"BAD"
lexabyun
CHANBAEK STORY
!BxB AREA!
.
.
summary'
"semua orang tau, SMA Xavier dan SMA Vilmerald merupakan musuh bebuyutan. Namun bagaimana jadinya jika adik dari ketua geng SMA Xavier justru bersekolah di SMA Vilmerald? inilah kisah Byun Baekhyun, seorang adik dari ketua geng Xavier yang berusaha bertahan hidup diantara persoalan pelik kakaknya dan sekolahnya".
..
..
WARNING!
CERITA INI DIAMBIL DARI NOVEL TERKENAL "BAD BOY" KARYA NATHALIA THEODORA.
HANYA SAJA AKU UBAH BEBERAPA HAL DEMI KESAMBUNGAN CERITA
.
.
Entah berapa lama Chanyeol dan Kai saling memelototi seperti itu.
Pandanganku berpindah-pindah antara mereka berdua. Aku takut mereka akan saling menyerang, sementara aku terjebak diantara mereka.
"Baek, cepat naik kemotor" kata Kai akhirnya. Suaranya penuh dengan kewaspadaan.
Aku langsung menurutinya. Aku berusaha tidak menatap Chanyeol ketika duduk diatas motor.
"Bagus! Cepat lindungi pacar mu itu.Aku tak bisa menjamin keselamatannya kalau dia ada didekatku!"
Aku ingin memprotes kata-kata Chanyeol yang sok tau itu. Seenaknya saja dia mengatakan jika aku pacar nya Kai. Aku kan masih straight! Aku juga menyukai wanita berdada besar dibanding sesuatu yang jelas-jelas aku juga memilikinya! Tapi karena Kai diam saja, aku pun jadi tidak berani buka mulut.
Ayolah, aku bahkan tidak bisa berkelahi. Badan ku yang bisa tergolong mungil begini mana bisa bertarung melawan sosok besar seperti Chanyeol.
"Karena sekarang ada Baekhyun, aku akan mengalah! Tapi lain kali aku bakal beri kau pelajaran Park!" Kata Kai tak santai.
"Silahkan saja!" Balas Chanyeol tak kalah santai. Lalu berbalik. Sebelum masuk kemobil, dia menyempatkan diri untuk memberikan kami tatapan merendahkan. Kai membiarkan mobil itu menderu terlebih dahulu.
"Salah satu geng Chanyeol melihat kamu mengantarkan aku tadi pagi kak, aku ingin memperingatin kakak tapi aku gak bisa ngehubungin kakak, karna aku gak punya nomor kakak, dan lagi Sehun mematikan ponselnya"
"Gak papa" kata Kai. Meskipun aku tidak bisa melihatnya, tapi bisa kupastikan jika dia tengah tersenyum. "Pegangan erat-erat baek, aku akan membawamu ke tempat Sehun"
Aku tidak sempat bertanya kepada Kai kenapa ia ingin membawaku kepada Sehun karena dia sudah memacu motor dengan cepat. Sekitar lima belas menit kemudian, dia menghentikan motor didepan sebuah tempat bermain billiar.
Aku turun dari motor dan mengikuti Kai masuk. Asap rokok yang menyesakkan segera menyambutku. Membuatku terbatuk-batuk. Aku benci asap rokok.
Kai mengarahkan ku ke meja billiar paling ujung, kulihat Sehun disana dengan beberapa anggota gengnya. Aku mencibir. Jadi itu yang dia bilang sibuk? Dia malah asyik bermain billiar seperti itu.
Anggota geng sehun langsung memberikan tatapan penuh cinta begitu melihatku, ayolah aku ini cowok asal mereka tahu.
Aku melihat ada mumi duduk disalah satu bangku, tidak jauh dari meja billiar. Setelah kulihat baik-baik ternyata dia bukan mumi, melainkan anggota geng Sehun yang tubuhnya terlilit perban. Sepertinya dia yang tadi pagi diurus oleh Sehun.
