Hinata menelusuri judul-judul buku yang berbaris di depannya dengan jari. Ia mengambil beberapa yang menurutnya cocok dengan yang dia butuhkan. Setelah dirasa cukup, ia pun mengganti target pencariannya: Kageyama.

The Choosen Cake

Pair : College!Kageyama Tobio x Waiters! Hinata Shouyou

Original Story : Haikyuu! by Furudate Haruichi

.

.

.

enjoy

Hinata mengintip ke tiap ruas barisan rak buku yang ada di sana. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia mencari kemana Kageyama pergi. Perpustakaan itu memang luas, tapi Kageyama memiliki badan yang tinggi. Lagipula, dia selalu memakai jaket yang sama. Seharusnya untuk seorang Hinata, mudah saja mencarinya. Tujuannya terpusat di antara golongan buku yang kira-kira dibutuhkan oleh seorang mahasiswa. Sastra? Tidak ada. Matematika? Tidak ada. Ekonomi? Tidak ada juga.

Apa dia sudah membaca di meja?

Hinata memutar badannya dan segera memeriksa ke arah meja-meja baca yang berjajar di sebelah rak buku. Iris matanya bergerak menelusuri tiap-tiap orang yang sedang duduk. Pengunjung perpustakaan yang lumayan banyak membuatnya harus menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan agar dapat melihat dengan jelas. Tapi sosok itu memang susah ditemukan.

Lalu Hinata sadar sesuatu.

Tunggu, kalau Kageyama... berarti...

Dari tempatnya berdiri, Hinata memposisikan dirinya. Ia kembali memutar pandangannya mengamati sekerumpulan orang di sana. Dan dia menemukan orang-orang yang berkumpul lumayan banyak di satu barisan meja.

Kalau kau duduk di balik orang-orang itu, otomatis kau akan tersembunyi. Pikir Hinata.

Jangan-jangan...

Hinata bergerak beberapa langkah dari tempat awalnya berdiri. Dia melongokkan kepalanya, mengintip barangkali ada seseorang di balik orang-orang itu. Dan benar saja. Sosok seorang pemuda dengan rambut hitam seperti tinta cina dan jaket Hoodie berwarna sama sedang ada di sana. Mata Hinata membola. Dia mendengus lumrah.

Astaga... Benar-benar tukang ngumpet. Kau benar-benar tahu di mana harus duduk, ya?

Hinata berjalan dengan riang menghampiri pemuda itu. Sosok pemuda itu semakin membesar. Begitu Hinata ada di dalam jarak pandangnya, kepalanya segera terangkat dan melihat ke arah Hinata.

"Kageyama-san." Hinata menyapanya dengan senyum. "Di sini kau rupanya. Aku mencarimu."

"Ah, kau."

Hinata memilih kursi yang posisinya tepat di hadapan pemuda itu.

"Aku boleh duduk di sini?"

"Silahkan."

Hinata duduk sambil memperhatikannya. Di depan Kageyama terdapat 4 buku yang semuanya tebal. Ada juga yang sedang terbuka dan salah satu lembarannya terapit di antara jari-jari Kageyama. Buku tulis dan bolpoin tergeletak begitu saja di sampingnya. Pemuda itu menopang kepalanya dengan tangan. Manik matanya yang berwarna biru gelap bergerak mengikuti barisan tulisan di buku yang ia baca. Raut wajahnya saat itu membuat Kageyama terlihat lebih tua dari umurnya, walaupun Hinata masih bisa melihat junioritas dalam caranya berbicara.

"Kau sedang belajar, Kageyama-san?"

"Hmm" Kageyama membalik lembaran bukunya, "Kageyama saja. Jangan pakai embel-embel."

Hinata mengangguk-angguk tanpa bertanya lebih lanjut. Dia pun ikut mulai membuka buku-buku yang dibawanya yang semuanya adalah buku kumpulan resep masakan.

"Buat apa buku-buku itu?" Kageyama bertanya heran.

"Ah. Pemilik restoran kami ingin resep kue yang baru. Aku dapat permintaan tolong dari para koki untuk bantu mencarikan yang... kira-kira menarik, seperti itu."

