Hari masih cukup pagi namun matahari sudah naik sepenggalah. Kris Wu duduk di bangku kemudi Lexusnya, musik cadas yang memekakkan telinga menggema tak teratur di dalam badan mobil itu, dan bau rokok dimana-mana. Persetan dengan aturan tak boleh merokok dalam mobil, ia sedang sendirian dan ini bukan mobil pinjaman. Bebas adalah gaya hidupnya dan aturan bukanlah style-nya. Mungkin ia bisa menjadi pemuda baik dan sopan di beberapa situasi, tapi tidak sekarang.

Mobilnya memasuki lahan parkir sebuah gedung apartemen mewah. Ia akan mengunjungi apartemen Tao sekali lagi, padahal Kris sendiri tidak tahu apakah Tao sudah pulang atau belum. Ada sedikit perasaan yang mengharuskan ia ke kediaman Tao pagi-pagi seperti ini. Ada sedikit 'harapan' dalam benaknya bahwa Tao sudah pulang.

Sepenting itukah kepulangan Tao?

Kris sendiri bahkan tak yakin.

Sesudah mendapat tempat untuk memarkirkan mobilnya, Kris keluar dari mobil. Rokok ketiganya hari ini yang masih setengah ia buang ke lantai semen dan diinjaknya dengan Nike Air special edition-nya yang baru ia beli minggu lalu. Kacamata hitam menghiasi wajahnya dengan apik, begitu berkharisma. Ia berjalan beberapa langkah meninggalkan mobil dan ketika sebuah tombol di kunci mobilnya ia tekan, bunyi beep nyaring dua kali terdengar bersama dengan lampu mobilnya yang berkedip merah beberapa kali sebelum mati.

Lantai sebelas kamar nomor 1105. Sebelas untuk November, bulan kelahirannya, dan lima untuk Mei, bulan kelahiran Tao. Pria itu sudah menempati apartemennya bahkan sebelum mengenal Kris. Hidup selalu mengejutkan.

Kris mengernyit heran dan melepas kacamatanya ketika melihat pintu apartemen Tao terbuka. Ada rasa senang menyergap hatinya karena Tao kembali, namun penasaran tetaplah penasaran. Jadi, tak ada senyum di bibir Kris saat itu.

Ruang tamu Tao berantahkan. Pria pirang itu kaget dan wajahnya menunjukkannya secara gamblang. Bunga diatas meja tamu layu terinjak di lantai, vasnya sudah menjadi serpihan dan airnya menggenang. Foto-foto dalam figura yang berisi foto pribadinya dan bahkan Kris sudah tak ada di tempat. Kris mencari dan ia menemukannya masuk ke tong sampah di sudut ruangan. Laci-laci nakas terbuka dan sebagian isinya berserakan. What kind of hell is this?

"Tao?" Kris memanggil. Ia berjalan dengan hati-hati dan jemarinya menyusuri tembok. Sebentar ia melongok ke arah pantry, tempat itu memang tak kacau balau tapi satu set pisau milik Tao tak ada di tempatnya, salah satunya sudah berpindah ke ruang tamu.

Pintu kamar Tao juga terbuka dan secara tak langsung menggoda Kris untuk masuk. Sama kacaunya dengan ruang tamu, bahkan bulu-bulu lembut dalam bantal Tao berhamburan di atas ranjang dan lantai. Sebuah pisau menancap di bantal yang lain, namun isinya masih didalam. Kris melihat kerak-kerak di ujung ranjang Tao yang terbuat dari kayu dan tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa itu adalah sperma yang mengering. Entah milik siapa, yang jelas antara Kris dan Tao sendiri. Keadaan yang menyedihkan.

Kris menoleh ketika mendengar suara isak. Tao memojok, benar-benar di pojok dan bersembunyi dibalik bayangan. Lengannya memeluk lutut dan ketika Kris menghampirinya, pipinya tergores luka memanjang yang tidak dalam namun mengeluarkan darah. Ia menggigil dan pupilnya bergerak tak tentu arah seperti orang buta. Kris menepuk-nepuk pipinya hingga akhirnya Tao merespon.

"Kris…"

Kris menelusupkan jemarinya diantara genggaman erat Tao pada lututnya sendiri. Ia menunjukkan perhatian yang tulus. "Ada apa denganmu?"

Tao menggeleng cepat. Nafasnya memburu dan dadanya sesak. Pusingnya menjadi-jadi dan kepalanya terasa seperti dirajam batu raksasa.

Kris menepuk-nepuk pipi pria itu lagi ketika Tao kembali tak fokus.

"Sayang, katakan padaku, oke?"

Tao memejamkan matanya. Kedua tangannya menempel di telinga dan ia menggeleng cepat. Ia ingin menangis, namun airmatanya tak keluar. Tao bukan banci seperti yang Jiayi katakan, dan ia harus membuktikan itu. "Semua baik-baik saja! Semua baik-baik saja!"

