"Bye, onii-chan."
"Hn, bye Sakura."
Sakura sudah ada di gerbang Konoha International Junior High School. Dia berjalan dengan santainya. Tiba-tiba sesosok gadis bersurai pirang menghampirinya dan...
.
.
Disclaimer by Masashi Kisimoto
Warning : Gaje,OOC,nggak mutu
.
.
"Ciyee... yang dianter kakaknya." Suara itu terlontar dari mulut gadis berkucir pony tail.
"Ciaah... pengen ya? Kasian deh yang nggak punya kakak." Balas Sakura dengan seringaian menggoda khasnya.
"Hadeh, nggak pengen banget punya kakak, kerjaannya cuman disuruh-suruh, apalagi punya kakak kayak Gaara-senpai."
"Iya nggak mau jadi adiknya, tapi jadi pacarnya mau, itu mah sama aja."
"Hehehe, tau aja kamu."
"Tapi aku yang nggak mau punya kakak ipar kayak kamu." Sahut Sakura sambil menjulurkan lidahnya.
"Lagian siapa juga yang mau punya adik ipar kayak kamu?"
"Yee... Punya adik satu aja nggak bener gimana punya adik dua?"
"Kalau ditambah kamu, lebih tepatnya punya adik cowok dua."
"Helo, aku cewek kali, matanya dimana ya?"
"Cewek fisik doang, dalemnya bukan, penampilannya aja udah nggak nunjukin cewek."
"Ih, gue rapi kelesss..." Kata Sakura sambil merapikan rambut dan seragamnya.
"Iya, sekarang, nanti udah beda."
"Ah, udah ah, masuk yuk?"
Seperti biasa, tidak ada hari tanpa perdebatan diantara mereka. Meskipun mereka sahabat bagaikan lem kayu, tetapi kepribadian mereka sangatlah berbeda.
Ino, cewek yang feminimnya kelewatan. Rambut pirang sepunggungnya sering ia biarkan terurai, mata aquamarine nya yang indah, sifatnya yang ceria dan menyenangkan, keahliannya dalam pelajaran juga tidak diragukan, apalagi dia adalah pemimpin dari klub cheers. Tidak heran jika dia menjadi salah satu perempuan yang diincar di sekolahnya.
Bertolak belakang sekali dengan kepribadian gadis musim semi sahabatnya. Sakura adalah cewek yang bisa dibilang jadi-jadian. Lihat saja kelakuannya, pasti ada saja yang menjadi masalah. Rambut pink-nya melebihi bahu sering ia ikat ke atas, jam tangan hitam dan kalung berbandul chord g selalu menempel di tubuhnya, seragam yang tidak bisa rapi dan jas alma mater yang selalu dibiarkan terbuka menjadi ciri-cirinya. Meski begitu dia termasuk dalam daftar anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, dia juga sering mengharumkan nama baik sekolahnya seperti lomba basket di tingkat nasional. Keahliannya dalam mengeshoot dan mengalihkan konsentrasi lawan yang menjadikannya kapten dalam klubnya.
Keahlian dan sifat mereka yang saling berhubungan menjadikan mereka bersahabat erat. Meski selalu diisi dengan perdebatan, itu tidak menjadikan mereka berpisah, malah semakin akrab.
Tanpa perdebatan persahabatan mereka tak kan ada. Hubungan mereka sebelumnya tidak seerat ini. Dulu Ino merasa Sakura bukanlah teman yang cocok dengannya begitu juga dengan Sakura. Tapi kehendak berkata lain, perbedaan yang sangat jauh ini yang menjadikan mereka begitu dekat.
Saat Ino merasa kesepian dan sedih, Sakura selalu menggodanya dan membuatnya tertawa. Begitu juga sebaliknya saat Sakura mendapat masalah akibat kelakuannya, Ino yang sering menjadi juru bicaranya. Siapa coba yang tidak luluh dengan suara sopan dan lembut yang dikeluarkan gadis pirang ini?
