Beauty Journal by Byun Baekhyun
Chanbaek Forevah!
[Boys love. Mpreg]
[Bahasa Seperempat Kasual]
[Agak Nggak nyambung sama chapter sebelah]
.
.
.
.
.
Lipstik
Chanyeol terkikik dibalik pundak Baekhyun yang sedang mengelus dada sabar, mereka berdiri digaris pintu kamar ketiga kakak beradik dan menjadi saksi langsung bagaimana mainan berceceran dilantai. Sedangkan si tersangka yang sama sekali tidak merasa bersalah sedang duduk serius melingkari puzzle bergambar Doraemon dan kelima teman sepermainannya termasuk Dekisugi. Sebenarnya hanya Kino dan Jihoon yang sibuk menyusun, karena Zooya memilih menelungkupkan tubuh sambil menopang dagu. Menatap kedua kakaknya bergantian.
"Huft, Chan. Bisa kau bawa mereka ke ruang tengah? Aku akan membereskan kapal Titanic yang baru saja karam ini." Baekhyun memungut mobil-mobilan berbentuk pemadam didekat kakinya lalu dilanjut dengan mainan lain.
"Guys, Daddy membeli solero." Chanyeol mendekati ketiga anak-anak yang tampak tak tertarik, "Benar tidak mau? Yasudah, Daddy berikan saja untuk Baejin."
Si gembul melempar kepingan puzzle ditangannya dan buru-buru memeluk kaki Chanyeol yang kemudian diangkat ke dalam gendongan.
"Baejin 'kan punya Daddy sendiri. Masa mau rebut Daddy Ji juga, sih." Jihoon memajukan bibirnya tanda sangat tidak setuju Chanyeol lebih sayang pada anak tetangga.
"Ayo makan solero! Kino pusing tidak mau main puzzle lagi!" Yang tertua mengerang frustrasi dan memukul kepingan-kepingan yang belum tersusun seolah benda itu anak nakal, "Kino mau naik kaki Daddy!"
Chanyeol harus terima repot ketika Kino menginjak punggung kakinya dan berpegangan pada pahanya. Zooya pun ikut-ikutan. Baekhyun geleng-geleng melihat si tinggi kepayahan berjalan keluar dari kamar dengan dua bocah yang bergelayut dikaki-kaki panjangnya. Tapi Chanyeol sama sekali tidak keberatan, namanya juga anak-anak. Suka sama hal-hal yag menurut mereka menyenangkan.
"Kasihan, adik bayi yang satu ini tidak diajak makan solero." Baekhyun mengelus perutnya sambil tertawa kecil, "Sabar, lahir dulu yang sehat, baru makan es krim sama freezernya sekalian."
Membereskan tempat tidur ketiga anaknya, memasukkan barang-barang ke kotak mainan, merapikan barbie-barbie dan plastisin yang lengket disana-sini, Baekhyun cukup dibuat kapok. Belum lagi pinggangnya sakit karena kebanyakan bungkuk. Titip anak ke panti asuhan dosa tidak? Kadang Baekhyun ingin menyerah saja menjadi papa rumah tangga.
"Lipstik? Pasti ulah kak Yoora lagi, deh."
Baekhyun tak sengaja menendang sebuah benda keramat yang hanya akan wanita punya didekat kaki tempat tidur Zooya. Ternyata setelah cat kuku, sekarang kakak iparnya merecoki si bungsu lipstik matte berwarna merah. Mungkin besok liptint?
Sangat tiba-tiba sekali perasaannya ingin mencoba memakai matte. Baekhyun menimang-nimang dengan serius sebelum mendekati cermin sambil menjilat bibir tipis yang sudah lembab. Bagaimana reaksi Chanyeol ketika melihat bibirnya semerah pantat yang habis ditampar puluhan kali? Menertawakan atau malah memuji cantik?
Tutup matte langsung dibuka. Baekhyun mengaplikasikan pewarna itu ke bibirnya sampai benar-benar tebal dan bervolume, seolah ia sudah sangat profesional menyangkut lipstik. Tapi setelah melihat hasilnya, Baekhyun tertawa.
"Bagus, mirip sekali banci." Si mungil mengusak poni sampai sedikit berantakan, berusaha mencocokkan model rambut dengan bibirnya.
"Sayang, kau melihat pulpenku yang ada disaku jas hitam saat kau mencuc_"
Ucapan Chanyeol menggantung, padahal urusannya sangat mendesak mengenai pulpen yang biasa ia gunakan untuk menandatangani keperluan. Tapi melihat Baekhyun berkali-kali lipat menjadi sangat seksi dengan lipstik, bisa dong, minta jatah?