Aku mengalihkan perhatian kembali kepada Sehun. Kugelengkan kepala tanda tak setuju ketika melihat rokok yang tengah dihisapnya. Segera kudekati dia dan kuambil rokok itu, kemudian ku buang ke asbak. Sehun bahkan tak sempat memprotes dan ia hanya menatapku heran.
"ngapain kamu kesini?"
"kau bilang lagi sibuk! Kenapa kau malah main billiar disini?"
"Urusanku sudah selesai"
"kau bolos sekolah ya tadi?"
Sehun hanya mengangkat bahu lalu menoleh kearah Kai meminta jawaban.
"Ngapain kau bawa adekku kesini?"
"Chanyeol tadi melihatku bareng Baekhyun"
Ekspresi Sehun langsung berubah. Otot-otot diwajah datarnya menjadi kaku.
"Chanyeol? Park Chanyeol maksud kau?" ulangnya.
"Ya" jawab Kai.
Sehun langsung membanting stik billiar yang sedang dipakainya. "Bego! Kenapa kau bisa jengah begitu?" umpatnya.
Aku kasihan melihat Kai, Sehun mah kalau udah marah emang gitu. Emang seenak udel doang.
"aku minta maaf" sesal Kai.
"Kak Kai gak salah kok, dia mengantar jemput aku ditempat biasa. Tapi mungkin kali ini kami lagi sial doang"
Sialnya Sehun malah mengabaikanku. "Trus Chanyeol bilang apa?"
"Dia ngira aku dan Baekhyun pacaran"
Kenapa harus pake bahas itu segala sih?
Sehun tampak berpikir keras. Dia mulai mondar mandir dengan kening berkerut. Ketika berhenti dia mengamatiku dan Kai secara bergantian.
"Oke, itu bagus. Mulai sekarang kalian pacaran aja"
"Apa!" seruku dan Kai bersamaan.
"Jangan teriak begitu! Suara kau itu lebih cempreng dibanding cewek!"
"Sehun! kau ini gila ya! aku dan kak Kai kan sama-sama cowok! Dan lagi aku straigh!"
"Ayolah baek, akan lebih aman kalau Chanyeol ngira kau itu emang pacaran sama Kai. Dan lagi apa salahnya pacaran sama Kai? Lagian kan tubuh mu mungil mungil seperti cewek!"
"bos benar baek, justru lebih bahaya jika Chanyeol taunya kamu adiknya bos" ucap salah seorang teman Sehun lainnya
"Pokoknya aku gak mau! aku marah!"
*
Keesokan paginya, Kai menurunkanku di depan gerbang sekolah. Karena kini kami berpura-pura memiliki hubungan, dia juga yang bertugas mengantar jemputku kesekolah setiap hari. Sikap kami pun kini menjadi canggung. Dan tentu saja ini semua gara-gara Sehun keparat itu!
Sehun berbohong kepada papa dan mama jika aku berpacaran dengan Kai, dia sengaja mengatakan itu agar papa dan mama tidak curiga kenapa aku tidak berangkat bersamanya. Yang sayangnya malah disetujui oleh papa dan mama.
Kai berdeham. "Kek nya kita harus tukeran nomor hp deh baek"
Aku pun mengangguk saja, lalu memberikan nomor ponsel ku.
"Kamu bisa menelponku kalau chanyeol mengganggu mu" katanya.
Aku mengangguk saja.
"Sorry, aku jadi ngerepotin kakak. Ini semua gara-gara Sehun"
"Gak masalah, udah kamu masuk sana belajar yang rajin"
Aku pun masuk dengan sedikit mengendap-endap. Mataku bergerak gelisah memandang keseluruh ruangan. Aku takut jika Chanyeol tiba-tiba muncul dan melihatku.