Sikap Ino yang manis dan lembut ini akan berubah 180 derajat saat dia berhadapan dengan adiknya dan Sakura. Dan sikap Sakura yang brutal ini akan berbeda saat melihat Ino yang sedang marah.
Mereka berjalan menuju kelas IX-2. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.35, seperti biasa kelas ini ramai dengan ocehan siswa yang sedang menunggu bel masuk. Dua makhluk bersurai pirang dan pink ini dengan segera meletakkan tas mereka di meja masing-masing.
Sakura memilih bangku di pojok belakang dan Ino di depannya. Di kelas ini mereka menerapkan siapa cepat dia dapat, jadi siapa datang lebih pagi mereka akan mendapat bangku yang diinginkan. Tapi tidak berlaku bagi dua bangku yang ada di pojok belakang dan di depannya. Dua perempuan itu sudah menguasainya sejak pertama kali menginjakkan kaki di kelas itu.
Tak lama setelah mereka duduk datanglah gadis bercepol dua dan gadis berambut indigo. Mereka langsung mendudukkan diri di bangku sebelah Ino dan Sakura. Gadis bercepol dua yang dipanggil Tenten duduk di samping Sakura dan gadis lainnya yang dipanggil Hinata duduk di depan Tenten.
"Ino, kamu udah dapet sms ku kan?" Celetuk Tenten sambil membenarkan letak tasnya.
"Yang mana?"
"Itu lho yang anak baru."
"Oh itu, udah, memangnya kenapa?"
"Heh, ada anak baru? Nanggung banget bentar lagi kita juga udah lulus kan?" Sahut gadis permen kapas tiba-tiba.
"Entah, katanya sih dia anak pindahan gitu." Lanjut gadis bersuku cina.
"Yaelah, di mana-mana anak baru berarti anak pindahan."
"Bukan itu maksudku, maksudnya tu dari kota lain."
"Iyalah, kalau misal cuma pindah rumah tapi masih satu kota ngapain pindah sekolah?"
"Ah, capek ah ngomong sama Sakura, pagi-pagi udah ngajak debat."
"Makannya kalau ngomong tu menggunakan bahasa yang baik dan benar."
"Halah sok sastra." Tenten mencibir Sakura.
"Udahlah Ten, kayak kamu nggak tau Sakura aja." Sahut Hinata tiba-tiba.
"Namanya siapa Ten? Cewek apa cowok?" Tanya Ino dengan mata berbinar.
"Kayaknya sih cowok, kalau nggak salah tu namanya Sa-su-ne, Sa-su-re atau siapa lah."
"Sasuke?" Celetuk Sakura dengan tatapan kosong.
"Ah iya, kamu tau?"
"Entahlah, namanya familiar atau mungkin mainstream."
"Mainstream? Aku nggak pernah denger nama itu sebelumnya." Sekarang Hinata angkat bicara lagi.
"Kamu kan kudet." Ejek Sakura sambil menjulurkan lidah ke arah Hinata. Hinata yang diejek malah menampilkan muka polosnya, melihat itu Sakura jadi sedikit kesal. Sakura merasa gagal menggoda Hinata, dia tak pernah gagal menjadikan orang ngambek kecuali dengan Hinata. Ino dan Tenten tertawa melihat tingkah mereka.
.
.
"Jadi, hukum Ohm adalah-, Sakura cepat jelaskan apa itu hukum ohm!" Ujar sensei berambut putih dan memakai masker di mulutnya sambil menatap lurus ke bocah yang duduk di pojok belakang yang sedang memejamkan mata dan menyenderkan kepalanya ke meja.
"Besar kuat arus listrik yang mengalir sebanding dengan beda potensial listrik dan berbanding terbalik dengan hambatan." Jawab gadis pink itu dengan suara yang teredam akibat kepalanya masih bersandar di meja.
