Disclaimer: Naruto and all character belongs to Masashi Kishimoto. This story is purely mine. I didn't receive any profits in this fanfiction.
Ketika waktu mulai berbicara, dan semesta mulai bertindak, maka kuasa takdir tak mampu lagi terelakkan. Tak satu orang pun dapat menghindar. Harta, pangkat, kekayaan, jabatan, tidak satu pun dari hal tersebut yang dapat menolong. Semua seolah tak berguna. Pertolongan akan datang dengan sendirinya dari buah kebaikan. Dari campur tangan semesta dan yang Mahakuasa. Karenanya, menjadi baiklah. Tidak usah mengikuti keburukan orang lain dan membalasnya. Percayalah, tidak pernah ada kerugian dalam hal kebaikan.
Uchihamelia Presents
wave of life
.
.
Chapter 2
Sakura menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Ponselnya masih dia genggam, dengan mata yang dia pejamkan. Tidak tahu mengapa, Sakura merasakan perasaannya kini tak enak. Ada rasa resah dan gelisah yang membuatnya menjadi gundah. Nada suara genit Ino—yang duduk di sampingnya, yang tengah bermesraan dengan Sai seolah tidak masalah. Sama sekali tidak mengganggunya. Sakura mencoba menerka-nerka apa yang membuatnya menjadi tak tenang. Tapi, dia tak mendapatkan firasat apa pun. Menyadari perjalanan panjang yang akan ditempuh, dan akan menghabiskan waktu sebelas jam dalam bus ini, Sakura memilih untuk tidur. Tidak ada gunanya juga mengembangkan kegelisahannya dengan pelbagai macam asumsi. Itu hanya akan membuatnya bertambah resah.
Kepala merah muda yang tengah Sakura sandarkan pada kaca jendela itu diangkat. Lalu jemarinya bergerak dan menaruh ponsel yang sedang dia genggam pada ransel yang tergeletak di bawah kakinya. Matanya kemudian melirik Ino yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu milik Sai.
Perempuan berambut pirang itu lalu tersenyum ketika menyadari Sakura yang kini memandang ke arahnya. "Cemburu, heh? Tidak bisa bermesraan sepertiku?" goda Ino dengan suara yang dibuat-buat.
Bibir Sakura refleks menyeringai dengan satu alis yang ditukik ke atas, kemudian dia terkekeh pelan. "Percaya diri sekali, huh? Aku hanya akan mengatakan, jangan menggangguku karena aku akan tidur. Itu peringatan, Ino!" ucapnya serius. Netra Ino mendelik sebal dengan bibir yang mengerucut ke depan. "Juga ... jangan menjahiliku. Okay!"
Setelah berkata demikian, Sakura segera menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Matanya pun terpejam.
Ino meliriknya dari sudut ekor mata. "Sepertinya dia tertekan," selorohnya dengan nada suara pelan.
Sai yang duduk di samping Ino menggelengkan kepalanya. "Kurasa tidak," jawab Sai tak kalah pelan.
Ino mengangkat kepalanya dari bahu Sai. Keningnya sedikit berkerut dengan mata yang melempar tanya. "Jika tidak, lalu apa? Aku yakin, pasti sebenarnya Kak Gaara tidak mengizinkannya ikut, tapi Sakura tetap memaksa. Makanya dia tertekan karena merasa bersalah," terang Ino penuh keyakinan.
Bibir Sai membuat lengkungan kurva tipis. Kemudian tangannya bergerak menyentuh kepala Ino dan menyandarkan kembali kepala kekasihnya itu di bahunya. "Sudah, jangan sok tahu. Perjalanan masih panjang. Lebih baik, kita juga istirahat sekarang," kata Sai sambil mengelus rambut pirang Ino dengan penuh perasaan. Tak menjawab, Ino hanya menganggukkan kepalanya.
Perjalanan dari Konohagakure menuju Gunung Kabut dimulai dari pukul sembilan pagi. Jika rute perjalanan lancar, diperkirakan bus akan sampai di pedalaman desa Otogakure sekitar jam delapan malam. Mereka akan menginap di vila yang ada di pedesaan tersebut selama beberapa jam. Karena pendakian baru akan dimulai pada jam dua diniharinya. Itu adalah jadwal susunan yang telah dibuat oleh Naruto, dan telah disepakati bersama oleh semua peserta.
