Naruto belongs to Masashi Kishimoto

This is my own story

.

Untuk mencari si kepala nanas, kurasa kakiku sudah cukup terlatih kemana mereka harus melangkah. Aku bersyukur hari ini si pedofil kulit pucat itu tak muncul didepan kelasku. Kabar gembira? Tentu saja!

Si gadis Yamanaka sempat menawari makan siang bersama, tapi tentu saja aku menolaknya- dengan cara baik-baik. Dompetku terlalu tebal untuk meladeni menu makan siangnya. Dia salah satu wanita pecinta tubuh ramping. Satu porsi salad dan susu low fat cukup membuat perutnya tak menggerutu. Intinya, telingaku sedang tidak ingin mendengar suara cemprengnya yang hanya mengumbar gossip disekitar kampus. Kalau boleh kutebak, pasti nanti dia akan bercerita soal Namikaze Naruto yang tertangkap basah sedang berkencan dengan Shion! Iya, Shion yang itu. Rambut pirang menjuntai indah, mata ungu yang berkedip anggun, tubuh bak biola.

Apa peduliku? Bahkan Si pirang ponytail itu belum tahu kalau aku JUGA Namikaze. Jangan menatapku dengan wajah iba seperi itu. Aku hanya tidak ingin berurusan dengan hal-hal merepotkan lainnya. Itu 'kan trendmark si jenius Nara itu?

Hari ini cuaca cerah, tidak terlalu panas, tapi juga tidak mendung. Ingat, 'cerah'. Delapan meter didepanku rambut nanas menyembul diantara rerumputan hijau. Mungkin tidak ada salahnya jika aku menyentaknya.

"Aku tahu kau disitu."

Aku hanya memasang wajah tanpa ekspresi untuk beberapadetik. Sejak kapan Shikamaru memiliki kemampuan seperti cenayang? Atau mungkin dia memiliki bola ajaib yang bias memantau kegiatan orang lain. Aku hanya pernah melihat seorang peramal amatir yang kutemui di festival Konoha bulan lalu.

"Apa kau juga bisa mengintip Temari saat mandi?" Aku mendudukan bokongku disampingnya, lalu setelah beberapa saat memutuskan untuk ikut merebahkan diri. Selama tidak ada kotoran burung atau apapun tidak masalah 'kan?

"Ck, sejak kapan kau menjadi member PKK?"

"PKK?" Aku hanya membeo sambil menoleh kearahnya. Wajah kami sejajar, aku bisa mencium aroma parfumnya. Green tea?

"Perempuan Kurang Kerjaan." Dia memamerkan seringai menyebalkannya, membuat lenganku melayang ke bahunya dengan main-main.

"Hey!"

"Hahaha, setidaknya tebakanku selalu benar. Terbukti kemarin si monster hijau itu menyatakan cinta padamu." Aku tak menyahut. Bukan karena aku sedang sibuk dengan rona merah seperti kebanyakan wanita jika sedang digoda, ew, untuk apa aku merona? Aku bahkan membencinya. Iya, objek pembicaraan tak penting kami.

Tak ada yang membuka mulut selama beberapa menit. Aku tak keberatan dengan situasi seperti ini. Aku hanya ingin menikmati khayalan liarku. Bersama Shikamaru, aku bisa menemukan diriku hanyut dalam keadaan yang tercipta. Aku bisa bebas memainkan raut wajahku tanpa ada kekhawatiran yang beralasan. Dia memberikan sesuatu yang entah aku pun tak tahu, tapi yang jelas dia membuatku merasa nyaman. Nyaman dengan aroma parfumnya yang menguar menentramkan.

Angin yang bertiup menendang beberapa anak rambutku, menembus tubuhku. Memberikan kesejukan yang berbaur dengan damai. Awan-awan yang menggantung di langit cerah menari-nari menggoda mataku. Kulirik Shikamaru lewat sudut mata kiriku. Focus sekali!

"Aku tidak pernah melihatmu bersama si pirang itu." Shikamaru tiba-tiba membuka suara dengan pernyataan ambigu, membuatku mengernyit.

"Pirang? Siapa?"

"Namikaze." Aku diam selama beberapa saat, mencerna perkataannya. Kerutan di jidatku belum menghilang. Aku membutuhkan beberapa menit untuk menjawab pertanyaannya yang 'sebenarnya' sangat sederhana itu.

"Aku… kami… kami, rumit." Kalimat yang kususun bahkan tak terstruktur dengan baik.