Kris mendesah kesal. Jemarinya menyisir poninya dramatis ketika ia mengadah ke langit-langit. Kemudian ia menatap Tao kembali dan tak sengaja sudut matanya menangkap sobekan-sobekan kertas di dekat Tao. Ia mengenali map disamping sobekan kertas tersebut, map perpanjangan kontrak hubungan palsunya bersama Tao.

Kris mendelik, emosinya di ubun-ubun. "Jangan katakan Jiayi kemari!"

Tao mengadah menatap mata elang itu. Sebongkah iris yang ia kagumi, yang ia cintai. Tao menggeleng. "Jiayi tidak bersalah, Kris. Ia pantas cemburu."

"Cemburu dan menghancurkan tempat tinggalmu?!" Kris meninggikan nadanya. "Gila!"

"Jangan marahi Jiayi." Tao menggenggam tangan Kris, bermaksud menenangkannya. Bibir bawahnya ia gigit sendiri, berusaha kuat mengatakannya. "Karena akulah yang kedua."

.

.

.

Esclave

2. Let Me Go

© Jonanda Taw

.

Pair : Kris Wu X Huang Zitao

Genre : Angst, Romance

Rated : NC

WARNING! SO MANY SMUT SCENE HERE!

IF YOU DON'T LIKE IT, PLEASE LEAVE THIS PAGE

Thank you

Disclaimer : Saya tidak memiliki apa-apa di FF ini kecuali alurnya

.

Happy Reading

[Chapter ini No Beta dan langsung dipost tepat setelah FF selesai diketik]

.

.

.


Temaram dan alkohol adalah salah satu sahabat baik seks. Vodka adalah aroma nafas Kris malam itu, bukan rokok. Kamarnya gelap dan hanya dua lampu di atas nakas samping ranjangnya yang berkelip cantik. Jiayi ada di atas tubuhnya, sama-sama polos. Wanita itu selalu bisa menentukan tempo yang tepat agar puncak mereka tiba di waktu bersamaan, Kris akui. Ia mengalah malam ini untuk Jiayi karena di akhir acara panas itu Jiayi tentu mendapat teguran.

"Fuck!" desis Kris saat putih menjemputnya. Hanya sepersekian detik, dan Jiayi masih bergerak. Gadis itu juga basah dibawah, dan tubuhnya merendah hingga dada mereka bersentuhan.

Jiayi mendekatkan bibirnya pada cuping telinga Kris, membuatnya makin bergairah dengan sebuah desahan. "I love you."

Kris membuka matanya yang sayu. Jemarinya menyentuh pipi gadis itu dengan senyum licik berhias gairah yang berkobar. Ia mendekatkan tubuh mereka dan Kris masih belum puas. Ia cinta aktifitas ranjang, dan sekali klimaks bukan apa-apa untuknya.

Malam makin menyentuh pagi hingga akhirnya mereka berhenti. Jiayi setengah tertidur dalam pelukan Kris yang menggumam dengan nada. Wanita itu mengenali bait yang Kris dendangkan, namun ia tidak yakin dengan liriknya. Lengan bertekstur Kris memeluknya makin erat, membuat Jiayi tersenyum. Ujung hidung Kris bermain di pundaknya dan lidah pria itu membuat pola basah tak teratur di kulitnya.

"Jiayi…"

Jiayi menggumam pendek sebagai jawaban.

"Apa yang kau lakukan pada Tao?"

DASAR HOMO PERUSAK SUASANA!

"Bisakah kau tidak menyebut nama bocah itu ketika kita sedang dalam suasana yang bagus?"

Kris memberi sebuah kecupan di lehernya. Telunjuknya melingkar-lingkar di pinggul Jiayi. Wanita itu memang suka emosi, namun sentuhan dewa Kris adalah penawar yang ampuh agar ia tak menjauh. "Seperti yang kau katakan, ia hanya bocah. Kenapa harus dimarahi?" Satu kecupan lagi, disertai hisapan pembuat warna keunguan. "Kau seorang psikiater, Sayang. Kontrol emosimu."

Jiayi membalikkan tubuhnya menghadap Kris. Mereka masih begitu dekat, dada mereka bersentuhan. Namun tak ada tatapan romantis dari iris Jiayi dan Kris juga tak berniat memberi tatapan kharismatiknya, alih-alih wajah mengantuk. "Oh, tentu. Harusnya aku marah padamu."

Kris tertawa pendek.

"Kau selalu tahu aku mencintaimu dengan jiwaku, darahku, tubuhku." Jiayi melingkarkan pelukannya ke leher kekasihnya. Kris hanya merespon dengan melingkarkan lengannya di pinggang Jiayi, tanpa jawaban. "Kenapa tidak jujur saja pada media, sekarang? Dramamu sudah berakhir dan apa lagi yang kau tunggu?"

"Sesuatu yang tidak bisa kau pahami, bahkan aku pun begitu."

"Kau mulai menyukai pen*s?" Jiayi bertanya sarkastik.

"Tidak," Kris menjawabnya begitu singkat.

Jiayi berbisik lirih, bermaksud menggoda. "Jangan pernah. Aku punya dua lubang yang lebih baik."

