Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


2. The Warriors

.

.

"Ne-Neji-Niisan!" seru Hinata saat menyadari siapa yang sedang berlatih itu. yang dipanggil berpaling dan melambaikan tangannya ke arah gadis berambut pendek itu.

Hyuuga Neji adalah seorang lelaki berpostur tinggi dan berambut kecokelatan yang panjangnya mencapai punggung. Ia adalah orang yang sangat serius dan berdedikasi pada seluruh tugas yang dibebankan padanya. Karena itulah, ia dipercaya sebagai pemimpin pasukan Elang, sebuah nama yang diberikan oleh kaisar karena pemimpinnya memiliki mata yang setajam elang, sehingga siapapun musuhnya tak akan luput dari serangannya. Pasukannya sangat diunggulkan dalam pertahanan, karena pertahanan pasukan itu sungguh kuat, nyaris tak bercacat, didukung oleh kemampuan mata khusus yang dimiliki pemimpinnya.

Neji dikenal sebagai pribadi yang serius, dingin, bahkan sedikit kaku. Namun, ada segelintir orang yang tahu, bahwa ia sangat menyayangi dan bersikap lembut pada adik sepupunya, Hyuuga Hinata. Saat ini pun, begitu ia melihat Hinata, ia langsung menghentikan kegiatannya, dan menghampiri adik sepupunya itu.

"Aa, Hinata. Apa kau hari ini akan menginap di istana? Atau akan pulang ke rumah?" tanya Neji, sembari berjalan mendekati gadis-gadis itu. "Kalau kau mau pulang, aku akan menjemputmu nanti saat matahari terbenam."

Hinata tersenyum malu, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ti-tidak, Neji-niisan, terima kasih," kata Hinata. "Ha-hari ini aku akan menginap lagi di istana. Mungkin aku baru akan pulang ke rumah hari Sabtu..."

"Oh, sayang sekali." kata Neji. "Ah. Selamat pagi, Sakura-hime." Katanya sembari membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih sudah membantu saya dan keluarga Hyuuga, terutama Hinata."

Sakura tersenyum, menganggukkan kepala. "Ya, sama-sama, aku juga berterima kasih atas bantuanmu kepada keluarga kaisar." Jawabnya. "Hinata akan menginap bersamaku hari ini... tidak keberatan, kan?"

"Ya. Saya tidak keberatan." Jawab Neji cepat. "Baiklah, saya permisi..."

"SA-KU-RA-CHAAAAAN!" terdengar teriakan keras dari arah sebaliknya, membuat semua yang ada di situ menoleh. Seorang anak lelaki—err, seorang lelaki berambut pirang mencolok, dengan mata birunya, melonjak-lonjak kegirangan, lalu berlari menghampiri mereka. "Tumben sekali kau mengunjungi kami yang sedang berlatih, eh, Sakura-chan? Bukankah biasanya kau bangun lebih siang? Iya, kan, Ino-chan?"

Ino mengangguk mengiyakan, membuat wajah Sakura memerah mendengarnya, lalu memukul pelan bahu lelaki itu. "Aduh, dasar kau ini, Naruto," ujar Sakura, "Jangan mengejekku, aku juga bisa bangun pagi..."

Uzumaki Naruto. Pemimpin 'pasukan Harimau', begitulah kata kaisar memberi julukan. Pasukan yang sesuai namanya, bergerak berkelompok, memburu sasarannya dengan gelombang pasukan berseragam jingga, dan menyerang tanpa ampun.

'Acuan' Naruto yang terkenal di antara para anggota pasukannya adalah, "Pertahanan yang paling baik adalah menyerang." Dan ini sudah terbukti. Ciri khas dari pasukannya adalah gerakannya yang menyerang bertubi-tubi, sehingga sering diletakkan di garis depan. Ditambah dengan pembawaan sang pemimpin yang selalu ceria dan penggembira, rasanya pasukan ini selalu diliputi dengan keceriaan.

"Oke, oke, maaf, Sakura-chan... oh, selamat pagi, Hinata-chan! Kimonomu hari ini motifnya bagus, ya!" sapanya riang, sambil melakukan gerakan menghormat ala tentara, membuat Sakura dan Ino tertawa.

Wajah Hinata mendadak berubah semerah kepiting rebus. "A...aku... ano—aku... aku harus pergi, Sakura-hime... maaf, aku permisi!" gadis itu berlari masuk ke ruangan dalam, tidak menyadari ada sesuatu yang terjatuh dari rambutnya.

Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku tak mengerti," katanya heran, "Aku hanya menyapanya..." ujarnya, lalu melongok ke tanah dan memungut sesuatu yang jatuh. "Ah, sepertinya hiasan rambut ini miliknya... o-o-i, Hinata-chan! Hiasan rambutmuu!" teriaknya. Namun yang dipanggil malah terus berlari ke dalam.

Sakura tak dapat menahan senyum. "Percuma, Naruto. Dia tak akan kembali ke sini," kata gadis itu. Naruto menatap Sakura tak mengerti. "Lebih baik kau kembalikan saja padanya nanti."

Naruto mengangguk. "Oke, mungkin nanti sore...ADUH!" satu lemparan botol air mengenai kepalanya, membuat teriakannya menggema. Dia mengaduh mengusap-usap kepalanya yang terkena, lalu berteriak keras, "APAAN, SIH!"

"Berikan hiasan rambut itu padaku," Kata Neji bengis, "Biar aku yang memberikannya nanti. Kalau kau yang memberikannya, Cuma akan membuat hiasan rambut itu rusak saja. Kau kan ceroboh."

Naruto menoleh ke arah Neji. "Apa yang kau katakan, BODOH? Aku akan menjaga barang milik orang lain, tentu saja! Pokoknya aku yang akan mengembalikannya—aku janji, tanpa cacat sedikit pun, tuan besar!" katanya menyindir.

Tensi darah Neji langsung naik. "Apa? Kau, berani-beraninya..."

Naruto menjulurkan lidah. Baru saja mereka akan memulai pertarungan baru, sebuah lemparan botol lagi mengenai kepalanya, membuat lelaki berambut pirang itu berteriak lagi.

"Bukan Sakura-chan, tapi 'Sakura-hime', Naruto," komentar seseorang berambut hitam yang ada di belakangnya sambil tersenyum dengan wajah tanpa dosa, "Kau ini juga harus belajar menghargai orang lain, dong." Kata lelaki itu. "Lagipula, sampai kapan pertarungan kita ditunda?"

Naruto Cuma nyengir pada lelaki berambut pendek dan berpakaian biru itu.

"Brengsek kau."

Pemimpin pasukan Angin—begitulah nama yang diberikan kaisar—Sai. Orang yang selalu tersenyum, tapi penuh perhitungan. Seluruh gerakannya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, namun mantap dan akurat. Pasukannya bagai gerombolan kelelawar yang melakukan segalanya dengan gelombang suara khusus sehingga gerakannya nyaris tak terdeteksi. Gerakannya pun secepat angin, tanpa bekas, namun meninggalkan akibat yang luar biasa. Pasukan ini biasa diletakkan sebagai pasukan intel, bergerak secara gerilya.

Begitu juga dengan pribadinya. Jarang berbicara, bijaksana, ramah, namun terselimuti kabut misteri yang tebal.

"Selamat pagi, Sai," sapa Sakura ramah, "Terima kasih ya, kau mau mengingatkan Naruto... tapi, tidak usah kasar begitu, deh. Toh, aku lebih senang dipanggil dengan panggilan itu..."

Sai tersenyum, lalu membungkuk penuh hormat. "Baiklah. Maafkan atas ketidaksopananku tadi, Sakura-Hime."

Wajah Sakura kembali memerah. "Dasar, kau ini memang gemar menyindir..."

"Oke, hentikan pertengkaran tak penting kalian, dan biarkan kita kembali melanjutkan latihan." Kata seseorang dengan rambut berkuncir tinggi. Ia mengayun-ayunkan papan shogi yang dipegangnya dengan tak sabar. "Aku ingin cepat selesai berlatih dan kembali bermain shogi."

Ino mencibir melihat sosok itu. "Dasar pemalas, terus saja bermain shogi sampai rambutmu beruban! Apanya yang latihan, he? Kau 'kan Cuma memilih menjadi wasit hari ini, dan terus duduk santai sambil minum teh, kan! Dasar kakek-kakek..."

"Cih," lelaki itu mendengus. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam. "Perempuan macam kau ini memang merepotkan... lagipula, menjadi wasit maupun bermain shogi itu 'kan juga termasuk latihanku—mengasah otak."

Ino mencibir lagi.

