Bohong, huh. Pernahkah dari kita merasakan kalau teman atau sahabat kita akan melakukan suatu kebohongan nantinya? Entah besar atau kecil, jika itu sudah terjadi dan mereka ingin kita memaafkan, bagaimana yang seharusnya kita lakukan? Memaafkannya begitu saja? Bertanya padanya, kenapa? Menjauhinya dan tidak ingin berbicara lagi? Atau... bersikap seperti biasanya saat bertemu? Jangan bodoh.

"Sudah waktunya untuk bangkit dari singgasanaku."

Seorang pria berjenggot dengan pakaiannya ala raja bangsawan tampak berdiri dari tempat duduknya. Sebuah senyum pun mulai diperlihatkannya kepada seorang wanita berpakaian tentara yang terlihat berjongkok hormat didepan tempat ia berdiri.

"Raja pertama, huh? 800 tahun telah berlalu, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Apa wajahnya sudah berubah ya?" Pria paruh baya itu tampak beberapa kali mengelus-elus jenggot hitamnya yang mulai memutih.

"Maaf begitu lancang baginda raja, sebenarnya ada maksud apa anda memanggilku kemari?" Tanya wanita tentara itu.

"Yah tidak terlalu penting sih. Aku hanya ingin memintamu untuk sedikit mencari tahu tentang identitas seorang gadis yang bernama Hyuuga Hinata itu."

"Apa hadiahnya?"

Sejenak, pria bermahkota itu menghela nafas. "Aku mulai mengerti kenapa kau selalu gagal masuk ke angkatan manapun. Meski selalu memakai seragam tentaramu itu, kau tidak layak menjadi seorang prajurit tahu." Katanya.

"Apa hadiahnya?"

"Yah yah aku mengerti, aku akan mengabulkan satu permintaan darimu apapun itu, kau puas?" Kata pria paruh baya itu begitu saja.

"Aku Liea Rosalia, seorang prajurit perempuan telah menerima perintah dari raja keempat, siap melaksanakan tugas!" Setelah mengatakan itu, wanita tentara itu pun pergi tanpa sepatah kata yang diucapkannya lagi.

Kembali, pria paruh baya itu hanya bisa menghela nafas. "Gadis yang aneh," bisiknya dalam hati.

"Maaf menyela baginda raja, apa perlu kami siapkan pesawat untuk pergi ke kerajaan raja kedua dan ketiga?" Seorang pria yang memakai pakaian ala pelayan bangsawan tampak berjongkok hormat disamping pria paruh baya itu.

"Anda terlalu berlebihan, wahai pelayanku. Tinggal menggunakan telepati saja, aku bisa memberitahu mereka tentang keberadaan raja pertama, meski sekarang teknologi telah maju, aku tidak akan pernah berhenti bergantung pada kekuatanku sendiri bukan kepada mesin. Bukankah aku sudah beberapa kali mengatakannya?" Tampak sedikit kemarahan mulai muncul dari raut muka sang raja.

"M-Mafkan saya, kalau begitu silahkan anda lanjutkan kegiatannya, permisi."

Bohong, huh. Pernahkah dari kita merasakan kalau teman atau sahabat kita akan melakukan suatu kebohongan nantinya? Entah besar atau kecil, jika itu sudah terjadi, bagaimana yang seharusnya kita lakukan? Memaafkannya begitu saja? Bertanya padanya, kenapa? Menjauhinya dan tidak ingin berbicara lagi? Atau... bersikap seperti biasanya saat bertemu? Jangan bodoh.

.

.

.

Eternal Reality

Chapter 2 : Kenyataan Yang kedua.

By. Ichido Subarashi

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : Naruto x Hinata

Warning (!) OOC, AU, OC, miss (typo), gunakan tempo lambat saat membaca, dll.

Hinata POV

.

.

Gelap, semuanya terlihat gelap.

Dimana aku?

Tempat apa ini? Semuanya hanya kegelapan yang terlihat, mungkinkah aku sudah mati?

"Kau sudah mati?"

Kenapa sekarang aku duduk sambil memeluk kedua kakiku? Lalu, kenapa aku menangis? Siapa yang aku tangisi?

"Mama."

Tiba-tiba seorang anak kecil berambut pirang berlari melewatiku. Dia laki-laki. Aku mencoba melihatnya, tetapi aku terlalu malas untuk itu. Kenapa?

"Papa."

Sekarang bayangan sepasang pengantin tampak berdiri didepanku. Yang kutahu, yang wanita berambut hitam kebiruan sama sepertiku, dan yang pria berambut pirang. Siapa mereka? Wajah mereka tak terlihat.