Oh, Kris selalu mengerti kode-kode itu. Ia membalik tubuh Jiayi dan mengurungnya dibawah. "Bolehkah kau kutumpangi, Cantik?"

Jiayi memberi sebuat kedipan genit. "Dengan senang hati, Tampan."

Ya, seks selalu menjadi obat yang mujarab untuk beberapa situasi tidak mengenakkan.

.

.

.


Sore itu adalah keesokan hari setelah Jiayi datang ke apartemennya, mengacaukan ruangannya, dan merobek surat kontraknya. Tao tak punya jadwal minggu ini dan itu patut disyukuri, mengingat ia punya luka memanjang di wajahnya. Setidaknya luka itu bisa menghilang beberapa hari ke depan dengan bantuan salep.

Ia berada di ruang tunggu poli umum sebuah rumah sakit yang cukup ternama di Seoul. Topi menutupi rambutnya dan wajahnya bersembunyi dibalik masker. Tao memang bukan artis besar yang mondar-mandir dari negara satu ke negara lain seperti boyband K-Pop yang menjamur belakangan ini, tapi ia tetap harus merahasiakan identitasnya.

Awalnya ia hanya duduk sendiri di kursi panjang itu, pasien lain duduk di baris depan atau belakangnya. Kemudian dua gadis berseragam SMA mendekatinya, duduk di sampingnya sambil menunjukkan wajah excited.

"Permisi." Tao menoleh. "Kau Huang Zitao?"

Tao memberikan sebuah anggukan dengan kikuk.

Satu dengan bandana dan satu hanya digerai, Korea Selatan mengharuskan siswanya berambut pendek. "Astaga! Dia benar-benar Tao!"

Tao mengernyit.

"Aku mengikuti Instagrammu, Weibo, dan Twitter juga! Astaga~ Oppa, kau keren sekali!" ujar yang memakai bandana.

Tao tersenyum, walau tak terlihat dari balik maskernya. "Terima kasih."

Gadis yang rambutnya digerai ikut berbicara, "Kau dan Kris Oppa juga sangat cocok! Kalian pasangan serasi!"

"Terima kasih lagi untuk pujiannya. Aku sangat tersanjung."

"Tao Oppa kenapa ada di rumah sakit? Apa Kris Oppa ikut?"

Sebuah cengiran keluar dari bibir Tao, tetap tak terlihat. "Aku sedang flu. Kris punya pekerjaan sore ini."

Dua gadis itu menunjukkan raut kecewa. "Yah… padahal seorang suami 'kan harusnya menemani istrinya kemanapun."

"Aku bahkan belum menikah dengan Kris." Tao mulai sebal. "Tanda tangan atau foto?" Ia sudah biasa dengan fans macam ini.

Dua gadis itu sama-sama mengeluarkan buku dan bolpoin, lalu menyodorkannya ke arah Tao. Ia membubuhkan tanda tangan diatasnya, diberi nama sang fans dan bentuk hati yang manis. Saat Tao mengembalikannya ke arah dua gadis itu, mereka terlihat senang sekali.

"Huang Zitao, 52." Suara seorang perawat menyelamatkannya dari dua gadis pecinta gay itu. Tao pamit dan membungkuk kecil untuk menghormati. Walaupun ia sedikit kesal, tanpa fans ia bukanlah apa-apa.

Dokter muda bergaya nyentrik duduk di kursinya. Tao mengenalnya dengan baik, mereka teman SMA di Paris. Rambutnya kali ini dicat pirang, masih lebih normal daripada pink seperti musim lalu. Tao duduk di kursi pasien den ia berdeham agar dokter itu mengalihkan fokusnya dari ponselnya.

"Sebentar Huang, istriku mengirim pesan. Botol susu anakku hilang."

"Oh Sehun, obatku habis dan aku membayar bukan untuk menerima keluhan," Tao tak peduli.

Dokter bernama Sehun itu mengangkat wajahnya. Pasrah ia meletakkan ponselnya di meja lalu meraih beberapa botol obat yang Tao sodorkan. "Kenapa cepat sekali?"

"Pusingku makin sering dan menjadi," ujar Tao sambil melepas topinya.

Sehun berdiri dari kursinya dan mengambil stetoskop. Tao berbaring diatas ranjang pemeriksaan yang rasanya selalu aneh di punggungnya sendiri. Sehun memeriksanya seperti biasa, hanya formalitas seorang dokter. Setelah menyelesaikan semuanya mereka kembali duduk, namun Sehun sibuk dengan obat-obatnya.

"Aku mulai curiga ini bukan sekedar Vertigo," ujar Sehun.

"Lalu?"

Sehun menyodorkan sebotol obat ke arah Tao yang memandangnya seperti bertanya 'kau yakin hanya ini?'. Dokter itu menulis sesuatu di jurnalnya. "Kusarankan kau segera melakukan MRI."

Tao berusaha mengintip apa yang Sehun tulis namun ia tak mendapatkan apa-apa. "MRI apa?"