Kageyama hanya menggumam.

"Kau mahasiswa bukan, Kageyama?"

"Iya."

"Jurusan?"

"Hukum."

"Waaah" Hinata memuji agak pelan agar tidak terlalu berisik. "Keren."

Kageyama tak menjawab. Hinata melihatnya menutup buku yang sedang dia baca dan berpindah ke buku yang lain. Jemarinya yang jenjang meneliti ke daftar isi, lalu ia membuka halaman yang dimaksud.

"Apa hukum itu susah dipelajari?"

"Begitulah."

"Kau suka dengan hal-hal yang berbau hukum ya?"

Ada jeda sesaat sebelum suara Kageyama kembali keluar "... Tidak."

"Eh? Lalu kenapa kau memilih jurusan hukum?"

Pemuda itu terlihat menemukan apa yang dia cari. Buku dan bolpoin yang tadi tergeletak akhirnya diraihnya dan dia menulis sesuatu di sana. "Hanya pilihan orang tuaku."

"Kau tidak punya pilihan sendiri?"

"Aku tidak suka memilih."

Hinata menegakkan badannya yang sedari tadi condong ke depan. Sekarang dia curiga jangan-jangan itulah alasan kenapa pemuda di depannya hanya memilih satu menu saja.

Untuk sekarang, Hinata tidak lagi punya hal yang bisa ia pertanyakan. Ia memilih untuk mulai mencari resep-resep yang menarik. Untuk beberapa saat, keduanya terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Hinata sendiri beberapa kali berbolak-balik dari rak, kembali ke kursinya untuk mencari buku yang lain, lalu memotret menu yang sekiranya bagus, lalu mengembalikannya lagi. Sementara Kageyama tetap setia dengan buku-buku yang sudah ada di depannya.

Setengah jam berlalu hingga sebuah suara dari luar membuat keduanya menoleh ke arah jendela. Rupanya jutaan tetes air sedang turun. Keluhan orang-orang di perpustakaan segera terdengar.

"Hujan?" Hinata ikut bereaksi, "Aku tidak bawa payung."

Kageyama terdiam, lalu kembali memperhatikan bukunya.

"... Aku bawa payung." Katanya setelah beberapa saat.

"Eh?"

"Kalau mau pulang, kita sama-sama saja." Kalimatnya terdengar berat. Entah malu atau sungkan.

Hinata memiringkan kepalanya, "Kita satu jalur? Kalau tidak, tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu."

"Kau mau kemana memangnya?"

"Wakano 3 Chome. Daerah SMA Shiratorizawa. Apartemenku di daerah sana."

"Aku juga lewat sana."

"Ah," Hinata tersenyum, "Baguslah."

"Tapi tunggu sampai aku selesai."

Hinata mengangguk beberapa kali sambil kembali menjauhkan badannya. Ia setuju tanpa berpikir lagi. Raut wajah pemuda di depannya yang tadinya sedingin es, berubah rileks dengan kontras. Dan Hinata mengerti kenapa.

.

.

.

Hinata harus menempel agak dekat ke Kageyama di bawah payung. Payung tembus pandang itu berukuran lumayan kecil untuk tubuh mereka yang besar –ralat, tubuh Kageyama saja yang besar. Kalau mereka berdua sama-sama semungil Hinata, payung itu pasti cukup melindungi mereka berdua. Beberapa kali Hinata mengintip wajah Kageyama yang sedang memandang lurus ke depan, memastikan pemuda itu tidak terganggu dengan desakkannya.

Untuk sepuluh menit pertama, mereka berjalan beriringan tanpa suara. Cafe Karasuno sudah terlewat. Keduanya tidak memilih untuk mampir.

Hinata spontan menoleh ke atas saat merasa ada rintik hujan yang menimpanya. Dia mendapati dirinya berada di luar payung. Kageyama berhenti mendadak. Hinata segera kembali ke sampingnya. Iris mata biru gelap itu sedang memandang ke beberapa bola olahraga yang di balik kaca toko yang ada di depan mereka. Hinata mengikuti jejak pandangan itu, mencari tahu.

