Akankah?
(c) ATLUS
Minato x Fuuka/Yukari

" Akankah bayangan semu itu menjadi kenyaaan?

Jika ya, kapankah? Ah, serahkan saja semuanya kepada sang waktu. Ia yang akan menjawabnya.. "

Chapter 2
Karena Dirinya?

Suasana diluar lagi-lagi tak karuan. Salju turun
dengan sangat lebat, jatuh dengan cepat lalu menumpuk menjadi
gumpalan yang lebih besar lagi. Lagi-lagi warna putih
dimana-mana. Setelah sekitar beberapa hari warna hijau pepohonan
terlihat. Kini mereka tertutup lagi. Cuaca dan suhunya juga kini semakin
Semerawut. Badai-berhenti, badai-berhenti.
Dingin-hangat, dingin-hangat. Ya, sama seperti suasana hatiku juga. Tak beraturan.

.

.

" ..aku tak dapat belajar.. " aku menarik nafas panjang. Otakku sama sekali tak mau bekerja.. Sudahlah, besok kukerjakan sebisaku saja.. Lagipula, selama ini nilai geografi ku juga tak pernah dibawah nilai rata-rata.. Biarkan sajalah. Aku tak terlalu peduli dengan 1 nilai yang turun.. Sekali-sekali bolos belajar kan gak kepada diriku semdiri. Bagaimana bisa belajar? Suasana dingin seperti ini, berisik, pelajaran yang lumayan rumit, dan.. Teringat, tentang Minato. Pasti semuanya buyar karena pikiranku yang selalu kabur ke Minato. Betapa bodohnya diriku. Ah, bukan bodoh, tapi idiot.

" Kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh Minato ya? " Aku kini mulai memikirkannya yang sepertinya sedang bersama pasangan tersayangnya itu. Membayangkan apa yang terjadi disana.. Mungkinkah seperti.. Berdansa bersama? Makan malam romantis.. Atau bahkan.. Berciuman? .. Entahlah, siapa yang tahu? Kejadian apapun bisa terjadi di dalam acara kencan kan?

Terkadang.. Err, bukan terkadang sih, tapi SELALU. Saat diriku sendiri dan melamun.. Bayangan dirinya, sesosok Minato Arisato tiba-tiba muncul. Ia mengulurkan tangannya kepadaku, mengajakku untuk menari diantara bintang-bintang dan dibawah cahaya rembulan, mengatakan hal-hal manis, berkata bahwa dirinya itu hanya milikku seorang.. Namun, semuanya seketika musnah-saat aku menyadari bahwa aku memang masih disini, dan dalam keadaan yang sama-tidak memiliki dirinya sama sekali. " Semuanya hanyalah mimpi belaka. " Apalah..

.

.

" Fuuka Yamagishi! Sampai kapan kau mau tertidur pulas? Bisa-bisanya ya, tertidur di tengah ulangan matematika? " suara itu terdengar pelan, sangat pelan.. Namun, suaranya terdengar membentak. Siapa ya? Ah, sudahlah biarkan saja.

"Fuuka.. Ayo bangun.. Sst, heh.. Fuuka.. Kau tertidur betulan ya? " suara lain kembali terdengar menyebutkan nama Fuuka kearahku. Namaku kan bukan Fuu.. Heh! Mereka memanggilku! A-aku.. Tertidur ya? G-gawat.. Matematika..

" Yamagishi! " kini suara itu terdengar lebih keras dan diikuti oleh suara.. Sesuatu, mungkin penggaris yang di'keprek' ke mejaku.

Aku sadar kalau.. Aku harus bangun.. SEKARANG JUGA!

" Ah! A-ano.. Gomennasai.. Sensei.. Aku. . "

" Yamagishi, cepat selesaikan ulanganmu, lalu cepat temui Toriumi-sensei di ruang kantor, mengerti? " orang yang kusebut 'sensei' itu mrngatakannya sambil menatap sinis diriku. Namun tiba-tiba matanya seperti kaget dan matanya.. Mengarah kearah kertas.. Ulangan milikku..

" Yamagishi, bisa sensei lihat kertas ulangan milikmu? " lanjutnya lagi sambil berjalan mendekatiku.