"Mama, Papa!"

Anak kecil tadi mendekati mereka.

"Kau sudah mati?"

Entah kenapa, saat aku mengerjapkan mataku satu kali, mereka mendadak saja tidak ada. Anak itu, bayangan sepasang pengantin itu, mereka semua menghilang. Ada apa?

"Ohayou, Milady."

Aku mendengar suara, seperti suara seorang nenek tua, suaranya terdengar bergetar. Tetapi, aku belum juga melihat wujudnya.

"Aku bilang... OHAAAYOOU MIILAADY!"

Tiba-tiba seorang wanita terlihat muncul didepanku. Dia membungkuk menatap wajahku sangat dekat. Kedua bola matanya tampak hancur dengan pecahan kaca yang menancap disana, wajahnya seperti meleleh, pipi kananya juga tampak sudah sobek hingga memperlihatkan gigi-giginya yang hitam, dan darah pun mulai terlihat mengalir kemudian menetes-netes dari pelipisnya. Aneh. Kenapa aku tidak merasa takut sedikit pun?

"Apa maumu?" Kataku datar padanya.

Dia tampak menyeringai sekarang. "Hoo, apa ini balasan dari seorang ratu esper setelah kubantu mengembalikan beberapa ingatannya yang telah lama hilang?" Jawabnya.

Ratu esper? Ingatan yang telah lama hilang? Apakah... apakah itu ada hubungannya dengan mimpi aneh yang kualami saat itu? Mimpi aneh yang kualami ketika aku tiba-tiba pingsan kemaren.

"Benar, milady."

Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba kudengar suara lonceng entah darimana terdengar begitu saja. Wanita itu masih menatapku sangat dekat dengan kedua tangannya yang mulai meraba-raba wajahku. Anehnya, aku merasa tidak peduli dengan hal itu. Kenapa?

"Apa kau bertanya-tanya, kenapa sekarang kau tidak merasa takut sedikit pun? Apa... kau ingin kuceritakan sebuah cerita?" Kurasakan, tanpa seizinku dia menjilati begitu saja pipi kananku. Tapi, aku membiarkannya.

"Aku mengerti aku mengerti, tanpa kekuatan esper milikmu kau memang hanya manusia normal saja." Katanya, sekarang dia kurasakan sedang menciumi rambutku. Aku diam saja.

"Memang aku peduli." Kataku datar, lagi.

Kulihat, ekspresi kemarahan mulai tampak diwajahnya yang rusak. "JAANGAAAN MEMBUATKU MARAH! KAUUU HARUUS PEEDULIII!"

Aku sejenak terdiam. Kenapa dia malah membentak sekeras itu? Didepan wajahku lagi. Apalagi nada suaranya, terdengar aneh.

"Baiklah, katakan saja apa yang ingin kau katakan." Kenapa aku masih begitu tenang?

Sekarang, wanita itu tampak tersenyum walau masih terlihat menyeramkan.

"Terima kasih, milady. Aku akan menceritakan suatu cerita padamu. Tolong didengarkan, dan jika kau tidak mendengarnya... aku akan meledakkan otakmu."

Dia sejenak terdiam, sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya. Tangannya juga masih menggerayangi seluruh wajahku.

"Kejadian itu, terjadi saat 865 tahun yang lalu, tepat ketika dua jenis manusia saling bertarung. Manusia norm dengan manusia esper. Manusia norm yang bergantung pada kekuatan kami para setan dan manusia esper yang bergantung pada energi mereka sendiri serta alam. Peperangan yang akan menentukan manusia jenis apa yang lebih baik hidup di dunia, peperangan yang akan membuat segumpal darah menjadi lautan darah, peperangan yang telah membuat kami para setan mulai menikmati karena banyak sekali orang-orang yang saling membunuh. Bertarung dan bertarung, terus dan terus hingga tak ada yang tersisa sedikit pun, kecuali pemimpin mereka. Sang ratu esper, Hyuuga Hinata. Dan, sang kaisar pemimpin dari manusia norm, Ran Ryuu. Pertarungan sengit mereka sangat menakutkan, bahkan sampai 3 hari 3 malam mereka masih bertarung. Gunung hancur, lautan terbelah, awan terbilas habis, tanah merekah, suara bising dari mereka yang saling adu kekuatan terus terdengar. Kekuatan mereka seimbang. Kemarahan, kebencian, balas dendam terus saja menggetarkan seluruh benua Asia. Tak ada yang bisa menghentikan pertarungan abadi mereka. Mereka tidak akan pernah merasa lelah setelah dari mereka mati. Kami para setan merasa sangat senang dengan perang kedua pemimpin itu. Kami pun terus membisikkan ke telinga mereka berdua. Hancurkan, hancurkan semuanya, hancurkan semuanya tanpa tersisa, jangan biarkan salah satu dari kalian terus hidup, hancurkan, HANCURKAN!"

