Chapter 2
Title: Captivated
Genre: Romance
Rating: T
Pairing: Yunjae
Disclaimer: Yunho belong to Jae Joong, Jae Joong belong to Yunho. Yang saya miliki hanya ceritanya ^^
Warning: Yaoi, typo(s), yunjae, don't like don't read
.
.
Umma Jae Joong terlihat uring-uringan semenjak ia tahu anak satu-satunya itu kabur dari rumah sambil terus memegangi ponsel Jae Joong resah, berbeda dengan suaminya yang justru terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Yeobo! Kenapa kau begitu santai? Putra kita kabur entah kemana kenapa kau tidak panik sama sekali?" protes nyonya Kim.
"Yeobo, putra kita itu sudah dewasa. Biarkan saja dia, nanti juga kembali." katanya cuek. Bahkan tuan Kim itu dengan santai duduk di sofa ruang tamu rumahnya sambil memeriksa dokumen-dokumen perusahaannya.
Nyonya Kim melengos. Bisa-bisanya suaminya itu acuh tak acuh padahal putranya sekarang entah ada dimana.
Tuan Kim kembali mengeluarkan suara "Yeobo, kau tidak usah terlalu kuatir seperti itu. Jae Joong itu sudah 28 tahun, dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya perlu waktu untuk menenangkan dirinya, setelah itu dia pasti akan kembali. Aku yakin itu. Lagipula kan sudah kubilang, jangan terlalu memaksa Jae Joong soal perjodohan itu jadinya kan seperti ini."
"Memangnya kau tidak mau melihat putra kita menikah?"
"Tentu saja aku ingin. Tapi kan kita juga tidak bisa terlalu memaksanya. Yang terpenting dalam pernikahan itu adalah cinta. Kau tidak ingin kan melihat putra kita menderita karena pendamping hidup yang salah?" tanya tuan Kim. Kata-katanya benar-benar masuk ke dalam benak nyonya Kim. Tentu saja yeoja paruh baya itu tidak ingin putranya menderita, ia ingin Jae Joong bahagia.
"Tentu saja aku ingin putraku bahagia."
"Kalau begitu jangan panik lagi."
"Tapi aku masih kuatir. Saat ini hujan sedang turun, dia pasti kedinginan. Dimana dia akan tidur malam ini? Dia pasti kelaparan. Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?. Aku sudah menghubungi Changmin sepupunya, Junsu sekretarisnya, teman-temannya, dan juga beberapa bawahannya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Jae Joong. Apa kita akan berdiam diri seperti ini terus, yeobo?"
"Begini saja. Kalau dalam 3 hari Jae Joong tidak kembali, baru kita lapor polisi. Bagaimana?" usul tuan Kim disambut anggukan oleh nyonya Kim. Ia hanya ingin putra satu-satunya itu cepat pulang.
.
.
Perlahan Yunho membuka matanya saat ia merasakan pendar-pendar sinar matahari menimpa tubuhnya melalui sela-sela celah jendela kamarnya. Namja tampan itu melirik jam weker yang ada di meja di samping tempat tidur. Jam 7 pagi.
Saat hendak bangun dari tidurnya, Yunho merasakan sesuatu berada di pinggangnya. Saat ia cek, sebelah tangan sedang melingkar di pinggangnya dengan cukup erat. Pria dengan mata musang itu membalikkan tubuhnya lalu mendapati wajah Jae Joong tepat berada didepannya.
Tangan besar milik Yunho terulur, mengelus pipi mulus Jae Joong yang masih terlelap itu. Jae Joong benar-benar indah bahkan dalam keadaan tidur pun namja itu masih tetap cantik. Yunho menarik kedua sudut bibirnya tersenyum.
"Good morning, beautiful." gumam Yunho sambil melepaskan tangan Jae Joong dari pinggangnya. Pria itu mengecup punggung tangan Jae Joong sebelum akhirnya bangun dari tempat tidurnya.
.
