Preview Chapter 1
"Kudengar dia dipenjara?". Ucap Hinata dengan sangat pelan, khawatir jika pembicaraan mereka terdengar oleh Sarada.
"Yah , bahkan saat itu dia tidak tahu kalau aku sedang mengandung Sarada".
"Apa?". Hinata membulatkan kedua matanya saat Sakura berkata demikian. "Selama itukah dia dipenjara?".
"Siapa yang dipenjara bu?".
"SARADA !". Ucap Hinata dan Sakura.
Aitakatta
Disclaimer : Belong to © Masashi Kisshimoto
.
.
Tak disangka saat itu Sarada sedang mendengarkan percakapan ibunya bersama Hinata.
"Ah itu emm ano ..dia –" . Sakura dibuat bingung oleh Sarada dan kenapa anak itu bisa ada diruang keluarga saat mereka sedang mengobrol. Saat ini jantung Sakura berdebar perasaan antara takut dan kaget menjadi satu. Namun untung saja Hinata dengan cepat menemukan alasan atau lebih tepatnya berbohong.
"Dia teman kami saat SMA. Apa kau ingin tahu Sarada, dia itu pembunuh yang kejam loh. Dia suka membu-".
"Ahhh cukup bibi Hinata aku takut mendengarnya". Ucap Sarada sambil menutup telinganya. Hinata tahu kalau Sarada itu sangat takut dengan hal yang berbau kejahatan. Entah kenapa Sarada itu seorang penakut padahal ibunya pemberani.
Sakura pun tersenyum pada Hinata seolah mengatakan, 'Terimakasih Hinata'. Dan Hinata membalas Sakura dengan tatapan 'Apa aku hebat?'.
"Ada apa Nee-chan, Hima jadi takut". Himawari ikut-ikutan tutup telinga seperti Sarada.
"Sudahlah Hinata kau jangan membuat anaku takut. Sarada ayo kita makan kau juga Himawari bibi masak kari ayam lho". Sakura segera melupakan kejadian barusan yang hampir membuat jantungnya copot. Ia pun menuju dapur dan menyiapkan makan siang.
"Kau tak usah repot-repot Sakura kami sudah makan tadi".
"Ayolah Hinata makanlah bersamaku aku sangat merindukan suasana dulu".
"Baiklah jika kau yang memintanya".
.
.
.
"Selamat datang tuan". Ucap salah satu maid membukakan pintu utama sambil membungkuk menyambut kedatangan tuan rumahnya. Lalu pria itu pun berjalan memasuki rumah megah nya.
"Mana Hinata?". Ucap suami Hinata, Naruto.
"Dia sedang berkunjung kerumah nyonya Sakura, tuan".
"Oh begitu ya". Saat Naruto menaiki tangga , Boruto langsung menyambut hangat kedatangan ayahnya dengan menggelantung dikaki Naruto.
"Ayah ayah ayah .. apa bawa makanan untuku?". Ucap Boruto sambil menggeledah tas yang dibawa Naruto. Naruto hanya tersenyum melihat anaknya itu, ini memang sudah biasa saat Naruto pulang dia selalu membawakan sesuatu untuk anaknya namun kali ini dia tak membawa apa-apa.
"Maaf ayah tak sempat ke Minimart". Boruto langsung menghentikan kegiatan menggeledah tas ayahnya. Ia pun menampakan wajah cemberutnya pada Naruto.
"Hahaha kau jangan marah padaku, besok ayah bawakan sesuatu untukmu yah. Hari ini ayah lelah sekali. Oh ya mana Himawari, biasanya dia juga selalu mengikutimu?". Naruto membungkukkan badannya setengah supaya sejajar dengan anaknya.
"Dia pergi bersama ibu". Setelah berkata demikian Boruto menunjukan sesuatu yang barusaja ia temukan di tas ayahnya.
"Ini permen, apa aku boleh memakannya?". Ucap Boruto polos menunjukan benda yang dibungkus plastic warna merah muda pada Naruto. Wajah Naruto berubah menjadi pucat saat anaknya menemukan benda itu, ia langsung merebutnya dari tangan Boruto.