"Apa-apaan itu?"
Si tinggi melangkah diam-diam setelah menutup pintu kamar sekaligus menguncinya.
"Lipstik kak Yoora, aku tidak sengaja menemukannya didekat tempat tidur Zooya." Baekhyun mendekati tubuh suaminya sambil tersenyum-senyum imut, "Bagaimana? Cocok?"
"Ung!" Chanyeol spontan mengangguk, "Berbaring agar aku bisa mencicipinya."
Belum sempat merespons, bibir tipis Baekhyun sudah dilumat brutal seolah ia tidak pernah memberikan Chanyeol jatah. Kebetulan diluar sedang hujan, libur weekend tidak bisa kemana-mana ada baiknya mengambil jatah mingguan dengan suami. Persetan kalau harus sempit-sempitan di atas kasur single Kino, terpenting tidak ada lagi yang tegang di antara mereka.
"Papa! Papa! Ji mau ke kamar mandi!"
Dibalik pintu, si gembul meloncat-loncat sambil memegang sang burung kecil agar tidak kelepasan pipis. Karena tidak ada yang peduli, Jihoon segera berlari ke kamar kedua orang tuanya dan memakai kamar mandi disana.
.
.
Sakit
Kalau saja Chanyeol tidak membiarkan Kino nekat bermain hujan di halaman belakang rumah, mungkin Jihoon dan Zooya tidak akan ketularan flu. Besoknya mereka pasti langsung demam. Baekhyun sedang memilih-milih obat sirup sesuai gejala yang anak-anaknya alami sebelum bersin berturut-turut terdengar menyusul.
"Flu juga?" Tanyanya dan Chanyeol tidak menjawab, hanya menampakkan wajah sayu dan hidungnya yang memerah, "Wah, kualat memang."
Baekhyun menyumpahi suaminya lalu kembali acuh tak acuh. Pelukan posesif lebih ke manja datang tiba-tiba, membuat tubuh Baekhyun agak terdorong karena Chanyeol benar-benar besar.
"Yah, apa-apaan? Lepas, nanti flunya menular padaku. Kasihan adik bayi jadi ikut sakit, Chan."
"Aku susah bernapas. Tolong berikan napas buatan, Baek."
Bukannya sayang-sayangan, kepala Chanyeol malah kena tabok.
"Sana minta sama Mamong. Lagi sakit sempat-sempatnya modus." Hardik Baekhyun sebelum menghentakkan kaki meninggalkan meja makan menuju kamar anak-anak.
Mamong itu nama kucing tetangga, bisa dibilang peliharaan Baejin.
Chanyeol mengerang dan mendudukkan diri disalah satu kursi makan, merebahkan kepalanya di atas lipatan tangan. Menunggu sampai Baekhyun selesai mengurus ketiga tercinta mereka. Chanyeol bisa belakangan, lagipula sakitnya bersamaan dengan kurang belaian.
"Papa, suara kak Ji seperti kodok." Adu Zooya yang sedang melap hidung melernya dengan tisu, "Kak Ji sudah bisa bergabung dengan paduan suara kodok saat hujan, kekeke."
"Suara Zooya juga." Kino menunjuk adik bungsunya yang langsung merengek tidak terima, "Hehe, bercanda, Zoo. Itu saja menangis, dasar anak perempuan." Merotasikan bola mata kemudian.
"Kepala Ji pusing, pa."
"Iya, papa tahu. Makanya bangun dulu minum obat, terus tidur lagi. Istirahat yang banyak supaya besok bisa sembuh." Baekhyun duduk dipinggir ranjang Jihoon dan menyodorkan sendok obat sirup berwarna hijau, "Lihat, walaupun adik-adikmu tidak main hujan tapi mereka jadi kena imbasnya juga, Kino. Lain kali kalau papa bilang tidak boleh, berarti kakak harus nurut, ya?"
Kino yang berada diranjang tengah mengerucutkan bibirnya kesal karena diomeli.
"Tapi kata Daddy tidak apa-apa, kok. Lagipula main hujan itu seru! Ji dan Zooya harus mencobanya!"
Mendapatkan pelototan maut, si sulung langsung menutup mulutnya dan pura-pura tidak melihat wajah garang Baekhyun.
"Gara-gara Kino Daddy juga ketularan, lho."
"Yang benar?" Tanya si gembul tidak percaya karena Chanyeol jaaaaaarang sekali sakit, "Kalau begitu Ji harus bilang get well soon pada Daddy!"
