Haii author baru update chapter kedua nih, Maaf yah kalo masih kurang bagus,semoga tidak mengecewakan.
Don't Like Don't Read
Menerima kritikan yang penting membangun dan tidak mejatuhkan yah
Terima kasih sebelumnya mau membaca ff ini
Enjoy reading yah readers ^^"
CRUSH OF MISS ARROGANT
Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Others member of EXO
Others member of SM Entertainment
Chapter 2
"Ricard!"
Yang merasa terpanggil langsung menolehkan kepalanya ke arah suara berasal.
"Cepatlah ganti pakaianmu, sebentar lagi akan dilakukan pemotretan." Perintah namja itu.
"Ne hyung." Balas Ricard kepada managernya.
Tanpa basa-basi dan hanya melirik sekilas ke arah Baekhyun dan membungkukkan badan sebentar, Ricard Park langsung pergi untuk mengganti pakaiannya yang akan digunakan untuk pemotretan.
Baekhyun membalas salam namja itu dengan sedikit enggan tapi dia tetap melakukannya.
.
.
Seluruh perlengkapan untuk pemotretan sudah terpasang, mulai dari kamera, flash eksternal, lampu studio, softbox, payung reflector, dan property lainnya telah tertata di tempatnya masing-masing.
Setelah persiapan telah selesai, staff dari divisi model's menemui Ricard di ruang ganti dan memintanya untuk menuju studio pemotretan.
Dengan gaya sporty trand 2015, ia melangkahkan kakinya dengan pasti.
Lagi-lagi yeoja yang melihatnya hanya bisa meneguk air liurnya kasar, tidak sedikit dari mereka yang tidak berkedip dalam seperkian detik karena pesonanya. Terlalu berlebihan sepertinya namun memang itu yang benar dan sedang terjadi.
Menggunakan jaket parasut yang di resleting hingga menutupi ceruk leher sebatas dagu lancipnya dengan bawahan training sebatas lutut. Sehingga menunjukkan otot betisnya yang kuat. Kakinya dibalut sepatu sport berwarna putih bersih dengan kaos kaki sebatas mata kaki yang terlihat kontras dengan sepatunya. Dan jangan lupakan surai hitamnya yang ditata sedikit acak namun tetap meninggalkan kesan maskulin pada dirinya.
Mengenai parasnya sudah tak bisa diragukan lagi. Terlalu tampan dan berkarisma. Mungkin putri kahyangan saja bisa jatuh dan bertekuk lutut seketika itu juga bila memandang parasnya. Bagaikan menikmati dinginnya air kelapa di tengah padang pasir.
Tapi berbeda halnya dengan Baekhyun yang dari tadi memerhatikan gerak-gerik namja itu. Tersimpul seulas senyum di bibir merah cherry nya, bertahan 2 detik lalu menjadi lenguhan malas darinya.
.
"One..two..three… Ok."
Cklik!
"Ganti gaya, oke…."
Cklik!
"Senyum…tahan… oke.."
Ckliiikk!
"Sekarang kesan cool dan elegan!" perintah sang photographer.
Dengan segera Ricard Park mengubah mimik mukanya, dan memang benar-benar cool dan elegan dalam waktu yang bersamaan.
Lalu diselingi dengan Ricard mengganti pakaian sport yang akan diiklankan beberapa kali untuk kebutuhan pemotretan produk pakaian sport yang sama.
Dia terus mengikuti arahan dari sang photographer dan seterusnya hingga pemotretan selesai.
"Gamsahamnida Ricard ssi, kau bekerja dengan sangat baik." Ucap sang photographer dan mengulurkan tangannya ke arah Ricard.
Ricard tersenyum dan membalas uluran tangan photographer dan berucap "Cheonmaneyo, senang juga bisa bekerja sama dengan anda, Yoochun ssi."
.
Keadaan di ruangan pemotretan masih ramai. Seluruh staff merapikan property-property yang digunakan tadi. Berlalu lalang ke sana kemari dengan maksud supaya pekerjaan cepat terselesaikan.