Jam lima sore, bus mulai memasuki wilayah desa Otogakure. Tubuh mereka semua mulai lelah, dikarenakan sudah hampir sembilan jam mereka terduduk di dalam bus tanpa bisa bergerak bebas. Siang tadi, bus memang sempat berhenti untuk istirahat dan makan siang. Namun tidak berlama-lama dikarenakan perjalanan yang masih panjang. Sakura membuka matanya pelan-pelan. Dia tertidur cukup pulas.
Desas-desus suara yang berseliweran di gendang telinga yang mengganggunya dari tidur lelapnya. Sakura menoleh pada Ino yang masih duduk di sampingnya. "Ino, ini ada apa?" tanyanya dengan suara parau.
Wajah Ino pucat. Bola mata aquamarinenya tampak panik. Hal tersebut membuat rasa penasaran Sakura semakin bertambah tinggi saja.
Sakura mengguncang lengan Ino. "Hey, katakan! Ada apa?" Guncangan Sakura yang cukup keras membuat Ino tersadar.
Gadis berambut pirang itu menolehkan kepalanya. "Lihat ke sana. Di luar jendela," jawab Ino pelan sembari mengayunkan jari telunjuknya pada kaca jendela.
Refelks, Sakura menoleh. Dari kaca jendela itu, Sakura dapat melihat bulir-bulir hujan yang turun dari langit. Kaca jendelanya juga berembun menandakan hujan deras telah terjadi dan kini digantikan dengan hujan rintik-rintik. Suhu udara pun semakin bertambah dingin. Keningnya berkerut. Dia tak mengerti. Kepalanya lalu kembali melirik pada Ino. "Di luar hujan. Lalu kenapa?" tanyanya bingung.
Ino menghela napas kasar dari mulutnya, "Kau tak tahu mitosnya?" tanyanya gamang.
Melihat Sakura yang menggelengkan kepala, membuat Ino kembali menghela napas lelah. "Dasar bodoh! Sakura, semuanya panik karena menurut mitos yang beredar sejak dahulu, jika di pedalaman desa Otogakure terjadi hujan, maka, maka—" Ino diam. Dia tak melanjutkan perkataannya. Hal itu membuat lipatan-lipatan di dahi Sakura semakin tercetak jelas. Manik emerald itu berkonvergensi pada bola aquamarine di depannya. Hanya menatap penasaran tanpa berucap sepatah kata pun.
Lalu, kepala berambut pirang itu dia majukan. Gerakannya terhenti ketika bibirnya sudah satu garis lurus dengan telinga milik Sakura. "Akan tejadi tragedi mengenaskan," bisik Ino lirih.
Tanpa sadar dan kendali diri, tangan Sakura langsung mencengkeram bahu Ino cukup keras. Cengkeraman tangan Sakura membuat Ino kembali menarik kepalanya dan memperlebar jarak.
"Oh, ayolah. Jadi bisik-bisik yang kalian semua lakukan itu karena mitos ini? Ino, kuharap kau bisa lebih realistis dengan tidak mempercayai cerita kuno semacam itu!"
"Hey, Sakura! Jangan arogan. Aku pun tidak sepenuhnya percaya. Tapi tidak pula menyangkal. Kau ingat, di Gunung Kabut periode hujan hanya turun satu tahun sekali. Dan konon, ketika hujan itu turun, itu artinya Dewi Hujan sedang menurunkan kutukannya. Hal tersebut juga logis bukan?"
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Sakura memilih mengabaikan penyataan Ino dengan memalingkan kepalanya menghadap jendela. Mana mungkin benar! Mitos itu tak berlogika. Sakura meyakinkan dirinya sendiri dengan mensugestikan perkataan yang diucapkannya dalam hati itu berulang-ulang. Matanya lalu terpejam dengan sebuah doa yang dia panjatkan. Selamatkan kami, Tuhan.
-oOo-
Namun tentang musibah tak pernah ada yang tahu. Musibah selalu datang tanpa diundang. Dengan sendirinya. Nyatanya, tragedi itu benar-benar terjadi. Mitos tentang hujan di wilayah pedalaman desa Otogakure faktanya menjadi kenyataan. Nahas, tigapuluh kilometer lagi menuju pedalaman desa Otogakure, bus pariwisata yang mereka tumpangi terjatuh.