"Bilang dulu untuk diri sendiri." Baekhyun mencibir saat menyuapi Kino obat sirup.
"Get well soon, kak Ji!" Jihoon berseru dengan hidung mampet dan langsung menyibak selimutnya, "Sudah, pa. Ji menyusul Daddy dulu, okay?"
Zooya mengerjap-ngerjap menatap pantat Jihoon yang bergoyang ketika berjalan keluar dari kamar, kakinya yang kecil terbalut kaus kaki berwarna merah muda dan setelah si gembul tidak kelihatan, Baekhyun mendengus lalu beralih pada satu-satunya anak perempuan.
"Kino mau menyusul Daddy juga!"
"Tunggu Zooya, kak Kino!"
"Eits, minum obat dulu, Zoo!"
"Nanti saja, pa!"
Sendok berisi obat terambang tak berkepemilikan ketika Zooya buru-buru turun dari tempat tidur dan berlari mengikuti kakak-kakaknya. Sabar Byun, mereka itu anakmu sendiri.
Di konter dapur, Chanyeol sedang terbatuk-batuk dan sesekali bersin juga, Jihoon yang melihat Daddy-nya kepayahan jadi kasihan. Kaki-kaki gendutnya berjalan semakin mendekat kemudian menarik-narik kaos belakang Chanyeol.
"Daddy~"
"Oh, Jihoonie? Ada apa, hm? Kenapa tidak tidur? 'Kan Jihoonie sedang sakit." Chanyeol mengangkat tubuh si gembul ke pangkuannya.
"Daddy juga sakit, badan Daddy panas." Jihoon bergumam pelan sambil memegang dahi Chanyeol yang sore ini tertutup poni, sekilas jadi terlihat muda. Padahal hampir punya empat anak.
"Daddy! Kata papa Daddy sakit? Mana coba sini Kino lihat apanya yang sakit?" Kino berbelok ke konter dapur seperti pembalap profesional dan langsung manjat ke pangkuan Chanyeol dengan rusuhnya, "Maafkan Kino, Dad. Gara-gara Kino semuanya jadi ketularan sakit, huhu, maaf~~~"
Si tinggi tertawa gemas sambil mencubit pipi tembam Kino. Siapa yang tidak tergelitik melihat anak-anak sekecil mereka sudah tahu rasa bersalah dan meminta maaf dengan cara imut?
"Zooya juga mau dipeluk, Dad!"
Yang perempuan tidak mau kalah, langsung bergabung ke pangkuan.
"Waduh, kenapa tiba-tiba Daddy diserang sama kalian, hm?"
Kepala memang sakit sampai mau mampus saja rasanya, badan juga lemas, tapi melihat wajah-wajah sayu dan suara hidung dari ketiga anaknya membuat Chanyeol terharu diam-diam. Meskipun sama-sama menderita, mereka masih sempat mengkhawatirkan satu sama lain.
"Get well soon, Daddy." Jihoon mencium dahi Chanyeol.
"Soon soon soon!" Zooya menimpali sebelum mencium pipi kanannya lalu yang kiri dikecup singkat oleh Kino.
"Lekas sembuh juga, anak-anak ayam Daddy."
Keempatnya berpelukan seperti teletubbies. Entah bagaimana Chanyeol bisa memangku ketiga anaknya bersamaan sambil mendekap mereka dengan kedua tangan. Hanya dilakukan oleh profesional.
.
.
Mengganggu
Baekhyun sedang memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci sambil berbicara dengan Seongwoo melalui ponsel. Mereka tertawa-tawa membicarakan Daniel yang diperbudak oleh Baby Woo, putra keduanya yang sudah berumur lima tahun. Tanpa tahu kalau Kino mengintip lalu memberi kode pada kedua adiknya bahwa rencana mereka aman.
Yup, mereka ingin menyusup ke ruang kerja Daddy. Biasanya papa tidak akan memberi izin karena bisa mengganggu ketenangan Chanyeol yang menyambung pekerjaan kantor. Persetan, sekarang Baekhyun sedang asik bertukar topik random dan pasti akan mendekam diruang cuci sampai lupa diri.
"Daddy, dapat kunjungan dari Pangeran Kino." Kepala si sulung menyembul, diikuti kepala Zooya dibawah dan Jihoon diatasnya.
Chanyeol mengalihkan pandangan dari layar laptop ke arah pintu, menangkap senyum-senyum polos menakutkan anak-anak.
"Boleh kami masuk?"