Namun tanpa disengaja salah satu staff tersandung stand lampu studio dengan ukuran yang lumayan besar. Staff itu tersungkur tak lama setelah dengan tidak sengaja tersandung stand lampu itu.
Lampu besar itu mulai miring dan…
PRANGGGG!
Lampu itu hampir jatuh menimpa seorang yeoja yang berdiri tak jauh dari lampu itu berada. Dan akan benar-benar menimpanya bila Ricard Park yang menyadari lampu itu akan jatuh tidak dengan segera mendorong dan mendekap Baekhyun dari belakang. Yah yeoja itu adalah Baekhyun, sang direktur.
Terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa, itu yang dialami Baekhyun saat ini. Matanya melirik lampu studio yang telah menjadi potongan-potongan yang berbeda ukuran dengan mata membulat sempurna. Lampu itu pecah tepat disebelah kanan mareka.
Tanpa sadar pergerakan tangan kananya meremas lengan kanan namja yang telah menolongnya tadi. Berusaha berdiri dengan lengan kanan namja itu sebagai penopangnya.
Baekhyun menoleh ke belakang, dan mendapati paras tampan itu meringis menahan sakit. Menyadari pemilik lengan itu, Baekhyun segera melepas remasannya dan membuat jarak agak jauh dari jarak mereka tadi.
Setelah jarak di antara mereka telah normal, Baekhyun merasakan basah dan bau anyir di telapak tangan kanannya. Ia membalikkan telapak tangannya dan melihat darah yang membekas di sana.
Tes..tes…tes…
Darah segar menetes dari lengan kanan namja itu.
"Ricard lenganmu berdarah, kau terluka!" seru managernya.
"Mwo?"
"Itu lihat, darah segar menetes dari lenganmu."
Seketika ruangan pemotretan yang tadi sempat lenggang karena tragedi lampu studio yang jatuh kembali hiruk pikuk.
"Cepat panggilkan ambulance!" suruh manager Ricard kepada staff yang ada.
"Baik..baik…"
"Kamdognim apa ada yang terluka?" tanya staff lainnya.
"Aku tidak apa-apa." Baekhyun menjawab dengan tatapan yang tertuju pada lengan kanan Ricard.
"Kamdognim? Gwencana?" tanya staff yang lain.
"Ne.. Gwencana."
"Ricard ssi, saya akan menangani pertolongan pertama pada lukamu." Usul seorang staff.
Dia hanya terdiam dan tidak menjawab, matanya menatap manik mata Baekhyun yang dari tadi tak lepas dari lengan kanannya yang terluka.
"Ricard ssi?"
"Ah, yah." Jawab Ricard, tersadar dari penglihatannya.
"Saya akan menangani luka anda terlebih dahulu sebelum ambulance datang, sepertinya luka itu sedikit dalam." Ujar staff itu lagi.
"Shiro… aku mau dia yang membersihkan lukaku ini." Ucap Ricard dengan nada tegas dan menunjuk Baekhyun tepat di wajahnya dengan telunjuk tangan kirinya.
Semua staff tersentak dan memejamkan mata mereka berharap sang kamdognim tidak marah atas ucapan Ricard tadi.
Menyadari apa yang dikatakan kepadanya, Baekhyun berpindah penglihatan ke jari telunjuk yang bersarang dengan jarak 10 cm dari wajahnya itu.
"Naega?" menunjuk diri sendiri menggunakan jari telunjuknya dan memasang muka terkejut.
"Ne…waeyo? Aku begini karena menyelamatkamu."
"Aku tidak pernah memintamu untuk menyelamatkanku dan melakukan hal konyol."
"Oh, jadi jika kau melihat ada orang yang lain akan terkena musibah kau akan diam saja, begitu?"
"Dan caraku untuk menyelamatkanmu tadi adalah hal konyol, kamdognim yang terhormat?"