"Nanti kau tahu sendiri." Sehun balik mengambil kertas di lacinya dan menulis sesuatu lagi di atasnya. Tao sebal karena tidak diberitahu. "Masih ingat Joonmyun hyung? Kuserahkan kau padanya, ya?"

"Memangnya aku sakit apa?"

Sehun mengedikkan bahunya dan bibirnya melengkung aneh. "Aku tidak berani memastikan."

Tao mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tangan sebagai tumpuan dagu. "Dugaan awal?"

Sehun menatapnya dengan alis naik sebelah. "Jangan takut, oke? Tapi kurasa ada jaringan abnormal di otakmu."

Tao membelalak. Oke, jangan takut.

.

.

.


Banyak pembaca kisah ini mengira, Tao mempunyai masa kecil yang bahagia. Hidup berkecukupan, tinggal di luar negeri lebih dari separuh usianya, sekaligus anak tunggal yang tak perlu takut kasih sayangnya akan terbagi. Well, semua orang tahu sebagus-bagusnya jalan hidup di suatu masa, pastilah ada kerikilnya. Tapi bagaimana kalau Tao bukan hanya menemukan kerikil, tapi batu seukuran bola basket?

Tao bukan anak kandung dan ia dipungut dari jalan karena rasa iba. Seseorang menitipkannya di panti asuhan. Umurnya kurang-lebih satu bulan saat itu. Lalu bulan berikutnya ia diadopsi pasangan luar biasa.

Ya, luar biasa. Alias tidak biasa.

Tao diadopsi oleh pasangan gay dari Korea Selatan yang selalu memimpikan punya keturunan selama bertahun-tahun pernikahan mereka. Tapi sampai Bonaparte jadi kelinci pun, hal itu tak akan terjadi.

Ayahnya bernama Jung Yunho dan ibunya adalah Kim Jaejoong yang manis. Kedua orang itu tak mengubah nama pemberian panti asuhan Tao dengan dalih mempertahankan ke-China-annya. Mereka bilang tak ada yang perlu diubah kecuali status Tao yang kini punya ayah dan ibu, walau bukan kandung.

Lingkungan menghujatnya diam-diam, tak ada yang berani melakukannya tepat didepan wajah Tao kecil. Ia adalah anak seorang konglomerat yang sudah punya mobil disaat yang lain berjalan kaki. Hanya pejabat saja yang punya mobil di masa itu, masyarakat biasa tak akan memilikinya. Memaki anak orang berduit di depan umum sama saja menjebloskan diri sendiri ke dalam neraka. Siapa yang mau?

Awalnya semua baik-baik saja. Tao menerima takdir yang Tuhan beri untuknya. Minim keluhan, hampir tak ada hujatan. Beberapa tahun lalu orang tuanya memutuskan untuk kembali ke Seoul dengan alasan merindukan rumah mereka, rumah baru untuk Tao. Pemuda itu hanya ke Korea untuk liburan, dan kali ini ia benar-benar akan menetap di negara itu.

Sayangnya, keputusan itu bukan keputusan yang tepat.

Semenjak kepindahan keluarga mereka ke Seoul, teror seakan tak punya waktu libur. Semua teror itu ditujukan untuk Jaejoong. Intinya hanya satu, meminta Yunho, suaminya. Tao dan Yunho selalu mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja, Yunho akan semakin hati-hati. Jaejoong ingin pindah ke kota lain namun pekerjaan Yunho tak bisa ditinggalkan.

Tao ingat, itu adalah satu malam di bulan Juni yang diguyur hujan. Yunho keracunan makanan pesan antar yang sepertinya sengaja diracuni, dokter tak dapat dihubungi, Jaejoong menyetir dengan kalut dan Tao ketakukan di bangku belakang saat ayahnya maikin menggigil di pangkuannya.

"Mama, tenanglah!"

Jaejoong tak dapat berpikiran jernih saat itu. Terlalu banyak tekanan menimpanya dan saat itu suami tercintanya ada di ujung maut.

"Tais-toi─Diam, Tao!" Jaejoong membentak dengan suara panik.

Tao bungkam dan ia pasrah.

Semua berlangsung cepat. Klise. Mobil yang mereka tumpangi menabrak mobil lain dari arah berlawanan. Pengemudi mobil itu meninggal di tempat, Jaejoong serta Tao luka-luka, dan Yunho tak bisa diselamatkan.

Jaejoong meraung saat itu. Sebelah mata Tao lebam terkena sandaran kepala namun ia bisa melihat air mata ibunya dengan jelas di tengah hujan. Ketika Tao menoleh ke arah lain dan akan dimasukkan ke ambulans, seorang wanita muda menatapnya penuh benci dengan luka ringan pada lengan dan pipinya.

Saat ini, Tao mengenali wanita itu sebagai Xuan Jiayi, pacar sungguhan Kris sekaligus kakak angkat Tao dari hubungan one-night-stand Yunho dan seorang wanita sebelum ia menikah dengan Jaejoong. Xuan Jiayi yang melakukan teror-teror lampau untuk membalas sakit hati ibunya. Xuan Jiayi yang menjadi psikiater pananggung jawab ibunya yang masuk rumah sakit jiwa.