"Masuk saja. Memangnya kalian mau ngapain?" Kino mendekati meja kerja Chanyeol dan menatap takjub apapun yang ada di atasnya, "Jangan nakal, ya."
Si sulung langsung menyengir malu-malu saat ketahuan ingin menyentuh sebuah mini figur Chanyeol dalam bentuk keramik. Lagipula Baekhyun kemana? Padahal suaminya itu selalu bisa mengandangi anak-anak mereka.
"Daddy sedang apa?" Zooya yang hanya memakai diaper dan singlet memanjat ke pangkuan Chanyeol, tangan kanannya memegang sebuah pensil alis, "Apa Daddy bermain games?"
"Games? Kino mau main!"
Ajaib, Kino dan Jihoon bisa naik ke meja kerja Chanyeol yang tingginya lebih dari mereka. Usut diusut, keduanya menggunakan tumpukan kertas bekas yang sudah diikat. Chanyeol juga tidak bisa marah ketika Kino menguasai laptopnya dan Jihoon yang mengutak-atik segala pulpen mahal kemudian menggambar asal dipermukaan surat pengesahan, untung saja ia masih punya softcopynya. Jadi.. ya.. tidak apa-apa asal anak-anak senang.
Sedangkan Zooya memegangi wajah Chanyeol agar tidak banyak bergerak karena ia sedang memakaikan pensil alis. Ia hanya pasrah ketika wajahnya dipreteli si anak perempuan.
"Dimana permainan Let's Farm, Dad?" Tanya Kino tanpa menghentikan jari telunjuknya berselancar di atas touch pad laptop, "Kino mau memberi makan sapi."
"Mana ada dilaptop kerja Daddy. Adanya dilaptop papa, 'kan?"
"Terus Kino harus main apa?"
"Tidak_"
"Hih, Daddy jangan banyak bicara. Nanti alisnya kemana-mana." Zooya memarahi Chanyeol yang langsung menurut diam. Bahaya kalau perempuan sudah kesal.
Kino tersentak ketika merasakan sesuatu yang dingin dipunggung tangannya, saat ia menoleh, Jihoon sedang tersenyum lebar sambil memegang stempel perusahaan. Chanyeol tidak tahu karena ia sedang memejamkan mata dan kedua jagoannya malah saling menyerang stempel tanpa suara. Bagus sekali, siap-siap Baekhyun akan murka setelah ini.
"Kak Kino curang! Badan Ji habis merah-merah!"
"Wle, siapa suruh mulai duluan!"
"Pokoknya Ji mau balas kak Kino!"
Jantung Chanyeol mencelos ketika Kino hampir saja terjungkal ke lantai kalau saja ia tidak reflek menahan punggung si sulung. Bulatan-bulatan merah yang memenuhi tubuh dan wajah keduanya membuat ia meringis, bisa mampus kalau Baekhyun tahu.
"Ya ampun, ditinggal tutup mata sebentar langsung kacau begini." Jihoon ingin menempeli kaki Kino ketika Chanyeol menyela, "Kembalikan. Itu bukan mainan, sayang-sayangnya Daddy. Ayo, kembalikan."
Si tinggi memasang wajah garang sambil menodong tangan, berharap stempel resmi namanya dan stempel perusahaan diserahkan baik-baik.
"PFFFTT, HAHAHAHA! ALIS DADDY MIRIP SINCHAN!" Kino yang pertama kali terbahak kemudian Jihoon ikut-ikutan.
Chanyeol langsung menatap pantulannya melalui layar ponsel lalu menunduk untuk menatap Zooya datar. Si pelaku malah menampakkan gigi-gigi susu seolah bisa meluluhkan Chanyeol, padahal memang selalu luluh.
.
.
Kemah
Sabtu malam, halaman belakang rumah keluarga Park ramai oleh nyanyian anak-anak. Chanyeol bertugas memainkan gitar dan Baekhyun memanggang daging di atas bara. Ada jagung dan sosis juga sesuai permintaan. Kepala Kino bergerak selaras dengan Jihoon maupun Zooya, mereka gantian bernyanyi dan Chanyeol akan menimpali kadang-kadang. Mulai dari twinkle-twinkle sampai lagu beruang yang terkenal dikalangan anak kecil.
Baekhyun bergabung ke atas matras dengan piring macam-macam panggangan. Selagi anak-anak makan, Chanyeol tetap memainkan gitarnya sambil menerawang. Memikirkan lagu apa yang suaminya sukai ketika mereka SMA dulu.