"Sakura, maju dan kerjakan soal di papan tulis."
"Kakashi-sensei bukannya kau belum menjelaskan tentang bab ini, bagaimana aku mengerjakannya?" Bantah Sakura yang sudah mengangkat kepalanya ke arah senseinya itu.
"Bagaimana kamu bisa mengerti, jika saat aku menerangkan kamu malah tidur."
"Tapi sen-"
"Sudahlah Sakura kerjakan ini, ini mudah kok, kamu pasti bisa mengerjakannya."
Dengan terpaksa beranjak dari tempat duduknya dan maju ke depan. Dia mengambil spidol yang ada di tangan pria berambut putih yang melawan gravitasi.
"Aku harus mengerjakan apa, sensei?"
"Konduktor berhambatan 400 ohm dihubungkan dengan sumber tegangan, sehingga mengalir arus listrik 500 meter ampere. Berapakah beda potensial ujung-ujung konduktor tersebut?"
"200 volt." Sahut Sakura sambil memainkan spidol di tangannya bagaikan memutar stik drum.
"Aku memberimu spidol untuk kau gunakan untuk menulis caranya di papan tulis, bukan untuk di mainkan di tangan dan menjawabnya secara cepat seperti lomba cerdas cermat."
"Oke, baiklah." Sakura membuka tutup spidol itu dan menggerakkan tangannya di atas papan tulis.
Diket :
R = 400 Ω
I = 500 mA = 0,5 A
V = ?
Jawab :
V = R x I
= 400 x 0,5
= 200 V
Dia mengembalikan lagi spidolnya ke tangan gurunya itu dan kembali ke tempat duduknya. 'Ck, dasar malas' batin gurunya. Kakashi-sensei melanjutkan penjelasannya dan Sakura melanjutkan mimpinya.
.
.
Sakura berjalan di tengah malam. Suasana di sana terasa hampa, kosong, mencekam dan sebagainya. Di kanan kirinya hanya ada hutan belantara, dia berjalan mengikuti jalanan aspal di hadapannya. Dia mencoba berlari, tetapi di kanan kirinya tetap sebuah hutan, seakan-akan dia tidak berjalan. Dia mencari rumah penduduk terdekat, tetapi hasilnya nihil. Dia berteriak, tidak ada tanggapan seseorang selain gaung suaranya dan udara dingin yang menembus kulitnya yang tak terlindungi jaket. Gadis musim semi ini menggosok-gosokkan telapak tangannya dan memeluk diri sendiri agar kehangatan merasukinya, tetapi ternyata tangannya juga sam dinginnya. Tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh bahunya, dengan reflek Sakura membalikkan badannya dan mendapati sesosok tubuh berbungkus jaket, di tangannya terdapat pisau yang terlihat sangat tajam. Sakura hanya menatapnya datar seolah sudah pasrah apa yang akan terjadi. Lalu semuanya kabur dan hilang tak berbekas.
Sakura membuka matanya dan mendapati Ino, Tenten, dan Hinata di hadapannya sedang mencoba untuk mengerjainya tetapi gagal karena Sakura sudah bangun duluan.
Sakura menghela nafasnya, ternyata itu hanya mimpi buruk.
"Hey kerbau, makan yuk? Sudah saatnya makan siang nih." Ejekan dan ajakan itu keluar dari mulut gadis pirang sahabatnya.
"Enggak ah, ngantuk." Jawab Sakura sambil menggeliat mengubah posisi tubuhnya.
"Tumben kamu lemas, kamu sakit?" Tanya gadis polos Hinata sambil meraba kening Sakura.
"Enggak."
"Tumben diem?" Giliran Tenten yang bertanya.
"Aku PMS."
Seketika mereka memasang wajah terkejut -kecuali Hinata dan Sakura-.