Dia semangat sekali bercerita.

"Tapi, kesenangan kami tidaklah lama. Hingga, mereka datang."

Mereka?

"Raja pertama, raja kedua, raja ketiga, raja keempat. Mereka bekerja sama membuat pertarungan kedua pemimpin itu berhenti. Kami sangat marah. Jangan biarkan mereka mengganggu pertarungan kalian, jangan biarkan, bunuh mereka, bunuh mereka, SEKARANG! Kami berbisik pada kedua pemimpin itu. Tapi, kekuatan keempat raja bukanlah tandingan mereka. Mereka berdua pun terpaksa menghentikan pertarungan. Dan hidup dengan damai di dunia penuh derita ini."

T-Tunggu, aku baru sadar. Kurasa tadi, aku mendengar dia mengucapkan namaku.

"Bangsa setan telah terlanjur menikmati peperangan itu, kami ingin lagi, kami ingin lagi! Kenapa harus dihentikan? Terus, cepat, lanjutkan, jangan berhenti! Kami sangat marah. Bisikkan kami tak berguna karena adanya keempat raja sialan itu. Kami marah, kami sangat marah. Keempat raja sialan itu... KAMI AKAN BENCI SELAMANYAAAA!"

Aku tidak terlalu paham kenapa namaku juga ikut kedalam ceritanya. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan cerita yang djelaskannya secara panjang lebar itu. Nyatakah apa yang dia ceritakan?

"Apa kau mendengar ceritaku, milady?" Tanyanya dengan wajahnya yang penuh harap agar aku menjawab, ya.

Aku menatapnya datar. "Tidak." Jawabku singkat.

Aah, dia sepertinya akan marah lagi, marah besar. Entah kenapa, aku merasa tidak peduli.

"K-Kau! Aku sudah berbaik hati padamu menceritakan cerita yang panjang... KEEENAPAA KAU TIDAK MENDENGARKANNYAAA!" Lagi-lagi dia membentak.

Aku tersentak hebat ketika mendadak saja kepalaku terasa sakit sekali. Aku memegang erat kepalaku dengan kedua tangan. S-Sakit sekali! Ada apa ini?! Kenapa tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit?! Sakit! Sakit sekali?!

"Kau adalah ratu esper."

"Bukan reinkarnasi."

"Kau adalah ratu esper."

Siapa yang berkata itu?

H-Hah? K-Kepalaku, kepalaku sudah tak sakit lagi.

"Kau adalah ratu esper."

"Bukan reinkarnasi."

"Kau adalah ratu esper."

Suara itu terdengar lagi. Seperti suara... diriku sendiri yang tengah berbisik ketelingaku. Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti tentang semua ini. Ingatan yang hilang, ratu esper, aku masih belum percaya.

"Aku akan membunuhmu."

Aku menatap wanita itu. Dia tampak mengangakan mulutnya sangat lebar. Dan seketika itu, muncul sepasang tangan dari lubang kerongkongannya. Kedua mataku mendadak menyipit ketika suara tawa nenek-nenek tiba-tiba terdengar menggema dimana-mana. Suara siapa? Wanita itu? Bukan, sepertinya bukan. Kulihat, dia tampak masih sibuk mengangakan...e-e apa itu?

Sangat besar, panjang, menggeliat, menjijikan, dan tepat didepanku. Lintah, kah? Mulutnya bulat dengan gigi-gigi bagai gergaji, serta tubuhnya yang hitam dan tampak... licin. Heh, lagi-lagi aku tidak merasa takut.

"AKU AKAN MEMBUNUHMU!"

Jadi... hewan raksasa ini adalah jelmaan wanita tadi? Aku tidak mengerti kenapa aku berpikir seperti itu.

H-Hah? Kenapa ini? K-Kenapa tanganku bergerak sendiri? Aku sedikit gelisah ketika tangan kananku tiba-tiba terangkat dengan sendirinya. Ada apa ini? Tanganku bergerak begitu saja. Dan, sekarang aku bisa merasakan ada seseorang yang menarikku keatas.

"Hinataaaa...!"

S-Suara itu?

"Hinataaaa...!"

Sepertinya aku kenal.

"Hinataaaa...!"

N-Naruto-kun?