Dan untungnya Chanyeol memang tidak ada. Aku pun berjalan menuju kelas ku dengan sedikit santai. Tapi. Tunggu! Bukan kah itu Jongdae? Benar, itu memang Jongdae yang tengah bersandar didepan pintu kelasku. Dia pasti disuruh Chanyeol untuk menunggu ku.
Jadi apa yang harus kulakukan sekarang? Pelan-pelan aku berbalik dan segera menjauh menuju toilet wanita. Dan untung saja sepi. Karena jika ramai, aku bisa saja langsung di serang masal oleh mereka. Dia tak akan masuk kedalam toilet wanita kan?
Nah sekarang aku sudah berada disini. Lalu apa? Masih ada sekitar lima belas menit lagi sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Masa aku harus menunggu selama itu?
"Baekhyun" mendadak terdengar suara Chanyeol. Loh? Kok suara nya dekat sekali? Apa jangan-jangan dia tau jika aku bersembunyi didalam toilet?
Sial! Ternyata aku juga tak aman berada disini. Jongdae pasti tadi melihatku dan melaporkan nya kepada Chanyeol. Atau justru Chanyeol sendiri yang melihatku? Aku tidak menyangka jika dia tak segan untuk masuk kedalam toilet cewek. Ya walaupun aku juga sih.
"Keluar sekarang juga atau aku dobrak pintunya!" ancam nya.
Aku mendesah kalah. Akhirnya kubuka pintu bilik, tubuh Chanyeol tampak menjulang dihadapanku. Dia menatapku dengan menyeringai.
"Berusaha sembunyi heh? Ditoilet wanita pula?"
"Gak kok, aku kan pengen pipis. Lagian toilet cowok tadi penuh" kilahku.
"Jadi, ternyata kamu beneran pacaran ya sama Kai?"
Itu pernyataan bukan pertanyaan.
"Dasar penghianat! Berani-beraninya kamu pacaran dengan musuh"
Aku tetap diam, meskipun mulutku sudah gatal ingin membalasnya.
"Telpon dia, bilang ke dia kalau kamu mau nemuin dia di cafe firelight jam lima nanti!"
"Untuk apa aku ngelakuin nya!"
"Lakuin aja!"
"Gak ah! Pasti kak Chanyeol mau mukulin kak Kai kan? Gak mau"
"Kapan-kapan aja aku mukulin dia. Sekarang kamu telpon dia!"
"aku gak bawa hp"
Mendadak Chanyeol mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menekan beberapa tombol lalu diam sambil menatapku. Mulanya aku tidak mengerti ,tapi tak lama kemudian terdengar EXO tengah bernyanyi-nyanyi di dalam tasku.
Aah.. Itu bunyi ponselku! Jadi dia menelponku? Dari mana dia tau nomor ponsel ku?
"Nah itu kamu bawa!" ujarnya dengan senyum kemenangan.
Kenapa EXO harus menghianatiku seperti ini? Kenapa? Dengan berat hati, aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas.
"Telpon dia dan pasang loudspeaker" perintahnya.
Aku sudah tidak bisa mengelak lagi, aku pun terpaksa menelpon nya dengan menggumamkan mantra didalam hati agar Kai tak mengangkatnya.
"Halo?" sial, kenapa diangkat sih?
"Uhm kak, kamu nanti tidak usah jemput aku ya"
"Kenapa?"
"kakak temuin aku di cafe firelight aja jam lima nanti, ada yang mau aku omongin"
Please tolak! Bilang gak bisa kek! Ujarku didalam hati.
"Oke, aku akan menemui mu nanti"
Sial. Lagi-lagi permintaan ku tertolak.
Huh, aku jadi merasa tak enak hati kepada Kai.
Mendadak Chanyeol mengambil ponsel ku.
"Hei! Kenapa kakak malah ngambil hp ku?" protesku.
"aku gak mau ambil resiko. kamu pasti bakalan ngehubungin dia lagi nanti! Dan jangan coba-coba pakai hp teman kamu! Karena aku bakal tau"
"Gak kok, gak bakalan aku hubungin. Puas kak?" ujarku lemas, lagipula aku tidak hapal nomor Kai.