Jae Joong mengerjapkan matanya sebelum ia benar-benar membuka matanya. Matanya silau oleh cahaya matahari pagi yang benar-benar terang karena gorden yang menutup jendela kamar milik Yunho sudah terbuka lebar.
Namja cantik itu tidak menemukan Yunho ada disana, padahal semalam ia tidur dengan Yunho. Tidur? Dengan Yunho? Mengingat hal itu membuat wajah Jae Joong memerah. Ini bahaya. Isshh... Jung Yunho benar-benar membuatnya kelimpungan.
Jae Joong menghela nafasnya lalu beranjak dari tempat tidur itu.
"Aagh..!" Jae Joong meringis sakit saat kakinya menyentuh lantai. Ia baru ingat, kalau kakinya sedang terluka. Namja cantik itu pun berdiri perlahan untuk mengurangi rasa sakitnya. Dengan agak tertatih, namja cantik itu berjalan ke arah kamar mandi meski harus menahan sakit.
Yunho yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya itu memasuki kamarnya untuk mengajak Jae Joong sarapan. Namun ia tak mendapati Jae Joong di kamarnya, pria tampan itu agak panik.
"Joongie? Kau dimana?" ucap Yunho mengeraskan suaranya resah.
Kemudian Yunho mendengar suara pintu kamar mandinya yang digeser, namja tampan itu menoleh dan mendapati Jae Joong keluar dari sana agak tertatih. Yunho menghembuskan nafas lega. Astaga, Jae Joong menghilang sebentar saja dia sudah panik duluan.
"Waeyo?" ucap Jae Joong menatap polos Yunho yang sedang terus menatapnya intens.
Namja tampan itu tersenyum lembut sambil menghampiri Jae Joong.
"Kupikir kau kemana?"
"Aku hanya ke kamar mandi. Apa terjadi sesuatu?" tanya Jae Joong.
Yunho menggeleng "Ani. Aku sudah menyiapkan sarapan. Ayo kita makan!" ajak Yunho yang langsung mengangkat tubuh Jae Joong dan membuat namja cantik itu terperangah.
"Yunho-ssi, kau tidak perlu menggendongku segala. Aku masih bisa berjalan." Tolak Jae Joong. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Jae Joong, ia senang-senang saja diperlakukan seperti ini tapi masalahnya ia harus berurusan dengan degupan jantungnya yang harus berdegup liar setiap Yunho menyentuhnya.
"Kalau kau memaksakan kakimu yang masih sakit, lukamu akan lama sembuhnya. Lagipula aku sama sekali tidak keberatan." Yunho menghiraukan kata-kata Jae Joong dan tetap membawa Jae Joong dalam gendongannya.
Yunho mendudukkan tubuh Jae Joong di salah satu kursi meja makannya setelah itu ia duduk di depan Jae Joong.
Jae Joong menatap takjub pada makanan yang ada dihadapannya "Kau membuat ini semua?"
Yunho mengangguk "Kau harus coba samgyetang buatanku. Aku ini pintar memasak samgyetang." Yunho mengambil sumpit disamping mangkuk nasi Jae Joong dan menyodorkannya pada Jae Joong.
Namja cantik itu menerima sumpit dari Yunho agak sungkan dan mulai mengambil nasi dari mangkuk lalu memasukkannya ke mulutnya.
"Aigoo... good boy!" ucap Yunho sambil mengelus puncak kepala Jae Joong. Namja cantik itu menyunggingkan senyum manisnya.
Sambil mengunyah makanannya, Yunho memperhatikan dengan seksama setiap gerak-gerik Jae Joong. Namja cantik itu tengah makan dengan cepat dan tidak sabaran. Maklum, dari kemarin kan Jae Joong memang belum makan karena aksi mogok makan yang dilakukannya sebagai bentuk protes terhadap ibunya.
"Pelan-pelan makannya. Kau akan tersedak nanti." ucap Yunho sambil mengulurkan tangannya membersihkan sisa-sisa makanan yang belepotan di sekitar bibir Jae Joong.