Nara Shikamaru, pemimpin pasukan Bayangan. Disebut pasukan Bayangan karena pasukan ini memang bergerak di balik layar, menyebar di empat pasukan yang lain, menjadi ahli strategi. Kemampuan otak Shikamaru memang luar biasa, sehingga kejeniusannya dalam pembuatan strategi patut diperhitungkan. Memang, dari luar dia terlihat pemalas dan hobinya hanya minum teh, merokok sambil bermain Igo atau shogi; namun di situlah letak kekuatannya. Bisa dibilang, dialah penggerak utama seluruh pasukan. Biarpun masing-masing pemimpin pasukan memiliki keunggulan dalam menyerang, juga bertahan, namun tanpa tambahan strategi dari Shikamaru, sudah pasti semuanya akan berantakan. Ia juga dapat menyesuaikan strategi dengan pribadi masing-masing pasukan. Pembawaannya memang pesimis, namun dia memiliki tanggung jawab yang besar.

"Selamat pagi, Sakura-hime," sapa Shikamaru sambil memutar-mutar rokoknya. "Anda meninjau latihan kami?"

Sakura tersenyum. "Tidak, tidak—aku hanya lewat saja. Aku penasaran dengan apa yang sedang kalian lakukan."

"Begitulah," jawab Shikamaru malas, "Seperti yang anda lihat, kami sedang mengadakan latihan pagi. Dan karena menurutku latihan pukul tujuh merepotkan, jadi aku memilih menjadi wasit hari ini... lagipula, aku 'kan jadi bisa melihat kelemahan-kelemahan mereka."

"Hey! Jangan bersikap seakan-akan kau ini pemimpinnya, bodoh!" kata Naruto keras. "Aku-lah yang paling menonjol di sini, tahu!"

Shikamaru mengibas-ngibaskan tangannya dengan malas. "Oke, oke. Baiklah, lebih baik kita lanjutkan lagi latihannya sebelum makin runyam. Alau tidak..." Shikamaru mengedikkan kepalanya ke arah seorang lelaki lain, dengan wajah yang kelihatannya sedikit sebal. "Dia bisa marah dan akhirnya memutuskan untuk latihan sendiri." Dan aku harus ikut berlatih menggantikannya nanti, Pikirnya dalam hati.

"Oi, Hyuuga Neji!" teriak lelaki berambut hitam legam itu, "Kau niat berlatih atau tidak?" tanyanya kesal, sembari mengambil sebotol air minum dan meminumnya sampai habis. Neji menoleh.

"Ah, sori, Sasuke. Baiklah... kita mulai lagi?"

Lelaki itu mengangguk. Tanpa menyapa sedikit pun, ia langsung melanjutkan latihannya dengan Neji. Sakura menarik napas. Namun ia menatap lelaki itu lekat-lekat, sosoknya tak lepas dari mata hijaunya. Sai melihat gelagat itu.

"Sasuke-san. Kau tidak menyapa Sakura-hime?"

Sebuah tendangan dari Hyuuga Neji berhasil mengenai bahu lelaki itu. Dia mendengus kesal karena latihannya kembali terganggu. Ditatapnya Sai dan Sakura bergantian. Lalu tatapannya berhenti pada gadis berambut merah muda itu. Ia membungkukkan badannya. Hanya sedikit saja.

"Selamat pagi."

Sasuke berbalik dan menyerang Neji lagi. Sai menggeleng-gelengkan kepala. Ia mendesah pelan. "Maaf, Sakura-hime. Dia..."

"Tidak. Tidak apa-apa." Sakura tersenyum. "Baiklah, kupikir sudah saatnya aku menemui ayah dan ibu," kata gadis itu tiba-tiba, "Ayo kita pergi, Ino."

Dan Sakura pun berlalu tanpa menoleh lagi.

Uchiha Sasuke, pemimpin pasukan yang terakhir, pasukan Malam. Pasukan ini memiliki keunggulan serangan cepat dan daya rusak yang berbahaya. Kemampuan pertahanannya juga kuat, hampir setara dengan pasukan Elang, namun masih lebih lemah dibanding pasukan pimpinan Hyuuga Neji itu. Namun, daya serangnya bisa dibilang memiliki keunggulan yang sama dengan pasukan Harimau milik Naruto. Hal ini dikarenakan kombinasi insting sang pemimpin yang bagus. Terlebih, pembawaannya yang sedikit tenang, membuat hal itu mempengaruhi kondisi pasukan yang dipimpinnya. Berbeda dengan Naruto—kadang, ia bisa saja menghancurkan strategi karena keasyikan ingin menyerang apapun—sedangkan Sasuke, dia melakukan segalanya dengan cermat dan penuh perhitungan. Namun, kadang emosinya yang naik bisa mengakibatkan kecerobohan.