"Ayah kembalikan !".
"Jangan ini bukan permen, tahu". Naruto langsung memasukan benda itu kesaku bajunya. Mana mungkin kan Naruto bilang itu adalah alat kontrasepsi. Boruto belum saatnya mengetahui itu bahkan ia tak boleh tahu.
"Lalu apa?".
"Ahh sudah lah kau ini banyak tanya, ayah mau mandi". Dia segera naik ketangga menuju kamar mandi. Dasar Naruto ceroboh !.
.
.
.
At Uchiha's CORP , Tokyo, Japan.
"Kumohon Itachi beritahu aku dimana Sakura berada, aku ingin sekali bertemu dengannya. Apa dia tinggal di Apartemen atau dirumah lamanya?". Laki-laki itu sangat merindukan sosok wanita idamannya yang sudah resmi menjadi istrinya sebelum ia mendekam dipenjara. Namun sepertinya status mereka masih dipertanyakan mengingat Sasuke meninggalkan Sakura selama tujuh tahun. Sebenarnya kedua orang tua Sakura tidak setuju dia menikah dengan Sasuke seorang kriminal begitupun orang tua Sasuke yang tidak menyukai keluarga Haruno yang dibilang tidak sederajat dengan keluarga Uchiha. Mereka menginginkan Sakura dan Sasuke bercerai namun sepertinya itu tidak mungkin karena mereka saling mencintai. Jadi wajar saja jika Sasuke merindukan sang istri.
"Bukannya aku tak ingin memberi tahumu tapi ini adalah urusan keluargamu, Sasuke. Aku tahu kau sangat merindukan dia dan aku yakin dia pun merindukanmu".
"Kau memang seperti ayah, Itachi. Kau tak pernah mengerti perasaanku sama sekali, dan bahkan saat ini aku tidak ingin bertemu dengannya".
"Apa kau sudah gila , Sasuke ! dia sedang terbaring lemah saat ini". Bentak Itachi pada sasuke.
Braaaakk ! Sasuke menendang kursi yang ada dihadapannya.
"Kau tidak tahu apa rasanya mendekam dibalik jeruji, kedinginan, kesepian, aku sangat menderita !. Dan aku sangat tersiksa berada disana. Kau tak merasakannya Itachi ".
Suasana saat itu menjadi hening seketika. Tentu saja Itachi merasakan penderitaan Sasuke, kehidupannya yang dipenuhi kepedihan. Bukannya Itachi tak ingin memberitahu kabar Sakura namun ia tak kuasa untuk mengatakan yang sebenarnya, apakah dia akan sanggup menerimanya?.
"Baiklah , tapi kau berjanji padaku jangan membenci ayah".
"Yasudah katakan saja".
"Kau berjanji dulu padaku". Sasuke mengangguk mantap dan memandang serius lawan bicaranya itu.
"Sakura tidak tinggal lagi disini, dia berada diKonoha sebuah tempat yang sangat jauh".
"Apa kau bilang? Untuk apa dia tinggal disana aku sudah memberinya dia rumah".
"Dia bukan tinggal disana tapi dia dipindahkan oleh ayah supaya kau tidak menemuinya".
Itachi menutup matanya berharap tidak terjadi sesuatu pada adiknya itu. Tidak, tidak terjadi apa-apa. Apa Sasuke sudah pergi?. Itachi membuka matanya perlahan , nampaknya adiknya masih ada dihadapannya. Ia sedang tertunduk.
"Saat mendengar ayah sakit parah aku merasa senang, itu balasan karena sudah merenggut kebahagiaan anaknya. Kupikir keluar dari penjara adalah akhir dari penderitaanku, namun sepertinya penderitaanku akan dimulai dari sini".
"Sasuke berhentilah berbicara seperti itu". Sang kakak mencoba menenangkan Sasuke, ia menyentuh pundak Sasuke tapi tangan Itachi langsung ditangkisnya.