Namja cantik itu terpaku sejenak. Kenapa Yunho selalu memperlakukannya dengan sangat lembut seperti ini? setiap kali dia melakukannya Jae Joong harus berurusan dengan gemuruh di hatinya.
Jae Joong menelan makanannya agak susah saat menyadari penampilan Yunho yang sangat rapi dan membuat pria itu terlihat sangat tampan dengan balutan jas yang sangat cocok sekali dipakai pada tubuhnya yang bagus.
"Kau mau pergi?" tanya Jae Joong.
"Aku mau pergi kerja. Apa tidak apa-apa kau tinggal sendiri disini?"
Jae Joong menganggukkan kepalanya.
"Atau kau ingin pulang ke rumahmu? Aku bisa mengantarmu pulang." sebenarnya agak menyesal juga Yunho mengucapkan kalimat yang baru saja ia katakan itu. kalau benar Jae Joong ingin pulang berarti ia akan berpisah dengan namja cantik itu. ia belum mau berpisah dengan Jae Joong.
"Itu... apa boleh aku menginap disini untuk beberapa hari? Aku janji aku akan pulang secepatnya tapi tidak sekarang." kata Jae Joong dengan suara agak lemah membuat Yunho gemas dengan ekspresi yang sebenarnya lucu itu.
Jangankan beberapa hari, selamanya pun aku tak keberatan kau tinggal disini bersamaku. Batin Yunho dalam hatinya.
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan. Anggap saja rumah sendiri, kau boleh tinggal disini sesukamu."
Senyuman merekah di bibir cherry Jae Joong "Komawoyo, Yunho-ssi." Yunho menganggukan kepalanya seraya tersenyum lembut membuat kadar ketampanannya lagi-lagi menaik drastis.
Setelah selesai sarapan Yunho pun bergegas untuk pergi kerja "Aku akan pulang saat jam 7 malam. Apa tidak apa-apa kau menunggu sendiri disini?" tanya Yunho di ambang pintu apartemennya pada Jae Joong.
Jae Joong mengangguk "Tidak apa-apa. Selamat bekerja!" ucapnya sambil tersenyum manis membuat Yunho enggan meninggalkan namja cantik itu.
"Aku pergi." Kata Yunho sambil melambaikan tangan pada Jae Joong.
Jae Joong pun membalasnya "Hati-hati!"
.
.
Selepas Yunho pergi untuk bekerja, agak tertatih Jae Joong mendekati sofa dan duduk santai disana. namja cantik itu menyalakan tv dan mengganti-ganti channel tv agar ia dapat menemukan acara yang menarik.
Namun bukannya fokus menonton acara tv, pikiran Jae Joong malah membawanya pada pria yang baru saja pergi untuk bekerja itu. Yunho. Namja tampan itu benar-benar membuat tingkat kewarasan Jae Joong jadi menurun perlahan.
Dan yah lagi-lagi jantungnya bereaksi dengan cepat begitu otaknya memunculkan pria tampan bermata musang itu. Wajahnya, senyumannya dan perlakuannya membuat Jae Joong seperti berada di padang bunga yang luas hingga membuatnya berseri-seri seperti sekarang ini.
Jae Joong menyentuh kedua pipi mulusnya yang mendadak menghangat.
"Apakah... aku... benar-benar... menyukainya?" tanyanya pada dirinya sendiri agak ragu.
Bayangan ketika mereka berdua ciuman pun muncul. Dan sudah bisa ditebak wajahnya langsung memerah. Namja cantik itu mengipasi wajahnya.
"Lama-lama aku bisa gila."
.
.
Yunho tersenyum lebar saat datang ke kantor tempatnya bekerja sampai-sampai sahabat sekaligus sekretarisnya yang bernama Park Yoochun itu saja terheran-heran melihat tingkah rekan kerjanya itu, pasalnya ini baru pertama kali ia melihat Yunho begitu gembira saat datang ke kantor.
"Hyung! Makan apa kau pas sarapan tadi?" tanyanya sambil memperhatikan Yunho yang sedang merapikan dokumen-dokumen penting perusahaannya dengan ceria.