"Ah, dan satu lagi! Pulang sekolah nanti kamu harus ikut aku ke cafe firelight dan jangan mencoba buat melarikan diri, atau pacarmu yang bakal kena batunya. Ngerti!"
Aku mengangguk pasrah.
*
"kamu kemana aja sih baek?" Bisi Luhan ketika aku baru duduk disebelahnya. Gara-gara Chanyeol, aku jadi terlambat masuk kelas. Bu Taeyeon bahkan sudah asyik bercuap-cuap tentang sejarah didepan kelas.
"aku ditahan kak Chanyeol di toilet"
"Kok bisa?"
"Tadi aku lagi sembunyi ditoilet, habisnya aku lihat kak Jongdae didepan kelas kita. kamu lihat juga gak?"
Luhan mengangguk, "kak Jongdae bahkan masuk kekelas kita dan nanyain nomor telpon kamu baek"
"Pantes aja si kak Chanyeol punya nomor telpon ku" tanpa sadar aku meninggikan suara. Sehingga bu Taeyeon memberikanku pelototan tajam. Aku pun langsung memasang tampang malaikat.
"Kok kamu mau aja sih han ngasih nomor aku ke mereka?"
"Ya maaf baek, aku kan gak mungkin bohong dengan bilang kalau aku gak punya nomor hp kamu"
"Ya tapi karna kamu, aku jadi gak bisa bohong kalau aku gak bawa hp"
"Emangnya kenapa kamu mesti bohong?"
"Dia nyuruh aku buat nelpon kak Kai supaya kak Kai datang ke cafe firelight jam lima nanti. aku kan takut kalau misalnya dia mau berbuat sesuatu ke kak Kai. Apalagi dia taunya aku pacaran sama kak Kai"
"Apa? Sejak kapan kamu pacaran sama kak Kai, Baek?? kok kamu gak pernah cerita?"
sebuah penghapus papan tulis tampak melayang kearah kami berdua,
"Sekali lagi saya mendengar kamu dan Baekhyun ribut, saya keluarkan kalian dari kelas" tentu saja bu Taeyon lah pelaku nya.
Aku dan Luhan pun langsung menunduk dan pura-pura bertobat. Kami pun kembali melanjutkan mari berbisik-bisik ketika bu Taeyeon tak lagi memperdulikan kami.
"aku gak pacaran sama kak Kai! Itu semua cuma salah paham. Dan sialnya Sehun si abang sialan itu malah menyuruhku buat pacaran beneran sama kak Kai"
"aku sih setuju setuju aja sama kak Sehun"
"kamu mah emang selalu setuju apa pun yang dikatakan sama Sehun"
"Iya dong, aku kan harus selalu mendukung calon yayang ku itu"
"Dih, geli deh han dengarnya"
"Yee geli kenapa? Lagian ya Baek, kamu itu harus bisa merelakan kak Sehun buat aku. Dan aku gak bakalan nyerah sebelum dapetin kak Sehun"
"kamu kok mau sih sama dia? Dia playboy loh han"
"aku gak perduli, siapa tau aku bisa ngubah dia buat jadi cowok yang lebih setia"
Aku hanya memandang luhan sebal, apa sih yang ia lihat dari Sehun?
"Jadi, sekarang kamu pulang bareng kak Kai dong Baek?"
"Iya"
"Yahh... aku gak bisa liat kak Sehun lagi dong"
"Sayang banget ya"
"Tapi kamu tenang aja baek, aku bakalan lebih sering main kerumah mu"
"Kayak selama ini kamu kurang sering aja main kerumah ku han"
Kami berdua cekikikan dan baru berhenti ketika mendengar suara menggelegar bu Taeyeon. Sepertinya kesabaran beliau sudah habis.
"Baekhyun, Luhan! Segera tinggalkan kelas saya!"