Bus tersebut lantas terperosok masuk ke dalam jurang yang ada di sebelah kiri badan jalan. Menggelinding seperti bola yang ditendang. Jatuh ke semak-semak hutan belukar. Sangat jauh, dan dalam. Serpihan kaca bus bertebaran di sepanjang jalan kecelakaan. Penumpangnya terpontang-panting. Sebagiannya berceceran terlempar keluar ke segala sudut jendela dan melayang. Kondisi diri tak sadarkan. Kesadaran mengambang. Darah bertetesan. Luka menganga. Tulang patah-patah.
-oOo-
Seorang lelaki berambut raven dengan perawakan tinggi baru saja keluar dari sebuah toko perbelanjaan. Di sisinya, seorang karyawan toko mendorong troli yang berisi barang-barang belanjaan milik lelaki berambut raven tersebut. Lantas, lelaki itu menekan tombol pada kunci mobil yang ada dalam genggaman tangannya. Kemudian membuka kap bagasi mobilnya.
Seolah sudah mengerti, si karyawan segera memasukkan barang-barang belanjaan itu pada bagasi mobil yang sudah terbuka. Lelaki berambut raven itu hanya diam memerhatikan dengan kedua tangannya yang disilang di bawah dada. Mimik wajahnya lurus.
Setelah semua barang-barang dalam troli sudah berpindah tempat seluruhnya, karyawan toko itu segera menutup kembali bagasi mobil. "Terima kasih sudah menjadi pelanggan setia toko kami, Tuan Sasuke," ujar si karyawan toko sembari membungkukkan setengah badan.
"Hn." Lelaki berambut raven bernama Sasuke itu hanya berdeham pelan, kemudian berjalan menuju pintu depan mobil, untuk mendudukkan dirinya di bangku pengemudi.
Hari sudah sore. Sasuke mengemudikan setir mobilnya dengan kecepatan normal. Setelah empatpuluhlima menit mengendalikan setir kemudinya di jalur lurus, kemudian mobil yang Sasuke kemudikan itu berbelok ke arah kanan. Dari perbelokan ini, rute jalanan mulai sepi. Karena rute ini merupakan jalan menuju sebuah pedalaman desa bernama—desa Otogakure.
Desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Jangankan menuju kota, menuju pusat desa tempat Sasuke biasa berbelanja saja membutuhkan jarak tempuh yang sangat jauh. Selain itu, dia tinggal di tengah hutan pedalaman desa Otogakure yang membuat jarak tempuhnya semakin bertambah jauh saja. Karenanya, Sasuke selalu membeli kebutuhan pangannya langsung untuk jangka waktu satu bulan. Selain karena jarak tempuhnya yang jauh, juga karena Sasuke tidak suka keramaian.
Sore itu, langit mendung. Udara dingin membumbung. Jalanan basah dan lembap menandakan telah terjadi hujan deras. Kini hujan rintik-rintik masih turun mengiringi perjalanan. Dahi Sasuke berkerut ketika mendapati serpihan kaca yang berceceran di jalanan. Pasti baru saja terjadi kecelakaan. Batinnya.
Sasuke sengaja mengendarai laju mobilnya pelan-pelan. Netranya diam-diam melirik pandang pada jurang yang ada di sebelah kiri badan jalan. Dia ingin berhenti sebentar untuk memastikan bahwa asumsinya benar jika memang baru saja terjadi kecelakaan. Namun rasa tidak peduli kembali merasukinya.
Saat keluarganya dibantai limabelas tahun silam, tidak ada yang peduli. Padahal waktu itu, ayahnya mempunyai peranan cukup penting dalam pemerintahan. Namun pemerintah seolah tutup mata dan telinga. Negara membuangnya. Toh, untuk apa juga dia peduli sekarang? Orang-orang pun dulu tak ada yang peduli dengannya. Kecuali Kabuto Yakushi, yang tetap mengabdi hingga kini.
Sasuke kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Dia membuang napas lelah. Masa bodoh! Pikirnya. Sepuluh menit telah berlalu. Mobil yang Sasuke kendarai juga sudah melaju menjauh puluhan meter dari lokasi serpihan kaca yang berhamburan di badan jalan. Namun perasaan aneh tiba-tiba menelisik menyambangi ke dalam hati.