"Ha?! Kamu bisa PMS?!" Teriak Ino dan Tenten bebarengan. Teriakan mereka disambut tatapan teman-teman sekelas dan –pastinya- Sakura menatap mereka dengan aura membunuh. Mereka hanya nyengir kuda melihat wajah Sakura.
"Baka! Jangan keras-keras."
"Hehehe, kami kan terkejut." Jawab Ino sambil memasang wajah innocent
"Aku malas mengikuti pelajaran sastra setelah ini, bolos yuk?" Sakura kembali ke posisi semula.
"Aku nggak ikutan ya? Aku masih ingin hidup kok." Jawab Tenten menolak dengan cengiran khasnya.
"Aku juga, aku takut ketauan." Jawab Hinata sambil memainkan tangannya.
"Okelah aku ikut." Ino menyetujui ajakan Sakura yang nekat itu. Kebiasaan Sakura membolos jika bosan dengan pelajaran menular pada siswa –yang bisa dibilang- teladan, Ino.
"Apakah kita jadi makan siang?" Tanya Hinata tiba-tiba.
"Oh iya, kita lupa tujuan utama kita." Tenten menepuk jidatnya sendiri.
"Yuk."
.
.
Panas mentari musim semi menghangatkan dua sosok yang sedang di atap. Ya, bisa ditebak bahwa itu adalah Sakura dan Ino yang sedang membolos. Sakura menelentangkan badannya dan berbaring di meja lesehan yang ada di atap sekolahnya, sedangkan Ino duduk di sebelahnya dan memainkan ponselnya. Sebenarnya ada larangan untuk membawa ponsel, tetapi beberapa anak mengacuhkan peraturan itu.
"Kya! Keren nih!" Teriak Ino tiba-tiba mengagetkan tidur siang Sakura.
"Apaan sih? Brisik."
"Sakura, kamu besok minggu nggak pergi kan?"
"Emang kenapa?"
"Besok ada diskon gede-gedan di mall dan ada film bagus di theater."
"Terus?"
"Anterin aku ya?"
"Naik?"
"Motormu dong."
"Ino, kita itu masih SMP dan aku belum memiliki surat ijin mengemudi, ngapa kamu nggak ngajak orang tuamu aja?" Sakura beranjak dari tidurnya dan duduk di samping Ino.
"Ayolah Sakura, tanpa surat mengemudi saja kamu bisa mengikuti balap liar, masa hanya mengantarkan aku ke mall kamu membutuhkannya? Tou-sanku belum pulang dan Kaa-sanku sibuk mengurusi butik, toko bunga, dan restorannya."
"Bagaimana dengan Naruto?"
"Dia adalah adik laki-laki paling manja di hidupku."
"Memangnya kamu punya adik laki-laki berapa?"
"Satu." Sahut Ino tambah cengiran khasnya. Sakura hanya mencibir ke Ino.
"Ayolah Sakura, pliss..." Mata Ino sudah berkaca-kaca menampilkan jurus andalannya untuk mendapatkan simpati orang. Sakura hanya menghela nafas melihat jurus itu meluluhkannya.
"Baiklah."
"Yey"
.
.
TBC
.
.
Yey akhirnya ada yang review :D
Gimana chapternya? kurang panjangkah? kepanjangan kah?
Mungkin chapter 4 masih lama, karena bulan-bulan ini lagi sibuk-sibuknya diriku *alay
Doakan diriku yang akan UKK dan belum belajara sama sekali T.T *curcol
Abaikan saja yang di atas ini
Berhubung udah jam setengah dua belas malem #nasibpengidabinsomnia *curcol lagi
So, tinggalkan reviews please :)
Makasih banget buat :
Kay Yamanaka,hanazono yuri,zielavienaz96,Febri Feven,kawaihana
Balesannya :
pairnya siapa? SasuSaku apa SasuIno? Pengennya sih SasuIno XD pairnya masih rahasia lanjut! Kyanya bkal seru, kya fic gangster queen (?) mungkin? #hehe.. mungkin bisa jadi :D