Malam setelah ia memeriksakan diri ke dokter, Tao sedang berjalan pelan disebuah lorong panjang menyeramkan bersama seorang wanita berpakaian suster. Kerak-kerak aneh masih menempel di temboknya walau Tao yakin mereka baru saja dicat ulang. Langkahnya berbelok, suster itu membuka sebuah pintu besi dan mempersilahkan Tao masuk.

Kamar, tempat itu adalah sebuah kamar. Jikalau ada orang yang berteleportasi dari bagian bumi yang jauh dan tiba di ruangan itu, pasti tak ada yang mengira tempat itu ada di dalam rumah sakit jiwa. Semuanya begitu rapih, terlihat sangat normal. Ada ranjang sederhana di ujung serta lemari setinggi dada yang ditempeli stiker-stiker imut. Seorang pria berambut sebahu memunggungi Tao, menghadap ke luar jendela sambil berjinjit dan menumpukan dagunya di tepi jendela.

"Mama?" Tao memanggil.

Pria itu berbalik, wajahnya penuh bekas luka dan beberapa goresan yang masih baru. "Anakku!" ia yang bernama Jaejoong menghambur ke arah Tao dan memeluknya.

Ditengah pelukan mereka, Tao mendengar suara pintu ditutup.

"Ada luka di pipimu," kata Jaejoong perhatian setelah melepaskan pelukannya dan menatap wajah Tao teliti.

Tao tak merespon ucapan itu, malah bertanya. "Apa Mama baik-baik saja?"

Jaejoong mengangguk. Ia menggiring Tao duduk di sebuah set permainan pesta teh berwarna cerah dimana sebuah boneka teddy besar duduk di salah satu kursinya. "Papamu selalu menjagaku dengan baik," Jaejoong menyikut boneka disebelahnya pelan sambil mengerling, "Ya 'kan, Yun?"

Tao tersenyum getir.

Skizofrenia karena guncangan batin saat ayahnya meninggal membuat sang ibu seperti ini, ditambah Jaejoong yang menabrak seseorang hingga tewas. Pria itu hampir saja kena kurungan 7 tahun penjara jika hasil test psikologisnya normal. Ia harus menjalani test itu saat para sipir menyadari Jaejoong suka bermonolog ria, lalu menggendong botol air minum besar seolah menggendong bayi, tapi di waktu lain ia akan mencakar tubuhnya sendiri sambil berteriak "Aku seorang pembunuh!"

Tao menyisir rambut panjang Jaejoong dengan jemarinya lalu bertanya lirih. "Tentu, Papa adalah suami yang baik untuk Mama."

"Précisément ─tepat!" Jaejoong berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju rak kecil yang menggantung diatas lemarinya dan mengeluarkan tiga set cangkir plastik, teko merah muda, serta nampan yang imut. "Chamomile tea?"

Tao menyukai aroma Chamomile sama seperti ia yang menyukai coklat. "C'est mon plaisir." Sayangnya Jaejoong menaruh set mungil itu dihadapannya dalam keadaan kosong, ia mengajak Tao bermain.

"Anakku tidak pernah berubah."

"Tapi Papa tidak suka Chamomile," Tao memberitahu. "Benar begitu, Papa?" ia melirik ke arah boneka milik Jaejoong, mengikuti permainannya.

Tiba-tiba Jaejoong tertawa. Tao mengernyit tak paham. "Tao, jangan gila! Mengapa kau berbicara dengan sebuah boneka?" ia melanjutkannya dengan tawa lagi.

Baru beberapa menit yang lalu Jaejoong menganggap teddy itu adalah suaminya dan sekarang ia mengatai Tao gila karena berbicara dengannya. Oke, Tao hanya bisa pasrah dan menghambuskan nafas.

Pintu terbuka. "Lima menit, waktu kunjungan habis."

Tao mengernyit. "Bukankah waktu kunjungan seharusnya adalah lima belas menit?"

"Ada peraturan baru," perawat berwajah judes itu berbicara kasar pada Tao. "Cepat keluar! Ibumu itu harus terapi setelah ini." Penekanan kata ibu pada kalimat itu membuat Tao sebal.

"Aku tidak mau!" Jaejoong mencengkeram bahu Tao, "Mereka menyiksaku!"

"Apa?"

"Mereka hanya memberikanku tulang lunak dan sup berbau aneh untuk makan. Mereka menyiksaku jika aku melakukan kesalahan pada terapi itu. Mereka bilang aku gila! Itu tidak benar!"

"Jangan berkata macam-macam!" bentak perawat itu sambil menggebrak pintu.

"Lembutkan cara bicaramu, Suster Lee," suara seorang wanita menginterupsi. Tao menoleh ke arah pintu dan menemukan sesosok wanita mungil dengan gaya modis dan berjas putih bersedekap di ambang pintu. "Tn. Kim kan lebih tua darimu, dan dia tidak waras. Harusnya yang waras tidak boleh seperti itu."