"Dia adalah seorang monster yang berwujud manusia , aku sangat membenci dia".
"Hentikan Sasuke, kau sudah berjanji padaku jangan membenci ayah !".
"Kau sudah mendapat kebahagiaan Itachi , kau tak mungkin merasakan penderitaanku". Sasuke pun beranjak pergi namun Itachi menahannya.
"Tunggu , aku mau bertanya padamu".
"Apa?".
"Kenapa kau dibebaskan?".
Sasuke menghela nafasnya dalam-dalam, melihat raut muka yang sulit diartikan entah itu kebahagian ataukah dendam.
"Selama ini aku dijebak seseorang, dia menginginkan aku menderita dibalik jeruji".
Itachi mengangkat sebelah alisnya, sepertinya ia belum paham apa yang dikatakan Sasuke. Yah , Sasuke dipenjara bukan di Tokyo, tempat tinggalnya saat ini. Jadi Itachi tidak tahu kronologis ceritanya.
"Maaf aku tak membantumu saat pembebasan, disini aku sangat sibuk".
"Kukira kau tidak peduli padaku sama sekali". Sasuke pun kembali duduk dikursi dihadapan Itachi.
"Jadi pelakunya?".
"Aku tahu orang itu, dan akan kucari dia. Tak akan kumaafkan". Sasuke mengepalkan tangannya tak kuasa menahan amarah. Dan ia pun beranjak pergi meninggalkan ruang kerja Itachi.
.
.
.
Sakura's House, Konoha.
Perempuan dua puluh lima tahun itu kini tengah berbaring santai disebuah sofa berwarna putih, segelas teh hangat yang masih ada digenggamannya sesekali ia teguk. Wanita itu memejamkan matanya , fikirannya melayang membuka satu persatu kenangan masa lalu nya bersama laki-laki yang menjadi suaminya selama ini. Ya selama tujuh tahun Sasuke menghilang dari kehidupannya , ia membina rumah tangga dengan Sasuke hanya tiga bulan saja dan saat itu pula sang suami telah mendekam dijeruji besi.
Ia tak bisa membayangkan apa jadinya kalau Sasuke mengtahui kalau dirinya telah mempunyai seorang anak perempuan. Dan bagaimana jika anak perempuannya itu mengetahui kalau ayahnya berada dipenjara?.
Sakura menyentuh dada sebelah kirinya. Sakit , rasa sakit itu selalu menjalar diseluruh tubuhnya setiap kali ia mengingatnya.
"Ibu ".
Sakura masih tetap hanyut dalam lamunannya, bahkan ia tak mendengar seruan anaknya.
"Ibu".
"...".
"Bu ..ibu kenapa dari tadi melamun saja?". Sarada akhirnya mengeluarkan suaranya dengan intonasi terkejut hingga teh yang dipegangnya sedikit tumpah.
"Kau ini mengagetkan ibu saja". Sakura membersihkan air teh dengan tissue, lalu ia berbalik menghadap anaknya itu.
"Ada apa Sarada?".
"Kapan ibu libur bekerja?".
"Besok ibu libur memangnya ada apa sayang?".
"Aku ingin pergi ke Konoha Fair semua teman-temanku sudah pernah kesana hanya aku saja yang belum". Sakura tersenyum lembut pada anaknya itu, ia mengacak-ngacak rambut hitam Sarada dengan gemas.
"Kencangkan sabuk pengamanmu Sarada besok kita kesana". Senyuman itu pun menghiasi wajah cantik Sarada. Yah ada alasan dibalik itu dia ingin pergi ketaman bermain, mungkin datang kesana sedikit menghilangkan penatnya.
"Kalau begitu kau cepat tidur ini sudah pukul 9 malam besok kan kita akan main".
"Baik bu, oyasuminasai". Sarada mencium pipi kiri ibunya itu. Sakura pun membalasnya.
"Oyasuminasai , Sarada".