Mengikuti intuisi, Sasuke memutar haluan laju mobilnya kembali pada lokasi kecelakaan. Kaca-kaca itu masih bertebaran di sana. Belum ada satu kendaraan pun yang lewat selain mobil miliknya. Sasuke menepikan mobilnya ke pinggir jalan, lalu keluar dari dalam mobil. Dia berdiri mematung setelah menutup pintu mobilnya. Atensinya lurus ke depan. Pada pandangan jurang di bawahnya.
Bola mata itu lalu dia pejamkan. Hujan rintik-rintik yang turun kini telah reda. Membuat tanah dan jalanan menjadi sangat lembap. Aroma petrichor menguar begitu jelas. Daun-daun dan pepohonan berembun. Pesona senja telah lewat. Mata Sasuke masih memejam, dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Sepoi angin yang bertiup lembut menyentuh wajah Sasuke. Mentransferkan hawa dingin pada kulit arinya secara perlahan. Sejujurnya, Sasuke bimbang akan apa yang harus dia lakukan. Dilema di antara dua opsi yang baginya masih kelabu.
Setelah meyakinkan tekad, Sasuke membuka pejaman matanya dan memulai langkah. Mendekati bibir jurang. Kemudian turun dengan perlahan ke semak-semak. Dengan tangan yang bertumpu pada akar-akar rambat yang menjalar. Netra Sasuke sudah dapat melihat adanya sebuah bus yang terguling jauh di bawah sana. Benar dugaannya, memang baru saja terjadi kecelakaan. Sasuke tidak tahu, mengapa dia tidak ingin berhenti untuk terus turun. Untuk mendekati bus yang terguling jauh di bawah itu. Dan Sasuke hanya mengikuti naluri dengan pergerakan impulsifnya.
Tetapi, langkah Sasuke tiba-tiba terhenti ketika samar-samar indra pendengarnya menangkap lirih suara yang menguar. Sasuke diam. Menajamkan pendengaran.
"Tolong!"
Lirih suara itu terdengar dengan sangat jelas di gendang telinga Sasuke. Kini, atensi Sasuke berpaling. Bukan lagi untuk mendekati bus yang terguling jauh di bawah itu. Tapi fokusnya kini ingin menemukan si pemilik suara ini. Suaran rintihan minta tolong yang begitu pilu.
Sasuke melangkahkan kaki mengikuti arah sumber suara yang menurut hipotesisnya berada di arah barat. Dan beruntungnya, di sekitar sini posisi tanahnya datar. Tidak miring—yang membuatnya harus terus berpegangan pada akar rambat seperti rute sebelumnya yang sudah dia lewati. Hal ini memudahkannya dalam melangkah dan pencarian.
"Tolong."
"T-olong."
"To-long."
Kata-kata itu terdengar semakin jelas di telinga Sasuke. Yang menjadikan petunjuk bahwa Sasuke sudah semakin dekat dengan entitas si sumber suara. Sasuke mencari kian jeli. Matanya seketika melebar ketika dia mendapati seorang perempuan yang tergolek lemah tertindih ranting pohon yang besar. Sasuke berlari mendekat.
Baju perempuan itu koyak dan kotor. Tubuhnya penuh bercak darah. Badannya kaku tak dapat bergerak barang sejengkal. Matanya memejam. Kesadarannya hampir hilang.
Beberapa menit Sasuke diam kaku menatapnya. Jiwa kemanusiaan yang dimiliki berkata ingin menolongnya. Namun lagi-lagi rasa dendam dan kecewa membuatnya tak ingin peduli. Sasuke memutar badan dan kembali melangkah. Masa bodoh! Dia memilih meninggalkan perempuan yang berada di ambang batas kesadarannya itu. Dengan perasaannya sendiri yang berkecamuk.
"Tol-ong," suara lirih itu kembali terdengar. Membuat Sasuke bergeming di tempat. Dengan kedua tangan yang refleks mengepal. Lagi-lagi Sasuke dilema akan pilihannya. Antara harus menolongnya, atau tidak. Badannya berdiri kaku, perasaannya campur aduk. Tapi walau gamang, akhirnya Sasuke menolehkan kepalanya juga. Sasuke kembali memutar badan.