Tao menggerutu, Jiayi tidak pantas menjadi seorang psikiater ternama baginya.

Jaejoong makin meremas bahu Tao. "Wanita itu jahat sekali padaku," bisiknya lirih..

Tao tersenyum kecil, ia mengusap pipi serta punggung tangan ibunya. Baru ia sadar ada bekas luka yang timbul memanjang di pergelangan tangannya. "Aku janji, Mama akan segera keluar dari tempat ini."

Jaejoong mengangguk patuh seperti anak kecil, lalu Tao memeluknya dengan suara cemoohan Jiayi sebagai latar belakang yang mengerikan.

.

.

.


Tao mempertimbangkan semuanya. Hatinya, perasaannya, ibunya. Tao hanya tau rumah sakit jiwa tempat Jaejoong dirawat adalah rumah sakit jiwa terbaik di Seoul. Tapi ia tidak pernah tau bahwa pelayanan disana sungguh mengerikan. Bagaimana seorang manusia selalu diberi makan sup tulang lunak? Sejak Jaejoong mengeluh kala itu, akhirnya tiap hari Tao menyuruh salah satu asistennya ─bukan Kim Eunmi─ untuk mengantarkan makanan ke Jaejoong tiga kali sehari dan ia akan mengantarkannya sendiri jika ada waktu luang.

Ia sakit hati.

Memindahkan ibunya ke rumah sakit jiwa yang lain tidak bisa sembarangan Tao lakukan. Jaejoong adalah tawanan Jiayi sampai Tao bisa melepaskan Kris. Lagipula Kris hanya tahu Jaejoong dirawat di rumah sakit jiwa dimana Jiayi adalah kepala dokternya, ia sama sekali tidak tahu menahu soal perlakuan buruk Jiayi pada Jaejoong atau mungkin pasien lain.

Jesus, apakah tidak ada jalan yang lebih mudah dari ini?

Tiga minggu adalah waktu yang cukup lama untuk berpikir. Dua puluh tiga tahun adalah usia yang cukup dewasa, hingga Tao harusnya bisa memutuskannya sendiri. Ia ingin berbakti, namun ia juga ingin mencintai. Ia tidak ingin Jaejoong menderita, namun ia juga tidak ingin kehilangan Kris.

Hasil MRI di tangannya membantunya mengambil keputusan.

Joonmyun membenarkan kacamatanya saat ia ingin melihat Tao lebih jelas. Tao mengenal pria itu dengan baik, mantan istrinya adalah tetangga Tao di Qingdao dan secara kebetulan Sehun adalah sepupunya yang menjadi sahabat Tao selama ia di Paris. Duda beranak dua itu tak pernah lepas dari usia duapuluhan, selalu awet muda ditengah pekerjaannya di tiga tempat berbeda. Tapi sikap dewasa seorang ayah dan kehangatan seorang ibu akan selalu menjadi miliknya.

"Tao, kau tidak apa-apa?"

Tao tersadar dari lamunannya, ia gelagapan. Kertas di tangannya dinodai beberapa tetes air mata yang secara tak sadar ia keluarkan. Punggung tangannya menyeka tangis kecilnya sendiri, kemudian ia menarik nafas agar sedikit tenang.

Bibirnya gemetar saat ia bertanya, "Apakah ini benar-benar hasil pemeriksaanku?"

Joonmyun harus mengatakannya tanpa harus menyakiti hati Tao. "Harus disayangkan, jawabannya iya."

Dunia runtuh dalam pandangan Tao saat itu. Bukankah hiperbolis sah dalam situasi ini?

"Apa yang akan terjadi setelah ini?"

"Bersyukurlah karena kau punya teman sebaik Sehun yang tanggap. Kau hanya mengeluh pusing berkepanjangan, tidak ada yang salah pada pengelihatan dan ingatanmu. Sel-sel ganas itu bersarang di lobus occipitalis dan itu adalah hal yang umum terjadi pada penderitanya. Tapi, mungkin setelah ini kau akan kesusahan berjalan."

Tao tak membutuhkan penjelasan itu. "Apa aku masih bisa hidup normal? Apa aku bisa sembuh?"

Joonmyun mengangguk. "Ada banyak macam terapi di Korea, kau bisa memilih namun kusarankan ambillah pengobatan medis. Asal kau rajin, umurmu akan panjang."

"Apa benar begitu?"

"Tentu," Joonmyun menjawab dengan yakin.

Sebuah benda bergetar di kantung celana Tao dan denting kecil ponselnya berbunyi.

You got a new message!

吴亦

.

Apa masih lama? Ini hampir setengah jam.

.

"Aku harus pergi, Joonmyun hyung." Tao bangkit, "Aku tidak bisa membiarkan seseorang menunggu lebih lama."

Joonmyun ikut berdiri. "Aku akan mengabarimu tentang terapinya. Itupun kalau kau mau menjalani terapi medis."

Mereka ada di ambang pintu dan Kris berdiri dari duduknya. Ia tersenyum ramah pada Sang Dokter, Joonmyun membalasnya juga. "Wah, anakku fansmu , lho."