"Kau menyanyikan lagu not a bad thing saat memintaku jadi pacarmu."
Celetuk Baekhyun seolah ia datang dari negeri penyihir, bisa membaca pikiran.
"Oh, benar. Kau masih mengingatnya?"
"Kenapa aku harus melupakan momen manis itu?"
Chanyeol tersenyum miring, "Kupikir kau tidak benar-benar tulus karena sudah menolakku tujuh kali."
"Tidak tulus? Bicara dengan rahimku yang selalu terisi spermamu." Si mungil mendelik saat suaminya terkekeh lalu memulai petikan pertama pada salah satu nada lagu Justin Timberlake.
"Said all I want from you is to see you tomorrow and every tomorrow, maybe you'll let me borrow, your heart~" Mendengar suara berat Chanyeol yang stabil membawa Baekhyun pada kenangan SMA, "And is it too much to ask for every Sunday? And while we're at it throw in every other day to start~"
"I know people make promises all the time, then they turn right around and break them. When someone cuts your heart open with a knife and you're bleeding~" Baekhyun.
"But I could be that guy to heal it over time and I won't stop until you believe it. 'Cause baby you're worth it~" Chanyeol.
"So~ don't act like it's bad thing to fall in ove with me. 'Cause you might fuck around and find your dreams come true with me~" Baekhyun.
"Spend all your time and your money just to find out that my love was free~" Chanyeol.
"So don't act like it's a bad thing to fall on love with me~" Baekhyun.
"It's not a bad thing to fall in love with me~~ me~~" Chanyeol.
Chanyeol menunduk ketika ia menyelesaikan lirik terakhir dari nyanyian mereka untuk mencium bibir Baekhyun dengan sejuta perasaan yang bercampur-campur. Perjuangan, rasa malu karena berkali-kali ditolak kini Tuhan balas dengan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang melainkan doa. Baekhyun memejamkan mata, ikut menikmati perasaan yang tersalurkan dari lumatan halus belahan bibir mereka, bagaimana ia sangat bersyukur memiliki Chanyeol yang telah membuatnya menjadi seorang ibu dari tiga orang anak. Bagaimana menjadi lelaki yang begitu dicintai sampai ke hal terburuknya.
"I love you too, Zooya." Tiba-tiba Jihoon memegang kedua pipi bulat adik perempuannya yang sedang mengunyah jagung.
"Too? Memangnya kapan Zooya bilang I love you ke kak Ji?" Si bungsu langsung menepis tangan kakaknya dengan picingan.
"Ji! Ternyata begitu ya kalau Baejin tidak ada." Jihoon menengok ke belakang dan melihat Baejin sudah memakai piyama sambil memeluk boneka panda bersama seseorang.
Anaknya tinggi dan berkulit putih.
"Baejin! Ayo sini, gabung!" Teriak Jihoon, "Jangan marah. Zooya 'kan adiknya Ji, tidak boleh cemburu-cemburu!"
Chanyeol mengecup sudut bibir Baekhyun sebagai pemutus kontak intim mereka. Bahaya, anak-anak mulai ramai. Karena Baejin membawa temannya dari Taipei.
Semakin purnama naik, kedua orang dewasa itu berubah menjadi guru taman kanak-kanak yang mengajarkan beberapa lagu anak-anak. Baejin paling bersemangat bahkan ketika Jihoon sedang memakaikannya syal agar tidak kedinginan. Baekhyun juga menawarkan teman Baejin yang bernama Guanlin untuk makan. Meskipun awalnya agak susah karena mereka berbeda bahasa.
Dua tenda yang berdiri kokoh diabaikan, lampu-lampu gantung kekuningan meliliti sebuah pohon hias setinggi dua meter, lalu pun tak lama Mamong muncul dari pagar rumah tetangga. Ia mendekati Baejin untuk minta elusan manja, kucing juga tidak mau kalah.
Sungguh malam yang indah bagi Chanyeol dan Baekhyun, anak-anak memang bisa membuat pikiran jadi lebih rileks terlepas dari seberapa nakalnya mereka saat siang.
.
.
[Wasalam 2]
.
.
Notes:
Yang kemarin sempet minta next chap, muncul kalian! /nodong parang
Sebenarnya aku nggak pernah suka fanfik yang ada lirik lagunya, geli. Tapi kali ini aku malah buat sendiri, abis momennya cocok T.T pas banget sama lagu kaporitku sepanjang masa :')
Jadi labil gini, katanya nggak lanjut tapi keenakan ngetik cerita kak Kino, kak Ji sama adek Zoo nih :(