Kelopak mata perempuan itu terbuka. Manik emerald di bola mata itu menatapnya sendu. "Tolong a-aku," ujarnya tak berdaya. Lalu kelopak matanya kembali menutup.
Sasuke membeku di tempatnya berdiri. Perasaannya masih gamang. Dua menit Sasuke bergeming bingung. Mengikuti naluri, akhirnya Sasuke mendekati. Berjongkok, lalu melipat lengan kemejanya hingga batas siku. Kemudian tangannya mulai menyingkirkan ranting pohon yang cukup besar yang menindih kaki perempuan itu. Peluh mulai mengucur dari pelipis kiri dan kanannya, ketika satu per satu ranting-ranting yang menindih badan perempuan itu telah berhasil Sasuke singkirkan seluruhnya. Menyingkirkan ranting-ranting pohon yang cukup besar ternyata cukup menguras tenaganya.
Ada sedikit debaran ketika tangan Sasuke mulai menyentuh tubuh perempuan tersebut. Dentuman di dada itu pelan, tapi cukup mengusiknya. Sasuke berasumsi dentuman tersebut efek dari tubuhnya yang mulai lelah. Mengesampingkan keanehan yang mulai dirasakan, lantas Sasuke memilih segera memangku perempuan itu a la bridal style. Tekadnya sudah bulat, dia akan menolong perempuan ini. Perempuan yang sama sekali tidak dikenalinya tersebut.
Susah payah Sasuke memangku perempuan itu hingga akhirnya dia berhasil membawanya naik keluar jurang. Sasuke segera memasukkan perempuan itu ke dalam mobil. Membaringkannya dengan pelan-pelan di barisan kedua. Kemudian Sasuke memacu lagi laju mobilnya dengan cepat namun tetap waspada.
Kini, mobil itu mulai memasuki wilayah hutan pedalaman desa Otogakure. Hari mulai malam. Di sini gelap.
-oOo-
Akhirnya mobil Sasuke memasuki gerbang besi tinggi di tengah hutan. Di dalam gerbang ini terdapat sebuah bangunan rumah yang sangat besar dan megah. Serta perkebunan anggur yang luas. Perempuan itu masih tergolek tak berdaya dengan kesadarannya yang hilang.
Seorang lelaki berkacamata segera keluar dari dalam rumah begitu mendengar suara deru mesin mobil di halaman. Sasuke turun dari dalam mobilnya, dan langsung membuka pintu barisan kedua untuk membawa perempuan yang baru ditolongnya itu keluar. Lelaki berkacamata dengan rambut dikucir itu memandang Sasuke bingung dengan tatapan yang cukup tajam.
"Daripada terus menatapku, lebih baik kau turunkan semua belanjaan yang ada di bagasi belakang," ucap Sasuke datar. Melihat lawan bicaranya yang masih terdiam, Sasuke kembali berbicara. "Aku akan membawa perempuan ini masuk."
Tanpa menunggu respons yang diberikan, dengan cepat Sasuke langsung membawa perempuan tersebut masuk ke dalam rumahnya, kemudian menuju ke kamar tidurnya. Lalu membaringkannya di atas kasur pribadinya.
Sasuke menatap perempuan itu kosong. Dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.
"Tolong sembuhkan perempuan ini. Aku tahu kau pasti bisa," kata Sasuke yang menyadari hawa keberadaan seseorang di ambang pintu kamarnya. Seseorang yang selama limabelas tahun menjadi satu-satunya orang yang menemani hidupnya. Hanya berdua dengan seseorang itu di rumah ini.
Tetapi tak ada ujaran atau embusan napas kasar yang terdengar. Juga tak ada pergerakan tubuh yang berjalan. Perkataan Sasuke masih berada di status tanpa reaksi yang sebenarnya tidak seharusnya diabaikan karena situasi yang sedang genting. Nyawa seorang perempuan sedang dipertaruhkan di sini—di rumahnya. Yang saat ini bergantung pada keputusan seseorang yang masih membeku itu.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya terdengar sahutan yang mengujar. "Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit?" tanyanya pelan.