Mendenagar petanyaan yang terdengar menyudutkan itu membuat Baekhyun serasa membeku, tak dapat membalasnya.
"Terserah pada mu saja!" ucap Baekhyun akhirnya.
"Baiklah, kalau begitu berikan pertolongan pertama pada lukaku ini."
Seluruh staff yang ada hanya dapat tertegun dan terdiam tak bisa berbuat apa-apa. Ini seperti pertarungan dingin tampaknya, pikir mereka.
Mereka saling berbisik kecil membicarakan sang direktur dan ambassador itu. Mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya untuk kerja sama ini. Apakah akan berakhir atau tetap menggunakan Ricard Park sebagai ambassador mereka. Melihat kondisi yang terjadi saat ini, dengan mudah sang direktur akan memilih mengakhiri kontrak pada Ricard. Namun di sisi lain, hal itu akan merugikan perusahaan dalam nominal yang tak sedikit, dan akan membuang biaya dan waktu lagi tentunya bila harus mencari pengganti ambassador itu. Apalagi ini merupakan persiapan final dari project tersebut.
Dengan menarik nafasnya sedikit kasar dan menahan amarahnya yang sangat terlihat dari raut mukanya, Baekhyun memandang dalam manik Ricard. "Mari Ricard ssi, saya akan memberikan pertolongan pertama pada lengan anda." Ucap Baekhyun dengan gigi yang sedikit bergemelatuk menahan marah.
Baekhyun membalikkan badannya menuju pintu keluar ruang pemotretan dan melangkahkan kakinya, yang diikuti oleh Ricard dengan smirk puasnya
-RUANGAN DIREKTUR-
"Sekarang lepaskan jaket parasut itu dari tubuhmu!"
"Aku tidak bisa melakukannya sendiri, lenganku sangat nyeri bila aku bergerak."
"Apakah harus aku juga yang melepaskan jaketmu itu?"
"Apa kau melihat orang lain di sini selain kita berdua, kamdognim?"
Tidak ingin berdebat lebih lama akhirnya Baekhyun melangkah dan mendekati Ricard.
Kini jarak mereka sangat dekat, mereka saling berhadapan. Dapat Baekhyun rasakan deru nafas Ricard yang berada di depannya.
Menggamit tangan kanan Ricard dan mencoba melepaskan perlahan jaket itu dari tangannya.
"Arkh." Suara rintihan melengos begitu saja dari mulut namja jangkung itu.
"Tahanlah sakitnya sebentar Park Chanyeol."
Tiba-tiba telapak tangan kiri namja itu meraih pundak kanan Baekhyun dan mendorongnya sedikit.
Baekhyun yang menyadari itu tersentak dan langsung menatap wajah si namja.
"Tak ku sangka kau mengetahui dan mengingat nama koreaku semenjak kejadian itu."
Yah benar sekali, Ricard Park adalah namja yang menolong Baekhyun 2 Bulan lalu. Nama koreanya adalah Park Chanyeol, ia menggunakan nama Ricard Park hanya untuk nama atletnya di dunia rugby.
Mata Baekhyun langsung terkesiap dan berlari tak tentu arah dan diakhiri dengan menunduk.
"Hei..hei…kau tak perlu salah tingkah." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut namja itu.
Kini muka Baekhyun terlihat sangat merah seperti udang rebus karena tak kuasa menahan malu.
"Yaaa… tegaplah dan tatap aku Baekhyun ssi."
Baekhyun tak bergeming, karena takut ketahuan menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah padam.
Karena tidak mendapat respon, akhirnya Chanyeol memutuskan untuk menangkup dagu kecil Baekhyun dengan ibu jari dan telunjuknya sebelah kiri. Si empunya dagu hanya mengikuti arahan ibu jari dan telunjuk itu.
Sekarang mereka saling memandang masih dalam jarak yang sama.
Chanyeol Pov
"Dia memang sangat cantik dan memesona." Pekik Chanyeol dalam hati.