Karakternya juga yang membuat pasukannya dijuluki seperti itu. ia segelap malam, berkelebat, dengan serangan yang menakjubkan. Juga dingin, serius, dan tak segan-segan memberontak bila ada yang tak sesuai dengan keinginannya.

Dan dia adalah orang yang diam-diam diperhatikan secara khusus oleh sang puteri.

Sakura melangkah di lorong dengan langkah yang panjang dan cepat. Ino mengikuti di belakangnya, tergopoh-gopoh. "Sakura-hime!" teriaknya, hampir tak sanggup mengejar, "Bisakah kau memperlambat jalanmu sedikit?"

Sakura berhenti mendadak mendengar perkataan Ino. Ia menoleh ke sekelilingnya. "Ah... ya, ya. Maafkan aku..."

"Dia itu cowok aneh," komentar Ino sambil berkacak pinggang. "Setidaknya, seharusnya dia menyapamu secara formal, bukan? Heran, apa sih yang ada di pikirannya? Sedikit rasa hormat atau kesopanan saja tidak punya! Dia dibesarkan dengan cara apa, sih..."

"Yah, kau tahu, 'kan. Dia dibesarkan di istana, memang... tapi dia sama sekali tidak mau membuka diri." Kata Sakura lesu.

Ino tersenyum seakan-akan sudah mengetahui semuanya. "Baiklah, kita akan punya waktu privat hari ini," katanya sambil menepuk bahu Sakura, "Oke, Sakura? Kurasa sebaiknya hari ini kita harus membatalkan kegiatanmu hari ini..."

"Mungkin begitu," Kata Sakura pelan.

Ino menatap gadis itu. "Sebaiknya kau diam dulu di kamarmu, dan nanti malam, kami semua akan menemanimu di sini. Bagaimana?" Ia berbalik, menoleh ke arah lapangan, "HAH, COWOK BRENGSEK!"teriaknya keras-keras.

Sakura tertawa geli. "Terima kasih."

Sakura membuka pintu kamarnya. Udara hangat musim semi menerpa wajahnya. Rasanya perasaannya sedikit enak. Dia duduk di kursi, lalu membaringkan tubuhnya di atasnya. Diliriknya teleskopnya di beranda. Dan lamunannya pun terbang entah ke mana.

Uchiha Sasuke.

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak saat itu. Dan anak itu telah tumbuh menjadi seorang lelaki... seorang pria.

Dan mungkin dia sudah melupakan aku.

Sakura masih ingat saat terjadi huru-hara besar-besaran di ibu kota. Ia baru berusia sembilan tahun saat itu. Ia tak begitu mengerti. Ayah dan ibunya mengajaknya ke sebuah tempat yang menjadi daerah tempat tinggal Klan Uchiha. Terjadi pembantaian seluruh anggota klan itu, namun tak diketahui pembantaian itu dilakukan oleh siapa.

Dan di sanalah untuk pertama kalinya ia melihat seorang Uchiha Sasuke di sana. Ia terselimuti darah, darah yang begitu pekat, hingga nyaris kehitaman. Betapapun ia dikelilingi oleh orang yang ingin membersihkan tubuhnya, ataupun memeluknya, ia akan menghindar. Keadaan begitu penuh dengan hiruk-pikuk. Tim medis berseliweran, mengangkuti jasad-jasad yang sudah tak bernyawa, tak satupun lagi yang hidup. Hanya anak itu yang ada, berdiri di tengah lapangan yang berwarna merah, dengan tatapan kosong, tubuh dibasahi oleh darah, entah itu darahnya atau bukan. Namun satu yang Sakura ingat dengan pasti.

Saat itu, matanya bercahaya semerah darah.

Yang ia tahu, setelah itu ayahnya memutuskan untuk merawat anak itu di bawah penanganan seorang menterinya. Sasuke tumbuh dan besar di istana, namun di sisi yang berbeda dengan Sakura. Sakura tak pernah tahu di mana Sasuke tinggal, karena istana begitu luas. Mereka jarang bertemu, hanya sekilas saja, saat ada acara-acara kekaisaran atau apapun. Sakura begitu penasaran dengan keberadaan anak itu. selalu dicarinya anak lelaki itu, apakah hari itu dia ada atau tidak. Apakah hari itu dia berlatih di lapangan barat, lapangan yang paling dekat dengan kamarnya.

Saat itulah perasaannya sedikit demi sedikit tumbuh, semakin lama semakin kuat, meskipun lelaki itu tak pernah lagi memperhatikannya.


to be continued


Terima kasih sudah membaca.

Blackpapillon