Bola Voli, itu lah yang sedang dia pandangi.

"Hinata-san, kau sedang buru-buru?"

"Tidak." Hinata menggeleng, "Hei, kau tadi menyuruhku memanggilku tanpa embel-embel. Itu berlaku juga untukmu, dong."

Kageyama terdiam. Kelihatannya saja. Tapi dia mengiyakan. "Aku ingin lihat-lihat sebentar." jarinya menunjuk toko di depan mereka.

Si surai orange mengangguk dan mereka pun masuk ke dalam. Kageyama memutar pandangan. Kagum sepertinya. Dari detik itu, raut wajah Kageyama sudah berubah sesuai dengan umur biologisnya.

Oh, Voli ya?

Melihat Kageyama yang mulai berkeliling, Hinata terpancing untuk ikut-ikut memanjakan matanya dengan barang-barang yang ada di sana. Ada jajaran bola olahraga, pentungan baseball, stik golf, sampai skateboard. Seorang gadis pegawai toko sempat menanyai keperluannya, dan Hinata menolak dengan sopan.

Di sisi lain toko itu ada barisan sepatu yang menarik perhatiannya. Kageyama ada di sana, Hinata pun mendekatinya. Pemuda itu sedang mengambil satu sepatu voli yang menarik hatinya. Berwarna hitam pekat dengan beberapa garis kuning melintang menghiasi lekukannya yang indah. Sepatu itu punya penampilan yang tampan, setampan pemegangnya.

"Kau akan cocok memakai itu." Hinata berkomentar spontan.

"Hmm." Pemuda itu melirik sebentar.

Hinata mengambil satu yang dominan berwarna putih berhias garis merah. Dia menaruhnya di samping kakinya. Dia tersenyum begitu sadar kalau dia juga ternyata cocok memakai sepatu olahraga.

Kageyama menaruh kembali sepatu yang dipegangnya. Hinata mengkerutkan alis.

"Kau tidak beli itu?"

Pemuda itu menggeleng. "Tidak akan terpakai."

"He? Kenapa begitu?"

"Aku tidak bermain voli."

Hinata menangkap pandangan aneh pada raut wajah Kageyama. "Kenapa?"

"Aku tidak pantas bermain voli."

Pundak Hinata berkedik kaget. Ucapan Kageyama barusan seolah jadi segel sakti yang mengunci mulut berisik dan tingkah Hinata sekaligus. Kalimat itu dengan cepat berputar di belakang kepala Hinata, membuatnya menyesal bertanya. Ia sudah bergerak terlalu jauh sepertinya.

Mereka keluar toko tanpa suara. Udara membeku tanpa aba-aba. Hujan menjadi terasa lebih dingin dari sebelumnya. Hinata tahu itu karena rasa canggung yang sedang dia rasakan. Terlebih lagi beberapa menit kemudian mereka melewati sebuah lapangan voli. Meskipun agak ragu, Hinata lebih memilih menoleh ke arah lapangan itu.

Kalau tidak salah ingat, pernah ada yang bilang pada Hinata kalau lapangan voli itu buka setiap tiga hari sekali, jam 12 sampai jam 4 sore. Hinata sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung, karena dia bekerja di Cafe sampai jam 5 sore. Pemuda di sampingnya menoleh sebentar, lalu menunduk kembali dengan muka pahit.

Hinata terpaku tanpa suara. Menyadari sesuatu.

Tiga hari sekali.

Jam 4 sore.

Batinnya menjerit. Dia sadar. Itu adalah waktu dimana Kageyama selalu berkunjung ke Cafe.

Jangan-jangan, Kageyama...

Kau selalu diam di Cafe agar kau tidak melihat latihan voli di lapangan ini?

.

.

.

To be continued.

Note:

Horeee rilis juga next chapternya.

Gloomy yah, haha. Butuh perjuangan untuk membuat keduanya tetap in character. Tapi kalau dituruti jadinya agak menyimpang dengan cerita. Yah. Semoga saja tidak terlalu OOC.

Pokoknya, terima kasih sudah mampir. :D

Seperti biasa, RnR sangat diapresiasi. \:D/