"Dasar bodoh! Cepat genggam tanganku agar aku bisa mengeluarkanmu!"

Terang, mendadak saja sekelilingku yang tadinya gelap sekarang mulai terang. Apa yang terjadi? Kenapa aku seperti habis keluar dari dalam mulut seekor hewan raksasa? Apa yang terjadi sebelumnya? Naruto? Kenapa saat ini aku melihatnya sedang menarik tanganku dari atas? Ada apa ini?

.

Flash Back

Pukul 05:30, aku menatap jam kecil berbentuk persegi panjang di meja dekatku berbaring. Sambil beberapa kali meregangkan tangan dan kaki, aku pun langsung terduduk kemudian berdiri dari tempat tidur. Hari yang akan menjadi menyenangkan bagiku, kataku dalam hati. Tidak seperti biasanya aku akan tersenyum setelah bangun tidur. Mungkin, hari-hari yang lalu aku biasanya akan langsung pergi ke kamar mandi dengan rasa malas. Tapi hari ini, apakah karena dia ada disini ya? Ah, aku jadi tidak sabar mendengar suaranya yang imut itu. Naruto, aku akan mulai membiasakan diri memanggil nama depannya.

"Naruto-kun."

Aku mulai berlatih memanggilnya. Sambil berjalan kearah tempat dimana aku biasa mandi, aku terus mengucapkan nama itu.

"Naruto-kun."

Entah kenapa aku merasa senang mengucapkannya.

"Naruto-kun."

Tak peduli dengan diriku yang selalu malu jika memanggil orang lain, aku ingin mengucapkannya terus.

"Naruto-kun."

Hah, mandi sudah, pakai baju sudah, dandan sudah, tinggal memasak. Kyaaa kenapa aku malah bertingkah seperti seorang istri? Ah, bodoh amat. Oh iya, aku jadi ingat dengannya, apa keluarga Naruto-kun tidak khawatir ya saat mereka tahu dia tinggal dirumahku? Mungkin, aku akan menanyakannya nanti.

Aku sudah berada di depan pintu kamar Naruto-kun sekarang. "Naruto-kun, sarapannya sudah siap." Kataku sambil mengetuk pintu. Dasar bodoh, kenapa aku malah bertingkah seperti seorang ibu? Bodoh! Bodoh!

Pintu pun mulai terbuka, memperlihatkan Naruto-kun yang sepertinya baru saja bangun. Sudah kuduga, dia masih tampak sangat imut dan menggemaskan. Aku jadi ingin sekali memeluknya!

"Ya ampun, aku selalu heran denganmu, Hinata. Kenapa kau senang sekali membuat dirimu sendiri menjadi repot sih? Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak... h-hey apa yang kau lakukan?"

"N-Naruto-kun kawai!"

Aku sudah tidak tahan lagi, aku langsung memeluknya erat!

"H-Ha?"

"Kumohon, biarkan aku memelukmu seperti ini, sebentar saja."

"E... b-baiklah, aku mengerti."

"Ah, terima kasih!"

Aku semakin gemas saja padanya.

Dia pendek, dia kecil, suaranya imut, rambutnya pirang, dia punya 3 garis disetiap pipinya, itulah Naruto-kun. Saking gemas aku padanya, aku pun berkali-kali menggesekkan pipiku sendiri kepipinya.

Entah kenapa aku sangat berharap kalau aku ingin dia selalu bersamaku.

"Aku ingin pergi bekerja. Apa kau tidak apa kutinggal sendirian?" Kataku, saat aku selesai menghabiskan sarapan.

Terlihat, Naruto-kun masih sibuk memakan masakan yang kubuat tadi. "Jangan khawatir, aku tidak akan apa. Dan, tentang piringnya, biar aku yang mencucinya nanti." Katanya dengan mulut yang penuh makanan. Aku tersenyum melihatnya.

"Kalau begitu, aku pergi dulu, jaa" Kataku, kemudian berjalan keluar rumah.

Haaah, beginikah rasanya bila ada orang yang akan menunggu kedatanganku di rumah nanti? Indah, indah sekali.

Tak sadar, setelah berjalan lama akhirnya aku pun sampai juga di tempat kerjaku. Restaurant Ichiraku, disitulah aku bekerja. Sebagai seorang kepala koki, yaitu chef. Jangan tanya kenapa aku tadi berjalan saja saat pergi kesini. Rumahku dari sini hanya berjarak 300 meter, jarak yang dekat bukan? Lalu, kenapa aku harus repot-repot naik taksi?

"Ohayou Ayame-san." Aku membungkuk sebentar ketika seorang wanita berambut coklat panjang keluar dari restaurant itu. Dia tampak sedikit marah melihatku.