Tapi aku tidak boleh terlihat mengaguminya, aku harus terlihat sebiasa mungkin. Aku bukanlah tipikal yang akan langsung memperlihatkan ketertarikanku.
"Maafkan aku Chanyeol ssi."
"Mwoya?"
"Maafkan aku atas sikapku padamu. Sebenarnya setelah kejadian 2 bulan lalu, itu yang ingin aku katakana padamu di ruang inap."
Mendengar penjelasannya walaupun masih dengan nada angkuhnya, aku menerima itikad baiknya padaku.
"Baiklah lagi pula itu sudah berlalu." Kataku padanya.
Dan setelah mendengar perkataanku, dia menggamit telapak tanganku dan mendudukkanku di sofa ruangannya. Mengambil tempat tepat disebelahku dan langsung beralih ke lengan kananku dan mencoba melepaskan jaketku. Aku berusaha menahan sakit walaupun tak bisa aku hindari rintihan dari mulutku. Dia berusaha melepaskan jaketku sepelan mungkin. Hingga akhirnya jaket itu terlepas sempurna dari tubuhku.
"Lukamu sedikit dalam Chan….Ricard ssi."
"Panggil saja aku dengan sebutan Chanyeol, aku lebih suka dengan nama asli koreaku."
Dia hanya menganggukkan kepalanya, dan melanjutkan untuk membesihkan lukaku. Ku tahan sakitku saat dia membersihkan lukaku dengan alcohol. Terpejam kasar karena merasakan pedihnya alcohol menyentuh luka sobekanku karena tergores lampu studio tadi.
Kulirik sekilas, dia sangat terfokus mengobati pada lukaku. Namun kami hanya diam, tak keluar kata-kata sedikitpun dari mulutnya maupun kantukku mulai bersarang di mataku.
Satu kedipan.. seakan aku mulai terlelap. Lalu aku mencoba membelalakkan mataku.
Dua kedipan.. kini aku benar-benar ngantuk, tapi aku masih berusaha untuk menahannya.
Tiga kedipan…..dan…aku jatuh terlelap.
Baekhyun Pov
DUG…
Aku merasakan sesuatu menimpa pundak sebelah kiriku.
Menoleh sekilas, dan mendapati Chanyeol terlelap dengan deru nafas teratur.
Aku menatap wajahnya lekat, garis-garis wajahnya yang tegas. Matanya telihat lelah dengan tertutup sempurna, hidungnya berdiri tegak membentuk sudut lancip, bibirnnya yang agak tebal sedikit bergerak seperti menggumam.
Melihat surai hitamnya terjatuh bebas di depan dahinya membuatku ingin menyingkapnya ke samping. Agar lebih jelas dapat kupandangi wajahnya.
Namun tiba-tiba aku tersadar. "Apa yang telah aku fikirkan?"
Aku bukan wanita yang mudah menyukai apa yang banyak orang lain anggap istimewa, aku berbeda. Segera aku bersiap berdiri, namun pergerakanku tiba-tiba membuat kepalanya tejatuh tepat di kedua pahaku.
Aku tersentak dan tak berani bergerak. Gerakanku bisa saja membuatnya tersadar dan mengira aku telah melakukannya dengan sengaja. Harga diriku lebih penting, apalagi di mata namja sepertinya.
Tok..tok..tok..
Tiba-tiba bunyi suara pintu ruanganku diketuk. Aku tidak ingin siapapun salah sangka dan mengira hal yang tidak-tidak padaku.
"Kamdognim?"
Ternyata itu Yoona, sekretarisku. Langsung aku persilahkan dia masuk. Dan seperti yang aku duga, siapapun pasti terkejut melihat posisiku saat ini bersama Chanyeol.
"Yoona ssi, ini tidak seperti yang kau lihat, cepat kau bantu aku memindahkan kepalanya dari pahaku." Perintahku dengan suara sekecil mungkin.
"Ne..kamdognim."
Sekarang Chanyeol sudah terlelap di atas sofa yang ada di kantorku dengan posisi kepala yang kini berada di pinggiran sofa.