Sakura menaiki tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Ia merebahkan tubuhnya diatas kasur king size , tangannya menjalar meyusuri bawah bantal dan mengeluarkan benda itu. Itu adalah sebuah foto pernikahan dirinya bersama Sasuke, setiap malam Sakura selalu memandangi foto itu sebelum tidur. Hanya foto itulah yang mampu meredakan kerinduan Sakura selama ini, sebuah foto yang gambarnya sudah agak kabur. Tanpa disadari air mata telah membasahi pipinya , menetes ke foto tersebut.
"Besok aku akan mengajaknya bermain , Sarada sangat senang sekali Sasuke". Sakura bergumam enatah pada siapa lalu ia meletakan kembali foto tersebut dibalik bantalnya.
10:13 PM, At Konoha Fair, Konoha.
"Wah aku mencium bau Takoyaki , bu aku mau ". Anak itu nampak bahagia saat datang kesana membuat Sakura terkekeh geli melihat anaknya itu. Ah betapa senangnya dapat membawa Sarada kesini Karena pekerjaannya yang sibuk.
"Bisa tunggu sebentar , kita kan baru sampai. Kukira perutmu itu sudah kenyang Sarada".
"Tidak bu perutku kembali minta diisi, ayo bu ayo". Sarada menarik tangan ibunya menuju tempat penjualan Takoyaki.
.
"Oishi … ". Sarada tengan menjilati sudut bibirnya yang belepotan, ah betapa senangnya hari itu.
"Hahaha kau ini sangat rakus , padahal ayahmu tak serakus itu, hmmp". Sakura berbicara terlalu jauh sehingga ia tak sengaja mengatakan hal yang tak semestinya.
"Apa bu?". Untung saja Sarada tak terlalu mendengarkan perkataan ibunya. Sakura segera mengalihkan perhatian ia mengajak Sarada untuk naik salah satu wahana disana, yaitu bianglala.
"Apa kau berani?".
"Huh ibu meremehkan aku, baru saja aku mau mengajak ibu naik itu". Tunjuk Sarada pada benda yang menjulang tinggi tersebut.
"Hahahaha". Akhirnya mereka berdua bersenang-senang ditempat itu.
.
.
"Hah Chou-Chou ?"
"Sarada?".
"Kita bertemu disini yah Sarada-chan". Ujar anak perempuan bertubuh gemuk, Chou-Chou teman sekelas Sarada.
"Kau bersama ayah ya, mana ibumu?".
Saat ini Sakura dan Sarada sedang berada didalam bianglala bersama Cho-chou dan ayahnya, Chouji.
"Dia tidak ikut, oh ya Sarada kemarilah". Anak itu mendekatkan kepalanya pada Sarada dan berbisik ..
"Ayahku sudah menghabiskan lima bungkus keripik kentang loh, bahkan jatahku juga ia sikat habis. Hiih memalukan sekali". Sarada hanya sweatdrop mendengar perkataan yang tak penting dari temannya itu.
"Hey Chou-chou apa kau tidak takut jatuh naik bianglala bersama ayahmu?". Sarada membalas bisikan Chou-chou yang disusul dengan tatapan mengerikan.
"Apa kau bilang? Aku ini tidak gemuk tau".
"Hey ,, kalian sedang berbisik-bisik apa?". Sakura hanya terheran-heran melihat kedua anak itu.
"Apa kau ibunya Sarada? Salam kenal aku Chouji, ayahnya Chou-chou". Pria bertubuh tambun itu menjulurkan tangannya, meminta berjabat tangan.
"Ya aku ibunya Sarada, Sakura. Haruno Sakura. Salam kenal". Sakura tersenyum melihat hubungan mereka begitu dekat. Yah hubungan antara anak dan ayah sangat dekat sekali. 'Aku mengerti sekarang Sarada, aku berjanji akan selalu bersamamu'.
"Hey Sarada ibumu cantik yah dengan rambut pink-nya , tapi kenapa rambutmu berwarna hitam?". Ucapan teman Sarada itu sukses membuat Sakura menjadi kaget. Tentu saja Sarada lebih mirip ayahnya dibanding dirinya.