"Kau terlambat 20 menit, Hinata." Katanya sambil berkaca pinggang. Sudah kuduga, dia pasti akan marah padaku. Apa aku harus bilang, terlambat karena bangun kesiangan? Tentu saja tidak, pasti akan gawat jika aku mengatakan itu. Mungkin saja, dia akan memecatku. Yah benar, Ayame-san adalah pemilik restaurant Ichiraku. Tak heran, jika dia terlihat marah padaku sekarang. Restaurant Ichiraku buka pada pukul 6 pagi, dan untuk para pekerjanya harus datang 10 menit sebelum restaurant dibuka. Tapi aku malah datang 20 menit setelahnya. Bodohnya diriku ini.

"Kita sudah mendapat banyak pelanggan, cepat pergi ke dapur dan pakai seragammu, lalu segera lakukan tugasmu."

Sebentar, aku pun membungkuk padanya sebelum kemudian berjalan cepat masuk ke restaurant. Saat itulah, aku bisa melihat banyak orang yang tampaknya sedang menunggu pesanan mereka datang. Belum lama restaurant ini buka tapi sudah dipenuhi pelanggan, inilah restaurant Ichiraku. Sering ramai karena menu yang disajikan selalu enak dan menarik perhatian.

"Ohayou minna-san." Ucapku keras saat memasuki dapur.

"Ah syukurlah anda datang."

"Kami sangat kerepotan disini karena anda tidak ada."

"Kukira aku akan dipecat."

Aku tersenyum. Mereka menungguku rupanya. Ah indahnya.

Dengan keras, aku pun menepuk kedua telapak tanganku. "Hora hora! kalau begitu ayo kita lakukan sebaik mungkin. Lee-san, ada berapa pesanan yang masih belum disajikan?" Aku menatap pemuda berambut poni yang berpakaian ala pelayan restaurant didekatku.

"39 pesanan!" Katanya penuh semangat seperti biasa.

"Chef Hinata, apa anda tidak memakai seragam terlebih dulu?" Salah seorang koki yang perempuan bertanya padaku.

"Tidak ada waktu untuk itu, para pelanggan sedang menunggu pesanan mereka." Aku melihat daftar pesanan pelanggan.

"Wah, hari ini chef Hinata sepertinya sedang sangat bersemangat."

"Yosh, kita mulai masaknya..."

Aku sudah tidak peduli lagi. Hari demi hari selalu sama bagiku, tak ada yang berubah. Tidur, makan, mandi, kerja, kuliah, selalu sama. Begitu membosankan. Ingin sekali aku pergi dari dunia ini, tapi sayangnya aku tidak punya alasan kuat untuk itu. Lalu, untuk apa aku hidup? Aku ingin segera mati.

"Iris bawangnya dengan cepat!"

Sepertinya aku mulai menikmati hidupku. Aku jadi teringat kata-kata yang diucapkan Naruto-kun kemaren. Lihat orang-orang disekitarmu sebelum melakukan itu, huh? Sangat keren.

"Ah aku menumpahkan kuahnya! Bagaimana ini?"

"Jangan menyerah, akan kubantu membuatnya!"

"Chef Hinata, anda terlalu baik."

Kehidupan dunia nyata itu selalu saja merepotkan. Mengenal, berteman, bersahabat, dikhianati. Inilah realita dalam dunia nyata. Dihajar atau menghajar. Selalu saja putus asa. Dijatuhkan atau menjatuhkan. Selalu saja egois. Memilih jalan terang atau lari dari masalah. Selalu saja ada keraguan.

"Oke, selanjutnya letakkan sajiannya di meja depanku!"

Aku... ingin pergi ke tempat dimana aku bisa melihat air terjun dengan taman bunga disekitarnya. Pergi ke tempat yang indah, dimana matahari bersinar begitu cerah disana. Dimana aku bisa berdua saja dengan seseorang.

"Terlalu banyak garam! Kemanisan! Tambah sedikit merica!"

Tapi, itu hanyalah pemikiran yang egois. Waktu itu, aku memang terlalu cepat hanya untuk sekedar berpikir. Selalu memutuskan tanpa melihat sekitar. Namun, untuk sekarang dan nanti aku telah memutuskannya. Bahwa aku tidak ingin lagi pergi ke tempat itu. Tempatku disini, di dunia ini. Bersama orang-orang didekatku, aku akan mencoba menikmatinya.