Tangan Sasuke mencengkeram sudut ranjang di dekat tempatnya berdiri. "Kau tahu aku tidak suka berinteraksi dengan dunia luar."
"Lalu kenapa kau menolongnya?" tanya lelaki yang memakai kacamata itu lagi dengan sedikit sinis.
Embusan napas kasar keluar dari mulut Sasuke. Cengkeramannya pada sudut ranjang semakin kuat. "Perempuan ini korban kecelakaan sebuah bus yang masuk jurang."
Kekehan bernada sinis keluar begitu saja dari mulut lelaki berkacamata itu. Dengan perlahan lelaki itu mendekat ke tempat di mana Sasuke berdiri. "Bukannya kau tidak suka berinteraksi dengan dunia luar, Sasuke? Perempuan ini juga berasal dari dunia luar karena kau tak mengenalinya sama sekali, bukan?" sindirnya tepat di telinga Sasuke.
Sasuke terdiam, dia memandang perempuan lemah yang terbaring di atas kasur tidurnya itu. Apa yang dikatakan lelaki itu memang benar. Perempuan ini berasal dari dunia luar. Yang bahkan dia mengenalinya pun tidak. Selama ini, Sasuke sangat membenci dunia luar. Dia menjadi seorang anti sosial oleh sebab trauma di masa silam.
Tapi entah mengapa, untuk perempuan ini seperti sebuah pengecualian khusus bagi Sasuke. Sasuke ingin menolongnya. Dia ingin menyelamatkannya. Sasuke melepas cengkeraman tangannya dari sudut ranjang. Perlahan memutar badannya hingga berhadap-hadapan dengan lelaki itu. "Semua yang kau ucapkan benar. Tapi ... aku pun tidak tahu kenapa aku ingin menyelamatkannya. Jadi jangan banyak bicara, dan bantu aku saja, Paman Kabuto!"
-oOo-
Seringaian tipis tertera di bibir lelaki yang Sasuke panggil dengan sebutan paman Kabuto itu. Kabuto ingin tertawa mendengar jawaban, yang menurutnya tak sepatutnya meluncur dari bibir seorang Sasuke Uchiha. Kabuto mengenal dengan sangat baik kepribadian Sasuke. Lelaki berkacamata itu tahu benar bahwa Sasuke bukan seorang yang mudah menaruh rasa simpati dan empati kepada orang lain. Tragedi kelam yang dialami Sasuke sewaktu kecil memperkuat rasa tidak acuhnya terhadap orang lain.
Jiwa anti sosial itu tumbuh dalam dirinya. Sasuke mengurung diri dari pergaulan dunia. Dia memenjarakan dirinya sendiri dalam sunyi dan kehampaan. Yang lama-lama Sasuke begitu terbiasa dengan keheningan. Sasuke terlampau biasa dengan kehidupannya bersama Kabuto seorang. Sasuke tak merasa ingin lebih. Atau sedikit lebih ramai. Kesetiaan dari Kabuto seorang baginya sudah cukup. Seperti sebuah paket lengkap; Kabuto dapat menjadi guru, orangtua, kakak, dan teman. Kabuto dapat mencakup hal apa pun yang Sasuke perlu (kecuali masalah hati). Yang memang merupakan suatu hal yang tak pernah terlintas dalam benak Sasuke sedikit pun. Rasanya, Sasuke juga memang tak memerlukannya. Bahkan memikirkannya sedetik saja tidak pernah.
Kabuto merasa paham dengan tindakan Sasuke yang membawa perempuan korban kecelakaan itu ke sini. Profesi terdahulunya memang seorang dokter sebelum akhirnya Kabuto memutuskan untuk mengabdi sebagai kepercayaan keluarga Uchiha. Setelah terdiam cukup lama, Kabuto berlalu tanpa kata. Selang belasan menit, Kabuto kembali dengan sebuah kotak besi kecil di tangan.
Sasuke meliriknya dari ujung mata, kemudian dia pindah posisi agar Kabuto dapat leluasa bergerak untuk memeriksa kondisi perempuan tersebut. Sasuke mendudukkan dirinya di kursi, memerhatikan Kabuto yang kemudian mulai memeriksa perempuan berambut merah muda itu. Setelah memeriksanya dengan stetoskop yang dikeluarkan dari dalam kotak besi tersebut, Kabuto menolehkan kepalanya pada Sasuke.