"Benarkah? Terima kasih," Kris sedikit membungkuk.

Tao tersenyum, aktingnya dimulai. Ia melingkarkan lengannya pada lengan Kris dan pria itu sepertinya sudah sangat terbiasa, jadi ia tidak kaget saat harus melakukan improvisasi. "Lakukan apapun untukku, ya, hyung?"

"Tidak masalah, Tao."

Kris mengernyit menatap Tao. "Ada apa?"

Tao mengangkat alisnya. "Kau cemburu?"

"Kalian mencurigakan," Kris mengeluh.

Joonmyun tertawa pendek. "Aku masih suka yang seumuran," candanya. "Baiklah, silahkan menuju loket pembayaran dan berikan aku tips."

Tao menyatukan ujung telunjuk dan ibu jarinya ke arah Joonmyun. "Okay!"

Mereka berjalan beriringan, Tao dan Kris saling menggandeng satu sama lain tak peduli banyak pasang mata menatap mereka tajam. Kris yang membayar biaya pengobatan Tao kali ini. Ia sempat heran mengapa tagihannya besar sekali.

"Kau bilang hanya vertigo 'kan?"

Tao menelan air liurnya lalu mengangguk. "Iya."

"Memangnya vertigo juga harus MRI?" Kris membaca kertas tagihan itu dengan teliti sambil berjalan pelan menjauh dari loket.

"Sehun menyarankannya, jadi kulakukan saja."

Kris mengerling. "Sehun yang rambutnya warna-warni itu?"

"Tapi sekarang warna rambutnya sama denganmu."

Kris tersenyum. Sebuah kecupan kilat mendarat di pipi Tao dan kemudian si pelaku berujar sambil berlari kecil meninggalkan Tao, "Bagaimanapun, aku lebih tampan 'kan?"

Senyum Tao ikut mengembang. Ia berusaha berlari mengejar Kris. Namun,─

.

─Tao jatuh tanpa sebab. Langkahnya tiba-tiba berhenti dan keseimbangan tubuhnya tak ada di titik tengah.

"AHH!"

Ini dramatis, tapi percayalah ketika Kris berhenti dan menoleh, semilir angin menggoyangkan rambut pirangnya. "Tao!"

Pria yang terjatuh itu mengaduh kecil melihat celananya robek dan lututnya berdarah karena aspal parkir mobil. Kris segera menghampirinya. Ia mencoba menyentuh luka Tao sebelum tangan lentik pemuda itu memukul Kris. "Jangan dipegang! Ini sakit!"

"Tao, kau benar-benar baik-baik saja 'kan?"

Tao menatap tepat jauh ke dalam mata Kris dan ia menjadi sedih. Sel kanker menggerogoti pusat kendali tubuhnya dan ia tidak bisa berbagi kisah pada siapapun, terutama pada Kris yang memang seharusnya tak tahu apa-apa. Toh mereka tidak lebih dari sekedar rekan kerja 'kan?

"Tentu! Memangnya kau kira aku sakit apa? Ataxia?" Tao mencoba tersenyum dan berdiri.

"Diam saja," Kris menyuruh. Ia menyelipkan tangan kanannya dibelakang punggung Tao dan tangan kirinya dibalik tekukan lututnya. Perlahan ia angkat tubuh Tao dan ia berjalan pelan ke mobil. "Kurasa kau harus diet. Tubuhmu berat sekali."

Tao melingkarkan tangannya ke leher Kris, bola matanya masih tertuju ke wajah pria itu meski Kris sendiri memandang lurus ke depan. "Aku terlihat menyedihkan," bibir Tao mengerucut.

"Jangan sembunyikan apapun dariku, Tao."

Tao diam, ia tak bisa menjawab apapun dan sampai di apartemen Tao pun, hanya hening yang menemani.

.

.

.


Kris memintanya agar tidak menyembunyikan apapun. Jadi Tao menurutinya. Ia memberikan segalanya untuk Kris. Pernyataan, kasih sayang, harga diri serta tubuhnya.

Tao mencintai segala yang ada dalam diri Kris termasuk gaya bercintanya yang buas, liar, dan seorang master sejati. Ia tak akan membiarkan budaknya menang, penyiksaan nafsu adalah favoritnya sehingga Tao harus memohon secara menjijikkan agar hasratnya terlaksana.

"Akh! K-kris…" bibir kecilnya kembali membengkak. Matanya seakan rabun dan ia hanya melihat Kris seorang. Tak ada heliosentris, tak ada geosentris, krisentris adalah keyakinan Tao saat itu.

Sedangkan yang dipanggil penuh nafsu sibuk membersihkan sisa cairan cinta Tao dengan mulutnya yang berulah.

"Ma-masuki aku…" Tao mengerang. "Kumohon…"

Kris menyunggingkan senyum sebelah sisi. Ia naik ke atas tubuh Tao, menciumnya dalam hingga Tao bisa merasakan sisa cairannya sendiri. Semua berjalan normal, seperti biasanya. Kris tak akan berhenti mencumbunya bahkan jika darah keluar dari lubangnya yang selalu seperti perawan.