Aku dan Luhan pun menurut, kami keluar dengan lesu. Seakan-akan menyesali perbuatan kami, padahal ketika berada diluar kami kembali cekikikan.
Aku tak ingat lagi masalahku dengan Chanyeol sampai jam pulang sekolah tiba. Namun, sialnya aku harus teringat begitu melihat Jongdae yang sudah menunggu didepan kelas. Dan tanpa perikemanusiaan Jongdae langsung memisahkan ku dengan Luhan.
Ia pun membawa ku kehadapan mobil Chanyeol.
"Bos, ini Baekhyun nya" ujarnya.
"Masuk!"
Aku pun masuk ke mobil, setelah Jongdae menutup pintu mobil. Chanyeol pun langsung menancap gas meninggalkan Jongdae ditempat parkir.
Selama perjalanan kami hanya terdiam sesekali diiringi oleh suara musik. Aku meliriknya sesekali, karena jika boleh jujur profilnya saat membawa mobil sangatlah keren. Jika saja aku belok, mungkin aku sudah menyukainya. Untung aku straigh.
"Kenapa ngelihatin aku kayak begitu?"
"Gak! Siapa yang ngeliatin kakak? aku cuma ngeliatin pandangan diluar jendela kok"
"Dan kamu kira aku percaya gitu? Pasti otak licik mu lagi merencanakan sesuatu kan?"
"Yang licik itu kakak. Kan kakak yang nyuruh aku nelpon kak Kai buat ke cafe"
"Jadi, kamu mengkhawatirin pacar mu ya? Tenang aja aku gak bakalan nge apa-apain dia kok"
Iya, semoga saja tidak.
Setelah sampai di cafe firelight, Chanyeol memimpinku kesalah satu meja yang terletak disebelah jendela.
"Masih ada satu jam sebelum jam lima, kita makan dulu. kamu mau makan apa?"
Wah.. Apa dia mau mentrakrirku? Kalau benar begitu pasti ada alasan dibalik kebaikannya. aku tak akan terjebak.
Tapi aku lapar sekali. Kalau sudah menyangkut makanan rasanya perut ku sudah tidak bisa diajak kompromi. Mungkin aku pesan jus saja untuk menunda lapar.
"aku gak mau makan, tapi pesanin jus strawberri satu" kataku sambil mengabaikan perutku yang tengah mendemo meminta makan.
Chanyeol memanggil pelayan dan memesankan jus strawberri ku berserta beef tenderloin steak dan coca-cola untuk dirinya sendiri.
"Mmm kak Chanyeol, kapan kakak ngembaliin hp aku?" Tanya ku ketika ia sibuk dengan ponselnya.
"Ntar, kalau Kai udah nyampe"
Aku menunggu dengan bosan. Pesanan kami datang dan harus ku akui aku tengah menyesal karena tidak memesan makanan saja tadi. Rasanya menderita sekali. Mana bisa aku tahan kenyang hanya dengan meminum jus ini.
Aku hanya bisa menyaksikan dengan air liur yang nyaris menetes ketika Chanyeol mulai memotong steaknya.
Tangan gue bergerak sendiri menuju steak nya, namun tangan ku dipukul pelan oleh chanyeol sehingga gue pun kembali sadar.
"Jangan pernah nyentuh makanan di piring ku!" Ujar nya penuh penekanan.
"Sorry kak, tangan aku refleks"
"Ya makanya jangan jaim, kalau lapar ya makan!" aku hanya mendengus dengan sebal.
Hingga ucapan Chanyeol membuatku menatapnya heran.
"Bagus! Itu pacar mu datang"
Aku langsung menoleh kebelakang dan menemukan Kai yang menatapku dengan tajam.
"Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Kai dingin sambil menunjuk Chanyeol yang tengah tersenyum senang dihadapanku.