"Perempuan ini harus diberi pertolongan intensif. Kita harus memindahkan dia menuju ruang kesehatan."
Secara refleks, bola mata Sasuke langsung mengarah pada perempuan tersebut. Tatapannya kosong dengan kening yang sedikit berkerut. Entah kenapa, Sasuke tidak ingin jika perempuan ini dipindahkan menuju ruang kesehatan yang ada di rumah besarnya. Tapi, Sasuke sendiri juga ragu dengan apa yang seharusnya dia lakukan. Berkontemplasi, Sasuke mencoba berpikir dan mencari cara terbaik agar mendapat penyelesaian yang logis. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Sasuke bersuara. "Tidak! Rawat saja perempuan ini di sini. Sulap kamarku menjadi kamar rawat mulai hari ini."
Kabuto menatap Sasuke tak percaya. Tapi tak lama, Kabuto terkekeh pelan karena merasa mengerti.
"Aku akan membantumu memindahkan peralatan medis dari ruang kesehatan ke kamar ini," kata Sasuke lagi menambahkan.
Kabuto mengangguk. Lantas, dua lelaki dewasa itu segera bergegas menuju ruang kesehatan. Keduanya bekerja sama memindahkan peralatan-peralatan medis dari ruang kesehatan ke kamar tidur pribadi Sasuke. Lalu menyulap kamar tidur tersebut menjadi seperti sebuah kamar rawat rumah sakit.
Kini, perempuan itu tidak lagi terbaring di atas kasur tidur Sasuke. Dia terbaring di atas ranjang rawat, dengan infus di tangan dan pelbagai macam peralatan medis yang menancap di badan. Tapi masih berada satu lingkup dalam kamar tidur pribadi Sasuke yang luas.
Sasuke enggan keluar dari dalam kamarnya. Dia memilih duduk di pinggir ranjang tidurnya dan memerhatikan Kabuto dengan saksama yang sedang sibuk mengobati perempuan tersebut.
Kabuto menolehkan kepala. "Kau tidak keluar?" tanyanya seraya membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot.
Gelengan kepala adalah respons dari Sasuke atas pertanyaan Kabuto. Kabuto segera memutar kepalanya lagi dengan bibirnya yang sedikit menyeringai. Seperti bukan Sasuke. Batin Kabuto dalam hati. Sebenarnya ... Kabuto merasa sedikit terganggu dengan entitas Sasuke dalam kamar ini. Kabuto tidak terbiasa memeriksa pasien dengan ditunggui oleh seseorang yang tidak ada hubungannya dalam tindakan medis yang akan dilakukannya. Karenanya, hal tersebut membuatnya sedikit canggung dan tidak bebas dalam gerak-geriknya memberikan tindakan.
Akan tetapi, tentu saja Kabuto mencoba mengerti (lagi). Perempuan korban kecelakaan ini terlihat sangat cantik, meski matanya terus saja memejam karena kesadarannya yang belum datang. Kulit wajahnya yang putih bersih tanpa ada noda jerawat, bintik hitam dan komedo membuatnya semakin bersinar. Hidung mancung kecil. Belum lagi bibir tipis berwarna merah muda alami semakin menambah kadar kecantikannya.
Kabuto tahu, Sasuke takut dirinya akan bertindak macam-macam pada perempuan ini. Meski Sasuke begitu memercayai dirinya, tapi tetap saja Sasuke sadar jika Kabuto juga adalah lelaki dewasa normal yang mempunyai nafsu dan berahi. Jadi Kabuto berasumsi, bahwa pengawasan yang Sasuke lakukan ketika dia sedang memeriksa kondisi perempuan ini adalah tindakan wajar untuk kewaspadaan.
"Baju perempuan ini kotor, kita harus mensterilkannya."
Ketika mendengar Kabuto berucap demikian, Sasuke dengan lugas menjawab, "Biar aku saja yang menggantinya. Aku yang akan merawat perempuan ini, dan kau yang mengobatinya. Dokter Kabuto … kau mengerti maksudku, kan?"
Dengan gerakan perlahan Kabuto memutar badannya menghadap Sasuke. "Maksudmu … aku yang menjadi dokter, dan kau semacam ... perawatnya?"