"Ah yah entahlah aku tidak tahu, kau tanyakan saja pada ibuku". Ucap Sarada sambil menarik sebagian rambut miliknya kedepan.
"Hahaha sudahlah hentikan Chou-Chou jangan berbicara yang tidak penting". Sang ayah menyela perkataan mereka.
"Apa ayah juga berfikiran sama denganku jika rambut ibu pink?". Chouji berfikir jika istrinya itu berambut seperti Sakura. Tiba-tiba ia tertawa keras membuat Sakura dan Sarada saling menatap heran.
.
.
.
"Bu aku haus".
"Kau beli saja sendiri ibu tunggu disini, ibu cape sekali". Ujar Sakura sambil duduk disebuah kursi yang telah disediakan. Sarada pun mengangguk dan berlari menuju pedagang minuman yang tak jauh dari sana.
Beberapa menit kemudia ia datang membawa dua gelas minuman dan beberapa permen kapas berwarna pink kesukaan Sakura.
"Kau bawa uang berapa Sarada, katanya Cuma membeli minuman".
"Ini semua pemberian seseorang bu. Nih uangnya aku kembalikan". Ucap Sarada cuek dan hendak meminum minuman itu. Namun saat Sarada meminumnya Sakura segera merebut minuman itu.
"Hey bu itu minumanku, punya ibu ini rasa Strawberry".
"Kau dapat semua ini dari siapa?".
"Dari dia". Tunjuk Sarada pada seseorang. "Are .. tadi dia berada disana". Sarada menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Kau jangan sembarangan menerima pemberian orang lain Sarada, siapa tahu dia orang jahat". Ucapan itu membuat Sarada menjadi diam, la pun meletakan minuman itu dan memberikan permen kapas pada ibunya.
"Dia bilang permen kapas ini untuk ibu, karena ini sangat manis seperti ibu".
Sakura tak mengerti sama sekali perkataan Sarada, apa yang dia maksud 'manis'. Dan lagi kenapa orang itu tahu Sakura suka permen kapas. Hal itu membuat otak Sakura kembali berfikir dan mengingatnya.
"Dia seorang laki-laki atau perempuan?".
"Dia laki-laki yang memakai topi hitam. Bu apa aku boleh meminumnya aku sangat haus".
"Kau lihat wajahnya?". Sakura terus mengintrogasi anaknya itu .
"Yah dia sangat tampan sekali, aahh ayolah bu apa aku boleh meminumnya aku yakin dia sangat baik dia tidak mungkin meracuni kita". Sarada sudah tak bisa menahan rasa hausnya ia langsung meminum jus menyegarkan itu.
"Ya ampun kau tahu dari mana dia tampan, dasar anak jaman sekarang sudah bisa membedakan mana yang tampan. Baiklah kau boleh memin-".
"Ahhhhh segarrr ..". Ia melempar botol minuman itu kesembarang arah, Sakura hanya memutar bola matanya.
"Kau ini".
'Siapa yang memberikan semua ini, apa jangan-jangan'.
.
.
"Aku akan segera mendapatkanmu, Sakura".
To Be Continue
Tokoh baru akan muncul yang berperan penting juga dalam cerita ini. Readers tau gak siapa dia?
Oke chap selanjutnya Flashback Sasuke dan Sakura.
Preview Next Chap :
"Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu Sakura, kurasa Sasuke memang jodohmu. Tapi sampai kapanpun ibu tak akan pernah menyukai Sasuke"/ "Kau akan menikah? Apa kau lupa setelah apa yang kita lakukan Sasuke-kun?"/" Apa kau lupa siapa yang telah menjadi pacarmu waktu SMA ? Apa kau lupa siapa yang menjadi cinta pertamamu? Dan apa kau lupa siapa yang merebut kegadisanmu? Kau pikir aku telah melupakanmu? Jangan harap kau akan bahagia tanpa aku, Sakura".
Terimakasih banyak yang sudah baca dan review fic Mei. Jaa nee di chapter selanjutnya