"Kejutan bukan? Pacar kau ini sebenarnya gak mau ketemuan sama kau, karna dia cuma melakukan apa yang aku suruh"
Aku memberikan tatapan meminta maaf kepada Kai. Tapi fokusnya sudah kembali menatap Chanyeol bengis.
"Ngapain kau menyuruh Baekhyun melakukan ini?"
"Karena aku mau nunjukin ke kau kalau dia sangat nurut sama aku. Jadi aku bisa menguasai dia dengan mudah!"
Sembarangan saja jika dia bicara! Menguasai apa?! Gerutuku dalam hati.
"Salah sendiri kau pacaran dengan anak sekolahku! Jadi kau tidak boleh memprotes apapun yang aku lakuin ke dia!"
"Jangan macam-macam Park!"
"kau yang jangan macam-macam sama aku Kim! Sedikit aja kau melakukan hal yang gak menyenangkan, pacar kau ini yang bakal menanggung akibatnya"
Jadi ini alasan Chanyeol nyuruh aku buat nelpon Kai? Selain menunjukkan otoriter nya, dia pengen nge gunain aku buat ngancem Kai. Pantas aja aku bilang dia ini licik. Dia memang pandai bermain kotor.
"Sekarang aku mau kau balik badan dan pergi dari sini. Karna aku mau melanjutkan kencanku dengan pacar kau ini"
Ekspresi Kai mengeras. "aku yang bakalan nganter Baekhyun pulang!" dia meraih tanganku tapi aku tidak bisa mengikutinya karena Chanyeol juga menahan tanganku.
Aku takut jika Chanyeol dan Kai tidak mau saling mengalah dan justru membuat tanganku hingga putus. Hiii
Chanyeol memelototi Kai, "kau gak denger? aku bilang jangan ganggu kencanku dan pergi dari sini sekarang juga!"
Melihat kengototan mereka aku jadi takut sendiri. Jadi, dengan berat hati aku melepaskan tangan Kai.
"Gapapa kak Kai, aku pulang sama Chanyeol aja nanti"
Kai menatap ku dengan tatapan tak percaya, kecewa dan bingung.
"Tapi Baek, dia kan gak bisa-" ujarnya berhenti, tapi aku tau apa yang ingin dia sampaikan karena Chanyeol tidak boleh mengantarku pulang karena ia tidak boleh tau jika aku serumah dengan Sehun.
"aku bisa beresin itu nanti" janjiku.
Kai tampak masih keberatan, namun ia terpaksa mengalah.
"aku akan pergi! Jadi lepasin tangan kau!" katanya pada Chanyeol.
"Iya iya, ini udah aku lepas! Gih sono pergi!" kata Chanyeol.
Kai terpaksa menurut. Dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Melihat punggungnya yang menjauh membuatku ingin mengejarnya. Sebenarnya aku lebih baik pulang dengan Kai, tapi Chanyeol pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Kak, aku mau pulang sekarang. Kakak gak perlu nganterin aku. aku bisa pulang sendiri" putusku.
"aku kan udah bilang buat nganterin kamu, sekarang kamu duduk manis disitu dan tungguin aku makan" katanya.
"Kakak tenang aja, ntar aku bakalan bilang kak Kai kok kalau kakak udah nganterin aku"
"Duduk Byun" tegasnya. Omongan nya jelas sekali tidak bisa dibantah.
Aku pun membanting bokongku kembali duduk dibangku.
Dimobil aku mengarahkan nya menuju rumah Luhan. Aku akan mengaku-ngaku jika rumah Luhan adalah rumah ku. Semoga saja Luhan tidak tiba-tiba keluar dan menanyakan kenapa aku bisa berada di depan rumahnya.
Sesampainya dirumah Luhan, Chanyeol langsung memberikan ponselku kembali.
"kamu ingat ya Byun, aku bakalan ngebuat kamu menyesal karena telah bepacaran dengan Kai!" ujarnya, setelah itu langsung menutup kaca mobilnya dan segera menderu pergi.
-TBC-