Aku melirik kertas ulanganku. Dan aku hanya bisa mengeluarkan keringat dingin, kertas ulnganku baru terisi 2 nomor.. Baiklah, Fuuka.. Katakan selamat tinggal kepada dirimu seorang.. Dan, pasrah. Aku memberikan kertasnya, berdiri, dan menundukkan kepalaku.

Sensei itu hanya dapat menggelengkan kepalanya. " Ya sudahlah, kau cepat temui Toriumi-sensei saja, saya tak kuat lagi mengjadapi kamu. "

Dalam kata laiin, bisa dibilang.. Ia mengusirku. Mengusirku secara halus ( Atau mungkin kasar? Err, entahlah. )

" Ha-i.. " ucapku singkat, membungkukan badan, lalu pergi keluar kelas sambil memperhatikan wajah teman-temanku. Yukari-chan, dia terlihat agak sedikit syok, Junpei terlihat sangat syok dan hanya dapat memberikan tatapan curiga kepadaku. Sepertinya dia mengerti apa yang terjdi denganku. Ryoji, dia tersenyum kepadaku. Sepertinya ia mau menyemangatiku. Dan yang terakhir.. Minato.. Dia datar-hanya melanjutkan ulangan matematikanya saja sambil mendengarkan lagu di earphonenya.

.

.

" Jadi.. Hari ini kau tidak fokus dan akhirnya tertidur di tengah jam pelajaran matematika karena ngantuk? " suara Toriumi-sensei terdengar jelas di kantor guru. Bahkan bergema. Bisakah suaranya dikecilkan sedikit? Ini sangat memalukan.

Aku mengangguk.

Toriumi-sensei tertawa sebentar, namun setelah itu ia menatap dalam mataku. Aku.. Agak kaget. " Sebenarnya, saya tidak yakin kamu ini ngantuk karena terlalu fokus belajar matematika kemarin malam.. Atau. . Memikirkan seseorang yang spesial di hatimu? Fuuka Yamagishi? "Toriumi-sensei menyindirku. Menyindir pada sasaran tepat, sangat tepat, akurat, bahkan terpercaya ( SKRIP NGAWOOOR! GANTE GANTE! ) Ia tertawa. " Maaf, aku.. aku hanya mengira-ngira saja, habisnya, Ini bukanlah dirimu Fuuka. Oh ayolah, maksudku, kamu? Seorang siswi teladan Gekoukkan? Tertidur di pelajaran matematika dan hanya mengerjakan 2 nomor? Oh ayolah, jangan bercanda.. "

" Maksud sensei? " aku mencoba untuk memperjelas suasana, Yah.. Walausebenarnya aku mungkin sudah tau apa maksud darinya.. Eh? Tapi.. mungkinkah?

Toriumi-sensei lagi-lagi tertawa. Ia tersenyum kearahku. Dan mungkinkah ini untuk pertama kalinya ia tersenyum secara terbuka seperti ini? Entahlah. " Arisato Minato, kelas 2F, murid laki-laki terpopuler nomor 2 di Gekoukkan High? " sahutnya dengan panjang lebar, tapi masih tetap mengenai sasaran.

" A.. Ano.. " Aku menahan kata-kataku sebentar. "Aku.. " lalu mengambil nafas sebentar. " D-darimana Sensei tahu soal ini? "aku mencoba utuk mencari tahu apa yang terjadi, dengan cara yang lumayan nekad juga. Kenapa? Aku bisa saja kan lari dari situasi seperti ini? Dibuka rahasianya didepan umum seperti ini. Di depan guru-guru pula.. Apa tidak memalukan?

" Jadi kau benar-benar tak tahu kalau hampir semua guru tahu bahwa kau menyukai Arisato? Maka itu, saat aku berkata dengan terus terang seperti ini di kantor tidak ada yang melihat ke.. Ah sudahlah. " Toriumi-sensei melihatku dengan tatapan geli.

Kalau aku sendiri boleh tidak jujur, aku tak akan menjawab yang sebenarnya. Namun apa boleh buat.. " Ya, begitulah.. " ucapku singkat sambil mengangguk.

" Kau tak keberatan jika sensei ceritakan? "

Aku menggeleng.

" Baiklah .. jadi.. " Toriumi-sensei mulai bercerita..

" Aku tak pernah merasakan hal seperti ini.. Lagipula, aku juga
masih belum percaya bahwa diriku, Fuuka Yamagishi bisa mencintai seseorang sampai sedalam itu. "