Haah, akhirnya pekerjaanku selesai juga hari ini. Sudah pukul 17:00, aku menatap jam tangan yang kupakai. Apa yang sedang dilakukan Naruto-kun di rumah ya? Aku jadi ingin cepat-cepat pulang.

"Sampai jumpa semuanya!" Aku berpamitan pada semua teman-temanku tadi untuk pulang lebih dulu. Aku bertugas sebagai kepala koki restaurant Ichiraku hanya pada hari senin dan jum'at saja. Yah benar, aku hanya bekerja dihari itu. Dijadwal, maksudnya.

"Haaah hari yang begitu melelahkan."

Tak sadar, aku pun telah sampai di taman kota, tinggal beberapa langkah lagi menyusuri tepi jalan raya ini aku akan sampai rumah.

"Naruto-kun."

Aku mencoba menghibur diriku sendiri dengan mengucapkan nama itu.

"Naruto-kun."

Entah kenapa, aku merasa nyaman saat bibirku terus mengucapkannya.

"Naruto-kun."

Tiba-tiba saja aku menghentikan langkah kakiku. A-Apa ini? Lagi? Perasaan yang sama ketika aku akan melihat wanita aneh kemaren. Lagi? Langit menjadi warna hitam, orang-orang serta benda-benda disekitarku mendadak mematung. Lagi? Perlahan, perasaan gelisah pun mulai memenuhiku.

"Hinataaaa...! Cepat lari dari sana!"

H-Hah? Kenapa sekarang aku melihat Naruto-kun tampak tengah berlari kearahku dari jauh? Dia terlihat mengulurkan tangan kanannya kearahku, seperti ingin meraihku meski ia masih berada di tempat yang cukup jauh dari tempatku dan tak mungkin meraihku.

"Aku mendapatkanmu!"

Aku menengok kebelakang ketika sebuah suara terdengar. Suara yang berat dan keras. Seketika itu, kedua mataku terbelalak saat kutahu hewan atau apalah itu yang berukuran sangat besar sudah mengangakan mulutnya lebar-lebar disana. Aku tidak tahu seberapa besar makhluk itu, karena sekarang kurasa aku sudah ada didalam mulutnya.

"Hinataaa...!"

Aku mendengar Naruto-kun sedang meneriakan namaku.

"Hinataaa...!"

Suaranya, semakin lama, semakin lama terdengar samar.

Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku merasa... sangat mengantuk sekarang. Aku sudah tak mendengar apapun. Gelap, sangat gelap. Aku sudah tak melihat apapun lagi. Aku... sangat mengantuk. Aku juga... ingin tidur sekarang. Aku sudah terlalu le...lah.

.

Flash Back END

"DASAR BODOH! CEPAT PEGANG TANGANKU ERAT AGAR AKU BISA MENARIKMU DAN MENGELUARKANMU DARI MULUT SETAN SIALAN INI!"

Aku mulai mengerti, jadi sejak tadi aku ada dalam perut setan yang tiba-tiba melahabku? Tak heran jika aku tadi bisa berbicara secara dekat terhadap salah satu setan yang wajahnya tampak hancur. Walaupun aku sempat tidak mengerti kenapa aku tidak merasa takut sedikit pun padanya?

"Sialan kau! Dia adalah makanankuuuu jangan mencuuurinyaaa! Kembalikan... KEMBAAALIKAAN!"

Sekarang, aku merasakan Naruto-kun sedang menggendongku didepan. Aku pun hanya bisa mengamati sekeliling, untuk memeriksa dimana kami sekarang.

Kami...

Kami...

Kami...

Kami ada di atas gedung!

Bagaimana bisa?! Bukankah sebelum semua ini terjadi aku sedang ada di tepi jalan raya? Ini sungguh tidak masuk akal! Apalagi tentang apa yang kulihat sekarang.

Seekor ulat, b-bukan sepertinya seekor lintah, ya seekor lintah raksasa sebesar ukuran pesawat tampak menggeliat sambil melayang-layang seperti tak terpengaruh oleh gaya gravitasi bumi, dia berada tepat diatas kami! Berwarna hitam mengkilap, mulutnya bundar bergigi runcing dengan air liur yang terus menetes-netes dari sana, dan dia terus mengeluarkan suara dengkuran yang keras. Begitu... menjijikan.

"Jawab aku, Hinata! Apa kau tidak apa-apa?!"

Aku menatap Naruto-kun yang saat ini masih menggendongku. Dia terlihat sangat khawatir, dan aku melihat... air mata. Apa dia baru saja menangis?

"Naruto-kun."