"Ada apa Yoona ssi?"
"Saya ingin memberitahu bahwa ambulance yang ditelfon tadi tidak bisa sampai tepat waktu."
"Waeyo?"
"Petugas ambulance tadi menelfon bahwa ambulance yang mereka bawa tiba-tiba mogok di tengah perjalanan, kamdognim."
"Lalu, bagaimana ini Yoona ssi?"
"Pihak rumah sakit sudah mengirimkan ambulance lain untuk menuju perusahaan, kamdognim."
"Okey, baiklah."
"Bagaimana luka Ricard Park ssi, kamdognim?"
"Aku hanya membersihkannya dengan alcohol, dan membalutnya dengan perban. Namun nampaknya luka goresannya sedikit dalam karena kaca lampu studio tadi."
"Baiklah kamdognim, nanti saya akan segera memberitahu anda jika ambulance pengganti telah tiba."
Aku hanya membalas dengan anggukan kepalaku. Dan disusul dengan keluarnya Yoona dari kantorku.
Pandanganku langsung menjalar ke sosok pria yang kini tertidur pulas di sofa kantorku dengan lelapnya. Langkah berjingkat aku menuju sosoknya berada. Menatap nanar pada perban yang kubalutkan pada lengan kanannya, berharap lukanya tidak parah dan meninggalkan bekas.
Namun di tengah-tengah aku memperhatikannya, kepalanya menimbulkan pergerakan ke kanan dan ke kiri sedikit kasar. Dan terlihat pula peluh bermunculan di dahinya. Aku rasa dia mengalami mimpi buruk.
Aku melangkah mendekat ke arahnya. Menilik semakin intens padanya. Wajahku aku dekatkan pada wajahnya, hanya sekedar memeriksa bahwa dia baik-baik saja.
Namun… setelah kini jarak di antara wajahku dan wajahnya semakin dekat tiba-tiba matanya membuka lebar. Otomatis aku tersentak dan terdorong ke belakang karena keterkejutanku. Aku limbung karena tersandung kakiku sendiri. Dengan sigap dia menarik tangan kananku dan melingkarkan tangannya yang satunya lagi pada pinggangku.
Alhasil, posisiku dan posisinya kini sangat dekat tanpa ada jarak yang memisahkan. Mataku tak dapat aku alihkan dari tatapannya. Jantungku tiba-tiba bergejolak layaknya bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Aku berharap dia tidak mendengar detak jantungku yang semakin tidak beraturan.
"Berhati-hatilah bila kau ingin melihat wajah seseorang yang sedang tertidur, karena bisa saja ini terjadi kembali."
Suaranya memecahkan keheningan yang tercipta tapi ucapannya itu seolah-olah menuduhku.
Aku berniat melepaskan tautannya padaku, namun ia menahan pergerakanku. Aku menatapnya dengan kedua alisku yang berkerut.
"Wae?"
"Wae?" aku megulangi pertanyaannya dengan kebingunganku.
"Mwoya?"
Aku semakin tidak mengerti dengan perkataannya. Aku kembali berusaha melepaskannya dariku, tapi sayang kekuatannya membuatku tak bisa bergerak barang sedikit pun.
Tok..tok..tok..
"Kamdognim, ambulance sudah tiba. Aku dan petugas ambulance akan masuk."
"Lepaskan aku sekarang Ricard ssi!"
"Kamdognim?"
Dia hanya memandangku dan tidak ada niatan melepaskan tautannya padaku.
"Kamdognim?"
Suara Yoona menyerukanku beberapa kali, namun aku tidak mungkin membiarkan Yoona dan petugas ambulance itu melihat posisiku saat ini dengannya.
"Aku akan segera masuk kamdognim!"
Bersamaan dengan pintu terbuka, dia langsung mengubah tautannya padaku. Tangan kirinya dia rangkulkan pada bahuku dan dan menarik tangan kananku melingkari pinggangnya.