"Hn," gumam Sasuke ambigu seraya menganggukkan kepala.
Bibir Kabuto melengkungkan kurva tipis mendengar jawaban Sasuke. Dia mengerti dengan apa yang Sasuke maksudkan. Keduanya akan bekerja sama dalam menangani perempuan ini. Kabuto yang bertugas menjadi dokter. Menangani, mengobati, mengoperasi, memberikan resep obat, serta tindakan-tindakan medis lainnya. Sedang Sasuke yang bertugas melakukan tindakan-tindakan perawatan lumrah seperti; mengganti pakaian pasien, menjaga kebersihan pada fisik pasien, dan menjaga kebersihan di area kamar agar tetap steril.
Kabuto menganggukkan kepala, lantas keluar dari dalam kamar. "Pakaikan piama longgar milikmu sebagai ganti baju pasien rumah sakit," ujar Kabuto tepat sebelum dia menutup pintu.
Mendengarkan saran dari Kabuto, Sasuke segera bergegas menuju lemari pakaian yang bertengger di sudut kanan kamar. Netranya dengan jeli mencari pakaian seperti yang Kabuto maksud. Setelah menemukannya, Sasuke dengan cepat menyentuh pakaian itu dan mengeluarkannya dari dalam lemari.
Sasuke melangkah perlahan mendekati ranjang rawat di mana perempuan berambut merah muda itu terbaring tergolek tak berdaya. Pandangan lurus Sasuke tertuju pada wajah perempuan ini. Ada percikan keraguan di dalam hatinya. Sasuke merasa dirinya menjadi seperti lelaki kurang ajar karena akan mengganti pakaian seorang perempuan tanpa izin terlebih dahulu. Namun ... tidak mungkin juga dia akan membiarkan Kabuto yang melakukan tugas ini. Sasuke merasa tak rela jika Kabuto harus melihat tubuh molek gadis ini. Sasuke skeptis kalau Kabuto akan curi-curi kesempatan di dalam kesempitan. Karenanya ... dengan cepat Sasuke membuat keputusan dan menawarkan diri agar dia saja yang mengganti pakaian yang dikenakan perempuan ini. Walau sebenarnya, Sasuke tak minat melakukannya.
Sebuah napas lelah pertanda frustrasi meluncur dari bibir Sasuke. Dilema di antara dua opsi kembali menyambangi. Haruskah Sasuke mengganti pakaian perempuan ini dengan mata terpejam? Yang artinya akan meraba-raba menggunakan feeling. Atau dengan mata terbuka, yang artinya akan melihat segalanya. "Sialan," desis Sasuke dalam dan pelan.
Meski Sasuke adalah seorang anti sosial yang sulit berempati pada orang lain. Tapi sungguh! Sasuke bukan laki-laki bejat. Hal kecil seperti ini ternyata dapat membuatnya geram.
Mengikuti naluri, akhirnya Sasuke memutuskan pilihannya. "Maaf," bisiknya lirih di telinga perempuan itu sebelum akhirnya Sasuke memulai tindakannya.
Tentu saja, tangan Sasuke tiba-tiba sedikit bergetar tanpa sebab. Apalagi ketika tangannya mulai menyentuh pakaian kotor yang perempuan ini kenakan. Dan ketika tanpa sengaja kulit keduanya juga saling bersentuhan. "Uchiha ... selalu profesional dalam segala hal," doktrinnya agar tersugesti, lalu memulai tindakan.
.
.
to be continued—
.
.
a/n: halo minna … akhirnya update juga. hhihi :D itu sasukenya sudah muncul kan? selamat menunggu chapter 3 ya xDDD semoga bisa update lebih cepat. hehe :D
untuk yang log in, harap cek pm ya :"))
reply reviews
Kayin: hhe, terima kasih :")) fansanime: hhe, semoga penasarannya semakin bertambah ya xDD Dewazz: ini sudah lanjut :")) Guest: ehehe, iya ini sudah update ya ) Guest: okay, sudah direvisi. terima kasih ya koreksinya )
thanks for reading. pembaca yang baik adalah pembaca yang meninggalkan jejak bagi authornya. concrete, criticism, and advice are very welcome (_)
mind to review? :"))
Uchihamelia