Kepalanya melesak ke dalam bantal dengan pinggul yang bergoyang lihai. Mereka berdua terlalu profesional. Ada satu sisi dimana Tao yakin Kris adalah seorang biseksual, tapi ia tak pernah melihat Kris terangsang melihat lelaki lain selain dirinya. Pikiran Tao berlari jauh, berpikir di tengah keterbatasan.

Banyak yang harus ia korbankan jika ia harus memilih Kris; Ibunya, rasa sakit hatinya, hidupnya. Banyak pula yang harus ia korbankan jika ia ingin lari dari sandiwara ini; perasaannya; cintanya; separuh nafasnya. Ia sudah memikirkan ini sejak lama, sejak tahun-tahun yang lalu sebelum kecaman Jiayi menghantuinya bagai mimpi buruk di sepanjang malam. Pelukan Kris tak cukup menghadangnya, Tao ingin bebas dari perasaan ini.

Mereka berdua mencapai puncaknya secara bersamaan dengan nafas memburu.

"Kau cantik," Kris memuji. Ia tulus. Jemarinya mengusap peluh di wajah Tao yang kepayahan akan permainan Kris malam itu walau peluhnya sendiri masih setia menggantung di dahi.

"Jangan bayar aku dengan uangmu," Tao memohon jari-jarinya bermain di wajah Kris. "Bolehkah aku meminta satu permintaan?"

Kris mengecup perbatasan leher Tao dengan dadanya. "Jangan minta aku menikahimu, karena aku tak akan mengabulkannya."

Kepedihan menghiasi senyum Tao yang tak dapat dilihat Kris saat ia sibuk menandai pria manis itu sebagai miliknya. "Aku tak akan memintamu menikahiku, aku tahu diri." Ia akan mati, mengapa harus menarik Kris dalam kesedihan dengan menikahinya yang tak berumur panjang?

Tao mendorong dada Kris perlahan dan menyatukan pandangan mereka. "Ini salah."

"Apa maksudmu?"

Ciumannya ia berikan pada Kris dan memastikan ini cukup indah sebagai sebuah hadiah. "Aku lelah, aku ingin berhenti."

Secara tak sadar, Kris melebarkan matanya.

Airmata keluar dari pelupuk Tao. Ada keinginan dalam hati Kris untuk menghapusnya, namun ia masih shock karena Tao 'berani' meminta hal itu padanya. "Jangan kurung aku lagi. Kumohon lepaskan aku."

Tawa singkat muncul dari belah bibir Kris. "Kau pikir semudah itu?" Kris menyentuh dagu Tao dan menariknya mendekat. Sebuah senyuman aneh menghiasi wajah tampannya. "Aku tak akan melepasmu, Tao. Tak akan pernah.


To Be Continued


.

.

.

INI CHAPTER DUA

Seneng deh bisa update kilat hehe... Aku lagi banyak waktu luang sih.

Tapi chapter selanjutnya aku gak janji ya~ Soalnya ada UTS u,u

[OH MY GOD GUE BELOM BELAJARRRR GUE GAK BISA FUNGSI KUADRATTTT GUE GAK HAFAL SIKLUS HIDUP PLATYHELMINTHES!]

Doain aku ya teman-teman \/

Review gak aku bales disini ya... Yang reviewnya memang butuh penjelasan dan perlu dijawab bakal aku PM :3

Maaf ya kalo ga sesuai ekspetasi kalian, soalnya aku ngetiknya cepet-cepet hihi XD

.

Thanks to :

Huang Lee; Rima TAO-ma; driccha; 2; aryaahee; Riszaaa;

Difauzi fudanshi; Presstao's sister [big love for you, kak. thanks sudah nemenin aku jalan ❤]; couphie;

chikakyumin; XOXO-adel; DahsyatNyaff; KT in the house; rossadilla17;

91; dinysabrina6; Jin Ki Tao; SiDer Tobat; Kirei Thelittlethieves; pandazitao6;

raetaoris; DarkLiliy; KissKris; taoxxxtao; sycarp; peachpetals; scorpioxtaurus;

wereyeolves; NaughtyTao; ; PandaMYP; deerodult;

ShinJiWoo920202; naideel; Flame08; junghyema; Fahrenheit 927; sufiya;

diahuang gk logi [Aku ngakak lho lihat namamu xD]; myself, Jade Z;

sitengmae; Guest; tiara; eyiichan; neshia-96; Death'Eater HyunRi; ami jung; kpowpers;

icha; kt; ZITAO IS MINEEEE; jitao uke semok [YA TUHANKU XD]; BaekPuppy;

PedoKris BabyTao; KITT; KT is my style; oraurus; L-Uira; No Name;

dan

SEMUA READERS YANG SUDAH MENYEMPATKAN BACA FF INI DAN ORANG-ORANG YANG GAK REVIEW LEWAT FFN XD

.

.

.

sign,

Jonanda Taw