"Aku tahu. Kalian beda, tapi sama. Sama-sama merepotkan." Dia mendengus diujung perkataannya. Aku hanya balas mendengus. Pikiranku melayang. Aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Aku dan dia, Namikaze Naruto. Rutinitas yang kujalani bersamanya tak ada yang membuatku merasa tertarik untuk bergabung dengannya. Bangun tidur, sarapan bersama dia dan para anggota geng menyebalkannya, menyapa balik senyum memuakkan si mayat hidup bernama Sai, pergi ke kampus dengan sepatu roda pemberian ibuku. Kami hamper tak pernah bertegur sapa. Di kampus, di rumah. Tatapan datarnya hanya kubalas dengan mataku yang menghindarinya.

Heh, kami sama-sama pernah menikmati ASI dari tubuh yang sama. Kami memiliki marga yang sama. Bahkan kami pernah berbagi tempat tidur. Tapi perpisahan dan kedatangannya kembali dengan sebuah perubahan drastic seakan menjadi tembok penghalang bagi hubungan kami. Entahlah… aku tak pernah menemukan sandaran nyama dari bahunya atau tatapan hangat dari mata biru warisan ayah.

"Kau tahu, Shika. Aku seperti tidak mengenalnya… dia terlalu jauh. Tapi aku tidak pernah menyesalinya, aku tidak pernah mencoba untuk mengejarnya." Aku tertawa kaku. Menertawakan hubungan stagnan kami.

Shikamaru mendudukan diri dan menatapku. Mata hitamnya menatapku serius. Mungkin ini hanya khayalanku atau memang aku melihatnya? Walau hanya sekilas dia sempat menunjukan tatapan 'lain' padaku. Semacam…

"Sakura!"

Aku mendudukan diri dan menoleh kearah jarum empat hanya untuk mendapati seorang pria bermabut eboni melambaikan tangan padaku. Dia hanya seorang diri. Kemana para pria bodoh itu? Biasanya mereka selalu bersama seperti induk ayam dan anak-anaknya.

"Sai? Ada apa?" dia bukannya menjawab malah memberiku senyum menyebalkannya. Jika ada penghapus ajaib aku ingin menghapus senyum memuakkan itu dari wajah pucatnya.

Dia menatapku lalu Shikamaru. Mereka berdua saling berpandangan dalam kurun waktu yang tidak bisa dikatakan singkat, membuatku berpikir bahwa ada ketertarikan khusus diantara keduanya.

"Naruto memintaku untuk menjemputmu."

Shikamaru mengernyitkan alis hitamnya dan menatapku aneh. Aku membalasnya dengan wajah kosong. Aku buru-buru berdiri dan mendekati Sai. Kurasa ada sesuatu yang kurang.

"Sai,ini Shikamaru te-"

"Aku sudah mengenalnya." Aku mengernyit saat dua pemuda itu berucap bersamaan. Aku menatap Shikamaru lalu Sai. Jika dalam anime mungkin aku bisa menggambarkan percikan api diantara wajah mereka yang saling bertemu. Oke semuanya terlihat aneh sekarang.

"Oh begitu, ka-"

"Tidak ada waktu, kita harus cepat pulang!" Aku tak sempat berontak saat Sai menarik paksa lengan kiriku dengan sedikit erat tapi tidak menyakitkan. Dibelakangku Shikamaru memandang kami kaget lalu berusaha mengejar. Mulutnya terbuka, hendak mengucapkan sesuatu sebelum Sai dengan cepat bersuara.

"Jangan khawatir, Shikamaru-san. aku hanya harus buru-buru, aku tidak akan menyakiti Sakura." Sai lagi-lagi tersenyum pada Shikamaru yang berhenti dan menatap datar kami. Langkah kaki kami semakin jauh meningalkan pemuda itu dibelakang dengan kemelut dalam pikirannya.

"Ada apa sebenarnya, Sai? Kenapa bukan dia sendiri yang menjemputmu dan harus menyuruhmu?" Aku masih tak berontak, menunggu jawaban Sai. Namun pemuda itu memilih untuk bungkam dan meninggalkan pertanyaanku, membuatku penasaran.

"Kau akan tahu nanti, Sakura." Aku menghiraukan senyumnya. Aku merasakan aliran firasat buruk menerpaku, membuatku menggantung dengan pikiran-pikiran negative yang menakutiku. Aku… tidak menyukai instingku untuk sementara ini.

TBC

Tidak akan ada Noctis dalam fict ini, karena yah… memang agak maksa nanti –" saya pun mempertimbangkan Noctis bukan karena dia AGAK mirip dengan Sasuke, catat ini, model rambutnya. Dan saya mengidolakan Noctis karena saya memang mengidolakannya sebagai Noctis bukan karena sangkut pautnya dengan Sasuke. Oke forget it, mungkin chap ini sangaat datar, jadi jika tidak suka silahkan tinggalkan. Terimakasih