Yoona meminta tolong pada petugas ambulance untuk membawa namja ini menuju ambulance. Dan sialnya….
"Tidak perlu, kamdognim ini sendiri yang akan menuntunku ke ambulance dan menemaniku selama di ambulance."
Aku membelalakkan mataku mendengar ucapannya, dan tidak mungkin lagi bagiku untuk mengatakan tidak.
.
RUMAH SAKIT
Sesampainya di Rumah Sakit Chanyeol langsung dibawa ke UGD, ia menerima sekitar 12 jahitan pada lukanya. Sedangkan Baekhyun menunggunya dengan wajah yang bisa dibilang sedikit cemas.
Tak berapa lama managernya datang dan menghampiri Baekhyun. Menanyakan keadaan Chanyeol kepadanya. Setelah itu duduk dan berharap semoga tak ada luka yang terlalu serius pada atlet yang diurusinya itu.
.
Ruangan Dokter
"Beruntunglah Tuan Park luka anda segera dibersihkan bila tidak,mungkin luka anda akan mengalami infeksi."
"Dia yang telah melakukannya dok."
"Penanganan pertama yang baik Nona Byun."
Baekhyun hanya tersenyum kepada dokter itu.
"Lalu, bagaimana dengan lukanya dok?" kali ini sang manger yang bertanya pada dokter yang menangani Chanyeol tadi.
"Untuk sebulan kedepan Tuan Park jangan melakukan pekerjaan atau kegiatan yang berat. Karena itu bisa saja membuka jahitannya kembali."
"Mwo?"
"Kau kenapa Ricard?"
"Tapi hyung, 2 minggu lagi aku ada event pertandingan persahabatan dengan Club Rugby di Korea. Aku sudah berjanji pada mereka untuk menghadirinya."
"Haaah~~~~" hanya lenguhan pasrah dari sang manager.
"Saya sarankan anda jangan melakukannya Tuan Park karena itu bisa membuka jahitan anda kembali."
Chanyeol hanya mengangguk dengan ragu. Dan Baekhyun dapat melihat sedikit kekecewaan pada raut wajahnya.
"Baiklah terima kasih banyak dokter, kami pamit." Ucap sang manager.
.
"Baekhyun ssi, mari ikut dengan kami. Aku akan mengantarkan anda kembali ke perusahaan anda." Tawar sang manager.
"Terima kasih untuk tawaranmu Yunho ssi, tapi aku akan meminta orang di kantorku saja untuk menjemputku."
"Hyung cepat ambil mobilmu, aku menunggumu di sini."
"Yaaa…ya…ya…."
Baekhyun meraba kantongnya untuk mencari handphone miliknya, namun ia tak menemukannya.
"Kenapa, kau tidak menemukan handphone mu?"
"Aku rasa aku meninggalkannya di kantor, bo..bolehkah aku meminjam handphonemu Ricard ssi?"
"Noo..no..no..panggil aku Chanyeol!"
Belum sempat Baekhyun membalas Chanyeol, mobil milik Yunho sudah bertengger di hadapan mereka. Chanyeol langsung membuka pintu belakang dan menarik lengan Baekhyun menginterupsinya untuk masuk ke dalamnya. Baekhyun membelalakkan mata dan hanya pasrah atas perlakuan Chanyeol.
"Baekhyun ssi ikut dengan kita hyung."
"Geure,,,ara."
Baekhyun dan Chanyeol sama-sama duduk di kursi belakang, keduanya hanya diam tanpa kata. Baekhyun memandang keluar jendela, sedangkan Chanyeol mendengarkan lagu dari ipodnya dan terkadang mencuri pandang ke arah Baekhyun. Yunho yang menyadari pergerakan Chanyeol hanya tersenyum tanpa arti di balik kemudinya. Dan melajukan mobilnya menuju Jeguk Byun Corp.
.
1 Minggu Kemudian…
"Chanyeol, bangunlah dan segera mandi." Sambil menepuk-nepuk pundak namja yang masih bergelung dengan selimut putih miliknya.