Aku tersenyum padanya, dia juga tampak tersenyum. Sambil sedikit mengelap yang kurasa memang air mata dipipinya dengan telapak tanganku, aku hanya bisa berkata kalau aku tidak apa-apa. Tetapi, bukannya dia terlihat senang, dia malah tampak marah. Bukan kearahku, tapi kearah setan yang saat ini masih melayang-layang diatas kami.

"Setan sialan! Aku tidak akan memaafkanmu!" bentaknya sangat keras.

"Haaaa... kenapa kau? Kenapa kau mencuri makananku?! Kembalikan! KEMBAALIKAAAAN!"

Setan berbentuk lintah itu tampak mulai menggila dengan menggeliat begitu hebat, hingga banyak memuntahkan cairan putih terang dari mulutnya ke beberapa tempat dan membuat tempat-tempat tersebut meleleh begitu saja. Bahkan, sempat Naruto-kun harus berlari menghindar agar tidak terkena cairan panas itu.

"Cih! Setan yang merepotkan!"

Jarang sekali aku mendengarnya mendengus seperti tadi. Apa yang kurasakan sekarang ini benar? Naruto-kun seperti ini karna aku? Dia marah karena aku? Dia khawatir padaku? Dia menangis untukku? Dia ingin menyelamatkanku lagi, lagi, lagi, lagi? Beginikah... beginikah rasanya jika ada seseorang yang menganggapku istimewa baginya? Beginikah rasanya jika ada seseorang yang mencintaiku dengan tulus? Hah, begitu... indah.

"C-T-O, R-V-U, Y-N-G, L-P-A-"

Sekarang, kudengar Naruto-kun tengah mengucapkan beberapa huruf abjad dengan bahasa inggris. Apa dia sedang bermain ya? Atau, jangan-jangan itu semacam mantra? Entahlah, aku tidak terlalu ingin tahu.

"N-S-A, F-T-Z, H-C-W, X-K-I, D-W-V."

Akhirnya, dia pun selesai juga mengucapkan huruf-huruf yang belum kuketahui apa maksudnya, dan seketika itu kulihat secara perlahan kedua mata Naruto-kun tampak mulai bersinar berwarna biru terang. Sama seperti waktu itu.

Dia menurunkanku, sudah tak menggendongku. Kedua tangannya terlihat diangkatnya tinggi-tinggi kearah setan berbentuk lintah itu. Dan lagi-lagi, dia mengucapkan sesuatu yang aku tak tahu maksudnya.

"Wahai kekuatan imag yang telah tertidur dari dalam pikiran, cepat bangun dan turuti perintah tuanmu, cepat bangun dan bantulah tuanmu ini memasukkan setan sesat yang sekarang sedang mengotori keindahan langit diatas ke kotak penderitaan, bantulah tuanmu ini mengurungnya ke tempat dimana dia akan dikurung dan dipenjarakannya selama 1000 tahun, segeralah bangun dan turuti perintah tuanmu!"

Mendadak saja, terdengar suara petir menggelegar dari arah langit. Aku tidak terlalu mengerti, tapi saat ini sepertinya langit diselimuti oleh awan hitam dengan banyak petir yang menyambar-nyambar.

"Kenapa ini? Ada apa ini?! KENAPAAAA?!"

Mataku terbelalak seketika, saat kulihat tiba-tiba semacam sepasang tangan yang sangaaaaaat besar meremat tubuh setan berbentuk lintah itu. Suara rintihan dan jeritan seperti suara nenek-nenek mulai terdengar dari mulutnya yang menjijikan. Kurasa aku bisa menebak kalau sepasang tangan raksasa itu muncul dari langit. Tak diherankan kalau semua yang diucapkan Naruto-kun tadi itu adalah semacam mantra, aku bisa melihat raut wajahnya yang saat ini diperlihatkannya padaku. Dia tersenyum seperti menyeringai.

Sekarang, aku dapat melihat setan berbentuk lintah itu seperti ditarik oleh sepasang tangan raksasa yang muncul dari langit itu. Jauh, semakin jauh dari pandanganku. Naik, semakin naik dari permukaan. Tinggi, semakin tinggi hingga tak terlihat karena tertutupi awan hitam berpetir yang belum lama tadi muncul. Aku pun hanya bisa terpana melihat semuanya terjadi.

"K-Tu, K-Tu, K-Tu, K-Tu, Q!"

Lagi-lagi dia mengucapkan huruf-huruf dengan bahasa inggris.

"Stop!"