"Samgyetang" jawabnya singkat dengan tingkah aegyo yang menurut Yoochun gagal itu.
"Apa hanya karena makan Samgyetang kau bisa jadi seceria ini?" tanya Yoochun lagi masih penasaran.
"Aku makan Samgyetang dengan seorang malaikat~" jawab Yunho lagi masih dengan senyum lebarnya, membuat Yoochun berpikir apakah otak Yunho hari ini agak konslet?.
"Malaikat? Malaikat pencabut nyawa maksudmu?" canda Yoochun
"Malaikat paling cantik yang pernah kutemui. Yoochun-ah mungkinkah Tuhan mengirimkannya untukku?" oceh Yunho penuh semangat hingga Yoochun mengernyitkan keningnya heran, ini benar-benar aneh. Sejak kapan kelakuan Yunho jadi seperti ini?
"Mana aku tahu hyung, memangnya aku koordinatornya?"
"Oh Kim Jae Joong, kau membuatku gila"
"Siapa lagi itu Kim Jae Joong?" Yoochun kembali bingung. Apa karena otaknya konslet, Yunho jadi ngomong ngawur seperti ini?
"Malaikatku"
Yoochun memutar bola matanya "Hyung, apa kau yakin kau baik-baik saja?"
"Yoochun-ah, aku sudah tidak sabar untuk pulang."
"Baru saja kau sampai di kantor sudah mau cepat-cepat pulang. Lagipula memangnya Kim Jae Joong itu tinggal dirumahmu?" Yunho mengangguk-anggukkan kepalanya masih dengan tingkah aegyo yang dibat-buat hingga membuat Yoochun agak mual melihatnya.
"Aigoo... kurasa sebaiknya setelah kau pulang kerja kau harus pergi ke rumah sakit aku takut sesuatu terjadi dengan otakmu ckckckck." Yoochun menggelengkan kepalanya.
"Aku akan langsung pulang ke rumah untuk menemui Jae Joong-ku~" Yoochun hanya membiarkan hyungnya itu tanpa berniat membalas omongannya lagi kalau tidak lama-lama pembicaraannya dengan Yunho akan semakin tidak berkualitas.
.
.
Yunho bersiul di dalam lift gedung apartemennya pertanda kalau ia benar-benar sedang senang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan namja cantik yang telah membiusnya dan membuatnya terpesona.
Kini namja tampan itu sudah berada di depan pintu unit apartemennya. Ia menarik nafas sambil merapikan penampilannya agar ia terlihat sempurna di mata namja cantik itu.
Yunho menekan password kunci apartemennya dan membukanya dengan ceria "Aku pulang!" ucapnya dengan senyuman lebar. Namun suasana apartemennya nampak sepi.
"Joongie?" ucap Yunho memanggil si namja cantik Kim Jae Joong. Yunho lebih masuk ke dalam apartemennya dan menelusuri seluruh ruangan. Tapi nihil. Yunho panik.
"Jae Joong?" Agak rusuh ia membuka setiap pintu ruangan di dalam apartemennya namun ia sama sekali tak menemukan keberadaan Jae Joong.
"Joongie kau dimana?" Yunho menghela nafas
Kemana malaikat cantiknya itu? Apa manusia mempesona itu benar-benar malaikat sehingga ia mampu menghilang begitu saja? Padahal Yunho senang bukan main dengan keberadaan Jae Joong yang membuatnya hampir gila itu.
"Kau dimana? Bisakah kita bertemu lagi?" gumam Yunho lemah. Yah, apapun yang terjadi ia harus bertemu lagi dengan Jae Joong. Namja cantik itu harus bertanggung jawab dengan perasaan aneh di hatinya. Perasaan yang menyenangkan.
.
.
Tbc
.
.
Terima kasih kepada para pembaca yang sudah ngasih review beserta kritik dan sarannya di chapter 1, maaf saya nggak bisa balas reviewnya karena bingung mau balas apa. Maaf juga update-nya rada lama. Tapi saya akan terus berusaha memberikan yang terbaik buat yorobun hehe ^^
