nana saat tidak mendapat respon.
"Hai," jawab Ryeowook akhirnya. Menghasilkan senyuman lebar di bibir Nana hingga matanya ikut tersenyum dan senyumannya menular ke Ryeowook.
TBC
Di chapter ini, Kim Ryeonggu benar-benar berusaha agar ceritanya tidak menjadi gaje dan enak dibaca. Aku memang terbiasa menggunakan bahasa baku, namun tetap mencoba untuk membuatnya tidak menjadi kaku dan membosankan. Kim Ryeonggu berharap readers semua berkenan meninggalkan review. Apapun itu. Review singkat seperti "lanjut..." "next chapter..." dll juga udah bikin aku senyum2 gaje dan makin semangat melanjutkan chapternya. Kim Ryeonggu tidak akan tahu apakah ceritanya pas? Enak dibaca atau tidak? Banyak typokah? Alurnya terlalu lambat atau cepat? Jika readers tidak menuliskannya di kotak review...OK? ^_^
So, mind to review?
Big thanks to : YuliaCloudSomnia, Kim Hyunwook, Minji, Guest, Guest077, Wooshijklmin
This is really my first fanfict ^_^ Aku tidak pernah menulis cerita apapun sebelum ini. Benar-benar baru menulis untuk pertama kalinya. Kegiatan menulis sehari-hari yaa cuma nulis diary, hehee. Dan itu pake bahasa sehari-hari yang campur aduk.
Chapter 2 sudah aku lanjut ini...happy reading yaa...bye bye.