Kedua mata Naruto-kun terlihat sudah tak bersinar lagi seperti tadi. Dan kulihat, awan hitam berpetir diatas tampak berhamburan hilang begitu saja kemudian langit yang tadinya hitam sekarang telah kembali seperti semula yaitu berwarna biru. Ada apa? Apa sudah selesai? Jangan tanya padaku, karena aku tidak tahu kenapa. Yang kutahu, saat ini waktu telah kembali berjalan.

"Haaah, setan yang sangat merepotkan. Kalau kekuatanku tidaklah tersegel aku mungkin tidak harus melakukan hal-hal yang capek seperti ini." Naruto-kun tampak tersenyum padaku. Sekarang tangan kirinya kurasakan sedang sedikit menarik bajuku. Dia masih tersenyum.

"Ayo pulang, semuanya baik-baik saja, tidak perlu khawatir, aku akan membereskan-" Tiba-tiba saja tangan kanannya memegangi kepalanya. Dia tampak menunduk dengan ekspresi kesakitan setelah tadi menghentikan perkataannya begitu saja. Kenapa?

"Ada apa? Apa Naruto-kun sedang SAK-k-kit?" Kurasakan, mendadak saja tangan kiri Naruto-kun telah menggenggam erat dan meremat kuat salah satu tanganku. Sakit sekali. Apa yang dia lakukan sih? Kenapa tiba-tiba meremat tanganku?

"Aku... harus... membunuh! Harus... membunuh! Membunuh! Harus!" Dia menatapku sambil menyeringai dengan matanya yang menyala merah entah sejak kapan. Aku juga menatapnya. Naruto-kun terlihat aneh sekarang. Wajahnya pucat, rambutnya tampak berantakan, nafasnya tersenggal-senggal, dan 3 garis yang terdapat dipipinya juga tampak menebal. Ada yang tidak beres.

"Akhhh...!"

Aku memekik sangat keras saat kurasakan secara mendadak sesuatu semacam kepalan tangan telah menghantam perutku sedemikian kerasnya hingga membuatku serasa ingin mual. Sakit sekali! Ada apa sih sebenarnya?

Lagi-lagi kedua mataku terbelalak saat kutahu ternyata orang yang tiba-tiba menghajar perutku itu adalah Naruto-kun sendiri. Aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya. Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengannya?

Kembali, kurasakan sebuah pukulan pun menghantam keras perutku sekali lagi. Aku berteriak kesakitan. Aku terpental. Aku jatuh dari atas gedung. Aku jatuh dari atas gedung. Aku jatuh dari atas gedung. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati!

"Apakah... aku akan mati dengan keadaan seperti ini?" Aku bergumam pelan.

Sebentar, aku pun menatap bayangan diriku sendiri di dinding kaca gedung. Aku bisa melihat diriku sendiri disana. Kepalaku ada dibawah dan kakiku... ada diatas. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan... mati.

Bohong, huh. Pernahkah dari kita merasakan kalau teman atau sahabat kita akan melakukan suatu kebohongan nantinya? Entah besar atau kecil, jika itu sudah terjadi dan mereka ingin kita memaafkan, bagaimana yang seharusnya kita lakukan? Memaafkannya begitu saja? Bertanya padanya, kenapa? Menjauhinya dan tidak ingin berbicara lagi? Atau... bersikap seperti biasanya saat bertemu? Pilih saja. Jangan bodoh.

.

.

.

.

To Be Continued.

Wah maaf untuk semua yang udah nunggu kelanjutan fic Eternal Reality, kemarin kepala saya sakit, suwer sakit ga bohong, jak 3 hari baru sembuh tuh sakitnya. Yah alhamulillah lah bisa sembuh.

Oh ya, saya mau ingatkan sekali lagi, fic ini beralurkan mundur, jadi jangan cemas kalau ada yang ngeganjel, ntar juga dijelasin di chapter-chapter selanjutnya. Buat chapter next, sepertinya aku akan lebih sibuk. Sibuk nonton anime. Kwkwkwkw!

Yah, baru-baruini saya nemu banyak anime bagus jadi sibuk download. Seperti, Black Bullet (Anime ini soundtrack maupun ceritanya bagus), Btooom! (Anime yg jadi top 10 anime terbaik di tahun 2013, kirain background anime ini di indonesia tepatnya di pulau komodo karena ada komodo sebagai penghalang dan setahu saya hewan itu hanya ada di indonesia, udah seneng banget ada anime dengan tempat di indonesia eh pas tahu di australia juga ada meski itu di kebun binatang ga jadi seneng, ck ;)), Campione! (Anime yang bersumber dari novel), dan masih banyak lagi (Kyokai no Kanata, Evangelion, To Aru Majutsu no Index, To Aru Kagaku no Railgun, dan lain-lain)