"Waeyo hyung, ini kan masih pagi." Ucap namja itu dengan malas-malasan.
"Hari ini adalah acara talk show mu sebagai ambassador pakaian sport itu. Kalau kau tidak segera bergegas kita akan terlambat!"
Dengan segera Chanyeol menyibakkan selimutnya dan bangun dari pulau kapuknya lalu pergi menuju kamar mandi.
Yunho yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum, seakan mengerti apa yang terjadi pada namja itu.
.
Jeguk Byun Corp.
Pukul menunjukkan tepat jam 19.45 am KST
"TALK SHOW WITH PARK RICARD, THE NEW AMBASSADOR OF JEGUK BYUN CORP."
Spanduk besar menghiasi background panggung acara talk show tersebut. Ruangan sudah rapi dan teratur. Property dan perlengkapan lain sudah di pasang. Kursi penonton pun sudah hampir terisi penuh. Karena 15 menit lagi acara live ini akan segera dimulai.
Chanyeol pun telah siap dengan kemeja hitam dan jas serta bawahan yang dibiarkan jatuh di depan dahinya dengan sangat rapi. Tampan dan menggoda. Tak sedikit penonton wanita yang meneriakkan namanya ketika ia memasuki ruangan talk show itu. Dibalas dengan tawa kecilnya yang memperlihatkan barisan gigi putihnya yang berjejer rapi.
Tepat pukul 10.00 am KST acara talk show ini dimulai.
Awal dimulainya acara pandangannya mengedar seperti mencari. Namun ia tak melihat sosok tersebut.
Lalu ia memfokuskan pada acara talk show tersebut dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut host wanita yang berada di sofa sebelahnya.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang ia cari tadi dan menatapnya sambil tetap menjawab pertanyaan dari host tersebut.
Baekhyun yang memang melihat tepat pada sosok namja yang kini berada di panggung hanya menganggukkan kepalanya seperti memberi salam.
Setelah hampir 45 menit acara talk show ini berlangsung sekarang adalah sesi terakhir dari acara tersebut. Yaitu akan menghadirkan sang direktur untuk naik ke atas panggung.
Tepuk tangan meriah dari penonton ketika Baekhyun menuju panggung. Dan ia duduk tepat di sebelah Chanyeol. Host wanita itu mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Baekhyun dan dijawab dengan santai tapi tetap terkesan tegas dan menawan. Chanyeol yang duduk disebelahnya juga tersenyum melihatnya.
"Dan sekarang adalah puncak dari acara ini, untuk peresmian brand merk dan ambassador terbaru untuk pakaian sport tahun ini."
Baekhyun dan Chanyeol memotong tali peresmian dengan senyum yang menghiasi bibir keduanya. Dan terakhir adalah mereka bersalaman. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dengan erat namun lembut. Baekhyun yang menerimanya tiba-tiba saja seperti lemah dan organ bagian dalamnya yang disebut jantung mulai bekerja tidak karuan kembali. "Apakah aku menyukai namja ini?" pikiran itu mulai terlintas di benaknya tapi segera ia hilangkan walaupun jantungnya masih berdetak tidak wajar.
"I'm starting to get you Baek." Batinnya berucap..
TBC
Balasan Review :
Parkbaekyoda92 : mkasih yah atas reviewnya, nah untuk itu author gk bisa bongkar sekarang entar gak surprise lagi dong yah storynya..hehe
NopwillineKaisoo : mkasih yah atas reviewnya, nah di caption sebelumnya author sudah bilang kan author emang ngambil beberapa part dari drama itu, tapi untuk keseluruhan isi dan alurnya merupakan pemikiran author sendiri kok. So, author harap reader mau baca sampai story ini kelar yah. Hihi
Ditunggu yah reviewnya, biar author juga bisa semangat buat ngelanjutin ff ini kalo reviewnya
Maaf kalo banyak typo, namanya author manusia biasa kan.
Semoga kalian suka~~~~ :*
